"Kamu, datanglah besok pagi ke taman ini. Aku akan memberikan hasil fotonya padamu."
Sayangnya, di keesok hari Hinata sakit dan tak dapat bangun dari ranjang. Dan saat dia datang lagi ke taman itu, sang anak berambut merah tak pernah lagi terlihat.
Hingga akhirnya Hinata bosan menunggunya dan memutuskan untuk menyerah. Meski hatinya tak semudah itu melakukannya.
.
…*…
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Saya tidak menerima keuntungan berupa material apapun dari pembuatan fanfiction ini.
Warning: OOC, Modern!AU, Typo(s), etc
Kesalahan data sangat mungkin terjadi akibat kurangnya materi yang membahas setting dan detail mengenai kehidupan seorang model. Nama brand hanya imajinasi semata, kalau ada kesamaan dengan brand dunia nyata, hanya kebetulan semata.
.
…*…
.
Baru dering kedua yang sampai di telinga Hinata saat sebuah suara akrab menyapanya.
"Halo?"
"Niisan, ini aku."
"Hinata?" Terdengar nada lega dari suara pemuda yang mengangkat telepon itu. "Mengapa kau tak menelepon kemarin? Aku khawatir terjadi apa-apa denganmu."
Sebuah senyum lembut tersungging di wajah sang gadis. Sudah dia perkirakan jika kakak sepupunya akan mengajukan pertanyaan tersebut begitu mengangkat telepon. Apa boleh buat, Hinata melupakan janjinya menelepon sang kakak sepupu selepas tiba di Perancis. Baru pagi ini dia teringat.
"Neji-niisan tenang saja. Aku hanya terlalu lelah kemarin hingga lupa menelepon," setengah kebohongan dia lemparkan demi kebaikan. Memangnya apa yang akan dia katakan? Lupa menelepon karena terlalu berdebar-debar bertemu dengan seorang pemuda? Siap-siap diintrogasi saja jika nekat menjawab dengan jujur.
"Syukurlah kalau begitu." Suara deru napas yang teratur mengisi kekosongan sejenak di antara mereka. "Kau menginap di mana selama di Perancis, Hinata?"
"Sampai dua hari ke depan, aku masih akan menginap di Hotel du Pantheon. Setelah mulai pemotretan, tempat menginap kami akan disiapkan oleh pihak Sahara." Hinata merapikan tempat tidurnya, handphone dikepitnya di antara leher dan kepala. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, Niisan. Ino sudah mempersiapkannya dengan matang."
"Kau tidak pergi ke tempat yang aneh-aneh kan? Gay bar atau tempat prostitusi misalnya."
Hinata tersedak mendengarnya. "Mengapa Niisan menanyakan hal seperti itu? Tentu saja aku tak melakukannya."
"Hanya bertanya saja." Neji menghela napas panjang. "Harusnya aku ikut saja ke Paris. Kau tahu kan, dunia model tidak sebersih kelihatannya. Aku tak mau kalau kau sampai terjebak di bagian gelapnya, Hinata."
Gadis itu menghela napas panjang. "Tentu saja, Niisan. Kau sudah mengatakannya berulang kali padaku. Aku sudah dewasa, aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Tapi tetap saja…" Neji terdiam sejenak, tampaknya tengah memikirkan sesuatu. Dan Hinata yakin, itu bukan hal yang baik baginya. "Kurasa seharusnya aku tetap menentang pilihanmu menjadi model."
"Hanya karena Niisan adalah kakak sepupuku, itu tak berarti Niisan dapat memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan!" Tanpa sadar Hinata menaikkan nada suaranya. Otomatis dia menutup mulutnya dengan panik. "Maafkan aku, Neji-niisan. Aku tak bermaksud untuk menentangmu, hanya saja aku… kurasa aku sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihanku sendiri…"
Andaikata Neji ada di hadapannya, pastilah pemuda itu sudah menepuk kepalanya lembut dan memasang wajah sendu. "Aku tak bermaksud mengontrolmu, Hinata. Hanya saja, aku khawatir terjadi sesuatu padamu. Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai itu terjadi."
"Terima kasih banyak, Niisan. Terima kasih karena telah memikirkanku hingga seperti ini." Hinata tersenyum lembut. Sampai kapanpun, kebaikan hati kakak sepupunya akan selalu menjadi harta karunnya yang berharga. Meski terkadang merepotkan, Hinata tahu jika hal itu dilakukan demi kepentingannya. "Niisan sedang apa di sana?"
"Berlatih memanah. Paman menganggap kemampuan memanahku turun drastis karena aku lebih banyak menghabiskan waktu belajar manajemen perusahaan." Itu menjelaskan mengapa suara napas kakaknya terdengar lebih berat dan keras dari biasanya. "Kau sendiri, apa yang sedang kau lakukan di sana?"
"Aku sedang membereskan kamar. Tenten, Ino dan Sakura sedang berenang sekarang."
