Sinopsis:
Terbuang. Aku, kau dan dia, pertemuan kita terjadi karena itu. Kita hanya marah, mereka hanya marah. Egois… bolehkah kami memilih bersikap begitu?

Judul: Terbuang

Pengarang: JK Rowling

Penulis fanfiksi: Dyn Whitleford

Jenis: Petualangan, Persahabatan, Keluarga dan Roman

Tokoh: Harry Potter, Draco Malfoy dan Ronald Weasley

Peringatan: Saat kamu berniat membaca kamu sudah menanggung resiko akan kekurangan fiksi ini (terutama perihal sedikit, typo, yaoi-nya dan OCC). So… Don't Read if You Don't Like. Oh ya… untuk Chapter 2 ini coba baca sambil dengarkan lagu 'A Thousand Years'.


Beauty in The Bis Presents:

"TERBUANG"


Private Drive nomor 4 adalah tempat dimana keluarga Durley tinggal. Mereka 'mengasuh' seorang anak dari kerabat yang meninggal. Harry Potter nama anak itu, anak dengan rambut hitam berantakan, mata hijau cemerlang, dengan luka khas berbentuk petir didahinya, juga berkacamata bulat yang diselotip sana-sini. Tubuhnya sangat kurus dan tampak terlalu kecil untukusianya yang sudah menginjak usia 10 tahun, sangat bertolak belakang dengan paman dan sepupunya yang bertubuh gempal, meski bibinya juga kurus tapi bibinya tinggi dan berleher agak panjang.

Suasana tegang tampak jelas menyelimuti ruang keluarga di rumah itu. Pertuania dan Dudley dudud di sofa ruang keluarga dan menatap Harry dengan pandangan mencela. Vernon berdiri ditengah ruangan dan menatap sanggar Harry, sementara Harry hanya menunduk sambil tangannya memeluk erat kotak tua dari kayu dengan sisi terles emas.

"Kau! Beraninya kau mengambil benda sialan itu!"

Mendengar bentakan Vernon –yang sebenarnya hampir setiap saat tertuju padanya- tidak membuat Harry melepas kotak itu, malah semakin erat memeluknya.

Vernon semakin gusar, ia berusaha mengambil kotak itu dari Harry. Harry dengan sisa tenaga yang ada berusaha menarik kembali kotak itu. Tapi apalah daya tenanga seorang anak berusia 10 tahun melawan pria dewasa, sama sekali tidak ada arti. Terlebih Harry belum makan hari ini, gara-gara ia tak sengaja menjatuhkan sosis goreng yang telah digorengnya padahal itu karena sepupunya yang mendorongnya. Vernon melihat itu terjadi tapi tetap saja langsung memukuli Harry dan menghukum anak itu membersihkan gudang, sepanjang malam tanpa makan malam.

Saat itulah Harry menemukan kotak yang sekarang sudah direbut Vernon. Ia Cuma sempat melirik sekilas isinya berupa selembar foto, namun belum sempat ia melihat jelas, Pertunia sudah memergokinya dan menyeretnya ke ruang keluarga.

Harry dengan gerak tubuhnya yang gesit, meloncat menggapai kotak yang entah bgaimana membuatnya rindu dan menjadi berani melawan begini. Sampai! Loncatan Harry sampai, meski hanya berhasil membuat kotak itu jatuh dan menjatuhkan isinya yang berupa selembar foto, sebuah jubah tua dan selembar kertas.

Harry dengan refleks yang luar biasa cepat menyambar selembar foto itu. Disana… di dalam foto itu berdiri wanita dewasa berambut merah panjang dan beriris hijau cemerlang sementara disampingnya pria dewasa merangkul wanita itu. Rambut pria itu hitam legam dan berantakan, ia juga mengenakan kacamata. Ditengah mereka, didalam dekapan wanita berambut merah tergendong bayi kecil bermata hijau dan berambut hitam. Tak perlu diamatai dengan cermat, Harry tahu bayi itu dirinya dan kedua orang dewasa itu ibu dan ayahnya.

