Title : The Replacement

Genre : Hurt/ Comfort, Romance

Rated : T

Length : Chaptered

Cast : Siwon, Kibum, Yunho, Jaejoong, Heechul, Hangeng

Warning : Yaoi, typos, kisah diambil dari manga –Don't Rush love– Tennouji Mio

.

"Apa kau ingin aku menjadikanmu sebagai pengganti mereka?"

.


.

.

.

Tahun ajaran baru, saat itulah pertama kali aku bertemu dengannya. Ia tampak begitu dingin kala membantuku memunguti serakan buku yang kujatuhkan. Salahkan kedua sunbae yang merangkap sebagai teman dekatnya itu, merekalah yang menabrakku, membuatku menjadi pusat perhatian tepat di tengah gerbang sekolah yang baru kupijak ini.

"Pagi semua…"

Hingga alunan nada lembut itu memasuki gendang telinga, aku merasa tatapan dinginnya perlahan mencair.

"Pagi Chullie…"

"Ada keributan apa ini?"

"Bukan hal yang penting, salahkan kedua orang bodoh itu"

"Hahahahaa…"

Chullie, Kim Heechul, tawa lembutnya menyeret sudut bibir namja yang telah membantuku itu tanpa daya. Turut melengkungkan seulas senyum tulus yang membuat dadaku berdebar detik itu juga. Untuk pertama kalinya, aku merasakan sesak dan senang dalam waktu yang bersamaan.

Saat itu aku tahu, aku telah jatuh dalam pesonanya.

Pesona seorang Choi Siwon.

.

.

.

The Replacement—

Chapter 1

.

.

.

"Jadi… jika kau perlu bantuan datang saja padaku, menjadi siswa pindahan memang sulit dimasa awal seperti ini. Tapi kau akan terbiasa nantinya"

"Ne, songsaenim…"

"Apa kau sudah melihat kamarmu?"

Menggeleng lemah, namja manis itu kembali memperhatikan sekelilingnya. Langkah pelannya terhenti, memandang takjub lapangan basket outdoor dari jendela kaca yang teramat menarik baginya.

"Mereka adalah anggota klub basket, pria tinggi dengan rambut cokelat karamel itu bernama Jung Yunho, dia merangkap sebagai President Council disini. Sedangkan pria tinggi berambut hitam disampingnya adalah Choi Siwon, Vice President, mereka berada satu tingkat diatasmu"

Diam… pandangan namja manis itu kian fokus pada satu sosok yang pagi ini ditemuinya. Namja tampan dengan kacamata tipis berbingkai hitam itu kembali membuat jiwanya melayang meninggalkan raga. Menjadikan sosok manis itu teramat konyol hanya dengan melihat sosok sempurna yang dimilikinya.

"—bum… Kibum ssi…"

Tersentak, namja cantik itu, Kim Kibum, membungkuk ringan sebagai permintaan maaf pada songsaenim yang sempat ia abaikan.

"M-mianhe…"

"Haah… tidak apa-apa, akan kuatar kau kekamarmu"

"Umm…"

Saat kaki itu melangkah, sekali lagi manik matanya mengamati Siwon, melepaskan seulas senyum samar dengan rona merah yang menjalar dipipi chubbynya.

.

.

Menghempaskan tubuh mungilnya di atas ranjang, Kibum memandang diam atap kamar yang akan ditinggalinya selama ia menjadi siswa Seonggi high school ini. Berguling kesana-kemari, tarikan sudut bibir mungil itu kian lebar tatkala ia tahu dengan siapa ia berbagi kamar. Terbayang moment dimana tubuhnya mematung didepan pintu, menatap tak percaya nama siapa yang tertera disana.

Choi Siwon.

Bisa kau bayangkan seperti apa paras cantik ini kala itu? Menganga dengan tampang bodoh, sekali lagi mengabaikan untaian kata yang sang songsaenim berikan padanya. Tak peduli peraturan apa saja yang belum ia ketahui, keterkejutan benar-benar membawa akal namja cantik itu menghilang termakan kenyataan yang ada.

