DISCLAIMER:

Naruto - Masashi Kishimoto

Story by Hanari-chan

WARNING:

AlternateUniverse, a little bit violence, LIME (maybe), OOC, typo(s), GaJe

Paired:

Sakura Centric but mainly SasuSaku

Don't Like Don't Read

Please do not Plagiarism

Read and Review, please?

Chapter 1

"Huftt, akhirnya selesai juga…," desah seorang gadis manis berambut pink panjang. Raut wajahnya terlihat sangat kelelahan. Wajar saja karena dia baru saja menyelesaikan cucian piring yang sangat banyak setelah bekerja seharian di restoran tempatnya bekerja.

Haruno Sakura, gadis berperawakan mungil ini bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran di pusat kota Tokyo.

"Kau belum pulang Sakura? tanya Yamato yang tiba-tiba muncul dari belakang Sakura, dia adalah manajer di restoran itu. Sakura terkejut dan langsung menoleh kebelakangnya.

"aishhh kau membuatku takut Yamato-nii.. aku pikir kau hantu penunggu restoran ini," sindir sakura sambil tersenyum jahil.

"Apa kau bilang? Pria tampan dan mempesona seperti aku ini kau bilang hantu? Mungkin kau sudah mulai rabun Sakura," sahut Yamato sambil terkekeh.

Sakura memukul pelan lengan Yamato, "Yamato-nii! Mataku masih normal ya dan apa tadi katamu? Tampan dan mempesona? Kau sedang mabuk ya Yamato-nii sampai-sampai mengatakan omong kosong seperti itu," ejek Sakura lagi karena tidak terima dibilang rabun.

Ya, meskipun Sakura hanyalah pelayan di restoran itu, tetapi hubungannya dengan Yamato sangatlah dekat. Mereka sudah seperti kakak beradik sehingga mereka tidak merasa kaku lagi disaat mengobrol.

Yamato terkekeh lagi, "Ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaanku tadi Sakura. Sudah jam segini kenapa kau belum pulang?" tanya Yamato sambil melihat jam tangannya. Terlihat jarum di jam tangannya sudah menunjukkan pukul 10 malam.

"Sebentar lagi Yamato-nii. Setelah membereskan semua pekerjaanku aku akan segera pulang," jawab Sakura.

"Kau mau kuantar ke rumahmu? Ini sudah larut malam, tidak baik seorang gadis manis sendirian dijalan," tawar Yamato sambil menggoda Sakura.

Sakura tersenyum, "Tidak usah Yamato-nii, aku bisa pulang sendiri kok. Lagipula aku ini gadis yang kuat. Jika ada yang macam-macam aku akan langsung memukulnya," sahut Sakura sambil menunjukkan lengannya seakan-akan lengannya berotot.

"Kuat? Tangan kurus seperti itu kau bilang kuat? Memukul lalat saja pasti kau tak bisa apalagi memukul orang," ejek Yamato dengan ekspresi wajah yang membuat Sakura kesal.

"ishh Yamato-nii menyebalkan," ujar Sakura ngambek sambil memanyunkan bibir. Yamato yang melihatnya langsung terkekeh pelan dan mengacak rambut pink gadis itu sampai berantakan.

"Yamato-nii! Hentikan!" ucap Sakura sambil memukul pelan tangan Yamato agar pria itu menjauhkan tangannya.

"hehe iya, iya maaf.. jadi kau mau kuantar? tawar Yamato sekali lagi.

"Tidak usah, aku akan naik bis saja, lagipula kau pasti juga sudah lelah kan Yamato-nii," sahut Sakura.

"Ya sudah kalau begitu, dasar keras kepala," ujar Yamato sambil menyentil dahi Sakura.

"Awww.. Yamato-nii!" teriak Sakura sambil mengusap dahinya. Yamato hanya tertawa sambil berlalu meninggalkan Sakura yang masih berdiri di dekat meja kasir. Yamato melangkahkan kakinya ke ruangan pegawai. Ruangan ini memang khusus disediakan untuk para pegawai restoran agar mereka bisa menyimpan untuk sementara barang-barang yang mereka bawa disaat mereka sedang bekerja.

