HASRAT CINTA

MASASHI KISHIMOTO

Pair : NaruHina

Genre : Romance

Rated : T+

Selamat Membaca

Chapter 2

"Anda paman Naruto?"

"Iyah itu benar, dan kau. . ."

Hinata akan memanfaatkan ini, "aku kekasihnya, selamat datang di kampus kami paman!" Hinata mengulurkan tangannya dan Iruka menyambutnya "aku tidak menyangka Naruto punya kekasih, apa kalian sudah lama berpacaran?" apa yang harus Hinata jawab, "tidak juga paman, Naruto orang yang sulit, sangat sulit!" Iruka tertawa pelan taoi terdengar menyenangkan, dia mulai menyukai pacar Naruto, "apa aku bisa bertemu dengannya saat ini?"

"Dia belum datang paman, jadwal kelas kami masih sekitar satu jam lagi, aku kesini karena ada keperluan, apa paman ingin bertemu Naruto. kenapa paman tidak langusng saja ke apartemennya?"

"Dia tidak memperbolehkan ku kesana!"

"Apa? Tega sekali dia, aku akan mengurusnya paman. Paman tenang saja, paman akan bisa mampir kesana!"

"Oh itu bagus. Dan akan lebih bagus lagi jika kita bertukar informasi, kau bisa bertanya apa saja pada paman mengenai Naruto dan paman meminta jadwal kuliah Naruto, sepakat?"

"Sepakat!"

Hinata tersenyum senang. beberapa menit sebelum masuk kelas Naruo datang dengan membawa ponsel Hinata. Saat itu dia sedang berada di kelas dan Naruto langsung menyerahkan ponsel itu, "terima kasih, apakah kau sudah menyingkirkan patung itu?"

"Belum!"

"Kenapa belum. Aku kan mau ke rumah mu!"

"Untuk apa?"

"Tidak bolah yah, aku kan ingin mengerjakan tugas bersama mu!"

Naruto tidak ingin menolak, tapi jika terus dituruti Hinata akan menjadi-jadi. Tak selang berapa lama setelah mata kuliah selesai Hinata tidak terlihat di mana pun, dan Naruto memang sangat khawatir. Sejak mengenal Hinata, disitulah dia menemukan titik kehidupan yang selama ini menjauh darinya. Sebuah hubungan, mungkin akan mengubah hidupnya, seperti yang dikatakan neneknya, dia membutuhkan teman hidup. Naruto tahu dimana Hinata berada, jadi dia tidak secepatnya mendatangi Hinata, dia ingin melihat apakah Hinata masih menunggunya atau tidak.

Ketika Naruto melangkah ke atas Rooftop disanalah Hinata berada, tertidur di kursi panjang dan sepertinya dia kedinginan. Seharusnya Naruto lebih awal datang, dia membuat kesalahan, dan hal ini tidak akan terulang lagi. Naruto menutupi tubuh Hinata dengan jaketnya, tapi Hinata terbangun, "kau belum pulang?"

Naruto menatapnya, "belum, aku baru saja mau pulang!"

"Mhhh, kau tidak mau menungguku kan, makanya kau mau pulang?"

"Kalau aku pulang untuk apa aku disini huh?"

"Kalau begitu. Aku ingin ke suatu tempat!"

"Tidak bisa, aku mau pulang!"

"Bawa aku. Aku tidak mau pulang!" kata Hinata. Naruto memang mengajak Hinata pulang tapi ke rumah Hinata bukan ke apartemennya. Hinata turun dari motor Naruto kemudian dia membanting helm Naruto dan meninggalkannya. Hinata menggerutu saat berjalan menjauh, "bahkan dia sama sekali tidak menghentikan ku, menyebalkan!" sementara itu Naruto hanya melihat kepergian Hinata dan tidak pula mengejarnya.

Keesokan harinya Hinata tidak ada di kampus dan Naruto tidak sekali pun bertanya pada teman-teman Hinata dimana dia berada. Hanya mengikuti pelajaran dengan pikiran yang melayang-layang, lalu tiba-tiba muncul kekhawatiran mengenai keberadaan Hinata saat ini. Saat di kantin Ino tengah berbicara dengan Hinata yang ternyata berada di mall, "aku bosan mengikuti pelajaran kenaikan inflasi dan sebagainya, aku sudah menguasai materi itu, jadi lebih baik aku belanja saja!"

