Title :

Orbis Terrarum [World]

Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Amnesia © Touko Machida

Story :
©Rall Freecss

Cast :

Fem!Kuroko x GoM, etc

Warning :

GaJe, Typo Everywhere, Fem!Kuroko, OOC, etc :v


Kuroko memasuki apartemennya, ia meletakkan tas selempang yang sedari tadi ia bawa di atas kasur. Kemudian ia duduk memeluk lutut di sudut ruangan.

"Sebenarnya... apa yang terjadi..?"

"Können Sie hören? [bisakah kau mendengar ku?]" bisikan itu kembali terdengar, Kurokopun mulai mencari sumber suara itu.

"Sorcerer-san..." nama itu terus Kuroko sebut. Hanya ingatan tentang nama itulah yang masih membekas pada kepala Kuroko. Gadis itu terus mencari-cari sosok yang berkemungkinan membuat suara seperti itu.

"Tetsura!" tiba-tiba, dari langit-langit kamar Kuroko, sebuah boneka perancis dengan pakaian sirkus dan telinga elf jatuh. Kuroko menyambut boneka itu, oh, ternyata itu bukanlah boneka biasa, itu adalah...

"Sorcerer-san!" Kuroko memeluk erat boneka itu, bukan, Kuroko memeluk erat Sorcerer, penyihir yang entah dari mana muncul dan membuat semuanya menjadi seperti ini.

Kuroko duduk di pinggiran tempat tidurnya bersama Sorcerer,

"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku ada di sini? Kenapa aku kehilangan ingatan ku?"

Sorcerer menghela nafas, kemudian menyilangkan kakinya.

"Seperti yang ku bilang sebelumnya, ini adalah Orbis Terrarum pertama,"

"Baiklah, tapi kenapa aku kehilangan ingatan ku? Saat membuat perjanjian kau..."

Kuroko memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut hebat, seolah-olah memory yang seharusnya tak ada, muncul secara tiba-tiba. Muncul secara paksa, mengacaukan isi pikirannya.

"Tetsura!" Sorcere tampak panik, ia menghampiri Kuroko dan berdiri di atas pahanya.

"Apakah baik-baik saja?" tangan mungil Sorcere mengelus pipi Kuroko lembut.

"Kau mengingat sesuatu?" Kuroko hanya diam,

"Are you crying, Tetsura..?" Kuroko menggeleng, kemudian mengelus kepala Sorcere,

"Kau ini, namamu berasal dari bahasa Perancis, lalu berbicara dengan bahasa Jerman, kemudian bahasa Latin, sekarang Inggris, berikutnya apa?"

Sorcere terkekeh, namun kemudian menunduk,

"Maaf, ini semua salah ku.." Sorcere mendongakkan kepalanya,

"Ini semua salah ku! Kehadiran ku membuat mu kehilangan ingatan mu!" Kuroko tetap pada wajah datarnya, namun alisnya sedikit mengerut.

"Maksud mu?" Sorcerer duduk di pangkuan Kuroko,

"Kau tau? Saat kita membuat kontrak, aku bilang kau hanya akan merasakan kematian berkali-kali bukan?" Kuroko mengangguk pelan,

"Namun, sekarang kau mengalami Amnesia. Itu semua karena kehadiran ku.."

"Bagaimana bisa kehadiran mu menyebabkan ingatanku hilang?" tanya Kuroko,

Sorcerer turun dari pangkuan Kuroko,

"Seharusnya, kau datang sendirian di sini. Karena hanya disediakan 1 ruang. Namun, tidak tahu kenapa, aku juga terseret ke dunia ini. Sehingga ingatanmu menghilang. Orbis Terrarum ini mencoba membuat ruangan baru dengan ingatan mu." Jelas Sorcerer,

Kuroko hanya diam, ia mencoba mencerna penjelasan dari Sorcerer.

"Jika memang begitu, kenapa aku hanya memiliki ingatan tentang mu?" Sorcerer mengusap dagunya,

"Aku juga tidak mengerti, yang pasti, kau harus hidup di dunia ini selama 1 bulan untuk memastikan apakah Kise Ryouta itu cocok untukmu."

"Tapi, aku.." Sorcerer menatap mata Kuroko lekat-lekat.

"Tidak apa-apa! Aku akan membantu mu melewati semua ini!" seru Sorcerer. Kuroko tersenyum kecil, "Arigatou, Sorcerer-san." Sorcerer mengangguk dan tersenyum lebar.

.

.

.

.

.

06.15

Ting! Tong! Ting! Tong!

Kuroko keluar dari kamar mandi dan bergegas menuju pintu,

"Siapa yang datang jam segini?" pikir Kuroko, KLEK!

