Kaki-kaki jenjang yang berbalut rok panjang itu melangkah dengan pasti. Meski musim panas membuat sengatan mentari semakin menyakitkan kulit, ia tetap tidak peduli. Tongkat itu terus saja menari di jalanan beraspal yang panas. Ia berhenti sejenak kemudian berbelok ke arah kanan.

Klining~

"Ayame-san!"

Sakura berseru dengan nada ceria. Ayame yang baru saja datang dari dapur dibuat terkejut olehnya, "Oh astaga ... tidak perlu sekeras itu, Sakura."

Gadis itu tertawa, "Maaf. Mm ... apa kau sibuk hari ini?"

"Mungkin tidak setelah jam makan siang,"

Sakura mengerutkan alis, "Ada apa?" tanyanya tak mengerti. Tidak biasanya paman Teuchi menutup kedainya dengan cepat. Malah terlampau cepat.

"Untuk beberapa hari kedepan kami memutuskan untuk istirahat sejenak dan akan mengunjungi ibu di Hokkaido," jelas Ayame.

Sakura mengangguk-angguk mengerti, "Apa kau bisa membantuku hari ini? Setelah jam makan siang juga tidak apa-apa," nada itu terdengar sangat memohon.

Ayame menghela nafasnya. Jika sudah begini apapun jawaban yang dilontarkannya, gadis itu akan tetap memaksa. "Baiklah, apa itu?"

"Bantu aku membuat kue,"

Ayame merubah raut wajahnya. Sebelah alisnya terangkat dengan aneh. "Kue? Untuk apa?" Ia menoleh pada kalender meja yang terdapat di samping kasir. Ia mengusap-usap dagunya. Ayame yakin tidak ada momen penting dihari ini. Lalu kenapa tiba-tiba gadis itu datang dan meminta bantuannya membuat kue.

Sakura tersenyum lebar. Mata itu menyipit dengan manis. "Sasuke-kun ulang tahun hari ini!"

"Aa—"

.

.

.

.

.

.

Sunshine © Miss Spearsza

Dedicated for

Sasuke's Birthday

.

.

.

.

.

Tepat satu tahun sudah sejak pengadilan menjatuhkan hukuman penjara untuk Sasuke. Kabuto pun berhasil dilancak dua hari setelahnya dan pria itu dinyatakan mengalami sedikit gangguan psikologis. Dan kini ia mendekam di salah satu rumah sakit jiwa di kota.

Hidup dipenjara adalah pilihan si bungsu Uchiha itu. Satu-satunya cara penebusan atas dosa-dosanya. Ia tidak menyesali itu dan tidak pula merasa terbebani. Ia siap menunggu sampai ia benar-benar dibebaskan. Lagipula Sakura selalu mengunjunginya hampir setiap hari. Membawanya berbagai macam menu makanan sehat yang berbeda. Atau mungkin itu hanya salah satu modus operandi si gadis agar bisa bertemu Sasuke. Tak heran jika Sasuke lebih terlihat segar dibandingkan dengan para tahanan lainnya.

Kini topik pembicaraan mereka pun lebih berbobot dibandingkan dengan dulu saat di kedai. Sasuke lebih sering menanggapi obrolan. Bertanya balik atau sekedar memberi pendapat. Dan topik tersebut lebih mendalam. Layaknya sepasang kekasih meskipun mereka tidak berada dalam hubungan itu. Entahlah, mereka menikmatinya tanpa ada komitmen.

"Kau melamun lagi, Bung."

Sasuke tersentak. Ia melirik pada pemuda yang duduk di seberangnya kemudian mendengus kecil. Ia mengubah posisi dengan berbaring pada tempat tidur lusuh yang hanya beralaskan kasur lapuk dan satu bantal. Sama sekali bukan tempat yang nyaman.

"Merindukan gadis buta itu, ya?"

Lagi-lagi suara itu mengganggunya. Ia membuka mata dan menatap tajam teman satu selnya itu. "Dia punya nama, Suigetsu."

Pemuda berambut putih itu tergelak. Dia tahu Sasuke tidak suka jika Sakura dipanggil dengan sebutan 'gadis buta'. Mungkin terlalu kasar untuknya? Dasar over, batinnya. "Oke oke," Ia menyisir rambutnya yang cukup kusut dan tak terurus itu menggunakan jari. "Sudah lama aku tidak melihat si Haruno itu datang menemuimu,"

Tidak ada jawaban. Manik obsidian itu terhalang oleh kelopak mata. Suigetsu tahu Sasuke tidak tidur. Sebaliknya, pemuda Uchiha itu mendengarkan apapun yang dikatakannya. "Yaaahh, seperti yang aku tahu dia selalu datang menemuimu hampir setiap hari. Aku iri, kau tahu? Sejauh ini tidak pernah ada tamu yang datang menemuiku,"

Sasuke menyeringai.

