Haaah. Ff ini... nggak di'sambut' dengan begitu antusias ya, reviewnya cuma satu juga. Apa pairing Naraku x Kikyo nggak populer? Yaudah, aku update ajalah, walopun sedikit. Balesan review di bawah~RnR minna! Here goes!
Disclaimer: Inuyasha belongs to Takahashi Rumiko, this fic belongs to me.
The Script
Naraku kurang ajar, geram Kikyo. Belum puas juga membunuh orangtuaku? Kurang ajar!
Chapter 2
(Still at school)
Kaede menatap ke luar jendela, ke arah lapangan panah tempat kakaknya berada. Kikyo sedang meregang busur dengan panah, mengincar sasaran dan melepaskan panah itu dalam satu kedipan mata.
Panah itu melesat dan menancap di tengah papan sasara menimbulkan bunyi duuk rendah.
Sudah berapa kali dia dilindungi kak Kikyo? Demi masalah pribadinya kak Kikyo rela memberikan buku hitam kesayangannya.
Maaf, kak Kikyo, bisik Kaede dalam hati sambil menutup jendela.
###
"Kikyo hebat," Asahi mengambil busur di tepi lapangan. "Aku belum pernah sampai tengah. Titik tengahnya kecil sekali."
Kikyo mengambil panah baru dan meregangkan busur. "Hmm," gumamnya sambil mengepaskan titik tengah. "Aku sedang punya energi berlebih."
Duuk. Menancap tepat di tengah lagi. Asahi tertawa sambil mengambil panah, mengambil tempat di samping Kikyo. "Sepertinya itu tidak berpengaruh. Dari dulu akurasimu bagus. Kak Yona menyukaimu."
"Oh ya?" Kikyo berkacak pinggang, mengambil napas sebentar. Yah, energinya memang sedang berlebih karena laki-laki satu itu. Naraku. Semakin diingat semakin mengesalkan saja! Ia meregang busur lagi dan mencoba membayangkan papan sasaran itu adalah wajah angkuh Naraku. Duk. Mati kau.
"Oke, itu bagus. Tapi busur dan sasaran bisa rusak jika kau emosional," tiba-tiba, entah darimana, Yona muncul. Ketua klub memanah yang banyak diidolakan junior, termasuk Kikyo dan Asahi.
Yona mencentang sesuatu di kertasnya. "Lanjutkan latihan. Dan, oh, aku harap kalian bisa meluangkan waktu untuk piket hari ini."
"Siap," Asahi dan Kikyo menjawab bebarengan. Yona mengacungkan jempol dan berlalu.
"Sudah lama aku tidak piket klub," Asahi mengira-ngira sambil memandang langit. "Dua minggu lalu?"
"Ha," Kikyo tersenyum kecil. "Aku lebih lama dari itu."
"Dasar curang!" seru Asahi. Gadis berambut sebahu energik itu meregang busur ke Kikyo. "Sini, kupanah kau!"
"Coba saja," Kikyo juga meregang busur ke Asahi. "Aku menang kau harus traktir aku minum!"
"Hiaat!" Asahi menjentikkan benang busur, pura-pura memanah padahal tak ada panahnya.
"Aduh!" seru Kikyo, memegangi lengan, pura-pura terpanah. "Uaah, sakit sekali!"
"Bodoh! Nggak ada panahnya!"
"Ooh."
###
3rd Floor, Painting's Club Room
Naraku memandang ke luar jendela. Klub sepakbola sedang bermain, begitu pula basket dan memanah. Tenis serta voli juga melakukan aktivitas klub mereka.
Dia sendirian di ruangan melukis ini, hanya ditemani kanvas-kanvas tanpa tuan dan kursi.
Sunyi. Ah, bukan. Tenang. Suasana yang pas untuk melukis sesuatu.
