THE PENDANT FROM GOGURYEO
Remake from Tere Liye's anthology, Berjuta Rasanya
An original story from China, The Legend of Liang Shanbo and Zhu Yingtai
Taekook; Namjin; Minyoon
BTS and some characters belong to God, their parents, and their agency.
Rated T
Warn: GS (GENDER SWITCH) for uke! Angst! Typo(s), boring, etc
Enjoy yas!
Seokjin menggigiti jempol tangan kirinya. Entah sudah berapa kali ia berlaku seperti itu. Tangan kanannya tak sedikit pun lepas menggenggam tangan putrinya. Iya, putrinya yang sudah dua hari jatuh sakit. Nalurinya sebagai ibu tak ingin meninggalkan anaknya sedetik pun, maka dua hari pula ia tak pernah lekang dari kamar pribadi semata wayangnya.
Ia mengamati mata yang terkatup itu. Sesekali tangannya beralih mengusap pelipis putrinya yang basah karena keringat dingin yang terus merembes.
"Jungkook-ah." Panggil Seokjin pada putrinya yang masih memejamkan mata.
Tak ada jawaban. Sudah tujuh kali ia menyuruh pelayan untuk mengganti air hangat untuk mengompres dahi putrinya, tapi tak kunjung membaik. Semalam suhu badannya semakin naik. Sementara telapak tangan dan kakinya sangat dingin dan badannya menggigil. Ia mengeratkan selimut tebal yang membungkus putrinya saat bibir mungil Jungkook menggumamkan kata 'dingin' berulang kali. Seokjin tak sampai hati, sesekali ia memeluki putrinya.
"Jungkook-ah. Kenapa suhu badanmu tidak turun, hm? Sembuhlah, sayang. Ibu sangat mengkhawatirkanmu," ada selarik nada getir di suara itu. "Jungkook-ah, jangan begini."
Lalu setitik air mata lolos dari sudut mata Seokjin, meluncur bebas mengenai tangan Jungkook yang tengah ia genggam dan ia ciumi. Ia tidak tahu harus apa. Dari hari pertama Jungkook sakit, ia sudah akan memanggil tabib istana, tapi Jungkook melarangnya. Sementara pelayan istana sudah berbaris rapi di balik pintu kamar pribadi putrinya, siap siaga jika sewaktu-waktu Seokjin menitahkan sesuatu pada mereka.
Pipi Seokjin masih basah ketika kedua netra yang menyerupai miliknya itu mulai mengerjap lalu dengan pelan terbuka.
"Jungkook-ah. Kau sudah sadar, sayang?" tanya Seokjin saat Jungkook masih menyesuaikan penglihatannya dengan terang ruangan. Pelan ia menoleh ke samping pada Seokjin.
"Ibunda?" panggil Jungkook lirih.
"Iya, sayang. Ibunda di sini. Ah, syukurlah kau sudah sadar. Ibunda sangat mengkhawatirkanmu." Seokjin masih mencium tangan putih Jungkook. Pelayan di luar mendesah lega sambil mengatupkan tangan di depan dada mendengar anak dari keluarga kerajaan yang mereka abdi sudah siuman.
Jungkook masih menatapi ibunya yang terus menggenggam tangannya dengan pipi yang basah. Pandangannya lalu turun ke pakaian yang Seokjin kenakan. Jungkook menghela napas, merasa bersalah. Ibunya memakai pakaian yang sama sejak dua hari yang lalu. Jungkook tahu, tipikal ibunya yang tak akan beranjak jika Jungkook sakit.
"Ibunda. Maafkan, aku." Kata Jungkook parau.
Seokjin menggeleng, "tidak mengapa, sayang. Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit? Apa kau butuh sesuatu?"
Jungkook menggeleng, "aku sudah merasa lebih baik dari pada semalam."
"Tapi suhu badanmu tetap tinggi, anakku."
"Aku tidak mengapa, ibu. Sungguh," Jungkook mencoba meyakinkan ibunya, "Ah, apa ibunda memanggil tabib istana?" tanya Jungkook tiba-tiba setelah jeda sejenak.
Seokjin menggeleng lagi.
"Apa ibunda berkata pada ayah bahwa aku sakit?"
"Tidak. Sesuai yang putriku minta."
"Ayah?" Seokjin mengangkat alis. "Ayah ke mana? Aku ingin bertemu ayah."
Seokjin diam sejenak, menimbang, "Kau sungguh ingin bertemu ayah?"
Jungkook mengangguk.
