"… ke Rakuzan? Bersama Aka-chin? ―dan yang lain?"

"Kau menolak?"

"Eung.. walaupun aku sangat suka dengan masakan Muro-chin, tapi aku lebih tidak ingin menolak perintah Aka-chin."

"Kau tidak bertanya 'kenapa'?"

"Tidak perlu~ bukankah Aka-chin selalu benar? Aku hanya tidak ingin mengecewakannya."

"…"

"… jadi, kapan aku bisa bertemu yang lain di Rakuzan?"

Sebuah senyuman. "Kapan pun saat kau siap, Atsushi."

.

.

"Tapi.. kenapa harus Rakuzan? Bukannya aku mau menolak, nanodayo… tapi Shutoku ―aku terlanjur terbiasa disini."

"Jadi?"

"Kau tahu apa yang akan kukatakan Akashi. Aku hanya―"

"Heh.. Kau terlalu mencintai Shutoku ternyata."

"Bukan seperti itu, nanodayo! Dan jangan tertawa. Kau tidak membuatku lebih baik. Aku hanya ―kau tahu? Dua tahun bukan waktu yang singkat."

"… sejujurnya aku tidak peduli apakah itu Rakuzan, Shutoko, Yosen, Toō, Kaijoo, atau bahkan Seirin. Jika kau bisa meyakinkan yang lain, aku bersedia mengikuti audisi dari awal di Shutoku basketball team."

"…"

"―Shintarō?"

"… kau tahu apa jawabanku. Pastikan Rakuzan mempunyai catatan akademik yang tidak mengecewakan."

Sebuah senyuman. "Percayalah kau harus berusaha keras hanya untuk menyentuh predikat sepuluh lulusan terbaik nantinya."

.

.

"Kau mendengarku, Daiki?"

"Yeah.. aku hanya terkejut kau rela datang kemari dari pada memberi perintah lewat pesan singkat."

"Ini bukan perintah."

"Tapi permintaanmu adalah perintah."

"Aku tersanjung kau masih menganggapnya seperti itu."

"Cih ―jangan tersenyum! Kau makin terihat menakutkan tahu?"

"Aku tahu."

"… apalagi? Kau tentu tahu jawabanku 'kan? Aku hanya tidak suka mengurus sesuatu yang merepotkan macam… surat pindahan."

Sebuah senyuman, lagi. "Oh, kau tentu tak lupa sedang berbicara dengan siapa."

"Ck.. dari pada itu ―apa Satsuki juga termasuk Akashi?"

"Kenapa bertanya? Tentu saja. Dia akan berguna untuk membantu mengejar ketinggalan materi akademikmu ―dan lebih dari itu.. dia juga bagian dari kita. Tadinya aku bermaksud berbicara pada kalian berdua, tapi hanya kau yang kutemukan.

―Kau beri tahu saja dia, waktuku tidak banyak. Aku pergi."

"Selalu saja seenaknya. Dasar sial. Ck.. perempuan itu pasti akan berteriak girang macam bermain-basket-lagi-dengan-Tetsu-kun dan banyak lagi. Tapi berbicara tentang dia.. apa kau akan menerimanya Tetsu? Bergabung bersama orang – orang yang pernah membuangmu? Heh.. kuharap kau cukup pintar membujuknya Kapten."

.

.

"Ka―kau bilang apa.. Akashicchi?"

"Kau mendengarku, Ryōta."

"…"

"Hei ―kenapa kau malah menangis?!"

"A-aku hanya ―Akashicchi membuatku menunggu terlalu lama! Aku memang sangat mencintai Kaijoo, ta-tapi aku juga sangat rindu untuk bermain bersama kalian-ssu!"

"…"

"Aku selalu yakin Akashicchi pasti akan datang. Tapi ini lama sekali-ssu! Hingga membuatku sangat mencintai Kaijou juga. Tapi aku bermain basket karena kalian, dan aku benar – benar suka basket! Ja-jadi aku―"

"Baik, baik. Jadi kau setuju, Ryota."

"Tentu saja-ssu! Kuharap Akashicchi tidak kesulitan membujuk… yang lain?"

Satu senyuman terbentuk ―Ahh… dia terlalu banyak tersenyum belakangan ini. "Tentu kau tahu bagaimana watak mereka."

"Um! Mereka pasti senang-ssu! Eh! ―tapi Akashicchi… Kurokocchi?"

"… ini bukan perintah, Ryota."

.

.

"Kita tidak akan berhenti sebelum kita mengalahkan diri kita sendiri. Lagi pula, pikiran kita semua sama, karena itulah kita dikenal sebagai Kiseki no Sedai."


Gravitasi

―karena para keajaiban tidak akan pernah bisa melepas gravitasi sang kaisar.


Dulu, Kuroko Tetsuya hanya bisa menatap dia ―mereka, dengan sorot nanar.

Dia juga tidak mengelak jika disebut iri dengan para prodigy basket yang bahkan langsung menuai puji pada seleksi awal. Melihat dari tes kemampuan dasar saja, rasanya sudah ada perbedaan layaknya langit dan bumi antara dia dan mereka. Apalagi saat melihat anak – anak itu mulai memijak lapangan. Saling mengoper, melakukan tembakan three-point, lay-up, atau apapun itu yang membuat pundi – pundi skor meningkat tajam. Kuroko tidak protes saat mendengar pelatih mengumumkan bahwa kelimanya lolos string pertama di tim basket Teikō, sungguh.