"Ya ampun Hinata, kau memang keras kepala, aku yakin kau sudah menghabiskan setengah dari uang mu itu jika kau terus berada disana, ayo ke kampus, masih ada satu mata kuliah!"

"Aku tidak mau. Besok saja aku ke kampus, tapi aku sepertinya aku tidak akan mengikuti pelajaran, sampai jumpa besok!"

"Dasar!"

"Dia belanja banyak pasti!" kata Sakura.

"Yah begitulah!"

Dari pembicaraan barusan di kantin Naruto juga tidak mempedulikan satu mata kuliah terakhir, dia melenggang pergi dan menyusul Hinata. Toh akhirnya dia peduli juga, dasar Naruto. saat sampai di mall, Naruto melihat Hinata dengan semua belanjaan yang ia bawa, lalu beberapa orang memasukan belanjaan itu ke mobil, sepertinya itu pengawalnya, sama seperti Naruto yang juga mempunyai beberapa pengawal. Mendekati Hinata dan terkejut karena sepertinya dia tidak sama sekali marah, "Naruto!" malah, Hinata memanggilnya dan menggandeng lengan Naruto. menyuruh pengawalnya pergi dan mengajak Naruto masuk ke dalam.

"Bukankah kau sudah berbelanja, kau mau belanja lagi?"

Hinata mengangguk, "kali ini kau yang harus membelikannya untukku!" kata Hinata dengan nada semangatnya. Sementara itu Naruto hanya memutar mata dan menuruti permintaannya. Tak tanggung-tanggung, yang diminta hanyalah beberapa makanan berat, spagheti, burger, hotdog dan kentang goreng, makanan-makanan tidak bergizi menurut Naruto. Dia tidak ikut makan, hanya melihat Hinata dan lahap memakan makanan itu, "kau pasti khawatir dengan ku bukan?" sambil mengunyah burgernya, "aku sudah menduganya . . . um, tolong elap bibirku!" dan Naruto melakukannya. Hah dasar.

"Aku ingin makan sosis bakar, belikan!" Hinata menunjuk ke arah toko. Naruto bergegas ke toko lalu membeli beberapa potong sosis, dan mulailah Hinata memakannya secara bersamaan dengan hotdog, "kenapa tidak makan, kalau begitu aku akan menghabiskannya!" dia benar-benar tidak tahu malu, makan dengan lahap seperti itu didepan seorang pria. Hinata menyuruh Naruto mengelap bibirnya sekali lagi, dan sepertinya Naruto terlihat senang melakukannya walau Hinata tak bisa menangkap tanda-tanda itu.

Sebenarnya ingin sekali Naruto tertawa melihat kelakuan Hinata yang seperti anak kecil, dia tidak pernah bertemu dengan wanita yang seperti Hinata, "kau tidak takut gemuk?" akhirnya Naruto bertanya, Hinata mendongak dan menatapnya, "apa? Kau tidak suka kalau aku gemuk? Gawat. Bagaimana ini, aku hampir menghabiskan semuanya!" Hinata gelagapan dan berhenti memakan spagheti yang sausnya bertebaran diantara bibir atas dan bawahnya.

Naruto mengelapnya dan berkata, "habiskan makanan mu, kau tidak akan gemuk hanya dengan memakan ini!" lalu Hinata pun menurut dan menghabiskan semuanya. Beberapa jam kemudian dia meminta minum, "cola, ah tidak jus jeruk saja. . . tapi tidak, tidak, aku mau eskrim. Dan setelah itu kita ke bioskop, oke!" apapun yang dikatakannya Naruto menuruti. Entah mengap aku menurutinya, batin Naruto, tapi aku berpikir baru pertama kali aku melakukan ini untuk seorang wanita yang tiba-tiba datang dan mulai merubah hidupku, perlahan namun pasti.

Perasaan sepi yang ku alami bertahun-tahun, kini sedikit demi sedikit terisi dengan kehadiran sosok wanita idaman, wanita yang tak disangka-sangka adalah letak dasar dimana hasrat untuk memiliki ada pada diri Hinata. "kalau menonton film, pasti seru jika horror. Tapi kali ini aku ingin menonton kisah cinta, yah, ayo!" sifat pemaksanya membuat Naruto luluh, sifat manja yang berlebihan itu membuat Naruto menurut, dan menurut Naruto, itulah gairah hidup yang selama ini ia cari dan ia ingin miliki, "kau tidak mau tahu kemana aku semalam?" tanyanya pada Naruto yang tengah fokus menonton film.

