We Are Not Married But Not All Thing Are Wrong
.
.
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Story by Kirei Selena
Chapter 2
Seminggu setelah pertemuan Ino dan Shikamaru, hubungan Ino dan Sai sudah kelihatan membaik malah mungkin Ino sudah melupakan lelaki nenas tersebut. Dilihat dari gerak-gerik perempuan pirang itu yang kembali manja pada kekasih pucatnya dan sifat possesivenya pada Yakumo bila sedang berdekatan dengan Sai. Bisa dikatakan mereka telah kembali berbaikan.
Pagi ini pun dikantor Penerbitan tempat Ino, Sakura dan Sai bekerja terlihat bahwa Ino pergi bersama kekasihnya kekantor. Ya, tentu saja. Ino memang mempunyai kendaraan tapi dia sedikit gengsi memakai mobilnya karena dia menganggap bahwa model mobilnya agak ketinggalan zaman. Jadi dia lebih senang jika Sai menawarkan untuk berangkat bersama.
Mereka berpisah dilantai dua, karena Ino dan Sai berbeda Divisi di Redaksi Majalah tempat mereka bekerja. Sai yang sebagai Fotografer model, kantornya ada dilantai 4 sedangkan Ino sebagai seorang Editor akan turun dilantai dua. Ino mendaratkan kecupan di kening Sai saat Lift berdenting, dan langsung melambaikan tangannya pada Sai saat Lift membuka. Kebiasaan buruk pacarnya, terlalu berani melakukan hal-hal intim ditempat umum pikir Sai. Untung yang naik Lift tersebut hanya mereka berdua.
Ino tidak langsung masuk keruangannya setelah turun dari Lift, dia kekonter yang ada di lantai dua untuk membuat kopi terlebih dahulu. Dia merasa malas bekerja untuk hari ini. Sebenarnya bukan untuk hari ini saja. Perempuan pirang itu memang selalu malas bekerja, biasanya dia dimeja kantornya hanya berkaca dan membetul-betulkan kuteks kukunya yang terkadang luntur. Tapi, yah tugas memang tidak bisa dihindarikan? Pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Ino harus tepat waktu untuk siap. Dan entah mengapa pekerjaan itu bisa Ino siapkan saat deadline tiba, meskipun dia kebanyakan bersolek.
Jam menunjukkan pukul 08.37 saat perempuan pirang itu melirik jam tangannya. Dia mulai mengerjakan tugasnya sebagai editor sambil sesekali menghirup dan menyesap kopi mengepul tersebut. Ino menelengkan kepalanya kesamping, dia tidak melihat Sakura disana. Oh, dia mulai curiga. Tidak biasanya seorang Sakura telat. Dan ini sudah 37 menit, rekor terlama bahkan Ino yang biasanya telat pun tidak pernah telat 37 menit. Segera Ino mengambil ponselnya untuk menghubungi Sakura.
Jika dipikir-pikir seharusnya Sakura tidak punya alasan untuk telat selama ini. 37 menit? Oh ayolah rumah Sakura tidak begitu jauh dari Kantor mereka dan selama inipun Sakura tidak pernah telat. Sakura juga bukan tipe wanita pesolek seperti Ino. Dirinyalah yang biasanya telat, Ino jadi malu teringat dengan kebiasaannya itu, dia memiliki sejuta alasan untuk telat. Terlalu lama mandilah, sarapan bersama Sai, Lipsticknya yang tidak nampak, memilih baju kantor yang cocoklah, dan sejuta alasan lainnya.
Dering tut..tut..tut dari ponsel Ino menandakan bahwa panggilannya telah sampai di ponselnya Sakura. Wanita itu menunggu, tetapi tidak diangkat. Dia menelpon Sakura lagi tapi juga tidak diangkat. Ada apa dengan Sakura? Ino mulai khawatir, sudah telat tidak angkat telpon pula. Dia menghela napasnya dan menghubungi Sakura kembali. Dan akhirnya Sakura mengangkatnya, Ino lega.