Yamato menuju sebuah loker yang tertera nama Haruno Sakura didepan loker itu. Pintu loker itu tidak terkunci sehingga memudahkannya untuk mengambil tas selempang milik Sakura yang ada didalam loker itu. "Dia pasti lupa menguncinya lagi," desah Yamato maklum karena Sakura memang sering lupa untuk mengunci lokernya.

Sambil membawa tas Sakura, Yamato segera beranjak ke tempat dimana Sakura berada. Gadis itu masih berdiri didekat meja kasir sambil memasang muka kesal. Mungkin dia masih kesal dengan perbuatan Yamato yang mengejek dan mengacak-acak rambutnya.

Yamato tersenyum tipis, kemudian dia menghampiri Sakura. "Nih tasmu. Pulanglah segera sebelum semakin larut," ucap Yamato sambil menyodorkan tas milik Sakura.

"ehh..!" Sakura sedikit kaget dengan kelakuan Yamato. "Terima kasih Yamato-nii. Baiklah aku pulang ya." Ucap Sakura sambil melambaikan tangan. Rupanya dia sudah tidak kesal dengan perbuatan Yamato sebelumnya.

"Ya hati-hati dijalan," sahut Yamato.

Sakura berjalan keluar dari restoran itu dan berniat untuk pergi ke halte bis untuk melanjutkan perjalanan ke rumahnya.

Tanpa disadari oleh Sakura, sekelebat bayangan mengikuti dirinya secara diam-diam.

Where are you my love?

Where do you think you're going?

Whenever you go,

I will find you…

Just wait for me,

Your beloved prince

Dengan langkah yang sedikit berat, Sakura perlahan berjalan menuju halte bis terdekat. Wajar saja jika dia merasa kelelahan, bekerja sebagai seorang pelayan dari pagi sampai malam tentu sangat menguras tenaga, apalagi restoran tempatnya bekerja termasuk restoran yang cukup terkenal dikalangan masyarakat Tokyo.

Restoran tempatnya bekerja adalah restoran yang menyajikan makanan khas jepang seperti sushi, ramen, yakiniku, dan makanan khas jepang lainnya. Meskipun makanan yang disajikan juga bisa ditemukan di restoran lain, namun makanan-makanan di restoran ini disajikan dengan sangat unik yaitu dengan penataan makanan yang cantik dan menggiurkan sehingga dapat menarik perhatian orang untuk memesan makanan. Ditambah lagi dengan harga yang terjangkau sehingga semakin menambah daya tarik pelanggan.

Hal itulah yang menyebabkan Sakura dan pelayan lainnya kewalahan saat restoran sudah dibuka. Para pengunjung tak henti-hentinya datang bahkan terkadang ada pengunjung yang tidak mendapatkan meja kosong lagi sehingga para pegawai harus memutar otak untuk mencari solusi.

Sakura mendesah lelah lagi untuk kesekian kalinya. Terus memikirkan pekerjaannya malah semakin membuat kepalanya pusing. Terkadang Sakura berpikir ingin mengambil cuti untuk beberapa hari agar dia bisa beristirahat sejenak dirumah, tetapi dia mengurungkan niat itu karena dia memikirkan nasib teman-temannya yang pasti akan semakin kewalahan dalam melayani para pengunjung jika dia tidak datang bekerja.

"Huh? Apa yang kupikirkan? Hahh sudahlah aku tidak mau memikirkan hal ini lagi, yang terpenting sekarang adalah bantal dan selimut hangat dirumah. Hmm.. seperti aku harus cepat-cepat pulang," ucap Sakura pada dirinya sendiri.

"Hei nona cantik, sendirian saja ya?" ucap seseorang dari belakang Sakura.

Sakura terkejut dan langsung menoleh kebelakangnya. Dibelakangnya berdiri 4 pria berperawakan preman dengan senyum mengerikan nan mesum.

"Mau apa kalian?!" tantang Sakura dengan suara cukup keras meskipun tubuhnya sudah bergetar ketakutan dan dalam hati terus berdoa agar dirinya selamat.

"Kau cukup berani juga ya nona cantik, tapi aku suka dengan gadis cantik yang menantang. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar cantik? Tenang saja, kami tidak akan menggigitmu, tapi kalau kau mau kami tidak akan keberatan untuk menggigitmu. Hahaha…." Goda salah satu preman sambil tertawa dengan teman-temannya.