Dia malah merasa semangatnya semakin terbakar. Meramu tekad kuat yang mendorongnya untuk terus menggerakan tubuh. Berlatih, berlatih, dan berlatih ―agar suatu saat mampu berdiri di lapangan yang sama dengan mereka, agar bisa memenuhi janjinya dengan Ogiwara-kun.

Saat ini, ingatan Kuroko Tetsuya tentang sosok dia ―Akashi Seijūrō, tidak terlalu banyak. Bisa dihitung dengan jari malahan, karena sejak awal Kapten berambut merah itu lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menyendiri di ruang kelas saat pemain regular Teikō yang lain hang out bersama. Atau bermain shogi bersama Midorima-kun saat tidak ada aktivitas klub, dan sang Kapten sedang berada dalam mood ingin menantang seseorang dengan bidak keima miliknya yang absolut.

Akan tetapi, ada satu ingatan tentang Akashi yang akan selalu Kuroko ingat, juga akan Kuroko jaga baik – baik. Satu ingatan di era Teikō, saat dimana dia memutuskan menyerah karena tak kunjung menemui hasil yang diharapkan setelah menjalani berbagai latihan keras yang dibuatnya sendiri. Impian untuk berdiri dilapangan basket yang sama bersama Aomine-kun, juga para prodigy basket string pertama itu. Impian yang hanya menjadi mimpi, karena bahkan pelatih pun tidak melihat adanya potensi dalam diri Kuroko. Hanya melihatnya sebagai seorang anak yang sangat mencintai basket tapi sama sekali tak berbakat, hingga bahkan string ketiga Teikō pun masih tak layak untuknya.

Heh.. kalian tahu yang mana? Itu ingatan saat Akashi melihatnya, tentu.

Iya. Dia, Akashi Seijūrō yang disering disebut sebagai salah satu prodigy tim basket Teikō, melihat Kuroko Tetsuya ―yang bahkan pelatih pun memvonisnya sama sekali tak ada potensi. Akashi bahkan berkata bahwa dia istimewa, menyimpan satu kekuatan yang sangat berbeda dengan semua Generasi Keajaiban. Sungguh, dia sempat berpikir bahwa dewa penyelamat itu tidak ada sebelum dia bertemu orang ini. Sebelum Kuroko bertemu Akashi yang dengan sigap meraih tangannya saat keputusasaan itu bersiap menelan.

Satu ingatan berharga yang membuatnya memandangan sosok Akashi Seijūrō sebagai pusat dunianya. Alasannya untuk menunjukan basketball yang dimainkan Kuroko Tetsuya, menggeser janji masa kecil dengan Ogiwara-kun. Kuroko bahkan tidak protes jika disebut sebagai pion cadangan Kapten bermata dwiwarna itu. Sekali pun dipandang sebelah mata oleh yang lain, diremehkan, atau tak disadari keberadaannya, dia tidak peduli.

Selama itu bukan Sang Kapten.

Selama itu bukan sosok yang menjadi tempatnya bergantung, yang membuatnya bisa bermain basket hingga detik ini. Sosok Akashi Seijūrō, yang tanpa sadar menebarkan gravitasi tak terbantah atas diri Kuroko Tetsuya.

Sosok yang menjadi mataharinya, dulu dan saat ini.

.

.

.

Hari ini tahun ajaran baru resmi dimulai. Ditengah sakura merah muda yang merekah dan perlahan gugur oleh angin, halaman utama Seirin sudah penuh dengan para siswa.

Sebagian berasal dari senior yang menawarkan berbagai macam klub, yang lainnya merupakan para murid baru yang antusias di hari pertama. Sekarang ini Kagami Taiga melihat semua itu. Dari balik meja kayu yang berada di barisan tengah dari jajaran panjang meja – meja tempat pedaftaran klub yang tersedia. Bersama dengan Furihata Kouki yang duduk sambil mencatat nama – nama dari setumpuk kertas permohonan masuk klub.

Hah.. mau tak mau Kagami merasa miris saat membayangkan perbedaan kuantitas pendaftar antara klub basket Seirin setahun belakangan dan tahunnya dulu.

"―tumben sekali Kuroko belum datang sampai sekarang."

"Ehh?"

Furihata berdecak tak sabar. "Bukankah dia kemarin bersedia menggantikan kita menjaga stand? Tumben sekali anak itu terlambat."

Dua tangannya masih cekatan merapihkan berlembar kertas yang memenuhi meja. Sesekali menulis beberapa catatan kecil di masing – masing lembar pendaftaran. "Tapi dari pada itu Kagami, bagaimana soal… pelatih?"

Sang ace Seirin yang tengah mencoba menemukan Kuroko Tetsuya ditengah keramaian ―sedikit mustahil jika mengingat misdirection miliknya, sebenarnya ―kembali mengarahkan fokusnya pada si rambut cokelat. "Ehem.. soal itu.. iya ya. Karena terbiasa dengan para senior, aku sering lupa bahwa pelatih kita itu hanya setahun lebih tua. Yah.. biar si Kuroko-teme saja yang memikirkan." Pemuda berambut merah terang itu menyeringai sekarang. "―itu memang tugas seorang 'Kapten' bukan?"

Mau tak mau, Furihata terkekeh mendengar ini. "Kapten Kuroko, huh? Kupikir kita tak salah memilihnya sebagai 'Kapten'. Caranya mengambil keputusaan benar – benar mengagumkan. Itu pasti karena kemampuan observasinya yang luar biasa, eh?"

