Hari masih terbilang pagi menuju siang, udara yang semakin memanas dengan bertenggernya sang Surya tepat diatas sebuah rumah yang nampaknya masih sunyi, jelas saja karena tidak terdengah aktifitas yang mencolok dirumah bergaya Eropa tersebut.
Tapi kelihatannya keadaan tidak akan sama lagi untuk beberapa detik kemudian. Jeritan hati seorang pemuda akan terdengar jika kalian mempunyai telinga dengan kemampuan pendengaran SANGAT AMAT BAIK (SUPER).
Chapter 2
Disclaimer: Naruto © Masashi Khisimoto
M.I.N.E © Chy GLASSend.N
Rating: masih T'desu..
Genre: Romance yang (sangat) diragukan
Pairing: Uchiha Sasuke & Namikaze (Uzumaki) Naruto.
Warning: AU, Typo, Mistypo, OOC, Boys Love, Shounen-ai , bahasa mungkin berbelit-belit, nggak sesuai EYD, author pemula, etc. If like, you must read it, if don't like, please read!
Author's note: No Smoking..,,"
Don't Like Don't Read
.
NARUTO POV
"Sebenarnya Kaa-san dan Tou-san telah menjodohkanmu"
CTAAAARRR
Seperti kau terkena petir yang menyambar di siang bolong. Aku hanya terdiam membatu setelah mendengar ucapan dari Tou-san. Tubuhku seakan tak bisa bergerak, sedangkan otakku masih dengan lambatnya mencerna ucapan Tou-san tadi. Yang ada di otakku sekarang ialah apakah aku masih tidur atau ini nyata ?
"To... Naruto..."
"akh... iya.."
Panggilan Kaa-san yang terdengar khawatir itu menyadarkanku, nggak sangka sedari tadi aku melamun. Sebisa mungkin aku nggak ingin menampakkan wajahku yang terlihat shock ini di hadapan mereka (walaupun udah kelihatan sih).
"kau nggak pa-pa ?" dengan nada yang masih khawatir Kaa-san menanyakan keadaanku.
"aku nggak pa-pa kok, kalian nggak usah khawatir"
Walaupun berkata begitu sekarang ini ingin rasanya aku teriak dihadapan mereka dan memaki mereka habis-habisan. Bagaimana mungkin mareka merencanakan perjodohanku tanpa melibatkan aku.
Tapi sayangnya otakku masih terlalu sadar untuk nggak melakukan hal itu, bukannya karena aku baik tapi karena keadaan Tou-san yang punya penyakit lemah jantung itu yang membuatku mengurungkan niat itu.
"jadi sejak kapan kalian merencanakan perjodohan (bodoh) ku ini ?"
"waktu kau masih kecil, mungkin saat usiamu masih 5 tahun "ucap Kaa-san sambil mengingat-ingat.
'5 tahun ! kenapa kalian nggak pernah memberi tahuku sih! dasar seenaknya sendiri' batinku.
"lalu siapa orang yang mau dijodohkan denganku itu" tanyaku lembut pada mereka berdua.
"eh... kau belum tahu ya ? padahal seharusnya kalian udah ketemu lho"
"ketemu? Dimana? Emangnya umurnya berapa?"
"umurnya sama dengan mu kok, lagipula kalian itukan teman sejak kecil"
"teman sejak kecil, siapa ? temanku kan banyak"
"hohoho... jadi sekarang kau mengakui mereka sebagai teman ya"
"Eh?! Ak-aku... ukh.. ah sudahlah" dengusku agak kesal
"aduh Naru jangan ngambek donk , Minato jangan diam saja"
"..."
"Kaa-san bukannya nggak setuju akan keputusanmu untuk tinggal diluar dan sekolah di tempat itu hanya saja Kaa-san dan Tou-san merasa khawatir karena kau jauh dari kami"
Ya begitulah, aku Uzumaki Naruto adalah anak dari Minato Namikaze & Kushina Uzumaki pemilik dari Rasengan Corp yang cukup terkenal di seluruh Jepang. Bukankah itu artinya aku ini anak orang kaya? Benar aku memang anak orang kaya jadi kenapa aku harus tinggal diluar rumah (ngekost) dan besekolah di tempat yang sangat sederhana? Jawabannya adalah karena aku ingin memilikin teman sejati. Maksudku teman yang benar- benar mau menerima ku apa adanya tanpa melihat pangkat ataupun derajatku. Apa aku terlalu naif ?
