My Love
Cast:
Kim Ryeowook
Cho Jong Woon / Yesung
Lee Eunhyuk
Lee Donghae
Choi Siwon
Kim Kibum
Cho Kyuhyun
Lee Sungmin and other
Genre : Romance, Friendship etc.
Declaimer : Semua cast di FF ini milik semua orang yang memiliki mereka, author hanya meminjam nama mereka saja. Tapi, FF ini asli dari hasil pemikiran author.
Warning : Gender Switch, Typho(s) merajalela, cerita pasaran.
Don't Like? Don't Read! Okay guys!
.
.
Last chapter...
Siswa itu turun dari motor besarnya dan berjalan ke arah Ryeowook. Sementara Ryeowook tidak menyadari jika siswa itu sudah berdiri di depannya karena dia sibuk membersihkan roknya. Dan ketika Ryeowook melihat ke depan, Ryeowook terkejut karena kehadiran tiba-tiba siswa itu. Ryeowook bahkan sedikit terlonjak olehnya. Tatapan mata yang teduh itu berhasil membuat Ryeowook kehilangan kata-katanya.
Chapter : II
'Mata itu. Sangat teduh dan membuatku merasa nyaman. Oh Tuhan! Ada apa denganku?' inner Ryeowook dalam hati.
"Hei. Apa kau baik-baik saja?" namja itu menegur Ryeowook yang tampak melamun setelah dia membuka helmnya.
'Kepalanya besar sekali? Aku bahkan tidak menyangka helm itu muat di kepalanya. Tapi, matanya sangat indah.' Ryeowook kembali tenggelam ke dalam lamunannya dan terus menatap namja di hadapannya tanpa menggubris pertanyaan namja di hadapannya itu.
"Hei!" tegur namja bermata teduh itu lagi. Mencoba menyadarkan gadis di depannya. 'Ada apa dengan gadis ini? Dia `kan hanya terciprat air itu. Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu yang salah di wajahku?' namja itu kemudian melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ryeowook. Masih terus berusaha membuat Ryeowook untuk menyadari kehadirannya. "Hei! Kau tidak apa-apa `kan?" tanya namja itu lagi sambil menepuk bahu Ryeowook.
"Akh. Aku baik-baik saja." Akhirnya Ryeowook menghentikan acara melamunnya.
"Kenapa kau terus menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya namja berkepala besar itu mencoba mencari tahu apa penyebab gadis di depannya menatapnya dengan tatapan seperti tadi.
"Akh. Ani. Aniyo." Ryeowook hanya menyengir kuda menanggapi pertanyaan namja itu. 'Sebenarnya bukan ada yang salah, hanya saja ada sesuatu yang tak seimbang di sana' pikir Ryeowook.
"Ah, Aku minta maaf telah membuat baju seragammu kotor. Aku sedang buru-buru. Jadi, tidak memperhatikan di sini ada genangan air." Namja itu mencoba mengganti topik pembicaraan, karena melihat gadis di hadapannya tidak menjawab pertanyaannya.
"Ah, Ne. Gwaenchana. Aku tadi hanya sedikit terkejut saja." Ryeowook mencoba mencairkan suasana. 'Mungkin dia memang tidak sengaja' pikir Ryeowook.
"Namaku Cho Jong Woon." Namja yang mengaku bernama Jong Woon dengan marga Cho itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ryeowook. "Kamu bisa memanggilku Jong Woon." Mata teduh yang sipit itu tenggelam karena Jong Woon tersenyum cukup lebar. Dan menyebabkan mata sipit itu hilang.
"Ryeowook. Kim Ryeowook." Ryeowook menjabat tangan mungil Jong Woon. 'Kecil sekali tangannya. Tidak sesuai dengan kepala besarnya itu' inner Ryeowook. Sepertinya hari ini Ryeowook mendapat hobby baru, yaitu memperhatikan keanehan pada diri Jong Woon.
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya." Jong Woon memperhatikan Ryeowook dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
"Aku anak baru, kelas VII B. Aku baru mulai masuk hari ini." Ryeowook menjelaskan. 'Dia berkata seolah dia mengenal semua orang di sekolah ini' pikir Ryeowook lagi.