"KUROKOCCHI~" hug~ Sebuah pelukan hangat menyambut Kuroko.

"Ki-Kise-kun?!" Kise tersenyum lebar,

"Apakah aku datang terlalu pagi ssu?" tanya Kise, Kuroko mengangguk ragu-ragu. Kise melepaskan pelukannya dan menghela nafas.

"Gomen ssu, kalau aku datang seperti biasa, aku bisa kepergok para fans ku.." ujar Kise,

"A-ah, benar juga." "Tunggu di dalam saja dulu, aku akan berganti pakaian."

Kise masuk ke apartement milik Kuroko. Ia duduk manis di ruang tamu, sementara Kuroko masuk ke kamar dan berganti pakaian.

"Maaf membuatmu menunggu, Kise-kun." Kuroko kini menggunakan gaun berwarna peach selutut, cardigan cokelat, dan tights hitam.

"Kurokocchi, seperti biasa kau terlihat sangat cantik!" puji Kise, Kuroko hanya tersenyum kecil.

"Ayo kita berangkat!" ajak Kise, Kuroko mengangguk. Keduanyapun keluar dari apartement Kuroko dan menuju tempat yang dikatakan Kise sebagai tempat kerja Kuroko.

Sepanjang jalan Kise membicarakan banyak hal, namun semua itu hanya di respon oleh anggukan dan senyuman kecil Kuroko. Tentu saja itu karena ia tak dapat mengikuti pembicaraan.

"Baiklah, kita sampai." Keduanya berhenti di depan sebuah cafe bernama, Meido no Hitsuji.

"Baiklah, sampai bertemu nanti. Aku akan menjemput mu." Kise mengecup dahi Kuroko, kemudian pergi sambil melambaikan tangannya. Kurokopun melambaikan tangannya.

"Ya, Tetsu-chan~" seorang gadis berambut pink menepuk bahu Kuroko,

"Oh, ohayou, Momoi-san..." Lagi-lagi, rasa sakit itu menyerang kepala Kuroko,

"Sind Sie okay? [apakah kau baik-baik saja?]" suara Sorcerer yang bersembunyi di dalam tas Kuroko terngiang di telinganya. Kuroko memegangi kepalanya,

"Tetsu-chan, daijobu?" gadis yang dipanggil Kuroko dengan sebutan Momoi itu melihat Kuroko dengan wajah khawatir,

"Hai' daijobu," Momoi tersenyum, keduanyapun memasuki cafe itu, mereka di sambut oleh seorang gadis dengan rambut cokelat pendek.

"Manager-san, ohayou~" seru Momoi, gadis itu mengerutkan dahinya,

"Sudah ku katakan padamu nona, panggil aku Riko!" ingatnya, Momoi terkekeh,

"Jadi namanya, Riko.." batin Kuroko. Kuroko mengikuti Momoi menuju ruang ganti. Kini keduanya tampak manis dengan pakaian maid berwarna hitam dan putih.

Kuroko duduk diam di kursi sambil memeluk tasnya yang berisi Sorcerer.

"Jangan khawatir, aku akan berubah menjadi seperti arwah agar bisa terus mengawasimu!"

Kuroko mengangguk pelan, kemudian Momoi menghampiri Kuroko.

"Ne, ne, Tetsu-chan. Besok kau akan ikut training camp kan?" tanya Momoi,

Kuroko agak bingung, tidak, ia sangat bingung tepatnya. Ia harus jawab apa? Dia tidak mengetahui apapun tentang training camp yang dibicarakan Momoi.

"Mengangguk dan bilang iya saja!" ujar Sorcerer yang kini sudah berwujud seperti makhluk astral, tanpa bentuk fisik.

Kurokopun menurutinya. Momoi tersenyum lebar, kemudian menepuk-nepuk punggung Kuroko.

"Kau pasti senang karena bisa punya waktu berduaan dengan Ki-chan lebih lama~ benar'kan?" goda Momoi, Kuroko hanya tersenyum kecil dan mengangguk.

Ketika keduanya asyik mengobrol, Riko masuk ke dalam ruang ganti.

"Baiklah, waktunya bekerja! Ayo! Ayo! Jangan bermalas-malasan!" serunya. Momoi dan Kurokopun beranjak dari tempat mereka duduk dan segera melakukan tugas mereka.

.

.

.

.

.

.

"Irasshaimase.." pelanggan yang datang memandang dengan aneh, Kurokopun merasa heran.

