Disclaimer : Masashi Kishimoto

(Fic ini adalah asli buatan Author Akecchin, mohon jangan plagiat. jika ingin mengcopy atau izin republish, pm aja.)

.

.

.

.

.

Dedicated for my friend, Zizi a.k.a Green Latte

Sekuel of "Teacher Zone Love"

WARNING : Rate M / LEMON (soon)

Enjoy It !

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di hadapan puluhan pasang mata yang menatapnya saat ini, tiba-tiba perasaan gugup menyeruak di rongga dadanya. Bagaimana tidak? Baru saja melangkahkan kaki ke dalam ruang kelas Ia sudah disambut dengan sorakan dari seluruh orang yang ada di dalam kelas. Terutama dari kalangan perempuan. Berusaha mengacuhkan hal tersebut, Ia cepat-cepat mendudukkan dirinya di kursi yang biasa Ia tempati dan langsung membuka bukunya, berusaha fokus dengan tulisan-tulisan yang ada di dalamnya.

"Bukankah itu Hyuuga Hinata?"

"Hyuuga Hinata yang itu? Yang menjadi asisten Uzumaki-sensei itu?!"

"Iya, kudengar Ia akan segera menikah dengan Uzumaki-sensei."

"Woaah! Dosen seksi berambut pirang dengan mata biru itu?! Beruntung sekali si Hyuuga itu!"

"Uzumaki-sensei? Dengar-dengar marga Uzumaki itu hanya nama samarannya saja!"

"Benarkah?! Haah, jadi apa marga sebenarnya milik Naruto-sensei?"

"Aku tidak tahu. Bagaimana kalau kita tanyakan pada si Hyuuga itu?"

Begitu para mahasiswi yang menggunjingnya sedari tadi menyebutkan namanya, sontak Ia membungkukkan tubuhnya sedikit lebih rendah dan menutupi wajahnya yang memerah dengan buku. Sebentar saja Ia telah mendengar langkah-langkah kaki yang akan datang menuju ke arahnya.

'Kami-sama… tolonglah.", gumam Hinata dalam hati.

Baru saja kumpulan kaki tersebut akan datang menghampirinya, sebuah suara menginterupsi seluruh ruang kelas tersebut. Tampak sesosok laki-laki dewasa berambut hitam yang tersisir rapi dengan matanya yang berwarna senada. Sejenak Ia tampak mirip dengan Uchiha Sasuke, namun Ia memiliki warna kulit yang jauh lebih pucat.

"Ohayou!", sapa Shimura Sai singkat pada seluruh mahasiswa dan mahasiswi di dalam kelas.

Mendengar sang sensei yang telah datang sontak para mahasiswi yang akan 'menginterogasi' Hinata mendengus sebal dan segera kembali ke tempat duduk masing-masing. Sementara Hinata mengambil nafas lega karena senseinya tersebut telah menyelamatkannya, secara tidak langsung.

"Minna, sebelum kalian mengumpulkan tugas minggu lalu, ada tugas lain yang harus kalian kerjakan dan harus dikumpulkan hari ini juga.", tukas Sai dengan senyum palsu yang menyebalkan yang Ia edarkan ke seluruh mahasiswa di dalam kelas.

"Yaah..", desah sebagian besar mahasiswa karena perilaku Sai.

"Tapi tenang. Aku akan menjelaskan sedikit mengenai tugas kali ini sebelum kalian menyelesaikannya. Nah, sekarang buka buku kalian halaman 679!", ujar Sai dengan tegas, namun senyum palsunya tetap tak luput dari wajah pucatnya.

Sementara itu, Hinata yang setengah otaknya tengah terfokus dengan buku yang ada di hadapannya. Setengah otaknya lagi tengah memikirkan ucapan Naruto beberapa hari lalu, pada malam sesaat setelah acara makan malam di kediaman Hyuuga. Hal yang membuatnya mengeluarkan sebuah senyuman tipis saat ini.

.

.

.

