Halo~ ^^. Saya bingung mau opening kayak apa. Hehehe…

Disclaimer: Kishimoto Masashi

Soba ni Iru Kara is mine

Warning: set AU, slice of life, saya tetap menambahkan warn berupa; 'lil OOC', Romance, Hurt/Comfort genrenya, rada gaje. Jika nggak suka, sebaiknya tidak menyakiti diri sendiri. Terima kasih

This is my story… enjoy please

Soba ni Iru Kara

-.-

Chapter 2: Ke Mizu

.

.

.

Angin pagi menyambangi Mizu dengan aroma asin garam dari arah lautan. Kilau mentari dari balik bukit mencercah kehidupan lain yang dengan cepat berwarna cerah. Dedaunan berayun, menuruti gerak angin yang bertiup. Mengabarkan bahwa udara lain datang bersama dengan keping nasib yang tidak terduga.

Cho bermain-main di depan rumah, ransel merahnya ia letakkan di dekat pohon sakura yang meranggas. Jii-san sedang meminum pil cokelat yang diberikan oleh Kaa-sannya. Matanya yang bulat besar tiba-tiba tertarik pada seorang pemuda pirang yang berjalan dalam kebingungan. Cho suka menolong orang, jadi dia berhenti mengorek semut-semut di depannya, berlari ke arah pemuda yang menyadari kehadiran tubuh kecilnya.

"Konichiwa, Paman kesasar?" tanya Cho, riang. Pemuda itu berjongkok. Melepas sejenak pegangannya pada koper besarnya untuk menyamakan tinggi badan dengan si gadis kecil.

"Paman sedang mencari tempat tinggal. Apa di sini ada penginapan, Nona Kecil?" Cho tersipu di panggil 'Nona Kecil' oleh pemuda yang memiliki mata sebening laut. Gadis kecil itu kemudian berpikir, sampai dia akhirnya bilang bahwa mungkin saja rumah di ujung jalan yang memiliki dua lantai itu adalah penginapan.

"Itu rumah paling bagus disini, tapi selalu sepi. Mungkin itu penginapan, Paman." Jari kecilnya menunjuk kepada atap merah yang menjulang di antara genting-genting rumah penduduk yang sederhana.

Sepasang mata biru itu mengikuti petunjuk, tersenyum penuh harapan optimis. Tangannya yang tan menggapai puncak kepala yang dipenuhi rambut halus berwarna gelap, mengelus-elusnya sayang sambil berkata "Terima kasih, Nona Kecil."

Detik tak ia sia-siakan lagi, kakinya bergerak membawanya dirinya berlalu dari sana.

Menit berlalu dan Cho memutuskan untuk memanggil ibunya yang masih sibuk menata bantal di kepala Jii-san. Sesosok wanita berparas lembut menyambut panggilan ceria itu dengan senyuman. Ia menggandeng tangan mungil Cho dengan satu tangan lain menenteng tas merah putri tersayangnya.

Lagu Cho mulai bernyanyi; Kapten Cho oh… Kapten Cho. Kapten yang baik hatiiii- suka menolong dan mandiri, siapa dia siapa diaaaa, Oh Kapten Cho yang pemberani…

Pelan namun merunut dengan baik, Hinata mengikuti syair yang selalu disenandungkan oleh malaikat kecilnya.

"Kau pintar sekali membuat lagu, Sayang."

Cho menghentikan refrain yang selalu bernada ceria miliknya hanya untuk mendongak dan tertawa puas kepada Kaa-san yang berhati baik. gadis kecil itu berkata bahwa ia memang suka menolong dan suatu hari dia akan menjadi pengantin.

Hinata tertawa kecil, menganggap bahwa putrinya hanya menjadi seorang gadis polos yang menyukai permainan 'Putri dan Pangeran' yang bernuansa pink. Tapi Cho protes, dia berkata bahwa dia sungguh-sungguh akan cepat dewasa dan menjadi mempelai wanita.

"Aku bertemu paman tampan tadi pagi, Kaa-san. Dia memanggilku 'Nona Kecil'. Cho akan mempunyai 'Tuan Kecil' suatu hari nanti, kan?" mata polos itu berbinar sekaligus penuh harap. Ia menembus ke dalam perak yang bertolak belakang dengan miliknya, dan entah untuk ke sekian kalinya, Hinata tidak kuasa menghadapi pandangan itu.

