"Nee, Natsu... kau tidak melupakan sesuatu, 'kan?" ucap Happy setengah bergumam.
Natsu memiringkan kepalanya. "Maksudmu apa, Happy?" ucapnya terheran-heran.
"Aye... janji dengan seseorang atau apa, nee, Natsu... kau tidak lupa, 'kan? Aku merasa ada yang aku lupakan,"
Natsu mengusap dagunya, ekspresinya seperti sedang berpikir. Ia mengingat-ingat jika ada yang ia lupakan. Ia menutup matanya sembari bergumam pelan.
Deg.
Beberapa saat kemudian, Natsu tersentak. Matanya membulat sempurna. Ia membeku, keringat dingin mengucur dari keningnya.
"Happy..."
"Aye?"
Natsu menatap Happy horor. "Kita... melupakan janji dengan Lucy,"
A Fairy Tail Fanfiction
Beyond the Boundary
Disclaimer: Hiro Mashima-sensei
Ramai, guild memang selalu seperti itu. Entah pagi, siang, malam bahkan dalam keadaan bahaya pun, guild pasti selalu ramai. Itulah guild Fairy Tail, kan? Yah, sisi ramai guild inilah yang membuat para anggota rindu akan guild tercinta satu ini, apalagi setelah kembali dari misi.
Tak terkecuali gerombolan yang satu ini.
Natsu, Happy dan Lisanna baru kembali dari misi panjang mereka yang sama sekali tidak membuahkan hasil. Senyum sumringah terpampang jelas di wajah mereka—
—tidak, hanya Lisanna yang tersenyum.
Wajah Natsu dan Happy begitu pucat, tegang saat mereka memasuki pintu masuk guild. Mereka berdua langsung menghambur masuk tanpa menghiraukan sambutan dan pertanyaan yang dilontarkan anggota guild lain.
Mereka berdua tidak peduli. Intinya, kemana Lucy?
Mata Natsu yang tajam terus mencari ke seluruh sudut-sudut guild tanpa satupun yang terlewat, ia mendecih karena matanya tak menangkap sedikitpun tanda-tanda keberadaan Lucy di dalam guild. Ia lalu berlari keluar tanpa sepatah kata pun. Happy yang dengan setianya juga mengikuti kemana Natsu pergi.
Tanpa mereka berdua sadari, seseorang menatap mereka nanar.
Seharusnya aku tak melupakan janji yang sudah kubuat jauh-jauh hari dengan Lucy. Dan seharusnya aku tak merasa sakit plus kesal karena berkali-kali diusir dari apartemennya malam ini. Ah, terlalu banyak 'seharusnya' yang terlintas dipikiranku sekarang ini.
Tapi kenapa bisa aku begitu bodohnya melupakan janji yang aku buat? Apalagi itu menyangkut Lucy. Jujur saja, miris banget rasanya ketika kau tiba di tempat seseorang dengan niatan untuk minta maaf, kau malah dilempar dengan buku-buku yang massanya melebihi beton.
Rasa sakitnya double, mas. Sakit fisik serta batin. Mau coba? Sini tukaran tempat sama aku.
Maaf saja, sayangnya aku tak mau membiarkan Lucy disentuh orang lain.
Eh, eh, oke, lupakan. Jadi bagaimana caranya agar Lucy mau memaafkanku? Dari wajahnya saja sudah jelas dia sangat marah denganku. Padahal aku hanya ingin menjelaskan alasanku. Yang namanya lupa itu tak bisa dihindari, kan?
Tapi yang namanya Natsu Dragneel tak akan pernah menyerah hanya gara-gara ditolak, apalagi baru sekali. Berkali-kali pun aku tak masalah. Yang penting, Lucy memaafkanku dan aku tak punya tanggungan lagi. Tolonglah, gimana sih rasanya kalau orang yang paling berarti untukmu marah karena kebodohanmu sendiri? Kau jelas akan menyesal dan minta maaf dengan segala cara sampai orang itu memaafkanmu, kan?
Sama saja denganku. Pokoknya, aku tak akan pulang dari depan jendela apartemennya sampai dia mau membiarkanku masuk dan menjelaskan semuanya.
Lho, aku belum bilang ya kalau aku masih gelantungan di depan jendela apartemen Lucy dengan wajah dan tangan menempel horor pada kaca jendelanya?