*Flashback*

Sama dengan suasana ketika di ruang tamu, keadaan saat di meja makan pada saat ini pun suasana hening dan tenang kembali merayapi kediaman Hyuuga. Walau pun tampak 7 orang tengah berkumpul makan malam bersama di sana. Tiba-tiba pemuda berambut pirang dan bermata biru tersebut meletakkan sumpitnya pelan tanda Ia mengakhiri makan malamnya. Kemudian Ia membungkuk kecil tanda ucapan terima kasih pada sang tuan rumah atas jamuan yang telah disediakan. Mendapat balasan anggukan dari sang tuan rumah, dengan tambahan senyuman tipis Ia pun permisi dan beranjak dari ruang makan. Sang gadis yang duduk di hadapannya merasa keheranan, Ia penasaran kemana perginya pemuda yang baru saja melamarnya tersebut.

Dengan cepat Ia meletakkan sumpitnya juga, dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pemuda tadi dan segera menyusulnya. Para orang tua kedua calon mempelai yang melihat kejadian tersebut hanya saling memandnag dan tersenyum tipis penuh makna.

Ia terus berlari-lari kecil menyusuri lorong luas sepanjang kediaman Hyuuga untuk mencari kemana pemuda tersebut pergi. Sesaat kemudian, Ia melihat pemuda tersebut tengah duduk di kursi yang berada tepat di halaman rumah dengan kolam ikan yang cukup besar yang berada di depannya. Pemuda tersebut tengah menengadahkan kepalanya selah-olah memandangi langit malam yang cukup cerah.

Perlahan-lahan Ia menghampiri pemuda tersebut. Terbesit di hati kecilnya untuk mengagetkan calon suaminya tersebut. Setelah Ia mengendap-endap dan akan meletakkan kedua tangan kecilnya dengan cepat di bahu kekar tersebut, suara pemuda itu lolos lebih dahulu dan mengagetkannya.

"Hinata.", ujar Naruto sembari menyeringai kecil. Kemudian Ia menoleh ke belakang dan mendapati Hinata yang menutupi setengah wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. Ia hanya memberikan sebuah cengiran khasnya pada gadis Hyuuga tersebut.

"Apa yang akan kau lakukan, hm?", Tanya Naruto menuntut.

Sementara Hinata menurunkan kedua tangan yang menutupi setengah wajahnya dan saling menautkannya, menandakan kegugupan yang tengah melandanya.

"E-Ehm.. T-tidak.", jawab Hinata singkat dengan wajah memerah.

Naruto yang gemas dengan wajah manis Hinata hanya bisa tersenyum semakin lebar. Ia menepukkan sebelah tangannya pada kursi di sampingnya. Mempersilahkan Hinata untuk duduk. Hinata yang melihatnya hanya dapat menuruti Naruto dan mendudukkan dirinya dengan pelan.

"Kau kira Aku tidak dapat melihat bayanganmu lewat air dalam kolam, hm?", goda Naruto dengan nada menjelaskan penyebab Hinata gagal mengerjainya.

Hinata yang tersadar dengan penjelasan Naruto akhirnya hanya bisa terkikik pelan dan merutuki kebodohannya dalam hati. Kemudian Naruto melingkarkan sebelah tangannya dan menarik Hinata untuk mendekat dan jatuh ke dalam pelukannya. Hinata yang mengetahui hal itu hanya tersenyum dan melingkarkan tangannya pada pinggang Naruto dan menjatuhkan kepalanya di dada bidang calon suaminya tersebut. Sedetik kemudian Naruto mengecup pelan puncak indigo Hinata dan menghirup aroma harum yang menguar di sana.

"A-ano.. Naruto-kun.", panggil Hinata dengan suara lirih.

"Ya?", balas Naruto cepat.

Dengan ragu-ragu, Hinata mengutarakan yang ada dalam pikirannya, "S-sebenarnya, a-apa marga asli N-naruto-kun? K-karena..", ucapan Hinata terpotong karena satu jari Naruto menyentuh bibir lembutnya, menyuruhnya untuk diam.