Seokjin sudah akan memanggil salah satu pelayan untuk ia utus menemui ayah Jungkook, ketika tangan putrinya menahan pergelangannya sebentar, "ibunda mandilah. Aku tahu ibunda dua hari menjagaku. Biar aku di sini bersama Yoongi."
Seokjin mematung sejenak.
"Aku sungguh tidak apa-apa, ibu. Percayalah."
Setengah hati Seokjin mengangguk, menggusak pucuk kepala putrinya lalu keluar ruangan dan mengutus beberapa pelayan untuk menyampaikan kabar dan memanggil Namjoon, suaminya, serta menyuruh mereka untuk menyiapkan air hangat untuknya membersihkan badan.
Setelah memastikan ibunya hilang dari pandangan, dengan sedikit terhuyung Jungkook langsung mencoba bangun dari ranjang, dan bertitah, "Yoongi, rencana kedua! Sekarang!"
Satu-satunya pelayan yang mempunyai keleluasaan keluar-masuk ruangan pribadi Jungkook, Min Yoongi, bergegas menutup pintu kamar. Lalu membantu Jungkook duduk di tepian ranjang.
Oh, Jungkook tidak boleh lengah. Benar ia sedang sakit, tapi mau tidak mau ia harus melakukannya. Bertahun-tahun ia menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan rencana 'memberontak' ayahnya.
Dua hari yang lalu, ia terlibat pertengkaran hebat dengan ayahnya. Dikatakan hebat karena akar permasalahannya memang luar biasa hingga membuat Namjoon murka. Bagaimana tidak? Secara lugas Jungkook berkata, "ayah, biarkan aku keluar dari kerajaan dan berguru ke Biara Taekkyeon!"
Perkataan Jungkook waktu itu langsung mendapat tatapan marah ayahnya. Ia bisa melihat kilatan emosi yang menggelegak. Tanpa pikir panjang telapak tangan besar Namjoon mendarat dengan keras di pipi mulus putrinya.
"Kim Jungkook! Berani-beraninya kau!" Namjoon kalap. Ia mendesis marah pada permata satu-satunya dari pernikahannya dengan Seokjin.
Seokjin yang saat itu tengah buru-buru setelah Yoongi memberitahunya tentang Namjoon-Jungkook yang bertengkar, sampai pintu dan melihat putrinya di pukul ayahnya sendiri, ia terperangah.
"Namjoon!" Seketika ia mendorong Namjoon, menjauhkan tangan suaminya yang masih terkepal. Jika sedang marah dan kalut Seokjin sudah melupakan etiket kerajaan untuk memanggil suaminya dengan sebutan 'Yang Mulia', "Apa-apaan kau ini! Dia putrimu, Namjoon!
Namjoon mendengus.
"Lihat Seokjin! Putrimu yang kaumanjakan! Yang kau longgarkan ketika ia merengek tidak mau mengikuti kelas keputrian kerajaan! Berani-beraninya ia meminta berguru ke tempat nista itu!" marah Namjoon sambil menatap Jungkook yang terduduk di depannya sambil memegangi pipinya yang panas dan ngilu akibat kemarahan ayahnya.
"Tapi bukan berarti kau harus memukulnya! Kau sudah berjanji tentang itu! Astaga, putriku!" Setelah ia menjauhkan Namjoon, ia mendekati putrinya lalu memeluknya erat-erat.
Lambat laun suara isakan terdengar dari balik pandangan Jungkook yang menunduk. Satu dua hingga banyak air mata membasahi pipinya, juga baju yang diperuntukkan bagi keluarga kerajaan berwarna ungu yang ia kenakan. Ia menangis di pelukan ibunya, menangis dengan keras dan menyakitkan saat tahu bahwa ayahnya tega memukulnya. Padahal sebelumnya, meskipun ia sebebal apapun, sedikit pun Namjoon tak pernah tega menyakitinya.
Tidak. Jungkook tidak boleh lemah dan selembek ini meskipun dipukul ayahnya.
"Ini hanya permulaan, Kook." Eranganya dalam hati. Dengan mata nyalang yang basah, pelan ia mendongak, menatap tepat di netra ayahnya.
"Ayah, aku meminta seperti itu bukan tanpa alasan! Ayah memukulku dan menyalahkanku karena ayah tidak mengerti dengan benar perasaanku! Aku muak, ayah! Aku muak menjadi seorang putri dan menjadi anggota kerajaan! Aku muak menjadi seseorang yang tidak tahu apa-apa!"
Jungkook berhenti sebentar mengatasi isaknya. Hatinya harus tetap kokoh.