Pemuda yang kini menjabat sebagai point guard itu kembali melanjutkan ocehannya. "Aku sempat kaget saat kau juga setuju untuk memilih Kuroko sebagai 'kapten', Kagami. Kupikir kau juga berminat dengan posisi itu."

"Heh.. Jangan bercanda." Kagami tertawa keras. "Aku bukan orang dengan leadership skill yang baik. Mana gampang terpancing pula. Bisa hancur tim kita kalau aku kaptennya, haha.."

Furihata turut terkekeh. Menerima satu kertas permohonan masuk tim ―lagi, dari seorang anak kelas satu yang langsung kabur begitu kertasnya diterima. "Hah.. belakangan anggota baru kita benar – benar meningkat drastis. Sepertinya kita harus mulai membagi mereka menjadi beberapa string seperti di Teikō."

Candaan dari rekan satu timnya sontak membuat tawa Kagami lenyap. Teikō, huh? Kiseki no Sedai? "…Aku benar – benar tak menyangka bisa mengalahkan mereka semua."

"Apa mak―oh," raut Furihata Kouki turut mengeras. "Kiseki no Sedai? Hum.. aku juga sedikit tidak percaya. Winter Cup dua tahun lalu kalian mengalahkan empat anggota Kiseki dan terlebih Akashi." Pemuda itu bergidik, rasanya tangannya kembali bergetar hebat jika mengingat Kapten berambut merah itu. "―mengalahkan Akashi masih seperti mimpi bagiku."

Kagami menghela napas pelan. Melipat dua tangannya santai dan menyandarkan tubuh pada bangku kayu yang sama sekali tak nyaman. "Hey Furihata.. apa menurutmu tidak ada yang aneh dengan pertandingan saat itu?"

"Aneh?" yang disebut namanya menaikan sebelah alis. Mencoba memancing ingatan tentang pertandingan dua tahun lalu yang sukses membuat gempar tiap majalah basket yang beredar. Pertarungan sengit antar sekolah adidaya macam Rakuzan dengan Seirin yang hasilnya jauh diluar prediksi kebanyakan orang. Sukses membuat awak media mencetak besar – besar headline tiap majalah dengan tulisan macam "Emperor pencipta segalanya, sukses bertekuk lutut pada sang pendatang baru!".

"―Apa ini tentang Akashi yang tidak bermain sama sekali di babak terakhir?"

"Yeah." Kagami menangguk setuju. Rautnya berubah serius. Kepalanya selalu berputar pada kebingungan tak berujung jika mengingat hal ini. Firasat bahwa ada yang salah dengan babak terakhir saat itu juga terus muncul. Entah apa.. Kagami sama sekali tak tahu. "selain itu… tiga Uncrowned Generals yang tiba – tiba pecah konsentrasi juga. Bahkan orang yang memiliki kemapuan seperti Kuroko pun tampak hilang fokus. Aneh sekali jika tim sekuat mereka bisa tiba – tiba kacau di pertandingan."

Si rambut cokelat tersenyum kaku. "Tapi bukankah itu yang membuat kita menang? Karena Rakuzan yang bermain aneh di babak terakhir hingga kita bisa menyamakan kedudukan? Bahkan mencetak 2 skor pengunggul di sepuluh detik terakhir?"

"Aku sedikit menyesali kemenangan saat itu sebenarnya. Lebih terdengar seperti kita yang beruntung karena Akashi tiba – tiba tidak bermain. Bukan mengalahkannya."

"Tampaknya Kuroko juga sependapat denganmu, Kagami. Anak itu benar – benar terlihat tidak puas. Apalagi, Akashi juga tidak main sama sekali di Inter-high atau Winter Cup tahun lalu. Ada apa dengannya sebenarnya?"

"Heh.. entahlah. Dia jenius basket yang mengerikan, pastinya."

Furihata mengangguk, menggengam erat tangannya yang gemetar. Sensasi menjaga Akashi dengan Emperor's eye miliknya bukan sesuatu yang indah untuk diingat. "Kau benar."

Keduanya diam, sama – sama kembali memutar kenangan akan pertandingan sengit melawan Kapten para keajaiban itu. Berusaha menemukan sedikit petunjuk, atau mungkin hal kecil yang sempat luput dari pengamatan. Satu hal yang tak wajar, yang mungkin bisa memuaskan rasa penasaran saat ini. Kenapa mereka bisa menang?

Oh, ini bukan sesuatu seperti Kagami atau Furihata yang tidak percaya diri dengan kemampuan Seirin. Hanya saja, mengingat bagaimana Akashi ―dan Rakuzan, mencekik mereka dari babak pertama hingga ketiga, seperti mimpi rasanya jika mereka bisa membalik keadaan di babak keempat. Kagami tidak akan bepikir naïf. Dia mengakui bagaimana tim dari Kyoto itu luar biasa kuat. Karenanya, sangat aneh saat di babak terakhir sang jendral lapangan tiba – tiba absen. Meninggalkan rekan satu timnya dengan kacau dan pertahanan yang mudah diterobos.

Ini basket, duh. Mencetak skor untuk menyamakan kedudukan dengan Rakuzan butuh waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Jadi.. kenapa―

"Kagami! Furihata!"

BRAK

―meja di depan dua pemain regular Seirin itu begetar. Tak lupa menimbulkan suara keras akibat gebrakan penuh tenaga dari Fukuda Hiroshi. "Ini gila. Benar – benar gila! Kau pasti tidak percaya siapa yang kulihat tadi ―"

"God damn it, Fukuda! Dimana kebakarannya, hah?" sentak Kagami sinis. Sialan! Andai dia punya penyakit jantung, bisa dipastikan rohnya sudah terbang ke surga sekarang. "Apa yang membuatmu sepanik itu?"