'Menjijikkan…' pikir Sakura. Rasa-rasanya dia ingin segera menghilang dari tempatnya berdiri sekarang. Melihat tatapan para preman itu yang penuh nafsu membuat Sakura semakin ketakutan.

'Siapa saja tolong aku….' Ucap Sakura dalam hati. Berharap ada pangeran tampan berkuda putih yang datang menyelamatkannya.

"Ayo nona cantik, kita jalan-jalan," ujar salah satu preman sambil melangkah mendekati Sakura.

Sakura segera mundur sambil menunjuk kearah preman itu, "berhenti! jangan mendekat! Atau aku teriak!" ancam Sakura mencoba untuk berani.

"Coba saja teriak nona, tidak akan ada yang mendengarmu. Saat ini orang-orang sudah terlelap semua.

Tiba-tiba ada yang memegang kuat kedua tangan Sakura sehingga dia memekik keras. "LEPASKAN AKU! LEPAS! MENJAUH DARIKU!

"HAHAHA, berteriaklah sesuka hatimu nona, tidak akan ada yang mendengarmu, HAHAHA….." tawa para preman itu sambil menyeringai mesum.

"TOLONG! TOLONG! SIAPAPUN TOLONG!" teriak Sakura lagi sambil berusaha melepaskan diri dari pegangan kuat para preman itu, saking kuatnya mereka menahan tangannya sampai-sampai kedua tangan Sakura sudah memerah.

"AYO IKUT KAMI NONA, KITA BERSENANG-SENANG... HAHAHA…." Tawa mereka sambil menarik Sakura untuk menuju ke tempat sepi.

"Aku mohon lepaskan aku! Aku mohonnn….." Sakura mulai menangis ketakutan. Dia tidak berani memikirkan apa yang akan terjadi padanya jika dia mengikuti para preman itu.

'Hikss- siapa saja… t- tolong aku…hiksss…." tangis Sakura. Tangannya sudah sangat kesakitan karena terus ditarik paksa oleh para preman itu. Ditambah lagi dengan kondisinya yang dari awal sudah sangat kelelahan karena bekerja sampai malam, membuat Sakura tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan mereka.

Saat salah satu preman menyentuh pipi mulus Sakura, sebuah tangan tiba-tiba menahan tangan preman yang memegang pipi Sakura itu. Para preman itu terkejut, begitu juga Sakura. Saat mereka melihat siapa pemilik tangan itu, mereka melihat seorang pria tinggi yang memaket jaket hoodie sambil menutupi kepalanya dengan tudung jaket yang dipakainya. Mereka tidak bisa melihat wajah pria itu karena dia memakai topeng berwajah kucing.

Dengan santai, pria bertopeng itu memutar tangan preman yang ditahannya sampai preman itu berteriak kesakitan.

"Akhhh! Lepaskan tanganku!" teriak preman itu sambil kesakitan.

Sambil masih menahan tangan preman itu, pria bertopeng itu lantas menendang kaki preman itu sehingga preman itu jatuh tersungkur dengan wajah menyentuh aspal jalan. Pria tinggi itu melepaskan tangan preman itu kemudian dia menendang perut preman itu hingga dia terguling menjauh dari mereka berdiri.

Preman lain yang melihat keadaan temannya yang diserang orang misterius lantas marah dan langsung menyerang pria bertopeng itu dengan membabi buta. Salah satu preman mengeluarkan pisau dan mencoba untuk menusuk pria bertopeng itu.

Namun, pria bertopeng itu tampak biasa-biasa saja dan langsung menghindar ketika preman itu menghunuskan pisaunya.

Pria bertopeng itu mendekati Sakura yang masih berdiri mematung ditempat yang sama karena gadis itu masih ketakutan dan terkejut dengan adegan perkelahian yang terjadi didepan matanya.

Terkejut karena melihat pria bertopeng itu mendekatinya, Sakura berusaha menghindarinya namun pria bertopeng itu memeluk pinggang Sakura dan menarik gadis mungil itu menjauh dari arena perkelahian.

Pria bertopeng itu mendudukkan Sakura dibalik kardus-kardus berkas yang menumpuk tinggi didepan sebuah gedung tak terpakai. Setelah mendudukkan Sakura, pria itu berjongkok didepan Sakura dan menghapus air mata di pipi gadis itu. Setelah itu, pria itu mengelus lembut kepala Sakura. Kemudian pria bertopeng itu segera berdiri dan berjalan ke arah para preman yang sebelumnya dia lawan.

