[ The Chronicles of Master Taijutsu ]
Naruto : Masashi Kishimoto
Author : Yami no Yusuf
Summary : Di kecilkan karena ia mempunyai Chakra sedikit dan tidak berbakat dalam Ninjutsu, membuat ia muak dan berlatih keras untuk membuktikan kepada mereka.
Warning : Strong!Naru, Taijutsu!Naru, OC, Typo, OOC,...Dll
Pair : Naru x ( nanti pasti akan muncul )
Chapter 2 [ Pelatihan terakhir! ]
•
Naruto berdiri dengan posisi kuda-kuda bertarung dengan iris hitamnya menatap tajam Jiraya yang ada di depannya sekitar enam meter. Sekarang ia akan menjalankan pelatihan terakhir setelah satu minggu lamanya, cukup sedih memang... saat mengingat kata 'terakhir' pelatihannya. Tapi ia hiraukan. Mulai saat ini, detik ini, dirinya akan serius terjun ke Dunia Shinobi. Untung dirinya sempat membaca dan berlatih teknik-teknik Taijutsu dari gulungan yang ia pinjam dari Perpustakaan Konoha. Membuat dirinya sedikit tau teknik-teknik Taijutsu.
"Baiklah ini hari terakhir aku melatihmu bocah! Kita duel one-one, dan tunjukan kemampuan mu setelah aku latih selama satu minggu ini." Tanpa aba-aba Jiraya melesat berlari dengan cepat ke arah Naruto, tepat saat jarak menipis Jiraya menendang dua kaki Naruto. Melihat Naruto meloncat ke atas untuk menghindari tendangannya, Jiraya dengan gesit memutarkan badannya dan menjejekan kaki kiri nya ke arah dagu bagian bawah Naruto.
Tap! Tap! Tap!
Setelah menghindari jejekan Jiraya dengan melengkungkan badannya ke belakang. Naruto meloncat ke belakang menjaga jarak dengan Jiraya. Dan menatap tajam Jiraya.
"Ayolah bocah! Kita serius!" Jiraya bersuara kecewa saat melihat Naruto terlihat kesusahan menghindari serangan tadi. Ia tahu seharusnya serangan tadi cukup mudah walau dengan gerakan cepat-
DEB!
Menangkap tendangan Naruto, saat tiba-tiba Naruto menghilang dengan gerakan cepat meninggalkan dedaunan kering yang berterbangan di tempat awal berdirinya dan muncul di samping kirinya dengan kaki kanan ke arahnya.
'Jadi begitu, seolah kesusahan saat menghindari serangan tadi dan mengejutkan ku dengan gerakan cepat. Saat aku berbicara tadi, dan~...sight! Aku memakan ucapanku sendiri!' Batin Jiraya di sela-sela menghindari tinjuan, tendangan serangan beruntun dari Naruto yang bertenaga, walau tanpa adanya Chakra dalam serangannya. Dan juga ia merasa sedikit malu. Saat memakan ucapannya sendiri, kepada Naruto pada waktu beberapa hari lalu. 'Dalam pertarungan, kau harus fokus kepada lawanmu. Apa pun itu!'
"Konoha! Daisenko!"
Dengan cepat Jiraya melengkungkan badannya ke belakang, dan mata nya melihat dengan gerakan slow.. kaki kanan Muridnya yang melintas di atas tubuhnya.
Wusss
Tap! Tap! Tap! Tap!
Salto ke belakang dengan cepat dan menjaga jarak dengan Naruto, saat setelah menghindari serangan Naruto.
'Bagaimana kau mengatasi ini, bocah!'
Dengan cepat Jiraya merangkai Segel tangan. Di iringi tarikan nafas secukupnya dan sekali hembusan nafas beruntun dari mulut, keluar sebuah bola-bola api berukuran bola sepak mengarah ke Naruto yang terlihat kaget atas apa yang Jiraya lakukan, tapi itu tidak lama.
BLAR! BLAR! BLAR! BLAR!