"Hallo Sakura? Kenapa kau lama sekali angkat telponku?"
.
.
.
.
.
Sakura menendang-nendang ban mobilnya kesal dipinggir jalan. Dia sangat kesal kenapa ban mobilnya harus pecah disaat seperti ini bahkan bensinnya pun sudah habis dan mogok. Apa orang tuanya terlalu miskin di Osaka sana, sehingga orang itu tidak mampu mengganti mobil bututnya ini? Walaupun ayah Sakura hanyalah seorang Guru tetapi ayah Sakura adalah Guru disalah satu sekolah elit di Osaka, dan ibunya? Ibunya juga bekerja walaupun hanya membuka warung Takoyaki, Okonomoyaki dan berbagai makanan tradisional Jepang. Setidaknya bekerjakan? Mereka berdua bukan pengangguran, tetapi kenapa payah sekali mengabulkan permintaan Sakura hampir setahun yang lalu untuk membeli mobil baru? Dia bahkan berjanji untuk membayar angsuran cicilannya tahun pertama, dan tahun kedua hingga tahun ketiga serta uang mukalah yang diharapkan Sakura dari orang tuanya.
Wanita itu menjambak rambutnya frustasi dan berteriak untuk menghilangkan kekesalannya. Dia tidak habis pikir ini sudah setengah jam telat kekantor, tapi mobilnyapun sama sekali tidak bisa diharapkan untuk jalan. Dia mengerang putus asa dan air matanya mulai bercucuran keluar, sepertinya Sakura tidak akan masuk hari ini dan dia harus bersiap menerima amukan Bossnya besok. Dia melihat mobilnya lagi, bagaimana cara membawanya kebengkel dengan bensin yang sudah habis dan ban yang sudah pecah? Sakura benar-benar pusing.
Di tengah kepusingannya itu, ponselnya berdering dengan tidak tau dirinya membuat sang empunya ingin merusaknya dengan cara memijak-mijak ponsel tersebut dengan hak sepatunya.
"Brengsek, siapa yang nelpon."
Sakura tetap membiarkan ponselnya itu berdering sampai 3 kali sebelum dia menyerah dan mengangkat panggilan yang ke-4. Ino memang berengsek gerutunya.
"Ada apa Ino?"
'Hallo Sakura? Kenapa kau lama sekali angkat telponku?'
"Mobilku mogok cepatlah katakan apa perlumu?'
Sakura mendengar Ino mengikik dari sebrang sana, dia tidak tahan, ini bukanlah saat yang bagus untuk menertawai Sakura. Sakura benar-benar kesal dan secepat mungkin ingin mematikan ponselnya, tetapi Ino keburu melanjutkan.
'Baiklah, akan kupermisikan kau dengan Boss.'
"Ino? Eh, hai terimakasih ya."Dengan segera mood Sakura berubah."Tapi bagaimana cara membawa mobilku ke bengkel ya?"
'Hei..Hei..Kau telpon saja bengkel, mereka akan menyeret mobil jelekmu itu nanti kebengkel haha.."
"Sialan kau Inoo.."
Perempatan di dahi Sakura telah muncul, moodnya kembali buruk setelah orang disebrang sana mengatakan mobilnya jelek.
'Hei aku Cuma bercanda. Tenanglah.'
Wanita itupun hanya bisa menghembuskan napas mendengar ucapan sahabat pirangnya itu. Setelah mengatakan terimakasih pada Ino dia langsung menutup ponselnya, dan menelpon bengkel. Mungkin dia akan menunggu sekitar setengah jam sampai oang-orang bengkel datang menjemput mobilnya.
