Disclamer : Masashi Kishimoto

Warning! Typo(s), OOC, alur cepat dan banyak lagi kekurangan.

Job Hunting versi SasuHina:)

Dont Like Dont Read. Serius, dari pada memicu flame.

Hope you like it:)

.

.

Aku duduk di taman kampus sambil membaca lowongan pekerjaan di koran. Mencari-cari kalau saja ada sesuatu yang bisa aku lakukan asalkan di tokyo. Aku tidak bisa menyerah meski terus-menerus gagal. Aku harus menemukan sesuatu sebelum musim gugur tiba.

Aku terus menerus mencari dan membolak-balikan koran dengan serius.

"Hinata! Lama tak bertemu ya, bagaimana perjalananmu ke tokyo?"

Ah, aku tahu suara ini. Teman sepermainanku, Sakura. Dia lebih populer dibandingkan denganku. Malahan aku tak populer sama sekali. Wajahnya sangat cantik juga modis. Mungkin Sakura adalah tipe ideal para gadis jaman sekarang.

Aku tak menjawab dan masih fokus pada koranku.

"Um, sepertinya gagal lagi ya?"

Aku masih tak memperhatikannya dan hanya menanggapinya dengan gumaman.

"Hinata, bagaimana jika kau ikut ke acara minum-minum hari ini? Laki-laki juga akan datang, bagaimana jika kau melepas lelah dulu sejenak? Disana pasti banyak pria tampan."

"Tidak mau. Sekarang aku sedang merasa sangat bersemangat. Semangat ku sangat berlimpah! Karena itu, aku tak punya waktu untuk cinta." Aku masih memfokuskan pada koranku.

Sakura menatapku bingung. "Aku tak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi aku senang kau tidak depresi."

"Kau lihat senior Sasuke? Kereeenn!" ditengah pembicaraanku dan Sakura, aku tidak sengaja mendengar mahasiswa lain.

"Aku ingin sekali saja mengobrol dengannya."

"Iya benar."

"Senior Sasuke bla bla bla"

Karna tak menemukan apapun yang di koran aku mengangkat wajahku dari koran tersebut dan menggaruk keningku sedikit.

"Siapa sih?" Tanyaku, karna yang mereka bicarakan sepertinya hal yang sama secara terus-menerus.

"Kau kuliah disini tapi tak tahu laki-laki itu?" Sakura menjawab.

"Kau memang temanku, tapi level kekuperanmu keterlaluan." Sakura melanjutkan sambil menggeleng.

Aku mengembungkan mulutku karna kesal.

"Sasuke Uchiha! Kau benar-benar tidak tahu? Dia mahasiswa tingkat 6 jurusan Hukum, usianya 21 tahun dan golongan darahnya tipe O."

"Ah, namanya sepertinya pernah ku dengar."

"Dia tampan, pintar dan menarik hati siapapun."

"Aaa, Sakura tahu banyak ya." Jawabku tak tertarik.

"Kau saja yang tidak tahu!"

"Yah, aku kan tak punya urusan dengan dunia gemerlap seperti itu."

Lalu tiba-tiba wajah Sakura panik dan menunjuk-nunjuk sesuatu.

"Hinata! Lihat! Itu dia!" Sakura sangat bersemangat menunjukannya.

"Apa sih, aku sedang sibuk."

"Cepat lihat! Pria yang berdiri paling depan disana!"

Aku menoleh malas dan melihat lelaki tersebut. Dia, tampan juga.

EEEHH?!

Mataku membulat sempurna.

"Dialah yang bernama Sasuke Uchiha." Jelas Sakura.

i-itu.. Lelaki ketua kemarin.. dia Sasuke Uchiha? Bohong.. apa ini bohong? Karena orang itu.. kebetulan bersamaku saat wawancara di tokyo.. dan naik kereta yang sama denganku..

Belajarlah sedikit dalam berbohong.. Hinata..

Aku yakin.. tak akan bertemu lagi dengannya.. karena aku berfikir pasti tak akan bertemu lagi dengan lelaki ini..

Disaat yang sama Sasuke membalikkan badannya dan matanya langsung tertuju padaku. Matanya juga membulat, dia juga sama-sama terkejut. Lalu..

"Gadis permen!"

Glek. Dia berteriak sambil menunjukku. Yaampun, ternyata hanya itu yang dia ingat.

Sasuke berjalan mendekat ke arahku. Oh tidak!

"Jangan-jangan kau kuliah disini juga? Kebetulan yang hebat. Jurusan apa? Tak mungkin sama kan?" dia tersenyum saat berada tepat didepanku.

Kyaaa, wajahnya bercahaya saat dekat!(lebay) karna tak tahu apa yang akan aku lakukan, aku malah menarik koranku ke arah wajahku, aku menutup wajahku dengan koran tersebut.

"A-apa kau tak salah orang?" aku bersuara. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa.

"Hey Sasuke! kuliahnya mau dimulai!" suara teman-teman Sasuke terdengar dari jauh. Lihat, Kau dipanggil oleh teman-temanmu! Cepatlah pergi.

