[The Immortals]
Keduanya adalah mahluk abadi, berkenala mengelilingi seluruh Aernas, untuk menjaga perdamaian serta menegakkan keadilan.
Sudah dua jam keduanya berada di pantai Kerrie ini. Sieghart tengah asyik menikmati hembusan angin darat yang sejuk dan hangatnya sinar matahari sembari merebah di atas lembutnya lapisan pasir putih; sementara Eun duduk tidak jauh darinya , mengamati bilah besi pedang favoritnya, mendapati ada sedikit lapisan karat di beberapa bagian. Ia menggerutu kesal, mengeluarkan sebatang tembaga kecil dari dalam kantung yang dibawanya, menggosoknya pada permukaan yang berkarat.
"Itulah akibatnya kalau kau tidak sering-sering mengeluarkan jurusmu apimu," canda Sieghart, mengomentari aktivitas si Phoenix.
Eun mengerutkan kening. "…Aku sudah terbiasa. Lagipula, jurus-jurusku memakan banyak tenaga, kau tahu itu."
"Kau masih punya tombakmu. Gunakan saja itu. Pedangmu itu berharga sekali, bukan?"
Lawan bicaranya diam, menunduk mengamati pedang yang tengah digosoknya. Seulas senyum muncul di wajahnya. Ya, pedang tersebut selain adalah favoritnya, juga adalah benda terpenting yang ia miliki karena pedang yang bernama Xin Yuejian itu adalah pemberian dari Ayahnya dan melambangkan pengakuan sang Ayah terhadap dirinya sebagai salah satu Jendralnya.
Ia menengadah ke langit yang cerah, namun ekspresinya tak secerah angkasa biru di atas kepalanya. Sieghart membuka salah satu matanya, kemudian bangkit ke posisi duduk.
"…Kau masih memikirkan pria itu?" tanyanya.
Eun mengangguk pelan. "Tentu saja… Karenaku, ia… yang harus menggantinya."
"Hei," Sieghart menepuk bahu lawan bicaranya, tersenyum, berharap dapat menenangkan si Phoenix. "Tentu saja itu bukan salahmu. Portal dimensi itu disebabkan oleh energi kegelapan yang terlalu liar. Lagipula, kau sendiri terhisap dari duniamu dan terlempar kemari di saat yang bersamaan pria berambut merah itu terhisap, bukan?"
"Karena itu, kita harus cepat mencari jalan agar-"
"Dan untuk itulah kita membutuhkan 'Grand Chase', nona muda. Destinasi kita adalah sebuah dunia yang berbahaya. Yah… kekuatanku sih memang katanya sepadan dengan mahluk-mahluk yang berdiam di sana tetapi, aku tidak mau sendirian mengeluarkan seluruh tenagaku."
"Tetapi pria itu-"
"Dari yang kutahu, siapapun yang masuk ke dalam lubang dimensi tidak akan menua, hanya tertidur saja. Ia tidak mati."
Eun diam senejak, menggenggam erat gagang pedang dalam genggaman tangan kanan. Ia mengangkat kepalanya, kali ini menoleh ke arah utara bumi. Sieghart mengangkat alis, mempertanyakan.
"Ada apa?"
"…Aku merasakan… aura kegelapan…"
"Hmm? Ah… mungkin karena terlalu menikmati hawa sejuk pantai Kerrie aku sampai tak menyadarinya~"
"Inderamu saja yang nampaknya mulai menumpul, Saudara Sieghart."
Sieghart tertawa. "Jadi, darimana asalnya?"
"…Utara. Kira-kira 200 li dari tempat ini."
Sieghart kembali merebah, mengherankan si Phoenix. "Ah, itu jauh sekali~ Biarkan saja Grand Chase yang membereskannya."
"Saudara Sieghart. Kau ini pahlawan Kanavan."
"Tetapi, kudengar Grand Chase adalah sebuah kelompok yang terdiri dari para ksatria yang kuat. Jadi, buat apa kita susah-payah turun tangan? Lebih baik kita simpan tenaga kita agar bisa kebut ke Xenia."
Si Phoenix berdiri, berjalan ke sisi Sieghart hanya untuk menarik kerah kemeja pria itu, menyeretnya. Sementara Sieghart hanya menggerutu sebelum bangkit dan berjalan dengan sepasang kakinya sendiri.
"200 li, hmm? Berarti kurang lebih seratus kilometer. Butuh dua hari untuk sampai ke sumber aura itu."
Eun mendesah. Siapa nyana bahwa manusia abadi di sampingnya ini begitu pemalas hingga malas untuk menyelamatkan benuanya sendiri. Padahal, mereka bisa menempuh jarak sekian dalam waktu kurang dari 24 jam jika si manusia abadi bersurai hitam bersedia untuk berlari dibanding berjalan santai. Sieghart melemaskan otot-otot pada tubuhnya sebelum berlari, mencabut pedang gladius yang menancap tidak jauh darinya.
