Flashback


Baekhyun dulu adalah anak yang pendiam, sangat pendiam dan juga pemalu. Apalagi saat itu dia yang masih kelas 5 SD pindahan dari Daegu dan sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya di Seoul, bersekolah di sekolah yang baru, semua ini karena dia ikut dengan Baekbeom yang bekerja di Seoul.

Sejak orang tuanya bercerai Baekhyun jarang lagi tertawa keras-keras karena menonton kartun dan kurang bersosialisasi dengan orang sekitar. Dia juga jadi sangat bergantung pada Baekbeom.

Baekbeom sudah 2 tahun tinggal di Seoul dan akan pulang ke rumahnya di Daegu saat ia mendapat cuti. Namun di hari natal 6 tahun lalu Baekbeom menemukan Baekhyun yang menangis di depan rumah, saat itu juga terdengar bahasa yang kasar keluar dari mulut kedua orang tuanya, mereka saling memaki dan menyalahkan satu sama lain.

Seminggu kemudian orang tua mereka bercerai, ibunya pergi dan tak meninggalkan ucapan perpisahan apapun pada Baekhyun, selama seminggu sebelum bercerai ibu juga tidak meladeni Baekhyun saat si bungsu berbicara. Bahkan ayah dengan mudahnya membawa wanita lain ke rumah mereka setelah perceraian.

Baekbeom merasa kesal, sedih dan marah, ia tidak mau meninggalkan adiknya di Daegu dengan ayahnya yang hanya peduli pada wanita baru itu. Baekbeom membawa Baekhyun pada tengah malam tanpa diketahui ayahnya.

..

..

Hari pertama di sekolah barunya di Seoul Baekhyun merasa sangat sial, saat jam istirahat kepalanya terbentur dengan sepak bola yang dimainkan kakak kelas. Kepalanya terasa sakit tapi rasa malunya lebih besar, mereka menertawakan Baekhyun. Namun saat ia ingin meninggalkan lapangan, tangannya ditahan oleh tangan yang lain.

"Maafkan kami," Katanya, Baekhyun enggan menjawab dan menarik tangannya.

"Tunggu, kau anak baru itukan? Kau yang baru pindah rumah itu, benar?" Kembali pria dengan tinggi badan yang sama dengan Baekhyun itu bertanya.

"Kalau iya memang kenapa?" Baekhyun menolehkan sedikit kepalanya.

"Aku kenal dengan Baekbeom hyung! Dia pernah bekerja dengan ayahku. Wah aku senang bisa bertemu dengan adiknya yang selalu dia ceritakan," Dia merangkul pundak Baekhyun sok akrab.

"Eh—"

"Aku Park Chanyeol, aku dan Baekbeom hyung adalah teman. Jadi itu artinya sekarang aku temanmu, Baekhyun. Apa aku menyebut namamu dengan benar?" Baekhyun mengangguk ragu karena gugup.

Chanyeol meninggalkan lapangan dan mengajak Baekhyun makan di kantin, mereka cepat sekali akrab karena mempunyai hobi yang sama yaitu bermain video game. Walaupun umur mereka beda satu tahun Baekhyun tidak lagi memanggil Chanyeol dengan sebutan Hyung setelah mereka benar-benar sangat akrab.

Saat pulang sekolah mereka akan pulang bersama jika Chanyeol tidak les drum, terkadang Baekhyun akan ikut dan melihat permainan Chanyeol yang sangat keren, jika Chanyeol malas dia akan bolos les kemudian Baekhyun yang mengancam Chanyeol untuk diadukannya pada Baekbeom, sehingga Baekbeom bisa memberi tahu ayahnya. Karena menurut Baekhyun, Chanyeol hidup dengan segala yang ada, dia harus mensyukuri dan tidak boleh menyia-nyiakan semua yang diberikan orang tuanya.

Saat kelulusan Chanyeol, Baekhyun menangis karena Chanyeol akan sekolah di menengah pertama barunya, Chanyeol tertawa saat pertama kali melihat Baekhyun yang menangis mengatakan jika ia tidak boleh lulus.

"Nanti kau harus satu sekolah denganku, sampai kita SMA."

Baekhyun adalah anak yang pemalas, dia tidak pandai dalam memahami matematika dan fisika, jika ditanya pelajaran favorit pun dia akan menjawab jujur, tidak ada pelajaran yang dia senangi. Tapi karena ia ingin satu sekolah dengan Chanyeol ia belajar sangat giat.

Di SMP tubuh Chanyeol berkembang sangat cepat, dulu tingginya dengan tinggi Baekhyun itu sama, tapi sekarang Chanyeol terlihat sedikit lebih tinggi dari Baekhyun.

Chanyeol mulai famous di SMP saat kelas 2, saat itupun Baekhyun menunjukkan keakrabannya dengan Chanyeol barangkali namanya bisa ikut terbawa jadi terkenal di kalangan wanita namun realitanya sama saja, Chanyeol yang paling dicari-cari di sekolahnya oleh banyak wanita dan aktif dalam ekstrakulikuler juga memenangkan perlombaan.

..

..

Saat Chanyeol lulus SMP, Baekhyun akan menduduki kelas akhir. Sama seperti dulu, Baekhyun mati-matian belajar agar satu sekolah lagi dengan Chanyeol. Sekolah yang ditempati Chanyeol itu sangat terkenal karena otak para penghuni sekolahnya yang terkenal pintar.