Sakura sangat bingung dan sedikit ketakutan dengan perlakuan pria bertopeng itu terhadap dirinya. Dia tidak mengerti, mengapa seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya justru memperlakukannya dengan sangat lembut seakan-akan Sakura adalah boneka yang bisa rusak bila diperlakukan dengan kasar.

Sakura segera tersadar dari pikirannya dan dia berusaha memperhatikan adegan perkelahian yang terjadi didepannya. Pria bertopeng itu tampak tak kesulitan saat melawan para preman itu. Sepertinya pria bertopeng itu adalah seorang petarung yang handal.

Tidak butuh waktu yang lama, semua preman itu sudah terkapar di aspal karena telah dikalahkan oleh pria bertopeng itu.

Sakura sangat kagum dengan pria bertopeng itu sehingga gadis itu tidak sadar kalau pria itu sudah ada didekatnya.

Pria itu sekali lagi berjongkok dihadapan Sakura dan memegang erat kedua tangan kecil gadis itu. Seakan tersadar dari lamunannya, Sakura mencoba menarik tangannya dari genggaman pria itu, namun pria itu memegang tangan Sakura dengan sangat erat seakan tidak ingin melepaskan Sakura.

"T-t-terima kasih sudah menolongku, tapi bisakah kau lepaskan t-tanganku?" cicit Sakura takut-takut.

Sakura tidak tau bagaimana ekspresi pria itu saat ini karena topeng yang menutupi seluruh wajahnya.

"Sakura…" ucap pria itu lembut.

Sakura terkejut dengan nada suara pria itu, seakan-akan menyiratkan suatu arti, dan bagaimana bisa pria itu tau namanya, padahal mereka baru saja bertemu.

"Akhirnya…" ucap pria itu sekali lagi sambil menatap Sakura seakan tidak ingin berpaling hingga membuat dahi Sakura mengerut.

'Apa maksudnya dengan ucapannya itu? Pria ini menakutkan…' ujar Sakura dalam hati.

Pria itu mengangkat tangan kanannya dan menyentuh pipi kiri Sakura. Sakura membelalakkan matanya lebar karena terkejut dengan apa yang dilakukan pria itu. Karena semakin ketakutan, Sakura melepaskan tangan pria itu dari pipinya dan segera berdiri. Gadis itu melangkah agak menjauh dari pria yang masih berjongkok itu. Sakura membungkuk sebagai tanda terima kasih dan segera berdiri tegak dengan cepat, setelah itu dia segera berlari meninggalkan pria bertopeng itu.

Setelah kepergian Sakura, pria itu berdiri dengan perlahan. Dia menatap kearah dimana Sakura berlari.

"Sakura…."

Why are you crying my love?

Are you hurt?

Who's hurting you?

Just tell me the truth,

And I will protect you with all my life

Nobody can hurt you,

You're safe with me

Just sleep and rest,

And everything's will be okay

"hahh hah hahh… aku selamat…" ucap Sakura sambil terengah-engah. Dadanya terasa sesak karena berlari terburu-buru, tapi sekarang nafasnya perlahan-lahan kembali normal. Ya, saat ini Sakura telah berada didalam bis yang akan membawanya ke kompleks perumahannya.

Sakura mengedarkan mata emeraldnya ke sekeliling isi bis, mencoba melihat penumpang lainnya.

Penumpang didalam bis itu tak terlalu banyak, hanya seorang pria yang berpakaian pegawai kantoran, seorang remaja laki-laki yang sedang mendengarkan musik melalui earphonenya, sepasang suami istri yang sudah cukup berumur, dan Sakura sendiri.

Setelah memastikan tidak ada yang aneh didalam bis yang dia tumpangi, Sakura kemudian mengeluarkan smartphonenya. Saat dia mengaktifkan benda itu, tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk.

"Ino? Tumben dia meneleponku malam-malam begini?" pikir Sakura penuh heran. Ino adalah salah satu sahabat Sakura sejak kecil. Setelah melihat siapa yang meneleponnya, gadis berambut pink ini kemudian menyentuh simbol hijau dan menempatkan smartphone itu di telinga kanannya.

