LuMin episode 1
Sub-title : Gay-nesses
.
.
.
Catatan penulis : hello, aku melanjutkan XiuHan/LuMin series kechapter 1. Karena ini masih permulaan jadi aku masih nyerempet dikit sama masalah kepindahan SuKai ke Jepang. Disini Minseok tidak polos, tidak girly. Dia pengen jadi dewasa tapi akan gagal dichappie berikut-berikutnya (kalau nyampe). Beware, mungkin Chen bakal ambil alih penceritaan dari segi sudut pandang Minseok. Hati-hati karena ceritanya gak rapi, keep on watching, dan review after read it!
.
.
.
.
.
.
.
.
Minseok mencoret kalimat 'ini hari buruk' yang tadi sempat menetap diotaknya sebelum menerima uluran tangan Luhan. Senyumnya tidak henti-henti mengembang. Ia kelihatan sangat bahagia sekali, seperti kejatuhan durian runtuh –mungkin akan lebih baik jika durian digantikan dengan emas, karena tertimpa durian runtuh pasti sakit, okey. Aduh, peduli apa Minseok dengan durian, mau sakit mau kulitnya sudah tidak mulus karena tertancap kulit durian –duh, pasti sakit – dia tidak peduli. Yang terpenting dia ingin berteriak kencang, mengeluarkan semua kupu-kupu yang beterbangan diperutnya keluar lewat mulutnya –ekstrem.
Baik, silahkan anggap Minseok over. Dia memang cowok over yang hyper dan ingin sok dewasa. Tapi dia manis dan imut kok –apa hubungannya? Padahal hanya bertemu Luhan lalu mengetahui kalau mereka ternyata satu kelas disekolah yang sama –dan dia bertambah bahagia setelah mengetahui mereka memilih kegiatan ekstrakulikuler yang sama, futsal. Duh, Minseok suka Luhan. Eh, tunggu dulu! Kalau Minseok itu cowok dan Minseok suka Luhan yang dalam kurung cowok juga, berarti Minseok sudah tidak lurus (baca: straight) lagi dong. Nanti, bagaimana ia menjelaskan kepada ibunya?
Gak, sama sekali gak boleh. Minseok membatin. Jadi ceritanya dia sudah mulai menyadari kalau ia ada rasa tertarik pada Luhan. Jangan bilang Minseok kena penyakit gay diumur segini. Tuhan, masa depannya masih jauh. Ia belum menggapai mimpinya. Minseok masih menanti disaat penggemar-penggemarnya yang berada dientah belahan dunia mana meneriakkan namanya dengan lantang. –mari kita kembali kejalan yang benar setelah melenceng dari jalan tersebut.
.
.
.
.
Jongdae mengayunkan kaki-kakinya dengan riang. Menimbulkan suara 'duk' kecil ketika mereka menekuk dan bersentuhan dengan kursi kayu panjang yang ia duduki. Bersama Minseok ditaman sekolah yang rimbun memang berfungsi melepas penatnya sehabis pelajaran Park ssaem yang kelewat galak. Mungkin Park ssaem bisa dijadikan anjing penjaga untuk menjaga rumahnya dari pencuri yang beberapa pekan lalu sempat berniat menjarah rumahnya.
Jongdae mengedarkan pandangannya. Sang kakak tertua tengah tersenyum manis kadang tertawa sendiri kemudian menggelengkan kepala sambil memukul kepala dengan keras lalu meringis karena tanpa sengaja mengenai bagian kepala yang benjol. Dengan rasa kefrontalan seorang adik yang baik kepada kakaknya, Jongdae pun berpendapat.
"Kalau senyam-senyum begitu, hyung kelihatan maho deh. Dae gak bohong! Kenapa sih?" Minseok menatap adik nomor tiganya dengan tatapan horor, yang tapi entah kenapa malah kelihatan imut dimata Jongdae. Eh, kok tambah satu lagi masalah sih. Cukup Minseok yang gay, Jongdae jangan ikut-ikut. Sepertinya Taeyeon harus menyekolahkan anaknya kesekolah anti-gay.
"Gak usah kepo, Dae. Dan kapan kamu pernah bicara jujur? Aku hampir tidak pernah mendengarnya." Jongdae menghela napas pasrah. Sumpah, kali ini −setidaknya− Jongdae tidak berbohong kepadanya. Jongdae mengutuk dirinya sendiri, menyesal telah sering berbohong kepada –siapapun. Begini kan rasanya kalau ia sedang dalam keadaan kepo dan Minseok tidak memuaskan rasa kekepoannya.
Minseok tersenyum kecil kemudian bangkit dari bangku kayu yang ia dan Jongdae duduki. Arah pandang Jongdae mengikuti langkah Minseok. "Mau kemana hyung?"