Dulu sekolah lamaku adalah sekolah elit, tempat orang kaya menyekolahkan anak mereka, disana aku memang mempunyai banyak teman tapi mereka semua sama , mereka mau berteman denganku hanya karena aku anak orang kaya dan terpandang. Kenapa aku bisa tahu? Dulu aku nggak sengaja mendengar percakapan mereka di belakangku dan setelah aku tahu hal itu aku langsung memilih pindah dari sekolah itu.
Pertama kalinya orang tuaku memang nggak setuju, tapi setelah kujelaskan alasan kepindahanku mereka mau mengerti dan menuruti permintaanku. Aku sangat bersyukur mempunyai orang tua seperti mereka, karena kebanyakan orang tua selalu ingin anaknya kelihatan sempurna.
NORMAL POV
.
"Ha-ah..." Naruto menarik napas panjang memcoba menjernihkan otaknya. "lalu dengan perjodohanku itu apa dia juga tahu?" tanya Naruto lagi.
"dia tahu kok, kan yang memaksa kami menjodohkan kalian, kalian sendiri"
"begit...UUUAAAAPAAAAAHHHH !" teriak Naruto keras hingga membuat pecah jendela tetangga. "ap...apa maksud kalian, mana mungkin aku yang..."
"benar kok"
"kapan"
"waktu kalian umur 5 tahun" jawab Kushina memperlihatkan senyum manisnya
"Kalian menganggap serius ucapan anak 5 tahun !" bentak Naruto
"yah soalnya kalian yang maksa sih"
Akkkhh betapa inginnya Naruto mengutuk kedua orang tuannya jadi batu –kayak si maling kandang (?)– mencoba sabar Naruto hanya menarik napas teratur.
"asal Kaa-san tau ya, aku sama sekali nggak kenal orang itu jadi mana mungkin aku mau dijodohkan dengannya" sahut Naruto tegas
"kan udah Kaa-san bilang kalian itu teman sejak kecil"
"itukan dulu, tetep aja aku nggak kenal orang itu, jadi perjodohan ini nggak bisa dilanjutkan" hindar Naruto
"akh... tenang aja kami nggak buru-buru kok , jadi kau bisa leluasa mengenalnya lebih jauh" jawab Kushina menampakkan senyum termanisnya
"BUKAN ITU MAKSUDKU!... akhh! Pokoknya perjodohan ini harus dibatalkan" bentak Naruto yang langsung meninggalkan kediaman Namikaze-Uzumaki tersebut + suara bantingan pintu yang mengiri kepergiannya.
Senja mulai menghiasi langit Konoha menandakan sang mentari tengah beriatirahat di belakang bukit yang menjulang. Tenangnya suasana sore ini mungkin sangat bertolak belakang dengan suasana hati si blonde kita satu ini.
Kaki itu melangkah penuh nafsu membabi buta melewati deretan rumah nan eksotis di sekitarnya. Terlihat rambutnya yang sudah acak-acakan dan pakaiannya yang terkesan berantakan. Yang sekarang diinginkan Naruto hanyalah pulang dan langsung tidur di ranjangnya yang nyaman.
Naruto menutup matanya sambil membayangkan betapa nyaman ranjangnya –untuk saat ini– Sampai ...
BRUUUUKKK
Bruuuukkk? Ya kesekian kali kejadian itu terulang (rajin banget =,=")
"go.. gomenasai aku... KAU(lagi?)! ucap Naruto yang terputus saat melihat siapa korban yang dia tabrak.
"Hn" jawab sang korban.
"ke...kenapa ada disini? Tanya Naruto penasaran
"sebelum bertanya lebih jauh bisakah kau hilangkan kebiasaan 'menabrak orang'mu itu Dobe"
"diamlah Teme, akukan nggak sengaja"
"tak bisakah kau menungguku hingga nanti tetap menunggu *Eh.. kok jadi gini #coret –maksudnya – " tak bisakah kau cari alasan lain untuk itu" cercah Sasuke
"aku emang nggak sengaja teme huh..." dengus Naruto
Segera saja keduanya berdiri dari posisi jatuh mereka yang sama sekali nggak elit.