"Oh. Pantas saja aku tidak pernah melihatmu sebelumnya." Jong Woon cengar-cengir. "Ah. Aku harus pergi. Ini sangat genting. Apa aku boleh pergi sekarang?" tiba-tiba saja Jong Woon mengingat kalau dia harus pulang cepat.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Pulanglah!" jawab Ryeowook. Mungkin Ryeowook lupa akan keadaan pakaiannya sekarang.
"Lalu bagaimana dengan seragammu itu?" Jong Woon yang tadinya sudah berjalan meninggalkan Ryeowook kembali berbalik ke arah Ryeowook karena mengingat ulahnya yang menyebabkan seragam sekolah Ryeowook kotor. "Besok bawa saja seragam itu, biar aku bertanggung jawab untuk mencucinya." Sambung Jong Woon sebelum Ryeowook sempat menjawab. Lalu dia segera mengenakan kembali helmnya. Lalu dia melambaikan tangan ke arah Ryeowook dan segera memacu motornya meninggalkan Ryeowook berdiri di sana sendirian.
Ryeowook terus memperhatikan kepergian Jong Woon, hingga tak terlihat lagi di matanya, menghilang di sebuah tikungan.
Tiin.. Tiin..
Tanpa disadari Ryeowook, ternyata Eunhyuk kakaknya sudah sampai di sana. Dengan segera Ryeowook menghampiri mobil kakaknya dan duduk di bangku samping kemudi.
"Kenapa seragammu kotor sekali?" tanya Eunhyuk heran.
"Tadi ada namja yang mengendarai motornya dengan kencang dan melintasi genangan air itu." Jelas Ryeowook sambil menunjukkan genangan air yang ada di dekat tampatnya berdiri tadi. "Seragamku jadi kotor karena terciprat." Ryeowook mem-pout-kan bibirnya, dan membuatnya terlihat makin imut.
"Lalu dia pergi dan tidak bertanggung jawab?" tanya Eunhyuk syok.
"Tidak. Dia berhenti dan menyuruh ku membawa seragam ini besok. Katanya dia akan mencuci seragam ini. Padahal aku belum mengatakan 'iya' atau 'tidak', tapi dia segera pergi. Katanya dia sedang sangat terburu-buru." Jelas Ryeowook kepada kakaknya.
"Apa dia tampan?" Eunhyuk mencoba menanggapi cerita Ryeowook dengan sangat bersemangat.
"Aku tidak tahu." Jawab Ryeowook ketus dan segera mengenakan headset-nya. Berusaha menghindar dari percakapannya dengan Eunhyuk, karena dia tahu ke mana arah pembicaraan itu. 'Pasti sebentar lagi dia akan menyuruh ku mendekatinya jika aku katakan kalau Jong Woon, namja yang tadi sangat mempesona' pikir Ryeowook.
"Ah. Kau tidak mengasyikkan Wook." Eunhyuk mendengus kesal kepada Ryeowook yang menurutnya tidak mengasyikkan. Sementara Ryeowook berpura-pura tidak mendengarkan omelan kakaknya. Dia bahkan memejamkan matanya sekarang.
.
.
.
"Hei Wook! Bangunlah! Kita sudah sampai." Eunhyuk mencoba membangunkan adiknya yang sepertinya tertidur pulas di sampingnya. "Hei. Bangunlah!" kali ini Eunhyuk menggoyangkan bahu Ryeowook dengan tangan kirinya.
"Hemm.. Sudah sampai? Aku mengantuk sekali." Keluh Ryeowook sambil menggeliat dan mengucek-ucek kedua matanya.
"Ayo turun." Ajak Eunhyuk sambil membuka pintu mobil dan keluar terlebih dulu. Lalu diikuti oleh Ryeowook.
"Segeralah mandi dan ganti baju. Kau bisa sakit kalau lama-lama basah seperti itu." Nasihat Eunhyuk yang menunjukkan rasa sayangnya yang sangat besar kepada adiknya itu.
