Disclaimer : Kisimoto-san
Cerita ini berasal dari otaknya Haru sendiri
Pairing: Neji& Tenten
Tema: horor&hurt/comfort
Sumarry:
Dalam ruangan seorang diri /siapa kau?/tak perlu tahu cukup patuhi perkataanku!/malaikat kematian?/ sepertinya pekerjaanku akan lebih mudah dengan bantuan psikopat sepertimu./ kumohon, jangan ikuti dia/ mind to RnR?/
Chapter 2
Aneh
Tenten POV
Aku kembali ke kelas saat bel istirahat selesai berbunyi. Tentu saja dengan malaikat kematian yang akan mengikuti kemana pun aku pergi mulai hari ini. Presetan. Aku menapakkan kakiku kedalam kelas dan duduk dibangku.
"Hai Tenten!" tepat saat kududuk anak pucat yang bernama Sai itu menyapaku.
"Hn" jawabku singkat sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela.
"Kau dari mana? Aku telah menunggumu dari tadi" aku tetap diam dan tidak menyahutinya.
"Hei!" aku menoleh padanya dan melihat wajahnya yang serius, tapi ia langsung tersenyum "kau tahu? Kalau kau mau sedikit lebih baik, kita semua tidak akan dihukum oleh Kakashi sensei." Apa maksud dari orang ini, dia tersenyum lalu mengatakan hal yang tajam.
"Apa maksudmu?" tanyaku.
Dia mengambil 33 lembar kertas dari mejanya dan memberikannya padaku. "Ini tugas dari Kakashi sensei sebelum dia keluar kelas tadi. Ini 33 kertas hasil tanda-tangan seluruh kelas, termasuk punyamu."
"Punyaku? Aku bahkan tidak mengemis pada orang lain hanya untuk meminta tanda tangan." Jawabku.
"Mengemis? Kata-kata yang kurang tepat." Dia tersenyum "Aku telah meminta tanda-tangan semua orang untukmu, karena satu anak saja yang tidak memberi tanda tangan maka satu kelas akan dihukum."
Aku terdiam, sepertinya orang ini orang yang baik. Sepertinya.
"Kau mengerti maksudku kan? Jadi sekarang tugasmu adalah menandatangani 33 kertas itu dalam bagian namamu yang masih kosong tanda tangan."
Aku mengangguk dan mengerjakannya. Dia terus melihatiku dengan serius. Sekarang apa yang salah? "Aku tidak bisa melakukannya jika kau terus membengkokkan kepalamu kebelakang." Dia kembali menghadap depan.
Dan kurasa ini lebih baik. Aku merasa seperti masih ada yang melihatku. Tapi ini berbeda, tatapan yang tajam, dingin, mencekam dan membuat risih. Ini pasti malaikat kematian itu.
Aku menyelesaikan tugasku dengan cepat dan memberikannya 32 lembar kertas kecuali punyaku kemeja Sai dan kembali duduk dan menghadap jendela. Andai saja aku tidak pergi keloteng siang ini, aku tak perlu membuat kontrak dengan malaikat kematian ini. Tiba-tiba kejadian siang di loteng kembali berputar diotakku.
Flashback
Dia kembali menatapku dengan intens, "lagipula kau seorang psikopat. Tidak salahkan kalau aku meminta bantuanmu, Tenten?"
Sontak aku terkejut dengan perkataannya. Darimana dia bisa tahu namaku dan kalau aku seorang psikopat/?
"Tak perlu terkejut. Aku sudah tahu semuanya lagi pula aku ini malaikat kematian. Jadi... apa kau mau membantuku.?"
Aku terdiam sebentar "Tidak, aku tidak akan membantumu. Aku tidak ingin masuk penjara dan bisa merusak masa depanku."
Dia tertawa lebar "Lucu sekali seorang psikopat sepertimu memikirkan masa depan yang cerah. Lagipula, kau tidak akan masuk penjara saat kau melakukan itu semua. Aku akan mengatur jalan dan skenarionya agar kau aman dan tidak diketahui oleh polisi."
Aneh memang jika orang sepertiku memikirkan masa depan. Tapi apa itu salah, lagipula aku ini juga seorang manusia. "Aku tidak mau. Bahkan kau telah menghinaku seperti itu"
"Tch.., kau memang keras kepala. Coba kau pikirkan, setidaknya kau dapat membuat dunia ini menjadi aman. Karena yang akan kau bunuh adalah orang-orang kriminal."