"Tidak!" jawabnya singkat.

"Ya ya ya, meskipun kau tidak bertanya kau pasti tahu aku dimana kan, iya kan, jawab aku, Naruto!"

Naruto menoleh ke arah Hinata, "aku tahu, sekarang nikmati filmnya!" kata Naruto. Hinata tersenyum dan kembali ke layar, "baguslah, kalau kau mencariku, kau pasti tahu aku dimana!" Hinata yakin itu. Dan benar juga keyakinannya, Naruto memang menduga bahwa semalam Hinata menginap di hotel, salah satu tempat favoritnya. "waah, mereka berciuman, romantis sekali!" kata Hinata lalu menoleh ke arah Naruto, "kau tahu, saat aku mencium mu didepan rumah ku, itu adalah ciuman pertama ku. Aku bilang padamu bahwa hanya kau satu-satunya, mengerti?"

"Kenapa harus aku?" Naruto menoleh ke arah Hinata, "karena aku mencintai mu!"

"Semudah itukah kau mengatakannya. Kau tidak tahu siapa aku, dari mana asal ku, kedua orang tuak dan semuanya, apa kau tidak takut kalau pada akhirnya aku akan meninggalkan mu?"

"Kurasa tidak, aku percaya pada mu!" Naruto tertegun, "kenapa?" tanya Naruto.

"Karena kau kaya, aku tahu siapa paman mu, orang tua mu, perusahaan mu. Semua itu bisa aku cari di dunia maya, dan mudah sekali menemukan mu. Sama mudahnya dengan kau menemukan ku. Kita berdua bukankah cocok, sama-sama kaya!"

"Hanya itu?"

"Kalau aku menjelaskan semuanya disini, itu tidak romantis!" kata Hinata sambil berbisik.

Malam itu mereka menghabiskan waktu berjalan-jalan sampai larut malam, dan ketika dua-duanya pulang ke rumah masing-masing, mereka saling membayangkan kebersamaan singkat itu, menyenangkan, hingga tersenyum-senyum sendiri didalam kamar dan bergelung di tempat tidur, "entah mengapa Naruto, kau tiba-tiba datang, dan aku mencintai mu. Aku pun bertanya-tanya dari mana cinta ini berasal. Yang pasti, hasrat untuk memiliki mu begitu besar hingga aku gelap mata dan tidak mengindahkan kemungkinan yang akan terjadi, apapun itu!"

Hinata sadar dengan apa yang dikatakannya, jika semakin jauh hubungan yang mereka jalani maka akan semakin bertekad pula bagi Hinata untuk menyerahkan segalanya pada orang yang ia cintai itu, cinta bahkan jiwanya akan ia serahkan. Hanya untuk memenuhi hasrat cinta yang tiba-tiba hadir tanpa tanda-tanda. Keseriusannya terhadap Naruto untuk membangun sebuah hubungan, membawanya pada tindakan yang mungkin saja belum pernah ia lakukan. Cinta itu bisa membutakan segalanya. Dan Hinata tahu itu.

Keesokan harinya menjelang siang, kini banyak kerumunan yang sudah memadati aula utama. Kontes kecantikan yang diadakan jurusan sastra ternyata mengundang banyak tamu dari luar untuk berantusias melihat pertunjukan yang menurut Hinata sangat fantastis, "kenapa mengajak ku kemari, kenapa bukan teman-teman mu!" kata Naruto. selama di kelas Hinata menuggu Naruto dan mengajaknya ke kontes ini, dia ingin melihatnya bersama Naruto, "mereka disana, ayo!"

Sakura dan Ino melambaikan tangan. Hinata duduk di samping mereka dan Naruto menyusul duduk disamping Hinata. Melihat para mahasiswi yang berlenggak lenggok di catwalk, membua Hinata bertepuk tangan ria, "lihat, itu Temari, waah dia cantik sekali, keren!" Hinata memuji semua orang itu, sementara Naruto hanya memperhatikannya, dia juga pantas dipuji, batin Naruto. Naruto menghela napas, "kenapa kau tidak ikut?" tanya nya, yang ditanya menoleh, "karena jika aku ikut, aku yang akan menang, jadi aku memberi kesempatan pada mereka dengan tidak mengikuti lomba ini!" dengan pedenya dia mengatakan hal itu.