"Kusumpahi tiga gadis manja itu karena telah berani menyuruhmu membersihkan kamar sementara mereka bersenang-senang." Neji mendengus kesal.
Hinata tersenyum kecil. "Aku hanya membersihkan bagianku saja, Niisan."
"Baguslah kalau begitu. Kau jangan terlalu memanjakan mereka, Hinata. Jangan jadikan dirimu sendiri sebagai pembantu mereka hanya karena usia karirmu lebih pendek." Hinata tertawa pelan mendengarnya. Ia yakin Neji sebenarnya tahu pasti jika tiga gadis lainnya selalu memperlakukannya dengan baik. "Jadi, apa rencanamu hari ini?"
"Ino mengajak kami jalan-jalan di beberapa pusat perbelanjaan Paris. Dia bilang, pergi ke Paris tak akan lengkap tanpa belanja." Dia tertawa sejenak saat mengingat pidato penuh semangat Ino tadi pagi. Padahal Hinata yakin jika itu semua dilakukan Ino hanya untuk memenuhi hasrat belanja di pusat mode dunianya saja. "Kau ingin menitip sesuatu untuk oleh-oleh, Niisan?"
Hinata menebak Neji tengah menggeleng saat keheningan kembali terjadi. Kadang kakak sepupunya itu melupakan fakta jika mereka tidak sedang bertatap mata jika tengah menelepon. "Kau bawakan saja satu atau dua gaun untuk Hanabi. Dia menolak menggunakan kimono untuk pesta perdananya."
"Apa Hanabi mengatakan alasannya?"
"Memangnya alasan apa lagi yang akan diberikan seorang gadis SMA yang akan menghadiri pesta prom-nya?"
Hinata tersenyum miris. Teringat saat pesta prom-nya dulu. Dia datang menggunakan kimono berwarna ungu muda dengan motif bangau. Dan pada akhirnya, dia hanya duduk di sudut ruangan karena tak dapat beradaptasi dengan teman-temannya.
Ia menghela napas panjang.
Setidaknya Hanabi tak perlu merasakan perasaan yang sama dengannya. Gadis itu pandai bergaul dan senang bermain. Hampir tiap minggu dia selalu membawa temannya ke rumah. Tentunya teman perempuan. Neji tak akan membiarkan adik-adik sepupunya didekati oleh sembarang pemuda.
"Hinata, kau masih di sana?" suara khawatir Neji membunyarkan lamunan Hinata tentang adik perempuannya yang tengah menginjak akhir masa remaja.
"Ah, i-iya," Hinata merutuki kegagapannya. "Aku hanya… sedang memilih baju untuk digunakan berjalan-jalan nanti saja, Niisan."
Kebohongan besar. Siapapun juga tahu kalau Hinata tengah bersilat lidah. Dia bukan gadis yang bisa terlalu lama berada di depan lemari hanya untuk menentukan pakaian yang akan dia kenakan. Sudah tentu Neji hapal benar kebiasaannya yang satu ini.
Tapi sepertinya pemuda itu tak ingin mengungkitnya saat ini. "Oh, kalau begitu aku akan segera mematikan teleponku. Selamat menikmati harimu, Hinata. Berhati-hatilah pada pencopet. Jangan termakan bujukan penjebak turis. Dan jangan berjalan terlalu jauh dari Ino. Kau tak akan tahu apa yang akan kau temui di Paris. Hati-hati pada pria di sana. Lidah mereka terlalu lincah untuk berkata manis…"
Jangan salahkan Hinata jika dia kembali teringat pada si rambut merah menawan semalam.
"…dan semoga pekerjaanmu lancar."
"Terima kasih, Niisan," bisiknya pelan. "Titip salam untuk Ayah, Paman dan Hanabi. Tanyakan juga apa warna yang diinginkan Hanabi untuk gaunnya."
"Akan kusampaikan. Jangan lupa telepon nanti malam."
"Ya."
Hinata adalah orang pertama yang mematikan sambungan telepon lintas benua itu. Otaknya tak pernah lagi dipenuhi oleh nasihat-nasihat bernada protektif kakaknya seperti setahun lalu. Ia sudah terlalu sering mendenggarnya, dan ia juga sudah terlalu sering tak mengabaikannya.
Namun kali ini beda.
'Hati-hati pada pria di sana. Lidah mereka terlalu lincah untuk berkata manis.'
Bisikan itu terus menggema di kepalanya dan membuatnya pusing. Memorinya kembali pada sosok Gaara yang ditemuinya di bar malam lalu. Pada rambut merahnya, pada mata hijau berbingkai kantung matanya, pada tato cinta di dahinya, pada bibir tipis dengan kata-kata sinisnya…
Semuanya…
Andai kata dia bertemu Gaara dua tahun lalu sebelum dia terjun ke dunia modeling, tentulah dia akan dengan senang hati mengikuti nasihat kakaknya dan menjaga jarak dari pemuda itu minimal sepuluh meter.