"Jangan menunjukan tampang seperti itu!" Suigetsu merengut sebal.

"Kau pikir siapa yang mau menemui narapidana macam dirimu?"

Alis Suigetsu berkedut. "Memangnya kau siapa, ha!?" geramnya. Meski yang dikatakan Sasuke kurang lebih benar. Tapi mana mungkin dia mau mengakui hal itu. Kasus mereka mungkin sama, hanya saja cara mereka menjadi tahananlah yang berbeda. Beruntung sekali si Uchiha itu, pikirnya. Ibarat pencuri emas yang dihadiahi berlian. Dasar keparat.

"Mungkin dia bosan denganmu,"

Lagi-lagi Sasuke bergeming. Ia mendengar sesuatu seperti air yang dituangkan. "Atau dia mulai menyadari telah mencintai orang yang salah kemudian berpaling pada pemuda lain, hahaha ..." Suigetsu meneguk minumannya. Air putih yang seolah tercampur debu itu perlahan melewati tenggorokannya yang kering.

"Usuratonkachi."

"Hei, hei, hei! Jangan memanggilku idiot. Kau lebih idiot dariku, tahu?" protesnya.

Sasuke kembali diam. Ia tidak menanggapi lebih orang cerewet macam Suigetsu. Satu-satunya orang cerewet yang mampu ia terima hanya Haruno Sakura. Ohh. omong-omong soal Sakura, ia merindukan gadis itu. Pertanyaan sama dengan yang diutarakan Suigetsu juga terngiang dikepalanya. Meski tidak memperlihatkannya, tapi Sasuke selalu menunggu. Berharap seorang polisi memanggilnya dan mengatakan ada yang ingin bertemu.

"Dia itu seperti istrimu saja ya," suara Suigetsu kembali menginterupsi. "Setiap hari datang dan membawa makanan lezat, menyuapi, menanyai kabarmu, bahkan memotong rambutmu yang mulai panjang dengan acak-acakan. Dan sialannya meski begitu kau tetap tampan,"

Kali ini tidak hanya menyeringai, pemuda Uchiha itu mendengus. Cukup geli dengan pernyataan blak-blakan Suigetsu. Meski begitu Sasuke membenarkan ucapannya.

"Sebentar lagi."

Suigetsu menoleh. "Ha? Apanya?"

"Bukan urusanmu,"

"Tck, terserah."

Dan Sasuke memilih untuk tidur.

.

.

~~( _ )~~

.

.

"Hahaha ..."

Tawa renyah yang khas milik Haruno Sakura memenuhi kedai yang baru saja tutup sepuluh menit yang lalu itu. Matanya menyipit lucu, berlawanan dengan bentuk matanya yang sebenarnya besar. Ayame berhasil membuatnya tergelak saat itu juga.

"Kejutan ulang tahun yang seharusnya romantis akhirnya gagal. Karui marah besar, membuat Chouji ketar-ketir membujuknya,"

"Hihi ... benarkah?"

Ayame memutar bola matanya dengan jenaka. "Tentu saja. Memang apa reaksimu saat kue ulang tahun yang begitu cantik harus hancur tak berbentuk karena di duduki oleh bokong Chouji yang besar?"

"Ahahaha ..."

Sakura memeluk perutnya yang terasa keram. Adonan kue yang sedang di aduknya hampir jatuh jika ia tidak segera meletakannya di meja. Sahabatnya yang satu itu memang terlalu ceroboh. Tidak hanya sekali duakali Sakura harus menceramahinya bak seorang ibu-ibu. Dan cerita yang dibawakan Ayame baru saja benar-benar membuat perutnya tergelitik hebat. Tentu saja karena ia membayangkannya.

Ayame yang juga ikut tertawa seketika menoleh pada Sakura. Gadis itu terlihat lebih ceria dari sebelum-sebelumnya. Sakura memang pribadi yang cerita namun kali ini telihat lebih dan lebih. Auranya sangat positif dan membuat nyaman. Ayame sangat merasakannya. Kehadiran pemuda Uchiha itulah yang berhasil membuat Sakura seperti ini sejak sepeninggal orangtuanya. Mengesampingkan kenyataan kalau Sakura mencintai seorang pembunuh kriminal.

Ayame tersenyum lembut. Memperhatikan Sakura yang kembali mengaduk adonan kue. "Kau sangat mencintainya?" Gerakan tangan Sakura terhenti. Warna merah menghiasi pipinya yang tembem. Gadis itu tidak menjawab namun cukup untuk Ayame mengetahui jika pertanyaannya tepat sasaran. "Kau jadi lebih ceria. Membuatmu terlihat sangat cantik,"

Sakura tersipu saat Ayame memujinya. Ia tidak bermaksud sombong tapi banyak yang mengatakan hal itu padanya. Namun Sakura hanya menganggapi dengan senyuman, karena ia sendiri tidak tahu secantik apa wajahnya.

