.

.

.

.

.

- Chapter 2 -

.

.

.

.

.


Waktu terus berjalan. Tidak peduli jika saat itu bahagia ataupun saat sedih. Waktu akan berjalan dengan cepat. Merenggut semua kebahagiaan dan kesedihan.

Sakura menatap sendu batu nisan yang ada di depannya. Sebuah foto wanita tua beruban yang tersenyum lebar pun tersender rapi di batu itu.

Perlahan air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya pun turun membasahi pipinya. Rasa sesak yang menjengkelkan pun datang. Sakura benci akan rasa sesak di dadanya ini. Rasa sesak yang sama ia rasakan beberapa tahun lalu. Dimana ia kehilangan orang yang begitu berharga dalam hidupnya.

"Obaa-san..."

Ino yang sedari tadi berdiri di belakang Sakura pun segera menghampiri gadis itu. Air mata pun juga keluar dari mata Aquamarine-nya. "Saki, ayo pulang." ujarnya seraya menyentuh bahu Sakura.

Sakura menghapus jejak air mata di pipinya. Ia tak merespon ucapan Ino dan hanya fokus menatap kosong makam itu.

"Tidak ada yang berubah, jika kau hanya berdiri seperti ini." Ino semakin mengeluarkan air matanya. "Ayo pulang, Saki." dengan sedikit paksaan Ino berhasil membawa Sakura pulang. Meski langkah kaki gadis musim semi itu terseok-seok, seolah tak memiliki tujuan.


.

.

.

.

A Second Chance

.

.

.

.


Satu...

Dua...

Tiga...

Sudah hampir tiga minggu Sakura hidup sebatang kara. Semenjak kematian Chiyo, ia menjadi banyak melamun. Terkadang tiba-tiba menangis. Tidak ada semangat hidup di kedua matanya.

Shion menatap Sakura khawatir. Sakura hanya diam melamun di bangkunya seraya menatap keluar jendela. Emerald-nya kosong tak ada sorot cahaya seperti biasanya.

Gadis berambut pirang pucat itu menatap Ino yang berdiri di sampingnya. "Bagaimana ini ? Apa dia akan terus seperti ini ?"

Ino menggeleng tidak paham. Ia tidak tahu bagaimana mengembalikan senyum milik sahabatnya. Gadis itu merasa gagal menjadi seorang sahabat. Disaat Ino terpuruk Sakura pasti datang memberinya semangat. Tapi di saat Sakura yang terpuruk. Kini Ino hanya diam tidak tahu apa yang harus di lakukan.

Sakura adalah gadis ceria. Begitu sulit untuk membuatnya seperti semula. Sakura memang sedikit pendiam saat ia kehilangan sosok kakaknya. Namun kali ini ia lebih dari pendiam. Gadis itu bagaikan mayat hidup. Dimana raganya ada namun jiwanya menghilang entah kemana.

"Sakura..." panggil Ino pelan seraya menyentuh bahu Sakura.

Gadis itu rersentak kaget. Setetes air mata pun membasahi pipinya. Buru-buru Sakura menghapus air mata itu. "A-ada apa ?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Kumohon. Jangan seperti ini Saki." ujar Ino dengan suaranya yang parau.

Sakura merunduk menatap meja di depannya. "Maaf." bisiknya pelan. Sakura mulai merasa bersalah melihat wajah Ino yang terlihat menahan sakit. "Sepertinya aku menyakitimu."

Ino menggeleng. "Kumohon, jadilah Sakura yang dulu."

"Sulit." ujarnya pelan. Perlahan emerald itu menatap iris aquamarine di depannya. "Itu sulit, Ino." ia menatap iris violet yang sedari tadi menatapnya khawatir. "Kalian tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja."

"Jika kau seperti ini terus. Bagaimana aku bisa tidak khawatir Sakura ?" ujar Shion dengan nada sedikit tinggi.

Semua murid yang ada di kelas melirik memperhatikan interaksi tiga orang yang ada di pojok kelas.

Ino menghela nafas kasar. Dada gadis itu di cengkram kemarahan besar. Satu orang terlintas di pikirannya. Orang yang menyebabkan hidup Sakura menjadi seperti ini. "Ini semua salah Sasori."

Dheg

Sakura menegang mendengar nama yang di serukan Ino. Perlahan ia merunduk ke bawah.

"Jika Sasori tidak kabur dari rumah. Jika Sasori tidak membunuh orang tuamu. Hidupmu tidak akan seperti ini !"

Brakk

"Cukup !"

Teriakan Sakura menyebabkan seisi kelas menjadi hening. Ino menatap Sakura dengan tatapan tak percaya. Sementara Shion hanya berjengit kaget.

Sakura menatap Ino tajam. Ada sorot kemarahan dan kekecewaan yang terpancar jelas di matanya. "Kau !" ia mendorong kasar bahu Ino. "Kau tidak tahu apa-apa tentang Sasori. Kau tidak tahu kehidupan Sasori. Jadi jangan menyalahkan Sasori !"

Setelah itu Sakura melangkah pergi dari sana. Sedikit menabrak bahu Ino hingga gadis itu terhunyung.