'kenapa sih aku harus ketemu ma teme pantat ayam ini terus' batin Naruto kesal *author: pasti karena jodoh v #di rasengan
Merasa diperhatikan oleh semua orang yang lewat dijalan itu, mereka perpindah tempat ke sebuah taman disamping jalan dan memilih untuk duduk di kursi yang ada dibawah pohon toge(?) untuk melanjutka acara 'bincang-bincang' mereka yang tertunda.
"Jadi kenapa kau ada disini Teme? ulang Naruto."
"Apa itu menjadi urusanmu Dobe,"
"memang bukan sih hanya aneh saja tiba-tiba kau ada disini, jangan-jangan kau membuntutiku ya? Kau stalker ya?"
Ctaaarrr! pertanyaan Naruto tepat sasaran sampai membuat sang Uchiha terdiam sejenak. "Memangnya ini tempatmu apa, semua orang berhak berada disini Dobe" ujar Sasuke.
"itu nggak menjawab pertanyaanku Teme". "ha-ah" Sasuke menarik napas panjang. "Aku datang kesini untuk menemui calon mertuaku Dobe". "Heh?" Naruto menaikkan sebelah alisnya. "kau sudah menikah Teme?" ujar Naruto yang sukses mendapatkan sebuah kado –pukulan– dari Sasuke. "i-ittai Teme" ringis pemuda pirang dsambil mengelus kepalanya.
"Aku bilangkan calon mertua bukan mertua Baka Dobe". "Akukan hanya bercanda Teme". "Hahaha nggak lucu". "Apa kau dijodohkan Teme?". "Ya begitulah". 'Dia sama denganku'pikir Naruto. "Dan kau setuju?". Sasuke mengarahkan matanya sejenak dan menatap pemuda blonde disampingnya, diperhatikan wajah itu dengan seksama tanpa melewatka satu celahpun. Entah mengapa melihat Sasuke menatapnya membuat Naruto sedikit merasa –malu–. "Ya aku setuju, sangat setuju" ujar Sasuke yang menampakkan senyum tulus dari bibirnya sambil terus menatap Naruto. Seketika wajah Naruto memanas seakan dirinya dibakar dikobaran api. Naruto yang nggak mau Sasuke melihat perubahan wajahnya segera berpaling ke samping. Sementara sasuke yang menyadari hal itu langsung terpampang sebuah seringai di bibirnya.
"Dobe" panggil Sasuke tepat ditelinga Naruto yang otomatis membuat Naruto merasakan deru napas pemuda raven.
"Kyaaaa... apa yang kau lakukan Teme" kaget Naruto
"Siapa suruh kau melamun" jawab Sasuke sambil menutup kedua telinganya yang takut akan mengalami tuli permanen.
Naruto yang semakin merasa nggak nyaman segera mencari alasan untuk keluar dari situasi ini. "Ak-aku nggak pa-pa kok, oh ya se-sekarang udah sore jadi ak-aku harus pergi atau aku akan ketinggalan kereta" gagap Naruto. "Sampai jumpa" kata terakhir Naruto sebelum benar-benar pergi meninggalkan Sasuke yang tengah menahan tawa.
"Hahahahaha kau memang benar-benar Baka Dobe" ujar Sasuke setelah Naruto beranjak meninggalkannya. "Tapi karena itulah aku menyukaimu" senyum tulus kembali terulas dibibirnya. "Dan akan kubuat kau mengingatku".
"Aku ini kenapa sih, lagi-lagi tubuhku bereaksi sendiri. Akh.. ini membuatku gila" cercah pemuda pirang dengan tiga garis disetiap pipinya tanpa menggubris setiap mata yang memandangnya. "Detak jantungkupun masih belum pulih. Ha-ah apa aku kena penyakit ya?" hela napas panjang selagi mengatur detak jantungnya yang masih belum teratur. Mungkin aku harus periksa ke dokter besok, pikirnya (bener2 Dobe ni orang).
Jeesss... jeesss... jeesss...
Para penumpang segera mendekati tempat pintu kereta mendengar kereta akan segera tiba. Sosok naruto pun perlahan menghilang termakan oleh pintu kareta yang langsung menghilang di kejauhan.