Klining~

Keduanya tersentak. Ayame yakin ia sudah membalikan papan bacaan pada pintu kedai menjadi 'tutup'. Gadis itu bergegas menuju ruang depan. Bukan untuk mengusir pelanggan tersebut, tentu saja.

"Eh, Naruto?"

Pemuda itu memasang cengiran ramah seperti biasa. "Hai, kak Ayame." Ia melambai dengan kikuk. Kedai ini memang sudah tutup, Naruto tahu itu dari papan bacaan yang tertera. Tapi rasanya tidak mungkin Ia datang kemari kalau bukan karena urusan yang genting—

Kriuuk!

Sakura yang baru saja datang dari dapur terkejut. "Suara apa itu?"

Cengiran Naruto semakin melebar dengan garis-garis merah muda tipis di pipinya—ia terlihat malu. Tangan itu terangkat, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ehehe ... aku lapar. Dirumah tidak ada orang. Stok ramen milikku habis,"

"Kemana ibumu, Naruto?" Sakura bertanya.

"Mengunjungi Karin dan akan pulang minggu depan,"

Sakura mengangkat kedua alisnya, "Sepupumu yang kuliah di Kanada itukah?"

"Iya ..." Naruto memandang kedua gadis itu dengan polos. "Jadi ...? Bisakah aku mendapatkan ramennya, segera?"

Kriuuk!

"Baiklah baiklah. Biar kubuatkan," Ayame melesat pergi ke dapur. Sementara Sakura kembali mengaduk adonan kuenya yang sempat tertunda.

"Apa yang kau buat, Sakura-chan?" Naruto menarik kursi terdekat kemudian menyamankan duduknya disana. Memperhatikan teman perempuannya itu mengaduk sesuatu yang menurut perkiraannya adalah adonan kue. "Kue?"

Gadis pinky itu tersenyum dan mengangguk.

Naruto tersenyum remeh. "Memangnya kau bisa?"

Emerald itu memicing tidak suka, "Huh! Kau meremehkanku. Tentu saja aku bisa," sungutnya membela diri. "Meskipun Ayame-san ikut membantu,"

"Ahh~ itu sih sama saja," Sakura merungut sebal. Ia memilih diam dan kembali menekuni yang dikerjakannya. Naruto hanya tertawa. Ia menopang kaki kanan pada kaki kirinya. Sementara kedua tangannya yang berada di atas betis memainkan sumpit besi.

"Memangnya untuk siapa?"

"Sasuke-kun ..."

Wajah ceria milik pemuda tan itu seketika berubah. Tidak lagi jenaka atau ramah selayak biasanya. Tatapannya tidak menajam namun ada raut ketidaksukaan dari pancaraannya. Bibir yang sebelumnya tertarik keatas kini hanya garis horizontal yang tidak menunjukan ekspresi apapun. Bahkan nada tanya "Untuk apa?" nya terdengar berbeda.

"Hari ini adalah ulang tahunnya. Aku berencana memberikannya malam nanti," Jelas si gadis. Belum menyadari perubahan berarti dari tunggal Uzumaki itu.

Terkejut adalah hal yang sangat logis saat mengetahui temanmu memiliki perasaan khusus pada si Uchiha itu. Begitupun sebaliknya. Dan semakin membuatnya ingin marah ketika kembali mengingat bahwa Uchiha itu ikut andil dalam pembunuhan ayahnya. Terutama kedua orangtua Sakura.

Namun ia tidak mampu berkata banyak selain memberinya bogem mentah yang telak pada rahangnya saat itu. Ia tidak seutuhnya menyalahkan Sasuke karena bukan dialah pembunuh ayahnya, Naruto tidak bodoh dalam menggunakan logika. Hanya saja ia sangat menyesali mengapa Sakura harus jatuh hati pada Sasuke. Membiarkan hatinya dipenuhi cinta yang terlilit oleh rantai kekecewaan. Dan Sakura tidak berusaha untuk membuangnya. Tidak berusaha mencegahnya untuk tumbuh lebih lebat. Itulah yang membuat Naruto selalu bertanya. Apa yang dipikirkan gadis itu?

"Mengapa kau melakukannya?"

Sakura berhenti. Ia mulai menyadari perbedaan nada bicara Naruto dari yang sebelumnya. Tapi ia memilih diam.

"Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?"

"Apa yang membuatmu jatuh cinta pada Hinata?"