Naruto hanya tersenyum tipis, tentu saja, kau yang akan menang, batinnya. Setelah melihat semua sudah melakukan pertunjukannya masing-masing kini saatnya pengumuman pemenang, "lihat Shion, aku kira mereka benar-benar berpacaran, lihatlah!" saat semua orang tengah menanti pengumuman, Shion malah bergumam licik, "dia pikir hanya dia yang bisa merayu, aku juga bisa, dasar murahan!" cibirnya.

Selesai pengumuman pemenang ternyata Temari mendapat juara ketiga, dia mendapatkan uang yang lumayan besar, dan uang yang ia pinjam dari Hinata kini sudah dikembalikan. Sayang sekali dia tidak bisa mendapatkan hadiah pertama yaitu berlibur dipantai, "kalau aku ikut lomba ini, aku pasti dapat juara pertama, tapi berlibur di pantai sepertinya biasa-biasa saja!" kata Hinata yang tengah berjalan didepan Naruto, "itu mungkin karena kau terlalu sering ke pantai!" Hinata berhenti berjalan dan berbalik menghadap Naruto, "tidak, aku baru satu kali ke pantai saat SMA, itu mungkin yang pertama dan . . . terakhir."

"Kenapa?"

"Aku pernah terbawa ombak, aku masih trauma!" ujarnya.

Naruto menatapnya penuh cemas, sangat jelas terlihat di matanya. Hinata senang dan dia tersenyum, "jadi jangan ajak aku ke pantai mengerti, ajak saja aku pergi ke gunung atau kebun binatang, atau mungkin kau bisa mengajakku ke tempat dimana hanya ada salju dan pepohonan lebat, dimana pun itu, aku suka asal jangan di laut!" katanya dengan senang. "aku tidak akan mengajak mu kemana-mana, menghabiskan banyak uang bukanlah identitas ku!" kata Naruto lalu melenggang pergi meninggalkan Hinata yang menganga, lalu menutupnya dan menyusul Naruto.

Beberapa bulan terakhir dengan kemajuan hubungan antara dirinya dan Naruto membuat semua orang di kelas bahkan seisi kampus iri dengan mereka. Padahal mereka tidak tahu, bahwa sampai sekarang pun Naruto tidak pernah menyatakan cinta pada Hinata. Tapi Hinata terus berjuang agar dia diakui dan mendapatkan pernyataan cinta dari Naruto, biarlah semua orang tidak tahu akan hal ini, biarkan mereka menduga bahwa Naruto mencintainya.

"Kali ini study tour nya agak berbeda yah Ino?"

"Iyah kau benar!"

"Beda kenapa?" tanya Hinata.

"Sekarang kau akan menghabiskan banyak waktu dengan pacar mu itu, dan melupakan kami berdua!"

"Ooh itu. Tentu saja aku akan menghabiskan banyak waktu dengan Naruto. tapi . . . kenapa aku harus lupa dengan kalian berdua, kalian kan sahabat ku, aku tidak akan mungkin lupa!" Hinata tersenyum dan kedua temannya ikut tersenyum dan mereka saling berpelukan, "lihat, apa yang akan dilakukan pacar mu!" Hinata melihat Naruto berjalan menjauh dari kerumunan, "aku akan menyusulnya, sampai nanti!" kata Hinata. Dia mengejar Naruto yang memasuki pintu lain museum yang sedan mereka kunjungi, kali ini study tour nya tidak hanya terpaku pada jurusan mereka, tapi akankah lebih baiknya mereka juga mengenal pelajaran lain, sejarah.

"Naruto!" panggil Hinata dan menggandeng tangannya.

Naruto melepaskan tangan Hinata, "jangan mengganggu, aku tidak akan berkonsentrasi jika kau menggangguku!"

"Apa? Jadi maksud mu aku mengganggu begitu?"

Hinata memanyunkan bibirnya, dia hanya terdiam mengikuti Naruto dari belakang. Hanya melihat Naruto dan mengabaikan semua benda-benda bersejarah itu, "Kiba!" tiba-tiba Hinata mengucapkan nama seseorang. Naruto langsung berpaling dari kerangka fosil hewan purba dan melihat Hinata dan seseorang saling mendekat, "Kiba, bagaimana kabar mu?" kata Hinata. Pria yang disebut Kiba itu memeluk Hinata sekilas, hal yang tidak pernah Naruto lakukan. Lalu, timbul rasa cemburu.