.
.
.
Disisi lain
"Ting tong" suara bel terdengar mengalun disalah satu bangunan bergaya Eropa. Terlihat seorang pemuda dengan kaos hitam polos serta jaket biru tuanya yang membuatnya terlihat keren tengah berdiri didepan pintu. "Ceklek... ah kau sudah datang ya, ayo masuk" ujar sang pemilik rumah. "Ya sesuai keinginan 'Kaa-san' aku datang kemari" ucap sang pemuda dengan menampilkan senyum tulusnya. "Aku jadi nggak sabar melihat kalian berdua nanti".
Mendengar ada yang datang sang kepala keluarga dirumah itu menuruni tangga menuju ruang tamu. "Kau sudah datang Sasuke" sapa sang kepala keluarga. "Iya Tou-san aku baru saja sampai". "Apa kau tadi bertemu Naruto?". "Aku perpapasan dengannya tadi". "Apa kau sudah memberi taunya?". "Tidak, aku ingin dia bisa mengingatku dulu". "Yah mau bagaimana lagi, kecelakaan itu ternyata mempengaruhi ingatan masa kecilnya", ujar Kushina.
"Tapi kau nggak akan menyerahkan Sasuke?" tiba-tiba suara Minato memecah kekeningan diruang itu.
"Aku sedikit terkejut mendengar Naruto amnesia ringan dan bahkan sama sekali nggak mengingatku tapi setelah pindah kemari dan bertemu dengannya secara langsung, perasaanku sama sekali nggak berubah, aku tetap menyukainya, karena itu aku sudah memutuskan untuk menjadikannya milikku".
"Hiks..hiks... aku senang punya mantu sepertimu Sasuke-kun" haru Kushina hingga memeluk calon mantunya ampe nggak bisa napas (lebay =-=").
Sementara Minato, Author & Readers cengo liat Sasuke bisa bicara panjang lebar kayak emak2 yang lagi nawar dipasar *di chidori
.
===================== o0o ====================
.
Konoha High School
"Nar gimana kemarin? Apa terjadi hal yang gawat?" Suara Kiba menyeruak diantara kebisingan yang dibuat para penghuni 3A.
"Jangan khawatir, nggak terjadi hal yang buruk kok" jawab Naruto dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Kemarin kau pulang malam jadi aku nggak sempat tanya, tadi pagi kau juga keliatan muram" jelas Kiba penuh kekhawatiran.
"Hanya masalah biasa kok, kau nggak perlu secemas itu Kib" ujar Naruto meyakinkan temannya bahwa semua baik-baik aja.
"Yah, tapi kalau ada masalah jangan ragu cerita padaku, oke –dengan meniru gaya Gay sensei–
Sejenak terjadi keheningan diruang itu hingga...
"Sasuke-kun udah dateng, wah tetep tampan seperti biasa ya...", "Kyaaa Sasuke-kun", "Ohayo Sasuke-kun", setiap ocehan, teriakan, histeria, dan semacamnya terdengar membahana memenuhi sudut ruang (adakah yang bisa menghentikan ini DX).
"Sepertinya Sasuke-kun sedang senang memangnya ada hal baik yang terjadi ya?" pertanyaan dari gadis berambur merah muda a.k.a Haruno Sakura sontak membuat para fansgirl Sasuke terdiam untuk memastikan apakah yang dirasakan idola mereka saat ini.
"Tentu saja si Teme senang, kemarin diakan baru ketemu sama calon mertua, iyakan TEME.." seringai Naruto yang sukses membuat Sasuke tercekat.
"Ca-calon mertua? ap-apa maksudmu Naruto, kau bercandakan"
"Kalau nggak percaya tanya ama si Teme aja sana, dia sendiri kok yang ngomong gitu".
"It-itu nggak benarkan sasuke-kun?".
Sasuke yang mengerti dengan keadaan mereka –memohon penjelasan– langsung ambil suara. "Kemari aku memang mengunjungi rumah calon mertuaku".
"Ja-jadi kau sudah dijodohkan Sasuke-kun?"
"Ya, begitulah..."
"BRUUUK" puluhan bahkan ribuan(?) fansgirl Sasuke jatuh pingsan satu persatu layaknya domino.