Alisnya mengernyit tidak suka, "Ini tidak ada hubungannya dengan Hinata—"

"Jawab saja,"

Manik safir itu berpaling. Menatap objek yang sejak tadi digenggamnya. "Banyak hal. Tapi dari itu semua, Hinata adalah gadis yang sangat baik."

"Itulah jawabanku," suara itu tetap jernih dan lembut. "Sasuke-kun adalah pemuda yang baik,"

Naruto segera menoleh dan melotot,"Sekiranya dia adalah pembunuh kedua orangtuamu, Sakura-chan!" Suaranya meninggi. Jelas-jelas membantah apa yang baru saja Sakura katakan.

"Sekiranya dia telah menyelamatkan satu-satunya 'harta' yang sangat berharga untukku!" Sakura menyeru meski nada suaranya tidak meninggi. "Satu-satunya harapanku. Setidaknya aku masih suci hingga menikah nanti ..."

"Aku tidak yakin hanya itu alasan yang membuatmu jatuh cinta padanya,"

Sakura menghela nafasnya. Matanya terkatup rapat. Menenangkan gejolak pada hatinya yang segera ingin menangis. Bukan karena pernyataan Naruto, ia mewajarkannya. Melainkan untuk hal yang tidak pemuda itu ketahui.

"Aku tahu kau tidak terima. Aku tahu kau marah pada Sasuke-kun. Tapi pernahkah kau sadari yang seharusnya marah disini adalah aku?"

"..." Naruto hanya diam mendengarkan. Wajahnya menekuk marah.

"Jika aku dizinkan untuk memilih sebelumnya, aku pun tidak ingin jatuh cinta pada Uchiha Sasuke. Lebih baik memilih pemuda berintelegensi tinggi dan mapan dibandingkan seorang pembunuh—Sasuke. Bahkan ia sudah tidak memiliki keluarga,"

"..."

"Tapi aku sadar bahwa Tuhan itu adil. Kau pikir pemuda mana yang mau menerima gadis buta tak berkeluarga sepertiku? Mereka pasti memilah-milih gadis yang setara atau setidaknya bisa menjadi seorang pendamping yang baik. Jika ibarat pertarungan, aku sudah kalah bahkan sebelum angkat senjata ..."

"..."

"Aku tahu Sasuke-kun adalah seorang pembunuh. Dia telah membunuh kedua orangtuaku. Aku tahu itu karena aku tidak bodoh, Naruto. Tapi aku menyadari sesuatu yang mungkin tidak orang lain sadari. Dia telah menolong dan mengantarku pulang dengan selamat malam itu. Dia selalu datang ke kedai layaknya orang biasa. Ia mau untuk sekedar bertegur sapa dengan Ayame-san dan Chouji, begitu juga dengan segala hal lainnya. Bahkan dia merasakan yang namanya cinta. Adakah pembunuh yang mampu merasakan itu? Kebanyakan dari mereka berhati dingin, Naruto ..."

"..."

"Bagiku dia hanyalah bocah polos yang tidak mengerti bagaimana menghadapi kejamnya hidup. Bagiku dia adalah pemuda baik namun terbungkus oleh emosi yang tinggi. Dan aku berusaha untuk menjadi peredam emosinya. Penegur atas kesalahannya. Itulah mengapa aku begitu mencintainya. Hanya itu yang bisa aku berikan untuk mewakili semuanya,"

"..."

"Kuharap kau mengerti, Naruto ..."

Naruto tertegun. Semua itu sama sekali tidak terlintas dalam pikirannya sedikitpun. Sakura mengatakannya dengan begitu lugas dan tulus. Mungkin saja ada banyak hal lainnya yang tidak sempat diucapkan gadis itu dan hanya dengan merasakannya Naruto akan mengerti. Maka pemuda itu mengakuinya. Tidak ada yang mengenal Sasuke dengan begitu baik selain Haruno Sakura. Dan tidak ada yang mampu menerima Sakura dengan begitu tulus selain Uchiha Sasuke.

Mungkin banyak orang yang mengatakan Sakura begitu bodoh. Mereka hanya tidak mengerti arti cinta sejati. Dan mereka tidak paham apa arti tulus yang sebenarnya.

Perlahan Naruto tersenyum. "Mungkin memang hanya kau yang mampu mengubahnya," Ia memejamkan mata. Merutuki kebodohannya. "Maafkan aku ..."

Tepat setelah itu Ayame datang membawa seporsi jumbo ramen spesial untuk Naruto. Aromanya bahkan menguar bagaikan pengharum ruangan. Membuat bunyi perut Uzumaki itu semakin nyaring. "Kubuatkan spesial untukmu secara gratis,"

Mata safir itu berbinar. Menatap Ayame bagai seekor kucing yang baru saja diberi makan oleh majikannya, "Kau cantik sekali kak Ayame ... aku menyayangimu~"

Tangan Ayame mengibas-ngibas, "Aku tahu, kata-katamu itu sudah kau berikan pada Hinata sebelumnya. Basi."