Kata siapa aku sudah bergalau ria sambil berpangku tangan di rumah. Maaf saja, ya.
Iya, Happy yang sedari tadi mengangkatku memang sudah terlihat lelah. Tapi, khusus untuk sekarang aku tak berbaik hati padanya sampai Lucy mau membukakan jendelanya untukku.
"Lucy, aku mohon sekali ini biarkan aku masuk. Aku ingin menjelaskan semuanya dan aku janji akan langsung pulang. Apa kau tak kasihan melihat Happy yang sudah hampir mati ini?" rayuku dengan nada yang dimelas-melaskan agar Lucy yang sedang berkutat dengan novel yang ia tulis sedikit tersentuh. Aku tahu kata-kata barusan terdengan lebay banget. Tapi aku juga tak enak dengan Happy dan jujur saja wajahnya memang sudah hampir seperti orang yang nyawanya mau direnggut dewa kematian.
Eh, Happy kucing kan, ya... bukan orang.
Aku bisa melihat tangan lucy yang bergetar memegang erat pena bulunya sampai-sampai beberapa bercak tinta dari penanya tersebar kemana-mana. Yah, taruhan deh Lucy saat ini sedang perang batin antara membiarkanku masuk karena kasihan dengan kondisi Happy sekarang atau malah ingin melemparku dengan vas bunga besar yang ada di pojok ruangan.
Lucy menggebrak mejanya keras sampai-sampai aku yang berada di luar yang dilindungi dengan jendela dengan kaca yang tertutup rapat sampai tersentak karena kaget. Ia berjalan menuju arahku dengan muka garang segarang Erza—walaupun masih garang Erza, sih. Dia membuka paksa jendela berkusen kayu tersebut dengan kasarnya sehingga ujungnya mengenai hidungku.
Tch, sakit, tahu.
Aku memegangi hidungku yang memerah karena benturan barusan dengan bibir yang sengaja aku maju-majukan, sok sakit bercampur sebal, berharap Lucy meminta maaf padaku. Namun yang ada, dia malah menarik syalku lalu memaksaku masuk hingga aku terlempar di lantai kamarnya yang dingin.
Sial banget aku hari ini.
Lucy menatapku garang namun tatapannya lebih teduh, membuatku sedikit mengkeret karena rasa bersalah yang membuncah dalam dadaku. Aku mengalihkan pandanganku ke sembarang arah, menghindari tatapan matanya.
"Modus desideratif yang bagus, Natsu. Jadi apa alasanmu?"
Lucy melirik sebentar ke arah Happy yang sedang beristirahat dengan tenangnya di atas tempat tidur empuk itu, lalu ia kembali menatapku. Sesaat aku iri dengan Happy yang memasang tampang layaknya di surga sedangkan aku harus berhadapan dengan Lucy yang sedang dalam fire mode sendirian. Uh, dasar partner yang gak setia.
Tapi tadi Lucy bilang apa—modus...apa?
Aku terus melongo menatap Lucy yang menghela napasnya berat.
"Maaf, aku tahu bahasaku terlalu tinggi untukmu, Natsu. Intinya, apa alasanmu?"
Uh-oh. Aku mengambil napas dalam-dalam lalu menatap lurus ke mata karamel teduhnya tersebut yang entah kenapa selalu berhasil menghangatkan dadaku. "Maafkan aku, Lucy... aku benar-benar lupa," jedaku sembari mengamati wajah Lucy yang masih tak berpaling mengamatiku. Aku makin mengkeret. "Aku juga tak mengerti kenapa aku bisa lupa... bahkan Happy juga tak mengingatkanku, yang aku yakin dia juga lupa. Jadilah saat Lisanna mengajak kami berdua menjalankan misi, aku menerimanya. Maaf." Kataku tertunduk.
Aku bisa mendengar Lucy mendesah lalu mengulurkan tangannya kehadapanku. Aku menatap tanganya diam.
"Mau bagaimana lagi, kan? Ya sudah, aku maafkan. Jangan menunduk begitu." Ucapnya sembari menunjukan senyum manisnya yang berhasil melukis semburat merah tipis di pipiku yang mulai memanas.
Uh, Lucy kenapa kau bisa semanis ini?