"Aku baik, bagaimana dengan mu, kenapa kau ada disini?"

"Aku baik, aku sedang mengadakan study tour."

"Lalu siapa dia?" tunjuk Kiba pada Naruto, Hinata menarik Naruto dan mengenalkannya, "ini pacar ku, namanya Uzumaki Naruto!"

"Aku bukan pacarnya, permisi!"

Hinata melebarkan mulutnya tidak percaya, berani-beraninya dia mempermalukan Hinata didepan Kiba, "waah, aku tidak percaya kau ditolak mentah-mentah, berani sekali dia. Kalau aku, aku tidak akan menolak mu Hinata. Aku akan sangat mencintai mu dan memberimu kasih sayang ku, selamanya!" kata-kata Kiba membuat Hinata tersenyum-senyum, lalu dia melihat Naruto yang berdiri terdiam lalu pergi. Dia puas sekarang.

Sementara itu Naruto terlihat kesal dan meremas kertas yang sedang ia pegang, pengecut. Lain dibibir lain dihati, itulah dia.

Melihat Hinata yang masih bersama pria itu membuat Naruto ingin melakukan sesuatu. Dia menyentuh tombol untuk memanggil Hinata tapi dihentikan, mengirim pesan, tapi tidak jadi. Lalu apa yang harus ia lakukan, sialan!

"Kalau begitu, aku pergi dulu Kiba, sampai jumpa!"

"Kampai jumpa Hinata, hubungi aku yahh?"

"Baiklah!" Hinata berlalri menyusul Naruto yang semakin jauh memasuki museum, dia mencari-cari Naruto yang ternyata sedang berdiri dihadapan patung. Hinata terkejut, lalu mulai menjauh, Naruto mengikutinya dari belakang, Hinata menyentuh dadanya yang berdegup kencang, takut.

Dia berhenti dan Naruto ikut berhenti, lalu mendekatinya dan menatapnya, "aku takut pada patung, kenapa kau berdiri tepat didepannya, jantung ku hampir copot tadi!"

"Kenapa kau mengikuti ku hah? Habiskan saja semua waktu mu bersama pria itu, dasar!"

Hinata menatap Naruto sambil menyipitkan matanya, "kau cemburu yah, ayolah, jujur saja, jangan malu!" Naruto terkekeh, "malu? Cemburu? Yang benar saja! Aku tidak cemburu, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, habiskan waktu mu bersamanya!"

"benarkah? Baiklah kalau begitu!" kata Hinata sambil berlalu, tapi Naruto menghentikan langkah Hinata dengan memegang lengannya dan menarik Hinata mendekat, sampai tidak ada jarak yang memisahkan, "lihat, kau benar-benar cemburu!" kata Hinata dengan lembut.

"tidak. Aku hanya ingin memberitahu bahwa kita harus kembali secepatnya!"

"bohong!" kata Hinata, dia semakin mendekatkan wajahnya dengan Naruto, "kau cemburu!" kata Hinata sekali lagi dan mencium bibir Naruto. tangan yang satunya menyentuh rahang Naruto untuk memperdalam ciuman, dan dalam sekejap dia melepaskannya dan memandang mata Naruto yang tidak pernah Hinata mengerti jika berhubungan hal-hal yang intim seperti ini. Mungkin nanti, saat Naruto sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi, itu mungkin.