Wajah Naruto bersemu. Setelah mengambil sumpit dan berdoa, pemuda kelewat ceria itu melahap ramennya dengan sadis. "Itadakimasu~"

"Ee—kudengar-dengar akhir tahun ini kau akan menikahi Hinata, ya?"

Uhukk!

Naruto menatap Sakura dengan horor. Sudah sejauh ini kah berita itu tersebar? Dan wajahnya semakin merona hingga telinga.

.

.

~~( _ )~~

.

.

Jari-jari itu menelusuri rambut lembabnya yang acak-acakan. Baru seminggu yang lalu Sakura memotongnya menjadi lebih pendek. Meski dengan potongan yang tidak rapi—menurut Suigetsu, tapi ia menyukainya. Ahh, memang dasar Uchiha. Mau seperti apapun wajahnya tetap tampan.

Matahari sudah seutuhnya tenggelam di ufuk barat. Meninggalkan polesan halus berwarna jingga di langit petang ini. Lampu terang yang menyinari ruang sel memberikan efek berbeda untuk Sasuke. Sakura lagi-lagi tidak datang menemuinya. Hatinya mendingin. Bagai hidup di padang es tanpa sinar mentari.

Ia tidak menampik karena tidak ingin munafik. Sasuke merindukan gadis itu.

"Aku seperti hidup sendiri dalam sel ini," Suigetsu bersuara. Ia yang tengah berbaring santai dengan kaki kanan bertopang tindih dengan kaki kirinya menoleh. Sasuke yang duduk di lantai seperti sama sekali tidak berniat mendengarnya. Tangan itu ditopang oleh kaki kanannya sementara kaki yang lain berselonjor lurus. Tatapannya kosong, mengarah pada jendela kecil disudut ruangan.

"Haaahh~" pemuda itu mendesah lelah. "Kau seperti mayat, sialan. Bicaralah sedikit,"

"..."

Suigetsu mendecak kesal. Ia bukan tipe yang menyukai keheningan seperti ini. Terlebih kini ia seperti sedang berbicara sendiri. "Terserah padamu. Aku hanya mencoba mengibur."

"Kau sedang datang bulan, eh?"

Suigetsu melotot. "Apa-apaan kau!" Tentu saja ia tidak terima. Suigetsu memang memintanya untuk berbicara, tapi bukan seperti itu. Kalau memang Sasuke sedang berusaha untuk melawak, maka ia gagal total.

"Kau terlalu cerewet."

Astaga. Suigetsu benar-benar menyesali mengapa ia ditempatkan satu sel dengan pemuda ini. Ia mengusap wajahnya dengan pasrah. Masih ada tahun-tahun berikutnya yang harus ia jalani dalam sel ini bersama Sasuke.

Pemuda bertaring itu kini diam. Membiarkan Sasuke kembali bergelut dengan pemikirannya. Itupun jika ia mempunyai pikiran. Maka Suigetsu memilih tidur. Makan malam akan datang satu jam lagi.

"Sinar matahari."

Baru saja akan memanjakan matanya yang terasa berat, suara baritone milik Sasuke membuatnya kembali membuka mata dan menoleh. "Hah?" tanyanya bingung. Mungkin Sasuke sudah gila. Ia merancau hal-hal aneh hari ini. Tak disangkanya, seorang Haruno Sakura memberikan efek yang dahsyat.

"Bagiku, Sakura seperti sinar matahari di musim semi."

Suigetsu mengangkat kedua alisnya.

"Uchiha Sasuke."

Seruan itu membuat keduanya menoleh kearah pintu. "Uchiha-san, ada yang ingin menemuimu."

Bagai orang kesetanan, Sasuke lantas berdiri dan berjalan menuju pintu yang dibuka oleh petugas. Tanpa pamit atau menoleh sekalipun pada teman satu selnya, Ia melenggang pergi menuju ruang pertemuan. Membuat Suigetsu mendecih.

.

.

Sasuke melihatnya. Wajah cantik penuh senyum yang dirindukannya. Berdiri dengan membawa sebuah kotak berwarna putih polos. Dia menunggu dengan sabar, seperti menunggu kepulangannya. Saat pintu besi itu ditutup dengan suara decitan yang khas, senyum sumringah kesukaan Sasuke mengembang di bibir gadis itu. "Sasuke-kun?"