Ehn…

Berlebihan memang, tapi itulah yang terjadi!

Perhatiannya teralih kala daun pintu berputar seiring dengan derit kayu yang mencicit lirih, sepasang kaki jenjang melangkah dalam diam. Berdiri tegap, memandang sosok yang tengah balik menatap paras rupawan miliknya.

Meneguk ludah, namja manis itu membenarkan posisi duduknya. Menundukkan kepala ringan seraya berkata "Annyeonghaseo… Kim Kibum imnida" dengan bonus senyum lebar hingga membuat namja tampan bermarga Choi ini dibuat mengrenyitkan dahi.

"Kau roommate-ku?"

Mengangguk antusias, senyum lima jari si pemuda berpipi chubby ini hanya dihadiahi deheman samar sang pemilik kamar sebelumnya. Namja tampan itu kembali melangkah, menenteng tas berisi pakaian kotor bekas kegiatan klubnya. Mendekati ranjang Kibum, menepuk lembut kepala namja cantik itu dengan satu tangannya yang bebas.

"Kau hobaeku kan? Panggil aku Siwon hyung. Jika kau membutuhkan sesuatu, katakan padaku"

Melemparkan tas yang ia bawa keatas ranjang yang menjadi wilayahnya, Siwon membawa jenjang kakinya menuju satu ruangan lain. Menyambar handuk kering yang tergantung manis disisi pintu. Dan dalam satu detik setelahnya namja tampan itu menghilang dibalik pintu yang tertutup itu.

Jemari lentik Kibum mengusap bekas telapak tangan sang namja tampan yang kehangatannya masih ia rasakan. Kembali mengulas senyum cerah dengan pipi yang memerah, debar dalam dadanya menghentak tiap ia mengingat sosok rupawan satu itu.

Kim Kibum, cinta benar-benar mendatangimu hmm?

.

.

Gores pena pada lembaran kertas menemani Kibum melewati kesendirian. Paras cantik yang biasanya tampak bersemangat itu kini begitu layu. Sesekali ekor matanya melirik satu ranjang lain yang berjajar dengan sekat meja dan jendela.

Kosong!

Sudah tengah malam dan Siwon belum kembali.

Menghela nafas, Kibum menjatuhkan sisi wajahnya di atas meja. Terbayang dibenaknya sebait kalimat namja tampan itu sebelum ia menghilang dibalik jendela kamar keduanya.

(Flashback)

"Kau sudah tahu peraturannya?" bertanya sembari mengacak isi lemari, Siwon sibuk mencari pakaian yang hendak dikenakannya. Cukup lama ia membersihkan diri, dan melihat sang roommate yang sedari tadi menundukkan kepala menimbulkan satu pertanyaan dalam benaknya.

Ada apa dengan bocah chubby itu?

"Jadi… apa songsaenim tak menjelaskannya padamu?"

Menggeleng polos, manik mata namja manis itu mengikuti kemanapun langkah kaki Siwon pergi. Kini tak sekedar handuk setengah basah saja yang membelit pinggang sang namja yang lebih tua, hingga Kibum tak perlu repot-repot menyembunyikan pendar merah cerah yang menghiasi ayu wajahnya.

"Kau bisa membaca peraturan itu disini"

Memperlihatkan selembar kertas penuh ketikan yang ia ambil dari laci meja, Siwon menyerahkan barang itu tanpa memandang Kibum. Berterimakasihlah pada jabatannya sebagai Vice President disini, sehingga ia tak perlu repot mengambil hal-hal semacam itu di ruang kerjanya.

"Gomawo Siwon hyung…"

Tak membalas ucapan terimakasih yang ia terima, Siwon justru melangkah mendekati jendela.

"Satu lagi… Jangan mengunci jendela, biarkan itu tetap terbuka"

"Eeh…?"

"Beberapa siswa yang tinggal di asrama sudah tahu apa yang kerap kulakukan, kau tak perlu mencemaskan itu"

Masih dengan tatapan bertanya-tanya, Kibum sungguh tak mengerti pada apa yang tengah Siwon bicarakan saat ini. Dan dalam sekejap mata, sosok tinggi Siwon menghilang dari jarak pandang.