Tapi itu dulu. Sekarang segalanya sudah berbeda. Ia bukan lagi Hyuuga Hinata yang lembut, pemalu dan merupakan sosok gadis Jepang sempurna dalam bayangan tiap turis naif. Dia adalah seorang model muda dengan pesona yang terus diasah. Karakternya sudah berubah banyak—meski belum terlalu banyak hingga tak dapat dikenali.
Mari kita ingat-ingat apa kata Tsunade saat dia baru saja masuk ke agensinya dua tahun lalu dan mendapatkan bimbingan setaraf neraka untuk membentuk karakternya.
'Seorang model harus memiliki ciri khas. Kau bisa saja menjadikan sikap pemalumu sebagai ciri khas. Namun bukan berarti kau harus tetap seperti ini. Model harus memiliki kepercayaan diri yang besar. Daya saing. Kesombongan. Sifat seorang primadona yang selalu ingin menjadi ratu. Jika tidak, maka kau hanya akan tertelan di dunia ini. Lihatlah para seniormu dan belajarlah dari mereka. Masih belum terlambat untuk mempermak dirimu mulai saat ini.'
Hinata menggigit bibirnya. Jika dia membandingkan dirinya dengan teman-temannya, dia sadar, dia masih jauh di bawah mereka. Dia belum dapat menemukan karakternya sebagai model dengan baik. Para fotografer dan desainer itu mungkin berpendapat jika karakter Hinata di depan kamera adalah lembut dan pemalu, namun mereka salah. Itulah sifat asli dirinya yang terbawa hingga ke depan kamera. Sementara dia sendiri belum menemukan sosok dirinya yang diimpikannya.
Sudah menjadi hobinya membandingkan diri dengan orang lain. Ia iri melihat Sakura yang sanggup memberikan kesan maskulin tanpa menghilangkan sisi feminin miliknya. Atau Ino yang seksi dan panas jika sudah berhadapan dengan kamera. Bahkan Tenten dengan karakter atraktifnya pun tampak mengagumkan.
Sementara Hinata? Acap kali dia melihat hasil fotonya sendiri, dia merasa kosong. Tak ada jiwa di dalamnya.
"Kau melamun?"
Hinata tersentak kaget. Saat berbalik, dia sudah mendapati wajah Sakura yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk tengah memandanginya.
"A-aku tak mendengarmu masuk… Sakura…" kebiasaan tergagapnya muncul lagi. Sebuah senyum yang terlalu dipaksakan menghiasi wajahnya.
Sakura mengibaskan rambutnya yang setengah kering hingga mencipratkan butiran air ke atas ranjang. "Aku tidak masuk mengendap-endap seperti penjahat seksual, lho. Kau saja yang terlalu khusuk melamun."
Hinata tertawa kecil mendengarnya. "Sudah selesai berenang?"
"Kalau belum, tentu sekarang aku masih mengenakan bikini dan berusaha balas menenggelamkan babi pirang itu—akh, hidungku masih perih kemasukan air." Sakura menggosok hidung kecilnya yang sudah memerah. "Apa yang kau lamunkan?"
Hinata mengangkat bahu sambil membersihkan debu di sudut kaca dengan jarinya. "Aku baru menelepon Neji-niisan. Entah mengapa aku jadi memikirkan nasihatnya."
"Huh, dia itu harus segera menyembuhkan sister complex-nya. Semakin lama semakin parah saja," Sakura bersungut kesal. Diambilnya hair dryer dan dikeringkannya rambut merah mudanya dengan suhu tinggi. "Aku tak akan pernah lupa saat dia menyeret paksamu pulang saat pesta selepas peragaan busana perdanamu." Rambut-rambut merah muda berterbangan tak beraturan.
Hinata tersenyum sambil mengambil pengering rambut dari tangan Sakura. Diturunkannya suhu hingga mencapai suhu ideal untuk menata rambut. "Saat itu usiaku baru sembilan belas tahun, Sakura. Aku belum legal mengkonsumsi minuman beralkohol." Dengan bantuan sisir, helai-helai merah muda itu tunduk dari kekeras kepalaannya.
"Tapi tetap saja sifatnya yang kolot itu mengesalkan."
Hinata hanya tertawa pelan.
"Oh ya, malam ini aku dan Tenten berencana untuk wisata kuliner—jangan tanya mengapa aku tak menyertakan Ino, sudah pasti dia menolak dengan alasan diet. Kau mau ikut?"
"Terima kasih, tapi aku terpaksa menolaknya…" Ya, Hinata masih ingat dengan keputusan finalnya untuk pergi memenuhi undangan dari Gaara lagi malam ini di L'Étoile. Lupakan sejenak soal nasihat dari Neji, toh Gaara sepertinya bukan pria dengan kata-kata manis. "Aku… sudah punya acara sendiri."
"Kau akan berkencan dengan pria merah itu?"