Kembali kupikirkan ulang, jika perkataanya benar setidaknya psikopatku ini sedikit berguna. "Apa yang aku dapat jika aku membantumu?"
Dia berpikir dan mengetuk dagunya. "Kau bisa minta apa saja dariku."
Hmm.. cukup menarik. "Aku ada tawaran." Ucapku
"Katakan."
"Bagaimana bila aku mendapatkan 1 imbalan untuk meminta apa saja darimu dari 1 orang yang akan aku bunuh." Aku mengajukan saranku yang kurasa akan berguna juga untukku.
"Baiklah, lagipula yang akan mengabulkan permintaanmu bukanlah aku, melainkan dewa sendiri." Dia tersenyum sinis padaku, "Kontrak dimulai pada hari ini dan akan berakhir jika kekutanku telah kembali."
Dia menjulurkan tangannya dan aku refleks menyambut uluran tangannya. Aku telah membuat kontrak dengan seorang malikat kematian. Benar. Malaikat Kematian.
Flashback End
Untunglah pelajaran telah selesai, tapi urusanku di ruang OSIS belum selesai. Hari ini adalah hari pemilihan anggota OSIS baru. Aku yang dulu menjabat sebagai wakil tentu harus hadir lebih awal.
Semua telah berkumpul dan aku melihat banyak sekali yang ingin bergabung dalam OSIS. Tapi yang dibutuhkan hanya sedikit, hanya yang benar-benar berbakatlah yang akan terpilih. Karena aku tidak akan segan-segan memblacklist mereka yang tidak berniat.
Hasil telah terpilih, kedudukan Ketua OSIS yang dulunya ditempati oleh Shino Senpai yang telah kelas 12 tergantikan olehlku. Sekretaris 1 diduduki oleh Sai, Sekretaris 2 diduduki oleh Sakura, Bendahara 1 diduduki oleh Sasuke, Bendahara 2 diduduki oleh Temari.
Bagian lainnya seperti Anggota ketertiban ditempati oleh Hinata dan Lee, Anggota kebersihan ditempati oleh Naruto dan Kiba, Anggota keindahan ditempati oleh Ino dan Gaara, Anggota sarana dan prasarana ditempati oleh Kankuro dan Chouji.
Hanya ada satu tempat yang kosong, Wakil ketua OSIS. Tidak ada yang lebih sungguh-sungguh untuk ini. Mereka yang tidak terpilih tampak murung, bukankah seharusnya mereka telah siap untuk menerima ini semua. Dasar kaum awam.
"Tenten, aku percayakan kedudukan Ketua OSIS padamu" Shino senpai menghampiriku.
Harus kuakui, bekerja sama dengan Shino senpai tidak terlalu buruk. Kami sama-sama tidak suka keributan dan berusaha lebih tenang. Kuharap wakil yang terpilih nanti memiliki sifat yang sama. "Percayakan kepadaku. Senpai bisa fokus pada pelajaran senpai. Dan terima kasih atas petunjuknya selama ini."
"Baiklah. Semoga sukses." Dia pun pergi dari ruangan.
Daripada terus di dalam ruangan yang bising karena ulah si jingga dan alis tebal, lebih baik aku pulang. Aku meninggalkan mereka yang gembira atas pencapaian mereka. Aku menuju gerbang sekolah, disana telah terpakir mobil ayah dan seseorang berambut merah yang kukenali adalah kakakku.
Tapi tunggu, aku menoleh kebelakang dan mendapati malaikat kematian itu mengikutiku dengan berjalan di udara dan tidak menapak tanah.
"Kau tidak terlihat oleh orang lainkan?" aku memastikan.
"tentu saja, aku juga tidak akan menggangu kehidupanmu. Aku hanya mengikutimu sampai rumahmu dan akan tinggal disana, di ruang tamu rumahmu."
"Apa?! Jangan ruang tamu, lebih baik kau tinggal di lantai dua saja. Itu akan lebih aman."
"Aku setuju."
Kembali kulangkahkan kakiku menuju mobil. Kakakku tampak tersenyum kearahku, dan aku membalasnya singkat. Dia membukakan pintu untukku dan masuk kemobil setelah aku masuk.