"Apa karena ayah seorang jenderal, ayah melarangku untuk berguru ke sana, ke tempat para biarawan yang kausebut sebagai pemberontak!? Apa karena ayah sekarang seorang jenderal ayah memukulku!? Ayah, sadarlah. Yang nista itu bukan para biarawan itu, tetapi kerajaan inilah yang memeras dan membudak rakyat! Ayah bangga dengan itu!?" ia menatap wajah ayahnya dengan sorot terluka. "Ayah adalah jenderal terpayah yang pernah aku temui."
Jungkook menumpahkan gelegak emosinya dengan kalimat penuh penekanan. Tanpa babibu lagi ia bangkit dari duduknya. Meninggalkan ayahnya yang masih mendesis marah, juga ibunya yang dari tadi menangis dan membelanya.
Jungkook berjalan tergesa dari ruangan itu, ia sangat muak merasakan aura ayahnya saat pangkat jenderal melekat di tubuhnya. Bagi Jungkook, Namjoon tidak lagi seperti ayahnya yang ia kenal sebelum hari pengangkatan itu.
Sampai di kamarnya ia membanting pintu dengan keras dan tanpa ia sadari seseorang menunggunya di sana. Yoongi. Sahabat dekat Seokjin saat Seokjin belum dipersunting Namjoon dan sebelum ia menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Seseorang yang Seokjin bawa menjadi orang kepercayaannya saat mengandung dan membesarkan Jungkook. Yoongi, yang merupakan ibu kedua bagi Jungkook menunggunya di kamar, mengambil Jungkook dan membawanya ke dalam pelukan.
Jungkook kembali terisak saat bahu kecil itu merengkuhnya dengan hangat.
"Yoongi…" panggil Jungkook dengan suara parau dan terisak dalam dekapan Yoongi. Tangan pucat Yoongi berlari mengelus punggung orang yang sudah ia anggap anaknya sendiri. "Ayah memukulku, Yoongi."
Yoongi semakin mendekapnya dan berkata 'ssshhh', menenangkannya.
Hampir setengah jam Yoongi mempertahankan posisi sebagai topangan Jungkook. Punggungnya sudah kebas, tapi ia tetap bertahan untuk 'anaknya'.
Lelah dengan tangisannya, Jungkook tertidur di dekapan Yoongi. Napasnya teratur satu-dua. Tangan Yoongi menelusuri pipi gadis yang sudah ia asuh sejak masih merah itu. Lalu ia bergerak ke dahi Jungkook, panas. Yoongi menghela napas.
"Selalu saja seperti ini. Kau selalu berakhir jatuh sakit setelah bertengkar dengan ayahmu yang sama batunya itu." Ucap Yoongi lirih dan prihatin.
Ia segera memanggil pelayan lain yang bersiaga di depan kamar dan menyuruh mereka membantunya untuk menidurkan Jungkook. Sementara ia menitahkan pelayan yang lain untuk mengambilkan air hangat untuk mengompres dahi dan pipi Jungkook hingga Seokjin tiba di kamar menyusulnya.
…
Yoongi dengan sigap mengambil sesuatu yang sudah ia sembunyikan di bawah ranjang sesuai dengan perintah Jungkook. Sebuah buntalan kain berwarna abu-abu, yang jika dilebarkan kain itu ternyata baju khas tabib kerajaan.
Jungkook berdiri dari duduknya di tepi ranjang. Kepalanya masih berat sekali, dan saat ia tiba-tiba beranjak kepala belakangnya seakan dipukul godam besar, sakit sekali. Ia berpegangan pada kayu ranjang sementara Yoongi mulai melepaskan lapisan hanbok putih Jungkook dan memakaikan baju tabib itu padanya. Tak lupa ia merapikan rambut sebahu Jungkook dan mengikatnya ke atas hingga menyerupai seorang tabib laki-laki.
Derap langkah berat dan terburu terdengar di ujung lorong. Jungkook dan Yoongi terkesiap. Yoongi segera merapikan hanbok Jungkook lalu menaruhnya di kolong ranjang. Sementara Jungkook langsung menata ranjangnya, menumpuk bantal dan guling lalu menutupinya dengan selimut hingga menyerupai gundukan. Berdua mereka segera berlari ke posisi masing-masing. Yoongi di sudut ruangan, dan Jungkook berdiri setelahnya.
Dengan tidak mengacuhkan rasa sakit kepalanya, Jungkook akan melakukan sedikit drama detik ini juga. Tidak peduli apapun konsekuensinya, ia harus melakukan sesuatu yang ia dan Yoongi sebut sebagai 'rencana kedua'.