Gerakan hair dryer terhenti seketika. Memanaskan pada satu bagian kulit kepala terlalu lama hingga membuat si pemilik surai merah muda mengaduh. Hinata menggelengkan kepalanya sejenak, mencoba mengusir kekagetan yang sempat singgah. "Ba-bagaimana…"
"Aku melihatmu mengobrol dengannya semalam," Sakura memotong pertanyaan Hinata dengan cepat. Satu tangannya digunakan untuk merapikan poni belah tengahnya untuk menonjolkan bagian jidat. "Bukannya aku tak senang sih, kau dekat dengan seorang pria. Tapi aku mulai merasaka kalau kau memiliki sebuah fetish tersendiri pada rambut merah."
Hinata merona mendengarnya. "A-aku bukan penderita kelainan seksual… Sakura…"
"Tapi aku tak mengada-ada bukan?" Sang gadis merah muda memamerkan seringainya yang paling menyebalkan. "Coba katakan padaku, siapa pemuda yang pernah membuatmu tertarik dan tidak memiliki rambut merah?"
Hening menyambut.
"Sudah kuduga." Sakura memasang pose kemenangan. "Aku memang tak tahu alasan mengapa kau selalu tergila-gila pada rambut merah. Tapi aku senang melihatmu punya ketertarikan khusus pada sesuatu."
Hinata menganggkat wajahnya yang menunduk. "Kau… tidak menganggapku aneh?"
Yang ditanya hanya mengernyitkan alisnya sebagai jawaban. "Memangnya apa yang salah? Selama kau belum terlalu fanatik pada suatu fetish, kurasa itu sah-sah saja."
"Terima kasih," bisik Hinata sambil memberikan sentuhan terakhir pada rambut merah muda Sakura. Merubah rambut acak-acakan setengah basah tadi menjadi helaian-helaian lurus yang jatuh di leher sang gadis tomboi.
Sakura memperhatikan penampilannya di cermin dan tersenyum puas. "Kau selalu hebat melakukannya, Hinata. Seperti profesional!"
Sang gadis indigo tersenyum malu-malu.
"Jadi, kau mau cerita soal cowok yang kemarin bersamamu?" tawar Sakura sambil memasang wajah penasaran. "Tenang saja, aku tak akan menceritakannya pada Ino kok. Kau tahu kan, aku bisa jaga rahasia."
Hinata menutup wajahnya yang memerah dengan tangan dan berbisik malu-malu. "Aku tak terlalu mengenalnya. Bahkan… kemarin aku bersikap sangat buruk padanya. Aku benar-benar bersikap seperti seorang gadis yang menyebalkan…"
"Oh, ayolah. Seberapapun menyebalkannya kau bersikap, tak akan pernah melebihi aku, Hinata. Aku yakin kau tidak memukul rusuknya atau menendang kemaluannya kan?" Sakura merangkul pundak Hinata dengan akrab untuk menenangkan gadis itu. "Jadi, katakan padaku. Apa kau sempat menanyakan nama atau nomor teleponnya?"
"Ti…tidak…"
"Tidak?"
Sebelum Sakura memulai kembali kuliahnya tentang perlunya seorang gadis bersikap agresif atau persamaan derajat perempuan masa kini yang tak mengharuskan perempuan duduk diam di rumah sambil menunggu pangerannya datang, Hinata kembali berkata, "Ta…tapi aku tahu namanya… setidaknya, aku tahu bagaimana cara memanggilnya…"
"Katakan padaku. Aku akan mencari namanya di gugel dan memastikan jika dia bukan pelaku pemerkosaan untukmu," Sakura berkata antusias sambil menyangga kepalanya dengan kedua tangan. Matanya membulat seperti anak anjing yang minta dibelai pemiliknya.
Hinata tersenyum malu-malu. "Namanya Gaara. Tapi… aku tak tahu nama belakangnya…"
"Sabaku."
"Hm?" Hinata bertanya mendengar nada dingin yang keluar dari bibir Sakura. Suara yang amat berbeda dengan suara ceria sang gadis yang antusias mendengar sahabatnya sudah memiliki pria incaran yang baru.
"Namanya Gaara Sabaku. Atau Sabaku Gaara jika kau menyebutnya dalam bahasa Jepang."
Mata Hinata terbuka lebar. "Sa…sabaku? Jadi… dia…"
Sebuah tawa miris gadis bersurai merah muda itu keluarkan. Mata hijaunya melirik ke jendela hanya untuk menghindari tatapan mata Hinata yang menghujaninya dengan pandangan terkejut. "Ya, dia sepupuku." Tawa miris itu kembali terdengar. "Ternyata dunia ini sangat sempit ya."
.
…*…
.
"Lima menit lagi kau berkencan dengan kameramu, akan kupastikan kau menginap di gudang boneka Kankuro, Gaara."