Minseok tersenyum misterius. Jongdae menanggalkan sebelah alisnya. Kakaknya satu ini sebenarnya kenapa sih? Sumpah, Minseok hobi banget membangunkan jiwa kekepoan Jongdae. Mata Jongdae mengikuti telunjuk Minseok yang menunjuk salah satu bangunan dekat taman sekolah. Kemudian menghela napas panjang.
Kalau mau kekelas bilang saja, kan lebih mudah daripada harus pakai bahasa detektif kaya begitu. Dasar, Min hyung jelek! Bikin hormon kekepoanku bangun kan, nanti aku bilangin eomma biar bangun kesiangan lagi. Batin Jongdae.
.
.
.
.
Minseok benar-benar bahagia. Hari yang indah pikir Minseok. Sudah Luhan satu kelas dengannya, mereka juga bertemu disatu ekskul yang sama, Luhan menjadi chair mate nya, dan diakhiri Luhan meminta untuk pulang bersama. Minseok bahagia.
Jongdae terperanjat. Pintu rumah dibuka kasar oleh Minseok. Jongdae jadi teringat beberapa waktu lalu kakaknya juga melakukan hal yang sama, disaat ia marah karena Jongdae di-bully oleh sekumpulan anak kelas lima –Jongdae sekarang kelas empat. Tapi yang ini berbeda. Minseok tampil tidak dengan wajah garang yang ditampakkannya beberapa waktu lalu, melainkan sebuah senyum yang lebar dan mata yang berbinar. Dan dengan santainya Minseok melangkah sambil melantunkan lagu yang tidak diketahui judul lagunya oleh Jongdae. Terlihat seperti, … −orang yang sedang jatuh cinta.
Jongdae menepuk jidatnya yang kotak. Kenapa tidak sampai kepikiran kalau Minseok jatuh cinta?
"Eomma … hyung jatuh …" belum sempat Jongdae menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara dari seonggok daging cantik memotong lidahnya –maaf, maksudnya– kalimatnya. "Annyeonghaseyo, Minseok-nya ada?"
Tidak tanggung-tanggung Minseok segera berlari menuju sumber suara. Jongdae melongo. Siapa pria yang bercengkrama hangat dengan hyung-nya? Apa dia seonggok daging yang membuat Minseok tersenyum sepanjang hari? Kalau iya, apa bagusnya dia? Dia cantik, tapi giginya tonggos kalau tertawa dan lihatlah badannya yang kurus kerempeng bagaikan kaleng rombeng. Dan itulah pertanyaan yang melintas diotak pendek seorang Jongdae yang kepo.
"Min, kalau ada tamu suruh masuk, dong. Tidak sopan!" Minseok mengusap tengkuknya dan mempersilahkan Luhan masuk menuruti perintah ibunya. Taeyeon yang keluar dari dapur terlihat excited dengan kehadiran Luhan disalah satu sofa merah diruang tamu keluarga kecil Kim.
Sementara ibunya, Minseok, dan Luhan berbincang bertiga, Jongdae merasa … −terasingkan. Terkadang setetes air mata turun membasahi pipinya namun kemudian dihapusnya dengan kasar. Ia juga menolak ketika Minseok atau ibunya mengajaknya untuk bergabung. Jongdae muak, Jongdae sebal, Jongdae kesal, Jong …
"Dae, gak usah drama deh. Kamu udah besar, gak usah ngikutin Jongin yang otaknya belum sempurna kebentuk."
Sementara ditempat lain, seonggok daging dekil berkulit hitam legam sedang menyantap makanannya. Disebelahnya kakak sang daging yang terlihat putih, tampan, manis tapi sayangnya pendek. Sang daging yang diketahui bernama Kim Jongin itu tiba-tiba memegangi pipinya. Sang kakak yang tentu saja sangat menyayangi adiknya langsung menghampiri adiknya. "Joonmyun hyung, sepertinya ada yang membicarakanku."
.
.
.
Minseok berjalan beriringan dengan Luhan. Bukan hanya Minseok yang terlihat bahagia dihari ini, rupanya Luhan juga merasakan hal yang sama. Luhan senang mendapatkan teman seumur baru yang sangat terbuka dan baik, ditambah lagi calon mertua –ibunya yang ramah dan lucu. Ya, walaupun ada daging perusak suasana dengan drama murahan dibarengi dengan jatuhnya setetes air mata –drama banget. Ah, tidak masalah untuk Jongdae yang bertingkah kekanakkan, yang penting dunianya sedang dipenuhi Minseok yang manis dan imut sekarang. Eh, Luhan gay juga?