"Baiklah… Waktunya untuk serius!"
…
Chapter 2 : The Origin
…
Pertemuan dua mahluk abadi itu bermula dari sebuah insiden.
Suara dentuman menggema dalam gua raksasa, tanah bergetar akibat guncangan serangan Red Gorgos yang meleset menghantam dinding gua. Sieghart berjengkolit mundur, memutar gladius-nya, menembakkan lidah api keunguan ke arah musuhnya, berhasil mengenainya. Kemarahan Red Gorgos kian menjadi, monster itu meraung keras, kemudian melesat maju untuk menghantam Sieghart dengan tubuhnya.
Seorang ksatria beratribut semerah rambutnya jatuh dari tebing terdekat, menghantam kepala Red Gorgos dengan bilah pedangnya, menghentikan serangan si monster. Ia melompat, mendarat di hadapan Sieghart. Si manusia abadi bersiul, menyeringai lebar.
"Wow, terima kasih atas bantuannya, Nak."
Si ksatria bersurai merah bingung. Usia mereka (secara fisik) nampaknya tak bagaimana jauh, tetapi, pria itu sudah dipanggilnya dengan 'Nak', sepatah kata yang sering disebut oleh orang-orang berusia lebih senior ketika memanggil pria muda seperti dirinya.
"Grrr… BERANINYA KAUUUU!"
"Flame Sword!"
Untuk kesekian kalinya, gempa kecil mengguncang gua Red Gorgos. Sieghart mengayunkan pedangnya, menggenggamnya dengan mata pedang yang mengarah ke belakang. Tangan kiri yang lowong digunakannya untuk menepuk-nepuk permukaan pakaiannya, membersihkan debu dan pasir yang bersarang.
"Jurus itu?!"
Sieghart melirik dari sudut matanya.
"Kau… Bagaimana kau bisa menggunakan jurus-"
"Ah, ya, mungkin memang terdengar gila dan penuh dusta tetapi, terserah kau mau percaya atau tidak," Sieghart menyeringai. "Aku adalah kakek buyutmu, anak muda."
Keheningan canggung terjadi di antara keduanya.
"…Kakek buyutku?"
"Sudah kubilang padamu terserah mau percaya atau tidak," Sieghart terkekeh. Sungguh, lucu sekali melihat ekspresi-ekspresi orang yang seperti ini, melongo setiap kali ia berkata demikian. Tetapi, untuk sikon kali ini, semuanya memanglah benar. Ksatria yang telah membantunya ini adalah Elscud Sieghart, turunan entah generasi keberapa setelah Ercnard Sieghart yang ada di hadapannya.
"Tunggu dulu. Tunggu dulu. Siapa namamu?"
"Ah… Aku hampir lupa memperkenalkan diri~" Sieghart menyandarkan kepala pada sepasang tangan yang tersilang di belakang setelah menancapkan gladius di tanah. "Namaku adalah Sieghart."
"Itu adalah nama keluarga. Dan itu adalah nama keluargaKU! Sebutkan nama lengkapmu!"
Sieghart menggerutu dalam hati. Satu alasan ia maunya dipanggil dengan nama keluarga hanya karena ia merasa nama aslinya begitu memalukan. Baiklah, ia bersyukur diberi nama oleh mendiang kedua orang tuanya tetapi, tetap saja, jiwa seorang anak-nya menegaskan bahwa nama pertamanya begitu memalukan dan harus segera diganti.
"Bah! Cukup panggil leluhurmu ini Sieg-"
Belum sempat Sieghart selesai berucap, sebuah lubang dimensi muncul tak jauh di belakang Elscud. Refleks ia segera merentangkan tangan, hendak meraih Elscud tapi apa daya, refleksnya telat sedetik. Elscud telah masuk ke dalam portal dimensi yang hilang sesaat kemudian dan Sieghart sama sekali tak memiliki kekuatan untuk membukanya kembali, apalagi untuk menciptakan satu. Ia menggertakkan gigi. Inilah kesekian kalinya seseorang kembali menjadi korban akibat lubang dimensi yang muncul sembarang. Tujuannya kemari adalah untuk menyelidiki hubungan antara lubang dimensi, Kaze'aze dan Xenia, tetapi, semuanya terjadi begitu saja di HADAPANNYA dan ia tak bisa berbuat banyak.
Dan yang terhisap adalah salah satu turunannya.
Sebuah lubang dimensi terbuka di udara. Sieghart menengadah, berharap bahwa yang keluar adalah turunannya.