(End of Flashback)

Coretan angka yang seharusnya tetap ia kerjakan tak lagi seperti semula, namja manis itu justru menggerakkan jemari tanpa tujuan berarti.

Menarik nafas panjang, ditinggalkannya serakan buku itu dengan tatapan malas. Tak berkeinginan merapikan, Kibum sungguh penasaran dengan apa yang kini Siwon lakukan. Namja tampan satu itu, apa yang diperbuatnya pada diri Kibum, hingga membuat namja manis itu tak tenang seperti ini?

Merebahkan tubuh itu diempuknya ranjang, Kibum merutuki dirinya sendiri yang terus terjaga sampai pagi mendatangi seperti ini.

Kreek

Bola mata sebulat bulan purnama itu bergerak cepat, menatap tirai yang melambai tersapu bisikan lembut Anemoi. Dengan gerak kilat, tubuh Kibum tergulung selimut tebal. Memunggungi dimana kini satu sosok lainnya berdiri.

"Apa aku membangunkanmu?" tanya Siwon dengan tatapan datar, tahu betul hobae teman satu kamarnya itu menarik selimut membungkus tubuhnya tepat saat jenjang kaki Siwon memijak ubin kamar ini.

"Aah… tidak ! aku memang belum tidur"

Mendudukkan dirinya, Kibum memandang sosok tegap Siwon yang berdiri tepat dihadapannya.

"Ada apa?"

"Err…"

"Ada yang ingin kau tanyakan?" berjalan mendekatinya, namja tampan itu berjongkok didepan Kibum. Menyentuh punggung tangan sehalus sutra itu tanpa makna tertentu.

"Tidak hyung…" melengkungkan seulas senyum indah dengan semburat merah, Kibum tak tahan menatap mata elang Siwon. Apapun itu, asal bukan dua titik penjerat jiwa yang dipandangnya ia akan baik-baik saja.

Meski hal ini tak berlangsung lama…

Dengan mata kepalanya sendiri Kibum melihatnya dengan jelas. Tanda merah keunguan yang tersamar remang kegelapan. Tercetak jelas dibeberapa bagian kulit leher Siwon yang tak tertutup kerah baju.

Kini ia tahu kemana Siwon pergi sampai selarut ini.

Bau harum shampoo, dan tanda cinta semacam itu, membuat Kibum tak menyangka dewan sekolah seperti Siwon mampu melakukan hal-hal semacam itu.

Memutus sentuhan ringan sang namja tampan, Kibum kembali menggulung tubuhnya. Merasakan sesak dalam dada yang datang tiba-tiba.

"A-Aku tidur duluan hyung… selamat tidur…"

Hanya itu kalimat yang sanggup ia ucapkan. Mencoba menekan getar suara yang akan terdengar aneh bagi siapapun yang mendengarnya.

"Hnnn…"

.

.

.

CsN—

.

.

.

Menghembuskan nafas panjang, kaki jenjang namja manis itu membawanya menyusuri koridor sekolah. Jengkel juga sesungguhnya. Tiga hari, dan ia masih tersesat ditempat yang tak diketahuinya.

Ohh… ayolah, ini bukan lelucon. Salahkan seberapa besar Seonggi high school ini, sampai membuatnya tak juga paham tata letak tiap ruangan.

Menyandarkan punggung sempit itu didinginnya dinding kelas, sejenak ia memejamkan kelopak mata, mengurangi beban abstrak yang akhir-akhir ini memenuhi isi kepala.

"Bocah…"

Satu kalimat yang cukup jelas Kibum dengar membuatnya kembali pada hiruk pikuk suasana disekitarnya.

Meneguk ludah, ia tak menyangka akan bertemu dengan sosok tampan yang telah membuatnya melakukan hal-hal konyol belakangan ini.

"S-Siwon sunbae…"

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku tersesat…"

"Pabbo! Apa kau tak melihat denah sekolah?"