"Ne eonni." Jawab Ryeowook singkat lalu beranjak menuju kamarnya.
.
.
.
"Apa besok aku harus membawa baju ini?" Ryeowook bermonolog dengan memandangi seragam sekolah yang dipegangnya. "Ya sudahlah. Aku bawa saja. Lapipula bukan aku yang memaksanya untuk mencuci seragam ini. Ini kemauannya sendiri." Lanjut Ryeowook.
"Wook. Makan siang sudah selesai. Cepatlah turun!" Teriakan Eunhyuk sampai hingga kamar Ryeowook yang berada di lantai dua rumah ini.
"Kenapa dia hobby sekali berteriak?" keluh Ryeowook entah kepada siapa. "Iya. Tunggu sebentar." Balas Ryeowook dengan teriakan yang cukup nyaring juga. Lalu segera keluar kamarnya dan menuju ruang makan di mana Eunhyuk sudah menunggunya.
.
.
.
"Kau mau ke mana Wook?" tanya Eunhyuk melihat adiknya beranjak dari duduknya. Setelah selesai menyantap makan siang, mereka memilih untuk menonton Tv di ruang keluarga.
"Aku ingin berjalan-jalan keluar sebentar. Aku bosan." Jawab Ryeowook singkat dan kembali berjalan ke arah pintu keluar.
"Berhati-hatilah! Jangan terlalu jauh. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa." Nasihat Eunhyuk lagi.
"Ne." Jawab Ryeowook singkat dan segera keluar rumah. Melewati halaman rumah mereka dan keluar gerbang rumah itu.
"Lebih baik aku ke taman saja." Putus Ryeowook karena merasa tidak memiliki tujuan lain yang lebih baik. Lalu dia berjalan menuju ke taman yang tak jauh dari komplek tempatnya tinggal. Biasanya jika sore seperti ini, di taman itu ramai. Pasti banyak anak-anak yang bisa diajak bermain, pikir Ryeowook.
.
.
Ciiittt..
Sebuah suara yang cukup mengejutkan terdengar di telinga Ryeowook dan beberapa orang di sekitar taman itu. Bahkan suara itu membuat Ryeowook sekarang berdiri terpaku dan tak bergerak sedikit pun. Sangat terkejut atas apa yang baru saja terjadi. Hampir saja nyawanya melayang jika pengemudi mobil itu tidak menginjak rem mobilnya dengan cepat.
"Hei baboya! Berhati-hatilah kalau menyeberang!" teriak seorang namja yang menyembulkan kepalanya dari pintu dekat kemudi mobil itu. Membuat Ryeowook sadar dari keterkejutannya.
"Apa katamu? Kau yang harusnya berhati-hati! Aku sudah memastikan tidak ada kendaraan sebelum menyeberang tadi. Harusnya kau yang mengurangi kecepatan mobilmu itu. Kau bisa membunuh banyak orang jika kau menyetir seperti dikeja-kejar setan seperti tadi." Ryeowook berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk wajah namja yang tadi meneriakinya. Ryeowook tidak terima jika dikatai babo apalagi oleh orang yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali.
"Kalau kau sudah memastikannya, hal ini tidak mungkin terjadi. Dasar bodoh." Kalimat namja itu semakin membuat Ryeowook emosi. Berani sekali dia mengatai ku bodoh, pikir Ryeowook.
"Yang bodoh itu kau. Dasar namja iblis berwajah malaikat." Umpat Ryeowook dan segera meninggalkan tempat namja yang menurutnya gila itu. Tidak ingin untuk memperpanjang pertengkaran, Ryeowook lebih memilih pergi dari hadapan namja menyebalkan itu dan berlari menuju taman, tempat tujuannya semula.
"Apa katanya? Iblis? Berani sekali dia?" gumam namja itu, lalu kembali menjalankan mobilnya meninggalkan tempat di mana dia hampir saja menabrak seseorang.
.
.
.
"Dasar namja sialan! Dia yang salah, tapi malah dia yang berteriak dan mengatai ku bodoh. Yang bodoh itu 'kan dia. Dasar iblis babo." Ryeowook terus saja menggerutu dan mencaci maki namja yang hampir menabraknya beberapa saat yang lalu.