"Ya, Kapten." Hela nafas berat terantuk pada udara pagi dari laut. Cho tersenyum, berterima kasih pada ibunya dan berjanji akan menangkap 'Tuan Kecil'-nya yang baik suatu hari nanti.

Gadis kecil itu kembali bersenandung, melepaskan gandengan tangan Hinata dan mulai melompat-lompat ceria di depannya. Bebas tanpa hambatan. Tulus dan penuh kehidupan. Seperti kupu-kupu yang baru menemukan sayap terindahnya.

"Nee, Kaa-san." Cho memanggil tiba-tiba.

"Ya, Kapten?" dan dengan cepat mendapatkan atensi dari wanita berwajah teduh tersebut.

"…, eum, tidak jadi."

"He? Jangan membuat Kaa-san bingung ya."

Cho tertawa lagi, suaranya yang ringan selalu menggembirakan. "Cho akan selalu ada untuk Kaa-san."

Tertegun, matanya terasa sembab. Kalimat itu bukan sekali dikatakan oleh putri tersayangnya, tapi sensasi itu selalu menyertai dengan halus, menelusup ke dalam hatinya tanpa bisa ia cegah. Sebersit senyum tanpa kata, kehangatan tanpa jeda, semua gerak-gerik keibuannya-lah yang akhirnya menangkup Cho dalam pelukan.

"Kaa-san mo, Cho-Taichou."

Angin laut berhembus, tenang dan damai.

^^Soba ni Iru Kara^^

Ujung jalan yang ditunjuk oleh gadis kecil berwajah lucu itu ternyata sebuah bukit hijau yang seolah memiliki dunia berbeda dengan sekitarnya. Ia membutuhkan setidaknya satu jam untuk sampai di depannya. Ia berpagar tinggi, dengan tembok yang semuanya dari batu hitam, kontras dengan bangunan yang terlindungi di dalamnya yang seputih awan. Rumputnya terawat, dengan pohon-pohon kelapa yang berayun mengikuti tuntunan angin. Dari tempatnya berada, ia bisa melihat balkon-balkon yang menghadap jauh ke ufuk cakrawala. Menjanjikan muatan pemandangan sunset yang tiada bandingan karena pulau ini dikelilingi oleh banyak air.

Naruto mencari bel, dan hanya menemukan seorang penjaga gerbang yang sudah tua lagi rapuh. Yang hanya memakai kemeja lusuh dengan celana panjang kumal dengan sebuah tongkat yang membantunya berjalan. Naruto tidak yakin bisa menanyai orang tua itu, tapi keberadaannya yang cukup lama di depan gerbang yang tertutup, tak urung membuat penjaga tersebut menghampirinya.

Tertatih, ia bertanya tujuan Naruto. "Mencari apa, Nak?"

Calon dokter itu gelagapan, sedikit kaget dengan sambutan yang tidak ia duga. "A-apa disini adalah penginapan?"

Naruto diserang harap-harap cemas menunggu jawaban orang tua yang berbicara seperti mengeja. Otot kakinya yang mulai lelah terasa lebih lunak dengan kepastian yang datang bahwa rumah itu hanya villa milik pribadi, bukan rumah yang bisa disewa per malamnya.

Setelah mengucapkan terima kasih, ia berbalik. Punggungnya yang diberati dengan ransel penuh dengan pakaiannya terlihat muram. Ia lelah, perjalanan semalaman dengan kapal dagang yang penuh dengan sayur dan ikan membuat kepalanya pusing. Ia juga butuh makanan, tapi sejauh mata memandang, tidak ada food court atau kedai kecil yang bisa menyediakan sedikit penghiburan bagi perutnya yang meronta.

Ia memutuskan untuk berhenti sejenak, duduk di sebuah batu yang menyembul di antara semak belukar tepi jalan. Tangannya merogoh ke samping ransel, menemukan sebotol air mineral yang isinya tinggal sedikit. Teguk habis. Hausnya belum hilang. Begitu pun rasa laparnya.

Kemudian, rasa sesal itu datang. Menyesali semua yang bisa ia sesali. Mengeluh dalam kesendirian yang sunyi. Meracaukan kata-kata yang tidak pernah bisa ia ungkapkan. Hanya bunyi "Kuso." Yang terdengar seperti desisan muncul perlahan darinya.