Refleks memejamkan mata, Kibum tak dapat menghindar dari pukulan ringan buku tebal yang tengah Siwon genggam.

"Sekolah ini terlalu besar hyung, dan aku juga belum diantar berkeliling songsaenim waktu itu" menyembulkan bibir mungilnya begitu saja, Kibum menatap Siwon dengan pandangan kesal. Jemarinya sibuk mengusap bekas timpukan namja tampan yang tak beperasaan itu tanpa malu.

Menghela nafas, Siwon menarik dasi sang hobae dengan tatapan kelewat datar. Tak peduli pada pekik ketekerjutan yang Kibum lontarkan. Langkah tegasnya memaksa sang namja manis mengekor dibelakangnya.

"H-hyuuuung…"

"Akan kuantar kau berkeliling"

"Tapi lepaskan dulu, aku tak bisa bernafas…"

Langkah jenjang namja tampan itu terhenti tiba-tiba, tak merasakan keberadaan Kibum yang telah menghantam punggungnya.

"Kenapa malah berhenti begini sih hyung?" mengusap hidung mungilnya, Kibum sungguh mengutuk rona merah yang merebak tanpa cela. Kembali membuat ia tampak begitu bodoh hanya karena mencium wangi parfum namja tampan dihadapannya.

Tak kunjung mendapatkan jawaban, namja manis itu melongokkan kepala, menatap Siwon yang terpaku tiba-tiba. Mata elang yang begitu mempesona miliknya tampak berbeda. Pelan, ia mengikuti arah pandang Siwon, dan dalam satu tatap saja, ia tahu penyebab namja tampan itu membeku.

Jauh didepan sana, Kibum melihatnya dengan jelas. Kim Heechul, siswa dengan gelar sebagai namja tercantik di sekolah ini tengah sibuk menggelayuti lengan kekar sosok rupawan disampingnya. Berjalan beriringan dengan derai tawa bahagia, tanpa duka, tanpa beban yang Kibum yakini tak Heechul miliki. Dan sosok tampan yang tengah bersamanya Kibum ketahui merupakan siswa pertukaran pelajar asal China, Tan Hangeng. Siapa yang tak tahu hubungan sepasang kekasih itu?

"Hyung…" bergumam lirih, namja manis itu kembali dihadapkan dengan kebisuan. Tak ada tanggapan yang ia dapatkan.

Pandangan kecewa dengan pedih yang begitu kentara. Apa selama ini Heechul tak menyadari tatapan penuh duka namja teman dekatnya ini?

Menggeleng samar, Kibum menggaet lengan kekar Siwon, memaksanya kembali pada kenyataan yang kini tengah terjadi. Menyeretnya tanpa mau peduli gumam kekesalan yang Siwon tahan. Tak apa, melihatnya marah jauh lebih menenangkan jika dibanding dengan tatapan penuh luka yang ia perlihatkan.

Lagi, keduanya berjalan beriringan, dengan Kibum sebagai sumber keributan. Sibuk mengoceh disana-sini, menanyakan hal-hal tak penting dengan disertai tawa garing. Namja tampan itu menanggapinya asal, jengah dengan berbagai banyolan konyol yang tak ingin ia dengar.

"Wuaa… apa ini perpustakaan untuk senior? Aku boleh masuk kan hyung?"

Belum sempat namja tampan itu menjawab pekik pertanyaan Kibum, bocah yang lebih muda darinya ini malah merangsek masuk begitu saja. Menyusuri lorong-lorong penuh jajaran buku yang menjulang tinggi.

Kilau matanya berpendar indah, memekik tertahan dengan gumam kebahagiaan yang tak dapat Kibum ungkapkan.

"Tempat ini luas sekali hyung, benar-benar ker—"

Kalimat yang tak sempurna terhenti begitu saja. Menatap tak percaya apa yang tampak dalam bola matanya. Tak dapat bergerak barang seinci jua, memandang horror pada dua sosok yang amat dikenalnya.