"Maaf telah membuat kakak menunggu lama." Ucapku
"Tidak ten, kakak baru saja tiba" dia tersenyum padaku "lagipula kalau kau sibuk, kau bisa menelepon atau sms kakak dulu. Dan kalau kau perlu bantuan kau bisa memintanya padaku."
"Hn."
"Bagaimana sekolahmu? Kau baik-baik saja kan? Sudah menemukan jodohmu? Atau bertemu makhluk baru?"
Aku terkejut, aku tahu ini hanyalah candaanya saja. Tapi seolah yang dia katakan itu benar. Aku menanggapinya tidak terlalu serius. "Jodoh? Maksudmu laki-laki yang tampak tidak normal dan tidak memikirkan sekolah dengan masa depan yang lebih baik?"
"Kata-katamu selalu sama, selalu ketus. Kakak harap kau tidak mengatakan hal yang ketus dihari pertamamu masuk sekolah." Dia tertawa geli.
Aku tersenyum tipis sehingga orang manapun tidak akan menyadari. Tapi percayalah kalau aku telah melakukannya kak. Ingin aku berkata seperti itu, tapi aku tidak bisa.
Kami tiba di rumah, ayah dan ibu belum pulang dari kantor. Mereka biasanya pulang jam 9, terkadang jam 10. Tapi jam rumah masih menunjukkan pukul 6.30, masih lama untuk menunggu mereka pulang. Aku masuk ke kamarku di lantai 2 dan kakak pergi ke kamarnya.
"Jadi ini rumahmu?" tanya malaikat kematian.
"Hn? Rumahku? Bukan, ini rumah kedua orangtuaku," aku menghentikan perkataanku sebentar, sadar akan sesuatu "kau tidak seharusnya berada di kamarku! Sana keluar dasar mesum!"
"Baiklah, terserah padamu. Tapi panggil aku dengan namaku, karena namaku bukanlah mesum" dia menunjuk dirinya sendiri "Shikamaru, panggil saja aku dengan itu."
Setelah berkata itu dia pergi menembus dinding. Untuk sesaat aku merasakan bulu kudukku merinding. Segera aku mandi dan berganti pakaian. Aku memainkan handphoneku sampai suara mobil orangtuaku terdengar dari luar kamarku.
Tumben mereka telah pulang jam segini. Aku melihat jam dindingku, masih menunjukkan pukul delapan. Kenapa mereka cepat sekali pulangnya. Aku menuruni tangga dan pergi keruang tamu. Aku juga melihat kakak yang juga tampak bingung dengan pulangnya orangtuaku yang lebih awal.
"Tadaima minaa...!" ibu membuka pintu dengan ceria. Sepertinya akan ada kabar gembira.
"Okaeri okasan.." ucapku serempak dengan kakak.
"Anak-anak! Bisa bantu ayah membantu barang dan memindahkannya ke rumah!" ayah berteriak dari luar.
Aku dan kakak segera pergi membantu ayah mengangkat barang. "taruh saja dilantai Sasori, kita akan berbagi sesuatu hari ini." Pinta ayah.
"Otousan, ada apa ini?" tanya kakak.
Mereka berdua saling bertatapan lalu tersenyum dan ibu mengambil alih pembicaraan. "Kami ada berita gembira..," kuharap ini bukanlah tentang salah satu produk di TV yang dikenal sebagai mastin "ayah dan ibu kalian ini akan ada tour keluar negeri selama satu bulan.
Aku terperanjak kaget "satu bulan? Apa kalian akan mengajak kami?"
"Betul, kalian pasti akan mengajak kami kan bu? Kami juga ingin ikut." Sambung kakakku.
Ibu sedikit menunduk "Maafkan ibu dan ayah, tapi tidak bisa. Sebenarnya kami ingin mengajak kalian, tapi dalam waktu dekat ini kalian baru masuk sekolah tidak mungkin bagi kami untuk mengajak kalian."
"Ayah juga menyesal, tapi kami harap kalian akan betah di rumah. Sebagai ucapan minta maaf, kami telah membelikan kalian sesuatu." Ayah menunjuk tumpukan belanja.
Ibu mengambil dua tas belanja "Ini tab baru untuk Sasori dan ini Notebook baru untuk Tenten," kami mengambilnya dari tangan ibu dan ibu mengambil lagi dua tas belanja "ini jaket baru untuk Sasori dan Gaun modis baru untuk Tenten." Kami kembali menerima tas belanja itu.
