MANIK hitam di kedua mata Nara bergerak cepat untuk melihat kondisi di luar. Betapa terkejutnya gadis itu apa yang ia lihat hanya motor sport hitam Junhong tanpa pemiliknya. Gadis itu kelabakan melihat adiknya dan orang misterius itu menghilang. Nara mengidik ketakutan.


Langkah Kaki di Koridor Sekolah


Memasang wajah waspada dan sedikit rasa takut, Nara melangkahkan kakinya di koridor lantai 2. Deruan napasnya yang tak karuan membuat bibir tipisnya sedikit terbuka. Kali ini hidungnya tak bisa memasokkan oksigen sendirian. Ribuan jejak yang tak terlihat membekas di lantai-lantai keramik koridor sekolahnya. Dan sekarang, gadis itu sudah berdiri di depan pintu kaca lobi sekolah. Tak terasa langkah-langkah kecil yang ia buat sukses mengantarkannya ke tempat tujuan.

Matanya menerawang keluar. Degupan jantungnya semakin membuat dadanya sesak. Handle pintu kaca dihadapannya membekukan telapak tangannya.

Dingin. Sedingin segenggam salju untuk sebuah boneka salju.

Tak beranjak sesentipun. Nara terus berpikir apakah hujan akan membunuhnya atau hujan benar-benar membuat ia tidak bisa bertemu dengan adiknya. Rasa takut yang tak biasa ia rasakan ini benar-benar membuatnya gila seketika.

Ia takut mati. Jelas.

Ia takut pisau tajam merobek perutnya. Tentu.

Tapi ia juga takut kalau seandainya ini adalah hari terakhirnya bisa melihat Junhong. Alasan itulah yang memantapkan hatinya untuk keluar. Sayangnya, pintu itu terkunci.

Atau memang sengaja dikunci?

Menguncang-guncangkan handle pintu seraya berusaha untuk membukanya. "Jangan-jangan…" lirihnya.

Secepat kilat Nara meraih handle pintu di pintu masuk yang lain. Dan sudah kedua kalinya ia memeriksa dan hasilnya sama. Semua terkunci. Gadis itu menghela napas. Sesak terasa semakin sesak. Buru-buru ia mengambil ponsel dari saku jasnya. Mengetuk-ngetuk pelan pada layar besar ponselnya dan mengetik nama 'Appa' di pencaharian kontak. Ia terdiam berpikir seribu kali.

Apa yang akan ia katakan? Apa yang ia adukan?

Tidak mungkin juga kalau tiba-tiba ia berkata "Appa, Junhong dibunuh. Dan sekarang pembunuhnya berkeliaran di sekolah tapi sekarang aku sedang terkunci didalam gedung sekolah. Aku harus bagaimana?". Ia mengurungkan niatnya.

"Aku tidak yakin polisi bisa menyelamatkanku. Haah~ kenapa semua pahlawan selalu tidak tepat waktu!" pekik Nara.

Kembali ia mengetuk mesin pencahari kontak dengan nama sahabatnya, Namjoo. Tak ada jawaban di seberang sana. Sekali lagi ia mencoba dan hasilnya masih sama. Lagi-lagi ia menghela napas panjang. Untuk ketiga kalinya ia mengetuk mesin pencahari kontak dan mengetik nama Daehyun disana. Sangat-sangat berharap bahwa seseorang itu bisa membantunya. Nara mulai menggigit bibir bawahnya. Ia gelisah. Gelisah kalau tak ada seorangpun yang menjawab panggilannya.

"Yoboseyo! Jung Daehyun imnida. Maaf aku sibuk. Kau bisa meninggalkan pesan setelah bunyi…"

Biib!

Nara ternganga. Ia tak menyangka kalau pesan suara Daehyun yang menjawab. Untuk kedua kalinya ia kembali menghubungi Namjoo dan hasilnya nihil sehingga, ia memutuskan untuk mengirim pesan pada Namjoo.

"Kau bisa menghubungiku segera? Aku yakin kau tidak sedang sibuk Joo-ya. Sekarang aku dalam bahaya. Aku tidak bohong. Cepat hubungi aku segera!"