"Ssst…"

Bisikan lirih datang bersamaan dengan bekap yang tak terundang. Mengalun samar menembus debar dada jauh dari definisi cinta. Menyumpal alunan kata yang nyaris keluar dari belahan bibirnya.

Tak mengatakan apapun, namja tampan ini membawa tubuh yang tengah membatu itu melangkah pergi, merangkulnya menjauh dari pandang jemu yang tak sengaja keduanya ketahui.

.

.

Mengatur nafas yang memburu, merahnya isi delima tak dapat mengalahkan pendar wajahnya. Terus menunduk, meremas kikuk kesepuluh jemarinya. Kibum sungguh tak menyangka akan melihat adegan tak pantas dipandang mata ditempat umum seperti itu. Kim Jaejoong dan Jung Yunho, dua sunbae yang tak kalah popular dengan pasangan Hangeng-Heechul yang sempat membuat sosok Siwon terpekur dalam kesedihan, tak mengenal dimana dan butuh alasan apa untuk melampiaskan hasratnya. Kibum sempat mendengar desas-desus ini, tapi melihat adegan langsung semacam itu… Ehn… entah ia harus bereaksi seperti apa.

"Dua orang bodoh itu… ck! Apa mereka tak memiliki tempat lain untuk melakukan hal-hal semacam itu"

Kali ini sang pemuda tampan yang memulai pembicaraan, sesekali meneguk soda kaleng yang sempat disambarnya dari vending machine.

"Kau baik-baik saja?"

Mengangguk aneh, Kibum terbata menjawabnya. "Eum aku hanya… tak terbiasa melihat pasangan seperti itu sebelumnya"

"Kau masuk kesekolah khusus pria, hal-hal seperti tadi akan semakin sering kau jumpai. Bagi beberapa seme disini, bocah sepertimu akan menjadi target buruan mereka"

"Target? Buruan?"

"Kau tak mengerti juga, ck! Pabbo!"

"Berhenti mengataiku bodoh hyung!" menyembulkan bibir mungilnya, Kibum memandang kesal namja tampan satu itu.

Ehn…

Lihat mata bulat yang menyipit tajam itu, tatapan menusuk khas bocah lima tahunan, dan kedua pipi chubbynya yang menggembung lucu.

Siwon memandangnya dalam diam, mengamati detail ayu wajah Kibum, tepat didepan pendar elangnya. Pesona yang tak pernah ia sadari jatuh dalam retina mata. Tertegun sesaat, jemari panjang itu terulur lurus.

"Kau belum pernah merasakannya?"

Mengrenyit heran, Kibum mengerjab bingung. Memandang tak mengerti pada pemuda rupawan yang kian menghimpitnya di bangku taman yang sepi ini.

"Berciuman dengan pria…"

"Huh?"

"Mau mencobanya denganku?"

"H-hyuung…"

Jemari lentik Kibum mencoba mendorong dada bidang itu, hentakan kuat yang tertabuh dalam dada namja manis ini memacu darah mengalir tak semestinya. Ia menginginkan ini, ia tahu bahwa ia tak telah jatuh sejak pertemuan pertama kala itu. Meski satu letup dalam dada meminta padanya untuk berhenti, menatap kenyataan bahwa ia tak seharusnya menerima sentuh semu yang menjemukan kalbu. Karena ia bukanlah siapa-siapa, ia bukan sosok yang Siwon pandang sebagai pujaan hatinya.

Mencoba menghindar, Kibum tak bisa melakukannya. Tengkuknya tertarik lembut menyambut sapuan bibir tipis yang tak pernah ia bayangkan akan dirasanya. Bergerak teratur, perlahan, dan tak tergesa.

Kecupan, jilatan, lumatan, dan desah basah membuat Kibum tak tahan untuk tidak mengerang. Ia tak mengira sentuhan hangat itu akan berubah menjadi satu hal yang lebih intens, dalam, dan tak terpikirkan.