Air mata –yang sudah lama sekali mengering- mengalir dari kedua sudut mata Harry. Akhirnya… akhirnya ia bisa melihat wajah kedua orang tuanya. Sebuah lengkungan tertera dibibir anak itu, sebuah ekspresi asing bernama senyuman hadir diwajahnya. Foto tua tersebut ia dekap erat, berkhayal bahwa sekrang yang ia peluk adalah kedua orang tuanya. Ia lega, dan sangat bahagia. Rasanya seperti ada tetangga yang baik hati memberikan makanan tapi jauh… perasaan ini jauh lebih bahagia dibanding itu.

BRUK

Tubuh ana yatim itu terhempas keras kedinding, ia merintih, namun dengan cepat membuka kedua matanya mencari foto yang terlepas dari dekapannya saat pamannya entah menendang atau memukul –sama saja bagi Harry- dan membuat tubuhnya terpental kedinding.

Matanya terbelalak dan wajahnya memucat, foto itu sekrang berada ditangan Vernon. Vernon tersenyum angkuh pada Harry yang tubuhnya membatu.

Seakan waktu menjadi sangat lambat, saat Harry melihat pamannya merobek foto itu menjadi dua bagian, empat, delapan, dan entah berapa bagian lagi.

Kaki anak laki-laki itu melemas, ia sama sekali tidak mendengar tawa mengejek sepupunya atau tawa sinis pamannya.

Yang ada dikepalanya hanya dunianya yang sekali lagi runtuh.

"Dengar anak tak tahu diuntung. Kau sama sekali tidak diijinkan u-"

Perkataan Vernon terputus saa rumah miliknya mendadak bergetar, seakan gempa tengah menyerang, tapi jelas bukan.

"KAU! APA YANG KAU LAKUKAN!"

Getaran dirumah itu semakin kuat terjadi, Pertunia memeluk erat anak semata wayangnya. Sementara Vernon menatap ngeri aura hitam yang mengelilingi tubuh Harry.

Mata anak itu menatap lurus pada Vernon. Kilau iris mata hijaunya berkilat semakin gepal seakan siap membunuh pamannya sendiri.

PRANG

Kaca lemari yang berada disebelah Harry pecah berkeping-keping diikuti kaca jendela dibelakang Pertunia.

Harry mendesis seperti ular dan menggumamkan sesuatu yang Vernon tidak tahu dan tidak mau tahu artinya.

Vernon melempar benda apapun yang berada dijankauan tangannya pada Harry. Salah satunya guci antik pemberian koleganya, dan guci itu tepat mengenai sisi kepala Harry. Guci yang hancur dan kepala yang terluka. Entah sebesar apa luka yang mnganga di sisi kepala Harry karena sekrnag darah mengucur deras melintasi bekas luka berbentuk petir dan menetes kelantai.

Harry tampak tidak perduli atau mungkin tidak sadar. Ia entah bagaimana caranya membuat tubuh gempal Vernon melayang dan menghempaskannya ke dinding sebelah televisi. Menghasilkan benturan yang keras dan tanpa sengaja melayangkan selembar kertas tepat didepan Harry, membuat Harry refleks menangkapnya.

26 Oktober

Mom, Dad and Harry.

We always love you, Son…

Kesadaran kembali muncul. Harry membaca tulisan itu dan ajaibnya itu membuat amarahnya seketika mereda. Ia mengumpulkan bagian-bagian kecil foto itu dan memasukannya kedalam kotak, ia juga memasukan jubah, dan kertas yang berusan ia baca.

Tanpa bicara, ia berbalik ke kamarnya yang seperti gudang tapi jauh lebih parah. Mengambil tas ransel tua bekas sepupunya, dan memasukan barang-barang apapun yang bisa dibawanya. Karena dia tahu dia pasti akan diusir dari rumah ini melihat apa yang sudah ia perbuat, meski sebenarnya ia tak mengerti mengapa ia bisa melakukan itu.