Aku meraih tangannya yang langsung menarikku berdiri mensejajarinya. Lucy lalu duduk di pinggiran tempat tidurnya, mengusap kepala biru Happy yang tertidur nyenyak. "Tapi kenapa kalian tak menungguku? Kalau kalian menungguku sampai aku datang ke guild, kau tak akan lupa kalau kita punya janji, kan?"
Eh, benar juga, ya. "Yah, Lisanna bilang sudah lama dia tidak pergi menjalankan misi denganku dan Happy. Aku juga jadi tidak enak dengannya, makanya aku setuju dengan ajakannya." Ucapku sembari menggaruk pipiku yang sama sekali tidak gatal.
Lucy hanya mengangguk mengerti. Namun, matanya berbeda. Seperti masa bodoh atau apa? Yah, entahlah yang penting aku sudah menjelaskan semuanya dengan Lucy dan kini keadaan aman.
"Kalau begitu, kami pulang dulu Lucy, selamat malam!" Aku menunjukkan cengiran khasku dan menggendong Happy yang tertidur pulas lalu melompat ke kusen jendela Lucy, berniat untuk pulang.
Saat aku ingin melompat, Lucy menarik ujung syalku hingga mencekik leherku. Untung aku masih bisa menjaga keseimbangan sehingga tak jatuh. Kan konyol banget udah keren-keren mau lompat malah jatuh gara-gara syal yang ketarik.
Aku menoleh kearah Lucy. "Ada apa?" tanyaku.
"Besok... kita bisa mengambil misi bersama?" tanya Lucy sedikit ragu. Aku tersenyum tipis padanya, dengan sesal aku menggeleng.
"Maaf Lucy, aku sudah berjanji dengan Lisanna untuk menjalankan misi dengannya seminggu penuh karena aku menghancurkan permata milik klien. Maaf, ya." Entah kenapa aku merasa sangat tidak enak dengan Lucy karenna ia hanya menyunggingkan senyum manis, padahal aku sudah menolak permintaannya. Lucy hanya mengucapkan "Oh begitu," dengan pelan lalu aku pamit pulang.
Aku tak tahu, sama sekali tak sadar bahwa aku telah membuka jalan yang (amat) sangat buruk bagi hubungan kami.
Aku terbangun ketika matahari menembus tirai merah muda yang menggantung pada jendela apartemenku. Aku mengusap mataku lalu menyibak tirai itu. Sungguh, benar-benar hari yang sangat tak menyenangkan. Aku merasa tak ingin pergi ke guild hari ini.
Benar-benar sok apatis aku ini. Padahal, saat Natsu menolak ajakanku karena dia sudah berjanji dengan teman masa kecilnya itu, hatiku serasa mau hancur saja. Bukannya lebay, ini serius. Tapi malah aku hanya bisa tersenyum dan tersenyum.
Kenapa aku tak bisa lebih jujur pada perasaanku sendiri?
Aku meraih ikat rambutku yang aku taruh di atas meja kerjaku. Aku ikat rambutku asal-asalan lalu beranjak menuju ke kamar mandi. Mungkin berendam bisa menenangkanku sesaat.
Sejenak saat tubuhku sudah sepenuhnya berada dalam bak yang berisi air hangat, pikiranku menerawang lagi. Kira-kira apa yang sedang mereka lakukan, ya? Kenapa perasaanku sangat tak enak begini. Entah kenapa aku berfirasat sesuatu akan terjadi. Tapi apa?
Uhuk, mungkin karena aku terlalu banyak berpikiran yang tidak-tidak. Aku harus rileks. Berhubung biaya sewa apartemen ini untuk dua bulan kedepan sudah aku bayar, hari ini aku tak pergi ke guild juga tak apa-apa. Lebih baik aku di rumah dan menyelesaikan novelku dengan segera.
Ah, semoga hari ini tenang sehingga aku bisa bersantai sedikit.
Aku memakai pakaian santaiku yang aku ambil secara acak dari dalam lemari, mengikat rambutku dengan gaya ponytail tinggi lalu melangkah santai menuju kursi kerjaku untuk mulai menulis kelanjutan novel yang aku tulis tadi malam. Aku menggenggam penaku dan menatap barisan huruf-huruf yang terjejer rapi di atas perkamen kecokelatan. Namun entah kenapa pikiranku kosong, aku tak tahu harus menulis apa.