"Nein! Nein! Yang benar itu, 'Okaerinasaimase, goshujinsama' " bisik Sorcerer

Kuroko kembali membungkukkan tubuhnya, "Okaerinasaimase, goshujinsama!" ralatnya,

Sang pengunjungpun tersenyum, "Mari saya tunjukkan mejanya,"

Setelah sang pelanggan memutuskan pesanannya, Kurokopun segera ke dapur untuk membuat pesanan tersebut. Tunggu? Kuroko bisa memasak?

Di dapur seorang pemuda dengan tinggi kira-kira 2 meter tengah membuat waffles,

"Ano.. ini pesanan untuk meja nomor 8." Pemuda itu menoleh,

"Letakkan saja di sana, Kurochin." Jawab pemuda itu sambil menunjuk tempat yang ia maksud. Kurokopun meletakkanya di sana,

"Mukkun, apakah pesanan untuk meja nomor 6 sudah siap?" tanya Momoi yang tiba-tiba muncul,

"Chotto, Murasakibara! Bagaimana dengan pesanan meja nomor 3?" kata Riko yang juga tiba-tiba muncul.

"Jadi dia Murasakibara-kun kah?" batin Kuroko. Sigh.. Rasa sakit itu kembali menusuk kepala Kuroko, tiba-tiba ia mendapatkan pengelihatan di mana ia dan Murasakibara berduaan..

Keduanya duduk bersebelahan di sebuah bangku di taman. Keduanya sedang membicarakan sesuatu, namun Kuroko tak dapat mendengarya dengan baik, karena suara Momoi mengusik telinganya.

"Kuroko? Apakah kau sakit? Perlu ku telpon Kise?" tanya Riko, Kuroko menggeleng.

"Tetsu-chan, kau tidak perlu memaksakan diri." pesan Momoi, Kuroko mengangguk dan meninggalkan dapur.

"Kurochin..." gumam Murasakibara sambil melihat Kuroko yang berjalan meninggalkan dapur.

.

.

.

.

.

Hari mulai gelap, jam kerjapun berakhir. Kuroko kini sudah berganti baju kembali. Ia mengeluarkan tubuh boneka Sorcerer dari dalam tas, agar Sorcerer dapat kembali masuk ke sana dan beristirahat sejenak.

"Waah, boneka yang benar-benar imut!" seru Momoi yang kebetulan melihat boneka itu, Kuroko tampak kaget. Ia sedikit panik, ia tak tau harus melakukan apa.

"Apakah Ki-chan yang memberikannya?" tanya Momoi, dengan sangat terpaksa Kurokopun mengangguk, agar pertanyaan lainnya tak muncul.

Tok! Tok! Tok! Pintu ruang ganti diketuk oleh seseorang,

"Kurochin, kau sudah di jemput!" ujar orang yang mengetuk pintu itu, Murasakibara.

"Baiklah, Momoi-san, mata ashita." Momoi mengangguk dan melambaikan tangannya.

Di depan Meido no Shitsuji, Kise sudah menanti. Kise menyambut kedatangan Kuroko dengan senyuman manis.

"Otsukare~" serunya, Kuroko berjalan mendekati Kise.

"Omatasemashita, Kise-kun." Kise mengacak-acak poni Kuroko dengan gemas.

"Baiklah, kita pulang sekarang? Atau jalan-jalan sebentar?" Kuroko diam sejenak, kemudian membuka mulut mungilnya,

"Ano.. sebagai ganti kencan yang kemarin.. mungkin kita bisa jalan-jalan sebentar.."

Wajah Kise sedikit memerah mendengarnya, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Baiklah, ikou~" Kuroko mengangguk,

"Oh, biar aku yang membawa tas mu." Kise meraih tas Kuroko, mungkin karena Kise merasakan ada sesuatu yang aneh pada tas itu, iapun membukanya.

"Oh, boneka inikan," Kise mengeluarkan boneka yang ada di tas Kuroko,

"Boneka ini yang ku berikan ketika menembakmu dulukan?" Kise melirik Kuroko,

"Eh?" Kise tertawa kecil,

"Pada waktu itu kau sangat marah karena pakaian boneka ini terlihat aneh ssu. Tapi lihat ini, pakaiannya tetap sama seperti 2 bulan yang lalu ssu."

Kuroko hanya diam dan mengangguk pelan. Kise memasukkan boneka itu kembali ke dalam tas dan langsung meraih tangan Kuroko.

"Ikou, Kurokocchi!" keduanya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.


Mereka melintasi jalan setapak dengan di temani cahaya mentari senja.