Naruto tersenyum lembut ke arahnya sebelum menjelaskan jawaban atas pertanyaan Hinata, "Maaf.", ujar Naruto tenang.

Hinata yang mendengarnya hanya menatapnya dengan heran. Naruto hanya terkekeh dengan wajah manis yang penuh kepolosan yang kini terpampang di dekatnya. Ia pun mendekatkan wajahnya dengan Hinata yang berujung dengan kondisi wajah Hinata yang memerah.

"Aku lupa mengatakannya padamu, bukan? Maafkan Aku.", tukasnya lembut.

Kemudian Ia menangkup pipi Hinata dengan sebelah tangannya dan melanjutkan ucapannya, "Aku menggunakan marga milik Kaa-san, karena beliaulah yang menjadi waliku ketika Aku datang kemari, ke Jepang. Sementara Tou-san tak bisa kemari, dan karena beliau adalah warga Negara asing.", lanjut Naruto dengan jelas.

"J-jadi, Kaa-san Naruto-kun adalah orang Jepang?", Tanya Hinata dengan penuh penasaran.

Naruto hanya mengangguk pelan sebelum melanjutkan ucapannya, "Tou-san sejak dulu adalah warga Negara asing, beliau memiliki darah keturunan Jepang. Setelah menikah, Kaa-san tetap tidak mengganti kewarganegaraannya, beliau hanya tinggal di New York dengan terus memperpanjang izin tinggal di sana."

Hinata mengangguk pelan tanda mengerti sebelum Ia bertanya lagi, "L-lalu, Naruto-kun sendiri?"

Mendengar pertanyaan-pertanyaan calon istrinya yang terlalu penasaran, Naruto hanya terkekeh pelan sebelum menjawabnya, " Aku lahir di Jepang, namun Aku memiliki dua kewarganegaraan. Lagipula aturan dunia Internasional memperbolehkan Aku memiliki dua kewarganegaraan berdasarkan sistem dari masing-masing Negara tersebut."

Hinata hanya bisa tersenyum kecut, karena hanya bisa mendengar ucapan Naruto yang begitu serius tanpa memahaminya. Tiba-tiba Naruto melepaskan sebelah tangannya di pipi Hinata dan beralih mengelus puncak indigo kekasihnya pelan.

"Oh, ya. Apakah Aku pernah bercerita padamu perihal Aku pernah tinggal di New York?", Tanya Naruto.

Hinata hanya menggeleng pelan sembari memasang senyuman yang seolah-olah mengatakan 'tak usah dijelaskan'. "S-shion-san sudah pernah menceritakannya padaku.", ujar Hinata sembari tersenyum manis. Naruto yang mendengarnya kaget sejenak sebelum Ia mengendikkan kedua bahunya. "Dasar sepupu cerewet.", cibirnya. Hinata yang mendengarnya hanya terkikik dalam pelukan Naruto.

*Flashback off *

.

.

.

Ia terus berjalan cepat melewati beberapa ruangan yang berjajar sepanjang langkah kakinya. Tak memperdulikan bisikan mahasiswi-mahasiswi yang tengah membicarakannya. Lagi-lagi tentang masalah itu. Apalagi jika bukan masalah rencana pernikahannya dengan sang sensei yang kini dicintainya. Belum lagi banyak yang mencemoohnya karena mendapatkan senseinya itu karena beruntung menjadi asisten pribadi sang sensei yang terkenal karena tampan dan digemari kalangan wanita di kampus tersebut.

Ketika hampir sampai di depan ruangan yang sering Ia datangi, ruang kerja milik Naruto, Ia berhenti karena seseorang menariknya. Kemudian sebuah saputangan membekap mulut dan hidungnya dari belakang. Ia berusaha memberontak dengan memukul-mukul tangan yang membekapnya sebelum sebuah pukulan yang mendarat di tengkuknya membuat Ia jatuh pingsan.

Sebelum Ia benar-benar menutup matanya yang semakin memburam, samar-samar Ia mendengarkan sebuah suara berat mengatakan sesuatu, "Hyuuga harus menepati janjinya."