Ino menutup mulutnya. Ia tidak sadar mengatakan apa yang tadi ia ucapkan. Ino hanya terbawa amarah hingga ia menyalahkan Sasori yang notabenya adalah kakak Sakura.

.

Sakura menatap atap-atap perumahan yang dapat ia lihat dari atap sekolah miliknya. Helaan nafas panjang pun keluar dari mulutnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada besi pembatas. Angin dengan pelan memainkan rambut merah mudanya yang panjang.

Pikirannya kembali melayang dimana ia membentak Ino. Tidak seharusnya ia berkata seperti itu pada Ino. Seharusnya ia bisa mengontrol emosinya. Tapi, bagaimanapun juga Sakura tidak suka jika ada seseorang yang menyalahkan kakaknya.

Sekarang apa yang harus ia lakukan ?

Sakura tahu jika Ino hanya kelepasan berbicara. Tapi, rasa sakit di hati Sakura mendengar nama kakaknya yang disalahkan lebih sakit dari pada ia kehilangan neneknya.

Seharusnya Ino tahu jika Sasori bukanlah penyebab orang tuanya meninggal. Meski saat dimana orang tuanya terbunuh Sasori menghilang entah kemana dan pulang dalam kondisi tak bernyawa.

Tidak ada yang tahu siapa yang membunuh orang tuanya. Tidak ada yang tahu Sasori mati karena apa ?

Namun setelah itu, sebuah rumor pun beredar. Dimana di kabarkan jika Sasori lah yang membunuh kedua orang tuanya dan dia pun ikut bunuh diri.

Helaan nafas panjang pun kembali terdengar. Hilang sudah rasa untuk belajar di kelas. Ini pertama kalinya ia membolos.

"Bel sudah berbunyi. Apa kau tidak masuk ke kelas ?"

Sakura berjengit. Ia menoleh menatap pemuda berambut merah bata yang memiliki sorot mata tajam. Sabaku Gaara. Ketua komite disiplin. Berdiri tegak di depan pintu atap dengan tatapannya yang datar.

Sakura mengendus. Ia pun mengabaikan keberadaan Gaara. Sakura tidak peduli jika pemuda itu nanti akan menghukumnya. Yang Sakura butuhkan kali ini hanya menenangkan diri.

"Kau tidak mendengarkanku, Haruno ?"

"Pergilah, jangan ganggu aku." ujar Sakura pelan.

Gaara mendekat lalu berdiri di samping Sakura. Pemuda itu menatap Sakura yang kini menompang dagunya dengan tangan kirinya. Tubuh gadis itu sedikit membungkuk dengan tangannya yang di atas besi pembatas.

"Aku mendapat laporan jika kau membuat keributan di kelas."

"Bukan urusanmu."

"Aku ketua komite disiplin disini, jika kau lupa." nada bicara yang datar membuat Sakura kesal sendiri.

Sakura paham betul siapa Gaara disini. Sakura mengendus. "Pikiranku sedang kacau, aku ingin menenangkan diri. Jika kau menggangguku, aku bisa saja jatuh kebawah."

"Cobalah."

Sakura menyengit. Ia melirik Gaara yang menatap lurus ke depan. "Menantangku ?"

"Aku yakin kau tidak akan bisa menjatuhkan diri dari sini."

"Kau ingin aku mati."

"Kau yang minta."

"Menyebalkan."

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

"Aku tahu."

Rasa kesal memenuhi diri Sakura. Ia tidak pernah tahu jika Gaara bisa bersikap begitu menyebalkan. Yang ia tahu Gaara adalah orang yang dingin dan pendiam.

Ingin sekali ia memukul kepala merah bata itu dengan keras. Atau mendorong tubuh itu agar jatuh ke bawah dan hancur berkeping-keping.

Sakura menggeleng pelan. Ia merasa konyol dengan pemikirannya. Apa yang ku pikirkan ?

"Seharusnya kau tahu, Haruno." Sakura melirik Gaara. Pemuda itu meliriknya dengan tatapan datar. "Percuma jika kau menyiksa dirimu seperti ini. Itu hanya akan menjadi sia-sia. Sesuatu yang pergi tidak bisa kembali."

"Menasehatiku ?"

"Hanya mencoba."

Sakura terkekeh pelan. Ucapan Gaara ada benarnya. Ia tidak boleh seperti ini terus. Hidupnya masih panjang. Dia tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan yang sama. Ia harus merelakan apa yang pergi.

"Kau benar." senyum tipis terukir di bibirnya. Rasa kecewa dan marah kepada Ino pun menghilang di gantikan sesuatu yang ringan. Jika Gaara tidak membuatnya kesal. Mungkin ia akan seperti orang putus asa terus menerus. Sakura segera berbalik lalu berjalan pergi. "Terima kasih nasehatmu. Akan ku ingat."

Gaara diam tidak menatap Sakura. Namun senyum tipis terukir di bibir pemuda itu. "Haruno Sakura..."


.

.

.

.

-o0o-

.

.

.

.