"HUUUAAAHAHAHAHA... Sepertinya ranjang UKS nggak akan cukup buat mereka, dan kau harus mengurus mereka semua Teme" suara tawa langsung meluncur dari bibir mungil pemuda blonde yang mendapat deathglare dari Sasuke.
"Kenapa kau bisa tau Naruto?" Kiba yang penasaran bertanya langsung pada sang narasumber. Neji dan shikamaru yang duduk disebelah merekapun mengangguk pelan –penasaran juga to–
"Kemarin saat aku pulang dari rumah orang tuaku, aku bertemu –bertabrakan– dengannya dijalan. Karena aku penasaran apa yang dilakukannya di Tokyo langsung aja aku tanya padanya. Dan dia bilang ingin menemui calon mertuanya, begitulah" jelas Naruto panjang lebar yang hanya mendapat anggukan tanda mengerti dari teman-temannya.
"Tapi apa tidak ada kejadian lain?" telisik Shikamaru.
"Benar, biasanya saat kau bertemu si Uchiha itukan pasti selalu terjadi sesuatu" tambah Neji
"Apa yang kalian maksud, kejadiannya memang hanya itu kok" tegas Naruto.
Sementara Kiba, Neji, dan Shikamaru masih mengintrogasi teman pirangnya ini dengan tatapan mata meminta penjelasan (o.O). Merasa tidak nyaman Naruto mencoba mengalihkan perhatian. "Tau akh... aku mau ke toilet". Sosok Naruto mulai menghilang seiring langkah kakinya yang nggak lagi terdengar.
"Ha-ah memangnya harus selalu ada kejadian kalo aku ketemu si Teme" dengus kesal Naruto setelah sampai di atap sekolah –katanya mau ke toilet– "Gara-gara kejadian kemarin aku bahkan nggak bisa tidur, huuaaah.. rasanya ngantuk banget".
Merasa rasa kantuknya nggak bisa terbendung, Naruto memutuskan untuk membaringkan tubuhnya. Cuaca yang cerah dan hembusan angin yang semilir mengantar Naruto menuju alam mimpi dengan cepat.
'Aku suka Naru...'
'Saat besar nanti Naru mau kan jadi pendampingku...'
"Ruto..."
"Naruto..."
"HWAAAAHHH"
(dhuuaaak)
"Aduduh... sakit..."
"Sa.. Sasuke...?"
"Dobe... lihat-lihat kalau mau bangun..."
"Mana ku tau kau ada disitu... tapi kenapa kau ada disini?"
"Itukan karena kau"
"Aku?"
"Kenapa kau bolos?"
"Itu urusanku Teme"
"Hn"
"Terus kau sendiri ngapain disini?"
"Inikan sudah jam istirahat makan siang Dobe"
"Apaa... jadi dari tadi aku tertidur disini, ya ampun Kakashi sensei pasti menceramahiku lagi ha-ah" gumam Naruto.
"Rasanya perutku lapar sekali... akh sebaiknya aku beli ramen untuk makan siang, let's go..."
GRAAAAPP
"Ka.. kau apa yang kau lakukan... LEPASKAN TANGANKU TEME !".
"Nggak mau"
"TEME CEPAT LEPASKAN TANGANKU..." Dengan susah payah Naruto menarik tangannya agar bisa lepas dari cengkraman sang raven, tapi apa daya tenaga Sasuke lebih besar darinya. Dan dengan satu tarikan dari Sasuke, Naruto terhempas kedalam pelukannya.
"KYAAAA... TEME BASTART MAU AP..."
"Apa kau benar-benar lupa?"
"Eh?! Ap-apa maksudmu... ?"
Sasuke semakin mempererat pelukannya tanpa menggubris pertanyaan Naruto. Didekatkannya bibir itu ketelinga naruto, hingga membuat sang korban pelukan bisa merasakan deru napas Sasuke.
"My Shine"
To Be Continue
Sebelumnya ane berterima kasih sama para Reader yang udah dengan senang hati membaca fic ane
Terutama yang udah ngasih ane masukan, kritik n semangat
Semoga Minna-san nggak bosen buat "mampir" ke fic ane yak
Hiks... Arigatou Minna TTwTT (maap agak lebay XD)