Ia mengecek ke arah arloji yang tengah Ia kenakan. Ia mengerutkan keningnya sedikit sebelum menghela nafas berat. "Kurasa Ia akan sedikit terlambat.", gumamnya pelan. Kembali pada pekerjaan yang ada di depannya, Ia berkutat pada laptop yang terletak di depan matanya dan beberapa tumpuk berkas yang mengelilingi mejanya.

Beberapa menit kemudian, Ia mendengus sebal karena seseorang yang telah ditunggunya sedari tadi tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. 'Padahal Ia yang menjanjikan duluan.', gerutunya dalam hati. Karena tak sabar, Ia mengambil ponsel yang tergeletak di samping laptopnya dan menelepon seseorang. Lama Ia menunggu nada panggilan, akhirnya suara nada sambung yang Ia tunggu tiba juga.

"Hinata, kau dimana? Aku sudah menunggumu-ttebayo! Padahal kau yang menjanjikan duluan.", ujar Naruto dengan nada merajuk. Namun, Ia terkejut ketika mendengar bahwa orang yang menjawab dalam panggilannya bukanlah orang yang Ia tunggu.

"Kau tidak perlu mencarinya lagi.", sebuah suara berat dengan nada datar menjawab panggilan Naruto.

"Apa yang kau katakan?", sahut Naruto dengan nada yang tak kalah dingin.

"Khu khu khu… Namikaze Naruto, hm?", ujar seseorang di seberang sana dengan nada meremehkan. Naruto yang mendengarnya hanya berusaha diam dan berpikir untuk menghadapi pria misterius ini. Ia meyakini bahwa Hinatanya telah diculik.

"Kau tidak akan bertemu dengan Hyuuga Hinata lagi. Selamanya.", lanjut pria itu lagi, sembari menekankan kata 'Selamanya' pada Naruto.

Dengan geram Naruto menjawab, "Apa yang kau inginkan?!". Nada suaranya mulai meninggi.

"Tak ada. Aku hanya mengambil apa yang menjadi hakku.", ujar pria misterius itu sembari langsung memutuskan panggilan tersebut.

"H-hei! Hei! Ck, Kuso!", bentak Naruto sembari melempar ponselnya di atas meja karena frustasi. Ia menutup laptopnya dengan cepat dan membereskan beberapa berkasnya. Ia kembali memungut ponselnya yang beberapa saat Ia lempar. Kemudian Ia melesat pergi dari ruangannya dan segera menuju ke lapangan parkir.

Kaki panjangnya melangkah melewati beberapa mobil yang saling berjajar di lapangan luas tersebut. Seketika mata biru safirnya melihat sesosok yang Ia kenal tengah merokok sambil memasang headset yang hanya Ia pasang pada telinga kirinya. Ia mengabaikan tujuannya untuk mencari mobilnya dan melangkahkan kakinya mendekati sosok tersebut.

Ketika Ia telah dekat, Ia menepuk bahu sosok tersebut dan menunggunya menengok ke belakang. "Sasuke!", panggil Naruto dengan wajah serius. Yang dipanggil pun hanya menatap datar sembari membuang dan menginjak rokoknya, juga melepaskan headset yang terpasang di telinga kirinya. "Hn?", jawabnya datar.

"Aku butuh bantuanmu!"

.

.

.

Iris amethystnya terbuka perlahan, namun pandangan yang masih buram memaksanya untuk mengerjapkan kedua matanya beberapa kali untuk melihat dengan lebih jelas. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya, namun Ia merasa aneh. Ia merasa kaku. Kemudian Ia menatap apa yang terjadi padanya. Ia tengah diikat dan disekap dalam sebuah ruangan. Anehnya, ruangan tempat Ia disekap bukan seperti bayangannya selama ini. Ruangan itu Nampak luas dan terkesan sedikit mewah. Terdapat sebuah meja besar yang berada di depan matanya, dan sebuah kursi yang lebih besar dari kursinya saat ini yang kini tengah membelakangi wajahnya. Ia berusaha berontak dengan menggerak-gerakkan kedua tangannya yang diikat di kursi. Untuk saja wajahnya tak terhalang apa pun, jadi Ia masih memiliki kesempatan untuk berteriak.