Kagami masih mengelus dada saat rekan satu timnya meletakan asal tumpukan formulir pendaftaran klub basket di meja tak berdosa yang tadi dipukulnya. Dengan ekspresi yang tak lebih baik dari orang yang tengah dikejar maut, Fukuda Hiroshi kembali bersuara. Kali ini dengan suara yang terengah. "Akashi.. aku melihat Akashi disini. Di Seirin! Sepertinya dia menuju ke gymnasium―"

"Tunggu.. tunggu! Akashi?"

"Oh ayolah Kagami! Akashi yang itu! Kapten Kiseki no Sedai, Kapten Rakuzan High!"

"What-the-hell―" mata pemuda tinggi itu melebar. "Apa yang dilakukan si maniak gunting itu disini?! Kau melihatnya dimana, Fukuda?"

"Menuju gymnasium―"

Tanpa menunggu pemuda itu menyelesaikan kalimatnya, Kagami Taiga segera melesat pergi. Berlari cepat mengabaikan tatapan heran (dan marah) dari orang – orang di lapangan yang sempat ditabraknya, tentunya dengan segudang pertanyaan yang mulai(kembali) berloncatan di otak.

Apa yang dilakukan pemuda itu disini?

Ini Seirin, for god sake! Bukankah Rakuzan berada jauh di Kyoto sana? Kenapa Akashi repot – repot bertandang ke kandang musuh yang pernah mengalahkan timnya dua tahun lalu? Heh.. tapi jika itu Akashi, si jenius gila itu pasti hanya tertarik pada satu orang di Seirin. Sama seperti para Kiseki yang Kagami ketahui, Generasi Keajaiban hanya tertarik pada rekannya sendiri. Hanya mengakui kekuatan sesama anggotanya, tanpa pernah melihat orang lain sebagai lawan yang patut diperhitungkan. Kagami Taiga tahu, dibalik kebencian yang seolah menguar diantara satu dan yang lain, para Kiseki selalu memandang tinggi rekan satu seragamnya di Teikō. Marah apabila ada orang diluar mereka yang berani meremehkan, apalagi menghina salah satunya.

Mereka adalah kumpulan orang angkuh yang ―Kagami benci mengakui ini, sangat setia kawan. Seperti Kuroko yang 'berhasil' marah saat dulu sekali, seorang pemain asing dari Senegal berani menghina para keajaiban, atau Kise yang selalu berkata ace Seirin High adalah sang bayangan keenam Generasi Keajaiban, padahal Kagamilah yang berkali – kali menghadapi perfect copy kebanggaannya. Orang – orang angkuh yang hanya mengakui bahwa lawan yang sebanding hanya para keajaiban itu sendiri. Tanpa pernah melihat yang lain, seperti Akashi yang ―pastinya hanya tertarik dengan salah satu pecahan Kiseki di Seirin, tengah bersama Kuroko Tetsuya.

Shit! Kuharap kau tidak melakukan hal bodoh, Kuroko! ―batin Kagami penuh harap.

.

.

.

"Ikut bersama… Akashi-kun?" Kuroko Tetsuya mengerjap. Menggenggam erat dua telapak tangannya yang terasa dingin. "Jika ini lelucon, tolong hentikan."

"Apa aku terlihat bercanda? Kau yang paling tahu aku orang seperti apa, Tetsuya."

"Tidak." Kuroko menggeleng. Sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari sepasang mata dwiwarna milik orang yang kini berjarak satu meter di depannya. "Aku tidak pernah bisa mengerti Akashi-kun. Dia terlalu sulit untuk kupahami,"

Tanpa sadar, pemuda berambut baby blue itu mundur selangkah, refleks memberi jarak. Takut jika degup jantung yang terus meningkat itu terdengar oleh sang Kapten. "Lagi pula, jika ini tentang sesuatu seperti 'kemampuan yang sia – sia', tolong maafkan aku, tapi jawabannya tetap tidak."

Kalimat terakhirnya terucap bersama bungkukan sopan yang mengundang senyum tipis sang kapten. Kuroko melanjutkan, "Tolong jangan pandang rendah Seirin, Akashi-kun. Kami tim yang kuat. Kami bahkan cukup kuat―"

"Untuk mengalahkan Rakuzan dua tahun lalu. Benar?" Akashi menyela. Dua tangannya terlipat elegan di dada, dengan sorot mata penuh determinasi yang tak goyah. "Apa aku menyebutkan tentang menyepelekan Seirin sebelumnya, Tetsuya?"

"Tidak―"

"Lalu sejak kapan kau bisa tahu apa yang kupikirkan?"

Kuroko tertunduk. Sadar dia tengah ditegur tersirat. "Sumimasen."

"Angkat kepalamu saat berbicara denganku Tetsuya." Kapten berambut merah itu mengangguk puas saat pemuda di hadapannya masih sepenurut dua tahun lalu. Mulai berjalan mendekat, dengan sepasang mata merah-emas yang terfokus penuh pada cerulean bulat sang bayangan.

"Ikutlah denganku." Dia mengulang kalimatnya. Melontarkan beribu makna tersirat dibalik frasa pendek bernada datar. "Kita bermain bersama, berdiri di atas satu lapangan."

Dua tangan si bayangan bergetar. Kepalanya langsung tertunduk, tak kuasa menatap pada mata dwiwarna sang kapten yang berbicara lebih banyak.