Tiba-tiba saja aku teringat Natsu dan pernyataan janjinya dengan Lisanna yang semalam ia katakan padaku.
"Maaf Lucy, aku sudah berjanji dengan Lisanna untuk menjalankan misi dengannya seminggu penuh karena aku menghancurkan permata milik klien. Maaf, ya."
Mengingat hal itu entah kenapa membuatku kesal setengah mati. Serius, bagaimana jika kalian yang ada dalam posisiku, pasti kalian juga akan merasakan hal yang sama denganku. Dia dengan mudahnya melupakan janjinya denganmu, tapi dia malah menerima janji untuk pergi bersama orang lain.
Tolonglah, kenapa Natsu tak menolak permintaan Lisanna saja?
Oke, itu terdengar kejam dan aku juga tak mau menerima ajakan Natsu jika dia bertindak seperti itu. Bagaimana pun juga, Lisanna itu teman Natsu, temanku juga. Dan akan sangat kejam apabila aku merusak pertemanan yang mereka bangun dari kecil.
Walaupun aku tak mengerti apa-apa tentang teman masa kecil, tapi aku menghargai ikatan mereka.
Aku termenung tanpa menyadari bahwa di luar sana hujan deras telah mengguyur Magnolia. Aku melihat ke luar jendela dengan tatapan datar. Namun entah mengapa, aku merasa ada yang aneh.
"Aku... kenapa, sih?" gumamku pelan.
Hari ini hari terakhir Natsu, Happy dan Lisanna menjalankan misi mereka. Seminggu tepat dan aku hanya tinggal menunggu Natsu dan gerombolannya sampai di guild.
Aku mengikat rambutku dengan gaya twin pigtail lalu tersenyum pada bayanganku sendiri yang terpantul pada cermin besar yang ada di depanku. Aku melirik kertas misi yang aku pilih kemarin, rencananya aku ingin mengajak Natsu serta Happy, kalau bisa Erza, Gray, Wendy dan Carla juga untuk pergi bekerja bersama. Ah, sudah lama sekali kami tak mengambil misi bersama.
Ung, tunggu, baru seminggu aku sudah mengatakannya lama?
Aku tertawa pelan lalu memasukkan kertas misi itu pada tas gendong berwarna pink kecil lalu berjalan menuju guild.
Hari ini sangat cerah, dan moodku pun sangat bagus hari ini. Aku terus memikirkan apa yang akan aku lakukan di guild nanti. Mendengarkan kisah Natsu? Melihat para anggota guild ribut satu sama lain seperti biasa tau hanya mengobrol santai dengan para gadis.
Ah, memikirkannya saja membuat hatiku tak sabar cepat-cepat sampai di guild.
Pintu kayu besar tertutup itu menyambutku, aku memegang kenop pintu dengan senyum lebar terpatri di wajahku. Aku membukanya lebar sembari terkekeh.
"Kenapa, Natsu?! Setiap kita menjalankan misi selalu dia yang kau pikirkan! Ada apa denganmu?!" teriakan familiar itu menyapa gendang telingaku. Aku lalu mencari sumber dari teriakan marah tersebut. Aku menangkap dua sosok yang aku kenal betul sedang berhadapan di balkon lantai dua guild. Para penghuni guild lain begitu terlihat panik melihat pertengkaran mereka walaupun mereka, para anggota guild, tak ada satu pun yang berusaha melerai mereka.
Aku terdiam menatap mereka tepat di tengah-tengah pintu yang terbuka lebar dan tak ada satupun yang menyadari kehadiranku.
"Memangnya kenapa, Lisanna? Ada yang salah? Toh aku juga sudah memenuhi janjiku denganmu! Lalu kenapa kau malah marah-marah?" jawab Natsu yang berusaha meredam emosinya.
Aku masih terdiam melihat pertengkaran tersebut.
"Oh begitu? Jadi kau hanya semata-mata ingin memenuhi janjimu saja? Kenapa kau tak pernah menganggap misi yang kita jalani ini hanya sekadar karena kita ingin? Bukan karena janji, Natsu? Apa kau tak suka bekerja denganku?" nada Lisanna sedikit melemah, dan hal itu malah membuat Natsu memalingkan wajahnya. Aku tahu, Natsu melakukan itu karena ia tak enak hati dengan Lisanna.