"Sudah sadar rupanya.", sebuah suara muncul di indera pendengarannya.

Dengan perlahan kursi tersebut berbalik arah dan menghadap ke pandangannya sekarang. Betapa terkejutnya ketika seseorang yang duduk di kursi tersebut berada dalam pandangannya.

"K-kau?"

Orang tersebut hanya menatapnya datar dengan senyum penuh kepalsuan, "Okaeri, Hime.", panggil orang tersebut.

Ia gemetar mendengar suara itu. Apalagi ketika menyadari siapa sosok yang kini tengah duduk dengan santainya tepat di depan wajahnya. Tak salah lagi, pemuda ini adalah sosok bersurai putih yang tadi pagi tak sengaja Ia tabrak. Ia tak sanggup berkata apa-apa lagi, pikirannya telah kacau.

Tanpa diduganya, pemuda bersurai putih tadi berdiri dan perlahn melangkahkah kedua kaki jenjangnya mendekati Hinata. Sebelum pemuda itu benar-benar mendekat, dengan menguatkan sedikit hatinya, Hinata menampakkan amarah yang terpancar dari wajah manisnya.

"J-jangan mendekat!", ujar Hinata gusar.

Namun, seakan-akan tak mengindahkan ucapan Hinata, pemuda tersebut terus saja melangkahkan kaki jenjangnya. Mendekat dan semakin mendekat.

"K-kubilang j-jangan mend…", ucapan Hinata terpotong ketika sebelah tangan pemuda yang putih tersebut mencengkram dagunya dengan tiba-tiba, dan mendongakkannya supaya tatapan matanya bertemu dengan kedua bola mata sang pemuda yang tengah berkilat licik. Sejenak kemudian, pemuda tersebut menyeringai.

"Hm. Kau menarik.", ujarnya singkat sembari melepaskan cengkraman tangannya pada dagu Hinata dengan perlahan.

Kemudian, Ia menyilangkan kedua tangan pucatnya pada tubuhnya yang berbalut kemeja putih polos dengan celana jeans berwarna biru pucat. Ia memasukkan sebelah tangannya di dalam saku celana jeansnya.

"Kau pasti heran mengapa Aku membawamu kemari, bukan? Hime?", tanyanya dengan nada sarkastik dan penuh penekanan pada kata 'Hime'.

Hinata yang mendengarnya hanya bisa menatapnya dengan tatapan horror, seakan-akan Ia merasa jijik dengan pemuda licik yang tengah menculiknya. Kemudian, pemuda tersebut membungkuk, menyelaraskan tingginya dengan wajah Hinata. Mencoba menatap wajahnya dari dekat seraya memasang senyum palsunya.

"Kuberitahu satu hal.", ujarnya dengan senyuman licik.

"…"

"Kau telah ditakdirkan untuk bersamaku.", lanjutnya sembari melebarkan seringaiannya.

"A-apa maksudmu?!", Tanya Hinata menggertak dengan tiba-tiba.

"Hm? Kurasa keluarga Hyuuga telah menyepakati perjanjiannya.", jawab pemuda tersebut sembari menegakkan kembali tubuh jangkungnya.

"P-perjanjian?", Tanya Hinata dengan heran.

"Ini semakin menarik. Kalian, para Hyuuga, mengkhianati perjanjiannya. Dan sekarang, kau memasang wajah tanpa dosa seolah-olah tak mengetahui perjanjian itu.", ujar pemuda tersebut sembari terkekeh pelan.

"A-aku benar-benar tak mengerti! J-jelaskan padaku!", ujar Hinata dengan nada menuntut.