"Ayo pergi!" kata Hinata sambil bergandengan tangan dan menarik Naruto yang jalan dibelakangnya.

~~~~~########~~~~~

"Apa kau belum pernah dimarahi oleh ku huh? Berani-beraninya kau melawan ku, kau bukan siapa-siapa disini, posisi mu tidak lebih tinggi dariku!"

"Aku menyadarinya Shion, minggir, aku tidak mau berurusan dengan mu!"

"Tunggu!"

Awww.. Shion menarik tangan orang itu dan menggenggamnya sangat kencang, "lepaskan Shion!" Shion menoleh ke arah suara, "ooh kau lagi, kau lagi. Kau selalu menjadi benalu bagiku Hinata, menyingkirlah dan jangan ikut campur lagi urusan ku, mengerti?"

"Tidak, aku tidak akan membiarkan mu, lepaskan dia!" Hinata melepaskan paksa dan menyuruh orang itu pergi, "terima kasih Hinata!" katanya. Lalu meninggalkan Shion dan Hinata, "sadarlah Shion, kau sudah mempunyai musuh yang sepadan yaitu aku, apa aku kurang . . ."

"Iyah, kau punya banyak kekurangan, itulah sebabnya aku aku membenci mu!"

Kata-katanya itu adalah kebalikannya, kekurangan berarti kelebihan. Hinata mempunyai banyak kelebihan dan itulah yang membuat Shion membencinya, "kita sudah bersama-sama selama beberapa tahun ini, susah senang kita hadapi karena kita sama-sama tahu bahwa kita satu jurusan dan selama beberapa tahun ini sudah banyak sekali kegiatan dan sudah kita jalani bersama-sama, masihkah kau membenciku Shion?"

"Tentu saja, jika kau masih terus berada dalam penglihatan ku, aku masih terus membenci mu!"

Shion hendak pergi meninggalkan Hinata tapi Hinata menarik tangannya, "lepaskan aku!" kata Shion dan tiba-tiba Hinata terdorong kebelakang, hampir saja terjatuh kalau Naruto tidak menangkapnya, "bagus, sekarang kau sudah mempunyai pelindung, selamat!" kata Shion lalu pergi. Hinata menghela napas tidak percaya, sudah beberapa tahun mereka satu jurusan, dan itu tidak mudah. Mengingat belum ada kata pertemanan antara mereka, "Naruto, terima kasih, kalau saja kau tidak menahan ku aku pasti terjatuh!"

"Aku pasti tertawa melihatnya!"

"Apa?" Naruto melewati Hinata, "tunggu!" kata Hinata, lalu Naruto pun terdiam, "sekarang berbaliklah!" dan entah mengapa Naruto pun menurut. Hinata benar-benar yakin bahwa Naruto sebenarnya sangat peduli padanya, setiap permintaan dan perintahnya selalu Naruto turuti, "paman mu. . . aku bertemu paman mu di kampus, dia bilang ingin bertemu dengan mu tapi kau belum datang, aku menyarankan dia agar ke apartement mu saja dan dia mungkin sedang menimbang-nimbang sekarang, atau mungkin dia sedang di apartement mu sekarang. Aku yakin kalau dia itu sangat merindukan mu, dan aku yakin kalian jarang bertemu, apa kalian sudah berpisah sangat lama, berapa lama?" Hinata terdiam saat kata-kata berhenti dan menatap Naruto sambil tersenyum.

"Apa kau sudah selesai berpidato?"

"Kurasa begitu, tapi itu bukan pidato, aku hanya . . ."

Naruto menarik tangan Hinata dan membawanya ke kelas, hal itu menghentikan kata-katanya, tapi sekarang ia tersenyum senang dan memekik terkejut karena tindakan Naruto yang tiba-tiba. Seharusnya dia mengunjungi pamannya setelah berbulan-bulan di kota, tanpa satu kali pun ia berpikir untuk mengunjungi pamannya. Beberapa jam berikutnya setelah mata kuliah selesai Naruto bergegas pergi, beberapa teman lelakinya mengajaknya keluar untuk bersenang-senang tapi dia menolak. Saat tahu Hinata akan ikut dia juga berubah pikiran, "lihat, itu karena aku ikut, kalau saja aku tidak ikut mungkin dia juga tidak."

"Ya ya Hinata, kau sudah membuktikannya, tapi tetap saja Naruto tidak menganggap mu pacarnya, dan kau bilang dia juga belum mengatkan cinta pada mu!"

"Itu benar, kau harus mendapatkan kata cinta darinya, kalau kau mau kami anggap sudah mempunyai kekasih!"

