-Enam bulan sebelumnya-

Ten baru saja pulang dari bekerja, dia hempaskan badannya ke sofa coklat di tengah ruangan apartemennya. Sulur-sulur yang merambat di depan jendela menghalangi cahaya matahari jingga yang terpekur sebelum terbenam. Dipejamkannya kedua mata, lalu menghela napas panjang, berusaha untuk santai. Biarpun memejamkan mata, Ten masih tersenyum, teringat Jaehyun dan obrolan ringan mereka.

Kata Taeil, Jaehyun sebenarnya sudah mengincarnya sejak lama untuk didekati. Ten termenung dalam senyuman yang tak kunjung hilang di bibirnya. Sejak pertama dia dikenalkan dengan Jaehyun, salah satu karyawan baru di divisinya, dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Tetapi tidak disangkanya Jaehyun mungkin menyimpan perasaan yang sama, hingga Taeil mengatakan kepadanya.

Siang tadi, Jaehyun tiba-tiba mendekatinya ketika Ten sedang menuang air panas dari dispenser ke cangkir yang berisi kopi instan. Aroma kopi langsung menguar, memenuhi ruangan, menciptakan keharuman yang menyenangkan. Jaehyun menyapanya biasa-biasa saja, dan Ten sudah salah tingkah menghadapinya. Tetapi kemudian lelaki itu bertanya apakah Ten ada kegiatan di akhir pekan ini – yang langsung dijawab Ten bahwa dia tidak kemana-mana – dan kemudian ajakan kencan itu datang. Jaehyun mengajaknya ke sebuah acara pameran komputer di sudut kota. Bukan kencan dalam arti sebenarnya memang, tetapi bukankah ketika seseorang memutuskan untuk keluar bersama di akhir pekan...bisa disebut sebagai kencan?

Kencan...Ten membuka matanya dan menatap ke sekeliling ruangan rumahnya. Dia bahkan tidak pernah memikirkannya sampai akhir-akhir ini. Sejak kecelakaan yang menyebabkan ayahnya meninggal, Ten menyibukkan diri untuk mengurus harta peninggalan ayahnya. Ten menjual semuanya, dengan alasannya sendiri.

Sambil menghela napas panjang, Ten berdiri. Dia lalu melangkah ke dapur, menuangkan kopi dari mesin pembuat kopi ke cangkirnya, kopi itu sudah tidak panas lagi karena sisa dari kopi yang dibuatnya di pagi hari sebelum berangkat kerja. Tetapi Ten masih bisa merasakan rasa asam khas kopi yang nikmat di sana. Dahinya mengernyit dan dia menghela napas, dia hampir-hampir bisa disebut kecanduan kopi. Pagi, siang, dan malam...dia tidak bisa hidup tanpa menuang secangkir kopi untuk mengisi lambungnya yang kadang-kadang menolak dan berunjuk rasa dengan rasa perih yang menggigit di sana.

Tetapi Ten butuh membuka matanya. Sejak kematian ayahnya, Ten hampir terlalu takut untuk tidur. Benaknya dipenuhi ketakutan, ketakutan yang dia tidak tahu karena apa...ketakutan itu seperti menyimpan rahasia gelap yang mengerikan. Membuat Ten dipenuhi kewaspadaan setiap malam, takut kalau-kalau kegelapan itu menyergapnya ketika dia memejamkan mata. Ten sudah menghubungi psikiater yang merawatnya sejak kejadian kecelakaan itu. Kata psikiater-nya, rasa takut tanpa alasan yang dirasakan Ten hanyalah efek manifestasi trauma atas kecelakaan yang menyebabkan dia terluka parah, dan menewaskan ayahnya. Psikiater itu merawatnya dengan baik, session demi session, sampai kemudian Ten merasa dirinya sudah sembuh, bebas, dan bahagia tanpa ketakutan yang menghantui.

Sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Ten mendesah dalam keheningan. Dia sudah bebas. Sekarang dia bisa memulai hidup yang baru, bisa mencoba membuka hati dan jatuh cinta lagi.