"Kau merindukannya bukan? Bermain bersama orang – orang yang sering kau sebut teman pertamamu?"

Kuroko Tetsuya mengangguk.

"Tidakah kau ingin kembali bersama kami?"

"Akashi-kun, kumohon berhenti."

Sang Kapten masih melanjutkan, "Atau kau masih membenci kami semua?"

"Tidak! bukan seperti itu―" Kuroko menyahut tegas. Kejujurannya terpantul dalam sepasang mata biru yang kembali menyapa heterokromia milik Akashi. "Aku tidak penah sekali pun membenci kalian. A-aku―"

"Kau hanya tidak bisa meninggalkan Seirin." Kaptennya menyimpulkan. Mengangguk dengan senyum kecil yang kembali terulas. "loyalitasmu tetap mengagumkan Tetsuya. Aku bangga padamu."

Apresiasi yang diluar dugaan itu kembali membuat mata Kuroko melebar. "A-Akashi-kun―"

"Baiklah. Kau menolak." Akashi mengangguk. Raut tenangnya tak berubah, tapi Kuroko Tetsuya sudah mengenal Akashi Seijūrō terlalu lama. Bukan hal sulit untuk melihat kilat kecewa yang terlintas dalam sepasang mata berbeda warna itu. Kilat kecewa yang selalu dilihatnya saat dia atau salah satu Kiseki melakukan sesuatu diluar kehendak sang Kapten.

Kilat kecewa yang pernah diarahkan padanya saat Winter Cup dua tahun lalu. Jenis sorot mata Akashi yang tidak pernah disukai Kuroko.

"Kalau begitu tidak ada lagi yang perlu kulakukan disini. Aku pamit, terimakasih untuk waktumu. Sayonara, Tetsuya."

Sayonara ―katanya?

"Akashi-kun, tunggu!"

Bayangan keenam Generasi Keajaiban itu berbalik. Tanpa ragu menarik salah satu lengan Akashi yang sudah berjalan beberapa langkah saat dia terdiam. Membuat satu pandang heran terarah langsung padanya.

"Tetsuya?"

"Tunggu. Kumohon, tunggu―" Kuroko Tetsuya terdiam. Tampak kebingungan dengan apapun itu yang sedang berusaha diucapkan. Tangannya yang bersentuhan dengan Akashi terasa dingin, pun tetap dengan getar lembut yang seolah memperjelas bagaimana kacaunya pikiran pemuda berambut cyan itu sekarang. "A-aku masih tidak mengerti. Ini semua―" dia menggeleng bingung, sekarang. "tolong berikan waktu,"

Akashi menunggu.

"Seirin adalah bagian diriku. Aku tidak bisa meninggalkannya." Suaranya mengecil diakhir kalimat. Satu yang membuat Kuroko merasakan tangannya ditepis oleh sang Kapten.

"Lalu apa yang harus kutunggu, Tetsuya?" Sosok berambut merah itu mengetatkan jaket putih yang sejak tadi memeluk punggungnya. Membawa dua tangannya kembali terlipat di dada. Pose tubuh yang menguarkan ketidaksabaran. "perkataanku tadi tidak akan menjadi perintah. Karena itu aku juga tidak merasa harus menunggu sesuatu."

Kuroko terdiam, dan Akashi yang terlihat tak ingin waktunya terbuang sia – sia kembali berkata "Saat kau mengatakan memilih Seirin, berarti kau memutuskan untuk kembali menghadapi kami. Disisi lain aku kecewa, Tetsuya, karena kau adalah bagian dari kami. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan, pilihan selalu ada ditanganmu."

"―apa yang lainnya… sudah menunggu?"

Kali ini Akashi tersenyum. Raut yang sama saat dia menemui empat orang yang lain. "Kau adalah pecahan terakhir Kiseki. Semua menunggumu untuk melengkapi janji itu."

"―dan apa maksud semua omong kosong ini?!"

"Kagami-kun!"

Pemuda yang mengenakan jaket brisigna Rakuzan tidak menoleh. Membiarkan langkah – langkah tergesa Kagami Taiga mulai mendekat. Hingga diakhir mata dwiwarna miliknya menyapa sosok tinggi sang ace Seirin High.

"Apa maksud semua ini, Kuroko?!" pemuda itu memulai. Dengan raut wajah yang mengeras, tak lupa sepasang mata merah yang bersinar penuh kekecewaan. "Ke Rakuzan? Kau berniat meninggalkan Seirin? Mengkhianati kami?"

Kuroko melebarkan matanya saat kalimat terakhir milik orang yang menjadi cahayanya itu menyapa gendang telinga. "Aku tidak paham maksud Kagami-kun, aku tidak berniat mengkhianati siapa pun disini."

Kagami mendengus tak sabar. Matanya sempat menyapa sosok Akashi yang terdiam. Terlihat sama sekali tak berminat bergabung dalam percakapan para tuan rumah. "Lalu ―bisa kau jelaskan tentang maksud pemuda ini," dia menunjuk Akashi sekarang "yang berkata ingin mengajakmu ke Rakuzan?"

"Ka-kau mendengar semuanya?"

"Dari awal."

Kuroko tak sempat terkejut dengan betapa besar kadar kemarahan dalam suara Kagami saat suara tenang Akashi kembali menyita fokusnya. "Silahkan selesaikan urusanmu Tetsuya. Aku pergi dulu."

"Tidak! Akashi-kun, tolong tunggu sebentar."