"Kalian benar-benar penguji yang egois, setidaknya aku kan sudah membuktikan hal ini, masih saja kurang!" gara-gara Naruto tidak pernah mengucapkan kata cinta dan dia bilang bahwa Hinata bukan pacarnya, hal itu menjadi rumit sekarang karena tidak adanya status diantara mereka. Apapun yang terjadi dan bagaimana pun hubungan mereka, Hinata tetap menganggapnya kekasih, setidaknya Naruto sudah tahu kalau Hinata mencintainya, entah sejak kapan. Hinata tersenyum-senyum sendiri saat semua temannya bersenang-senang, "aku mau pulang!" kata Hinata tiba-tiba, "bisakah kau mengantar ku pulang?" katanya pada Naruto.

Naruto menuntun Hinata karena sepertinya dia sedikit mabuk, "baiklah, kalian hati-hati dijalan!" kata Ino. Hinata menaiki motor Naruto dan dalam perjalanan ia berpegangan sangat erat, tahu bahwa Hinata sedikit mabuk Naruto membawa motornya secara perlahan. Ketika ia sampai di rumah Hinata, disana tidak ada satu pun keluarga yang menyambut, hanya beberapa orang pelayan dan pengawal yang berjejer disetiap rumah, "kamar nona Hinata ada diatas tuan. . ."

"Naruto!"

"Ooh tuan Naruto, silahkan lewat sini. Saya akan mengambil air minum . . ."

"Tidak perlu, kalian beristirahat saja!"

Kata-kata itu ajaibnya dituruti. Naruto membawa Hinata ke atas dan membaringkannya di tempat tidur, Hinata mengerang karena kepalanya sakit, "kau tidak apa-apa, apa kau mau minum?" tanya Naruto. "tidak, aku . . . kau belum pulang, apa kau mau menginap disini?" tanya Hinata.

"Tidak. Aku akan pulang kalau kau sudah sadar!"

"Tunggu!" ketika Naruto hendak pergi Hinata menarik tangannya hingga Naruto terduduk kembali, "setidaknya biarkan aku tidur dulu, baru kau pulang, yah?" Naruto menurutinya dan Hinata memeluknya. Sampai beberapa menit dan Hinata belum tidur, masih berpelukan dengan Naruto, "aku pikir hidupku akan selalu sepi, kau lihat kan rumah ku, begitu besar dan megah, tapi tidak ada satu orang pun yang menghuni, ayah, ibu atau pun keluarga ku yang lain. Hanya ada pengawal dan pelayan, yang semuanya tidak bisa membuat ku nyaman, karena mereka bukan siapa-siapa bagiku, tapi ketika kau datang, aku selalu memperhatikan mu, dan sampai pada titik ini, aku tahu kau juga kesepian seperti ku, tapi kau masih mempunyai orang yang menyayangi mu, paman mu!"

"Ketika kau datang dalam hidup ku beberapa bulan ini, aku merasa ada warna baru yang menghiasi hidupku, hari-hariku disaat melihat mu adalah sebuah anugerah. Aku berpikir apakah kau datang untuk diriku, atau aku diri mu, aku tidak tahu yang mana, yang pasti aku memilih mu untuk aku cintai, andai kau tidak datang, aku pasti masih sendiri!"

"Bagaimana dengan teman mu?"

"Teman yang mana?" tanya Hinata sambil menatap Naruto, "kau tahu yang mana?" kata Naruto

Mungkin Kiba, pikir Hinata. "ooowh, dia hanya teman semasa SMA, kami memang dekat, tapi kami tidak punya hubungan apa-apa!" kata Hinata meyakinkan Naruto, "kakak ku selalu datang saat pergantian semester, dan itu masih lama, aku rasa kau harus memantapkan dirimu untuk bertemu dengannya!"

"Untuk apa aku bertemu dengannya?"

"Kau kan pacar ku, kau harus bertemu dengannya!"

"Kurasa aku tidak pernah mengatakan aku menembak mu, atau mengatakan cinta!"

"Iyah aku tahu. Tapi yang harus kau ketahui lebih dulu adalah, bahwa aku tahu kau juga mencintaiku, benarkan?"

"Aku harus pulang!"