Naraku sedang mencari inspirasi untuk dituangkan ke kanvas di hadapannya. Siang itu cerah, seharusnya ia menemukan banyak objek bagus untuk digambar. Tapi rasanya tidak begitu.
Naraku sudah berpikir untuk membereskan kanvasnya dan keluar dari ruangan ini ketika matanya tertumbuk pada seorang gadis di lapangan memanah. Gadis itu mempunyai rambut panjang berwarna hitam yang diikat dengan pita putih. Dia sedang meregang busur sambil bicara dengan orang di sampingnya. Ekspresinya serius saat mengincar sasaran. Jarinya melepas panah dalam satu sentakan.
Seperti di drama-drama, rambutnya melambai ditiup angin saat panah itu melesat, lalu menabrak papan sasaran dengan bunyi rendah. Naraku memperhatikan gadis itu seakan terhipnotis.
Kikyo.
Begitu anggun dan… cemerlang.
Naraku duduk kembali di depan kanvas, memposisikan diri agar bisa melihat si objek di bawah sana. Perlahan ia menggoreskan pensil membentuk sketsa. Feelingnya terus berjalan.
Naraku memperhatikan Kikyo yang mengambil panah baru dari punggung, memasangnya di busur dan bersiap menembakkan lagi.
Kikyo, batin Naraku. Senyum itu terkembang lagi di wajahnya. Objek yang bagus.
Terutama… ekspresinya itu.
###
End of Archery Club Activities
Asahi menyapu basecamp memanah sambil buru-buru. "Oke, Kikyo. Aku benar-benar ada perlu, jadi aku hanya bisa piket sampai di sini. Aku sudah membersihkan ruangan, tapi sepertinya aku tidak bisa menyimpan panah-panah dan busur itu ke lantai 3. Aduh."
Kikyo menoleh. "Aku bilang tidak apa-apa. Sana, pulang."
"Oke, makasih!" Asahi melesat bagai angin.
Kikyo menatap kepergian Asahi lalu berpaling ke tumpukan panah dan busur di sudut ruangan. Ia melangkah ke situ dan mengambil tiga tas panah serta satu busur, mengalungkannya di lengan dan berjalan ke luar basecamp. Busur dan anak panah disimpan di lantai 3.
Gedung sekolah sudah tidak banyak orang, sedangkan di lapangan luar (terutama lapangan sepakbola) masih banyak murid-murid berkumpul. Kikyo melewati aula, menaiki tangga dan menapaki koridor lantai 3 sambil melihat-lihat kelas. Beberapa orang masih berada di kelasnya. Oh, ada yang dapat pelajaran tambahan.
Kikyo melihat jam di dinding ujung koridor. Sudah pukul 4, dia juga ingin pulang. Baiklah, lebih cepat lebih baik.
Tap tap tap tap. Kikyo menyadari sesuatu dan mundur beberapa langkah, menengok ke dalam ruang klub melukis dari kaca pintu. Naraku?
Dia diam di situ beberapa saat, memperhatikan Naraku yang duduk di dekat jendela, tekun di depan kanvas. Sinar matahari sore menyirami sisi samping tubuhnya yang berdampingan dengan jendela. Melukis apa dia? Di ruangan ini bahkan tidak ada seorangpun.
Lalu Naraku… eh?
Kikyo tercengang melihat sesuatu di wajah Naraku. Barusan, walau sebentar, laki-laki itu tersenyum!
Senyum yang tidak pernah dia lihat selama dia mengenal Naraku. Senyum yang tulus dan lembut, bukan senyum licik-sinis-mengejek menyebalkan miliknya yang biasa!
Apa yang dia lukis sampai bisa membuatnya tersenyum begitu?
TBC
YOSH! RnR please! Jangan pergiiiii, RIPIUW duluh!
~Balesan review
277mium: Buku apa? Nantikan kelanjutannya aja, ya. Syukurlah kamu bisa penasaran, fyuh. Makasih buat reviewnya!
Sekali lagi, RIPIUWWW!