Menghindari dengan lincah, bola-bola api yang ke arahnya. Membuat rambut hitamnya bergerak liar kesana kemari saat dirinya bergerak. Menghilang dengan gerakan cepat saat setelah menghindari bola api yang terakhir. Kembali muncul di samping kanan Jiraya yang sepertinya menunggu dirinya.
"Ko!"
Wuss Dugh!
Mengarahkan kaki kirinya ke dua kaki Jiraya. Tapi di tahan dengan mudah oleh Jiraya dengan kaki kanannya.
"No!"
Dengan cepat memutar tubuhnya dan menghantamkan tumit kaki kanan nya ke arah pipi Jiraya. Tapi di tahan juga oleh Jiraya.
Tap!
"Ha!"
Menendang pinggang Jiraya dengan kaki kiri. Dan dengan mudah Jiraya meloncat ke belakang menghindarinya. Membuat Naruto mengumpat di hati saat melihat ke tiga serangan di tahan dan di hindari dengan mudah oleh Jiraya, ya... memang melawan bergelar Sannin itu tidak gampang!, pikir Naruto.
Tap! Whusss
Dan meloncat ke arah Jiraya dengan kaki kanan mengangkat ke atas, jarak menipis dengan Jiraya. Naruto dengan sekuat tenaga menghantamkan tumit nya ke arah Jiraya.
"Daisenpu!"
BUM!
Jiraya hanya tersenyum setelah menahan hantaman tumit Naruto walau pijakannya retak ambles, terlihat di sekitarnya dedaunan kering berterbangan akibat tekanan hantaman Naruto saat ia tahan.
Wuss Tap! Tap! Tap!
Meloncat mundur menjaga jarak dengan Jiraya. Menatap Jiraya serius, 'Kalau begini terus, sudah pasti serangan ku mudah di tahan tahan atau di hindari oleh sensei!' Batin Naruto dengan sedikit berkeringat karena saat menyerang Jiraya dengan tendangan, tinjuan semua itu berisi tenaga full... kenapa! Karena kalau tendangan biasa, apa lagi ia tidak mempunyai Chakra yang Normal pada Shinobi umumnya pasti serangan tendangan itu bagaikan serangan serangan anak berumur Lima tahun yang mengamuk karena tidak di beri permen oleh ayahnya. Kalau bukan lawannya Jiraya. Mungkin saat menahan serangan Naruto akan sedikit kesulitan dan bahkan bisa mematahkan tulang nya sekalipun.
'Baiklah!'
Naruto memposisikan ke dua kaki nya merenggang dan tangannya menyilang ke depan dada. Jiraya yang melihat kuda-kuda Naruto, menyeringai.
'Hm. Rupanya kau mulai serius bocah!'
"Hachimon tonkou! Daisan...Seimon Kai!" teriak Naruto.
BLAR!
Dengan itu aura berwarna merah menguar dan menyelimuti setiap inci tubuh Naruto. Terlihat mata Naruto yang beriris hitam sekarang berubah hitam semua tanpa pupil yang memandang tajam Jiraya, dengan di iringi seluruh kulit yang sedikit menghitam. Terlihat beberapa tanah mengangkat ke atas di sekitarnya.
Jiraya yang melihat Naruto membuka Gerbang ke tiga sekaligus, sepontan kaget. Ia pikir akan berurutan saat akan membuka Gerbang Hachimon. Tapi detik berikutnya ia menatap serius, kali ini ia harus serius kalau tidak ingin beberapa tulang nya patah, saat melihat Naruto berkulit sedikit hitam. Entah kenapa saat ia melihat perubahan Naruto setelah membuka Gerbang Hachimon yang ke tiga atau ke di atas tiga. Ia selalu berpikir kenapa perubahannya berbeda dari si Hijau (Guy) itu, seharusnya 'kan aura yang di keluarkan setelah membuka Gerbang Hachimon yang ke tiga atau di atas tiga akan berwarna Hijau dan berkulit Merah. Tapi ini beraura merah berkulit hitam dan apa lagi mata nya yang menghitam tanpa pupil seharusnya putih tampa pupil..