"Besok, kau ikutkan?" tanya Kise, "Ituloh, Training Camp." Kuroko mengangguk,

Kise tersenyum lebar, ia menatap langit senja yang berwarna oranye. Wajahnya terlihat begitu bahagia. Sesaat kemudian ia menatap wajah Kuroko,

"Besok, ayo kita habiskan waktu bersama. Kita jarang bisa berduaan dalam jangka waktu yang panjang kan?" Kuroko mengangguk, kemudian tersenyum kecil.

Kise kembali tersenyum lebar, dan mengecup dahi Kuroko.

.

.

.

.

.

"Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul. Kita berangkat sekarang." Ucap seorang pemuda dengan surai merah dan bola mata yang warnanya berbeda.

Mereka semua menaiki bus yang sudah disediakan oleh keluarga Akashi. Sepanjang perjalanan Kuroko berusaha mengingat nama semua orang yang ada di bus itu.

"Akashi-kun, Aomine-kun, Midorima-kun, Murasakibara-kun." Gumam Kuroko sambil memperhatikan para pemilik nama.

Kise yang duduk di sebelah Kuroko menowel-nowel pipi Kuroko,

"Kise-kun?" Kise terkekeh, ia terus menarik-narik pipi Kuroko yang cukup chubby.

"Kurokocchi benar-benar imut, aku jatuh cinta lagi pada mu ssu~" perkataan Kise membuat Kuroko blushing, Sorcerer yang kini sudah dalam wujud rohnya hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


Kini, mereka yang tadi menaiki bus, telah berdiri di depan sebuah gedung besar yang berdiri kokoh di tengah hutan.

"Ini adalah lapangan basket indoor. Dan yang di sana, penginapannya." Jelas Akashi.

Kuroko dan Momoi membawa tas mereka menuju penginapan. Sementara para cowok langsung memulai latihan mereka. Hal inilah yang membuat Kise Ryouta cemberut.

"Sudah jangan banyak protes. Cepat latihan!" kata Akashi, Kisepun hanya bisa menurut.

Di kamar, Kuroko memandang keluar jendela. Benar-benar pemandangan yang indah, pohon-pohon hijau yang berjajar rapi dan sungai yang meliuk-liuk.

"Ayo kita ke sungai!" ajak Momoi, "Eh? Tapi.." Momoi menarik tangan Kuroko,

"Sudah tidak apa, lagi pula mereka sedang berlari di sekitar hutan inikan? Kita hanya harus memperhatikan latihan mereka saat di lapangan basket saja."

Akhirnyapun Kuroko menurut dan mengikuti langkah Momoi menuju sungai. Arus sungai yang ternyata begitu deras membuat mereka hanya bisa merendam kaki mereka.

"Arusnya begitu deras ya," kata Momoi, Kuroko mengangguk,

"Karena di sana ada air terjun." Sahut Kuroko.

Setelah puas mendinginkan kaki di sungai. Keduanya segera menuju lapangan basket indoor untuk melihat jalannya latihan Akashi dan kawan-kawannya.


"Kurokocchi, aku sangat lelah ssu!" keluh Kise yang langsung menghampiri Kuroko begitu latihan basketnya berakhir.

Kuroko menyodorkan handuk dan sebotol air pada Kise. Bukannya menerima handuk dan minuman yang diberikan Kuroko. Kise malah memeluk Kuroko dengan tubuhnya yang dipenuhi keringat.

"Kise! Kenapa kau memeluk seorang gadis dengan tubuh berkeringat seperti itu!?"

"Kurochin pasti sekarang jadi lengket."

"Ryouta, apa yang kau lakukan. Jangan pacaran di tempat latihan seperti itu!"

"Kau itu, tidakkah kau berfikir kalau tubuh mu itu sangat bau, nanodayo?"

"Ki-chan, Tetsu-chan jadi lengket nanti!"

Kise menatap wajah Kuroko yang memerah,

"Apaan sih kalian. Kurokocchi saja tidak keberatan, iya kan ssu?" Kuroko mengangguk, ragu-ragu memang, tapi itu terlihat jelas.

"Aku tidak habis pikir kenapa kau bisa berpacaran dengan orang aneh seperti dia, nanodayo" komentar Midorima tajam. Disambut anggukan dari Akashi, Aomine, Momoi, dan Murasakibara.

"Urusai!" seru Kise. Ia melepaskan pelukannya dari Kuroko dan beranjak pergi.

.

.

.

.

.

.

.

Malam menjelang, sang bulan bersinar dengan indahnya di langit malam yang gelap. Ditemani taburan bintang, langit malam ini benar-benar indah.

DRET! DRET! DRET!