Oh Tuhan. Betapa Sasuke merindukan panggilan itu. "Hn." Ia berjalan mendekat. Meski dalam balutan pakaian yang sederhana, pembawaan alamiah gadis itu selalu membuatnya terlihat cantik di retina Sasuke. Hanya saja ia tidak ingin mengakui itu secara blak-blakan. "Apa yang kau bawa?"

Seperti teringat sesuatu, senyum itu berubah menjadi cengiran manis dengan mata yang menyipit cantik. "Otanjoubi omedetou ne, Sasuke-kun!" serunya penuh ceria. Kedua tangannya mengangkat kotak kue tersebut. Masih dengan cengirannya yang khas. "Panjang umur dan jadilah orang baik. Tersenyumlah walau hanya berupa senyuman kecil. Hal itu sangat berarti bagi orang lain. Semoga Tuhan mengabulkan apapun keinginanmu,"

Sasuke termangu di hadapan Sakura. Ia melirik kue yang berada di dalam kotak tersebut. Kue sederhana dengan ukiran indah bertuliskan namanya. Tatapannya beralih pada orang yang membawa kue tersebut. Mengamati wajah itu. Bahkan ia sendiri melupakan hari kelahirannya.

"Kau ..."

"Makanlah. Aku sudah meminta izin agar waktu pertemuan milikmu diperpanjang," Sakura meraba kursi disampingnya dengan satu tangan kemudian menyamankan duduknya. Memberikan isyarat agar Sasuke ikut duduk di hadapannya. "Aku membuatnya sendiri dengan bantuan Ayame-san. Kuharap kau menyukainya. Aku tidak memberikan gula banyak karena ku tahu kau tidak suka manis,"

Sakura meraih sendok kecil yang tadi ia letakan disamping kue, kemudian mulai memotongnya dari ujung kiri. Ia mengacungkannya tepat di depan mulut Sasuke, "Berdoalah dulu. Aku yang akan mengamininya, hihi ..."

Sasuke mendengus geli namun ia tetap memejamkan matanya. Selang satu menit obsidian itu kembali terlihat. Menampilkan sejuta rasa yang hanya ditunjukannya pada Sakura. Bohong jika ia tidak terharu. Bohong jika ia tidak bersyukur. Sakura selalu saja memberikan yang terbaik untuknya.

Sesuai yang dikatakan, kue itu tidaklah manis meski keseluruhannya adalah coklat. Sakura menggunakan dark coklat rendah lemak. Bercampur dengan bahan yang lainnya membuat kue itu tidak hambar. Ia juga dapat merasakan adanya pahit kopi pada pangkal lidahnya. Sakura mencampurkan kopi kesukaan Sasuke pada kue itu. Namun dari itu semua rasa hangat akan cinta yang tulus membuat hatinya bergetar. Ingin rasanya ia menangis haru meski hanya sedikit. Sedkiiit saja. Biarlah image Uchiha nya hancur. Ia sungguh tidak ingin kehilangan Sakura.

"Bagaimana?"

Pertanyaan itu menyadarkannya. Pandangannya kembali fokus pada tatapan kosong emerald itu. Bibirnya masih setia membentuk kurva melengkung yang manis. Sasuke memajukan tubuhnya demi mengecup kening, hidung, kedua pipi tembamnya serta bibir itu. Suatu kebiasaan yang diam-diam Sakura sukai.

"Terima kasih,"

Sakura merona, "Sama-sama,"

Setelahnya mereka saling suap. Berbicara banyak hal meski Sakura lah yang mendominasi, sementara Sasuke hanya diam mendengarkan. Terkadang menanggapi meski hanya singkat. Tatapannya melembut ketika Sakura tertawa lepas dengan apa yang diceritakannya sendiri. Sebuah ide jahil melintasi kepalanya. Ia colek hidung bangir itu menggunakan krim kue. Hingga akhirnya Sakura berhenti tertawa.

"Ah! Kau mengotorinya ..." gerutunya. Ia membersihkan krim itu kemudian memepernya secara asal ke wajah Sasuke. Membuat krim itu berhasil mengotori pipinya. "Hehe ..."

Sasuke menyeringai. Ia mengambil sedikit lebih banyak krim dan mengoleskannya dengan sadis ke hampir seluruh wajah Sakura. Membuat Sakura mau tak mau berkelit. Namun kedua tangan kecil itu digenggam Sasuke dengan erat dalam satu tangan, sedangkan tangan lainnya terus saja mengoleskan krim itu pada Sakura. Membuat wajah ayunya penuh dengan krim kue.

Sasuke mendengus geli. "Kau cantik." Ledeknya.

Gadis itu memberengut. "Curaaangg!" Jari telunjuknya mengambil krim kue yang tersebar di seluruh wajahnya dan menyerang Sasuke. Namun dengan mudahnya pemuda itu menyingkir dan justru memakannya dalam sekali suap.