Memang dirinya kaget waktu itu, saat melihat pertama kali Naruto membuka Gerbang Hachimon dan saat itu 'lah dirinya memikirkan hingga satu malam penuh hanya memikirkan itu. Dulu saat dirinya belum meninggalkan Konoha untuk mengembara, ia melihat Guy kecil melawan Kakashi kecil saat Ujian Chunin tahap Final yang berduel one-one.. nah disanalah dirinya mengetahui Hachimon dengan detil, saat Guy menggunakan Hachimon Gerbang ke dua untuk mengalahkan Kakashi. Tapi tetap akhirnya kalah. Walau sebenarnya dirinya tahu tentang Hachimon itu dari ayahnya Guy.
WHUSS!
Menghindari sebuah tendangan dari samping kiri yang cepat mengarah ke kepala nya dengan jongkok di iringi dedaunan dan debu berterbangan akibat tekanan kecepatan dari Naruto. Tidak sampai beberapa detik mata nya menangkap di permukaan tanah depannya sebuah bayangan semakin membesar, seolah mengerti apa yang akan terjadi. Dengan cepat Jiraya roll ke depan satu kali di iringi suara detuman keras lalu meloncat ke depan dengan memutar tubuhnya untuk menghadap Naruto. Dugaan nya tepat seperti apa yang ia pikirkan tempat tadi ia jongkok hancur dengan kepulan debu yang mengitarinya saat Naruto menghantamkan tumitnya./p
'Cih! Masih belum!' Batin Naruto saat melihat Jiraya menghindari serangannya dengan gesit, padahal dirinya sudah mengunci gerakan Jiraya karena ia yakin bergerak saag posisi jongkok itu susah. Tapi saat Jiraya menghindari serangannya ia harus mengumpat dalam hati walau di luar rautnya berbeda. Ketahuilah ia mempunyai sifat yang... gimana gitu saat serangannya mudah di hindari.
Menghilang dengan gerakan cepat yang hanya blur hitam Jiraya lihat dan kembali muncul di belakang Jiraya yang masih di udara. Mengangkat kaki kanannya ke atas dan dengan kuat menghantamkan ke arah Jiraya.
DUGH! BLAR!
Tubuh Jiraya dengan cepat menikuk tajam ke permukaan tanah, menciptakan retakan tanah yang ambles akibat tubuhnya mencium tanah.
Naruto menghilang lagi di udara dan muncul di dalam kepulan debu sedikit tebal akibat tubuh Jiraya menghantam tanah.
'Apa!?' Mata nya yang hitam membulat saat tidak menemukan keberadaan tubuh Jiraya melainkan bongkahan batang kayu yang hancur menjadi dua. Mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Jiraya.
BRAK
BUGH!
Mata hitamnya membulat saat mendengar suara retakan tanah dengan cepat menengok ke arah bawah dan hanya melihat sebuah kepalan tinju lebih besar darinya, selanjutnya ia merasakan dagu bagian bawahnya terasa sakit di iringi merasakan kedua telapak kaki nya meninggalkan permukaan tanah.
'He! Lumayan, bocah!'
"Daiyon! Shoumon Kai!"
Mata Pria berambut putih sepinggang itu menjeblak terbuka, saat pendengarannya menangkap teriakan Naruto yang membuka Gerbang ke empat dan detik berikutnya dirinya merasakan terjangan angin di ikuti tendangan kaki yang cepat dari arah depan. Dan saat itu insting nya berkerja, dengan cepat menyilangkan kedua tangan nya ke depan dada.
DUGH!
Whuss
BLAR! BLAR! BLAR!
Tanpa merespon tubuh Jiraya terpental ke belakang saat tidak kuat menahan tekanan tendangan Naruto dan harus rela punggungnya menabrak beberapa pohon yang berada di belakangnya yang di laluinya. Sebenarnya ia bisa menahan tendangan itu tapi posisi badan yang tidak menguntungkan.
