Kamen Rider – AI (Chapter 2)
Inspired by Takeda Kouhei – This Love Never Ends
AU. (Alternative Universe)
Mungkin OOC, OOT, dan ada karakter yang dihidupkan kembali (kurang tahu istilahnya apa).
(continuation from previous chapter)
"I will not reveal this feeling to anyone, I won't..." – Anonymous
"Eh?" hanya kata itu yang bisa terucap dari mulut ini. Bagaimana tidak, kupikir ayah hanya menyimpan foto ibu saja di album foto atau paling tidak, orang-orang yang aku kenal. Sedangkan yang aku genggam sekarang adalah foto seorang wanita yang tidak kalah cantiknya dengan wanita yang aku temui sekarang. Hanya saja, wanita yang ada di foto ini terkesan pemalu dan pendek. Aku tidak mengetahui siapa nama dari wanita ini.
Aku coba mengingat-ingat siapa saja yang ayah ceritakan selama ini tetapi ayah tidak pernah menceritakan secara detail tentang masalah cintanya. Mungkin ayah memiliki rahasia sendiri atau mungkin ayah mengira bahwa aku masih belum cukup umur untuk mengetahui tentang hal seperti cinta. Ah, ayah tidak tahu jika aku adalah seorang yang menyukai seluruh wanita di bumi ini dan tidak ada wanita yang jelek menurutku. Aku kan seorang gentleman.
Mengapa aku menyimpulkan jika ini adalah foto dari kekasih ayah terdahulu? Karena ayah selalu menyembunyikan sesuatu yang sangat penting di tempat-tempat yang tersembunyi dan jarang dijamah oleh ibu dan aku. Atau mungkin saja wanita itu adalah kekasih gelap ayah? Ah, mana mungkin. Ayah kan takut untuk berbicara dengan orang lain. Mana mungkin ayah bisa berduaan dengan wanita secantik itu? Bukannya mengejek ibu yang tidak kalah cantiknya dengan wanita-wanita yang aku tahu selama ini dan ayahku sih, aku kan anak mereka, tetapi ayah itu sangat pemalu. Mana mungkin dia menjalin hubungan dengan orang yang kelihatan pemalu di foto itu.
Ah, yang pasti, aku harus mencari jawaban dari semua ini. Siapa nama wanita yang aku temui di depan sekolahku dan wanita yang ada di foto yang kupegang ini? Mungkin saja mereka ada kaitannya dengan kasus yang terjadi belakangan ini. Aku bukannya ingin berburuk sangka, aku hanya ingin melindungi wanita di seluruh dunia ini. Aku tidak akan membiarkan Fangire menghisap hidup mereka.
Hm? Aneh juga? Mengapa aku berpikiran bahwa wanita yang ada di foto itu masih hidup? Itu kan, kenalan ayah, mungkin saja dia telah meninggal seperti ayah. Hm, lebih baik aku berpikiran positif karena aku belum menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan.
Tapi, ayah boleh juga ya. Bisa berkenalan dengan wanita secantik ini adalah kebanggaan bagiku. Bagaimana tidak? Di kelas, tidak ada gadis yang menarik perhatianku. Hanya wanita yang tidak ku kenal itu yang aku lihat ketika hujan turun itulah yang benar-benar membuatku penasaran. Apakah dia benar-benar nyata? Atau hanya pikiranku saja? Aku tidak bisa begitu yakin karena hanya aku sendiri yang melihatnya.
Oh Tuhan, kumohon, biarkan aku bertemu dengannya sekali lagi. Aku ingin sekali bertemu dengannya untuk memastikan jika aku benar-benar melihatnya atau kah aku hanya bermimpi di tengah hujan deras itu. Mana mungkin seperti itu, kan, Tuhan? Atau aku hanya dipermainkan oleh halusinasi yang aku buat karena rasa frustasi yang aku rasakan sekarang?
Mungkin itu hanya perasaanku saja. Tetapi, suara lonceng itu terasa sangat nyata. Jadi, bisa dipastikan jika aku tidak bermimpi waktu itu. Ah, seandainya aku bisa mendengar suaranya, mungkin saja aku bisa menanyakan namanya. Hm, tetapi, aku tidak ingin membuatnya jengkel. Ideku tadi terdengar seperti orang yang biasa menggoda wanita-wanita di pinggir jalan. Aku bukanlah orang seperti itu karena aku seorang gentleman. Mana mungkin aku mengganggu wanita yang keberadaannya seperti dewi-dewi di surga itu.
Hm, sepertinya aku lupa dengan tujuan asalku. Aku kan seharusnya mencari informasi yang berkaitan dengan Fangire, bukannya mendata wanita cantik yang aku temui selama ini. Ah, ayah, anakmu ini memang bodoh. Maafkan aku, ayah. Tolong jangan salahkan wanita-wanita itu.