Matahari belum tinggi, tapi seolah sengatannya terus menarik ular dalam perut Naruto untuk bergejolak. Sampai akhirnya ia berjalan lagi, terhuyung menuju arah tak tentu. Menuruti aliran angin yang menuntun langkahnya berhenti pada sebuah bangunan beraroma asin.

Seorang wanita dengan rambut yang terkepang ke belakang yang beraura manis muncul dari balik pintu yang mengilat. Sosok itu sedemikian membekas di benaknya. Dalam diam, halusinasi Naruto membelai pada batas rasa haus, lelah, dan laparnya. Tubuhnya jatuh, berdebam pelan di atas tanah yang kotor. Sedikit ia berharap bisa melihat wajah wanita bak malaikat itu.

Namun pandangannya menggelap sekian detik sebelum akhirnya mendengar langkah kaki yang tergopoh-gopoh menghampirinya.

Kesadarannya hilang bersamaan dengan harapannya untuk diselamatkan.

Semoga setelah ini, aku bisa makan

Lalu entah berapa lama waktu berjalan, mata birunya mengerjap karena sebuah tangan yang menyentuh keningnya. Aroma menyengat alkohol menusuk hidungnya. Cahaya pertama yang masuk adalah neon redup di atasnya, dan ia merasa nyaman dengan kain hangat basah yang terasa menyejukkan di dahinya.

"Sudah sadar?" seorang wanita, dengan wajah khawatir menyambutnya kembali dari alam tak bernama. "Minum dulu." Satu gelas besar air gula hangat tersorong di depannya, Naruto tak ambil pusing untuk menolaknya. Ia sadar bahwa secepatnya ia membutuhkan minuman yang banyak. "Anata, dia sudah sadar…"

"Sa-ya dimana?" Naruto bergerak duduk, menghadapi wanita paruh baya yang berteriak memanggil suaminya.

"Ah, sudah sadar rupanya. Tuan baik-baik saja?" suara besar itu hangat, buru-buru mendekati Naruto yang masih bingung dengan keadaan tiba-tiba ini. Ia hanya bisa mengangguk dan dengan lirih berkata "Ya."

"Saya dimana?" ia mengulang.

"Tuan di rumah saya. Tenang saja, makan dulu. Maaf hanya ada nasi dan ikan. Hyuuga-san bilang Tuan harus banyak minum air gula dan makan nasi."

Satu piring yang terlihat melambai mesra padanya terbawa di hadapan. Rasa lapar menguasai, dan tak banyak waktu terbuang untuk berpikir ulang.

"Ittadakimasu."

Suapan pertama, terasa begitu nikmat. Seolah itu adalah makanan yang baru dijatuhkan dari surga. Perutnya memang sudah lama kempes, dan mengisinya hanya dengan gas dan air bukan pilihan yang bijak.

"Pelan-pelan, nanti tersedak." Wanita berwajah ramah itu mengingatkan. Merasa heran campur senang melihat manusia pertama yang begitu lahapnya memakan hidangannya.

^^Soba ni Iru Kara^^

Dua hari Naruto menginap di sana, membantu sebisanya demi bisa makan dan tidur gratis. Tapi ia mulai merasa tidak enak. Rumah itu hanya berupa rumah sederhana yang memanjang, dari kayu dan tidak terlihat banyak perabotan. Berpenghuni lima orang; sepasang suami-isteri, adik laki-laki dari sang suami, seorang bocah lelaki, dan seekor kucing. Kemarin, secara tidak sengaja, ia mendengar pertengkaran si adik yang bernama Yahiko dengan Kouta, anak dari Nagato-san dan Konan-san.

Masalah kamar yang sekarang ditinggali oleh Naruto.

Jadi, sore itu, selesai membersihkan halaman rumah, dia menemui Nagato-san dan Konan-san yang sedang bersantai di teras belakang.

"Saya mau pamit. Saya akan mencari tempat tinggal di sekitar sini."

Kedua orang itu berpandangan, menghela kelegaan yang tidak Naruto pahami, tapi ia mengerti.

"Tinggallah lebih lama disini." Naruto tahu itu hanya keramahan wajar, sopan santun yang wajib dilakukan. Tapi ia merasa cukup. Naruto cukup tahu diri untuk menjadi beban tambahan keluarga petani itu.

"Terima kasih, Konan-san, tapi saya tidak mau merepotkan." Kata Naruto. Tas dan kopernya sudah ia siapkan. Tinggal selangkah lagi untuk keluar dari rumah itu.