Ancaman yang menggelikan. Sangat menggelikan andai saja Gaara tak ingat jika gudang boneka kakaknya berisi boneka-boneka yang seolah keluar dari film horor. Tidak, dia tidak mau dihantui Jigsaw atau Annabelle semalaman penuh. Apalagi mengingat dia pernah memiliki trauma dengan boneka berbentuk manusia.
Ucapkan terima kasih pada kakak perempuannya, Sabaku Temari. Di usia tujuh tahun, berkat hobinya mendandani boneka dengan lipstick merah Nyonya Sabaku, dia berhasil menumbuhkan ketakutan abadi pada jiwa adik bungsunya.
Lagipula, anak lima tahun mana yang tidak ketakutan melihat boneka dengan bibir dan baju bernoda merah darah terendam di bak mandi yang airnya juga sudah berubah sewarna liquid manusia?
Yang jelas, sejak saat itu ancaman yang berhubungan dengan boneka selalu menjadi ancaman paling ampuh untuk pribadi bebal sang bungsu Sabaku.
"Apa lagi yang kau inginkan? Sabaku Temari?" desisnya tak suka sambil membuka pintu kamar. Lensa dan peralatan pendukung kameranya tampak jelas masih berserakan di atas meja, tanda jika Gaara tengah menikmati bercumbu dengan benda yang menjadi simbol profesinya. "Aku sudah memenuhi permintaan egoismu untuk membantu pemotretan lusa. Apa lagi maumu sekarang?"
Temari menyunggingkan senyum manisnya melihat kekesalan sang adik. "Ini saatnya sarapan."
"Aku tidak butuh."
Gaara sudah hendak membanting pintu kamarnya dengan kesal dan melanjutkan kegiatan bercinta dengan lensa-lensanya andai saja kaki panjang Temari tak menghentikannya. "Kau terus mengurung diri sejak kemarin. Apa putus dengan penjaga toko itu sebegitu buruknya hingga kau berubah sedrastis ini?"
"Ini tak ada hubungannya dengan Matsuri," jawab Gaara cepat. "Aku hanya sedang mempersiapkan kameraku saja."
"Ini pasti bukan urusan pemotretan lusa kan? Kau tak pernah seantusias itu saat ikut membantuku," tuduh Temari sambil membuka kembali pintu kamar Gaara. Matanya menjilat seluruh isi ruangan hingga terhenti pada pigura foto di samping ranjang Gaara. Sebuah senyum tersungging di wajahnya. "Jadi kau sudah menemukannya ya? Kali ini bukan seorang pria kan?"
Gaara mendengus tak suka dan memaksa kepala ingin tahu sang kakak keluar dari zona pengelihatan kamarnya. "Sudah atau belumnya bukan urusanmu."
"Jadi? Kali ini siapa?"
Gaara benar-benar lupa kalau Temari sudah jadi kakaknya selama dua puluh dua tahun. Kebohongan atau elakan kecil tak akan mempan pada gadis itu. "Bukan siapa-siapa. Hanya seorang gadis yang tak sengaja aku temui di bar semalam."
"Kau pergi ke bar setelah berpisah dengan kekasihmu dan pulang tanpa Hidan harus meneleponku atau Kankuro karena kau sudah tak teler di atas konter?" Temari bersiul pelan sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Dia gadis yang mengagumkan. Sangat mengagumkan. Kalaupun dia bukan gadis di dalam bingkai foto itu, aku yakin kau pasti akan bertahan lama dengannya."
"Kau selalu mengatakan hal yang sama tiap kali aku berkencan."
Temari terkekeh pelan. "Tak ada salahnya bersikap optimis bukan?" Diacaknya rambut berantakan Gaara, dihadiahi sebuah dengusan tak suka. "Kau tahu, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu."
Gaara terdiam.
"Dan aku benar-benar berharap kau akan segera mengakhiri masa lajangmu."
Gaara membanting pintu.
"Bagaimana dengan sarapannya?!" teriak Temari dari luar kamar sambil terus menggedor pintu kamar Gaara dengan sadis.
"Kau habiskan saja bagianku dan jadilah gemuk!" balasnya jengkel.
Suara tawa renyah terdengar. "Dasar tidak jujur."
Gaara memijat keningnya yang bertato kesal. Seharusnya ia memang tak melakukan dialog bodoh dengan kakak perempuannya. Wanita pirang itu selalu sukses membaca hatinya. Dan itu membuatnya risih.
Matanya terpaku pada gambar di dalam bingkai foto. Gambar yang sejak belasan tahun lamanya dia pajang di sana dan menjadi satu bentuk obsesi tersendiri yang tak akan pernah dimengerti orang lain. Gambar yang telah mengubah hidupnya secara drastis, membuatnya menentang orang tua dan menghentikan sekolahnya demi mengejar cita-cita menjadi photografer.
"Ma Perle…" bibirnya menggumamkan julukannya pada sosok di dalam bingkai.