Kebetulan Naruto yang sedang lewat jalan tersebut melihat Sakura yang sedang kesulitan dengan mobilnya. Tak terduga, bukan disengajakan oleh Dewa dan mereka saling tidak mengenal. Ini sebenarnya bukan keberuntungan buat Naruto dan Sakura bertemu. Mobil Sakura yang rusak, keterlambatan Naruto bangun, bukanlah hal yang ditolerir menjadi sebuah keberuntungan bagi mereka berdua untuk bertemu. Ya, tapi apa boleh buat.
Lelaki pirang yang sedang mengendarai mobilnya itu mengucek-ngucek matanya masih ngantuk, sambil melihat perempuan pink yang sedang menjambak rambutnya. Mungkin dia sedang kesusahan atau mungkin dia seorang perempuan gila? Lebih baik ditinggalkan, tetapi dari penampilannya dia kelihatan seperti seorang wanita karir. Jadi opsi pertamalah yang benar, dia sedang kesusahan. Naruto pun memberhentikan mobilnya dan memarkirkan mobilnya tepat dibelakang mobil perempuan itu.
Sakura yang melihat mobil tersebut memarkirkan mobilnya dibelakang mobil Sakura menjadi agak waswas. Lingkungan disekitar sini agak sepi, dan ini jam beraktivitas. Tidak akan ada anak sekolah ataupun karyawan kantor lalu lalang dijam seperti ini. Dia melihat pemilik mobil tersebut turun dan menampilkan sesosok Pria berambut pirang. Pria itu tinggi, berkulit tan, berstelan rapi, dan dia tersenyum ramah. Sepertinya orang baik-baik, perempuan itu membalas senyumannya.
"Kau kelihatan kesusahan Nona?"
"Iya mobilku mogok."Sakura tersenyum canggung."Bannya pecah lagi."
"Kau sudah telpon bengkelkan?"
"Sudah, tapi akan datang sekitar 20 menit lagi."
Dua puluh menit? Sepertinya Naruto tidak bisa menungguinya. Sekarang saja dia sudah telat parah, bagaimana dengan dua puluh menit yang akan datang lagi. Jadi dia cepat-cepat harus pergi.
"Jadi ada yang bisa kubantu nona?" Tanya Naruto yang berharap mendapatkan jawaban tidak.
Sakura bergeming, dia memperhatikan Naruto. Hampir saja terucap kata tidak, sebelum dia mengingat dia bisa menumpang kekantornya dimobil Pria itu. Itu tidak merepotkan tentu saja, dia yang menawarkan bantuankan?
"Hm, ada. Kalau kau bersedia tolong antarkan aku kekantorku. Kantor Penerbitan, Redaksi Majalah. Kau taukan? Tidak sampai 5 kilometer lagi kok."
Ah, Naruto skakmat. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum meringis, seharusnya dia tidak menawarkan bantuan tadi. Kan begini jadi payah.
"Oke tentu saja, aku tau kok kantormu. Ayo masuk kemobilku."
"Tapi petugas bengkel belum datang. Kau bisa menunggu sekitar sepuluh menit lagi?"
Dasar perempuan, sudah mau ditolong malah minta jantung. Naruto agak kesal, tetapi bukan Naruto namanya yang tidak menolong temannya, dan Naruto adalah orang baik. Ngomong-ngomong soal teman, diakan bukan teman Naruto, tau namanya saja tidak.
"Eh, itu mungkin petugas bengkelnya."
Naruto melihatnya, dan memang iya itu petugas bengkel. Setelah mobil Sakura mulai digeret menuju bengkel, mereka berdua masuk kemobil Naruto untuk mengantarkan Sakura kekantor.
"Nona sepertinya nona harus ikut kebengkel." Salah satu montir memanggil Sakura."Masih banyak yang perlu diperbaiki, kalau tidak dalam jangka waktu dekat akan mogok lagi."
Sakura terlihat kesal, tapi mau bagaimana. Lagian Ino sudah mempermisikannya kok, jadi mungkin tidak apa-apalah dia dibengkel satu hari ini. Tapi, apa pria ini mau mengantarkannya kebengkel? Seperti bisa membaca pikiran Sakura, Naruto pun menawarkan.