"Ah, terima kasih mau mengantarkanku pulang. Ya, walau belum sampai, gak salah kan aku ngucapin sekarang." Luhan tersenyum. Duh, sumpah Minseok tambah terpana.
Minseok balas tersenyum. Dia tiba-tiba menjadi … awkward. Apa itu tandanya dia sudah bosan dengan Luhan? Apa itu tandanya dia kembali lurus lagi? Ya, pertanda baik sih kembalinya kenormalan seorang Minseok yang tadi pagi tiba-tiba menjelma menjadi 'gay muda bahagia'. Tapi, dia ingin tetap berteman dengan Luhan. Maksa.
Dan demi apa, Minseok maupun Luhan tidak melihat Jongdae yang berlari dengan napas tersengal dibelakang mereka. Minseok tidak punya ikatan batin dengan Jongdae apa, dia tidak merasakan capeknya Jongdae dengan tidak berbalik untuk sekedar menengok keadaan adiknya tercinta.
Jongdae menghentikan langkahnya. Sepertinya tujuannya mengejar Minseok sedikit lagi terlaksana. Wajahnya terlihat lelah dengan nafas dua-dua. Jongdae membungkuk sambil memegangi lututnya. Sebelah tangannya mengelap keringat yang menghujani wajah kotaknya.
"Minseok hyuunnggg …." Teriak Jongdae.
Minseok dan Luhan menghentikan langkahnya. Dan demi wajah cantik Luhan, Minseok itu tidak peka. "Luhannie, sepertinya ada yang memanggil namaku? Atau hanya angin saja ya?"
Luhan dan Minseok melanjutkan langkahnya tanpa menyadari Jongdae dengan wajah kelelahan meraung-raung memanggil nama Minseok. "Jangan lihat kebelakang, Seokkie. Bisa jadi itu hantu." Luhan agak sedikit peka dengan menyelipkan kata 'kebelakang' −tepat Jongdae berada− dalam kalimatnya. Tapi, −sumpah ya, untung saja Jongdae tidak mendengar kalau ia dikatai hantu oleh Luhan, kalau saja ia dengar mungkin akan ada sedikit drama tangis lagi setelahnya.
Jongdae menyerah. Dia menyesal ibunya telah melahirkan Minseok sebagai kakaknya –lho? Dan otak pendek Jongdae pun berkata untuk ... "LUHAN HYUUNNGG ... MINSEOK HYUNGGG GAYYYY …. DIAA MENYUKAIMUUU!" berteriak. Ide yang bagus sehingga membuat Luhan dan Minseok menoleh kebelakang, menatap Jongdae yang entah sejak kapan sudah ngacir duluan, melongo sesaat untuk mencerna teriakkan Jongdae, dan memerah begitu mencerna kalimat Jongdae.
"L-Lu, jangan dengarkan Jongdae. Maklum, otaknya belum sepenuhnya kebentuk, masa pertumbuhan." Canggung. Minseok tersenyum canggung sebaliknya dengan Luhan. Dan, hey, entah kenapa wajah Luhan memerah.
"M-Min, t-tidakkah kamu ss-sadar kalau kita sud-sudah sampai d-dirumah .. ku." Minseok cengo, Luhan tersipu. Minseok tersenyum canggung, begitupun Luhan. Kalau mereka idol, mungkin banyak penggemar mereka yang menjadi shipper dan menangkap momen manis mereka.
Minseok berjalan menjauhi pekarangan rumah Luhan, badannya setengah berbalik sambil terus berjalan dan salah satu tangannya melambai diudara. "Dadah." Satu kalimat Minseok yang mampu membuat Luhan tambah memerah. "D-Dadahh …"
Dan tertutuplah pintu rumah Luhan. Kemudian Luhan merosot membelakangi pintu rumahnya dengan kedua tangan yang memegang dada yang bergemuruh. Luhan rasa seperti Minseok –ia bahagia. Dan Luhan terus tersenyum sampai ibunya menegur agar tidak tersenyum layaknya orang gila.
Minseok menyukaimu, sadarlah Luhan. Oke, giliran Luhan yang menjadi gay.
.
.
.
.
.
.
TBC
Mwehehehe … kakk Lulu ganti shift gay sama kak Xiuxiu. Kan tadi pagi sampe siang kak xiu udh nge gay, sekarang giliran kak Luhan yang nge gay. Jadi gini lho, shift gay kak xiu itu disiang hari sampai siang hari dan shift gay kak lulu itu disore hari sampe malam hari. Tapi tunggu aja, mungkin besok kak luhan udah sembuh dari ke-gay-annya. Mudeng? Yaudah kalau gak mudeng, tunggu aja episode selanjutnya #ngotot.