"KELUAR KAU BEDEBAH!"

Benar saja, selang beberapa menit teriakan Vernon langsung terengar dan pintu kamarnya langsung roboh diterjang Vernon.

Pria itu menyeret tubuh Harry keluar rumah dan melemparkan tubuh anak malang itu kedalam mobil. Dia sendiri berlari meuju kursi kemudi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Harry tak tahu seudah berapa jauh obil itu berjalan, karenna sekrang tidak tampak lagi bangunan-bangunan tinggi dan megah ataupun rumah-rumah berjejer rapi. Yang ada hanya tampak gunung dan hutan, lebat, tanpa manusia yang melintas.

Harry melihat Vernon mengarahkan mobilnya masuk ke hutan –yang tanpa jalan aspal, hanya berupa jalan tanah-. Tiba-tiba mobil berhenti, Vernon dengan cepat keluar dair mobil, membuka pintu kursi belakang dan melempar tubuh kecil harry keluar dari mobilnya. Kemudian pergi tanpa mengucapkan apapun, bahkan melihat Harrypun tidak.

.

-C.a.n.d.l.e-

.

Seorang pemuda berambut pirang terang berjalan menembus hutan, punggungnya memanggul ransel yang sudah disihir supaya bisa memasukan banyak sekali barang. Terima kasih pada Dobby, peri rumah yang mau membantunya menyihir tas ranselnya. Ia juga meminta Dobby untuk ikutnya. Dobby entah kenapa dengan senang hati mengikuti Draco dan menghalau segala sihir yang mencoba mencari keberadaan tuan kecilnya.

Draco tertawa melihat Dobby yang kesusahan berlari mengikutinya, padahal peri itu bisa berapparte tapi lagi-lagi entah kenapa ia memilih untuk menggunakan cara manual, berjalan err sekarang berlari.

Wajah Dobby tampak berseri-seri melihat tuannya tertawa. Jika dimanor, tuan kecilnya hanya akan bertampang dingin dan minim ekspresi. Dobby tahu tuannya tidak seperti itu karena ia sendirilah yang selalu menemani Draco bermain dikamarnya yang terkunci rapat –agar tak ada yang tahu- berlarian dan tertawa bersamanya. Tapi waktu untuk bermain semakin berkurang, tuan besar ingin Draco menjadi seperti dirinya. Seorang bangsawan berdarah murni, tak ada tawa terbahak juga tak ada berlarian.

Entah karena hal apa tuannya ini memutuskan untuk kabur, tapi jika itu bisa membuat tuannya tertawa lagi, Dobby akan melakukannya sekalipun bila nanti mereka dapat ditemukan ia akan mendapat hukuman sangat berat.

Draco melirik jam tangannya, sudah pukul 06.00 pagi bearti sudah 5 jam lalu ia kabur dari rumah. Ia melirik sekitar, mencari hal menarik yang bisa dilakukannya pagi ini, tanpa perlu menjadi menjaga ekspresi, tanpa perlu menggunakan bahasa formal, tidak ada yang akan membatasi dan memarahinya disini, dia aman.

Ia melihat siluet seorang anak yang bersandar disebuah pohon besar, merasa penasaran ia mendekati anak tersebut.

Seorang anak berambut hitam berantakan tertidur dibatang pohon besar. Ia bergelung nyaman dalam balutan pakaian tidur yang kebesaran, dan memeluk sebuah kotak kecil, sementara ranselnya ia jadikan bantal.

Sepertinya anak kecil ini juga kabur.

Draco mendekat dan rasa kasian timbul dalam batinnya melihat anak yang bertubuh kurus dan kecil ini. Ada luka cukup besar di sisi kanan kepalanya tepat disamping bekas luka kecil berbentuk petir. Ia mengamati tubuh anak itu lebih cermat. Ternyata masih banyak luka lain disekujur tubuhnya, lebam-lebam juga tampak di tangan serta kaki anak ini.