"Uuuhhmm…"

Saat tautan keduanya terlepas, jejak basah mengalir indah dari sudut bibir sang objek penyerangan. Terengah, Kibum meremas jas sekolah yang Siwon kenakan. Dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa menyentuhnya seperti itu? Kenapa membuatnya melayang meski dalam kenyataan keduanya tak memiliki ikatan?

"Kau mengerti sekarang? Jika kau membuka dirimu seperti itu, orang akan mudah menyerangmu"

Menepuk kepala Kibum berkali-kali, melihat sang hobae yang tak juga balas memandangnya membuat penyesalan menjalari hati pemuda tampan ini. Melengkungkan seulas senyum tulus, namja tampan itu kembali berujar "Maaf… aku tak bermaksud melakukannya"

"Hyung…" masih dengan jemari yang membekap bibir mungilnya Kibum mulai bersuara. "Heechul sunbae… bukankah Siwon hyung menaruh perasaan padanya?"

Kilat tajam menyulut api emosi, luap kemarahan yang tertimbun rapi tebakar dalam satu tamparan keras kenyataan yang selama ini coba Siwon tutupi. Mencengkeram erat kerah kemeja namja mungil dihadapannya, bentakan tak berperasaan mengawali tragedi kebencian yang membuat hubungan itu jauh dari indahnya cerita fiksi romantisasi.

"KAU! SIAPA YANG MEMBERITAHUMU HAHH?! JANGAN KATAKAN KAU MENANYAKAN HAL INI PADANYA!"

"B-bukan! Tak ada satupun yang memberitahuku. Lepaskan aku hyung!"

"AKU MEMPERINGATKANMU! JANGAN PERNAH MEMBAHAS INI LAGI! AKU TAK PEDULI APA YANG KAU TAHU, KAU TAK BERHAK BERASUMSI TENTANG PERASAANKU! INGAT ITU!"

Menghempaskan tubuh yang tak berdaya itu begitu saja, Siwon tak peduli pada pekik kesakitan yang Kibum suarakan. Menghantam kaki kursi yang keduanya sempat duduki, ringis kepedihan yang menggores pinggang rampingnya tak membuat gelap dalam mata Siwon menatap iba.

Wajah yang menakutkan, tatapan tajam sarat akan aura kebencian, Kibum tak mengira satu pertanyaan darinya akan menimbulkan dampak semengerikan ini.

.

.

Tbc!

.

.

Bagaimana? Teramat ringankan part satu ini*lirik FF sebelumnya*. Sengaja sih, entah nanti bagaimana dengan part selanjutnya *evil smirk*

Plot cerita bukan milik saya, seperti yang saya tuliskan di atas, hehehe… Entah kenapa pas baca manga itu tiba-tiba keinget Sibum. Uuhh… tapi ya itu, saya gak pernah bisa berada dalam jalan selurus manga yang ada. Jadi maklum kalo hasilnya abal banget.

Ternyata susah ya mengadaptasi manga buat diketik macem ini *pundung*. Ada yang sudi review buat kasih dukungan?

Oh ya… bagaimana kalau Ratednya dinaikkan? Readers setuju apa tidak?

Gimme your answer, right! ^^

Satu lagi, buat yang nanya saya ini sastrawan atau bukan, tentu saja jawabannya bukan. Saya cuma author amatir yang mencoba menulis untuk kesenangan hati, hehehee…

.

.

.

Lovesibum: duuh! Genrenya hurt/comfort, bakal ada scene sedih-sedihnya. Hehehe… Fb? Boleh kok^^ Dean Azuraa, itu Fb saya. Thanks udah ninggalin jejak, review lagi ne? ^^

Bumranger89 : ini part satunya, thanks udah ninggalin jejak. Tinggalin jejak lagi ne? ^^

Cheesyskullv : chagiaaaaahhh, syok liat kamu nampangin nama disitu. Ya ampuuun malunya aku *nunduk imut* wkwkwkwkwk… ini part satunya. Abal banget yak? Kkkk… Thank u so much *kecup basah* ^^

Choi Ryo : yang Wound udah END chingu, udah baca belum? *promosi* dan ini lanjutannya. Thanks udah ninggalin jejak, review lagi ne? ^^

HarunoZuka : Muka kibum pan imut-imut ngegemesin, jadi pantes dibuat menderita *dihajar*. Feel akan terasa kalau yang menderita pihak 'wanita' *uhuk*. Ini happy ending kok, sesuai plot manga. Tapi entah nanti scene-nya bagemana, belum kepikiran *plak*. Thanks banget udah ninggalin jejak *peluk*.

