You're The Only One
Karya : Nakashima Aya
Summary : Drabble singkat kisah Yukine dan belahan jiwanya. Point of View bisa berubah kapanpun sesuai dengan kisah yang tengah diceritakan.
Disclaimer : Noragami memiliki hak cipta milik seseorang yang telah menciptakan kisah tersebut dengan begitu teliti. OC milik saya.
Genre : Romace, Friendship, Humor(maybe), Angst.
Warning : OC! OOC, OOT(sometimes), Yukine X OC/Reader, Typo(s).
.
.
Please Enjoy to Read!
.
.
2nd Moment : The Bell and Her Nickname
Author's POV
Chiko hanya bisa tersenyum sendiri sambil memandang lonceng di tangannya, ia merasakan sesuatu yang hangat di dadanya hanya dengan melihat lonceng tersebut. Sesekali tersenyum nakal kala ia mengingat caranya mendapatkan lonceng tersebut.
.
.
Flashback
.
.
Yukine duduk di halaman depan rumah Kofuku yang tertutupi rumput tebal. Angin semilir sesekali membelai pipinya yang cekung dan menerbangkan surainya yang berwarna pirang. Ia tengah bermain – main dengan sebuah lonceng kecil dengan pita berwarna merah muda, ia hanya memandangnya dengan tatapan heran. Ketika ia pertama kali menjadi shinki, barang inilah yang ia pegang begitu erat. Ia jadi agak bingung apa artinya benda itu baginya, walaupun ia menyadari bahwa setiap kali ia melihat benda itu, ia merasa hatinya menjadi lebih tenang dan damai.
Saat itulah, tiba – tiba Yukine mendengar langkah – langkah kecil setengah berlari dan ia menolehkan kepalanya untuk mendapati sesosok dengan surai krim dan iris violet semakin mendekatinya. Senyuman secerah matahari masih bertengger lembut di bibirnya, seakan – akan tidak memiliki niat untuk pergi barang sedetikpun.
"Apa yang kau lakukan disini, Yuki – san?" Chiyukoku duduk di samping Yukine dan memiringkan kepalanya sedikit ke arah kanan agar ia bisa melihat ekspresi Yukine dengan jelas.
"Ah… tidak… Aku hanya." Ia sudah sering bertemu dengan gadis itu, namun Yukine tetap salah tingkah setiap kali gadis itu mengajaknya bicara.
Tatapan iris violet beralih dari wajah ikemen Yukine ke arah lonceng yang dibawanya, matanya berbinar – binar kala melihat lonceng itu. Ia selalu memimpikan lonceng yang sama dengan pita berwarna biru, dan ia juga tahu benda apa yang selalu ada di mimpinya.
"Aah~ Kawaii… Yuki – san mendapat lonceng itu darimana?"
"Etto… Bagaimana ya… Aku menggenggamnya ketika aku pertama kali berubah menjadi shinki. Jadi aku tidak tahu aku mendapatkan lonceng ini dari mana." Yukine menundukkan wajahnya dalam – dalam, masih agak malu untuk berbincang dengan Chiyukoku.
"Ah, souka! Kofuku – chan pernah mengatakan padaku bahwa seorang shinki yang membawa benda ketika ia pertama kali berubah, itu tandanya benda yang ia bawa adalah benda yang terpenting dalam hidupnya. Jadi, kurasa lonceng itu memiliki arti yang sangat penting untuk Yuki – san!" gadis itu mengembangkan senyumannya sekali lagi, namun memudar kala ia mengatakan kalimat selanjutnya.
"Demo ne, enak sekali ya, memiliki benda yang mengingatkan kita bahwa dulu kita adalah manusia. Saat aku pertama kali berubah menjadi shinki, master pertamaku membuang barang tersebut dengan mengatakan bahwa benda semacam itu hanya membuatku lemah." Helaan nafas berat keluar dari mulut Chiyukoku, Yukine menjadi agak iba karenanya. Dan tanpa Ia sadari, Yukine menyodorkan lonceng tersebut pada Chiyukoku dengan wajah memerah.
"K-kurasa kau lebih membutuhkannya, ambillah!" Chiyukoku mengedipkan matanya beberapa kali, agak bingung dengan perlakuan Yukine. Namun pada akhirnya ia tersenyum cerah dan menggumamkan kalimat 'arigatou'.
.
.
.
"...koku! Chiyukoku! Chiyukoku!" Chiyukoku tersadar dari lamunannya dan mendapati bocah bersurai pirang tengah menatapnya agak kesal.
"Ah! Gomenne, Yukine… Aku sedang tidak fokus tadi," sudah beberapa saat semenjak Chiyukoku mengenal Yukine, dan mereka sepakat untuk tidak lagi menambahkan suffix –san untuk memanggil satu sama lain, agar tidak terlalu canggung.
Yukine memicingkan irisnya mendapati Chiyukoku menggenggam erat lonceng dengan pita merah muda yang ia berikan padanya dulu.
"Eeh? Kau masih saja memainkan lonceng itu, Chiyukoku?" Yukine duduk di samping sang surai krim yang cekikikian di atas kasur.
"Tidak apa kan, lagipula aku menyukainya."
"Itu hanya sebuah kane[1] biasa, Chiyukoku. Kenapa kau begitu menyukainya?"
"Kenapa yaa? Mungkin karena Yukine yang memberikannya padaku!"
BLUSHH…
"A-a-ap-apa-apaan itu? Jika kau sebegitu senangnya dengan lonceng aku tidak akan memanggilmu Chiyukoku mulai hari ini. Kau lebih cocok dipanggil Kaneko[2]." Yukine mengalihkan pandangannya, hanya untuk menyembunyikan semburat merah yang menjalar di pipinya.
"Eeeh? Bagaimana bisa seperti itu? Aku bukan lagi terdengar seperti anjing saja, Yukine membuatnya terdengar seperti kucing." Chiyukoku berceloteh dengan bibir yang dimanyunkan.
"Hahahahahaha… Lagipula kucing suka bermain – main dengan lonceng 'kan? Hahaha… Aku akan memberitahukan semua orang tentang nama barumu." Dan Yukine pun berjalan keluar dari kamar sang pemilik nama baru dengan bangganya.
"T-tunggu dulu, Yukine!"
.
.
Kaneko yaa…
Aku menyukainya, Yukine!
.
.
[1] Kane dalam bahasa jepang berarti lonceng / bel.
[2] Kaneko memiliki arti lonceng kucing. Yukine menjuluki Chiyukoku dengan julukan Kaneko karena menurutnya Chiyukoku terlihat sangat imut ketika ia bermain – main dengan lonceng itu, seperti seekor kucing yang diberi lonceng, sang kucing akan memainkannya dengan sangat riang.
.
.
.
Chapter 2 finished!
Aya gak akan banyak bicara, langsung aja, terima kasih atas waktunya dan please review! Thank you for all your huge attention!
Salam Hangat,
Nakashima Aya