"Tidak hanya itu, masih ada lagi." Ayah mengambil empat tas belanja sekaligus dan memberikannya pada kami "ini cokelat untuk tenten dan keripik pedas untuk Sasori. Bukankah itu makanan kesukaan kalian?"
Ini diluar dugaanku, tak apa orangtuaku keluar asal ada yang baru terus. "Apa ini tak berlebihan?"
"Tidak, ini tanda maaf dari kami dan mulai besok kami sudah berangkat. Jadilah anak yang baik, jagalah satu sama lain dan juga menyayangi satu sama lain." Kata ayah.
Ibu mengangguk "Ibu harap kalian bisa memaklumi yah... Nah ini sudah malam, sebaiknya kalian tidur karena besok sekolah. Dan kalian tidak bertemu kami lagi besok pagi jadi selamat malam."
Ibu memeluk kami berdua dan ayah mencium kening kami. "hati-hati dijalan" ucap kakakku lalu masuk ke kamarnya.
"Tenten, kamu tidak tidur?" tanya ayah. Aku menggeleng pelan dan menatap mereka satu persatu lalu tersenyum. "Terima kasih untuk semuanya, aku hanya berharap kalian sampai dengan selamat dan menikmati liburannya."
Dapat kulihat mereka tersenyum dan mengangguk kecil, kemudian aku pergi ke kamarku dan meletakkan semuanya di meja belajarku lalu tidur di tempat tidur. Aku memandang langit-langit kamarku dan tertidur dengan cepat, kurasa aku telah lelah.
.
.
.
.
.
Bel istirahat berbunyi dan seperti biasa aku pergi ke loteng sekolah, bersama dengan si shikamaru. Hari ini membosankan, sama saja seperti kemarin. Anak pucat yang selalu tersenyum, gadis pirang dan temannya yang suka bergosip, aku yang tak ada teman sebangku dan kedudukan wakil ketua OSIS yang masih kosong.
"Hari ini kau tidak ada kerjaan?" shikamaru mebuka pembicaraan.
"Tidak" jawabku singkat.
Aku merobekkan kertas dan membuangnya dari luar loteng hingga ke bawah. Entah sudah berapa kertas yang kurobekkan, rasanya aku masih bosan.
'Tep..tep..tep' langkah kaki terdengar dari tangga menuju loteng. Siapa selain aku yang mngetahui loteng ini, kurasa tidak seorang pun. Pintu loteng terbuka dan menunjukkan sesosok pria dengan mata yang tampak tak memiliki pupil, rambut panjang yang terlihat halus, dan baju putih dengan celana hitam yang rapi. Apa dia ini seorang mlaikat yang baik? Kurasa tidak, kakinya menapak ke tanah.
"Siapa kau?" aku bertanya padanya.
"Kurasa ada peraturan sekolah untuk tidak membuang sampah sembarangan." Jawabnya sambil menunjukkan beberapa robekan kertas "dan sampah ini telah menyentuhku dengan sembarangnya."
"Terserah apa katamu." Aku kembali menatap keluar, jelas orang ini menangguku.
"Dan lihat, kenapa kalian berdua berada di tempat yang sama. Atau jangan-jangan kalian sedang pacaran?"
Apa maksud dari orang ini, aku menatap Shikamaru. Bukankah dia tidak terlihat oleh orang lain, lalu bagaimana pria ini mengetahui keberadaannya. "Kau bisa melihat orang ini?"
"Memangnya kenapa? Tidak hanya dirimu yang dapat melihat sesuatu yang ganjil."
"Apa maksudmu?"
"Ayolah.. kau pasti tahu maksudku dengan kata 'sesuatu yang ganjil' itu kan?"
Shikamaru mendekatinya "Kurasa kita pernah bertemu sebelumnya, pembunuh."
Sontak aku terkejut, Pembunuh katanya? Aku mendekati mereka berdua "Entah ada apa diantara kalian berdua yang kutahu kalian sama-sama menyebalkannya. Dan kalian adalah pasangan yang serasi, yang satu malaikat kematian dan yang satunya lagi pembunuh."
Usai mengucapkan itu, aku pergi dari loteng dan kembali ke kelas. Sungguh ini diluar dugaanku. Ada orang lain selain aku yang menjadi seorang pembunuh/psikopat. Kedengaran aneh memang saat aku mengatakan hal yang pedas itu padanya. Tapi jujur, aku juga membenci diriku sendiri.