'Menarik!' Batin Jiraya di sela tubuhnya meluncur menghantam pohon-pohon. Dirinya yakin kalau Orang lain setelah mendapatkan serangan pasti akan berdiam diri dulu, tapi ia lihat Naruto dengan cepat bangkit kembali dan bahkan menyarangkan serangan balik. Menabjubkan, pikir Jiraya.
'Ugh! Sial, aku harus bertahan!' Batin Naruto jatuh tertunduk meringis merasakan efek samping pembukaan Hachimon, walau reginerasi nya cepat. Tetap saja efeknya masih berat karena tubuhnya yang masih belum siap dan masih lemah, apa lagi dirinya baru menggunakannya teknik ini untuk bertarung... walau sebenarnya ia sudah bisa membuka Gerbang ke Lima dalam latihan... seharusnya efeknya sedikit, tapi itu bukan dalam pertempuran. Jadi intinya dirinya hanya 'membuka' bukan ' menggunakan' kekuatan apa Hachimon berikan saat latihan.
Jiraya hanya melangkah dengan tenang ke arah Naruto yang tertunduk dan jatuh pingsan, setelah bangkit dari serangan Naruto tadi.
'Efeknya ya! Mungkin tubuhnya belum kuat untuk menampung kekuatan yang secara mendadak itu.'
Setelah dekat Jiraya mengangkat tubuh Naruto yang pingsan ke atas pundak kanannya, mengedarkan pandangannya ke sekitar dan melihat beberapa cekungan kawah, retakan dan pohon yang hancur korban hantaman tubuh dirinya. Lalu men-Shunshin dirinya, setelah menghilangkan Kekai yang di pasang tadi. Sekarang tujuannya adalah Rumah Sakit Konoha, mungkin tiga hari bocah ini akan sembuh mengingat reginerasinya yang dia miliki.
•
Naruko, pasti sudah tau opini tentang dia, mempunyai sifat periang, kelakuan biasa terkadang jahil, dan yang menjadi ciri khasnya adalah selalu bersemangat di saat terpuruk dan selalu ceria saat para penduduk dan beberapa murid menatapnya jijik dan benci.
Tapi sekarang opini itu sepertinya hanya bohong belaka. Berjalan dengan langkah tak bersemangat di gang menuju apartemen nya dengan Matahari yang mau tenggelam, setelah pulang dari atas patung Hokage. Sekali lagi orang yang selalu memenuhi hatinya tidak berangkat, walau dirinya sudah tahu kalau orang itu sudah meminta izin kepada Iruka sensei Akademi kalau dia tidak akan masuk selama satu minggu. Tapi berharap orang itu berangkat tidak apa-apa 'kan, pikir Naruko murung, terlihat jelas di wajah imutnya dengan surai Pirang emas panjang di ikat dua sepinggang.
Tidak lama ia sampai di depan pintu apartemen nya dan sekali memutar kenop pintu itu...iris biru langitnya menatap sendu (ralat 'rindu') ke arah pintu apartemen di samping apartemen nya yang di tempati orang itu lalu mendorong pintu apartemen nya ke depan dengan di ikuti dirinya masuk ke dalam, mandi, makan dan tidur. Biasanya dirinya setelah pulang dari Akademi ia akan berkunjung ke apartemen orang itu, walau orang itu terkesan cuek bebek kepada ke sekitarnya. Tapi berbeda kepadanya, orang itu selalu meng'iyakan' kalau dirinya meminta atau apalah (tapi masih di batas Normal). Dan dirinya tidak ambil pusing tentang itu. Yang terpenting orang itu mengakui dirinya bukan monster. Bukan seperti penduduk yang selalu memanggilnya monster dan dirinya tidak tau kenapa ia di panggil monster, dia juga sama dengan dirinya yang selalu di kecilkan dan di jauhi karena mempunyai sedikit Chakra dari Shinobi normalnya. Memang...dirinya terlalu naif, kalau orang itu mempunyai Chakra normal seperti Shinobi lainnya. Apa dia masih menganggap dirinya bukan monster? Entahlah dirinya tidak tau, tapi -
Menggelengkan kepalanya membuat surai pirang emasnya bergerak, mengusir pikiran-pikiran negatif itu. Merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran kecil lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimutnya.