Rasa takut itu sudah ditinggalkannya jauh-jauh. Dia bebas sekarang, tidak akan ada lagi kegelapan yang mengintai dan berusaha menyakitinya. Mungkin memang cahaya terang sudah memasuki kehidupannya. Ten tersenyum, membayangkan jalan indah yang mungkin akan dilaluinya bersama Jaehyun nanti

###

Ten duduk siang itu menghadap pot bunga yang tersusun rapi di teras cafe yang cukup ramai dengan pengunjung. Diliriknya jam tangan di pergelangan tangan kirinya, masih 15 menit lagi sebelum

orang itu datang. Dia siapkan kembali beberapa surat perjanjian kontrak, mengecek kembali beberapa helai materai yang akan diperlukan nanti.

It's all set, Ten membatin.

Ini aneh, karena sang klien meminta penandatanganan kontrak di sebuah cafe eksklusif yang sangat privat, biasanya para klien memilih menandatangani kontrak di ruang rapat kantor pusat mereka yang sudah disediakan. Tetapi bagaimanapun juga, bosnya mengatakan bahwa ini adalah klien penting, dan apapun permintaannya sesulit apapun itu, harus dituruti.

Suara berisik di pintu membuatnya menoleh. Beberapa lelaki berpakaian hitam-hitam tampak memasuki ruangan, ekspresi mereka semua sama, datar dan kosong, membuat Ten merinding. Dia memandang ke sekeliling dan terkejut, cafe itu beberapa saat tadi tampak cukup ramai. Tetapi sekarang, tidak ada satu orangpun di sana, suasana cukup lengang dan tidak ada aktivitas apapun, selain beberapa orang berpakaian hitam-hitam yang terus menerus masuk, dan berdiri dengan kaku. Hampir membentuk barisan, seolah-olah mereka memberi jalan untuk seseorang.

Satu...dua...tiga...Ten menghitung jumlah orang-orang itu, seluruhnya ada dua puluh orang. Siapakah gerangan yang membawa dua puluh orang pegawai, memberi mereka pakaian yang sama, dan membuat mereka memasang ekspresi sama?

Rupanya Ten tidak perlu menunggu lama, di pintu, masuklah seorang lelaki tua, berpakaian putih-putih, sangat kontras dengan penampilan para pegawainya, dan langsung melangkah menuju Ten.

Inikah klien penting mereka? Tiba-tiba Ten gemetar karena meskipun sudah tua, lelaki itu masih menebarkan aura mendominasi yang sedikit menyesakkan dada.

Lelaki itu berdiri, mengamati Ten lalu mengangkat alisnya. "Tuan Ten?"

Tiba-tiba Ten tersadar bahwa dia tidak sopan karena tetap duduk sementara sang klien penting masih berdiri di depannya. Dia langsung berdiri dan mengulurkan tangannya dengan sopan. "Betul. Saya Ten. Anda Tuan Lee Soo Man?"

Seulas senyum yang tak disangka muncul di bibir lelaki tua itu saat membalas uluran tangan Ten, "Betul, Mari kita langsung bicarakan bisnis di sini."

Lelaki itu duduk, sementara Ten melirik orang-orang tadi yang dia duga pengawal yang tetap berdiri tanpa ekspresi di sana, merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Tetapi lelaki itu rupanya sudah terbiasa, karena dia langsung membuka percakapan ke arah bisnis. "Seluruh kontrak sudah disiapkan?"

"Sudah." Ten membuka map itu dan menyerahkannya ke lelaki tua itu. Lee Soo Man langsung menerima dan memeriksa isinya. Dahinya berkerut dalam ketika menelaah setiap klausul yang ada. Setelah lama, dia mengangkat matanya dan tersenyum.

"Bagus. Sesuai permintaan. Di mana saya harus tanda tangan?" Jantung Ten yang sedari tadi menunggu dengan tegang langsung terasa lega, seolah napasnya meluncur dalam dan mengosongkan rongga dadanya. Dengan tangan agak gemetar, dia menunjuk ruang kosong yang sudah diisi dengan materai. Sebentar lagi tender untuk kontrak paling penting di perusahaannya akan di tandatangani. Lelaki itu meraih pena emas dari saku jas putihnya dan kemudian dengan tenang dia menandatangani di tempat itu, di seluruh bagian yang ditunjukkan Ten, di berkas asli dan beberapa salinannya. Setelahnya dia tersenyum, menyerahkan map kertas itu kepada Ten, memasukan pena emas ke sakunya dan kemudian langsung berdiri.

"Senang berbisnis dengan anda, sampaikan salam untuk atasan anda."