Bel masuk berbunyi dan semua duduk ditempatnya masing-masing. Gadis pirang yang kuketahui bernama Ino yang sedari tadi duduk di samping Sai pindah kebangkunya sendiri. Sepertinya gadis itu menyukai Sai si pucat.
"Yo... Tenten-chan. Kau dari mana tadi?" Naruto memanggilku dengan gayanya.
"Hn?" responku.
"Tadi anggota OSIS berkumpul di ruangan dan tebak..?... Telah ditentukan Wakil ketua OSIS. Hebat bukan? Dia itu memang..umm ya... tampan. Tapi tidak melebihi ketampananku, itu sebabnya banyak perempuan yang setuju. Tetapi tidak hanya tampan, dia juga pintar itu sebabnya aku juga setuju. Dan kudengar dia akan masuk ke kelas kita karena dia anak baru, sudah kuduga dia pasti akan sebangku denganmu yang hanya satu-satunya kursi kosong. Selamat ya.." dia pergi setelah mengucapkan kata-kata yang panjang itu. Biar kuakui, aku tak mengerti ucpannya kecuali telah terpilihnya seseorang menjadi Wakil ketua OSIS. Masa bodoh dengannya.
Pintu kelas terbuka dan Kakashi sensei masuk diikuti oleh... bukankah itu pria tadi yang juga kenapa malaikat itu mengikutinya sekarang? Shikamaru terbang kearah belakangku dan menetap disana seperti kemarin.
"Yosh.. ini murid baru. Perkenalkan dirimu." Suruh Kakashi Sensei
Tampak kulihat seluruh perempuan dikelas ini menatapnya dengan tatapan mengidolakan beberapa juga tampak bentuk Love dimata mereka. Menjijikkan.
"Namaku Hyuga Neiji. Mohon bantuannya"katanya sambil membungkukkan badan.
'sok sopan' pikirku dalam hati.
"Nah Neiji, duduk di sebelah Tenten." Neiji mengangguk dan berjalan kearahku.
Aku merasa banyak sekali yang menatap tak suka terhadapku dari penjuru kelas. Aku melihat orang yang bernama Neiji itu dan tepat, dia juga menatapku. Aku mengalihkan perhatian, tak suka cara tatapannya itu.
"Hai.., kita bertemu lagi. Mohon bantuannya."
"Hn" jawabku
"Kuharap kau tidak mengulangi perbuatanmu yang tadi lagi."
"Hn"
"Karena kalau kau sampai mengulanginya lagi, maaf aku harus memberitahu guru-guru yang lain."
"Hn"
"Karena aku juga wakil ketua OSIS di sisini. Padahal ini hari pertamaku masuk sekolah. Hebat."
Jadi dia ini orangnya. Aku menatapnya dengan wajah yang datar. "Baguslah, karena aku ketua OSIS di sekolah ini."
Dia membesarkan matanya, itu tanda orang terkejut. Dia juga membalikkan mukanya kurasa dia benar-benar malu dengan ucapannya itu. Dasar.
"Maafkan ketidak sopananku tadi. Mohon bimbingannya." Ucapnya yang masih membalikkan muka.
"Kurasa kau tidak perlu dibimbing karena lidahmu itu sudah cukup tajam."
Dia mengalihkan pandangannya kearahku dan aku mentapnya dengan sinis sebelum aku menatap kedepan.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Chapter 2 ini akhirnya selesai, sebenarnya mau ditunda bulan depan tapi takut dosa, kwkwk... disisni sebenarnya pairnya banyak bukan hanya Nejiten aja, tapi juga ada Sai x Ino, NaruHina, Sasuke x Sakura, Shikamaru x Temari. Ya gitu deh,,,
Maaf kalau banyak Typo, OOC, Dll.. mohon di review... alias RnR...
Mari kita balas review sebelumnya..
Yang pertama dan satu-satunya namun berkali-kali dari Liliy-chan = iya, ini fic pertama Haru di fandom Naruto [sebelumnya Fairy Tail]. Sai selalu tersenyum pada Tenten? Karena itu kelainan yang indah/? Pada Sai [author dikejar harimau jutsu Sai]. Dan tentu author tidak akan meninggalkan fic tercinta ini [hoek/...]
Baiklah... sekian pesan dan kata-kata terakhir dari author [di Chapter 2 ini tentunya] kita pasti akan bertemu lagi di kemudian hari..
Mind to Review?
Ja~~~~