Hinata semakin mengeratkan pelukannya, "jangan coba-coba pergi dari kamar ku!" ancam Hinata, dia juga menarik Naruto hingga ke tengah ranjang tanpa melepaskan pelukannya, hingga akhirnya Hinata menindih Naruto, "setidaknya, aku terbuka pada mu, tapi tidak dengan laki-laki lain!" ujar Hinata dan mendaratkan ciuman di bibir Naruto. Naruto hanya terdiam, saat Hinata lah yang mendominasi, dia dan Hinata sudah jauh melangkah, hubungan tanpa status tidak berarti apa-apa bagi Hinata atau pun dirinya. Sudah tahu akan rasa cinta mereka masing-masing dan meskipun Naruto tidak mengungkit-ungkit cinta, Hinata tetap percaya bahwa dirinya mencintai Hinata,.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Naruto sambil menghentikan Hinata. Naruto mengangkat Hinata dan membantingnya ke sisi lain tempat tidur, "awww!" teriak Hinata, "kau kasar sekali, sakit!"

"Apa pantas wanita melakukan hal itu, kau mau berbuat mesum padaku huh?"

Hinata tersipu malu, dan menggigit bibir bawahnya, "aku hanya melakukan yang seharusnya dilakukan sepasang kekasih!"

"Aku tidak melaukan hal itu!"

"Kau tidak. . . haaahhh," Hinata menutup mulutnya yang menganga, "jangan-jangan, kau. . . kau tidak menyukai wanita yah?"

"Hey, bagaimana mungkin, aku bukan laki-laki seperti yang kau bayangkan!"

Hinata bernapas lega, "syukurlah kalau begitu, tapi apakah kau tidak pernah berciuman sebelumnya?"

Naruto menatap Hinata, "kau sepertinya yang tidak pernah berciuman sebelumnya!" kata Naruto.

Hinata membalas tatapan Naruto, "aku memang belum pernah berciuman!" lalu dia mendekatkan wajahnya ke telinga Naruto, "dan saat aku mencium mu untuk pertama kalinya, itu adalah ciuman pertama ku!" Hinata tersenyum dan menjauhkan diri dari Naruto, "kau sepertinya kehilangan gairah dalam hidup mu Naruto, hingga kau membenci hal-hal seperti itu, bukankah aku disini, untuk mu!"

"Kau seharusnya mengenalku lebih dulu. . ."

"Aku tahu, semuanya. Aku sudah bertanya pada paman mu, dia juga akan datang ke apartement mu besok, aku akan menyambutnya!"

"A-apa, kapan dia bilang pada mu?"

"Sebelum kita jalan-jalan tadi siang, dia mengirim sms pada ku, pokoknya kau tenang saja, aku akan membantu mu besok, aku tahu masalah apa yang sedang kau hadapi!"

Naruto menghela napas berat, bagaimana mungkin seseorang tahu masalah pribadinya. Apakah pamannya tidak berpikir sebelum memberitahu Hinata, "kau jangan menganggap ku orang lain, aku sudah bilang pada paman mu kalau aku adalah pacar mu, dia percaya padaku. Dan seharusnya kau juga percaya padaku!" katanya, lalu membuka pintu kamar, "pulanglah. Lain kali kau kesini, aku tidak akan menyuruh mu pulang!"

"Terserah kau saja!"

"Baiklah!"

"Dan jangan lakukan itu lagi!"

"Melakukan apa?"

"Mencium ku tiba-tiba. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi jika seorang pria bangkit dari gairahnya!"

"Oooh kau tenang saja, aku siap menanggungnya!" kata Hinata sambil tersenyum nakal. Dia memperhatikan Naruto yang turun melalui tangga, "apa dia yakin dengan kata-katanya itu, menggelikan!" gumam Naruto. andai Hinata tahu bahw dirinya selalu menahan dorongan untuk membalas semua yang Hinata lakukan, terutama ciuman-ciuman yang tak terduganya. Mengingat apa yang dikatakan Hinata, kehilangan gairah, dia mungkin tidak pernah sekali pun memiliki gairah atau pun hasrat, tidak sebelum Naruto bertemu Hinata.

Setelah Hinata hadir dalam hidupnya, entah hasrat apa yang kini menggebu dalam hati dan pikirannya. Tujuan hidupnya hanyalah untuk memenuhi keinginan neneknya, tapi sekarang semua itu telah menyimpang dari jalan yang seharusnya ia tempuh. Kini Naruto berubah haluan, bukan hanya untuk neneknya, tapi juga kini untuk dirinya sendiri, tujuan barunya, cinta.

Naruto tidak akan ragu sedikit pun. Sejak pertemuannya dengan Hinata di taman, sejak saat itu Naruto sadar bahwa hidupnya akan berubah dengan hadirnya Hinata, yah, Hinata akan menghiasi hidupnya yang sepi, dan mereka akan berbagi kesepian satu sama lain. Menciptakan keramaian diantara kesepian itu, Naruto akan melakukannya.

^^Bersambung. . .^^