"Hei Wook!" sebuah suara yang dikenal Ryeowook berhasil menghentikan kegiatan mengomel yang dilakukan oleh Ryeowook. Ryeowook mencari sumber suara yang tadi memanggilnya. Lalu dia melihat seorang namja yang lumayan tinggi, berkulit putih dan dengan rambut berwarna coklat terang berjalan menghampirinya. "Sedang apa di sini sendirian?" tanya namja itu setelah sampai di tempat Ryeowook berdiri.
"Aku hanya bosan di rumah saja oppa. Jadi aku berjala-jalan keluar." Terang Ryeowook kepada namja yang dipanggilnya oppa itu.
"Mana eonni-mu? Kenapa tidak bersamanya? Setahuku biasanya kau selalu bersamanya." Tanya namja itu heran.
"Dia di rumah. Aku bukan anak kecil lagi. Jadi meskipun aku keluar rumah sendiri, aku pasti akan baik-baik saja." Jawab Ryeowook malas, pasalnya namja itu bertanya seperti menyindir. "Kalau oppa mencari Eunhyuk eonni, datang saja ke rumah." Sambung Ryeowook.
"Kenapa kau sepertinya marah? Aku 'kan hanya bertanya. Karna biasanya Eunhyuk selalu seperti bodyguard yang mengikutimu ke mana pun kau pergi." Terang namja bermata coklat itu sa,bil tertawa.
"Aku tidak marah Donghae oppa." Ryeowook tersenyum manis kepada namja bernama Donghae itu.
"Kau mau ice cream?" tawar Donghae setelah mereka diam beberapa saat.
"Aku mau!" jawab Ryeowook dengan semangat.
"Ayo kita beli! Itu di sana." ajak Donghae sambil menunjuk seorang penjual ice cream dengan gerobaknya yang khas.
"Ne. Kajja!" Ryeowook terlihat sangat bersemangat dan berjalan mendahului Donghae.
"Tapi, kau sudah meminum obatmu 'kan? Aku tidak ingin mati di tangan Eunhyuk jika sesuatu terjadi kepadamu." Kata Donghae dengan wajah memelas.
"Tenang saja oppa. Aku sudah meminum obatku setelah makan siang tadi. Lagipula, tidak akan terjadi apa-apa jika hanya memakan ice cream. Kau terlalu berlebihan. Sama saja dengan Eunhyuk eonni." Tandas Ryeowook.
"Aku hanya takut terjadi yang tidak diinginkan Wook." Donghae membela diri.
"Ne. Ne. Kajja kita beli!" ajak Ryeowook dan kembali berjalan menuju penjual ice cream tadi.
Setelah membeli ice cream, Ryeowook dan Donghae mencari tempat untuk duduk. Lalu mereka melihat sebuah kursi taman yang berada di bawah pohon besar di sana sedang kosong. Mereka menuju kursi itu dan duduk di sana sambil menikmati ice cream mereka.
.
.
.
"Sudah semakin sore. Sebaiknya kau pulang Wook. Eunhyuk bisa mengamuk jika kau keluar rumah terlalu lama." Nasihat Donghae terdengar menggelikan di telinga Ryeowook.
"Baiklah oppa." Ryeowook menyetujui nasihat Donghae dan segera berdiri dari duduknya. "Oppa tidak mau mampir ke rumah?" tanya Ryeowook menawarkan untuk berkunjung.
"Baiklah aku ikut." Donghae menyetujui ajakan Ryeowook. Mereka pun pergi meninggalkan taman yang masih ramai itu dan menuju tempat tinggal Ryeowook dan Eunhyuk.
.
.
.
"Jaga dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku." Begitulah kalimat Eunhyuk setiap kali dia mengantar Ryeowook ke sekolahnya.