"Baiklah, sebaiknya Naruto-san hati-hati. Kami belum tahu ada penginapan atau tidak, tapi coba cari di daerah dekat laut, mungkin Hyuuga-san punya kamar kosong."

"Arigato gozaimasu." Ia bersalaman, dengan empat anggota keluarga tersebut. "Selamat tinggal."

Lalu langkahnya bergerak ke arah selatan, laut menyambutnya dengan senandung ombak dari kejauhan. Ia bingung, tapi lega luar biasa. Tanpa tujuan kembali ke keadaan awal, namun ia merasa ringan bergerak.

Berbekal sebuah nama marga yang terdengar kuat, ia berharap menemukan nasib yang lebih menentramkan. Setidaknya bisa tidur dan makan secara tenang dan segera membuka praktek pra-kedokteran di desa pulau Mizu ini sehingga-

"Are?"

Suara itu menghentikan langkahnya. Kepalanya bergerak ke arah kiri, pada pematang sawah yang menguning tertimpa sinar sore hari. Menemukan gadis kecil bermata besar nun polos yang ia tahu suka tersenyum lebar.

"Paman?"

"Nona Kecil?"

Gadis kecil itu melompat girang, keluar dari pematang kemudian lari kepada pelukan Naruto. Terkejut, mungkin juga tidak siap, Naruto terjatuh ke belakang atas serangan mendadak dari tubuh kecil yang penuh semangat itu.

"Paman kesasar lagi, hihihi?"

Naruto menggaruk belakang kepalanya, tersenyum canggung, "Ehehe, yah, sepertinya begitu."

Dari kejauhan, seorang wanita berlari mendekat. Rambutnya yang gelap dikepang ke belakang. Rok panjangnya melambai mengikuti gerakannya yang agak kerepotan. Di tangannya ada sebuah keranjang yang penuh dengan siput sawah.

"Cho!" gadis kecil itu melepaskan pelukannya pada tubuh Naruto. Berbalik arah untuk menyambut kedatangan ibunya.

"Kaa-san…"

Pemuda bermata serupa laut dangkal itu hanya bisa melongo. Melihat semuanya dan seolah terlempar pada ingatan samar yang membersit dalam benaknya. Wanita berkepang dengan aura manis-bangunan beraroma asin. Dia kah?

Untuk sekian detik dalam hidupnya, Naruto memuji yang namanya efek slow motion. Entah itu hanya bualan otaknya, namun ia cukup menyukai momen ini. Saat dimana sang wanita mendongak, memberinya akses lebih jelas untuk menghapalkan garis wajah cantik di depannya.

Matahari hampir ditelan sempurna oleh batas samudra, memercikkan cahaya sunset yang istimewa. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia sukup bersyukur bahwa bisa melihat sosok itu-yang begitu menawan dalam cahaya istimewa sore hari. Aroma angin laut, udara bukit yang seolah menggelar sauh, sedikit rambut sampingnya yang tak melambai tak ikut terkepang, suara katak samar bersautan. Dalam diam, Naruto terpana.

Dalam diam, Hinata tersenyum canggung. Cantik sekali.

^^Soba ni Iru Kara^^

Masih bersambung…

Jadi akan ada apa dari pertemua mereka ya?

Oh ya, Cho artinya kupu-kupu ^^. Hyuuga Cho…?

Saya minta review untuk menge-post chapter berikutnya.

Terima kasih pada:

Guest: Terima kasih ^^, jawabannya bisa dilihat jika mengikuti terus fict ini. Hehehe #ketawasetan

Meong chan: iya, dia sudah punya anak. Saya bapaknya #ngawur. Terima kasih ^^

NaruHina shipper: saya juga nggak sabar membaca review kamu lagi :D

Guest: Terima kasih. Setelah melakukan pencarian, kamu benar. Judulnya kayak ost Naruto yang 'Soba ni Iru Kara'. Ahaha.

JihanFitrina-chan: iya, dia punya anak. Saya bapaknya #tendang.

Andypraze: waaaa, Terima kasih ^^. Sebenernya saya juga nggak lengkap nonton dramanya. Hanya tau secara garis besarnya doang. Wahahaha… saya usahakan. Yosh!

Jangan lupa meninggalkan komentar kalian pada kolom review di bawah yaaaaa :D

Salam

Aiko Fusui