Derap langkah itu berhenti sekejap saat pintu kamar Jungkook terbuka. Memperlihatkan sosok tubuh yang tegap dan gagah, persis seperti seorang pemimpin perang yang disegani lawannya. Diteman dengan pengawal pribadinya, Park Jimin, Kim Namjoon berdiri di depan pintu sambil mengedarkan pandangan ke tengah ruangan. Ia menautkan alis, kata pelayan putrinya ingin bertemu dengan dirinya, tetapi yang ia temui adalah anaknya yang terlihat pulas di balik selimutnya. Lalu pandangannya berhenti pada dua orang di sudut ruangan sambil membungkuk, memberi penghormatan kepadanya.
"Selamat datang, Yang Mulia." Ucap Yoongi yang saat itu memakai hanbok biru gelap. Rambut sebahunya selalu terikat rapi ke belakang. Sementara ia menyikut 'tabib' gadungan di sebelahnya yang diam saja.
"Eh, selamat datang, Yang Mulia!" ucap tabib itu dengan suara besar yang dibuat-buat.
Namjoon berjalan masuk ke tengah ruangan, berdiri di antara ranjang dan dua orang itu.
"Apa Jungkook sedang tidur?" tanya Namjoon pada Yoongi.
"Benar, Yang Mulia."
Namjoon mengangguk.
"Jimin, bukankah kemarin kau berkata jika Jungkook menolak dipanggilkan tabib?" tanya Namjoon dengan pandangan menyidik, kali ini pada Jimin.
Jimin menurunkan pandangannya saat ia ditatap atasannya. Sudut matanya menangkap gelengan kepala halus dari Yoongi, mengisyaratkan agar ia tak mengatakan yang sebenarnya.
Selain Yoongi, orang yang tahu dan selalu pro dengan Jungkook adalah Park Jimin, tangan kanan sang jenderal.
Jimin menghela napas sebentar, lalu mengangguk, "Benar, Yang Mulia. Kabar yang saya terima beberapa hari yang lalu memang Tuan Putri bersikeras tidak ingin dipanggilkan tabib. Tapi setelahnya saya tidak tahu, mungkin tadi setelah sadar, Tuan Putri berubah pikiran. Mengingat saya menerima titah terakhir hanya untuk memberitahukan Yang Mulia bahwa sang putri sudah bangun dari ketidak-sadarannya."
Namjoon diam lalu mengangguk singkat mendengar penuturan Jimin. Pandangannya beralih pada seseorang yang berpakaian seperti tabib istana, tadi bedanya kali ini tabib itu memakai cadar. Namjoon tidak tahu jika kerajaan memberlakukan peraturan baru tentang cara berpakaian para tabib.
"Lalu bagaimana keadaan Jungkook, tabib?" tanya Namjoon sambil melangkah mendekat hingga jaraknya dengan sang tabib hanya tinggal setengah meter.
Si tabib sedikit terperanjat. Berdehem sebentar, tabib itu berkata setenang mungkin, "terakhir saat saya memeriksa Tuan Putri badannya masih panas, Yang Mulia. Ujung tangan dan kakinya dingin dan menggigil," ia berhenti sebentar. "Tadi malam ia juga meracau sambil berkata 'biarkan aku pergi, ayah. Biarkan aku pergi'. Yoongi juga menyaksikannya."
"Lalu?"
"Mungkin saya tidak tahu apa yang dimaksud Tuan Putri pergi ke mana, tapi dengan segala permohon maaf sikap lancang saya sarankan Yang Mulia untuk menuruti keingin Tuan Putri. Karena mengingat sakit Tuan Putri yang sebelumnya, ia tidak akan sembuh jika keinginannya tidak dipenuhi."
Namjoon tertawa kecil mendengar penuturan sang tabib, lalu ia menatap gundukan yang diam di atas kasur Jungkook.
"Kau sepertinya sangat mengenal Jungkook, ya?" Namjoon menyeringai, beralih menatap tabib itu. Dari awal ini sudah terlalu ganjil, "lalu jika ia masih sakit dan badannya masih panas kenapa ia sanggup untuk berdiri tegap saat ini?"
Yoongi dan tabib itu terkesiap.
"Oh, tidak! Apa ini benar-benar akhir dari hidupku?" kata hati si 'tabib Jungkook' yang saat ini juga berdentum-dentum. Sementara ayahnya sekarang berdiri tepat dan dekat di depannya.
Namjoon menatap lamat-lamat tabib itu sebelum suara halus langkah kaki menuju kamar itu. Lalu dengan sedikit entakan Namjoon menarik cadar si tabib, terkuaklah siapa dibalik balutan kain cadar itu.
