Dua pekan berlalu semenjak Kaneki bertemu dengan balita manis bernama Shiro, saat ini Shiro tengah anteng bermain dengan bebek karet kesayangannya yang diberikan oleh Kaneki beberapa hari yang lalu saat mereka berbelanja kebutuhan Kaneki junior.

Tubuhnya yang mungil berguling kekiri dan kekanan sembari mengangkat tinggi-tinggi bebek karet berwarna mencolok itu, disampingnya ada boneka kelabang besar berwarna coklat tua dengan pita merah muda mencolok dilehernya. Entah kenapa balita yang ia temukan dua pekan lalu sangat terobsesi pada kelabang.

Kaneki saat itu tengah membereskan ruang tamu untuk dipakai Shiro sebagai kamar pribadinya, menurutnya Shiro sudah cukup besar untuk tidur ditemani oleh orang dewasa.

"Yosh!" Kaneki menepukkan kedua telapak tangannya dengan seulas senyum puas pada wajahnya.

"Ne, Kane-chan cudah selecai?" kepala Shiro menyembul dibalik kedua tungkai kakinya.

"Un!" Kaneki mengangguk dengan senyuman puas bertengger dibibir tipisnya.

"Hollleeeee! Cekalang Shilo sudah punya kamal sendili!" surai saljunya bergoyang seiring langkah kakinya yang kecil-kecil menjelajahi ruangan yang tidak lebih dari empat kali tiga meter itu. Kaneki menyulap ulang ruangan itu senyaman mungkin, berusaha mendesainnya khas anak-anak dengan cat warna pastel dan sebuah single bed yang dipenuhi oleh beberapa boneka lucu seperti boneka pisang besar yang bisa dijadikan guling dan boneka kura-kura lebar yang bisa dijadikan bantal. Beruntung Kaneki tidak menambahkan teddy bear untuk mempercantik kamar Shiro, kalau memang ditambahkan entah akan sefeminim apa Shiro jika sudah besar nanti.

Kaneki terkekeh kecil melihat Shiro yang kini tengah asyik meloncat-loncat diatas single bed barunya, tubuhnya yang kecil nampak ringan saat melayang diudara.

Hup!

Kaneki menangkap tubuh Shiro dan mengayunkannya diudara yang disambut dengan tawa keras Shiro. Bocah itu nampak kegirangan. Merasa tenaganya terkuras habis, Kaneki kembali menurunkan Shiro dan mendudukannya diatas paha.

Tangan lentik Kaneki mengelus surai salju Shiro sayang sedangkan Shiro sendiri menikmati perlakuan sang 'mama'.

"Kane-chan?" mata dengan netra argentin itu terbuka.

"Ya?"

"Kayau nanti Shilo beltemu papa, Kane-chan ikut ya?"

"Eh, memang kenapa?" Kaneki menilik heran, "Bukankah Shiro-kun akan bertemu dengan mama?"

"Um…. Aku tidak mau meninggalkan Kane-chan sendilian." Bocah itu merengut.

"Kayau Kane-chan sendilian bagaimana?" bocah itu menatap Kaneki lekat-lekat.

"Ahaha, aku sudah terbiasa sendiri, tentu saja." Kaneki tersenyum sedangkan Shiro nampak khawatir.

"Iie…iie… kayau Kane-chan sendilian nanti Kane-chan bica sedih." Wajah bulatnya nampak murung dan Kaneki terkekeh keras, ternyata selain Hide dan rekan-rekannya di Anteiku masih ada juga orang yang kelewat perhatian terhadapnya.

Ah, bersama dengan Shiro nampaknya membuat dirinya jauh lebih rileks dan seringnya malah menghibur kegundahan hatinya.

.

.

.

Anteiku sudah terbiasa dengan keberadaan makhluk mungil berkulit pucat, bertampang super inosen, yang terkadang terlihat clumsy tapi mendadak agresif dan mirip dengan setengah ghoul yang sekarang sedang mengantarkan dua gelas kopi ke meja nomor sebelas.

Kaki-kaki mungilnya berayun riang diatas sebuah kursi khusus balita, tangannya dilipat diatas meja dan netra asapnya berbias antusiasme tinggi. Didepannya Hinami tengah mengajarinya menggambar dengan krayon penuh warna.

"Onee-chan, bagaimana cala menggambal bulung?" Hinami nampak berpikir sejenak, telunjuknya dia taruh diatas dagu dengan tangan lainnya yang terlipat didepan dada.

"Etto… Shiro-kun bisa menggambarnya kecil-kecil dengan angka tiga terbalik, seperti ini." Hinami mulai menggoreskan krayon warna hitam diatas buku gambar dan binar kagum bersinar dimata bulatnya.

"Heee… Sugeee! Onee-chan…Onee-chan lagi! Lagi!" Shiro bertepuk tangan kagum, bocah cilik itu terus mengamati bagaimana tangan Hinami begitu lincah menari diatas buku gambar lalu perlahan mulai menirunya.