Sebuah senyum kelewat tipis tersungging. Pemuda itu mengacak rambutnya pelan sebelum duduk di depan mejanya. Berkutat dengan kekasihnya yang paling setia—setidaknya untuk saat ini. Kameranya.
.
…*…
.
"Tanyakan kepadaku!"
Sakura memutar matanya malas. "Channel." Ia menyeringai lebar melihat bibir mengerucut Ino tanda jawaban singkat Sakura tepat sasaran. "Aku tahu kau selalu tergila-gila dengan brand itu, Pig."
"Kau benar-benar tak seru, Forehead! Aku ingin membuat Tenten dan Hinata menebak-nebak ke mana kita akan belanja hari ini." Ino merapatkan kacamata hitam yang dikenakannya dan memasukkan kunci mobil. "Tapi tenang saja. Channel hanya satu dari ratusan butik yang akan kita kunjungi hari ini. Dan akan aku pastikan kalian akan mendapatkan apa yang kalian mau."
Hinata menggigiti bibirnya tanda panik. Bukan, ia tak panik masalah uang yang akan dikeluarkan—bagaimanapun juga honor sebagai model selama satu tahun ini sudah lebih dari cukup untuk belanja selama satu hari di pusat mode dunia. Yang ia khawatirkan adalah keberadaannya dalam sebuah mobil berwarna merah cerah beratap terbuka yang entah sejak kapan sudah terparkir di tempat parkir hotel. Apalagi dengan adanya sebuah kunci mobil di tangan sang gadis peranakan Perancis.
"Kau pulang terlalu cepat semalam, Hinata. Deidara menyusul ke L'Étoile dan meminjamiku salah satu mobilnya untuk dibawa jalan-jalan selama di Perancis." Itulah jawaban yang diberikan Ino tatkala Hinata menanyakan perihal keberadaan mobil mewah itu.
Tapi satu yang Hinata lupa saat Ino mengatakan hal itu. Surat izin mengemudi Ino bertanda matahari terbit. Dan yang ia tahu, itu tidak berlaku di Perancis.
"Ka…kau yakin ini boleh dilakukan, Ino?" tanya Hinata was-was saat Ino mulai mengeluarkan mobilnya ke jalan raya.
Sang gadis pirang dari bangku depan mengangkat bahunya. "Tentu saja tidak."
"Ba-bagaimana jika kita tertangkap?" tanya Hinata panik. Terbayang olehnya apa saja hukuman yang akan diberikan sang ayah jika nanti pria itu tahu dia ditangkap pihak kepolisian negara romansa akibat berkendara dengan pemudi ilegal. "Bukankah lebih baik jika kita pergi dengan bus atau taxi saja?" usulnya.
"Terlambat kalau kau baru bilang sekarang, Hinata." Ino menekan gas dalam-dalam dan mobil itu langsung melaju di jalanan kota yang sudah agak ramai.
Ada dua hal yang paling tidak harus Hinata syukuri. Pertama adalah wajah Ino yang sama sekali tak menunjukkan ciri khas wajah Asia Timur—setidaknya itu dapat memberikan kesan seolah Ino adalah guide tour yang membawa rombongannya. Dan kedua adalah gaya menyetir Ino yang—ternyata— cukup halus. Ini sangat perlu disyukuri mengingat baru kemarin Hinata menghabiskan waktu setengah jam penuh di kamar mandi hotel untuk menguras perutnya. Ucapkan terima kasih pada Deidara Yamanaka yang menyetir bagai orang kesurupan.
Sakura yang duduk di samping kursi pengemudi tertawa riang. Tangannya ia letakkan di belakang kepala sebagai bantalan dan kakinya dia silangkan. "Tenang saja. Ayah Ino adalah mantan kepala polisi di Paris. Dia tak akan membiarkan anak gadis kesayangannya jadi tawanan akibat mengemudi tanpa SIM."
"Tapi kau tak akan tahu hukuman apa yang akan diberikan Dad padaku jika sampai itu terjadi."
Kejutan! Ternyata Hinata bukan satu-satunya orang yang menghawatirkan ayahnya di sini.
Tenten menoel lengan Hinata yang terbuka. "Coba lihat ke luar! Paris bahkan lebih indah jika dilihat langsung dibandingkan hanya dari foto yang diberikan Ino!" katanya riang. Rambut cokelatnya yang hari ini tak dicepol berkibar tertiup angin.
"Itu karena Ino payah saat memegang tombol shutter." Sakura menjulurkan lidahnya.
"Bukan salahku! Aku adalah objek foto. Bukan subjeknya!"
Hinata tak mengindahkan protes yang dilempar Ino pada Tenten. Matanya sibuk menjelajahi bangunan-bangunan berasitektur klasik yang berjejer rapi di tepi jalan atau taman-taman hijau segar yang menjadi tempat pilihan untuk bersantai. Dalam hati dia mencatat nama-nama kafe jalanan dengan meja-meja bulat dan kursi tertata rapi serta petak-petak bunga menghiasi sebagai destinasi pengisi sore hari untuk minum teh.