Aku bisa mendengar Natsu bergumam "Lis, aku..." dan langsung terpotong oleh teriakan Lisanna yang mengagetkan seluruh anggota guild—
"KENAPA KAU LEBIH SUKA BEKERJA DENGAN LUCY YANG LEMAH ITU?!"
—termasuk aku.
Aku membeku mendengarnya. Dunia ini serasa begitu hening, aku tak bisa mendengar apapun. Tenggorokanku tercekat saat dia meneriaki hal yang paling tak ingin kudengar.
"LISANNA!" tapi kenapa aku masih bisa mendengar Natsu meneriaki nama Lisanna?
Badanku bergetar hebat, jantungku berdetak tak teratur, keringat dingin memaksa keluar dari pelipisku, menuruni wajahku dan menetes saat bulir itu sampai pada daguku.
"APA? BUKANKAH SEMUANYA JUGA TAHU KALAU DIA ITU LEMAH?!"
Cukup, hentikan semua itu. Lisanna aku mohon hentikan teriakanmu itu. Kau mencabik hatiku, Lisanna, cukup. Hentikan semua ini—
"AKU TAHU DIA LEMAH! Tapi—" suara terakhir yang aku dengar berhasil membuat air mataku yang telah mendesak ingin keluar akhirnya terjatuh. Tanpa basa-basi lagi dan tak menunggu kata-kata yang ingin Natsu keluarkan, aku memotong kalimatnya dengan nada rendah yang begitu gelap.
Aku menggumam, namun aku yakin seluruh guild bisa mendengarku karena keadaan yang begitu hening ini. "Jadi begitu..." ujarku sembari menunduk, membiarkan poni pirangku menutupi mata sialanku yang sudah mengalirkan air mata yang begitu deras. Tanganku terkepal dan bergetar, berusaha agar isakanku tak terdengar siapapun.
"Lu-Lucy?" Natsu memanggilku dengan terbata-bata, mungkin karena kaget tiba-tiba aku muncul menghancurkan drama mereka berdua yang sangat seru. Aku mendongakkan kepalaku, membiarkan air mata meluncur deras melalui pipiku.
Dengan tatapan yang sedikit buram, aku bisa melihat Natsu yang membeku dan Lisanna yang malah membuang muka.
Aku menatap Natsu nanar lalu beranjak pergi meninggalkan guild tanpa mengindahkan Natsu yang memanggil-manggil namaku.
Aku hanya ingin menghilang dari peradaban, aku tak mau melihat mereka. Aku tak mau, aku hanya ingin sendiri.
Dan aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku bukanlah makhluk lemah.
Saat aku berlari tanpa tahu arah dan tujuan, aku tak sengaja berpapasan dengan Master yang entah baru kembali dari mana. Aku menghadap Master dengan wajah yang bisa kubilang seperti badut karena jeleknya wajahku jika sedang menangis. Master menatapku kaget lalu menghampiriku.
"Lucy, nak, kau kenapa?" pertanyaan Master hanya aku jawab dengan gelengan ringan. Master menatapku tak percaya. Sudahlah, selagi ada Master, kenapa aku tak minta 'itu' saja?
Aku menahan isakanku sekuat tenaga, mengambil napas berat lalu menunduk pada Master dengan hormat. "Master, tolong hapus tanda keanggotaanku."
Aku bisa merasakan Master yang begitu shock mendengar permintaanku sehingga ia berkata "Lucy, kau bicara apa?"
Aku hanya diam sembari terisak, aku tak ingin menceritakan apapun yang terjadi padaku. Aku sudah cukup sakit hati dengan apa yang terjadi tadi. Walau kalian menganggap hal seperti itu sangat sepele, namun bagiku tak begitu.
Bagaimana rasanya kau dikatai lemah dengan partner yang paling kau sayang?
Aku berani taruhan kalian akan menjawab sakit. Itulah yang terjadi padaku. Rasa sakitnya melebihi sakit karena ditikam.
Master menghela napas berat karena aku tak mau cerita apapun dengannya. Ia mengusap pucuk kepalaku bagai orang tua yang menyayangi anaknya, yang membuat hatiku terasa sedikit hangat. Aku terisak lebih keras dari sebelumnya, lalu Ia meraih telapak tangan kananku, melihat tanda Fairy Tail berwarna merah muda yang terpampang jelas.