Beberapa hari setelah satu minggu Naruko lewati tetap orang itu tidak berangkat ke Akademi. Sekarang dirinya bangun pagi hari dengan tidak semangat seperti tiga hari setelah satu minggu lalu. Dengan langkah seperti zombie Naruko berjalan ke kamar mandi. Tidak butuh lama dirinya selesai mandi dengan raut sedikit lebih cerah. Naruko memakan ramen instan yang sudah ia seduh tadi dengan pelan seolah tidak mau makan dan itu mengejutkan kalau orang lain melihatnya. Mengingat Naruko yang selalu semangat kalau makan ramen. Tapi sebegitukah orang itu penting dalam hidupnya..entahlah.
•
Naruto dengan tenang keluar dari apartemen nya, setelah kemarin malam pulang dari rumah sakit Konoha. Mengingat waktu pelatihan terakhirnya dirinya pingsan saat baru membuka Gerbang Hachimon ke empat yang membuat hati kecil nya sedikit kecewa. Dan juga dirinya mendapatkan pesan dari Gurunya itu di sebuah kertas selembar. Yang tertutulis,
'Hei! Bocah. Kalau sudah bangun..pesanku jaga Naruko dan temani dia, pasti kau tahu 'kan. Dan aku beritahu informasi kalau di tubuh Naruko itu terdapat Kyuubi di segel dalam dirinya..yang menyerang Desa Konoha dua belas tahun lalu, jadi jagalah aku mohon jagalah dia apa-pun yang terjadi. Kenapa aku percayakan kepada mu, karena aku lihat kau satu-satu nya orang yang sangat akrab dengan Naruko. Dan pesanku yang terakhir giatlah latih tubuh mu kalau kau ingin menguasai Gerbang Hachimon ...kalau bisa buatlah teknik mu sendiri. Sampai jumpa kembali bocah!'
Setelah membaca pesan itu, jadi dirinya tahu alasan kenapa para penduduk memanggilnya monster. Tapi yang mengganjal adalah apa hubungannya Jiraya-sensei dengan Naruko, pamannya? Entahlah.
Sekarang dirinya memakai kaos orange yang bergaris hitam di ujung jaitannya dengan celana pendek abu-abu bersaku. Dengan rambut jabriknya terlihat sedikit rapih walau tetap berantakan di lihatnya.
Menengok ke pintu apartemen di samping kanannya dan melangkah ke depan pintu itu.
Tok! Tok! Tok!
"Ya... ap-" Tak di duga oleh Naruko saat ini orang yang rindukan di depannya. Naruto hanya mengangkat sebelah alisnya heran menatap Naruko yang masih di ambang pintu apartemen nya, 'biasanya akan berterik ayo berangkat! ' Batin Naruto heran sedikit percaya diri.
"Hm. Ada apa kau menatapku seperti itu seolah aku suami mu yang baru pulang sepuluh tahun lamanya." perkataan percaya diri yang terdengar dan mengagentakan Naruko yang di ambang pintu sekaligus menyadarkannya. Tapi saat akan berucap membalas perkataan Naruto tadi, Naruto sudah menyelonong pergi.
"Ayo!, berangkat. Jam masuk Akademi sebentar lagi." Meninggalkan dan menghiraukan Naruko yang bengong, blank. Namun di lubuk dasar hati Naruko ada secuil rasa senang melihat orang yang di rindukannya kembali.
