Opera.

1

Inspired by "The Gifted Hands – Psychometry" and "Sucker Punch"

Disc = they're not mine. Except the plot ^^

Main cast = Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun (14 y.o), Henry Lau (17 y.o), Choi Siwon (25 y.o).

Other cast = Park Jungsoo (29 y.o), Kim Kibum (17 y.o) dan menyusul di chapter selanjutnya.

Warn = GS! Kyu, typo(s), PG-15 ,Rated T slight M. Kalau ada yang tidak suka dengan fic GS, saya sarankan silakan klik tombol "kembali" sebelum anda membuang tenaga untuk protes dan semacamnya. Gomawoyo :^)

.

.

Ini baru awal semester. Dan kesialan sudah menimpanya.

Park Kyuhyun berlari dengan segenap tenaga yang masih bisa di keluarkan tubuhnya melewati koridor sekolah yang mulai sepi. Sekali dua kali pandangannya bertemu guru yang hanya menggelengkan kepalanya, terbiasa melihat murid yang terlambat. Iya, nona culun itu terlambat pagi ini. Dan ini pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di sekolah ini.

Keringat yang mulai merembes di poninya di abaikan begitu saja, asal bisa cepat sampai kelas, berkeringat tak apa. Anggap saja olahraga tambahan setelah tadi membersihkan gym sekolah yang tidak kecil. Haa, iya benar, olahraga tambahan.

'Ayolah, sedikit lagi. Kelasmu tinggal satu belokan lagi, Kyuhyun! Hwaiting!' Kyuhyun terus memaksa kakinya untuk menaiki beberapa anak tangga menuju ke lantai tiga sekolahnya. Tak peduli dengan sendi-sendi tubuhnya yang sudah menjerit minta di istirahatkan, gadis itu tetap berlari. Seragam sekolahnya pun sudah berantakan, ditambah kacamata kuda yang agak melorot dan rambut pendeknya yang mencuat ke berbagai arah. Kacau, itu kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaannya.

"Hosh…hosh…hosh… A-yo-lah, se-sedikit lagi sam-sampai, Kyu." Gadis itu menghela nafas berat beberapa kali begitu kelasnya sudah tampak di depan mata. Baru dua langkah, Kyuhyun sudah membungkuk dengan kedua tangan berpegangan kedua lututnya erat. Deru nafasnya masih tidak terkendali, pipinya pun memerah menahan lelah.

'DEG'

"Argghhh…" rintihan kecil sukses keluar dari mulutnya. Mendadak bukan cuma anggota geraknya yang nyeri, dadanya juga. Tepatnya di organ pernafasannya. Aih, kenapa harus berbarengan sih, gerutunya dalam hati.

Dengan amat perlahan, Kyuhyun menegakan tubuhnya yang tadi membungkuk. Sebelah tangannya menggengam tas selempangnya erat, sedang sebelah lagi masih menekan bagian dadanya yang nyeri. Kakinya pun dilangkahkan menuju ruang kelas yang hanya sekitar sepuluh langkah lagi.

Kyuhyun menghela nafas beberapa kali, memastikan rasa sakit di dadanya sudah lebih terkendali dan menatap jam Pikachu ditangannya. Sudah telat satu jam pelajaran. Pabboya Park Kyuhyun!

Tangannya baru saja terulur untuk mengetuk pintu kelas ketika terdengar perintah "Masuk" diterima telinganya. Eh? Dia kan belum mengetuk pintu? Kok bisa?

Dengan amat ragu dan pelan, gadis berwajah imut itu membuka pintu sebelum menutupnya kembali. Tanpa mendongakkan kepalanya, Kyuhyun sudah siap mengucapkan alasan kenapa dia terlambat saat lagi-lagi sosok yang ada di meja guru kelasnya bersuara.

"Aku sudah tahu alasan kenapa kau terlambat pagi ini, Nona Park. Sekarang lebih baik kau duduk ditempatmu. Kau harus bisa mengerjakan soal-soal di halaman 47 dalam satu jam sebagai hukumannya. Mengerti?" Barulah saat mendengar pertanyaan yang ditujukan sang guru padanya Kyuhyun pun mendongak.

GLUP.

Kyuhyun bisa merasakan salivanya berat untuk turun ke tenggorokan. Mungkinkah? Mungkinkah itu guru penggantinya dikelas ini? Guru yang kelewat tampan guna menggantikan Nona Jessica yang baru cuti hamil? Apa jangan-jangan dia model yang sedang menyamar seperti di film yang kadang suka dibawa sahabat hyungnya? Sengaja cari pemandangan baru ya diantara para guru yang sudah berumur itu? Tidak masalah juga sih buatnya. Toh pasti banyak yang sependapat dengannya.