Tetapi, kasus yang kali ini memang cukup rumit. Selain korbannya berada di lokasi sekolah, tidak ada barang bukti yang bisa mengarah ke sarang Fangire itu. Apa aku perlu menyamar menjadi siswi di sekolah? Ah, mungkin hal itu bisa kulakukan sepulang sekolah. Ah, tetapi, aku tidak memiliki seragam siswi di sekolahku. Selain itu, jika aku meminjamnya dari orang lain, mereka akan curiga dengan tingkah lakuku. Aku harus mencari jalan keluar yang lain. Mungkin saja ada jalan alternatif dari masalah ini. Aku tidak ingin membuat orang lain terluka karena tindakan yang aku pilih kali ini.
Aku tidak bisa meremehkan Fangire karena klan mereka terdengar cerdik. Bahkan ayah merasa kewalahan ketika berhadapan dengan mereka. Banyak trik yang mereka lakukan untuk menjebak manusia. Untung saja aku berhasil melihat kelemahan dari trik mereka itu. Aku pun berhasil menyelamatkan manusia yang belum dimakan oleh Fangire walaupun itu semua terjadi tanpa pengorbanan.
Hm, aku masih saja mengingat tentang hal itu, tentang orang yang tidak bisa kuselamatkan secepat mungkin. Walaupun aku berusaha sekuat tenaga, tetap saja masih ada korban di pihak manusia. Seandainya aku bisa mengetahui semua kejadian yang terjadi, mungkin mereka masih bisa diselamatkan. Aku tetap tidak bisa menerima kematian mereka itu. Seandainya aku bisa lebih kuat, seperti ayah...
Hari ini terasa sangat berat. Mungkin lebih baik aku jalan-jalan ke suatu tempat. Pikiranku sedang buntu karena banyak hal yang kupikirkan pagi ini walaupun aku tidak merasa lelah karena hal itu. Aku ingin mencari jalan keluar secepat mungkin. Tetapi ayah pernah berpesan padaku agar tidak gegabah dalam mencari solusi yang tepat. Aku tidak ingin melihat orang mati di depan mataku lagi. Aku ingin melindungi manusia walaupun mereka terkadang menyebalkan.
Aku berjalan menyusuri jalan yang jarang kulewati. Aku tidak bisa diam di suatu tempat jika aku mempunyai masalah. Dengan membawa biola kesayangan ayah di punggungku, aku berjalan tanpa arah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku memikirkan tentang kejadian yang terjadi di sekolah. Orang-orang yang populer di sekolahnya menjadi orang-orang yang menghilang itu. Mungkin saja ini ulah Fangire, pikirku. Aku tidak bisa memastikan tentang hal itu. Bahkan, tidak ada barang bukti yang bisa mengantarkanku ke tempat persembunyian Fangire. Aku tidak ingin teman sekelasku mengalami kejadian yang sama. Walaupun belum ada korban di kelasnya, aku tidak bisa bernapas lega karena bisa saja, saat ini, mereka berada dalam bahaya.
Sudah cukup lama aku berjalan-jalan tetapi aku tidak bisa mencari solusinya. 'Seandainya saja ayah masih hidup, kira-kira apa yang ayah lakukan, ya?' pikirku selama ini. Aku yakin ayah bisa mencari jalan keluar dari masalah ini. Aku tidak menyadari jika langkah kakiku mengantarkanku ke sekolahku sendiri. Mungkin lebih baik aku masuk ke sekolah untuk melihat keadaan. Siapa tahu saja aku bisa menemukan jawaban yang aku cari atau paling tidak, aku menemukan petunjuk tentang musuhku kali ini.
Aku masuk ke sekolah diam-diam lewat tembok sekolah yang cukup tinggi. Setelah aku lihat keadaan di sekitarku aman, aku memanjat tembok itu dan masuk ke sekolah diam-diam lewat tangga darurat. Ah, beruntung sekali diriku ini. Pintunya kebetulan tidak dikunci sehingga aku tidak perlu repot-repot untuk membuka kuncinya. Aku berjalan perlahan-lahan agar tidak ada yang mendengar suara langkahku ketika berjalan di koridor.
Tiba-tiba, aku mendengar suara jeritan dari seseorang dari suatu ruangan...
(to be continued...)
"I cannot fathom it. Why would I care anyway?" – Anonymous
Disclaimer:
Seluruh hal yang berhubungan dengan Kamen Rider merupakan milik yang punya Kamen Rider (Produser dkk) itu sendiri. Seluruh kejadian terjadi hanyalah FIKSI BELAKA. Jika anda menemuinya di dunia nyata, maka bisa dipastikan kalau itu hanyalah KEBETULAN SAJA.
Special Thanks to:
Miss Haruno Aoi (Tuh kan, bodoh banget, bikin fic kayak gini, ya kan? Ya kan?)
Pencipta dan pemilik hak cipta Kamen Rider
Readers yang baik hati yang setia membaca fic saya. Terima kasih atas reviewnya selama ini. Terima kasih kepada silent readers ^^
Takeda Kouhei, I love his acting and voice~~~ \(^o^)\ \(^o^)/ /(^o^)/
AAA dan Arashi