•
Berjalan dengan diam di sebuah gang menuju Akademi. Membuat Naruto jengah, tidak biasanya Naruko yang selalu ngoceh tanpa henti kalau akan berangkat ke Akademi tapi sekarang hanya diam menundukan kepala nya membuat poni menutupi matanya, tapi tetap ia hiraukan. Dan berjalan dengan diam.
"Naruto-kun!, kemana saja satu minggu lebih ini?"
Berbicara juga, pikir Naruto mendengar perkataan Naruko yang berada di samping kanannya. Namun ada yang aneh, dalam perkataan tadi terselip nada kerinduan membuat dirinya bingung.
"Tidak kemana-mana, hanya berlatih saja." jawab Naruto tenang masih berjalan seraya memasukan tangan kirinya ke dalam saku celana. Naruko yang mendapatkan jawaban itu hanya mengagguk, sebenarnya sih kurang memuaskan...tapi biarlah.
Tidak lama Naruto dan Naruko tiba di depan pintu Akademi dan membukanya lalu masuk ke dalam.
"Kau terlambat Naruto, Naruko! Dan sepertinya kau sudah kembali ya Naruto!?" ujar Pria dengan bekas luka melintang di atas hidungnya. Iruka guru Akademi Naruko, dan Naruto. Yang sebenarnya dirinya baru datang sebelum kedua murid didiknya ini tiba.
"Baiklah, sekarang kalian berdua duduk aku akan jelaskan pelajaran hari ini!" tambah Iruka kepada Naruto dan Naruko sekaligus ke semua muridnya. Naruto hanya mengangguk dan melangkah ke tempat duduknya di ikuti Naruko yang di belakangnya karena tempat duduknya semeja dengan dirinya.
Skip time
Setelah pulang dari Akademi Naruto berlatih di Tranning Ground 13 yang sudah tidak di pakai latihan oleh Ninja Konoha yang berada di dekat Hutan kematian. Push Up, Back Up, Sit Up Naruto lakukan sebanyak seribu kali atau dua ribu kali, tiga ribu kali dan mengelilingi Konoha sebanyak Lima puluh kali bahkan sampai seribu kali putaran tanpa henti, setiap hari setelah pulang dari Akademi. Sesekali Naruko ikut dengan Naruto berlatih yang sudah kembali kepada sifat aslinya yaitu, Ceria. Dan saat itulah Naruko mengumpat dengan ocehan kaga jelas tentang latihannya.
"Apa kau gila dua ribu kali Push Up, Back Up, Sit Up dan apaan itu... berlari mengelilingi Desa yang luas ini Lima puluh Kali!"
Itulah umpatan Naruko pada waktu itu, sebelum mengoceh kaga jelas kepada Naruto.
Dan sesekali Naruto berpapasan dengan Duo mahluk astral hijau saat berlari mengelilingi Konoha, dan pada waktu itu ia ingin sekali bertarung dengan duo mahluk astral itu yang dirinya tahu bernama depan Lee dan Guy. Karena Narito tahu kalau duo mahluk astral itu pengguna Taijutsu seperti dirinya. Katakanlah insting pengguna Taijutsu, mengetahui sesama pengguna Taijutsu.
•
Satu tahun kemudian setelah pelatihan dengan Jiraya. Dan dalam waktu itu Naruto selalu dengan sangat Gila, tapi tidak menurut Guy dan Lee.
Pagi
Naruto, Naruko berjalan beriringan menuju bangunan Akademi yang terlihat di mata mereka berdua dengan wajah tak peduli Naruto dan dengan raut ceria Naruko.
"Hm. Naruko, apa kau sudah mempersiapkan tes Ujian Genin nanti!?" tanya Naruto kepada Naruko yang berada di samping kanan nya. Memang saat ini hari Ujian Genin seangkatannya setelah tiga tahun lamanya dan itu membuat Narito semanga, karena akan terjun langsung ke Dunia Shinobi yang keras itu.
Saat ini dirinya memakai pakaian berkerah pendek Hitam dengan beberapa garis orange gelap di setiap ujung jaitannya, bersaku yang membalut kaos hitamnya. Dengan bawahan celana panjang standar Chunin ukuran kecil.