Hey ayolah! Bagaimana pun juga dia masih gadis remaja normal yang tak jarang memiliki "teacher's crush". Iya kan?

Dan jujur saja, guru dihadapannya itu kelewat muda dan ehmm tampan untuk menjadi guru. Tapi… sejatinya bukan itu yang menarik perhatiannya. Ia sendiri bingung menjelaskannya. Hanya saja, saat ia bertatapan dengan mata hitam legam itu, rasanya ada sesuatu yang menariknya. Terasa familiar meski dia sendiri tidak ingat dimana pernah melihatnya.

" –na Park… Nona Park, apa kau mendengarku? Kau sudah boleh duduk ke tempatmu sekarang.."

Suara teguran yang masih bisa terbilang lembut itu membuyarkan lamunan Kyuhyun dan membuat gadis itu langsung menunduk dalam. Menyembunyikan tatapan matanya yang berubah tidak biasanya. Ia berucap "Maaf" begitu pelan sebelum melaju ke bangkunya secepat kilat.

"Tumben kau terlambat. Ada apa?" Baru saja ia mendudukkan pantatnya ketika teman sebangkunya sudah bertanya.

"Teuki hyung semalam lembur, aku jadi khawatir dan menunggunya. Eh malah kesiangan."

"Benarkah?"

"Apa aku kelihatan sedang berbohong, Kim Kibum?"

Pemuda yang dipanggilnya Kim Kibum tadi hanya terkekeh pelan sambil merapikan rambut teman sebangkunya yang agak berantakan. Ia tahu Kyuhyun bukan tipikal pembohong. Jadi ia percaya pada apa yang dikatakan anak itu.

"No, you don't Ms. Park," pemuda tampan itu memberi killer smile andalannya sebelum mengalihkan pandangan ke depan. Tangannya menyodorkan buku tulis yang sudah terisi berbagai soal matematika ke hadapan Kyuhyun.

"Ini…apa?"

"Tugas matematika yang di berikan Choi songsaenim , iya guru baru itu namanya Choi Siwon, jadilah Choi songsaenim. Sudah, cepat kerjakan nanti hukumanmu bisa terlambat kalau tidak mengumpulkan sehabis jamnya."

Kyuhyun menggeleng sambil mengembalikan buku itu ke meja Kibum yang kelihatan bingung. "Tidak perlu. Kebetulan semalam aku sudah mempelajari materinya. Nah, jangan ganggu aku sekarang, arrachi?."

Dan Kyuhyun pun langsung serius mengerjakan soal-soal yang terpampang dari buku pelajaran dihadapannya tanpa menoleh apalagi memperhatikan sekitarnya.

Sama sekali tak sadar bahwa dirinya sedari tadi diawasi oleh pemilik sepasang manik mata kelam yang ada di meja guru dengan ekspresi tak terbaca.

.

.

Pemuda itu begitu tenggelam dalam dunianya. Dunia yang hanya terisi dirinya dan suara lembut biola kesayangannya. Gesekan dawai biola yang menimbulkan rangkaian nada memabukkan bagi siapa pun yang mendengarnya. Tak perlu menjadi seorang ahli untuk mengetahui bahwa gelar "violin prodigy" memang layak disandang pemuda berwajah imut itu.

Matanya terpejam dengan erat namun rileks. Menandakan betapa dia menikmati permainannya sendiri. Seolah dunia disekitarnya tak lagi ada, ia terus memainkan biolanya entah untuk lagu yang ke berapa saat ini. Toh, tak akan ada guru yang menegurnya karena membolos jam pelajaran. Bukan, bukan karena ia anak pemilik sekolah ini atau pun orang tuanya jadi donatur terbesar di yayasan sekolahnya. Bukan karena itu. Hanya saja dirinya kebetulan masuk jajaran "top student" karena prestasinya yang tidak sedikit meski statusnya murid transfer dari luar negeri. Dan semua yang mengenalnya pun tahu betapa besar cintanya pada hal berbau musik serta biolanya.

Jadi, mari biarkan seorang Henry Lau bersua dengan cintanya lebih dulu.

"Kebiasaan membolosmu sepertinya tidak berkurang sama sekali, mochi? Malah makin parah kelihatannya."