Kemudian lelaki tua itu berbalik, melangkah meninggalkan Ten yang masih termangu melihat langkahnya menjauh. Para pengawalnya yang berpakaian hitam-hitam tadi langsung mengikutinya. Setelah semuanya pergi, cafe menjadi lengang, hanya tersisa Ten yang duduk di sana. Bahkan para pegawai cafe seolah-olah lenyap ditelan bumi.

Ten termangu, lalu mengemasi seluruh berkas penting itu, dan memasukkannya dengan teliti ke dalam map. Berkas ini sangat berharga, dia harus menjaganya baik-baik dan memastikan tidak ada yang terlewat di sana. Setelah semuanya rapi, dia melangkah berdiri, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan bingung karena tak terlihat seorangpun di dalam sana, seperti telah diatur seperti itu karena kedatangan lelaki tua tadi. Kemudian setelah menghela napas panjang, dia meninggalkan uang di meja dan melangkah pergi. Hatinya tenang dan lega karena sudah menyelesaikan tugas terpenting dari atasannya. Dia sudah tidak memikirkan lelaki tua itu lagi karena Ten merasa dia tidak akan bertemu dengannya lagi.

Tidak disadarinya bahwa dia salah. Lelaki tua itu akan memegang peranan penting dalam kehidupannya ke depannya.

###

Jaehyun mendekatinya siang itu dengan senyum lebarnya yang khas.

"Kudengar kau meng‟gol‟kan kontrak kerja paling hebat tahun ini." Ten tersenyum malu-malu mendengar sapaan Jaehyun itu. Semua orang memujinya, padahal yang dilakukannya hanya datang dan membawa berkas untuk ditandatangani seperti yang diperintahkan oleh atasannya. Ten sendiri menolak semua pujian itu. Gol atas tender besar itu bukan atas usahanya, melainkan atas usaha dari atasan-atasannya yang melakukan negosiasi dengan penuh upaya. Apa yang dilakukan Ten hanyalah sentuhan akhirnya, menyiapkan semua kontrak dan surat perjanjian, sesuai keahliannya lalu memastikan bahwa semuanya ditandatangani.

"Itu semua bukan hanya karena aku." Jawab Ten manis, setengah malu-malu.

Jaehyun tertawa mendengarnya dan mengangkat bahu, "Apapun itu, kau telah berhasil, dan kurasa kita pantas merayakannya."

"Merayakannya?"

"Ya. Kau dan aku, makan malam bersama."

"Makan malam bersama?"

Kali ini Jaehyun tergelak geli, "Hyung, kau mengulangi setiap kata-kataku."

Pipi Ten memerah, menyadari kekonyolan sikapnya. Tetapi Jaehyun malahan tampak geli, dia mengedipkan sebelah matanya menggoda, "Bagaimana? Mau makan malam bersamaku malam ini?"

Mata Ten berbinar, dadanya terasa hangat, dia menganggukkan kepalanya dengan malu-malu, "Ya aku mau."

Rasanya hari itu Ten seperti lahir kembali. Dia yang semula selalu bersembunyi dalam kegelapan, sekarang ditarik menuju cahaya terang yang menyilaukan bersama Jaehyun

###

Ten berdiri dengan gugup di depan meja riasnya, kebingungan.

Setelah menyisir rambutnya, Ten memakai sneakers warna putih miliknya. Dia menatap dirinya di cermin untuk terakhir kalinya, sebelum meraih dompetnya dan melangkah ke luar kamar.

Tepat pada saat itu, bel pintu berbunyi.

Itu pasti Jaehyun. Dengan riang Ten melangkah bersemangat ke arah pintu, hingga kemudian langkahnya terhenti mendadak, entah kenapa merasa ragu. Ten mengernyit dan mendesah jengkel, rasa takutnya ternyata masih tersisa, bermanifestasi menjadi rasa waspada dan curiga. Dia mengintip ke lubang pengintai di pintu, dan melihat Jaehyun berdiri di sana. Ten menghela napas, dia kesal akan ketakutan bodohnya yang tidak beralasan ini. Setelah menghela napas panjang, Ten membuka pintu dan berusaha tersenyum ceria.

Well sebenarnya Ten tidak perlu terlalu berusaha untuk ceria. Senyum manis Jaehyun ketika melihatnya, dan binar mata Jaehyun menunjukkan pujiannya akan penampilan Ten, membuat Ten merasa tersipu dan bahagia, entah kenapa. Jaehyun berdeham dan mengangkat alisnya, "Mungkin aku akan sibuk malam ini."