"Yang Mulia kau sudah di sini? Oh, ada tab ̶ Jungkook!?" pekik Seokjin saat ia sudah memasuki kamar Jungkook setelah membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya sebentar.
Jungkook yang telah ketahuan kedoknya membeku di tempat. Pandangannya masih menghadap lantai. Dalam hati ia merutuki kesialan ini. Ia tahu jika rencana kedua ini sangat rawan, tapi tidak ada salahnya mencoba, kan? Jungkook juga sudah siap secara fisik dan batin jika ayahnya murka lagi.
"Jungkook! Apa yang kaulakukan!?" sergah Seokjin lagi. Ia tidak menyangka. Sebentar saja ia tinggalkan, putrinya sudah bertingkah sejauh ini. Seokjin memijat pelipisnya. Bukan perkara mudah jika putrinya bebal seperti ini. Sementara suaminya masih tidak buka suara. Oh, Seokjin rasanya ingin mencabut gumpalan rambut yang melingkar di kepalanya saja.
"Marahlah kepadaku, ayah," kata Jungkook rendah ketika ayahnya tetap tidak bereaksi dan setelah ibunya memandangnya dengan lelah. Matanya sudah berkaca-kaca tetapi ia memberanikan menatap tepat pupil Namjoon, "pukul aku lagi, sekarang juga. Tapi kumohon, ijin ̶ "
Belum habis kalimat Jungkook, lelaki tegap di depannya tiba-tiba memeluknya. Erat, tanpa sekat, "Pergilah… Pergilah, putriku." Suara serak tapi berwibawa milik Namjoon bergema di seluruh ruangan. "Ayah mengijinkanmu."
Hatinya luruh. Salah satu sudut hati Namjoon tidak bisa mengelak jika ia adalah ayah yang payah mengingat kemarin ia memukul putrinya. Melihat mata anaknya yang hampir menitikkan air mata namun di dalamnya terdapat tekad yang bergelora, Namjoon tak bisa. Ia tak bisa menahannya lebih lama. Melihat Jungkook yang seperti itu sama saja ia melihat masa mudanya dulu. Teguh, keras, dan pemberontak.
Ibu bersumpah, jika sekarang kau sangat bebal. Maka anakmu akan lebih dari seribu kalimu! Kelak anakmu adalah satu-satunya orang yang akan mengalahkan kepala batumu!
Namjoon memejamkan mata. Ia memang sangat marah saat putrinya sendiri membohonginya, tepat di depannya, dan di depan para pelayan kerajaan. Tapi ia tidak bisa mengelak jika sumpah ibunya dulu masih sangat melekat di otak cemerlangnya.
Mendengar penuturan dan dekapan ayahnya yang tiba-tiba, tangis Jungkook pecah. Dari tadi ia sudah ketar-ketir jika Namjoon akan memukulnya. Jungkook memang siap, tapi melihat ayahnya yang tiba-tiba lunak ia tak bisa menahannya. Ia tergugu. Air matanya tumpah membasahi baju kebesaran ayahnya.
"Tapi pengabulan ayah bersyarat," kata Namjoon setelah melepaskan pelukannya. "Syaratnya kau harus pandai menutupi identitasnmu, Jungkook-ah. Ayah tidak mau tahu bagaimana caranya. Karena jika sampai orang-orang di kerajaan induk Shilla tahu, bukan hanya kau dan ayah yang menjadi taruhannya. Tapi semua penghuni di sini."
Jungkook mendengar ayahnya sambil menunduk dan terisak.
"Kau sanggup, anakku?"
Jungkook mengangguk yakin lalu memeluk ayahnya lagi. Biar bagaimana pun, bahu tegap di depannya ini adalah ayahnya. "Aku sanggup, Ayah."
Seokjin menghela napas. Begitu pula dengan Yoongi dan Jimin. Mereka lega jika akhir dari perdebatan ayah-anak ini berakhir lunak. Karena jika Namjoon tetap murka dan bersikeras, kepala Yoongi dan Jimin termasuk dalam urutan peserta penggal karena membantu dan membiarkan anaknya berbohong padanya.
Karena mereka semua tahu. Di balik tatapan Namjoon, tersimpan kebengisan dan tiada ampunan sebagai seorang Jenderal Kerjaan Shilla Bersatu.
TBC
Hola, baca saja. Maaf ya aku slow. Terbagi-bagi dengan ff yg lain;(
Spoilernya, next chap si pikook ketemu.
Udah gitu aja, REVIEWnya yaa, semoga suka.
ED