"Ne." Jawab Ryeowook singkat agar tidak memperpanjang perdebatan dengan kakaknya, Eunhyuk. Sebenarnya Ryeowook senang karna kakaknya begitu menyayanginya, tapi terkadang dia merasa kakaknya itu terlalu berlebihan. Tapi, ya mau bagaimana lagi? Hanya seperti Eunhyuk kakak yang dia miliki. Jadi Ryeowook selalu berusaha untuk memahami kakak semata wayangnya.
"Bagaimana aku memberikan seragam ini kepada Jong Woon?" tiba-tiba Ryeowook mengingat nasib malang yang menimpa seragamnya kemarin. "Oh, iya. Aku 'kan sudah memberitahu Jong Woon kelasku, mungkin dia akan menghampiriku ke kelas nanti." Senyum sumringah mengembang di bibir tipis gadis mungil itu. Dia berjalan setengah berlari menuju kelas yang hari ini menjadi hari kedua ditempatinya untuk menuntut ilmu.
.
.
.
"Sudah sampai. Aku pergi dulu Dad." Jong Woon membuka pintu mobil yang mengantarnya ke sekolah hari ini, lalu keluar dan segera berjalan memasuki halaman sekolah.
"Aku juga pamit Dad." Seorang namja yang hampir sebaya dengan Jong Woon juga berpamitan kepada ayah mereka yang duduk di kursi penumpang di samping kursi supir.
"Baiklah. Kalian berdua belajar yang rajin dan jangan bertengkar lagi." Ayah mereka melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah kedua anaknya yang sudah tumbuh semakin besar.
.
.
"Hei Ryeowook!" teriak Jong Woon ketika sudah memasuki area sekolah dan melihat Ryeowook tak jauh di depannya. Si empu nama itupun segera menoleh mencari orang yang sudah memanggilnya.
"Jong Woon-ssi. Ternyata kau." Ryeowook berbicara dengan formal kepada Jong Woon.
"Jangan menambah embel-embel –ssi di akhir namaku!" perintah Jong Woon kepada Ryeowook, karna dia tidak suka jika ada yang memanggilnya dengan menambahkan –ssi di akhir namanya. "Cukup panggil aku Jong Woon oppa." Sambung Jong Woon dengan senyuman tipis menghiasi wajah tampannya.
"Ba.. Baiklah oppa." Setuju Ryeowook.
"Mana seragammu kemarin? Apa kau membawanya?" Jong Woon ingat dengan apa yang harus dipertanggungjawabkannya.
"Aku membawanya. Tapi, kau tidak perlu melakukannya oppa." Ucap Ryeowook.
"Seragammu kotor akibat kecerobohanku, jadi biarkan aku bertanggungjawab." Jong Woon meyakinkan Ryeowook.
"Hemm. Baiklah." Ryeowook akhirnya menyetujui Jong Woon.
"Mana seragammu?" tanya Jong Woon lagi.
"Ini." Ryeowook memberikan sebuah bag yang berisi seragam kotornya kepada Jong Woon. "Terima kasih sebelumnya." Ucap Ryeowook.
"Harusnya aku yang berterima kasih karena kau tidak marah kepadaku." Ucap Jong Woon.
"Oppa terlalu berlebihan." Ucap Ryeowook malu-malu.
"Aww.." teriak Ryeowook ketika seseorang menabraknya. "Hei! Apa kau tidak punya mata?" teriak Ryeowook kepada seorang namja yang baru saja menabraknya. "Mwo? Kau?" Ryeowook sedikit syok ketika melihat wajah namja itu, ketika dia berbalik menghadap ke arah Ryeowook berdiri.
.
.
.
~TBC~
.
Haii reader(s)! Aku datang lagi membawa lanjutan FF debut-ku Chapter kedua. Semoga semua suka dengan cerita ini, terutama bagi YeWook shipper *Ngarep*. Terima kasih buat semua yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini. Dan juga bagi sudah menyempatkan untuk memberi riview.
.
Special thanks to :yensianx, Veeclouds, yantiheenim, uruskyclouds, liplip, & Guest.
.
Buat yang lanjut baca, dan ingin ada chapter lanjutan, tolong riview lagi, ne~!
Bagi yang ingin memberi kritik dan saran, juga saya harapkan..
Gomawo~ :)