Awal-awal kedatangan Shiro ke Anteiku bersama Kaneki berlangsung heboh, Nishiki dan Touka langsung menerjang Kaneki dengan seribu satu pertanyaan perihal Shiro yang sedang tertidur pulas dalam gendongannya yang berakhir dengan adu mulut antar Touka dan Nishiki sedangkan beberapa pegawai lainnya hanya tersenyum mahfum.

"Lalu un…" Kening balita itu mengerut lucu dengan telunjuk yang ia letakan dikening dan bibir mungilnya yang sedikit mengerucut kedepan, "Aku ingin mengambal bunya, Onee-chan tahu calanya?" bocah itu bertanya dengan logat cadelnya.

Hinami tersenyum manis, bocah disampingnya selalu terlihat menggemaskan dalam keadaan apapun bahkan ketika Yomo bersama Uta datang menggunjungi Anteiku, bocah itu nyata-nyatanya malah anteng bermain dalam gendongan Yomo dan menarik kunciran Uta. Hinami mengusap gemas surai-surai Shiro, parasnya dengan onii-sannya memang benar-benar mirip.

"Onee-chan!"

"Ya?" suasana ceria itu sampai ketelinga Kaneki, pemuda tanggung itu tersenyum dibalik celah pintu dimana Hinami dan Shiro sering bermain.

Tanpa suara, pemuda itu menghampiri keduanya.

.

.

.

Mereka tengah berjalan pulang dari Anteiku saat tiba-tiba Shiro menarik tangannya keras dan berteriak memanggil ayahnya menuju titik kerumunan diperempatan menyilang zebra cross. Wajahnya nampak panik bercampur senang, panik karena takut sang ayah malah lari dari pandangannya dan senang karena kini ia bisa kembali dengan aggota keluarganya.

"Papa!"

"Papa!" teriaknya mengulur tangan-tangan harapan.

"Pa….hosh…pa..hosh…hosh!"

Obsidiannya berkaca-kaca, kaki-kaki kecilnya kini tak bisa dipaksakan berlari. semakin lama ia berjalan pandangannya malah tertutupi kabut jejalan manusia yang berjalan kaki, air matanya jatuh dan genggamannya pada tangan besar Kaneki terputus oleh pupusnya harapan. Desakkan manusia yang berlalu-lalang membuatnya terseret arus dan jatuh menjerembab permukaan aspal yang dingin. Sedikit sobekkan kulit terlihat dilutut kanan, dengan mata sembab bocah itu menangis diam.

"Papa!"

.

Kaneki masih sibuk menenangkan Shiro yang saat ini menangis diam dengan wajah tersembunyi dada bidangnya, sesekali terdengar sesenggukkan kecil dan tangis tertahan darinya. Kaneki menghela nafas, ia menghela nafas, kejadian ini hampir mirip dengan saat awal-awal pertemuannya dengan Hinami. Hinami yang mencium bau kagune ayahnya yang ternyata telah diubah sedemikian rupa menjadi sebuah quinque dan berakhir dengan ibunya yang tewas oleh pasangan Amon-Kureo.

"Hiks!" Kaneki mencium ubun-ubun kepala Shiro dengan penuh perasaan, bahu bocah berumur lima tahun itu berguncang, nafasnya sedikit tersenggal.

"Sshhh, mungkin tadi Shiro-kun salah melihat." Kaneki berusaha menghibur.

Bocah itu diam tidak menjawab dan bergelung memeluk Kaneki erat.

"Shiro-kun?"

"Hiks!"

"Sshh, sudah. Jagoan tidak boleh menangiskan?" Kaneki tersenyum, dan wajah lembab itu mendongak malu-malu.

"Ne Kane-chan, apa papa sudah tidak sayang dengan Shilo?" bocah itu bertanya dengan sesekali terlihat sesenggukan.

"Tidak kok, tentu saja papamu sangat menyayangimu. Mungkin papa SHiro-kun saat ini sedang cemas dan mencarimu kemana-mana." Kaneki menyahut selembut mungkin, menghibur balita malang itu.

"Hiks, Kane-chan." Shiro kembali menenggelamkan diri dalam rengkuhan Kaneki.

"Ssshhh, berhentilah menangis. Ada aku." Bocah itu kembali mendongak, sedikit tertegun dengan kalimat Kaneki.

"Hiks, Mamaaa!" dan ditengah taburan bintang, dua wajah serupa itu terlelap nyaman menghiraukan wajah serupa lain yang tengah berjalan dibawah tenda langit malam.

.

.

.

tbc


Saya ucapkan maaf sebesar-besarnya, telat update karena fakultas dan jurusan saya sedang mengadakan acara besar-besaran.

susah mencari waktu luang, sekali lagi hontou ni gomen nasai. karena jam rehat saya kurang dan kesibukkan menumpuk, akhirnya update dan menulis ceritapun jadi keteteran.

ah iya, terimakasih kepada .9 yang sudah mereview chap sebelumnya, terimakasih bagi yang sudah mem-fav maupun mem-follow fict saya. *meratap *masih merasa gagal

yo, mind to review.