"Sakura-chan! Sakura-chan! Ini, ini untuk apa?!"
Aku menoleh ke arah pemuda hiperaktif berambut kuning yang tengah memegang layar komputer. Oh ayolah…semua orang juga tahu itu apa. Ia bodoh atau terlampau polos?
"Itu untuk menyimpan semua lagu-lagu yang biasa diputar Naruto,"kujawab dengan sesingkat dan seceria mungkin. Jika harus menerangkan fungsi alat canggih itu secara keseluruhan pada Naruto, maka lebih baik kuburkan saja aku di liang lahat.
"Whoaaa…sugoiii… Kau lihat, Teme! Ini kereeeen! Kenapa tidak dari dulu saja kau datang dan mengajakku ke sini, haah?" Naruto memegang-megang mic kecil yang biasa kugunakan untuk berceloteh bersama Deidara-senpai saat siaran berlangsung.
"Aku tidak ingat telah mengajakmu ke sini, Dobe,"
Kulirik seorang pemuda lain bernama Sasuke yang barusan menjawab keluhan Naruto. Nampaknya ia tidak terganggu dengan kebisingan yang Naruto lakukan.
Terbuat dari apa telinganya itu? Aku bahkan rasanya ingin menyumpal kedua telingaku dengan masker jelek milik Kakashi-sensei.
Mendengar ejekan dari Deidara-senpai bahkan seribu kali lebih baik daripada celotehan anak Namikaze itu.
"Waaaa! Kaca yang tebal! Apa jika aku bercinta dengan Hinata di sini, orang yang diluar sana tidak akan mendengar desahannya yang pasti akan seksi itu?"
Apa?! Bicara apa dia barusan?!
"Hentikan itu, Dobe. Kau ingin jika Kakashi menendang selangkanganmu?"
Kutundukan kepalaku ke bawah menatap ubin berwarna merah.
"Jangan~ Jika sampai itu terjadi, aku tidak bisa menggagahi Hinata," Rengekan itu keluar dengan menjijikan.
"Menggagahi? Kau berbicara seolah kau itu lebih hebat daripadaku,"
"Aku lebih unggul dalam menghangatkan hati para perempuan. Kau hanya hebat dalam memuaskan napsu mereka di ranjang,"
Pembicaraan apa ini?! Kenapa Naruto bisa berbicara sevulgar itu? Dan apa benar laki-laki dengan rambut aneh itu bernama Sasuke? Dia si siswa yang dimaksud Ino? Siswa yang apa itu…yang banyak memikat hampir semua siswi di sekolah?
Mata mereka semua buta. Laki-laki itu bahkan lebih menjijikan daripada babi piaraan yang kotor.
Ah. Sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal yang tidak penting seperti itu. Yang terpenting sekarang adalah…
Bagaimana caranya mereka agar tetap menutup mulut untuk tidak memberitahukan identitas asli dari penyiar bernama Haru.
Jika sampai itu terjadi, Tsunade-sama tidak akan pernah menganggukan kepalanya lagi untuk mengajariku pelajaran Biologi secara pribadi.
Kenapa ada dua makhluk seperti mereka di dunia ini?
Kami-sama~ Tasukete~
Harumori Radio Station
Rate : M
Chapter 2
Big Surprise
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Story by Makice Blow Z.
Mohon bimbingannya. Silakan baca dan review.
—FourIce—Harumori Radio Station.
"Yo. Gomen, kalian menunggu lama. Sangat sulit untuk menemukan penyiar lainnya di saat hari Sabtu. Kalian tahu kan, Sabtu malam para remaja lebih suka menghabiskan waktu mereka dengan para kekasihnya. Jadi, penyiar malam ini hanya oleh Haru-chan saja."
Sakura, Naruto dan Sasuke menoleh ke arah pintu dimana Kakashi berdiri dengan tangan kanan diangkat ke atas membentuk bahasa tubuh untuk menyapa. Sakura menghela napas lega.
Setidaknya, ia bisa berhenti sejenak untuk mendengarkan pembicaraan vulgar antara teme dan dobe yang kini ia lihat tengah duduk dengan kalem.
Gah. Wajah polos macam apa itu?! Sakura berteriak dalam hati saat mendapati raut polos Naruto kembali menempel pada wajahnya. Ia bahkan tidak percaya bahwa laki-laki yang tadi berbicara dengan sangat vulgarnya adalah laki-laki yang tengah memamerkan cengiran tiga jarinya ke arah Kakashi.