"Naiklah, kuantar kau kebengkel."
.
.
.
.
Sesampai dibengkel, sepertinya Naruto lupa tujuan awalnya menuju kantor. Dia malah terlihat lebih ingin duduk menemani Sakura sambil bercakap-cakap. Dia menilai Sakura perempuan yang mudah akrab dengan orang lain, ramah dan easy going. Naruto menyukai tipe-tipe yang seperti itu, ditambah paras perempuan itu sangat manis. Tapi sayangnya lelaki pirang itu sudah memiliki kekasih.
"Haha, iya benar sekali."Naruto tertawa."Ngomong-ngomong siapa namamu? Kita belum berkenalan. Aku Naruto." Naruto menjulurkan tangannya pada Sakura.
Sakura melihat juluran tangan itu, dia menyukai pria ini. Sifatnya hangat, dan mudah bergaul. Seandainya Bossnya punya sifat seperti itu, atau seandainya pria yang dihadapannya inilah Bossnya. Diapun tersenyum dan menjulurkan tangannya juga.
"Aku Sakura."
"Oh, senang kenal denganmu Sakura."
"Hm."
Jadi Sakura namanya. Matanya yang berwarna hijau lembut berpendar dengan sinar matahari sungguh indah, rambutnya bewarna soft pink sungguh membuatnya jadi kelihatan imut. Tapi tunggu, lelaki itu mengambil ponselnya, dan membaca email Sasuke kembali, dia membaca semua tulisan disitu dan semuanya ada pada Sakura. Tidak salah lagi, ini wanita yang membuat Sasuke penasaran. Ya ini dia, kenapa Sasuke lama sekali balik ke Jepang. Kalau dia sudah di Jepangkan Naruto bisa langsung menyuruh dia kemari. Tapi sudahlah, nanti kutelpon saja Sasuke pikir Naruto bahwa dia sudah menemukan target Sasuke tanpa susah payah.
Ada yang ganjal juga, seminggu yang lalu Shikamaru mendapat Info mengenai wanita tersebut. Dia bilang Sakura itu berambut pirang dan memiliki mata aquamarine, tapi ini? Oh ya apa Shikamaru sudah lupa bahwa yang Naruto suruh selidikikan yang berambut pink dan bermata emerald. Dia sangat ingat. Tapi kenapa otak cerdas Shikamaru bisa lupa? Ah sudahlah, Naruto sudah bertemu langsung dengan wanita ini, jadi dia tinggal menyuruh Shikamaru untuk menyudahi penyelidikannya. Semua pasti beres.
"Sakura, bagaimana kalau kita cari Restaurant? Sebentar lagi jam makan siangkan?"
"Baiklah ayo."
Sakura dan Naruto memilih Restaurant Ichiraku yang menyediakan mie ramen, tidak terlalu besar dan mewah, tapi ini sudah cukup nyaman dan cukup mewah bagi pendapatan bulanan Sakura. Wanita itu memesan sepiring besar sushie dan jus jeruk untuk makan siangnya, sedangkan Naruto memilih Ramen.
Saat pesanan mereka telah datang, pesan dari Ino mampir ke ponsel Sakura dan dia membacanya dengan alis mengkerut. Si Ino mengajaknya makan siang bersama, dia tidak mungkin menyuruh Ino kemari. Bisa-bisa dia mengacau dan menggoda Naruto, terpaksa dia berbohong.
'Makanlah sendiri Ino maaf aku tidak bisa menemanimu.'
.
.
.
.
.