"Moshi-moshi.. Ada apa Ino?" Tanya Sakura dengan suara agak pelan, takut mengganggu penumpang lainnya jika berbicara dengan suara keras.

"Kau dimana Sakura?! Aku ada di rumahmu sekarang. Kenapa jam segini kau belum pulang? Tidak biasanya…" jawab Ino diseberang telepon.

"Gomen Ino, hari restoran sangat ramai sehingga perlu waktu lebih lama untuk menyelesaikan semua pekerjaan di restoran," ucap Sakura sambil menghela nafas lelah. "Oh ya, kau ada keperluan apa denganku sampai-sampai kau ingin menemuiku malam-malam begini? tanya Sakura penasaran.

"Ada yang ingin kusampaikan padamu, tapi sudahlah, nanti kuceritakan saat kau sudah sampai di rumah," ujar Ino.

"Ya sudah, kalau begitu tunggu aku Ino. Sebentar lagi aku sampai, Jaa ne Ino," jawab Sakura sambil mengakhiri percakapan.

"Jaa… Aku tunggu," jawab Ino dan sesudah itu terdengar bunyi sambungan telepon yang sudah ditutup.

Sakura menyentuh simbol merah di smartphonenya dan menatap benda itu dengan raut wajah cemas.

'Sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan Ino.. dia terdengar seperti…hahh sudahlah.. aku tidak mau berpikiran negatif,' pikir Sakura sambil menepuk-nepuk pelan pipinya.

Mungkin efek dari perlakuan preman-preman sebelumnya telah membuat dia selalu berpikiran negatif, apalagi ditambah dengan kemunculan tiba-tiba dari pria bertopeng aneh itu, semakin membuat dirinya tak tenang.

"hahh oke, ayo Sakura! Lupakan semua kejadian aneh yang kau alami tadi.. ayo sekarang kau harus semangat!" ucap Sakura pada dirinya sendiri dengan semangat sambil memukul-mukul pelan pundaknya sendiri.

Can you hear my voice?

It's calling for your name day and night

Can you feel my heartbeat?

It's beating faster when you're here with me

I can't stop thinking about you

I can't stop loving you

What have you done with me?

You make me addicted to you

My angel, my love

"Apa yang ingin kau katakan padaku Ino?" tanya Sakura pada Ino. Saat ini Sakura telah sampai di rumahnya dan dirinya sedang duduk berhadapan dengan Ino di meja makan Sakura.

Ino menghela nafas pelan, kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang dibawanya.

"Seorang pria aneh memberikan ini padaku. Dia berpesan padaku untuk memberikan benda ini padamu Sakura," ucap Ino sambil menyodorkan sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan kertas kado berwarna biru muda dan dihiasi dengan pita cantik berwarna pink. Bingkisan itu terlihat sangat manis.

"Apa ini?" Tanya Sakura sambil mengangkat bingkisan yang diterimanya. "Apa orang itu tidak mengatakan hal lain selain menyuruhmu memberikan benda ini?" lanjut Sakura.

"Setelah memberikan benda ini dia langsung menghilang entah kemana. Aneh sekali.. Makanya aku langsung ke rumahmu, karena kupikir kau sudah di rumah," jawab Ino dengan muka curiga.

"Aneh sekali…" ucap Sakura.

"Jangan-jangan dia adalah penggemar rahasiamu Sakura… Wahh kau hebat juga ya.." ujar Ino sambil tertawa.

"Apa? Jangan bercanda Ino.. orang sepertiku tidak mungkin mempunyai penggemar rahasia," sahut Sakura tak percaya.

"Bagaimana kalau kau buka bingkisan itu sekarang.. mungkin saja ada sesuatu yang menarik didalamnya," ujar Ino tiba-tiba dengan semangat.

"hmm, kau benar Ino. Baiklah akan ku buka sekarang," jawab Sakura menyetujui saran Ino.

Dengan perlahan, Sakura membuka ikatan pita di kotak itu. Setelah terbuka, gadis itu kemudian membuka penutup kotak itu. Emerald Sakura melirik kedalam kotak kecil itu dan ternyata isinya adalah sebuah kotak musik berbentuk hati dan berwarna merah.