Chanyeol mulai khawatir karena kali ini Baekhyun belajar sampai larut malam untuk ujian. Chanyeol sudah bilang padanya jika ia tidak memaksa Baekhyun untuk satu sekolah dengannya, ia menyesali kalau dulu pernah bicara untuk satu sekolah dengannya terus. Niat awalnya hanya seperti gurauan tapi si mata puppy itu benar-benar mengiyakan ucapannya.

Terkadang Chanyeol akan mengajari Baekhyun apa yang tidak dimengerti dalam soal, padahal Baekhyun sudah les di tempat yang didaftarkan Baekbeom. Tapi Baekhyun berkata jika Chanyeol yang mengajarinya Baekhyun akan cepat mengerti.

Dua bulan menjelang ujian dan kelulusan, Baekbeom benar-benar membatasi waktu bermain Baekhyun, Baekbeom seperti seorang ibu yang benar-benar ingin mempersiapkan anaknya untuk ujian. Selama dua bulan itu Baekhyun jarang bertemu Chanyeol, pulang sekolah dia akan les di tempat les dan pulang kerumah untuk mengerjakan soal latihan, chat-an dengan Chanyeolpun tidak pernah karena handphonenya di sita kakaknya.

Setelah kelulusan Baekhyun sebenarnya sudah dibebaskan oleh Baekbeom untuk kemanapun karena ujiannya telah selesai tapi entah kenapa Baekhyun takut jika belum tahu apa dirinya berhasil masuk di SMA yang sama dengan Chanyeol atau tidak.

Matanya membelalak lebar dan jantungnya berdegup, melihat namanya tertulis dalam daftar siswa yang diterima pada layar di komputernya. Dia berteriak senang dan segera memeluk Baekbeom di sampingnya.

"Aku juga harus menunjukkan pada Chanyeol!"

Baekhyun berlari menuju rumah Chanyeol tapi diperjalanannya menunju kesana matanya bertemu melihat Chanyeol yang sedang duduk di taman sibuk dengan handphonenya.

"Chanyeol!" Baekhyun berteriak.

"Baekhyun?" Chanyeol sigap berdiri dan menghadap asal suara. Langsung saja Baekhyun berlari dan menyerbu badan temannya itu, untung saja Chanyeol sigap menahan tubuh Baekhyun, dia membawanya dalam pelukan.

"Hei, sudah lama kita tidak bertemu." Ujar Chanyeol, ia terlihat ragu untuk membalas pelukan Baekhyun. Jantung mereka sama-sama berdebar, ini pelukan mereka yang pertama kali. Dan rasanya sangat nyaman, begitu menenangkan.

"Aku merindukanmu," Baekhyun masih belum bisa melepas pelukannya.

"Apalagi aku Baekhyun, kenapa kau tidak pernah mengabariku dan sekarang kau datang berlari seperti ini?" Baekhyun perlahan mengangkat wajahnya, melepaskan pelukan mereka dan tersenyum malu.

"Aku berhasil masuk Yeong Gwang High School!"

"Oh ya ampun," Chanyeol ikut tersenyum lebar dan mengusak rambut pria yang usianya lebih muda setahun darinya itu.

"Boleh aku peluk Chanyeol lagi?" Pintanya tanpa ragu.

"Bagaimana jika orang lihat?" Perlahan senyum Baekhyun luntur namun tidak membuuatnya jadi murung.

"Aku kan akan jadi pacar Chanyeol nanti." Dengan percaya diri ia melebarkan senyumnya.

"A-apa?"

"Kau sedang apa, disini?" Baekhyun mengalihkan topik.

"Aku..." Chanyeol terdiam sebentar, namun ia berusaha sedikit tersenyum kemudian. Chanyeol menjawabnya dengan senyuman yang amat kecil sambil menatap mata sabit Baekhyun.

Sekarang barulah senyum Baekhyun benar-benar hilang.

..

..

Chanyeol memang tidak pernah membuat Baekhyun menangis, sejak pertama bertemu, Chanyeol sudah mengetahui segala tentang Baekhyun dari percakapan Baekbeom dan ayahnya di ruang tamu.

Dia mulai kenal Baekbeom saat kakak Baekhyun itu mencari ayahnya karena ingin mengembalikan dokumen, saat itu ia melihat Chanyeol kecil sedang menangis di halaman dan kebetulan ayahnya sedang tidak dirumah. Jadilah Baekbeom yang mulai menjadi temannya, Baekbeom adalah tempatnya di mana ia ingin berbicara.

Baekbeom sangat baik pada Chanyeol dikala itu dia merasa kesepian karena orang tuanya yang sibuk bekerja.

Saat itu Chanyeol menguping pembicaraan Baekbeom dan ayahnya, dan ini pertama kali ia mendengar Baekbeom menangis, Baekbeom menceritakan orang tuanya yang bercerai dan dia akan membawa adiknya ke Seoul.

Baekbeom sangat baik padanya, Chanyeol pun merasa ia harus berbuat baik pada Baekbeom, maka itu ia selalu berusaha untuk tidak membuat Baekhyun menangis. Dia akan menjaga Baekhyun sebagaimana Baekbeom yang dulu selalu menemani dan menjaganya sebelum Baekbeom sesibuk sekarang.

...

...

...

To Be Continue


P.s : Maaf belum bisa banyakin wordsnya, di chapter ke depannya aku janji wordsnya gak bakal 1k lagi deh hehehe...