N.s aka I.v : teasernya emg pendek, semoga ini gak sependek apa yang chingu arepin. Thank buar reviewnya, tinggalin jejak lagi ne? ^^

Seo Shin Young : Wound udah apdet, udah tamat lagi. Ini part satunya, semoga gak mengecewakan ya? Gomawo udah sudi ninggalin jejak, tinggalin jejak lagi ne? ^^

EvilmagnaeMin : ini lanjutannya. Met baca^^ thanks udah ninggalin jejak, tinggalin jejak lagi ne? ^^

Siti azzahra muayanah : kekekeke… part satu belum keliatan kok nyeseknya, entah nanti bagaimana selanjutnya. Gomawo buat reviewnya, review lagi ne? ^^

Brigitta bukan Brigittiw : ini lanjutannya ^^ thanks udah ninggalin jejak ^^

Shinta lang : terimakasih, ini part satunya. Semoga gak mengecewakan ^^ tinggalin jejak lagi ne? ^^

Anin arlunerz : ini lanjutannya chingu, met baca. Thanks juga buat reviewnya^^

Guest : thanks chingu, Woundnya udah saya selesein kok. Udah baca belum? Kkkk… makasih juga udah sudi ngereview^^

Paprikapumpkin : uhuk uhuuuk, ketemu SR Wound saya nih. Kkkkee… gak masalah kok, gak akan saya bakar. Cuma ini lagi ngasah parang doang *kikikiki* tinggalin jejak lagi ne? gomawo ^^

dindaR : semoga masih penasaran yah… hehehhe… terimakasih ^^

meyy-chaan : buhuhuuu… lagi-lagi Kibum eonnie yang tersakiti, saya paling demen ama uke yang menderita *digampar*. Thanks meyy-chaan udah ninggalin jejak, review lagi ne? ^^

blackwhite28 : masih penasaran kagak? Kkkee… semoga gak mengecewakan yah. Thanks udah sudi ninggalin review, review lagi ne? ^^

Shim Yeonhae : Duuh! Maaf, lagi-lagi Kibum yang jadi pihak 'kalah' di FF saya *bow*. Gomawo buat reviewnya, review lagi ne? ^^

Diitactorlove : haiyoo Dii, ini udah dilanjut. Terimakasih buat reviewnya ^^ dukung terus ne? *kecup* #dihajar#

Zakurafrezee : ini udah dilanjut, thanks udah review. Semoga gak mengecewakan. Review lagi ne? ^^

Iruma-chan : ini nih chingu, udah saya lanjutin. Gomawo buat reviewnya^^ tinggalin jejak lagi ne? ^^

Cho97 : buhuhuhuuuu… Kibummie bakal menderita, miaaan banget *bow* tapi happy ending kok. Thank you, review lagi ya? ^^

.

Dan bighug buat yang review Wound last chapter kemaren : Mjaesob, Viivii-ken, LadyChoi, Gysnowers, ELLE HANA, snower0821, cloudyeye, dhianelf4ever, thybum, diitactorlove, jirania, 0704minnie, EvilmagnaeMin, Guest, meyy-chaan, , Seo Shin Young, meirah.1111, iruma-chan, DewiDestriaPutri, paprikapumpkin, wonnie, cho dizma joyer, HarunoZuka, tinaff359, anin arlunerz, blackwhite28. Miaaaaan banget gak bisa bales satu-persatu *deepbow*

.

.

Sekali lagi terimakasih banyak*senyum cantik*. Mian kalo typosnya bejibun, saya cuma ngedit sekali doang soalnya.

Semoga silent readers berkurang

Sampai jumpa ^^