"Sudah, beruntung Hokage-jiji mau melatihku!" balas Naruko dengan ceria di wajahnya yang di kedua pipi terdapat guratan seperti kumis kucing dan itu menambah poin keimutannya. Dengan pakaian (sama dengan Naruto kecil Canon).
"Baguslah kalau begitu."
"Kalau Naruto-kun, bagaimana!?" tanya Naruko dengan menengok ke arah Naruto.
"Sama!" hanya itu jawaban yang di keluar dari mulut Naruto dan membuat Naruko cemberut memalingkan mukanya ke samping dengan kedua pipi sedikit di kembungkan memerah.
Naruto yang sempat melihat itu di buat gemas. Dirinya menahan untuk tidak menerkam pipi kenyal itu sekarang juga. Menggelengkan kepalanya saat otaknya akan kongselt sudah memikirkan kemana-mana. Jangan salahkan hormon sexy nya ini.
Melangkah masuk kedalam ruangan kelas nya setelah cukup memakan waktu untuk tiba di depan pintu kelasnya. Dan hal yang pertama saat masuk ke dalam kelas ia sudah menebak apa yang terjadi.
'Keributan'
Ada yang berlarian, bermain dengan anjing. Izunuka Kiba, ada yang diam dengan wajah sok datar itu. Uchiha Sasuke, ada yang hanya diam duduk menunggu Guru datang. Hyuuga Hinata dan beberapa murid lainnya, bahkan ada yang tidur dan makan dengan tenang. Akimichi Choji dan Nara Shikamaru. Menghiraukan itu semua Naruto dan Naruko berjalan ke arah tempat duduknya yang berada di belakang meja si muka tembok Uchiha. Tepat saat melewati anak bermuka tembok, Naruko yang ada di belakang Naruto. Melihat samar-samar lirikan tajam dari Naruto ke Sasuke dan Sasuke pun membalas lirikan tajan Naruto, dan duduk dengan tenang. Tidak lama Iruka-sensei datang memberitahu Ujian Genin akan di mulai dan menyuruh seluruh murid untuk berkumpul di lapangan Akademi menjalasnkan tes Ujian Genin yang berada di belakang.
Skip Time Ujian Genin
Semua murid lulus dalam Ujian Genin ini, termasuk Naruto yang mengeluarkan satu teknik Taijutsu nya dan Naruko dengan eleman anginnya, saat salah satu syarat untuk lulus Genin yang di kuasai untuk di peraktek 'kan.
Saat ini Naruto dan seluruh murid yang baru lulus menjadi Genin sedang berbaris di tengah lapangan belakang Akademi yang menghadap ke arah Iruka yang di belakangnya terdapat panitia Ujian Genin yang kini sedang duduk dengan meja segi panjang.
"Baiklah selamat telah menjadi Genin Konoha dan besok jam delapan pagi datang lah ke sini untuk pembagian Tim dan siapa yang akan memegang Roty tahun ini. Dan bubar!" ujar Iruka kepada semua murid yang sudah menjadi Genin. Dengan itu semua Genin bubar dan kerumah masing-masing, kecuali Naruto yang sekarang waktunya latihan dan kali ini Naruko ikut berlatih dengannya di tempat biasa yaitu di Tranning Ground 13. Dan Naruto harus menyiapkan kupingnya untuk menerima ceramah atau oceha dari Naruko karena nanti akan melihat cara berlatihnya yang seperti dulu pertama kali dirinya di ceramah oleh Naruko.
•
•
•
•
~_To. Be. Continued_~
•
A/N : sekaligus Up 2 Chapter!
Penampilan Naruto sama seperti Menma dengan pakaian seperti Obito kecil atau Dan anime Bakugan (kalau tidak salah nama anime nya).
Dan penampilan Naruko, pasti sudah tahu semua..
Yami no Yusuf Out~