Pemuda tersebut menghentikan tawa kecilnya, sejenak wajahnya berubah menjadi datar bahkan terkesan dingin. Kemudian Ia mendekati wajah Hinata dan berbisik tepat di telinganya. Entah apa yang dikatakannya, namun hal tersebut sukses membuat wajah Hinata mengeluarkan keringat dingin dengan mata yang terbelalak lebar.

.

.

.

Malam mulai menyelimuti langit Jepang, namun kedua tangannya masih setia memegangi stir mobil, kedua mata biru safirnya masih saja fokus pada keadaan jalan yang dilaluinya. Mobil yang Ia kendarai bersama sahabat Uchihanya tidak bisa dikatakan melaju dengan aman dan hati-hati. Saking cepatnya, tak jarang Ia hampir saja menyerempet beberapa kendaraan lain yang tengah melintas.

"Bagaimana?", Tanya Naruto dengan sedikit cemas.

Sementara Uchiha Sasuke yang duduk tepat di sampingnya, yang sedari tadi mengoperasikan ponselnya dengan serius kini sedikit menoleh ke arah sahabat pirangnya sebelum kembali terfokus pada ponselnya.

"Kita bisa ke tempat Nii-san sekarang juga.", jawab Sasuke cepat.

"Apa yang dikatakan Itachi-nii?", Tanya Naruto penasaran.

Dengan sedikit mendecih sebal karena mengganggu kegiatan pribadinya, Sasuke menjawab dengan asal, "Nii-san akan menjelaskannya nanti."

Naruto tak lagi melanjutkan pertanyaannya, Ia hanya terus berusaha untuk bertindak cepat sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada Hinata, calon istrinya. Tinggal beberapa ratus meter sebelum mobil Naruto berbelok ke arah tikungan di seberang jalan, Naruto makin mempercepat laju mobilnya seakan-akan Ia akan berlari menghindari hari akhir.

Sontak Sasuke yang merasakan hawa berbahaya dari tindakan Naruto hanya bisa mendecih karena gaya menyetir sahabatnya yang benar-benar taka man baginya.

"Dobe, tenanglah!", tegur Sasuke dengan raut wajah masam.

Sementara Naruto hanya menjawab dengan nada yang sedikit meninggi, "Kita tak bisa tenang-tenang saja, Teme. Kita harus bergegas. Aku benar-benar merasakan firasat yang tidak enak."

Mendengar penuturan Naruto, Sasuke hanya menggeleng pelan sebelum Ia memijat peningnya yang tidak pusing. Beberapa detik kemudian, Ia merasakan mobil Naruto berhenti. Mereka berdua bergegas keluar meninggalkan mobil dan berjalan masuk ke kantor kepolisian.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Akhirnya, Chapter 2 selesai! Dan konflik baru saja dimulai :) Baiklah, sankyuu untuk readers yang mau membaca terutama review di fanfic sekuel ini. Saya dangat mau menerima kritik dan saran dari kalian :) selanjutnya, akan saya balas review dari chapter 1 :

Yami no Be : Sankyuu atas reviewnya :) Silakan mengikuti fict sekuel ini

Misti Chan : Sankyuu atas reviewnya :) hmm, kurasa memang benar akan ada konflik dengan toneri, ini bukan fluff. Dan untuk ke amerika atau tidaknya masih saya rahasiakan :)

Uzumakimahendra4 : Sankyuu atas reviewnya :) sankyuu juga udah ngikutin fic ini

Fury F : Sankyuu atas reviewnya :) ikutin fic ini yaa

Guest : Sankyuu atas reviewnya :) sabar yaa nunggu lemonnya mateng dulu gan hehe

Durarawr : Sankyuu atas reviewnya :) mungkin jika anda mau membaca fict saya sebelumnya yang "Teacher Zone Love" anda akan mengerti alurnya dan hubungannya dengan fict sekuel ini

Nurida Rani : Sankyuu atas reviewnya :) sankyuu juga udah mau nunggu fic ini

Yuki-yukime : Sankyuu atas reviewnya :) silakan baca chap 2 ini yaa

And then,

Just one word : Review :)