"Hmm.. aku tak mungkin salah mengenali orang." Sasuke menjawab lalu aku mendengar langkahnya menjauh. Syukurlah.

"Sampai ketemu lagi, Hinata."

Wajahku memerah, saat dirasa dia sudah pergi. Aku menurunkan koran yang kupegang dari wajahku. Sampai bertemu lagi? Ternyata kita.. benar-benar bertemu lagi.. Namanya ternyata Sasuke..

"Ekhm.. Hinata, maukah kau menjelaskan semuanya padaku?" Sakura bersuara.

Aku sempat lupa bahwa Sakura juga berada disini tadi menyaksikan. Jadi, aku menjelaskan semuanya dari awal hingga perpisahan saat turun shinkansen.

"Sasuke Uchiha berburu pekerjaan?" tanggap Sakura.

"Y-ya, aku kebetulan segrup dengannya saat diskusi."

"Wah, pembagian grup yang tak menguntungkan ya untuk Hinata."

"S-sakura.."

"Hahaha, bercanda kok. Tapi aneh, padahal harusnya orang itu tak perlu mencari kerja." Ucap Sakura tiba-tiba serius.

"Eh?" aku bingung.

"Oh iya, kau kan tidak tahu apa-apa tentang dia ya. Aku sudah bilang kalau dia mahasiswa Hukum kan? Saat tingkat empat dia mengikuti ujian negara untuk ilmu Hukum, dan lulus." Jelas Sakura.

"Ujian Negara ilmu Hukum? Jika lulus bukankah langsung diterima menjadi pengacara?"

"Biasanya sih begitu, tapi ku dengar bukan hanya pengacara. Untuk apa lagi seseorang yang lulus dalam ujian Negara mencari kerja di perusahaan biasa? Iya kan?" Sakura tertawa.

"Ah, iya.. W-wah, ternyata dia benar-benar hebat ya." Aku tertawa kaku.

Sakura menghela nafas. "Karena itulah dia terkenal."

Jadi begitu ya. Aku memang berfikir dia aneh. Kenapa orang yang terlihat bisa diterima dimana saja masih mencari pekerjaan sampai ke tokyo?

Ternyata dia itu..
Tidak serius.

.

.

.

Setelah selesai kuliah aku pergi ke kantin kampus untuk makan siang dan memeriksa bahan-bahan yang kuperlukan untuk pemburuan kerja yang selanjutnya. Aku menemukan meja yang nyaman dan tak terlalu ramai. Ku keluarkan kertas daftar riwayatku, melihat-lihat jika ada sesuatu yang kurang jelas atau sesuatu yang kurang di kertas tersebut.

"Hey," Aku mendengar seseorang didepan mejaku. Gawat, suara ini..

Aku langsung buru-buru menarik kertas riwayat Hidupku untuk menutup wajahku, namun dia menahan kertasku sehingga aku tak berhasil menutupi wajahku.

"Kali ini.. aku tak salah orang kan?" Sasuke melanjutkan. Aku mendongkak kaku kearah wajahnya sambil berusaha tersenyum.

"Tadi kau seenaknya saja cuek denganku. Apa menyapa orang saja tidak bisa kau lakukan?" lalu dia seenaknya menarik kursi dan duduk dihadapanku. yaTuhan, aku tak bisa berfikir karna tidak terbiasa melihat pria tampan.

"Kalau tidak salah, aku belum memperkenalkan diri. Benar kan?"

"Sasuke Uchiha." Aku memotong.

"Loh?" Dia bingung.

"A-aku tahu karna kau terkenal."

"Oh.." Sasuke tersenyum.

Apa itu?! Senyuman tak jelas begitu!

"Lalu namamu.." dia berbicara sambil mengambil kertas riwayat hidupku.

"H-hya! Hentikan! Jangan melihat daftar riwayat hidup orang lain!"

"Ah, Hinata Hyuuga ya. Kau ambil jurusan sastra Jepang tapi tak punya kemampuan berbicara ya."

"C-cerewet!"

"Hinata, ini apa? Kenapa pakai kacamata?" Sasuke menunjuk fotoku yang tertera diriwayat hidup tersebut.

"Ku-kupikir memakai kacamata membuatku terlihat sedikit lebih pintar.."

Sasuke menatapku aneh.

"Ti-tidak ya?" aku menunduk.

"Tidak penting, ini adalah foto untuk menunjukan jati dirimu bukan untuk cosplay! Juga jangan berfoto di photo box yang dikerumuni banyak orang, di photo studio jauh lebih baik."

Ah, padahal aku sudah berusaha untuk foto ini. Tapi ternyata sia-sia ya.

Tiba-tiba Sasuke berdiri sambil masih memegang riwayat hidupku.

"Yang seperti ini, buang saja dan menyerahlah!"

Aku terkejut.

"Kau sudah menentukan pekerjaan yang kau pilih kan? Sebaiknya kau memilih sesuai dengan keahlianmu. Jika kau memilih pekerjaan yang tidak kau sukai, perusahaan akan tahu kalau kau tidak bersemangat. Berusahalah untuk lebih serius!"