From : Ryouta Kise
To : Kuroko Tetsura
Subject : Ayo bertemu

Temui aku di dekat sungai, aku menunggu mu ssu~

-Kise Ryouta


"Kise-kun?" Kuroko mencari-cari sosok Kise diantara pohon-pohon yang ada di dekat sungai.

Seseorang memeluk Kuroko dari belakang secara tiba-tiba,

"Kau mencariku? Kurokocchi?" "Kise-kun!" Kise terkekeh, kemudian melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggul Kuroko.

Keduanya duduk di pinggiran sungai, sambil memandang langit. Kise bersandar di bahu Kuroko, ya itu sedikit membuat Kuroko merasa tak tenang. Tapi, apa boleh buat.

"Aku benar-benar senang bisa menjadi pacar mu, Kurokocchi." Kuroko mengangguk pelan.

"Aku tidak menyangka kau akan menerima ku. Padahal saat itu kau benar-benar marah dengan boneka yang ku berikan. Aku menyangka kau akan menolakku ssu." Kise mengelus tangan Kuroko. Ia mengenggamnya dan mencium punggung tangan Kuroko.

Hal itu sukses membuat Kuroko blushing, Kise menghela nafas.

"Aku bersyukur bisa menjadi pacar mu yang mencintai ku dengan tulus. Tidak seperti gadis lain yang ingin memacariku karena aku seorang model terkenal ssu." Tangan Kise terus mengenggam tanga Kuroko.

Kuroko hanya diam mendengarkan celoteh Kise. Ia terus menatap langit yang bertabur bintang.

"Kise itu.. orang yang baik ya.." batin Kuroko, "Mungkin dia adalah orang yang cocok."

"Syukurlah, aku bisa mengenal Kurokocchi dari kecil ssu. Dan aku juga bersyukur karena kau selalu ada di sisi ku."

Kise mengangkat kepalanya dari tempat bersandar. Ia memegang dagu Kuroko, menariknya pelan, dan membuat matanya dan mata Kuroko bertemu.

"Kurokocchi, aku mencintai mu." Kise mengecup bibir Kuroko lembut, benar-benar lembut seolah-olah tak ingin melukai Kuroko.

Setelah beberapa detik, Kise melepaskan ciumannya karena ponselnya berdering.

"Tsk, aku harus pergi ssu. Akashi memanggil." Ujar Kise sambil berdiri,

"Kau tidak apa-apakan?" Kuroko mengangguk, Kise tersenyum kecil.

"Baiklah, hati-hati ya!" Kise melambaikan tangannya, lambaian itupun dibalas Kuroko dengan senyum kecil di wajahnya.

.

.

O

.

.

Kuroko yang sudah puas merendam kakinya di sungai, beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju akhir dari sungai itu.

Air terjun yang begitu indah terlihat di ujung aliran sungai. Di sini arusnya benar-benar deras. Kuroko memandang ke bawah, di sana terlihat sebuah danau yang cukup besar. Oh, tenyata danau itu memiliki cabang dan menciptkan sungai kecil berarus tak terlalu deras.

"Jika aku jatuh ke sana, mungkin aku akan mati ya?" pikir Kuroko,

"Tetsura! Awas!" suara Sorcerer tiba-tiba terdengar. Di saat yang bersamaan seseorang memukul Kuroko dengan keras.

Kuroko hampir kehilangan kesadarannya, kepalany terasa pusing, pengelihatannya kabur.

Di depan Kuroko berdiri 3 orang gadis, yang mana salah satu dari mereka adalah orang yang memukul Kuroko.

"Beristirahatlah dengan tenang, cewek sialan!" salah satu dari gadis itu mendorong Kuroko ke sungai.

"Gadis seperti mu tak pantas berpacaran dengan Kise ku!" sahut yang lain. Tubuh Kuroko dengan mudahnya jatuh ke sungai dan terbawa arus. Tubuhnyapun jatuh bersamaan dengan air yang mengalir di air terjun itu.

Terjatuh dari ketinggian 20 meter dan kepala yang terbentur batuan di air terjun, membuat Kuroko kehilangan nyawanya saat itu juga.

"Eh? Apakah kehidupan ku di Orbis Terrarum ini berakhir?"

"Ja, Est ist das Ende"

To be continued.


Yaa halo~ Chap 2 here~ / Gimana chap 2nya? Kayanya chap 2 ini benar-benar FAIL ya /nangis di pojokkan/

Jadi gimana? Haruskah fanfic gaje, dan gagal ini harus dilanjutkan? Yah, soal itu tergantung pada review yang muncul.

Makasih banget ya, uda mau meluangkan waktu untuk membaca fanfic ga jelas plus ambigu kaya begini. Aishiteruu~ :*