Ino mengerucutkan bibirnya membaca pesan Sakura, jadi dia harus makan sendiri? Sai sedang tidak dikantor, dia sedang ke studio lain untuk memotret. Padahal tadi pagi mereka masih sama-sama. Yasudahlah, tak apa juga makan sendiri. Lagian dia sudah duduk di restaurant yang tidak berapa jauh dari kantornya. Ino pun memilih pesanan makanan yang ingin dimakannya, ketika dia sedang menunggu pesanannya itu Ino melihat Chouji memasuki Restaurant ini. Akhirnya dirinya memiliki teman makan.
"Oi Chouji.." Ino melambaikan tangannya.
"Ino kau disini?" Chouji langsung mengambil kursi didepan Ino.
"Ya, makan siang."
Setelah Chouji memesan makanannya, Ino seperti sudah siap untuk merepet dan memberikan petuah-petuah agar Chouji diet. Sudah bertahun-tahun Ino selalu menyuruh lelaki buntal itu diet, tetapi tak pernah dilakukannya. Bukannya apa-apa, kandungan makanan yang selalu dipesan Chouji jika mereka makan bersama terlalu banyak lemak serta kalori dan tidak terlalu sehat untuk dikonsumsi banyak-banyak. Kalau tadi Chouji memesan Salad sepuluh piring pun tidak jadi masalah baginya.
"Oi Chouji, kurangi sedikit kebiasaan makan Babi banyak-banyak. Apa kau tidak lihat, badanmu sudah seperti Babi?"
"Siapa yang memesan Babi? Aku pesan BBQ kok."
Ino mengegelengkan kepala dan memutar matanya, pikiran Chouji terlalu sempit dan masih sangat childish. Jelas-jelas ia memilih BBQ dengan bahan utama daging ham. Apa dia tidak tau daging ham itu Babi?
"Kau memesan yang Ham bodoh."
"Emangnya itu Babi? Itukan Ham."
Uap panas sudah kelihatan diatas kepala Ino, dia mengeluarkan semua ocehan cerewetnya pada Chouji, apa itu daging ham, bagaimana bahayanya jika terlalu banyak mengkonsumsi daging tersebut, menyuruh Chouji membuat daftar hari-hari diet dalam seminggu, memarahi Chouji yang tidak tau apa-apa dan banyak lagi.
Tanpa sadar kedua sahabat itu, laki-laki yang duduk dibelakang Ino tersenyum mendengar semua ocehannya, wanita cerewet, tipe yang suka mengatur, gampang panas, dan pastinya merepotkan. Tapi semua ocehan menyebalkan yang dikeluarkan wanita itu terasa hangat di telinga Shikamaru. Wanita menyebalkan tapi entah kenapa sangat membuat gemas, Shikamaru tertawa kecil saat dia mendengar Ino menebak asal timbangan Chouji 200 kilo, Chouji yang mengatakan salah malah membuat perempuan pirang itu tambah naik pitam sepertinya, Shikamaru jadi tersenyum lagi.
Itu wanita yang ditemuinya di bar sebuah club seminggu yang lalukan? Bukan untuk pertama kalinya Shikamaru melihatnya di Restaurant ini. Lelaki itu datang ke Restaurant ini sampai tiga kali hanya untuk memastikan bahwa wanita itu adalah wanita incaran Sasuke Uchiha. Shikamaru sangat yakin saat melihat wajah nya ketika masuk kerestaurant ini sama dengan wajah wanita di bar itu. Kenapa dia tidak menghubungi dirinya? Shikamaru berpikir, Kira-kira dia masih mengingat Shikamaru tidak ya?
Tapi mengapa kau juga tidak mau menyapa atau menanyainya saja Shikamaru?
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
Chapter 2 up! Terimakasih atas review chapter lalu. Sebenarnya chapter 2 ini sudah lama siap. Tapi aku rada malas untuk mengedit dan mengecek typo. Jadi baru kucek malam ini. Gomen ne kalo kalian lama menunggu. Itupun kalo ada yang nunggu hehe. Salam hangat dariku, -Kirei Selena.
Sampai jumpa chapter depan.