Ino menatap gadis berambut soft-pink panjang di depannya. Gadis itu hanya diam saat berpapasan dengannya. Seharusnya Ino minta maaf, bukan bertindak seperti pengecut yang berusaha menghindarinya.

Haruno Sakura.

Ino ragu untuk menyapa gadis itu. Ia takut jika Sakura tidak mau berteman dengannya. Ia takut jika Sakura tidak mau bertatap muka. Tapi, jika seperti ini terus. Apa bedanya ?

"Kau tidak mau minta maaf ?"

Ino melirik Shion, ia mengendikan bahunya. "Aku takut, Shion."

Shion menyengit lalu menatap punggung Sakura yang tertutup helaian merah muda. "Kenapa ?"

Ino menggeleng pelan. Ia hanya diam mengikuti langkah kaki Sakura yang kini berada di stasiun. Mata aquamarine itu hanya diam mengawasi setiap gerak-gerik Sakura.

"Tidak akan pernah selesai jika kau seperti ini terus, Yamanaka-sama." Shion pun berujar. Ia sungguh kesal dengan sifat Ino yang suka menunda-nunda sesuatu.

"Ini sulit Shion." Ino berhenti mengikuti Sakura yang kini telah masuk ke dalam kereta. Ia berbalik menatap Shion. Mereka berdua bagaikan anak kembar karena rambut mereka yang berwarna sama. "Ini pertama kalinya aku dan Sakura bertengkar. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan untuk mengembalikan keadaan seperti semula."

Shion hanya diam mendengar gerutuan Ino.

"Kau mungkin berpikir itu mudah, tapi bagiku. Melakukannya jauh lebih sulit."

Shion menyentuh pundak Ino. Mencoba menenangka Ino. "Kau butuh waktu untuk menenangkan pikiranmu, Ino."

Mata Violet itu menatap yakin pada Aquamarine di depannya. "Pikirkan baik-baik apa yang kau lakukan."

.

Hari sudah mulai senja. Sakura berjalan pelan menuju ke arah pohon Oak yang sudah ribuan tahun berdiri disana. Tempat itu adalah tempat favorit Sakura. Dimana suasananya nyaman dan tenang.

Ia membutuhkannya untuk menenangkan diri sebelum berbicara dengan Ino. Ia menyandarkan tubuhnya di batang pohon itu. Semilir angin berhembus pelan membuat daun-daun pohon itu bergoyang pelan.

Ditatapnya langit yang mulai menguning. Semburat jingga terlihat jelas mewarnai gumpalan awan putih.

Terlihat jelas burung-burung gagak yang terbang bebas di langit senja dengan koakan keras yang bersahut-sahutan.

Di singkirkan poni yang menutupi matanya. Ia mulai memikirkan satu persatu perbuatan yang ia lakukan akhir-akhir ini. Mulai dari melamun hingga berakhir bertengkar dengan Ino.

Mata Sakura menyendu. Sahabat pirangnya, gadis itu sudah tidak mau bertatap muka dengan Sakura. Seolah ia menghindar untuk berbicara. Tentu saja hal itu membuat Sakura mengurungkan niatnya untuk minta maaf dengan Ino.

Di sentuhnya kalung pemberian Ino. "Ino... Gomennasai..." matanya memberat. Ingin sekali ia memejamkan mata. Sakura tahu jika sekarang ia terserang rasa kantuk yang hebat. Namun ketenangan ini membuat Sakura enggan untuk beranjak pulang.

Dan yang dirasakan Sakura hanyalah kehangatan dan tubuhnya yang terasa seringan kapas.


.

.

.

.

-o0o-

.

.

.

.


- Hari Butsumetsu - Sebelum Kaisar Jimmu naik tahta -

Hujan deras mengguyur tanah bumi yang gersang. Genangan air darah menghiasi sosok pria tak bernyawa dengan wajah seperti orang tertidur.

To Be Continuen


A/N : hari butsumetsu itu adalah hari sial untuk memulai sesuatu. Dimana tidak di perbolehkan menggelar acara pernikahan. Membuka bisnis. Ataupun melakukan kegiatan penting. Lalu tahun sebelum kaisar jimmu naik tahta itu sebelum tahun 660 SM (Sebelum Masehi bukan SM entertaiment)#cuma author yg berpikir seperti itu# Lalu Taisho ke-6 itu terjadi pada tahun 1917.

Pendek ya ? Iyaa ! FF ini sengaja author bikin pendek-pendek dan to the point (author bukan orang yang suka berbelit-belit) biar cepet selesainya. Soalnya takut entar imajinasi author keburu ilang.

Dan di chap ini si saskey belum muncul. Mungkin chap depan. Atau depannya lagi. Atau depannya depannya lagi. Atau tidak pernah muncul. #tertawanista# #plaaakkk

Pengennya di munculin belakangan. Tapi tanpa Sasuke ternyata tidaklah seru. Takut sakura di sepik sama gaara. Au ah terang !

Terima kasih untuk yang Mereview. Yg baca yg favorite yg follower. Terus review biar author semangat nulis cerita baru T.T(lagi usaha) Karena hanya itu kegiatan author biar author kagak main game terus.