Mansion Uchiha
By : F.Y.-chan~ :v
Disclaimer : Om Masashi Kishimoto :v
(Because, all of character are belongs to this Uncle)
The story is MINE
Pair: SasuHina (~slight~ ItaSaku)
Warn: OOC, AU, and other weakness.
So, Don't Like Don't Read~! Arigatou!^^
Chapter 2
Hinata's House, 5.00 A.M.
Kring... Kring...
Kring– Tep!
"Ngh..." Lenguhan Hinata yang baru saja bangun terdengar. Perlahan Ia membuka matanya dan seketika tersenyum, mengingat mulai hari ini dan dua bulan kedepan, Ia akan pulang ke kampung halamannya, Jepang.
Tok... Tok...
"Nyonya Hinata, apa kau sudah bangun?" Terdengar suara seorang pelayan di rumah Hinata. Ia berniat masuk tapi Pintu kamar Hinata terkunci.
"Sudah, Ayami. Kau siapkan saja sarapanku."
"Ha'i."
Setelah si pelayan pergi, Hinata bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap.
~^^Mansion Uchiha^^~
~oOo~
Hinata menuruni anak tangga untuk segera sarapan. Long coat abu-abu yang dipakainya sangat cocok untuknya. Ditambah dengan boot hitam, para pelayan yang sudah menunggu hanya bisa mengagumi Hinata tanpa berkata-kata.
Hinata tersenyum kepada seluruh pelayan dan duduk di meja sarapan bersama kedua orang tuanya.
"Ohayou, Kaa-san, Tou-san." Ucap Hinata kemudian duduk setelah mencipika-cipiki kedua orang tuanya.
"Ohayou, Hinataku... Kau sangat cantik hari ini." Puji Hikari yang tak lain adalah ibu Hinata.
"Jadi, kau akan pergi ke Jepang?" tanya Hiashi, ayah Hinata, yang baru saja menyeruput kopi paginya.
"Hm," Hinata mengangguk. "Jangan khawatir, Tou-san. Aku hanya dua bulan disana." Jawab Hinata tersenyum.
"Siapa yang akan menemaniku besok? Hanabi sudah pergi ke luar negeri untuk kuliah. Dan anakku yang tersisa satu-satunya malah pergi. Malangnya aku sebagai seorang ibu." Ucap Hikari sambil menyuap roti yang mendapat kekehan kecil dari Hinata.
"Jangan berlebihan, Kaa-san. Aku tidak akan lama. Lagipula, mana mungkin aku meninggalkan keluarga tercintaku disini, ya kan, Tou-san?" Tanya Hinata dengan tampang imut yang sengaja dibuatnya.
"M-mana kutahu. Mungkin saja kau akan pergi setelah menemukan calonmu disana, ya kan, istriku?"
Hikari mengangguk membenarkan perkataan suaminya. Hinata yang mendengarnya tiba-tiba teringat akan hal yang dikatakan Sakura tadi malam. "Tapi, Tou-san, jika aku memang bertemu dengan jodohku disana, bagaimana?"
"Pfft!" Hiashi mendadak menyemburkan kopi panas yang ada di hadapannya. "Apa kau kesana memang berniat untuk mencari jodoh?"
Hinata kaget. "B-bukan, Tou-san. Kan jika aku menemukannya. Lagipula, mana aku tahu, jika jodohku tiba-tiba datang menghampiriku, apa aku harus menolaknya? Tidak, 'kan?"
"Istriku, lihatlah. Anak kita sudah besar. Aku tak sabar ingin menggendong cucu pertamaku." Canda Hiashi yang lagi-lagi disambut anggukan oleh Hikari.
"S-sudahlah. Aku sudah kenyang." Hinata memasang wajah marahnya.
"Woo... ada yang marah, tuh." Hikari memanas-manasi. "Sudahlah, Hinata. Kau ini mau pergi, jadi jangan marah dengan kedua orang tuamu. Nanti kami bisa semakin sedih, lho."
Hinata memang berpura-pura, tapi dalam hati Ia pun membenarkan. "Tou-san, Kaa-san..." Panggilnya.
"Kenapa? Kau takut?"
Hinata mengangguk. "Aku belum terbiasa naik pesawat. Bagaimana nanti?"
Hikari tersenyum mengelus rambut anaknya. "Tenang saja. Tak apa-apa. Nanti juga kau akan terbiasa."
"Ya, Kaa-san."
~^^Mansion Uchiha^^~
~oOo~
Grrk...
Hinata sampai di Denvert Intrenational Airport sambil membawa serta kopernya. Ia berjalan menuju ruang tunggu dan duduk disana.
"Ukh, capek." Ucapnya sesaat setelah berhasil mendudukkan diri.
"A-ano... permisi." Baru saja Hinata terduduk, seorang gadis seusianya datang dan ikut nimbrung di sebelahnya.
"Ya?"
"Apa kau juga akan pergi ke Jepang?" Tanya gadis bersurai kuning itu lembut.
"Ah, ya. Apa kau juga akan kesana?" Tanya Hinata balik.
"Begitulah..." jawabnya tersenyum. "Namaku Ino. Yamanaka Ino."
Hinata menjabat tangan Ino. "Namaku Hyuuga Hinata."
"Oh, begitu. Hyuuga-san, apa kau–"
"Tidak. Panggil saja aku Hinata. Jangan panggil aku formal seperti itu."
"Oh, gomen. Jadi, Hinata-san, apa kau tinggal di sini?"