Melihat interaksi dua Kiseki di depannya tak urung kembali menyulut emosi pemilik Meteor jump itu. Pemuda itu sudah berdiri entah berapa menit yang lalu di luar gym. Dia baru akan membuka pintu lebar gedung olahraga itu sebelum mendengar Akashi yang menyuarakan maksudnya. Satu yang membuat sang pemilik insting liar andalan Seirin ini melebarkan mata penuh. Tapi dibanding menerobos masuk dan melempar beragam pertanyaan pada dua pemuda kurang tinggi di dalam sana, Kagami memutuskan menunggu. Berharap Kuroko Tetsuya yang menjadi bayangannya selama dua tahun ini mengucapkan sederetan kalimat penolakan. Kerena dia terlalu mencintai Seirin, dan senang berada ditengah orang – orang yang sama – sama menyukai basket. Atau apapun itu yang berada dalam garis Kuroko-masih-ingin-di-Seirin.

Yah.. walau ternyata harapannya itu runtuh. Kagami Taiga dikecewakan, baru kali ini ada satu tingkah Kuroko yang membuatnya begitu marah. Tingkahnya yang terlihat ragu di depan Akashi, seolah dia memiliki bendera yang lain di hatinya selain bendera Seirin yang selama ini dijunjungnya penuh determinasi. Cih.. jadi kekhawatiran Kagami benar selama ini?

"―Semua karena gravitasi dari matahari kami."

Tsk.. Persetan dengan ungkapan nonsense macam itu.

Tak tertarik lagi meminta penjelasan dari sang bayangan, Kagami melangkah maju, kini mendekat ke Akashi. Memaksa pemuda yang jauh lebih pendek darinya itu mendongak untuk menatapnya. Sama sekali tak menghiraukan apapun ocehan Kuroko yang menyuruhnya tenang.

"Akashi.. Kapten Kiseki no Sedai."

"Kagami Taiga."

"Karena Kuroko-teme itu sama sekali tak mau berbicara tentang rencana absurdmu tadi, bisa kau jelaskan padaku apa maksud ajakan bodohmu tadi?"

Akashi mendengus angkuh. Aura berat segera menguar dari tubuh mungil pemuda itu. Semua orang tahu Akashi Seijūrō tidak pernah suka di interupsi. "Hal itu tidak pernah menjadi urusanmu."

"Tsk! Lihat dirimu. Lihat kalian!" Kagami menyentak sinis. "Orang angkuh sepertimu meminta Kuroko kembali bermain bersama? Meninggalkan Seirin katamu? Apa itu menjamin bahwa kau ―kalian, tidak akan membuangnya seperti dulu?"

Mata biru bulat Kuroko semakin melebar mendengar kalimat pedas yang dilontarkan cahayanya. Kepala berambut biru muda miliknya menggeleng. Seolah takut mendengar apapun kenyataan yang akan dilontarkan Kagami. "Tolong hentikan Kagami-kun, kumohon berhenti―"

"Tidak." Kagami menjawab lugas. Menyapa sepasang bola mata sewarna langit itu dengan tatapan tajamnya sekilas, sebelum beralih kembali pada Akashi. "Kau hanya takut mendengarnya Kuroko. Kau takut kembali sadar, bahwa orang – orang macam Generasi Keajaiban ini pernah membuangmu dulu. Kumpulan orang angkuh yang memandang lawannya tak lebih baik dari sampah. Bukankah mereka tak membutuhkan bayangan lagi? Bukankah umpanmu hanya digunakan untuk menyimpan tenaga mereka saat pertandingan? Apa yang bisa kau harapkan dari orang – orang itu Kuroko?!"

Dia terengah. Terlihat masih tak puas melontarkan beragam kata lainnya pada Akashi yang diam. "Apa kau.. masih bisa mengantungkan harapan pada mereka? Pada dia yang bahkan tidak memerlukan kehadiranmu dilapangan?"

Kuroko Tetsuya tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya mendapatkan oksigen sebelum ini. Melihat dua orang berambut merah di depannya yang saling melempar aura berat, mendengar beragam kenyataan pahit yang terlontar dari mulut sang cahaya. Pemuda pemilik misdirection itu menggenggam erat dua telapak tangannya. Menggigit bibir bawahnya keras, menahan sebisa mungkin isakan yang nyaris terlontar. Dia baru akan membuka mulut saat suara lain terdengar.

Sebaris kalimat bernada dingin dari sang Emperor.

"Aku tidak mengijinkanmu, Kagami Taiga. Jangan pernah kau sebut Kiseki-ku yang berharga dengan nada tersebut." Mata kiri pemuda itu berpendar kelam. Menyuarakan seberapa besar dominasi amarah yang telah disulut pemuda yang lain. Akashi maju selangkah, melempar satu tatapan jijik pada Kagami yang jauh lebih tinggi.

"Kau tidak punya pembelaan―"

"Sadari tempatmu."

―dan sebelum Kuroko sempat berkedip, dia sudah bisa melihat Kagami yang terduduk. Ankle break. Menyisakan Akashi yang berdiri menjulang penuh dominasi. "Kau tidak tahu apapun tentang kami. Jadi kau juga tidak diijinkan untuk memberi pendapat tak berguna macam itu."

Akashi mundur selangkah, terlihat berusaha mengendalikan dirinya untuk tetap menjaga jarak dengan pemuda itu. Mencegah beragam tindak kekerasan yang bisa dilakukan jika Kagami berada dalam jangkauan tangannya.