Seketika permainannya terhenti, matanya pun tertuju pada pemuda tampan yang berani-beraninya menginterupsi permainannya.

"Diam kau, Taemin-ah. Kau sendiri suka kan suka membolos, kenapa melarangku segala?"

"Eh, apa kau lupa statusku di sini? Aku kan –"

"Ya ya ya! Aku tau siapa kau Taemin. Ayolah, siapa sih yang tidak kenal kapten tim basket yang hobi gonta-ganti kekasih tiap seminggu sekali? Yak! Aku sangaaaat mengenalnya."

PLETAK

"Aww fuck! Why do you do that for?"

"Itu karena caramu mendeskripsikan ku salah, bocah!"

"Artinya kau mengakui kau itu sudah tua…"

"Apa katamu? Mau ku hancurkan biolamu itu, huh?"

Refleks Henry memeluk biolanya erat seolah itu bisa melindunginya dari sosok bernama Taemin tadi. Matanya membulat lucu dengan pipi digembungkan membuatnya mirip anak kecil yang tidak dibelikan permen. Rasanya, sulit percaya bahwa dia adalah murid tingkat akhir di sekolah ini. Sungguh.

"Jangan bawa-bawa biolaku! Dia tidak bersalah!"

Taemin yang mendengar sahabatnya begitu membela benda mati bernama biola hanya bisa bersweatdrop ria. Sungguh, sampai sekarang ia tidak mengerti kenapa bisa sanggup bersahabat dengan murid seajaib Henry ini? Keren sih memang gayanya, bakat dan prestasinya pun tak perlu diragukan lagi. Tapi…kalau sudah berhubungan dengan biolanya. Eh, ia bahkan tak paham cara pikir anak itu bagaimana.

"Aish, kau ini. aku tak mengerti kenapa biola itu berharga sekali buatmu. Kau bahkan memperlakukannya seakan benda itu yeojachingumu saja. Ckckck."

"Whatever."

Keduanya pun terdiam di tempat masing-masing. Henry yang masih memeluk biolanya tidak bergeming dari ministage tempatnya bermain. Begitu juga Taemin yang berdiri di ambang pintu. Tak ada satu gerakan pun diciptakan dua remaja dalam ruangan musik itu.

Tak betah dengan keheningan itu, Taemin melangkahkan kakinya menuju jajaran bangku penonton yang paling dekat dengan tempat sahabatnya berdiri.

"Sepertinya tahun ini akan jadi tahun yang menarik."

Perkataan Taemin sontak saja menarik perhatian Henry yang masih asyik memeluk biolanya. "Apa maksudmu menarik?" Ia bertanya dengan polosnya. Henry sudah duduk dei kursi kosong di samping sahabatnya itu.

"Entahlah."

"Eh?"

"….."

"Kau aneh."

TWITCH

"Apa maksudmu, huh?"

"Kau bicara sok misterius. Tidak cocok."

"Kau ini…. –"

"Yak! Biolaku, kembalikan! Hei kembalikan…!"

Karena terlalu lengah, Henry terlambat menyadari biola kesayangannya sudah berpindah tangan. Alhasil keduanya bertengkar layaknya anak TK yang berebut mainan.

"Taemiiiiinnn, kembalikan biolaku!"

"Coba saja ambil kalau kau bisa!"

"Kembalikan! Atau ku bocorkan ke seisi sekolah Captain Taemin mereka itu takut dengan kecoa!"

"Hey! Kenapa begitu?!" Taemin protes keras sambil melempar death glare pada sahabatnya itu.

"Siapa suruh kau iseng duluan. Sekarang kembalikan!" Henry yang masih terengah-engah karena mengejar sahabatnya mengelilingi ruang musik yang tidak kecil langsung menodongkan tangannya ke depan. Meminta secara non verbal benda kesayangannya yang tadi ditahan.

Taemin menelengkan kepalanya ke kiri. Tatapan polosnya sungguh tidak sesuai dengan umur dan pribadi jahil yang diam-diam dimilikinya. Ia masih berpikir. Kalau rahasia kecilnya itu dibongkar seperti yang dikatakan tadi, aish, bisa langsung hancur reputasinya di sekolah. Tapi, tidak asyik juga berhenti menjahili Henry sekarang.

"Hei, Taemin, biolaku?!" seruan kesal Henry menarik Taemin kembali ke alam nyata.

Matanya berkilat jahil, refleks Henry menelan ludah berat. Kalau sahabatnya sudah menampakkan ekspresi begitu, yakinlah dirinya dalam masalah.