"Ah? Begitulah..." Jawab Hinata sekenanya. Jujur saja, Ia merasa risih saat ini.
"Kalau begitu, siapa keluargamu yang berada di Jepang saat ini?"
'K-kenapa dia cerewet sekali?' Batin Hinata. "I-itu... Aku hanya mengunjungi temanku."
"Good afternoon, Passengers. This is the pre-boarding announcement for flight DL 611 to Japan. We are now inviting those passengers with small children, and any passengers requiring special assistance, to begin boarding at this time."
"Ah, pesawatnya mau berangkat. Ayo." Ajak Hinata yang dibalas anggukan oleh Ino.
~^^Mansion Uchiha^^~
~oOo~
"Dimana Sakura?" Gumam Hinata sesaat setelah pesawat yang Ia tumpangi sampai.
Ia melihat-lihat sekelilingnya, barangkali Sakura ingat untuk menjemputnya. 'Tidak. Dia harus ingat!' Batin Hinata.
Sepuluh menit telah berlalu, dan Hinata sama sekali tidak mendapati Sakura disana.
"Bagaimana ini? Dimana Sakura–"
Tep.
Deg! Hinata merasakan ada orang yang menepuk pundaknya. Lalu ia menghadap belakang berharap itu Sakura. Tapi...
"I-ino?" Hinata mengernyit. " Kenapa kau kesini? Apa kau juga tidak ada yang datang untuk menjemputmu?" Nihil. Pupus sudah harapan Hinata untuk bertemu Sakura.
"Ano... Kurasa begitu." Ucap Ino dengan tampang cemas.
Hinata curiga. Jangan-jangan, Ino memang tidak punya keluarga disini dan ingin pergi dengan–
"Ino!" Belum sempat menyelesaikan dugaannya, seseorang memanggil dan mengampiri Ino.
"S-Shikamaru?! Apa ini kau?! Kyaa! Akhirnya kau menjemputku juga!" Ucap Ino sambil memeluk pemuda yang dipanggilnya Shikamaru itu. Ino melepas pelukannya. Shikamaru menatap Hinata bingung.
"Ino, setahuku kau tidak punya teman seperti dia, 'kan?"
Jleb!
Kata-kata itu tampaknya terlalu menyinggung perasaan Hinata saat ini. "S-shika, dia ini temanku. Aku baru mengenalnya saat kami sedang berada di Amerika." Jelas Ino.
"Oh. Jadi, siapa namamu?"
Hinata cukup terkejut saat Shikamaru menanyakan namanya. Melihat Hinata linglung, tanpa pikir panjang Ino memperkenalkan diri masing-masing. "Biar aku saja. Shika, ini Hinata. Dia adalah teman baruku. Dan Hinata, dia adalah Shikamaru, sepupuku."
"Jadi, namamu Hinata? Tidak buruk juga."
Bletak!
"Akh! Kenapa kau menjitakku, Ino?!" Shikamaru meringis memegang kepalanya yang cenat-cenut.
"Maafkan dia, Hinata-san. Dia memang seperti ini orangnya. Kumohon, maafkan."
"Eh, tidak apa-apa, Ino." Sahut Hinata tiba-tiba saat Ino malah membungkuk meminta maaf.
"Cih. Kenapa kau malah meminta maaf padanya? Ada-ada saja."
"Shika..."
"Ck. Iya, iya. Mendokusai." Ucap Shikamaru memutar mata bosan.
Hinata hanya menatap bosan keduanya. 'Dua-duanya sama-sama menyebalkan.'
"Hinata-chan~!" Hinata menoleh kearah sumber suara.
"Sakura? Oh, syukurlah. Kenapa kau lama sekali?"
"Ehehe... Sebenarnya, itu... Aku menunggumu di tempat penerbangan domestik. Aku tidak melihat tulisannya. He.. he..." Aku Sakura yang membuat dirinya sendiri malu.
"Pfft!"
'Kekehan ini...' Langsung saja Hinata melirik kearah Shikamaru. "Kenapa kau tertawa, hah?"
"Apa? Aku? Tertawa? Tidak, tuh." Ucap Shikamaru dengan wajah merah menahan senyum.
"Jangan berbohong." Sahut Sakura. "Sudah ketahuan, masih saja mau mengelak."
"Apa? Siapa? Aku? Mengelak? Tidak, tuh."
"Argh...!" Baru saja Sakura ingin melemparkan bogem mentahnya, Hinata sudah duluan menahannya. "Apa? Awas, lepas dulu Hinata. Biar kuberi dia pelajaran."
"Sudahlah, Sakura. Lebih baik jika kita pergi saja dari sini. Ayo." Tukas Hinata sembari menarik paksa tangan Sakura.
"Awas saja kau, ya! Jangan sampai kau bertemu lagi denganku!"
"Sudahlah, Sakura."
Hinata dan Sakura berjalan menjauh, dan semakin jauh sampai Shikamaru dan Ino tak dapat mellihat mereka lagi.
Dalam diam Shikamaru menyeringai. "Dasar, Pinky Girl menyebalkan! Mendokusai. Hoaam..."
~TBC~
A/N: Hiks T^T Maaf sudah mengecewakan dengan sambungan chapter ke-2 ini. Kali ini juga belum ada aksi SasuHina-nya yaww! TwT Mungkin nanti di chapter 3, atau 4, atau 5, atau...
Readers: *Lempar sendal* Hiks.. Sekali lagi, Hontouni Gomenasai!T_T T^T