"Sibuk?" Ten menatap Jaehyun bingung.

Jaehyun tersenyum penuh arti, "Aku akan sibuk mengusir lelaki-lelaki yang melirikmu dan mencoba mendekatimu karena penampilanmu ini sangat cantik." Jaehyun mengedipkan sebelah matanya dan setengah membungkuk, "Terima kasih sudah mau makan malam bersamaku, Ten hyung."

Ten tergelak mendengar rayuan Jaehyun yang dibalut dalam canda itu. Ketika Jaehyun mengulurkan tangannya dan mengajaknya memasuki mobil, Ten mengikutinya dengan langkah ringan dan tanpa beban.

###

Ruangan itu tampak mewah, dihiasi oleh barang-barang berkelas, menunjukkan kekayaan pemiliknya, Lee Taeyong yang sekarang sedang duduk di sebuah kursi besar. Wajahnya tampak muram.

"Well?" Lee Soo Man yang duduk di depan lelaki berwajah murung itu berkata, "Dia bahkan tidak mengenalimu ketika kau berdiri menyamar dan berpakaian serupa seperti para pengawalku."

Taeyong mengangkat alisnya, ekspresi sinis yang tapi menawan muncul di matanya yang gelap pekat. Dia setengah mendengus ketika berkata, "Aku memang tidak mengharapkan dia mengenaliku."

"Jadi bagaimana sekarang?" Soo Man menatap Taeyong dengan senyuman menggoda. "Pemuda itu tidak menyadari betapa beruntungnya dia. Tidak ada yang pernah lolos dari targetmu, Taeyong. Kau adalah lelaki yang terkenal sebagai sang pembunuh berdarah dingin. Dia adalah satu-satunya manusia yang bisa membuatmu menghancurkan reputasimu : sebagai yang tak pernah gagal dalam melaksanakan misimu." Soo Man melemparkan pandangan memancing, "Akankah kau akan membiarkannya bebas dan tidak pernah tahu bahaya yang sedang mengintainya, ataukah kau akan menuntaskan tugasmu dan melenyapkannya seperti yang seharusnya terjadi?"

Taeyong tidak terpancing tentu saja. Dia sangat mengenal Lee Soo Man, lelaki tua itu adalah mentor sekaligus sahabatnya. Lee Soo Man sangat suka memancing orang lain lalu menilai dengan ahli setelah melihat tanggapan orang itu. Karena itulah Lee Soo Man sangat sukses dalam bisnisnya, dia punya kemampuan jenius untuk menilai orang lain sampai ke dalam-dalamnya. Taeyong hanya memasang ekspersi dingin dan tidak terbaca ketika menanggapi Lee Soo Man, dia bersikap sesantai mungkin.

"Waktunya akan tiba nanti." gumamnya seolah tak peduli.

###

"Kau tahu, sudah hampir tiga tahun sejak terakhir kali aku berkencan."

Jaehyun tersenyum lembut sambil menatap Ten. Mereka telah menyelesaikan makan malam di sebuah restoran elegan yang menyajikan menu-menu luar biasa nikmatnya. Lampu restoran ini sengaja didominasi oleh warna kuning hangat, dengan lantai dari panel kayu berwarna gelap yang menyatu dengan suasananya. Amat sangat indah.

Ten tidak pernah menyangka, kencannya dengan lelaki – sejauh yang dia ingat – bisa seindah ini. Ten tersenyum, menopangkan jemarinya dengan lembut di dagu, menatap Jaehyun yang tampak sangat tampan di bawah cahaya temaram lampu. "Apakah kau tidak tertarik mengajak seorangpun sebelumnya?"

Jaehyun menyesap minumannya, kemudian menatap Ten penuh arti, "Aku kehilangan orang yang kusayangi, dan kemudian berusaha menyembuhkan jiwaku sendiri. Ketika aku sadar, ternyata aku telah melewatkan banyak hal." Lelaki itu tampak sedih, "Tunanganku meninggal tiga bulan sebelum tanggal pernikahan kami."

Wajah Ten memucat, "Maafkan aku."

"Jangan minta maaf, aku memang ingin bercerita." Jaehyun menatap Ten lembut, "Sekarang aku sudah berhasil mengenang sambil tersenyum, dan bisa melepaskan kesedihan jiwaku."