Warna merah muda... sama seperti rambut'nya'.
Master tersenyum sebentar lalu mengeluarkan sihirnya yang bisa menghapus tanda keanggotaanku. "Lucy, aku tak tahu apa yang terjadi. Tapi bagaimanapun, kau tetap anakku. Jika ini yang kau inginkan, aku sudah mengabulkannya. Jika kau ingin kembali lagi, pintu guild terbuka lebar untukmu." Ucap Master yang berhasil membuatku menangis lebih keras lagi.
Suasana guild kini hening, atmosfer di dalamnya terasa sangat tak mengenakkan. Semua tertunduk, tak ada yang berkata apapun setelah insiden Lucy yang tiba-tiba lari dari guild.
Semua merasa bersalah, apa lagi pemuda berambut pink jabrik yang duduk dengan kepala terbenam di meja yang sangat pojok. Ia sesekali menggeram lalu mengacak-acak rambutnya. Tak ada yang mau mendekatinya, tak terkecuali Happy, karena Natsu telah mengeluarkan hawa superpanas yang membuat siapa pun enggan mendekatinya.
Segerombolan orang muncul dari pintu guild yang tiba-tiba terbuka lebar. Menampakkan gadis cantik bersurai merah terang, pemuda berambut raven, gadis kecil berambut biru tua beserta kucing putihnya dan gadis air berambut biru muda yang bergelayut manja pada lengan sang pemuda berambut raven, serta pemuda dengan perawakan besar berambut hitam panjang berantakan dengan diikuti kucing hitamnya.
Sebut saja mereka Erza Scarlet, Gray Fullbuster, Wendy Marvell, Juvia Lockser, Gajeel Redfox, Carla dan Pantherlily.
Mereka juga tak luput dari keheranan yang disebabkan diamnya anggota guild. Tak seperti yang biasa ia temui, di mana guild selalu ramai dengan teriakan. Ini sangat sepi, layaknya kuburan dengan atmosfer yang sangat tak mengenakkan.
Erza yang terheran-heran hendak membuka suaranya, namun ia urungkan ketika mendengar sebuah suara yang sangat familiar di telinganya. Ia menyingkir dari pintu masuk ketika sosok Master mengucapkan salam dengan nada yang tak seharusnya. Nada bicara Master Makarov seperti penuh dengan sesal.
"Anak-anakku..." Master melangkah maju memasuki guild yang begitu hening. Ia memandang ke seluruh guild, lalu matanya terhenti pada Natsu yang masih menenggelamkan wajahnya pada lipatan kedua tangannya. Master menghela napas berat. "...saudara kita, Lucy Heartfilia, hari ini resmi keluar dari Fairy Tail." Ujar Master dengan nada penuh penyesalan.
Dan kalimat itu berhasil mengundang perhatian Natsu yang langsung mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Badannya bergetar tak karuan, matanya melebar dengan pupil yang membulat sempurna.
"Apa?" gumamnya pelan sehingga tak ada yang bisa mendengarnya.
To be continued
Afterwords:
Aaah, akhirnya kuupdate. Maaf memakan waktu yang sangat lama, ya. Sebagai gantinya ini dia konflik utamanya sudah di mulai, lho :'D /apa /oi.
Oh iya, terima kasih banyak untuk para readers sekalian yang telah memberikanku semangat dan mendukungku selama ini. aku sangat sangat berterima kasih pada kalian karena seorang author bukan apa-apa tanpa para pembacanya :)
Jadi, sekarang saatnya balas review! Review yang lewat account sudah aku balas di PM ya :'3
Erin. k . chan .9: Yah, tanpa konflik cinta segitiga, konflik utamanya gak akan jalan XD maaf dengana dengan Nali sebelumnya, yah.. aku juga gak tahan nulisnya sih TuT. Ini sudah lanjut XD
inigue temenelo: Iye, iye, gue tau. Lol. Jadiin kompor aja dia, Han, gue udah ndak sabar sama itu pair satu :'D /oi. Ini udah lanjut XD
Nah, aku tak akan banyak berkata. Sampai jumpa di chapter depan, ya!
Review? Wajib lho. /oi. Haha, karena review dari kalian sangat berarti untukku :")
Salam manis,
Nacchan.