Laki-laki yang bahkan mempunyai pikiran untuk bercinta dengan Hinata di studionya. Laki-laki yang disukai oleh Hinata.
"Dasar penipu!"umpat Sakura pelan. Ia merenggut dengan wajah ditekuk. Tidak menyadari bahwa Sasuke sedang memperhatikannya dengan seringaian nakal.
Kau memang menarik, Haruno.
"Nah, Sakura, jangan melamun dengan wajah ditekuk seperti itu. Para Springers telah menunggu penyiar yang sangat disenangi mereka untuk mewawancari Sasuke. Cepatlah pakai earphone cherry-mu," Kakashi memerintah dengan menepuk kepala Sakura.
"Kakashi-sensei…" Sakura menatap bingung sensei di depannya. Ia merasa bingung. Kenapa membiarkan mereka masuk ke studio padahal Kakashi tahu dengan baik permasalahan Sakura.
"Jangan khawatir. Kau layani saja Sasuke dengan baik,"ujar Kakashi dengan mata menyipit.
"Melayani? Memangnya aku pelayan pribadinya?"tanya Sakura gusar.
"Jam sembilan nanti, kau berhutang penjelasan padaku," Sebelum Kakashi berkata, Sakura sudah melenggang pergi, masuk ke dalam ruang rekaman.
Pria dewasa itu hanya menatap punggung Sakura dengan tatapan tak terbaca.
"Yah…kau memang calon pelayannya,"
.
.
Sakura menatap Sasuke dengan geram. Bagaimana tidak. Dengan manis laki-laki itu duduk diatas kursi dengan earphone cherry milik Sakura yang menggantung di lehernya tanpa terganggu sedikit pun dengan tatapan tajam yang Sakura berikan.
Dan ia semakin geram saat Naruto bermain-main pada kursi yang Naruto duduki dengan memaju-mundurkan kursi tersebut.
Apa ia tidak tahu harga kursi tersebut? Dasar sialan!
Dengan terpaksa Sakura harus menggunakan earphone milik Deidara yang menggantung di dinding yang berada di samping Sasuke. Untuk mencapai benda tersebut, gadis Haruno itu harus membungkukkan setengah badannya ke arah Sasuke.
Dan Tadaaa! Mereka akan saling berhadapan seperti sedang berpelukan.
Mana mungkin ia harus melakukan hal tersebut pada orang yang bahkan baru ia temui itu. Kecuali jika Sakura memang sedikit kehilangan akal sehatnya.
"Err…etto…Uchiha-san, bisakah kau mengambilkan earphone berwarna kuning di sampingmu?"tanya Sakura hat-hati.
"Kau memerintahku?" Bukannya menjawab, Sasuke malah balik bertanya dengan suara berat namun sensual. Membuat Sakura bergidik ngeri.
"Y-ya…jika kau tidak keberat—"
"Aku keberatan. Kau ambil saja sendiri,"potong Sasuke santai. Tidak menyadari aura kesal yang keluar dari gadis disampingnya.
Dengan tangan mengepal keras, Sakura melangkah menuju ke arah Sasuke. Dengan hati-hati ia membungkukan badannya sedangkan tangannya menjulur pada earphone kuning itu.
...
..
.
Bulu mata yang lebat dan bibir merah muda yang kecil tipis.
Sasuke menjilat bibirnya sendiri yang tiba-tiba terasa kering.
Lalu tatapannya beralih ke arah dada gadis pink tersebut.
"Pfftt,"
Sasuke mendengus. Dengusan yang mampu didengar oleh gadis yang ada di depannya. Tentu saja Sasuke melakukannya dengan sengaja. Dan apa yang diharapkan adik dari Uchiha Itachi itu memang terjadi.
Sakura yang memang telah merasa sebal dengan semua tingkah laku Sasuke tidak bisa menahan rasa amarahnya saat ia dengan jelas mendengar dengusan mengejek dari pemuda di sampingnya. Dengan sekali gerakan kepala ke samping, Sakura dapat dengan jelas menatap mata tajam berwarna hitam milik Sasuke.
Sakura sedang ditatap rupanya.
"Dengar ya Uchiha Sasuke-san, bersikaplah yang baik,"ucap Sakura dengan tersenyum palsu namun nadanya penuh akan tekanan.
"Memangnya apa yang aku perbuat, hm? Apa aku mengganggumu? Apa ketampananku mengusik pikiranmu?" Sasuke dengan sengaja meniupkan udara di depan wajah Sakura yang kini berwarna merah padam.
Marah.
"Sama sekali tidak. Baiklah! Siaran Harumori dimulai!"teriak Sakura dengan nada riang yang dibuat-buat. Di tangannya telah terpegang earphone yang berhasil ia bawa dengan penuh pengorbanan.
Pengorbanan harga diri dan hati. Tidak berlebihan kan?
Naruto yang memang dari tadi menonton adegan drama singkat tersebut hanya menggidikan bahunya saat ia mendapati Sasuke menatapnya dengan pandangan datar.
Ini hanya opening kecil.
Dan Naruto tersenyum penuh arti.
Ini baru opening? Haha…kau memang teme, Uchiha Sasuke.
.
.
"Konbanwa Minna-san! Malam ini adalah malam yang spesial untuk kita semua. Karena HRS mempunyai tamu yang memang telah ditunggu-tunggu oleh Springers. Uchiha Sasuke dari kelas etto…kelas 2-3 Tsukinomi Gakuen dan temannya Namikaze Naruto!"
Sakura kemudian menepuk tangannya lalu disusul oleh teriakan dari Naruto yang enerjik.
"Yeaaaah! Naruto di sini!"ucap Naruto lantang.
"Ya, Sasuke-san, kau boleh menyapa para Springers. Kau tahu, sebagian dari mereka adalah penggemar beratmu,"ucap Sakura riang dengan dahi berkedut.
Gah! Perutku mual! teriak Sakura dalam hati.
"Konbanwa, Minna-san,"sapa Sasuke. Matanya tidak lepas dari Sakura. Yang ditatap hanya menggidikan bahu tidak peduli.
"Yosh! Malam ini kita akan mengenal lebih dalam dari sosok Uchiha Sasuke-san dengan menanyakannya beberapa pertanyaan. Bagi para Springers, kalian bisa mengirimkan pertanyaan kalian melalui e-mail dan akan aku bacakan. Untuk Sasuke-san, bersiap-siaplah untuk menjawab segudang pertanyaan," Sakura mengambil mouse lalu membuka halaman e-mail yang langsung menyambutnya dengan berentetan pesan.
"Tentu saja. Apalagi jika pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan langsung dari Haru-chan,"
Sakura membeku seketika saat telinganya mendengar nama samarannya keluar dari pita suara pemuda di depannya. Apalagi nama itu disebutkan dengan penekanan. Ia menatap layar komputer dan menggigit bibirnya pelan. Entah kenapa, Sakura merasa ia tengah berhadapan dengan serigala berbulu domba.
Sebenarnya, Uchiha Sasuke yang dibicarakan oleh semua gadis itu seperti apa orangnya?
"Ne, ne, Haru-chan! Apa hanya Sasuke-teme saja yang akan diberi pertanyaan? Apa aku hanya akan dibiarkan saja? Kau jahat sekali, Haru-chan,"protes Naruto dengan menghentak-hentakan kursi yang ia duduki.
"Yaaa…errr…kudengar malam ini adalah malam spesial untuk Sasuke-san, tapi tenang saja, aku mungkin akan memberi beberapa pertanyaan untuk Naruto-san. Jadi, santai saja, hahahaha," tawa Sakura garing. Ia menggaruk belakang kepalanya dengan pelan namun penuh emosi.
"Kau memang baik, Sak—Haru-chan!"
Sakura melotot ke arah Naruto yang hampir saja meneriakan nama aslinya. Yang dipelototi hanya menyengir tanpa beban.
Saat situasi begini, kemana perginya Deidara-senpai?! Ah, kuso!erang Sakura.
"Nah, baiklah. Kita mulai dengan pertanyaan dari Tsuki-chan di Amegakure. Tipe gadis seperti apa yang Sasuke-kun sukai? Tolong jelaskan secara detail,"
Sasuke terdiam sejenak dengan tangan memegang mic kecil. Sepertinya sedang berpikir.
"Hmm…Aku suka gadis cantik dan seksi."
Sudah kuduga. Laki-laki sepertinya memang menyukai tipe-tipe seperti itu. Menjijikan.
"Sasuke-teme sebenarnya menyukai gadis tangguh yang kuat untuk diajak bermain di atas ranjang," celetuk Naruto pelan. Sakura menatap tidak percaya pada Naruto. Lalu gadis dengan rambut merah muda itu melepas earphonenya dan menjauhkan mic yang sedang ia pegang.
"Naruto, kita tidak membicarakan hal-hal vulgar seperti itu!"ucap Sakura tegas dan lantang.
"Kenapa? 'kan ini malam spesial untuk Teme? Semua fakta tentang dirinya boleh dibicarakan kok. Sasuke-teme juga tidak berkebaratan kan?"tanya Naruto. Ia menatap Sasuke yang sedang menatap Sakura.
"Tentu saja jangan! Meski ini malam spesial untuk Uchiha-san, tapi pembicaraan seperti tadi tidak diperkenankan untuk dilakukan. Ini kan media publik. Semua orang mendengar. Apalagi mengingat kebanyakan pendengar Harumori itu siswa dan siswi Tsukinomi Gakuen."jelas Sakura panjang lebar.
"Ah…kau benar juga. Gomen, gomen. Hahaha…tapi memang benar kok Si teme menyukai gadis tangguh yang ku—!"
"STOP! Jangan diteruskan!" Sakura menutup kedua telinganya yang memerah. Ia menatap jengkel pada pemuda pirang di depannya.
"Ah…ya ya ya…gomen, gomen…"ucap Naruto pelan.
Setelah membuat perjanjian dengan dua laki-laki di depannya, Sakura kemudian memasang kembali earphone dan mengaktifkan kembali mic yang tadi ia matikan.
"Haha…gomen, gomen. Tadi ada sedikit permasalahan dengan kabel di studio. Nah, kalian dengar sendiri, ternyata Sasuke-san menyukai gadis cantik dan seksi. Yo, kuharap kalian senang mendengarnya—"
"Tapi, aku juga menyukai gadis yang kuat dan cerdas,"
Sakura tertohok mendengarnya. Ia menatap Sasuke—orang yang baru saja memotong perkataannya—dengan perasaan bercampur. Marah, jengkel, sebal dan rasa ingin menangis.
Menangis? Tentu saja. Siapa juga yang akan kuat jika dikelilingi oleh dua makhluk keturunan Adam yang begitu sensaional dan menyebalkan seperti Sasuke dan Naruto yang hobinya berbicara hal vulgar yang bahkan Sakura belum pernah dengar.
"So-souka…haha…seleramu sangat tinggi ya Sasuke-san. Hahaha. Ummm…kita lanjut saja, dari Aiko-chan di Konoha, berapa ukuran sepatu, celana, baju dan ukuran badanmu?"
Pertanyaan tidak berbobot! Sakura rasanya ingin sekali meremas kepalanya sendiri.
"Sepatu 41, celana L dengan ukuran 42, baju 37, dada 34, perut 35 dan pinggang 32."
"Apa warna kesukaanmu?"
"Hitam dan biru."
"Kemeja atau t-shirt?"
"T-shirt."
"Lebih suka mana, Indiana Jones atau Kim Kadarshian?"
"Miyabi."
"Err…itu tidak ada di pilihan, Sasuke-san."
"…"
"Makanan kesukaan?"
"Ramen!"
"Naruto-san, itu pertanyaan untuk Sasuke-san,"
"Saku-chan jahat~"
"Ba-baiklah. Naruto-san mempunyai binatang piaraan?"
"Ya! Aku punya! Ada sembilan!"
"Itu keren. Mungkin kau bisa berbagi dengan gadis-gadis lainnya," Sakura tertawa kering.
Sialan. Kenapa aku malah terjebak dengan bocah Namikaze ini?! Jika aku tidak meresponnya, dia akan memancing-mancing namaku keluar. Kurang ajar. Rutuk Sakura.
"Hmm..gadis lain ya? Entahlah. Sekarang ini aku sedang tertarik dengan satu gadis yang sangat pendiam."
Sakura yang sedang memain-mainkan kabel earphone milik Deidara dengan lemah seketika menoleh ke arah Naruto dengan cepat.
"Benarkah? Boleh kutahu siapa dia?"tanya Sakura hati-hati. Bagaimana pun kesalnya Sakura pada Naruto, ia sangat peka terhadap perasaan Hinata pada bocah pirang itu. Dan ia sangat ingin berguna bagi Hinata. Meski harus mengorbankan harga dirinya.
Setidaknya dalam mengumpulkan informasi meski dalam hati terdalamnya ia ingin menjerit di hadapan Hinata yang mungkin sekarang sedang mendengarkan siaran ini.
Menjerit dan mengatakan bahwa laki-laki yang disukainya adalah laki-laki mesum yang tidak bisa menjaga perkataannya yang penuh akan hal-hal vulgar.
Dan ia berencana untuk memberitahukan hal tersebut besok hari di sekolah. Tentunya tanpa sepengetahuan banyak orang.
"Yaaa….kau tahu, dia sangat pemalu. Dan aku…etto…ummm…ah, nanti saja di belakang Sak—Haru-chan, aku malu dattebayyo! Hahahaha!"
Dasar tidak waras! Dahi Sakura beerkedut kesal.
"Bukankah aku yang sedang diwawancarai, Haru-chan?"
DEG!
Sakura menoleh ke arah Sasuke. Ia meneguk air ludahnya sendiri. Rasanya seperti sedang menelan kepalan batu. Entah kenapa, suara Sasuke seakan mampu membekukan aliran darah gadis Haruno itu. Seperti sebuah sihir.
"Yah…err..kau benar. Bagaimana kalau sesi wawancaranya kita tunda dulu dan kita dengarkan alunan musik yang dipilihkan oleh Sasuke-san. Nah, para Springer, biarkan Sasuke-san yang memilih lagu-lagu yang akan diputar. Kau bersedia kan, Sasuke-san?"tanya Sakura ragu.
"Panggil aku Sasuke-kun. Baru aku mau, penyiar Haru-chan."
"A-apa? Apa kau kau katakan, Sasuke-san?" Sepertinya Kakashi perlu mengganti mic yang diremas Sakura.
"Aku ingin dipanggil Sasuke-kun. Jangan terlalu formal denganku. Sepertinya, Haru-chan seumuran denganku,"terang Sasuke dengan sedikit menyeringai.
"Hm! Hm! Panggil aku juga dengan Naruto-ku—Naruto saja. tanpa –san. Hahaha." Naruto meneguk ludahnya saat diliat Sasuke menatap tajam pada dirinya yang akan menyebutkan sufiks -kun pada akhiran namanya.
Dasar laki-laki posesif!gerutu Naruto.
"Ta-tapi, kita baru saja bertemu. Akan sangat tidak sopan jika ak—"
"Kau ingin aku memanggil nama lengkapmu karena kita baru bertemu, begitu?"
Skakmat. Ceh.
"Ba-baiklah, Sasuke…-kun, Naruto,"
HOEEEEKKKKK! KAMI-SAMA, BIARKAN AKU MUNTAH DI HADAPANMU!jerit Sakura dalam hati.
Harumori Radio Station. Makice Blow Z.
Sakura menyeruput coklat panasnya dengan perlahan. Tatapannya tertumpu pada bantal cherry yang tergeletak di kursi yang tadi digunakan Sasuke untuk siaran. Pikirannya melayang pada kejadian dimana Sasuke secara sepintas mengancam dirinya.
"Kau ingin aku memanggil nama lengkapmu karena kita baru bertemu, begitu?"
Sakura berpikir, kenapa laki-laki itu berkata seolah dirinya tahu bahwa Sakura tidak menginginkan hal tersebut terjadi? Seolah ia tahu semua yang telah Sakura lakukan termasuk menyamarkan namanya?
Dan kenapa selama siaran berlangsung, Naruto yang pada dasarnya sangat terbuka dan tidak pernah bisa berpura-pura terus menyebutkan nama Haru. Kenapa tidak memanggilnya Sakura-chan seperti yang biasa ia lakukan?
Bodoh. Naruto kan memang laki-laki bertopeng ulung. Buktinya, ia dapat menyembunyikan sifat liarnya dari semua orang.
Sakura mendengus. Mengejek dirinya sendiri yang berhasil dibodohi oleh pemuda pirang itu.
Sakura memang bukan orang yang terlalu bergaul. Teman dekatnya saja hanya Ino dan Hinata. Bahkan ia hanya mengetahui Naruto dan Sai sebagai siswa laki-laki di Tsukinomi Gakuen. Itupun karena kedua laki-laki itu mempunyai hubungan dengan kedua teman perempuannya.
Sebegitu fokuskah ia terhadap kedokteran yang ingin ia capai sampai-sampai orang-orang di sekitarnya ia tidak tahu dengan baik?
Mungkin aku harus lebih terbuka dengan dunia. Sakura menghela napas pelan. Alunan musik berjudul Cherry milik Yui tidak begitu ia dengarkan.
Masa bodoh dengan lagu pilihan Uchiha itu. Satu-satunya yang Sakura inginkan adalah jarum jam dinding bergerak lebih cepat ke arah angka 9. Ia ingin terbebas dari dua anak aneh itu. Ia ingin Kakashi.
Baru kali ini, Sakura sangat ingin bertemu dengan sensei mesumnya itu. Tentu saja untuk meminta penjelasan, bukannya untuk bercanda ria. Sakura tahu, di balik semua kejadian ini, Kakashi tahu apa yang terjadi.
Mendadak, pundaknya serasa diguncang-guncang. Apa mungkin gempa bumi?
"…ra-chan, Sakura-chan! Hey! Jangan melamun! Ayo kita lanjutkan siaran radionya,"
"Eh?" Sakura menatap bingung pemuda di depannya yang tengah mengguncang-guncang pundaknya. Gadis Haruno itu menatap layar komputer yang ditunjuk oleh Naruto.
"Lihat! E-mail yang masuk ternyata membludak. Sasuke-teme memang hebat. Malam ini, Harumori begitu penuh dengan aura semangat yang tinggi! Bahkan ada yang mengataimu lho, Sakura-chan." Naruto bercerita panjang lebar.
"Huh? Mengataiku?" Sakura berjalan ke arah komputer. Tidak memedulikan tatapan intens dari laki-laki yang sedang duduk santai dengan cangkir berisi kopinya.
Klik.
Klik.
….
….
"APAAA INI! Kenapa Springers marah padaku?!"teriak Sakura. Di depannya, berjajar-jajar e-mail berisi kritik, flame dan amukan amarah dari berbagai macam manusia dari berbagai daerah terpampang.
Sakura men-scroll mouse ke bawah dan ia tertohok begitu tahu apa yang menjadi biang keladi amukan tak terduga itu.
HA-RU-CHAN.
Sasuke jelek itu memanggil namanya dengan sufiks 'chan'. Dan para Springers tidak bisa menerima hal tersebut. Oh ayolah. Saking fanatiknya para gadis terhadap Sasuke, penyiar yang begitu disenangi para pendengar HRS selama setahun ke belakang ini dalam satu menit saja langsung dihujat dengan berpuluh e-mail yang masuk hanya karena 'CHAN'. Hanya karena 'CHAN' keluar dari pita suara Sasuke?!
"Aku harus meluruskan hal ini. Jika tidak, Harumori akan kalah saing dengan stasiun radio lainnya! Hey! Kalian berdua! Cepatlah naik ke atas kursi kalian. Malam ini, kita akan bekerja dengan keras!"seru Sakura.
Ia harus meluruskan masalah ini. Tidak peduli harga dirinya akan turun di hadapan dua laki-laki yang tengah duduk santai di depannya.
"Ne, ne, ne, kurasa waktu untuk beristirahat sudah cukup. Kuharap lagu-lagu yang diputar tadi dapat menghibur kalian apalagi semua lagu tadi dipilihkan langsung oleh Sasuke…-kun, ha-ha," Sakura menggaruk pelan pipinya yang tidak gatal.
"Dan aku ingin menegaskan sesuatu, bahwa antara aku, Naruto dan Sasuke…err…Sasuke—ku—n sama sekali tidak ada hubungan apapun. Aku hanya mencoba untuk bersikap profesional. Hahaha…Dan Sasuke-kun adalah milik kalian semua dan tidak ada libatan apapun denganku. Hahah—"
"Siapa bilang aku milik semua orang?"
"Eh?" Sakura menatap Sasuke dan mendapati sikap santai yang diberikan pemuda emo itu.
Naruto menghembuskan napas pelan. Sebenarnya ia tidak menyukai cara yang dilakukan Sasuke untuk menarik perhatian Sakura. Tapi tidak ada yang bisa menghentikan apa yang sedang dilakukan oleh adik Uchiha itu termasuk Naruto sendiri. Apalagi kenyataan bahwa Sasuke melakukannya karena memiliki alasan tertentu yang begitu kuat.