Bukan. Yang keluar dari lubang dimensi bukanlah turunannya melainkan… seorang gadis bersurai coklat tua dan mengenakan gaun berlapis bulu kuning-kemerahan. Ia merentangkan sepasang tangannya, menangkap gadis itu dengan mudah. Sebuah pendaratan mulus.
Satu pertanyaan yang terlintas dalam benaknya dan keluar dari sepasang bibirnya.
"…Oi, turunanku? Kau tidak apa-apa?"
Gadis itu menatapnya heran. "Turunanmu? Apa maksudmu? Dan bisakah tolong kau turunkan aku?"
"Oh, maaf," Sieghart menurunkan si gadis misterius perlahan.
Gadis itu membungkuk padanya. "Terima kasih telah menolongku tadi," ia tersenyum. "Namaku adalah Kao Eun."
Fix. Elscud tidak berubah menjadi wanita setelah masuk ke dalam lubang dimensi barusan. Sieghart bisa bernapas lega sejenak karena berubah jenis kelamin adalah suatu hal yang bahkan jauh lebih menakutkan dari kematian sendiri. Sieghart mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ya, sama sekali tidak ada kemiripan antara dirinya dengan perempuan misterius dari lubang dimensi ini.
"Jadi… kau bukan turunanku?"
Meski dilanda kebingungan akan apa yang dimaksud Sieghart, ia tetap mengangguk karena ya, mereka memang tak memiliki hubungan keluarga maupun kekerabatan apapun.
"Apakah keturunanmu yang kau maksud mirip denganku?"
"Tidak, tidak, sama sekali tidak," Sieghart mengibas-ngibaskan tangan kanan. "Ia lelaki dan berambut merah. Dan baru saja tertarik masuk ke dalam lubang dimensi. …Seandainya saja reaksiku lebih cepat dari lubang dimensi itu…"
"A-… Ah… Jadi pria yang kulihat dalam ruangan aneh itu 'kah turunanmu?"
Sieghart membelalak menatap Eun. Mendadak dicengkramnya sepasang bahu perempuan mungil di hadapannya itu.
"Bagaimana keadaannya?! Dia baik-baik saja?!"
"Te-… tenangkan dirimu dahulu…"
Sieghart menarik napas, mengatur kembali emosinya yang sempat bergejolak.
"Aku melihatnya tadi… tetapi lubang dimensi itu menarikku terlebih dahulu sebelum aku bisa meraihnya…" Eun menunduk. "Aku meminta maaf sebesar-besarnya tak bisa menyelematkannya…"
Sieghart mendecih, menoleh menatapi Red Gorgos yang hendak siuman tak lama lagi. Tujuannya datang kemari adalah karena ia hendak mencari tahu keberadaan serta keterlibatan Kaze'aze dalam munculnya lubang-lubang dimensi. "…Aku harus menolongnya."
"Biarkan aku membantumu!"
Sieghart kembali mengalihkan atensi pada gadis muda di belakangnya.
"Aku bersedia membantumu untuk menembus kesalahanku! Kumohon!"
Dilihatnya sekali lagi bocah itu dari ujung kepala ke ujung kaki. Dari penampilan serta aura yang dikeluarkannya, Sieghart bisa berkata bahwa si gadis bukanlah manusia biasa. Dan dari kemurnian auranya, mungkin, mungkin perempuan ini adalah seorang Dewi.
Tetap saja, ia perempuan dan nampaknya bukan petarung yang hebat. Terbukti dari cara bicaranya yang lemah lembut dan fisiknya yang langsing.
"…Maaf, bocah, tetapi aku tidak ingin misiku terganggu oleh-"
Ujung cakar tajam Red Gorgos hanya tinggal beberapa puluh sentimeter dari kepalanya, Sieghart tak menemukan kesempatan untuk menghindari lagi. Ia memang tidak bisa mati tetapi, kehilangan kepala di tangan kacungnya Kaze'aze akan mencemari namanya untuk selamanya dan secara fisik, membuatnya hidup abadi dengan kecacatan fatal mendampingi…
Lidah api menyembur dari belakang, mengenai Red Gorgos, mengirimnya kembali membentur keras dinding gua. Sieghart membalikkan kepala, mendapati Eun yang merentangkan tangan kanannya.
Lidah api barusan tak lain adalah dari sana.
Sebuah siulan keluar dari mulutnya.
"Baiklah, kurasa kau tidak akan menghambatku, bukan?" Sieghart mengulurkan tangan kanan. "Namaku Sieghart."
"Ah…" uluran tangan itu disambut baik oleh Eun. "Salam kenal, Saudara Sieghart. Mohon kerjasama-nya darimu."
Seperti itulah pertemuan antara dua mahluk abadi yang kini, mengembara ke seluruh Aernas, menjaga perdamaian serta menegakkan keadilan.
To Be Continued…