Sekilas matanya menangkap sosok berambut merah acak-acakan tengah bermain bersama anjing berbulu abu-abu di salah satu taman yang mereka lewati.
Gaara?! Hatinya berdegup cepat saat otaknya langsung menghubungkan sosok berambut merah itu dengan pria yang semalam merayunya. Namun kilat bahagia di matanya meredup saat menyadari pemuda di taman itu masih memiliki alis.
Salah orang. Hinata mencatat dalam hati untuk tak menghubungkan setiap orang berambut merah adalah Gaara—atau pemuda masa kecilnya.
Saat ia kembali menghadap depan. Sepasang mata hijau tajam Sakura tampak memperhatikan melalui spion dengan pandangan menuduh.
"Bukan." Gadis merah muda itu berkata pendek. Seolah mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh Hinata. Atau mungkin dia memang tahu.
Hinata mengangguk malu-malu. "Aku tahu itu."
"Ada apa?" Tenten yang duduk di samping Hinata menoleh ke belakang untuk mencari apapun yang menjadi objek pembicaraan abstrak Hinata dengan Sakura. Sayangnya Ino keburu membelokkan mobil sehingga mata cokelat itu tak sempat menangkap sosok si merah dengan anjingnya.
"Bu-bukan apa-apa…" Hinata tergagap sambil mengalihkan pandangannya kembali pada gedung-gedung berornamen cantik yang tak lagi memikat alam bawah sadarnya. Dia melakukannya semata-mata hanya untuk menutupi rona wajahnya saja.
Tenten mengerutkan alisnya curiga. "Kau tak mau mengatakannya padaku? Padahal aku ini calon kakak iparmu, Hinata."
"Memangnya Neji sudah resmi jadi kekasihmu?" seloroh Ino. Tawa keras terdengar dari bibirnya yang dipulas warna orange tipis. Satu tangannya melakukan high five dengan Sakura yang duduk di sampingnya. Duo iblis dari Konoha Agency sepertinya sudah kembali.
"Lihat saja nanti. Aku pasti akan mengenakan wedding dress putih dan berjalan memasuki gereja dengan Neji menunggi di depan altar!"
"Itu jika Neji memilih menikah di gereja," balas Sakura sambil memainkan rambut merah mudanya yang jatuh menutupi mata. "Sepertinya keluarga Hyuuga akan lebih senang jika pewarisnya menikah di kuil dengan menggunakan kimono."
Tenten mendengus mendengarnya dan melanjutkan debat tak pentingnya dengan dua gadis lainnya. Sementara Hinata mengalihkan pandangannya pada deretan pertokoan yang mulai ramai didatangi wanita untuk berbelanja.
Sahara.
Matanya menangkap sebuah plat nama bermodel klasik yang terpajang indah di atas bangunan berasitektur renaissance dengan cat putih gading yang indah. Bermacam jenis baju, mulai dari bikini hingga gaun pengantin, serta goodies tampak jelas dari jendelanya yang jernih.
Sahara. Brand baru di bawah perusahaan Sabaku yang namanya melesat beberapa tahun terakhir. Dengan desainer muda cantik bernama Sabaku Temari sebagai pemilik sekaligus perancang tunggalnya.
Brand yang sudah menjadikan dirinya brand ambassador untuk cabang Jepang.
Brand yang memilih dirinya untuk mengikuti pemotretan khusus di Perancis untuk karya-karya terbaru Temari.
Brand yang pemiliknya tanpa sengaja masih memiliki hubungan darah dengan salah seorang temannya.
Brand daru perusahaan yang dibuat oleh keluarga pria yang menarik atensinya dua hari terakhir ini.
Kepala Hinata berputar memikirkannya.
.
…*…
.
"Tak kusangka kau akan datang ke sini malam ini," Hidan yang sedang mengelap gelas-gelas koktail berkata saat Hinata mendudukkan diri di depan bar. Matanya melirik pada jam dinding berwarna putih yang terselip di antara berbotol-botol minuman keras. "Masih sepuluh menit sebelum waktu janjimu dengan Gaara. Mau minum sesuatu?"
Hinata menimang-nimang sejenak. Mabuk sepertinya bukan rencana yang tepat. "Blue moon saja," jawab gadis itu singkat. Matanya melirik ke arah lantai dansa. Belum terlalu ramai. Tentu saja, siapa juga yang hendak menari erotis saat matahari saja belum terbenam penuh?
"Tertarik untuk menari?" tanya Hidan yang menyadari arah pandang Hinata. "Sejak kemarin kau tak turun ke lantai dansa."
"A…aku benci menggosokkan tubuhku dengan tubuh orang lain…" Hinata berbisik saat menjawabnya. Berharap suara musik menelan kata-katanya agar tak sampai ke telinga bartender. Telinganya memerah membayangkan alasannya yang terdengar sangat kekanakan.
Sayangnya itu tak terjadi. Hidan tertawa pelan mendengar suaranya. "Hilang ke mana keberanianmu kemarin saat menantang Gaara, Mademoiselle Hinata?" pria berambut putih mengkilap itu memasukkan jus nanas sebagai salah satu bahan koktail pilihan Hinata ke dalam pengocok es. "Ah, aku lupa jika kemarinpun kau tergagap saat bicara dengannya."
"Aku sudah berusaha sekeras mungkin, "gumam Hinata lirih. Jari-jarinya sibuk berpilin untuk mengurangi kegugupannya. "Tapi mungkin aku belum terlalu berhasil ya."
"Kalau memang bukan karaktermu, mengapa kau berkeras menggunakannya?"
Hinata tersentak kaget mendengar suara berat dari arah belakang. Dia menoleh hanya untuk menemukan sosok Gaara dengan pakaian kasual tengah berdiri di belakangnya. Sudah sejak kapan dia ada di sana? Mengapa Hinata tak dapat merasakan kehadirannya?
"Mau pesan apa, Gaara?"
"Nanti saja. Aku malas minum." Pemuda itu masih mempertahankan posisi berdirinya dan memandang Hinata.
Hinata menundukkan wajahnya. "Ma-masih ada sepuluh menit sebelum waktu janji kita…"
"Aku sengaja datang lebih awal untuk membuatmu berkata 'Maaf sudah membuatmu menunggu.' Tapi sepertinya aku tak berhasil."
Hinata memalingkan wajahnya yang merona. Jarinya kembali bermain di depan dada dengan lincah untuk mengurangi kegugupannya.
Gaara menyipitkan matanya, seolah berusaha menembus segala pertahanan emosi yang dibangun Hinata dan membaca perasaannya. "Jangan buat dirimu tak nyaman dengan karakter yang sama sekali bukan dirimu. Tak ada seorang pun yang menganggap gadis yang senang berpura-pura itu memesona."
Hinata menelan ludah. Satu lapis pertahanannya terasa sudah tertembus. "Bu-bukan urusanmu. Ini pilihanku. Pekerjaanku. Dan aku… aku sudah memutuskan untuk menjalaninya…" Ia mengalihkan pandangannya dari Gaara. Dalam dua detik dia segera menyesalinya.
Matanya terpaku pada sosok yang berdiri di belakang Gaara dengan ekspresi datar yang sama sekali tak cocok dengan karakternya. Mengenakan gaun hitam ketat yang Hinata kenal baik sejak tadi siang.
Menyadari fokus Hinata tak lagi pada dirinya, Gaara mengikuti arah pandangan sang gadis ke balik punggungya. Matanya menajam saat bertemu dengan sepasang mata lain serupa matanya yang memandang dengan aura tidak bersahabat.
"Sabaku Gaara…" desis sosok itu dengan suara dingin.
Senyum congkak tersungging di wajah pemuda yang namanya disebut. "Lama tak berjumpa, sepupu."
.
…TBC…
.
Makasih sudah baca FF ini.
Chanel dan Google namanya aku plesetkan jadi Channel dan Gugel. Apa boleh buat, soalnya aku mau publish FF ini juga di AO3 dan di sana dilarang penyebutan merk :D
Ayzhar: Kurasa chapter ini sudah menjawab pertanyaanmu soal OOC Hinata. Bagaimanapun juga, model nggak boleh punya sikap pemalu. Itu yang aku dapatkan selama pelatihan singkat dulu. Soal Gaara juga ada alasannya. Tapi nggak aku kasih tahu sekarang ya. :) Iya, Deidei aku buat agak berantakan memang.
Katsumi: Makasih sarannya. Tapi aku nggak mau buat Hinata OOC tanpa alasan yang jelas untuk menghormati Masashi Kishimoto sebagai pencipta Hinata. ^^
Napas dan Suli Hime: Aku lanjutin kok. Makasih sudah review ya.
Bagi yang login, nanti aku balas lewat PM ya, sekalian ngobrol #plak
Soal L'Etoile dan Sahara memang adalah nama karanganku. Sedangkan hotel dan bandara yang chapter lalu muncul adalah tempat di dunia nyata. Soalnya aku nggak berani deskripsiin tempat yang aku nggak yakin pasti gambarannya. Kalau ada yang jeli, pasti tahu aku membelokkan beberapa fakta soal tempat itu demi kepentingan alur.
Oh ya, kalau ada yang bingung kenapa judulnya jadi kapital semua, salahkan temanku yang berpendapat kalau judul satu kata lebih cocok menggunakan huruf kapital atau kakakku yang berpendapat kalau judul sebaiknya kapital semua ._.
Jangan lupa kritik dan sarannya ya. Aku masih butuh banyak latihan lagi dalam menulis.
Wonosobo, 2 Agustus 2014