"Tck!" Sakura kembali cemberut. Ia memang selalu kalah dari pemuda Uchiha itu. Kembali duduk dengan wajah tertekuk. "Wajahku pasti lengket," bisiknya.

Sasuke meraih selembar tisu yang memang sengaja Sakura letakan di sana. "Kemarilah," Ia meraih belakang kepala Sakura untuk menghadapnya. Tangannya bergerak membersihkan krim kue hasil kelakukannya dari wajah Sakura. Dengan telaten tangannya menelusuri sela-sela kelopak mata gadis itu. Membuat Sakura memejamkan matanya.

Lagi-lagi pemuda itu termangu. Wajah Sakura yang benar-benar tepat di hadapannya membuat darahnya kembali berdesir hangat. Sebagian jiwanya seolah hidup pada gadis ini. Luapan perasaan yang tidak mampu ia gambarkan secara logis meski ia merupakan makhluk yang mengutamakan logika. Betapa ia mencintai gadis ini. Mungkinkah Sakura merupakan wujud dari kasih sayang Tuhan padanya?

Wajahnya mendekat dan saat bibir itu menyentuh bibir milik Sakura, semua resah dalam hatinya memudar. Ia telah mendapatkan jawabannya.

Tangan Sakura bergerak meremas baju yang dikenakan pemuda itu ketika Sasuke melumat kecil bibir bawahnya. Seluruh tubuhnya merinding. Bahkan tangan itu bergetar. Tidak ada nafsu ataupun gairah. Hanya luapan cinta dan kasih sayang yang pemuda itu berikan. Jantungnya berpacu cepat, mengaliri darah ke bagian pipinya. Membuatnya menjadi merah dan terasa panas.

Sasuke tidak pernah memintanya menjadi kekasih. Bagitupun dengannya yang tidak pernah berharap. Mereka menjalaninya bagai air yang mengalir. Bukan sebagai sepasang kekasih namun juga bukan teman atau sahabat. Ketidakpastian ini lantas tidak membuatnya risih. Asal Sasuke berada disisinya, maka tidak ada masalah.

Pagutan itu terlepas. Sasuke memandang gadis yang masih menyembunyikan emeraldnya tersebut. "Sakura ..."

"Ya," berupa bisikan yang lirih.

Sasuke memandangnya sekali lagi. Meneliti satu persatu yang ada apa wajah itu. Keputusannya mantap. "Menikahlah denganku."

Kelopak mata itu terbuka kemudian melebar sempurna. Pernyataan itu mutlak namun tidak menuntut secara paksa. Hatinya seperti tersengat listrik ribuan volt. Suara berat milik Sasuke masih terngiang di kepalanya.

"Setelah bebas akan kucoba mencari pekerjaan. Kita akan tinggal di rumah peninggalan orangtuaku. Akan ku lakukan yang terbaik," dia adalah Uchiha. Dan Uchiha tidak pernah mengingkari janjinya.

Bolehkan Sakura menangis sekarang?

Tangannya mengusap lembut pipi tirus Sasuke. Mengabaikan air mata bahagia yang mulai membanjiri pipinya sendiri. Perlahan namun pasti Sakura mengangguk. Senyumnya terkembang dengan sempurna. "Akan kutunggu, Sasuke-kun ..." yang secara tidak langsung memberikan jawaban pada Sasuke.

Pemuda itu tersenyum tipis. Membawa tubuh mungil itu dalam rengkuhannya. Bebannya terasa ringan luar biasanya, seperti terangkat seluruhnya. Kini tidak ada yang perlu dikhawatirkannya. Sasuke sudah menandai gadis ini untuk menjadi miliknya. Menjadi pendamping hidupnya. Menjadi ibu yang melahirkan anak-anaknya.

Tunggu.

Pemuda berumur dua puluh tahun itu menyeringai lebar. "Jadi ... berapa anak yang kau inginkan?"

Sakura melepas rengkuhan itu. Salah satu tangannya mendorong jauh wajah Sasuke. Meski dirinya sendiri merona hebat. "Diam kau!" titahnya. Berhasil membuat kekehan kecil keluar dari bibir Sasuke.

"Hei ... bersihkan kembali wajahku. Kau harus tanggung jawab!" Sakura terus saja menggerutu. Menyembunyikan kegugupannya. Sasuke meraih tisu yang sempat dilupakannya dan kembali membersihkan wajah gadis itu. Kini pada bagian hidung.

"Krimnya lengket tahu! Apa aku harus pulang dengan wajah seperti ini?" Dengan iseng Sasuke memencet hidung tersebut, "Kngau Menyebngalkngaaaaaan ..."