Begitu sepi dan sunyi. Keadaan koridor sekolah yang biasanya tidak apa-apa sekarang menurutnya sedikit horor dan mengancam. Dinginnya udara yang masuk dari celah-celah jendela kelas menembus koridor lalu, masuk lewat celah-celat kain bajunya dan seolah menghujam sejuta kebekuan kedalam pori-pori kulitnya.

"Apa yang harus aku lakukan?"


"Hah~ mereka lama sekali sih?!" gerutu seorang pria bertubuh cukup tegap dibalik payung birunya. "Hujan mulai menggila. Ramalan cuaca pagi tadi akurat sekali untung saja aku bawa payung ini. Sebaiknya aku tunggu didalam gedung sekolah saja."


Langkah Nara terhenti seketika ketika telinganya menangkap suara langkah kaki yang suaranya menuju kearahnya. Dengan langkah seribu buru-buru ia bersembunyi dibalik pintu ruang kelas. Dadanya sesak dan ngilu. Rasa takut kini menguasai pergerakannya.

"Tidak ada orang yang dapat kau percaya. Setan bisa dimana saja bahkan, peri gigi pun dapat menjadi setan. Termasuk Appa. Arasseo?"

Suara batinnya berkecamuk. Ia memang tidak tahu siapa yang akan datang, tetapi disaat seperti ini kecurigaan besar sangat diperlukan untuk melindungi nyawa jika nyawa itu masih dibutuhkan. Apalagi dengan statusnya yang hanya sebagai murid SMA saja tidak akan mampu untuk menghakimi siapa-siapa.

Halooo! Ini bukan salah satu episode dari serial Detective Conan yang terkenal itu. Musuh atau kawankah dia siapa yang tahu. Dan lagi, masih terlalu dini untuk dapat menghapus tanda tanya besar ini.

Deruan napasnya seolah membuat ruang kelas itu seperti menghimpit tubuhnya. Bersandar di pintu tanpa merubah posisi se-inchi pun membuat gadis itu terlihat seperti mayat yang masih segar.

Apa keteraumaannya membuatnya lupa akan sifat alamiahnya sebagai makhluk hidup?

Atau dia sekarang memang sudah bersiap untuk menyambut dewa kematian?

Mukanya memucat.


Langkahan kaki itu semakin lama terdengar lebih berisik seperti, suara gesekan benda dengan lantai seketika menghenyakkan dan menyadarkannya. Semakin jelas suara itu, maka semakin kencang pula degupan jantung Nara. Dadanya seakan ingin meledak.

Nyeri.

Linu.

Entahlah apakah dengan memejamkan mata dapat menghilangkan ketegangan itu?

Siapapun dia semoga ia tidak menyadari keberadaan Nara.

Untungnya, suara itu semakin memudar dan hilang. Akan tetapi, Nara belum cukup lega karena bisa saja seseorang yang diluar sana memang berniat buruk dan itu hanya tipuan trik untuk memancingnya keluar. Dengan perlahan Nara mulai menempelkan pipi kanannya dengan lantai. Menyipitkan mata kirinya dan mulai melihat dari bawah celah pintu.

Kosong. Syukurlah.

Masih penasaran Nara mengulangi pengecekan kembali dari arah yang berlawanan.

Masih kosong.

Karena masih penasaran dia mulai mengeser kepalanya mendekati dinding. Nara terpaku. Ia tidak percaya dengan apa yang dia tangkap dengan matanya. Tak pelak ada sepatu yang bersembunyi dari samping pintu. Seketika Nara seolah sudah tertangkap basah. Tubuhnya merinding hebat. Otak, hati dan jiwanya mulai bertentangan. Jiwanya menggebu-gebu ingin diselamatkan, tetapi hatinya kacau sehingga, membuat kerja otaknya tidak berjalan mulus.


Orang misterius yang berdiri disamping pintu itu mulai bergerak. Merendahkan tubuhnya dan mengintip melalui celah bawah pintu dari luar. Apa Nara sudah ketahuan? Tamatlah kau Choi Nara..

To Be Continued…


Sengaja bikin dikit cz pengen tahu apa FF ini nice apa gak.. apa kalian penasaran? siapa yaw orang yang bikin Nara merinding itu?.. jangan lupa review yaw teman-teman karena review kalian dapat menjadi energi bagi author ^_