Apa-apaan dia? Mengapa dia mengatakan hal itu dengan sangat mudah? Apa haknya sehingga menyuruh orang menyerah begitu saja. Aku terlalu kesal sekarang.

"Kau juga sama saja." Aku mulai bersuara.

"Padahal kau juga sama saja, kau tidak serius. Orang yang santai karena masa depannya telah ditentukan itu asyik ya? Yang jelas kau menyusahkan." Gawat! Aku seharusnya tak berkata begini!

"Aku tak tahu kau sedang main-main atau iseng. Tapi, jangan mengurangi kesempatan orang yang sedang bersungguh-sunggu mencari kerja." Aku tak bisa mengontrol kata kataku. Lalu aku memalingkan wajahku agar tak menatapnya.

Walau awalnya dia terkejut atas apa yang aku katakan, tapi dia malah langsung terkekeh.

"Memangnya kenapa?" Sasuke bersuara.

"Memangnya apa hubungannya dengan aku yang iseng mencari kerja, dengan kau yang mencari kerja tanpa menentukan posisi kerjanya?" dia tersenyum.

"Tapi, kau mau jadi apapun. Bukanlah urusanku." Lanjutnya sambil pergi meninggalkanku.

Aku terpaku sendirian.

Aku juga mengerti itu.. tapi bukan berarti aku tak berfikir serius. Walaupun begitu keadaannya selalu tak berjalan lancar. Kalau aku.. mungkin dibencinya..

Aku ini bodoh. Aku sudah merusak pertemuan keduaku dengannya. Mungkin dia tidak akan tersenyum lagi padaku. Aku tak tahu apapun tentangnya, tapi malah berkomentar seenaknya tentang dia, dan membuatnya marah..

Pertama-tama jika bertemu lagi, aku harus minta maaf dengannya. Aku juga akan buat foto diriku yang baru.

.

.

.

Aku bangun lebih pagi agar bisa berolah raga pagi. Hari ini aku akan lari pagi ke arah taman kota. Jaraknya agak jauh dari rumahku namun menyenangkan. Taman kota selalu dipenuhi anjing-anjing lucu saat pagi hari.

Saat sampai aku duduk dibangku taman sambil melepas lelah setelah berlari. Benar-benar lelah. Otot-ototku ternyata sudah kendur. Tapi lari pagi itu memang menyenangkan, aku jadi merasa siap untuk berjuang selama seharian ini. Lalu aku membuka botol minum yang kubawa dari rumah untuk menghilangkan dahaga.

Hal yang membuatku terkejut adalah, saat aku selesai minum. Aku melihat sosok Sasuke nampaknya juga sedang berlari pagi. Belum selesai terkejut Sasuke malah melihat kearahku dan sama terkejutnya. Dia menghampiriku. Aku refleks berdiri saat dia sudah didepanku.

"Se-se-selamat.. pa-pa.." aku gugup luar biasa.

Namun tiba-tiba Sasuke menarikku kearah pelukannya. Aku serasa melayang dan ingin pingsan.

"Guk! Guk!"

Aku mendengar suara anjing dibelakangku.

"Hay Sasuke, maaf Akamaru pagi ini benar-benar bersemangat." Seseorang berbicara.

"Tidak apa-apa, wah aku juga akan bersemangat seperti Akamaru."

Bau keringat ini.. aroma sabun.. beginikah dada seorang pria?

Saat anjing itu pergi perlahan Sasuke melepaskanku.

"Maaf ya, anjing itu suka melompat begitu saja." Ucap Sasuke.

Aku menunduk. Jantungku berdebar-debar tak terkontrol.

"Hinata?"

"Sasuke.. akulah yang harusnya minta maaf. Karena aku tak berhasil dalam mencari kerja, aku malah menyalahkan orang lain dan berkata keterlaluan. Maafkan aku." Aku membungkuk.

Sasuke diam sebentar, aku masih membungkuk. Tak lama kemudian aku mendengar Sasuke menghela nafas.

"Aku tarik kata-kataku dulu."

"Eh?" aku bangun dari bungkukanku.

"Aku salah sudah menyuruhmu untuk berbohong. Hinata, kau harus menjadi diri sendiri. Tanpa hiasan, juga rasa takut." Sasuke tersenyum. Wajahku memerah.

"Ah iya, boleh aku minta minummu?" Sasuke menunjuk minuman yang aku pegang sejak tadi.

"Ta-tapi.."

"Tidak boleh?"

Aku menggeleng cepat. "I-ini! Semuanya untukmu!" Sasuke menatapku bingung lalu mengambil minumanku sambil berterima kasih dan pergi melanjutkan larinya.

Bagaimana ini? Bagaimana ini? Aku tak bisa menyembunyikan diriku lagi. Karena dia sudah mengetahui semuanya. Namun saat aku berfikir begitu, aku sadar satu hal.

Aku sudah jatuh hati padanya.

TBC

Review ya, jangan jadi silent reader.

Maaf belum bisa bales Review lagi ribet banget hiks:') sekali lagi reviewwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww