Forgotten

...

Harry Potter selamanya akan jadi milik J.K Rowling

...

Kapan aku mati? Ketika seseorang membunuhku? Mengambil jantungku? Mengeringkan darahku?

Tidak.

Aku hanya akan mati bila dilupakan olehmu.

...

CHAPTER 1 : COPULAMENCY

Matahari belum terbit ketika Hermione terbangun.

Ia melirik tempat tidur di sebelahnya. Ginny masih terlelap dibalik selimutnya yang hangat dan nyaman. Ia kembali merebahkan dirinya, tetapi tidak memejamkan matanya.

Kemarin ia melewatkan pelajaran, dan menghabiskan waktu untuk tidur di Hospital Wings. Ia menolak segala bentuk kunjungan, atau penjenguk—bahkan sahabat-sahabatnya. Ia merasa terlalu sedih untuk menerima mereka, dan yang paling mengganggunya adalah: fakta bahwa ia tak mengingat apa-apa.

Tepatnya kemarin sore, ia kembali ke asramanya. Ginny benar-benar mengkhawatirkannya, dan ia hanya mengangguk sedih. Ketika Hermione berbalik untuk melihat kearah jendela, matahari belum terbit juga, jadi ia membenamkan wajahnya dalam bantal dan mulai merasa nyaman.

Ia ingat kristal setengah hati yang ada di nakasnya.

Sejak kembali dari Hospital Wings, Hermione mengantongi kristal itu dan berusaha mengartikan makna apa dibalik kilaunya. Ia mengetahui kristal itu, tetapi ia tak bisa mengingat apapun. Ginny begitu menyukai kristalnya, dan mendekorasinya menjadi kalung.

Kalung kristal itu tidak ia pakai saat tidur semalam, ia merasa tak nyaman.

Hermione melempar bantalnya, lalu memeriksa jendela lagi. Belum ada cahaya merambat masuk, berarti subuh belum datang.

"Aku tak bisa menunggu lebih dari ini," Hermione mengacak rambutnya. "Harus ada yang kulakukan agar tidak gila disini,"

Hermione pergi ke kamar mandi, menenggelamkan dirinya dalam wewangian dan busa. Kalung kristal itu terkena air, dan berkilau lebih hebat. Hermione memangkap keanehan itu, ia tahu ini bukan kristal biasa.

Ia melepas pengait kalungnya, lalu menyejajarkan kristal itu dengan matanya. Saat ia melihat kilaunya, sepotong gambar kabur lewat di otaknya. Sebuah tubuh, tubuh yang tinggi, dan sesuatu yang abu-abu.

"Pembohong dari Slytherin,"

Hermione tersentak. "Aku...sepertinya aku mengingat sesuatu," ia berkata pada kristal itu, memohon lebih banyak kenangan untuk diingat. Tapi hanya suara itu yang terlintas di kepalanya. Suaranya sendiri ketika berkata pada seseorang.

Siapa seseorang itu?

Hermione menyerah, tidak ada lagi yang ia ingat. Ia kembali mengaitkan kalung itu di lehernya, dan berendam. Ketika ia keluar, matahari telah terbit, dan Ginny sedang bergulat dengan selimutnya.

"Merlin, Ginevra!" Hermione mendekatinya, lalu menarik selimutnya. Wajah merah Ginny muncul dibalik selimut, matanya terbelalak lebar.

"Mione?" ia memanggil. "Maaf..aku tadi hanya...terlilit selimut,"

Hermione menepuk dahinya. "Itu akibat dari tidur terlalu pulas dibawah selimut yang terlalu tebal dan panjang,". Mendengar itu, Ginny tersenyum malu. Hermione duduk bersila dengan nyaman di tempat tidur Ginny, dan Ginny tengkurap di sisi lainnya.

"Jadi," Ginny memulai, mengacuhkan rambutnya yang mengganggu. "Sudah bisa mengingat sesuatu?" tanyanya penasaran. Hermione awalnya menggeleng, tetapi pada akhirnya mengangguk. Ia menegakkan duduknya, lalu menatap jendela yang meneruskan sinar matahari dari luar.

"Tadi aku menatap kristal," Hermione tanpa sadar mengelus bandul kristal di kalungnya. "Aku melihat sosok tinggi, dan batu abu-abu yang berkilau. Lalu...aku mendengar suaraku. Aku menyuarakan sesuatu pada seseorang yang kulupakan. Dan seseorang itu dari Slytherin."

Ginny bangun dari posisi tengkurapnya, ia duduk bersila di sisi lain tempat tidurnya, dan menatap Hermione tak percaya. "Serius? Dia seorang Slytherin?" tanyanya penuh minat. "Menurutku, dia seorang pria. Kau tadi bilang ia tinggi bukan?"

Hermione mengangguk. "Tapi perempuan juga bisa jadi tinggi, kan?" Hermione menebak. "Tapi..kukira juga pria. Sebab ia punya postur yang bagus. Bahunya lebar, dan tangannya juga besar. Tapi...wajahnya buram,"

Ginny mengangguk-angguk seolah mendapat ilham. "Kita sudah punya petunjuk. Dia pria, dari Slytherin. Dan apakah batu abu-abu itu?" tanyanya menelisik.

Hermione menggaruk lehernya. "Aku tak punya bayangan apapun soal batu abu-abu itu,"

Ginny tersenyum. "Kukira sebentar lagi sesuatu yang tak terduga akan terjadi."

Dan ia benar.

Xoxoxoxoxox

Hermione sedang berjalan melewati lorong yang sepi untuk menuju kelas Prof. Binns. Ia sendirian, dan buku tebal yang dipeluknya sekarang tidak memulihkan rasa kesepiannya. Dari kejauhan, ia melihat seseorang berjalan kearahnya. Ia tampak begitu marah, dilihat dari caranya menyentakkan kaki. Pandangannya lurus—menusuk.

Dia Malfoy.

Dan ia dengan sengaja menabrak Hermione. Bukan, bukan menabrak. Menarik.

Draco menarik lengan Hermione, membenturkan tubuhnya ke tembok. Hermione sangat terkejut, ia tak bisa melawan, hanya menutup mata saja karena takut. Hermione kini berdiri terjepit antara tembok dan tubuh Malfoy yang dingin. Ketika ia cukup berani untuk membuka mata, ia menemukan mata Malfoy menarbrak miliknya.

Abu-abu yang familiar.

Abu-abu bersinar.

"Malfoy..." Hermione menyebut namanya, tapi tak berniat marah seperti biasanya. Tatapan Draco Malfoy mengandung ribuan makna, yang tidak bisa dijabarkan. Mata Draco Malfoy membawa sejuta perasaan, yang tidak bisa dilawan. Hermione hanya terseret.

Orang bilang, ketika angin meniupmu—jangan melawan. Kau harus diam, agar mampu mengendarainya. Dan itulah yang dilakukan Hermione. Ia terdiam, tidak melawan, dan matanya tak lepas dari atensi yang mengalirkan sejuta kupu-kupu di perutnya.

"Granger," Draco Malfoy tampak melawan dirinya sendiri. "Hermione,"

Hermione menjatuhkan bukunya, dan benda itu mendarat dengan debum keras di dekat kakinya. Perkamen-perkamen yang terselip di dalamnya berhamburan keluar, dan ia tak bisa melakukan apapun untuk memungutnya. Sebab tubuhnya seolah dikuasai oleh Draco Malfoy. Dirajai oleh matanya yang penuh misteri.

Draco menyeringai. "Kau Darah Lumpur kecil pembawa masalah," ia merundukkan kepalanya, berbisik ke telinga Hermione. Draco tercengang.

Bau Hermione membiusnya.

Vanilla.

Padang rumput Swiss.

Tidak asing. Begitu hangat, ia seolah-olah telah selamanya mencium aroma ini. Hanya saja...tidak. Ia tidak ingat. Seumur hidupnya ia belum pernah sedekat ini dengan Hermione, tidak—menurut ingatannya. Ia juga belum pernah membaui Hermione—menurut ingatannya. Tapi mengapa, wangi ini sungguh familiar?

Hermione bungkam, ketika Draco membebaskan tangannya, ia mendorong jauh-jauh si Malfoy Junior.

"Apa-apaan?!" Hermione memekik kecil, suaranya putus-putus karena takut. Ia awalnya telah mengumpulkan keberanian, tapi Draco telah membobol semua pertahanannya. Draco terdiam, lalu kemudian membungkuk untuk memungut buku Hermione.

Ia memegangnya dengan satu tangan, tangan lainnya memegang tembok. "Suatu pagi, aku terbangun dengan tidak mengingat apapun. Ketika aku berjalan ke kelas, guru-guru menolakku. Mereka bilang aku didetensi," Draco memulai.

Hermione cukup terkejut, tapi memutuskan untuk tida terlalu peduli. "Apa...apa hubungannya denganku?"

Draco melirik Hermione lewat ekor matanya. "Kau tak tahu apa-apa?" ia mencibir. "Atau...pura-pura tak tahu, Err-My-Knee?"

Hermione memerah. Hanya Ron yang memanggilnya begitu. Draco dulunya terlalu jijik untuk menyebut namanya, tapi insiden hari ini membuatnya mencoba hal baru.

Hermione menggeleng. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Aku juga sama. Terbangun suatu pagi...dan tidak ingat apapun." Hermione tak tahu mengapa, tapi gelombang rasa sakit menyerang hatinya. Mati-matian ia menahan tangisnya. "Aku seharusnya ingat. Tapi tidak ingat. Aku harusnya ingat...dia,"

Draco tertegun.

"Aku tidak punya urusan dengan hal itu. Tapi—hei! Aku adalah yang paling sedih disini. Oke, ralat. Aku marah. Malfoy tidak pernah sedih," Draco menelan ludah, terbatuk. "Aku memulai hari dengan normal. Tapi hampir setiap guru menolakku di kelas mereka dengan alasan aku sedang dalam masa detensi. Karena kau, Granger! Mereka bilang aku menculikmu, memerkosamu! Menggemparkan Hogwarts! Namun—ha! Aku tidak ingat apapun!"

Hermione bergetar. "Itu...tidak masuk akal. Gila,"

Draco mengacak rambutnya. "Apa yang kaulakukan padaku!" Draco melempar buku yang ia pegang, kemudian kembali memenjarakan tubuh Hermione dengan tubuhnya sendiri. "AKU DIKELUARKAN DARI TIM QUIDDITCH SLYTHERIN! DAN ITU KARENA AKU 'MEMERKOSA SERTA MENCULIK HERMIONE GRANGER. MEMBAWANYA KE HUTAN TERLARANG, KEMUDIAN MEMBUATNYA KERACUNAN BUNGA YANG HARUSNYA SUDAH PUNAH'!"

Hermione menahan airmatanya. Ia benar-benar tak tahu. Dan semakin ia hampir mengingat sesuatu, kepala dan hatinya sakit. Sampai pada satu titik...air mata itu tumpah.

"Aku tidak tahu. Aku tidak ingat," Hermione tersedu. Draco melembek sedikit.

"Aku juga tidak ingat apa yang terjadi sehari sebelum ini terjadi," Draco mengelap keringat Hermione yang bercucuran di dahinya, kemudian ia mendekatkan wajahnya. "Aku hanya ingin kau memulihkan nama baikku,"

Hermione terbelalak. "Aku bahkan tak ingat apa yang terjadi! Aku tak tahu!"

Draco Malfoy menatapnya tak berkedip. "Aku juga tidak."

"Mencoba mengingat ini...sama susahnya dengan mengingat nama orang yang.."

"...sama sekali belum pernah kau temui. Ya, aku juga tahu pepatah itu," Draco memotong kalimat Hermione.

Hermione terdiam untuk waktu yang lama. Kemudian, ia menegakkan badannya. "Sebenarnya...ada sesuatu yang kutemukan,"

Draco sedikit menjauhkan diri. "Apa itu?"

Hermione membuka dua kancing teratas seragamnya.

"Whoa! Granger...jangan di lorong!" teriak Draco. Hermione memutar matanya. 'Mesum,' pikirnya dalam hati.

Ketika kedua kancing itu lepas, Draco melihat kalung dengan bandul kristal setengah hati di leher Hermione. Kalung itu bersinar...berkilau.

"Kau percaya keajaiban?"

Draco Malfoy tersentak. Sebuah suara melewati kepalanya, suara wanita.

Draco memegang bandul itu, mengelusnya. "Hei, Granger." Panggilnya. "Aku juga punya kristal setengah hati. Persis seperti milikmu,"

Draco merogoh kantungnya, mengeluarkan batu kristal berkilau, berbentuk setengah hati. Hermione tak melepaskan pandangannya dari batu berkilau itu.

"Obliviate,"

Draco mendengar suara. Hermione menatapnya bingung, melihat perbedaan sikapnya.

"Cleebariona."

Suara itu semakin jelas. Kepala Draco sangat sakit. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi. Semakin berusaha, semakin tersiksa dia. Hermione bertambah takut ketika pandangan Draco berubah kosong.

"Sepertinya aku yang melanggar janji,"

"MALFOY?" Hermione berteriak.

Suara yang ia kenal.

"Obliviate,"

Ia akan ingat sesuatu. Draco merasa tak kuat berdiri. "DRACO! BANGUN!"

"Aku mencintai—"

Sebuah nama melintas di kepalanya. Nama itu sangat samar, ia hampir tak mendengar apapun. "DRACO MALFOY!" Hermione memegang lengannya, mengguncangnya. Kepala Draco semakin sakit ketika kepingan-kepingan ingatan mulai menggedor otaknya yang lelah. Hatinya juga sakit.

"Siapa yang aku lupakan?" Draco bergumam sendiri.

"Draco! Sadarlah!"

Draco Malfoy terjatuh. Gelap.

Xoxoxoooxoxo

"Ini sangat susah."

"Tolong aku, Prof. Tolong kami,"

"Ini sangat berbahaya."

"Kumohon?"

"Ini akan sakit."

"Apapun agar kami mendapat jawaban,"

"Baiklah. Tapi bila mencabut mawar, harus menerima resiko terkena durinya."

"Aku sanggup. Hidup begini lebih menyiksa,"

Draco mendengar percakapan samar antara dua orang. Ketika ia membuka matanya, dua sosok berupa bayang-bayang berdiri di depannya. Kedua sosok itu tidak menyadari bahwa ia telah sadar. Mereka sibuk menatap dalam keseriusan yang tak terpecahkan. Ketika mata Draco sudah benar-benar terbuka, bayang-bayang itu sudah hilang.

Bayangan pertama berganti wujud menjadi gadis dengan rambut semak bergelombang, dan bayangan satunya adalah pria dengan jubah hitam, hidung bengkok—

Hermione Granger dan Prof. Snape.

Hermione tampaknya telah menyadari kalau ia siuman. Dengan cepat ia mendekat, kemudian menatapnya dalam diam. "Ehm..professor? Malfoy sudah siuman," ia memanggil Snape yang berdiri kaku dengan wajah tertekuk. Snape tak memberikan tanggapan, hanya diam mematung seolah tak ada yang sedang ia hadapi.

Hermione mendekatkan wajahnya. "Jangan khawatir. Professor Snape sudah berjanji akan menolong kita. Sebentar lagi, Malfoy. Kita akan tahu,"

Draco melawan peningnya, lalu berusaha duduk. Hermione memeganginya, ia tak memberi penolakan.

"Dimana ini?" Draco bertanya, masih pening.

"Ruanganku, Tuan Malfoy," untuk pertama kalinya, Snape buka mulut. Ia mendekat, membawa tongkatnya dan menggoyang-goyangkannya tanpa alasan. Ia menatap Hermione. "Kita bisa mulai,"

Hermione mengangguk.

"Tunggu—apanya yang mulai?" tanya Draco, dalam nada tenang. "Granger, kejahatan macam apa yang kau perbuat padaku?"

Hermione menggeleng kesal. "Aku tidak tahan lagi, aku harus tahu apa yang terjadi diantara kita. Kita tak bisa mengingatnya. Aku minta professor membantu kita. Itu saja,"

Sesaat, Draco tak menemukan ada yang janggal. Kemudian Snape angkat bicara, dan membuat Draco bergidik.

"Aku, Malfoy, akan mencoba mantra langka untuk mengorek isi pikiran," Snape memutar-mutar tongkatnya, wajahnya tak memiliki ekspresi, dan bibirnya dilipat tipis-tipis. "Tentu saja, Copulamency memiliki efek samping,"

Mata Draco melebar, mulutnya terbuka membentuk bulat sempurna. "Co..co..copula..copulamenccy..cy?" ia tergagap. "Itu...terlalu berat,"

Snape, tak disangka, malah tersenyum. "Sudah kuduga kau akan takut."

Hermione bergerak, memberi penolakan. "Dia akan berani."

Draco tak tau harus menjawab apa, lalu tiba-tiba saja pikirannya berjumpalitan. Isi kepalanya memukul-mukul otaknya, tengkoraknya. Kepalanya sakit, seiring jalannya ingatan yang membludak, ia semakin tersiksa.

"Lakukan!" jerit Draco tak tahan. "Praktekkan!"

Hermione menatapnya, menaruh harapan. Sementara itu, Snape berjalan menjauh, masih memutar-mutar tongkatnya. Hermione berdiri tak jauh dari tempat ia berbaring, lalu menggenggam tangannya. "Ini akan berlangsung cepat. Kita akan membuka tirai yang menjauhkan fakta dari kita. Sekarang, atau selamanya tak tahu,"

Draco menatapnya, masih menahan sakit yang brutal. "Aku tahu."

Snape kini berada di ujung ruangan, amat jauh dari mereka. Ia mengangkat tongkatnya, dan menodong kedua muridnya itu. "Bersiap,"

Draco menegang di tempatnya, sementara Hermione menahan napas.

Snape menurunkan tongkatnya. "Akan lebih baik kalau tangan kalian bertautan," ia menunjuk tangan Hermione, kemudian Draco. "Itu akan mempermudah prosesnya."

Hermione tak bergerak, namun Draco dengan sigap menyambar tangannya. "Lakukan," perintahnya cepat. Snape diam dengan wajah kakunya, menatap dingin. Draco ternyata tak hanya memegang, namun meremas tangan Hermione. Hermione bungkam, tapi hatinya menjerit-jerit kesakitan—well, tangannya diremas terlalu keras oleh Draco, dan disaat seperti ini, ia tak mencoba melawan.

Snape mengangkat tongkatnya mantap. "COPULA...MENCY!" sentaknya dalam satu ucapan tegas. Kilat biru secepat kedipan mata merasuk ke dada Hermione dan Draco. Tak ada reaksi, hanya diam.

"Mengapa ini tidak berhasil?" pikir Draco.

"GYA!" Hermione berteriak. "Malf..Malfoy..."

Draco menatap wajah Hermione dengan tatapan bingung. "Kenapa Hermione berteriak? Apakah copulamency sudah bekerja padanya?"

Hermione menutup mulutnya. "DRACO MALFOY!" teriaknya.

"Ap-appa?" gagap Draco.

Hermione menatapnya lurus-lurus. Ia tampak tegang. Kemudian, dengan satu gerak lambat, ia menoleh pada Snape yang tak berkedip.

"Copulamency gagal," ucap Hermione datar. "Aku bisa mendengar pikiran Malfoy."

Xoxooxoxoxo

"SERIUS?!" suara Ginny membahana di tengah asrama putri Gryffindor. Ia dan Hermione sedang duduk bersila di ranjang empuk, menatap satu sama lain dengan ketakutan, sekaligus penasaran.

Hermione menghela napas panjang, yang ditanggapi Ginny dengan mengelus bahu kecilnya. "Aku turut sedih, My Mione," kata Ginny prihatin. "Jadi...apapun yang sedang dipikirkan Musang Melambung...kau bisa...mendengarnya?"

Hermione mengangguk pelan. "Terdengar jelas sekali,"

Ginny menutup mulutnya dengan tangan. "Ya ampun!" pekiknya ngeri.

Hermione memijat dahinya. "Copulamency, adalah mantra yang digunakan untuk membuka kenangan satu sama lain, bahkan yang sudah hilang oleh Obliviate," Hermione menjelaskan, meski Ginny tak bertanya. "Mantra ini diciptakan bersama dengan Legilimency dan Occlumency. Hanya Snape yang andal menggunakan mantra ini. Namun kali ini, dia gagal. Sepertinya ada salah pengucapan, sehingga mantranya tak bekerja sempurna. Kini, pikiranku dan Malfoy telah menjadi satu,"

"Mengapa tak suruh Snape mencoba ulang?" usul Ginny.