Ten paham perasaan Jaehyun. Di malam-malam sepi setelah penyembuhannya, ketika Ten dihadapkan pada kenyataan bahwa ayahnya telah meninggal, Ten selalu menangis dalam kepedihan di dalam kamarnya. Dia meringkuk sendirian dalam kegelapan, dan yakin bahwa dia akan terus menangis, bahwa sakit ini tidak akan tersembuhkan, dan tidak mungkin waktu bisa menyembuhkan luka. Tetapi waktu memang bisa menyembuhkan luka. Tuhan yang begitu mencintai manusia, telah menciptakan obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka yang tertoreh dalam di hati manusia. Obat itu adalah "waktu", menyembuhkan pelan-pelan bahkan tanpa disadari oleh manusia itu sendiri.

Ten kini bisa mengenang sambil tersenyum, seperti yang dikatakan Jaehyun tadi. Tiba-tiba ingatannya kepada almarhum ayahnya tidak terasa menyakitkan lagi.

"Aku pernah merasakan hal yang sama ketika ayahku meninggal," Ten mendesah, "Dan aku bersyukur aku bisa mengenangnya sambil tersenyum kini."

Tatapan Jaehyun tampak menusuk ke dalam, seolah berusaha menjangkau kedalaman jiwa Ten, "Apakah kau sangat menyayangi ayahmu?"

"Tentu saja." Ten tersenyum, "Dia ayahku...dan kami selalu berdua. Ibuku meninggal ketika melahirkanku, dan ayahku menyerahkan seluruh hidupnya untuk merawatku."

Jaehyun menganggukkan kepalanya, lalu jemarinya meraih tangan Ten dan menggenggamnya lembut, "Setiap orang pernah terluka. Tetapi manusia mempunyai kemampuan menyembuhkan diri, seperti kau dan aku."

Tatapan mereka berpadu dan entah kenapa Ten merasa seperti berlabuh. Dia merasa begitu tepat di sini, berdua bersama Jaehyun, seolah-olah mereka memang diciptakan untuk bersama.

###

"Aku tidak sadar kalau sudah larut malam." Mereka masih bercakap-cakap di restoran yang nyaman dan indah itu, memesan secangkir kopi dan bercerita tentang segala sesuatunya. Ada banyak sekali kemiripan Ten dengan Jaehyun, kadang membuat mereka saling terperangah, lalu tertawa bersama seolah-olah sedang menyimpan rahasia milik mereka sendiri.

Ten melirik jam tangannya, sudah hampir jam 10 malam. Suasana di dalam restoran terlihat penuh dan ramai, meski begitu masing- masing tampak menikmati sajian makan malam yang nikmat, tak ada yang merasa terganggu. Beberapa pasangan tampaknya sengaja datang larut untuk menikmati malam. Karena ini malam minggu, restoran buka sampai tengah malam. Semua orang terlihat tidak peduli akan malam yang telah larut, seolah-olah tidak mau mengikuti sang malam yang mulai beranjak. Dengan tatapan menyesal, Ten berkata kepada Jaehyun, "Aku juga tidak sadar kalau sudah malam, aku terlalu asyik menikmati percakapan kita." gumamnya malu-malu.

Jaehyun terkekeh, "Kapan-kapan kita harus melakukannya lagi, ini benarbenar menyenangkan."

Lelaki itu setengah berdiri, diikuti oleh Ten. Mereka berjalan bersisian, berdekatan, dan ketika Jaehyun menggenggam jemarinya, Ten tidak menolak.

Sampai kemudian mereka melewati sebuah meja. Meja itu kosong.

Tetapi ada sesuatu yang menyala, seolah-olah menanti seseorang. Sesuatu di atas meja itu...

Wajah Ten pucat pasi ketika perutnya bergolak luar biasa. Di atas meja itu...ada tepatnya sembilan lilin berwarna biru yang disusun dengan sempurna dan cantik yang mengeluarkan cahaya redup yang terlihat romantis. Seolah-olah seorang lelaki sedang menunggu di suatu tempat untuk memberikan kejutan kepada kekasihnya yang berbahagia di sana. Siapapun perempuan itu pasti akan sangat senang melihat pengaturan lilin-lilin temaram yang terasa menghangatkan hati itu.