"―dan apa tadi? Pembelaan, katamu? Bagaimana jika kau kuberitahu satu hal?" Akashi memberi jeda dalam ucapannya. Mengangguk puas kemudian saat baik Kagami maupun Kuroko yang sejak tadi diam tidak ada yang berniat menyelanya. "Basket adalah olahraga dua kubu. Satu menyerang dan satu bertahan, atau sebaliknya. Disitulah kau menemukan alasan kenapa basket menjadi permainan yang begitu menarik saat saling dua tim saling mengejar poin. Kau bisa melihat bagaimana lawanmu berusaha sekuat tenaga, juga mengerahkan tenagamu untuk mengalahkannya. Tapi jika sebaliknya, saat perbedaan poin begitu besar, apa yang bisa kau nikmati dari basket Kagami Taiga?

Bagaimana perasaanmu saat menemukan lawan yang hanya memberimu sorot mata pasrah? Membiarkanmu membawa bola tanpa berusaha merebut. Kau tidak tahu. Karena kau saat ini menemukan lima Kiseki yang mampu menandingimu. Kau berbeda dengan kami tiga tahun lalu yang sama sekali tidak bertemu lawan yang seimbang. Kau tidak akan paham, karena kau tidak pernah merasakan bagaimana membosankannya lapangan basket yang hanya kau kuasai sendiri."

Kapten Generasi Keajaiban itu berdehem sekilas. Mencoba mengembalikan rautnya yang sempat terpengaruh emosi menjadi setenang air. "Pikirkan apa yang kukatakan baik – baik sebelum kau berani melontarkan kata – kata macam tadi mengenai Kiseki milikku. Aku bukan seorang yang segan menghancurkan orang lain."

Kagami Taiga terdiam. Mencerna barisan panjang kalimat dari Akashi yang kini melangkah pergi. Langsung berbalik tanpa memedulikan dia atau Kuroko yang tak menyahut. Berjalan dengan langkah – langkah stabil yang menimbulkan gema dalam gymnasium besar ini. Akashi baru akan menyentuh gagang pintu saat suara Kagami kembali terdengar.

"Lalu apa alasanmu kembali mengumpulkan mereka?" dia berdiri. Dengan mata merah gelap yang terpaku pada punggung mungil yang tertutup penuh jaket Rakuzan High. "Apa kalian tidak takut kembali terjebak pada permainan basket satu arah seperti yang kau katakan tadi?"

Diluar dugaan, Akashi berbalik. Kali ini mengarahkan mata dwiwarna miliknya pada Kuroko. Memandang langsung pada sepasang cerulean bening yang terlapisi kaca. "Kami disebut sebagai Generasi Keajaiban karena mempunyai pikiran yang sama. Ada satu dua hal yang hanya bisa dimengerti oleh Kiseki itu sendiri. Lagi pula, aku ingin kembali bermain basket dengan teman – temanku."

―Akashi tersenyum miring, penuh arti yang sulit ditebak. "Untuk yang terakhir kali."

BLAM

Dua pintu besar gymnasium Seirin High resmi tertutup rapat.

Menyisakan Kagami dan Kuroko yang masih terdiam. Meski begitu, hening itu tidak berlangsung terlalu lama. Kagami mendengus sinis sekarang, terkekeh dengan sorot mata kecewa. Sadar dia kalah. Sadar bahwa gravitasi Akashi Seijūrō terlalu erat mengikat sosok didepannya ini.

"―Kau tidak ingin mengejarnya?"

"…Kagami-kun?"

"Apa mereka begitu penting bagimu?"

Kali ini Kuroko tertunduk. Setetes air mata yang sejak tadi ditahan merengsek keluar, mengalir cepat sepanjang pipi pucat sebelum akhirnya jatuh dalam pelukan bumi. "Akashi-kun… orang itu adalah sosok yang membuatku bisa seperti sekarang. Tetap bermain basket.. bisa bertemu dan bermain bersama Kagami-kun dan yang lain. Keberadaannya, sudah seperti matahari. Aku adalah bayangan sedang dia adalah keberadaan yang membentukku."

"Dasar bodoh," Tangan hangat sang ace kini mengacak lembut rambut baby blue Kuroko. "Err.. Walau kau pindah sekolah, bukan berarti kita tidak bisa menjadi teman, 'kan? Cih.. sepertinya kau benar tentang teori gravitasi bodohmu itu."

"Apa ―Kagami-kun? Kau.. tidak menganggapku pengkhianat atau semacamnya?"

"Hey.. bukankah kau yang sejak awal berpikiran seperti itu? Aku hanya menyuarakan pikiranmu tadi, Kapten." Kagami Taiga kembali terkekeh saat menemukan ekspresi bingung bayangan ―yang hingga saat ini, miliknya.

"Kau mencintai Seirin, bahkan memimpin kami begitu baik. Tapi.. aku bisa katakan, kau hanya merasa nyaman di sini. Selama ini bukannya hatimu penuh akan mereka? Pikiranmu penuh dengan berbagai cara untuk mengalahkan Kiseki, atau sebenarnya penuh dengan cara untuk mengembalikan Kiseki. Mengembalikan teman – temanmu menjadi sosok yang sama – sama mencintai basket. Hatimu sudah lama kau serahkan pada mereka, benar?

Heh.. bukan hanya si Ahomine saja yang bisa begitu memahamimu, Kuroko. Menjadi cahayamu selama ini, cukup untuk membuatku paham bagaimana pikiran licikmu bekerja. Bukankah kita bisa sangat mengerti satu sama lain jika soal basket?"