"Ne, Haru-chan. Biar kuberitahu sesuatu. Dengarkan baik-baik," Sasuke memajukan tubuhnya ke depan dan memegang mic kecil dengan kedua tangannya. Ia menatap lurus pada kedua bola mata emerald Sakura.
"Mulai sekarang, aku adalah milik..,"
.
.
.
.
.
.
.
"..Sakura. Haruno Sakura,"
Begitu jelas. Sangat nyata. Tanpa ragu. Tak ada getar.
Sakura membeku. Darah yang mengalir di dalam tubuhnya seakan naik ke atas kepalanya. Wajahnya memanas dan napasnya seakan sulit untuk dihembuskan.
Dan ketika tersadar dengan apa yang telah terjadi, Sakura menatap Sasuke yang tengah menatapnya dengan seringaian kecil yang tercetak di wajah tampannya.
Sakura rasanya ingin menyobek mulut yang baru saja melontarkan pernyataan sepihak yang bahkan tidak pernah sekali pun ia membayangkan hal tersebut akan terjadi dalam kehidupannya.
Sasuke menyeringai licik mendapati wajah Sakura yang memerah menahan amarah. Dapat ia lihat, mic yang sedang dipegang Sakura bengkok oleh remasan kedua tangan kecil milik gadis dengan marga Haruno itu.
"Ah. Benarkah? Boleh kutahu kenapa kau menyatakan hal tersebut, Sasuke-kun?"
Jujur saja, Sasuke sedikit terkejut dengan sikap yang diberikan oleh Sakura. Namun itu tidak berlangsung lama, karena setelahnya dapat Sasuke lihat dengan sangat jelas bibir mungil berwarna merah muda itu sedikit mengeluarkan darah. Membuat daging kenyal itu memerah.
Profesionalisme, huh?ejek Sasuke dalam hati.
Gerakan Naruto untuk berdiri dari atas kursinya mendadak terhenti saat mata safirnya menangkap tatapan tajam dari oniks Sasuke seakan berkata 'diam di sana atau kubunuh kau'. Naruto menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
Sial. Ini yang kubenci dari Uchiha Teme ini. Sial!rutuk Naruto.
"Well, hanya membuat sebuah penjelasan saja. Bukankah tadi banyak sekali e-mail yang masuk ke studio tentang kesalahpahaman yang terjadi antara aku dan penyiar Haru-chan, hm?"
Sakura menahan napasnya, "Benar. La-lalu? Bukankah tadi sudah kujelaskan pada Springers kalau aku tidak memiliki hubungan apapun denganmu?"
Sasuke menaikan kaki kanannya dan menumpukkannya pada kaki sebelah kiri.
"Aku memperjelas, penyiar Haru-chan. Dan juga, aku tidak setuju dengan statement yang kau buat bahwa aku ini milik mereka. Aku bukan milik siapa-siapa kecuali milik Haruno Sakura,"
Sakura membisu di seberang sana. Ia benar-benar marah.
"Ada masalah, hm? Apa Haru-chan cemburu mengetahui aku sudah menjadi milik gadis lain?" Sasuke semakin menyudutkan Sakura.
"Kau tidak khawatir tentang Haruno Sakura yang kau sebutkan itu? Bukankah kau memiliki banyak fans? Kau tidak takut jika gadis bernama Haruno itu diganggu oleh fans-fansmu?" Sakura tidak bisa membayangkan dirinya akan dimusuhi oleh banyak perempuan di kelasnya nanti.
"Tentu saja itu adalah resiko bagi gadis yang berhasil memiliki seorang Uchiha Sasuke. Ah dan lagi, katakanlah bahwa aku membantumu. Jika ada kesalahpahaman antara aku dan penyiar Haru-chan, Harumori akan mengalami penyusutan. Kau tahu… Penyusutan Springer," Sasuke tersenyum menggoda.
Sakura menggeram marah.
Memang benar. Penjelasan Sasuke tadi akan memberikan dampak baik pada Harumori. Kesalahpahaman yang terjadi perihal sufiks 'chan' dan 'kun' terselesaikan. Tidak akan ada rasa kesal dari Springers pada penyiar Haru. Harumori akan tetap memiliki pendengar yang setia. Kakashi-sensei akan tetap berjaya dengan Harumori. Pekerjaan Sakura sebagai penyiar akan tetap berjalan.
Sisanya?
BRAK!
Naruto tersentak kaget dari duduknya. Menatap takut pada Sakura yang baru saja menggebrak meja.