Sakura mengambil kotak musik itu. Ketika dia membuka tutup kotak musik itu, tiba-tiba sebuah patung penari balet kecil berdiri dari posisi terbaring dan patung itu menari berputar-putar mengelilingi kotak musik itu. Tak lupa alunan lagu fur elise yang merdu juga mengiringi patung penari balet itu ketika benda itu sedang menari.

Sakura terpesona dengan hadiah yang diterimanya. Ino yang melihatnya pun juga terlihat kagum.

"Wow, cantik sekali.. Aku benarkan Sakura kalau bingkisan ini adalah dari penggemar rahasiamu," goda Ino sambil terkikik.

"ishh kau ini… mungkin saja pria itu salah orang. Mungkin saja Sakura yang dimaksud bukan aku," bantah Sakura karena masih kaget dengan bingkisan mendadak itu.

Ino memutar matanya malas, "Kalau pria itu salah orang, tidak mungkin dia menyuruhku secara langsung untuk memberikan bingkisan ini kepada gadis berambut pink bernama Sakura, dan gadis berambut pink bernama Sakura yang kukenal kan cuma dirimu jidat..." jawab Ino sambil menyentil dahi Sakura.

"awww… sakit Ino..!" sahut Sakura sambil mengusap pelan dahinya, "tapi kan bisa sa-…"

TOK! TOK! TOK!

"ehh! Siapa itu?" Tanya Ino heran, "kau mengundang seseorang Sakura?" Tanya Ino lagi pada Sakura.

"Tidak, aku tidak mengundang siapa-siapa," jawab Sakura. 'Apa jangan-jangan itu para preman yang mengganggu tadi.. apa mereka mengikutiku? Gawat..' pikir Sakura mulai panik.

"Biar aku saja yang buka Sakura, kau tunggu saja disini," putus Ino sambil beranjak ke pintu depan.

Saat gadis pirang itu sudah berdiri didepan pintu, dia sedikit ragu untuk membukanya. 'Siapa yang datang bertamu malam-malam begini?' pikirnya bingung.

Ino meraih pegangan pintu itu dan membukanya sedikit. Saat dia mengintip untuk melihat siapa yang mengetuk, dia sangat terkejut dan berdiri mematung.

"Siapa yang datang Ino?" Tanya Sakura sambil berjalan menuju pintu depan. Sakura melihat Ino yang hanya diam mematung sambil menatap sesuatu dibalik pintu. Sakura tidak bisa melihat siapa yang dilihat Ino karena pintu itu tidak terbuka lebar.

Sakura membuka pintu rumahnya lebih lebar dan ingin segera melihat siapa yang datang.

Saat Sakura menoleh untuk melihat siapa yang datang, dia sangat terkejut dan tubuhnya seakan tak mau bereaksi dengan pikirannya lagi.

Didepan Ino dan Sakura, berdiri seorang pria tinggi, berbadan tegap, dan berambut merah. Pria itu menyeringai tipis ketika melihat ekspresi wajah dari Ino dan Sakura.

"I'm home, my love…"

I'll do anything for you my love

Coz without you I'm nothing

I'll never let you go,

Coz you're mine,

And only mine.

Forever.

To be continued…

Author's cuap-cuap: I want to say something important…

Hahaha, kok jadi ngegantung gitu ya. Sumpah, Hana awalnya gak ada niat mau buat chapter ngegantung, tapi pas udah ditengah cerita otak Hana langsung ngeblank, jadinya ya gitu dehh.. *pundungsambilshoweran*

Gomen kalau chapter pertama pendek, soalnya Hana udah malas ngetik *dibantaireaders* ehh? Enggaklah… Hana sengaja kok buat chapter pertama pendek. Hana pengen liat dulu gimana reaksi readers dengan alur cerita fic ini. Kalau banyak yang suka, Hana usahain update kilat. Jadi kelangsungan hidup fic ini semuanya bergantung pada readers.

Hana mohon maklum dari readers jika fic ini tidak sesuai harapan, maklumilah Hana si makhluk newbie di dunia fanfiction ini *hormatalajepang*

Arigatou buat yang udah baca fic GaJe ini… Jangan lupa review ya supaya Hana tau apa aja kekurangan dari fic ini. *puppyeyesnojutsu*

Sekali lagi jangan lupa ya readers.. REVIEW! *teriakpaketoa*