Hermione menghela napas lagi, lalu menggeleng. "Tidak segampang itu. Bila percobaan pertama gagal, bisa-bisa percobaan kedua...lebih hancur,"

Ginny kembali menatap ngeri. "Sampai kapan kalian begini?!"

Hermione menggeleng letih. "Sampai batas waktu yang tak ditentukan,"

Xoxoxoxoxo

"Sudah pagi,"

"Ya, Malfoy. Selamat pagi,"

"ASTAGA! SIAPA YANG BERBICARA?!"

"Ini aku, Hermione. Selamat pagi,"

"Selamat pagi, dan sedang apa kau di otakku?"

"Kau lupa? Copulamency?"

"Oh...yeah. YEAH! AH!"

"Bodoh."

"Diam, Perempuan!"

"Menjijikkan,"

"Oke. Bagaimana caranya agar kau tidak membaca pikiranku?"

"Berhentilah berpikir,"

"Benar juga...hei, mana bisa!"

"Bodoh,"

Hermione baru saja bangun saat tiba-tiba suara Malfoy membuatnya terkejut. Mereka bercakap lewat telepati, dan ini jauh lebih susah dari yang bisa ia bayangkan. Apa yang Malfoy pikirkan, rencanakan, selalu secara otomatis masuk menerobos otaknya. Mau tak mau, ia mendengar apa yang dipikirkan Malfoy, dan Malfoy juga...bisa mendengar apa yang ia pikirkan.

Ia harus berhati-hati dalam berpikir sekarang. Sebab ia tak lagi aman, bahkan dalam pikirannya sendiri.

"Hei, Malfoy. Semalam kau memimpikan apa?"

Hermione mencoba 'menghubungi' Malfoy dengan telepati, sembari menyiapkan air untuk mandi pagi.

"Tidak bermimpi, kok," jawab Malfoy.

Hermione tersenyum menghina, meski Malfoy tak melihatnya. Ia, tahu apa yang dipikirkan Malfoy semalam. Tak disangka-sangka, ternyata mimpi Malfoy juga dapat diserap oleh otak Hermione. Untung saja, semalam Hermione tak bermimpi.

Dalam mimpi Malfoy, ia melihat gadis dan padang rumput. Gadis itu berguling-guling diatas bunga yang berkilauan, bersama Malfoy. Malfoy menabrak tubuh gadis itu saat gadis itu berguling bersamanya.

Dan gadis itu tampak familiar.

Dan bunga-bunga berkilau...serta tempat dan peristiwa itu. Semua seperti pernah terjadi.

"Kau yakin?" Hermione menggoda. "Aku melihat gadis berambut coklat berguling bersamamu di padang bunga,"

"BAGAIMANA KAU—Oh...yeah. Copulamency Snape sialan itu," pekik Malfoy dalam pikirannya.

"Siapa gadis itu?" tanya Hermione penasaran.

Malfoy tidak membalas, Hermione memasukkan tubuhnya kedalam bak yang penuh dengan aroma mawar. Berendam.

"Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku...merasa nyaman di mimpi itu," jawab Malfoy ketika Hermione hampir tertidur saat berendam. Hermione terkejut.

"Kau..apakah dia seseorang yang kaulupakan?" tanya Hermione.

Lagi-lagi tak ada jawaban. Hermione mendengus kesal.

"Ya." Celetuk Malfoy tiba-tiba. "Dia gadis penting yang kulupakan,"

Hermione tertegun. "Sebenarnya..aku juga melihat seseorang. Pria Slytherin," Hermione mengusap lengannya. "Dialah alasan aku ingin mengingat,"

Malfoy diam, Hermione diam.

Lalu tiba-tiba, Hermione teringat batu kristal itu.

"Hei, Malfoy. Aku punya ide,"

...

TBC

ANEH? JELEK?

MAAF YA :'((

Terimakasih untuk kalian yang sudah mereview, memfav, memfollow.

Julie nggak sempat balas semua :'(( cepet-cepetan sih nulisnya.

Sekali lagi, jangan ada silent reader!

REVIEW YA! :D

-JULIETTE APPLE-