"…"

"Yo." Pemilik Meteor Jump itu mengangkat tangannya. Menunggu Kuroko menyambut toss mereka yang biasa. "Aku juga menunggu untuk menjadi melawanmu. Ayo kita tunjukan bagaimana permainan basket masing – masing. Kutunggu kau dilapangan."

Kuroko Tetsuya membeku. Sepasang mata birunya kembali meneteskan butiran air yang lain. Setetes air mata penuh kelegaan. Kuroko tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat macam itu dari Kagami. Meski begitu, merasakan bagaimana hatinya yang menghangat, atau ribuan beban yang serasa diangkat dari pundak. Kuroko benar – benar bersyukur pernah mengenal pemuda ini.

"Terimakasih.." bibirnya tertarik. Semakin lebar, hingga membentuk satu senyum lepas yang entah kapan terakhir dia rasakan. Kuroko tidak pernah merasakan hatinya seringan ini. Perasaan membuncah yang sama, kehangatan yang sama dengan satu ingatan berharga miliknya. "Terimakasih, Kagami-kun!"

Bayangan keenam Generasi Keajaiban itu membalas semangat kepalan tangan Kagami. Menyatukan tangannya dengan sang cahaya, sebelum membungkuk dalam. "Sekali lagi terimakasih! Aku pergi dulu!"

―dan tubuh mungil itu hilang dari pandangan Kagami Taiga.

"Hah.. aku tidak pernah melihatnya tersenyum selepas itu."

.

.

.

Beranjak siang, langit biru diatas sana semakin berkilau.

Berpendar penuh semangat, hingga tidak ada yang mengira bahwa musim panas telah tersubstitusi oleh sejuknya musim gugur. Hari ini adalah hari yang sama dengan cerahnya letupan semangat yang mengiring langkah – langkah cepat Kuroko Tetsuya menuju gerbang cokelat Seirin High.

Membawa kakinya melewati keramaian siswa yang tak berkurang. Dengan mata yang awas mencari keberadaan sosok pemuda berambut merah dengan tinggi yang tak berbeda jauh darinya. Kuroko tersengal, tapi tak menghiraukan bagaimana titik – titik keringat jatuh disepanjang pelipis. Hanya berniat secepat mungkin menemukan Akashi yang ―dia harap, belum jauh dari sini.

"Akashi-kun…"

"Ya, Tetsuya?"

Kuroko menoleh, menemukan sosok pemuda itu dengan senyumnya yang biasa. Tengah bersandar santai di samping gerbang. Tak lupa dua tangan yang setia terlipat di dada. "Jangan melihatku seperti itu. Aku tahu kau akan mengejarku―"

―dan sepasang mata dwiwarna itu melebar saat merasakan pelukan tiba – tiba yang menyapanya. Membuat indra penciumannya mampu dengan jelas membaui wangi vanilla samar yang menguar dari leher Kuroko Tetsuya.

"Tetsuya?"

"Aku bersedia. Aku ikut dengan Akashi-kun."

Akashi terkekeh. Tak kuasa untuk tidak menepuk lembut surai biru cerah pemuda yang telah melepas pelukannya. "Apa ini? Kau berubah secepat ini? Padahal loyalitasmu sempat kupuji tadi."

"Akashi-kun.."

Akashi menunggu, hanya menurut saat tangan kanannya kembali digenggam si pemain bayangan. "Berjanjilah untuk tidak pernah membuangku lagi."

Jeda tiga detik diambil sang Kapten, sebelum akhirnya pemuda pemilik Emperor's eye itu membawa naik tangannya yang bebas. Mengusap lembut jejak air mata yang masih terlihat dari pipi pucat Kuroko.

"Aku berjanji Tetsuya. Aku tidak akan pernah melepasmu, atau para Kiseki yang lain. Kau boleh mengambil jantungku jika aku sampai mengingkarinya. Percayalah, aku selalu benar."

"Ya, Akashi-kun. Aku percaya."

"Baiklah.. ayo kita kembali bermain basket bersama, Tetsuya."


To be continued.


Eungg.. Saya tidak sempat memperkenalkan diri kemarin, jadi yah.. XDD panggil aja Cla, bukan orang baru di ffn, tapi jelas orang baru di fandom ini. Salam kenal semua :D #bow lengkapnya silahkan lihat profil saya saja oke.. hahah #lagaklukayaadaygmau :3

Heee.. jadi bagaimana soal lanjutan ini? Menurut saya, scene diatas bisa jadi end yang bagus, cliff hanger gimanaa gitu. Tapi yah, saya geregetan buat nulis kisah kasih (?) Kisedai di ch selanjutnya. Jadi saya cabut predikat trilogi dari ff ini. Bakal lebih panjang soalnya.. -_-a dimaafin yakk.. #bow

Soo.. apa masih menunggu lanjutannya, kawan? XDD

Special thanks for :

yui. yutikaisy, evilfish1503, aidenfishy, luwita. marshanugroho , Zalvaren Yuvrelza (kkk.. apa yg bikin penasaran sihh? XDD), Yuna Seijuurou (Hee.. Akashi mah emang misterius dari sononya. Sampe2 berasa figuran karena jarang banget muncul T.T #ditusukgunting), Minnippel (uwoo.. masih adakah firasat buruknya? XDD), Rhie Chan Aoi Sora (Ehh.. dj apaan? kasih tau dong.. mau bacaa #semangat45 XDD), el Cierto ga login, Lee Kibum, Kitami Misaki.