1

2

3

"Yak! Taemin kau mau kemanaaaa?"

"Kalau mau biolamu, ambil ini!"

Dan aksi kejar-kejaran di koridor sekolah pun tak terelakkan. Dua remaja tampan itu berlari sambil berteriak tak peduli bahwa banyak yang berlalu lalang di koridor itu. Tujuan keduanya berbeda, yang satu ingin menyelamatkan "kekasihnya" yang ditahan sementara satunya murni ingin mengerjai sahabatnya yang kadang lebih pantas disebut sebagai "violin's freak" dibanding "violin's prodigy"

"LEE TAEMIN PABBO! KEMBALIKAN BIOLAKU SEKA –"

BRAKK

PRANG

DUUAGH!

Suasana koridor yang sudah ramai kini teralihkan fokusnya pada dua murid yang tergeletak di lantai dengan tidak elitnya. Lantai koridor yang biasanya bersih itu kini berhiaskan pecahan kaca dari vas bening yang sudah tak karuan kondisinya. Bunga yang tadi menghias didalamnya pun sudah terserak entah kemana. Kondisi di sekitar kedua murid itu begitu kacau.

"Aww...shit! Kau tidak punya mata ya?"

"Padahal aku yang ditabrak, tapi dia yang marah. Pabbo."

"Hei! Kau sudah bermata empat tapi masih tidak bisa lihat jalan. Itu berarti kau –"

"Aish, mochi sudahlah. Ayo kita ke kantin saja!"

Dan semua yang ada disana seolah teralihkan atensinya melihat sang kapten menarik sahabatnya menjauh dari lokasi kejadian. Sepenuhnya mengacuhkan keberadaan siswi lain yang hanya menunduk sambil memunguti pecahan kaca yang cukup besar.

"Kenapa kau jadi menyebalkan begini, Henry-ah?" gumaman itu begitu lirih. Bahkan mungkin semilir angin pun sukses menyembunyikan kesedihan tersamar dalam suara lembut itu.

.

.

Songsaenim muda itu berjalan di koridor sekolah barunya dengan santai. Sama sekali tak terusik dengan tatapan kagum yang dilemparkan para siswi atau bahkan guru wanita yang kebetulan berpapasan dengannya. Jujur saja ia sudah terbiasa berada dalam kondisi begini. Saat dirinya menjadi pusat perhatian karena fisiknya yang memang diatas rata-rata. Bahkan saat dirinya masih di negeri orang pesonanya masih kelewat kuat untuk diabaikan.

Bibir jokernya menggumamkan irama lagu yang cukup familiar buatnya. Menemani langkah tegapnya menuju ruang guru yang berada di lantai terbawah dari gedung yayasan berlantai lima ini.

Tubuhnya berbelok ke kanan menyusuri koridor ketika –

"LEE TAEMIN PABBO! KEMBALIKAN BIOLAKU SEKA –"

BRAKK

PRANG

DUUAGH!

- suara keributan langsung membuatnya terpaku di tempat.

Yak! Ini baru hari pertamanya mengajar dan sudah disuguhi keributan macam begini. Apa anak-anak nakal ini tidak tahu ada larangan berlari di koridor sekolah yang dipajang dalam bentuk plakat besar tepat di puncak anak tangga ke lantai selanjutnya?

Ia baru saja mau menegur murid yang membuat kekacauan ketika dua orang siswa berlalu mendahuluinya –tanpa sedikit pun mengucapkan salam pula- meninggalkan satu figure lagi yang masih terduduk di lantai.

Kakinya langsung beberapa langkah mendekat sebelum membungkuk\kan badannya, berniat untuk membantu muridnya yang pasti kesulitan membersihkan pecahan kaca di antara murid yang berlalu lalang.

"Bisakah kau panggilkan petugas kebersihan saja? Mereka pasti bisa menyelesaikan pekerjaan ini lebih cepat dan tidak ada resiko muridku jadi terluka disini." Siwon menepuk pelan bahu gadis yang masih berjongkok ditempatnya. Sekelebat, ia melihat ada bercak merah di sudut jari muridnya itu.

"Omo! Lihatlah tanganmu –"

Dan semua perkataan guru muda itu tertahan di tenggorokannya ketika melihat wajah yang sedari tadi menunduk itu akhirnya mendongak.

Ini…Tidak mungkin, kan?

.

.

.

TBC ?

.

.

Nah ini dia chapter pertamanya. Ditunggu concritnya chingudeul ^^

Gomawo :^)

D.M