"OK! Terima kasih pada Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke yang telah hadir di malam ini. Sangat berkesan dan kuharap Springers merasa puas. Untuk semua kesalahan ataupun kekacauan yang terjadi selama siaran berlangsung, Hontouni Gomennasai dan Arigatou gozaimasu minna-san! Have a nice dream and see you tomorrow!"
Dan lagu Price Tag menjadi penutup terakhir siaran radio Harumori malam itu.
Sakura menatap geram pada Sasuke yang dibalas dengan seringaian kecil.
"APA KAU GILA?! APA KAU TIDAK WARAS, HAAAH?!"teriak Sakura setelah melepas earphone dan menekan tombol off untuk semua mic yang masih aktif.
"Sasuke, I have to go out! It is urgent! GANBATTE, dattebayo!" Dengan jelas Naruto dapat merasakan napas memburu yang Sakura keluarkan saat dirinya berjalan melewati gadis tersebut.
Sebelum benar-benar keluar, ia menoleh terlebih dahulu ke belakang dimana Sasuke dan Sakura masih berdiri dan kedua mata berwarna biru itu membelalak.
Kerongkongan Naruto mendadak terasa kering. Naruto tersenyum, "Sebegitu besarkah ambisimu, Sasuke?"
Lalu melangkah pergi. Meninggalkan Uchiha bungsu yang tengah mencium paksa anak tunggal Haruno di dalam studio.
.
.
.
.
Sepasang mata berwarna coklat itu memandang dari kejauhan pada bangunan dimana Naruto baru saja keluar dari dalamnya. Suara deru motor terdengar dari arah Naruto berada. Dengan sekali tarikan gas, Naruto melesat pergi.
"Gomenna, Sakura,"
To Be Continued…
Spesial Thanks to :
Kirana Uchiha88, Hanna Hoshiko, Seijuurou Eisha, haru no baka, KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke, SANG GAGAK HITAM, khoirunnisa740, Naomi Kanzaki, Hatake Ridafi kun, Ah Rin, hanazono yuri, Hydrilla,
Francoeur, Natsumo Kagerou, shawol21bangs, Minri, uchiha haruka, GraceAnnesh, senayuki-chan, Tsurugi De Lelouch, iya baka-san, Lhylia Kiryu, ZeZorena, kdfarah, Kiki RyuEunTeuk, Akasuna Sakurai, YashiUchiHatake, Purple and Blue, Lukireichan
A/N :
Nyehee… Gomen telat. Salahkan tugas-tugas dari dosen-dosen yang tidak berperikedosenan itu!*mukul tembok*
Makasih atas semua review dan saran yang diberikan, dan tentang flashback itu(tentang percakapan antara Sasuke dan Naruto tanpa deskripsi), gomen…Ice lupa ga nyantumin kata penjelas bahwa itu adalah flashback. Nyeheheh…terbiasa dengan gaya menulis seperti itu*jeduked* Untuk ke depannya, insyaalloh ga bakalan lupa buat nyantumin kata 'warning' kalo ada flashback lagi deh*angkat jari telunjuk dan tengah*
Soal cerita tentang taruhan, errr…apa iya ya? Hihihi…terlihat seperti Sasuke buat taruhan ya? Tapi insyaalloh engga kok. Ini sepertinya bukan fict tentang taruhan walaupun kata-kata Sasuke rada-rada nyerempet ke taruhan*sentil kening Sasuke*pasang wajah moe*di amaterasu.
Dan soal fict ini seperti mirip sama fict NaruHina yang Hinatanya jadi penyiar, jujur Ice ga tau/belum tau fict tersebut. Fict ini murni dari pemikiran Ice, yaaa...walaupun ada kemungkinan untuk chap-chap selanjutnya bakalan ada scene yang didapat dari hasil inspirasi Ice pada suatu hal. Namanya juga baru belajar*angkat gelas buat bersulang
Dan oh my…Minggu besok Ice BARU mau uas. Doakan semoga Ice dapet IP bagus. Aminnn…*curcollll*
Ne, Ice tau ini telat tapi… Happy New Year minna-chwaaaan… *peluk erat Sasuke.
P.s. Tentang gaya tulis Ice yang katanya baku dan katanya muter-muter, yaa itu udah jadi kebiasaan Ice dalam menulis. Mohon dimaklumin ya... :) *kasih upeti
Huggie Love
FourIce *kiss ya! :*