Draco menghela napas, berniat menolong anak sekarat ini. Untung saja ia sudah diajari ayahnya untuk meramu tingkat dasar. Setidaknya ia tahu ramuan untuk mengobati luka-luka ringan, dan untungnya lagi untuk membuatnya sama sekali tidak sulit.

Draco memanggil Dobby untuk mencarikannya beberapa bahan ramuan, sementara dirinya mulai mempersiapkan barang-barang yang diperlukan.

.

Harry membuka matanya perlahan saat merasakan sesuatu yang dingin dan menyentuh dahinya. Dan sukses terbengong melihat seorang anak mengkomres dahinya, lagipula makhluk apa itu yang sibuk memasak?

"Kau sudah bangun?"

Harry mengangguk ragu, seumur-umur ia belum pernah dirawat lukanya.

"K-kau s-siapa?" tanyanya nyaris seperti berdesis.

"Draco Mal- Draco saja, panggil aku begitu,' serunya mencoba akrab dengan anak didepannya.

Ini pertama kalinya Draco berbicara dengan anak lain selain anak kolega ayahnya. Dengan ragu Draco mengulurkan tangan –mengajak bersalaman-, meski sendirinya tidak yakin apakah ini cara yang tepat untuk memulai pertemanan.

Harry menatap tangan putih itu dengan tatapan tidak percaya. Anak ini mengajaknya berteman? Senyum lebar menghiasi bibir mungil anak lelaki itu. Tanpa pikir panjang ia langsung menjabar tangan Draco, takut jika sang pemilik tangan berubah pikiran.

"Harry, namaku Harry," serunya semangat.

Senyum itu bisa menular, karenanya sekarang Draco ikut tersenyum.

Kyukkkkk

Draco dan Harry mengejap, itu… bunyi perut lapar ya?

Kyuuuukkk

Draco menolehkan pandangannya ke Harry, yang wajahnya mulai bersemu merah karena malu.

Kyuuuukkk

Well, seperti kali ini perut Draco yang berbunyi. Hening sejenak, mereka bertatapan, nyengir dan tertawa terbahak layaknya anak berusia 10 tahun pada umumnya. Jauh dari apa yang biasa mereka bisa ekspresikan.

BRUK

Seorang anak berambut merah jatuh tersandung di dekat semak tempat Harry dan Draco berada.

"Adu-du-duh…" erangnya.

Harry dan Draco otomatis mengamati anak itu, rambut merah terang yang penuh dedaunan dan ranting, ransel besar, seekor tupai yang diatas kepala dan er… sapu?

Well… sepertinya ada anak lain yang bernasip seperti mereka.

Anak itu menatap Harry dan Draco salah tingkah, wajahnya merah menahan malu.

Kyuuuukkk

Satu lagi anak kelaparan.

Harry dan Draco tak dapat menahan rasa geli mereka dan tertawa terbahak, membuat wajah anak bernama Ron itu semakin memerah dan ia hanya bisa nyengir.


TBC….


A/N Setelah sekian lama, aku akhirnya kembali dari hiatus. Semua fic bakalan dilanjutin kok -,-"

Btw... ah... sudah lama aku tidak menulis... *menerawang


Balesan Review:

Anindya Cahya

Maaf-maaf *nyegir
Baru keembali dari hiatus dan fic 'Rumah Kita'nya akan dilanjutin kok ;D

Pattesa Oddes

Yeah.. ini mun gkin bakalan end di chap 4 or 5... Aku juga ngerasa makin sepi sih. Ahahaha... aku memang author lama -sudah jamuran- yang baru kembali dari hiatus *nyegir lebar
kemaren habis publis mendadak banyak kesibukan jadi hiatus diperpanjang dan baru kembali... -,-"


Oke... sampai sini dlu... jangan lupa review ya... *lambai2