Tetapi alih-alih senang dengan pemandangan yang tanpa sengaja dilihatnya itu, Ten malah dihantam oleh perasaan yang tidak dapat dicegahnya. Lilin biru itu, pengaturan yang rapi itu...semuanya seolah memaksa Ten untuk membuka kenangannya akan sesuatu...sesuatu yang gelap dan menakutkan. Ten melawan rasa takut itu sehingga menimbulkan gelombang rasa mual yang luar biasa menyiksa. Tubuh Ten limbung, membuat Jaehyun terperanjat dan menahannya bingung,

"Hyung...Ten hyung ? Kau kenapa?"

Ten hampir kehilangan kesadarannya atas rasa nyeri yang seakan merobek kepalanya. Dia melirik ke arah meja kosong dengan lilin biru itu, dan rasa mual kembali bergolak di dalam dirinya,

"Aku ingin keluar dari sini." Wajahnya pucat pasi, membuat Jaehyun panik, untunglah lelaki itu memilih menuruti apa yang diinginkan oleh Ten. Dengan lembut tetapi kuat, dia setengah menopang langkah lemah Ten keluar ruangan.

Ketika berada di luar restoran, berhadapan dengan udara segar yang dingin dan menampar pipinya, Ten menghirup napas dalam-dalam, menghembuskannya beberapa kali untuk kemudian menarik napas lagi. Dia menahan rasa mual di perutnya, dan mengernyit. Sementara itu Jaehyun yang menatap kernyitan Ten tampak makin cemas,

"Kau kenapa hyung? Apa yang bisa kulakukan? Apakah kau mau segelas air?"

Ten menggelengkan kepalanya, "Tidak." Jemarinya yang lemah mencekal lengan kemeja Jaehyun yang sudah akan berbalik masuk ke restoran, "Tolong.. tunggu sebentar lagi. Aku akan baikan, jangan tinggalkan aku."

Jaehyun menatap Ten dalam, lalu menghela napas panjang, dipeluknya Ten dengan sebelah lengannya, membiarkan pemuda itu bersandar di sana, "Jangan cemas, aku ada di sini." bisik Jaehyun lembut, membuat perasaan hangat mengaliri dada Ten.

Dia bersandar sepenuhnya di tubuh kokoh dan hangat Jaehyun, menikmati kehangatan yang menyebar dari sana. Setelah menghela napas panjang untuk kesekian kalinya, Ten memutuskan bahwa dia sudah merasa lebih baik. Dia mendongakkan kepalanya, dan matanya bertemu langsung dengan mata Jaehyun yang bening,

"Terima kasih. Sepertinya aku sudah enakan."

Jaehyun langsung memeluknya erat, "Sama-sama Ten, apakah kau benar-benar sudah tidak apa-apa?"

Ten menganggukkan kepalanya dengan lembut, melepaskan diri dari topangan tubuh Jaehyun.

"Iya. Kita bisa pulang sekarang, mungkin tekanan darahku turun tadi.

Jadi aku sedikit limbung, tetapi sekarang aku sudah tidak apa-apa."

Jaehyun mengamati Ten dengan teliti, seolah-olah tidak yakin. Tetapi lelaki itu kemudian tersenyum lemah dan menyerah, dia cukup bijaksana untuk tidak mengkonfrontasi Ten di saat pemuda itu sedang lemah, masih banyak waktu nanti untuk menanyakan kondisi Ten yang sebenar-benarnya. Sekarang dia harus mengantarkan Ten pulang supaya bisa beristirahat.

"Ayo, kita pulang," Dengan lembut Jaehyun menghela tubuh Ten kembali ke dalam pelukannya, dan mereka melangkah menuju mobil mereka.

###

Sementara itu, Taeyong yang dari tadi berdiri di salah satu sudut yang tak kentara terkekeh geli melihat kejadian itu.

Tadi dia iseng, memasang lilin biru itu, hanya untuk melihat sejauh mana hal itu akan mempengaruhi Ten.

Ternyata hasilnya luar biasa.

Taeyong tersenyum simpul. Pada saatnya nanti, Ten akan tahu, apa yang sudah dia lewatkan selama ini, dan sampai hal itu terjadi, Taeyong akan menunggu...dengan perasaan tidak sabar.

###

Bersambung~~

Hallo... wkwkw

sesuai janji gue bakal up nihh ff kalau ff crush in rush udah kelar wkwkw

Thankyou atas review dari kalian, gue minta maaf kalau gak bisa bales satu persatu karena waktunya yang mendesak #apaansih

Hope you like it muachhhhhh...