Sasuke tersenyum menahan tawa sementara Sakura sendiri sudah meledak dengan tawa khasnya.

.

.

Fin

.

.

.

Omake

Naruto tersenyum geli dengan apa yang sejak tadi dilihatnya dibalik pintu.

Awalnya ia berniat menemui inspektur Kakashi untuk mengetahui perkembangan Kabuto saat ini namun terhenti ketika ia berjalan tepat di depan ruang pertemuan. Ia melihatnya sendiri. Sejak Sasuke melamar gadis itu sampai hal-hal kecil yang menurutnya manis.

Kebahagiaan melingkupi keduanya. Meski terpisah oleh jeruji besi yang dingin dan kejam. Melihat cara oniks itu memandang Sakura, Naruto membenarkan apa yang Sakura katakan siang tadi. Bahwa Sasuke hanya bocah polos yang tidak mengerti apapun. Hingga kekejaman hidup membuatnya terjerumus pada kesalahan yang sebenarnya tidak ia sadari.

"Naruto-san, ada perlu apa kau menemuiku?"

Naruto berbalik dan mendapati wajah yang senantiasa tertutup masker itu tersenyum padanya. Naruto membalas senyum itu dengan hangat. "Ada yang ingin kubicarakan padamu," Tanpa basa-basi yang lebih, Kakashi mempersilahkan Naruto untuk memasuki ruangannya.

"Jadi, apa yang bisa kubantu kali ini?" setelah memastikan keduanya duduk dengan nyaman, Kakashi bertanya dengan ramah.

Pemuda Uzumaki itu terdiam sejenak. Memantapkan keputusannya setelah apa yang baru saja ia lihat. Mata beriris safir itu memandang Kakashi dengan tegas. "Aku ingin mencabut tuntutan yang diberikan pada Uchiha Sasuke. Dan aku ingin kalian membebaskannya dengan bersyarat."

Kakashi terlihat terkejut. "T-tapi ... untuk hal apa?" ia bisa saja melakukan itu dengan mengusulkannya pada pengadilan. Tapi alasan apa yang harus ia berikan.

"Akulah yang akan memberikan alasan. Suatu hal yang tidak akan pernah kalian mengerti,"

Meski agak ragu, Kakashi tetap mengangguk. "Akan ku urus. Besok kau harus ikut denganku ke pengadilan."

Naruto tersenyum, "Terima kasih," ia meronggoh saku jaket denimnya untuk menemukan sebuah ponsel. Ia dekatkan benda itu pada telinganya setelah menekan beberapa nomor.

"Selamat malam, Uzumaki-san. Ada yang bisa kubantu?"

Sejak ayahnya meninggal. Perusahaan Namikaze mengangkatnya menjadi pemegang saham, menggantikan sang ayah. Maka Naruto terpaksa mengundurkan diri dari universitasnya.

"Yamanaka-san. Cabut lowongan pekerjaan yang kubuat. Aku sudah menemukan orang yang akan mengisi jabatan manager di perusahaanku," ucapnya final.

"Oh, baiklah. Akan segera saya laksanakan,"

Sambungan telepon itu terputus. Naruto tersenyum bangga. Ia tidak akan menyesali apa yang dilakukannya ini. Perusahaan Uchiha memang sempat berjaya, Naruto begitu yakin bahwa Sasuke pasti pernah belajar untuk memimpin perusahaan. Itu tidak akan menjadi masalah.

Karena ia tidak ingin Sakura menunggu lebih lama untuk kebahagiaan yang sudah di hadapannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

For me, Sakura is like sunshine in the spring ...

Uchiha Sasuke


Note :

HAPPY BIRTHDAY UCHIHA SASUKE-KUUUNNN!

Selamat hari brojol yaa my lovely prince, maaf telat sehariiii *melukmeluksasuke. ciee yang tahun ini ultahnya udah punya istri. ciee yang tahun ini ultahnya udah jadi ayah. ciee ciee ciee ... XD

Jangan tsundere lagi yaa, terus juga berenti jadi bang toyib. kesian sakura sama sarada ditinggal-tinggal mulu ... :V

Hwaaa~ maafin akuu yang kemaren udah dibikin nangisss. gak seniat itu kok mungkin emng pembawaan diri aja yang baper mulu ^^ semoga yang kali ini gak nangis lagi ya hehe ... Dan yg sebelumnya memang sengaja dibikin ngegantung. krna itu aku datang membawakan sequel. oiya oiya oiyaaa ... yg quotes sasuke itu REAL dari akatsuki hiden. aku baca spoilernya di internet. coba aja buka :D

Boleh minta pendapatnya? saran atau perbaikan jika aku ada kesalahan di penulisan ^^

Sign,

Miss Spearsza