Terima kasih atas review-nya.


Chapter 2: A Vampire

Manik biru itu memandang ke segala arah dengan sedikit bergetar ditambah napas yang mulai tak teratur. Naruto, pemuda yang baru saja menyerahkan dirinya untuk seorang wanita vampire terlihat kebingungan.

Ia seharusnya sudah mati. Begitulah pikiran Naruto. Namun, apa yang sekarang terjadi berbeda dengan hasil pemikiran sebelumnya. Ia masih hidup. Ia masih bernapas. Saat otaknya sudah berjalan sepenuhnya, ia menyadari ada hal yang berbeda dengan pandangannya–atau lebih tepat matanya.

Ia bisa melihat dengan jelas sudut ruangan yang minim cahaya dan itu tidak bisa dilakukan mata normal.

Mata yang seharusnya tak dapat menangkap cahaya di sudut yang gelap kini dapat melihat dalam kegelapan seperti siang hari. Tangan Naruto meraba daerah sekitar matanya sebagai bentuk ketidakpercayaannya.

"Ada apa denganku?" tanya Naruto pada dirinya sendiri.

"Kau sudah bangun rupanya."

Sebuah suara yang ia hapal betul siapa yang pemiliknya. Ia tersentak sesaat sebelum kepalanya bergerak menuju sumber suara. Di sana–di muka pintu–berdiri seorang gadis vampire berambut blonde dengan tangan menggenggam katana yang bilahnya agak panjang dari biasanya.

Kiss-shot. Nama singkat yang Naruto pakai untuk memanggil gadis itu.

"Kenapa aku masih hidup?" tanya Naruto sambil berdiri dan menegakkan badannya. Tidak ada yang aneh selain tubuhnya bertambah ringan dan entah kenapa sesuatu mengalir dalam tubuhnya.

Sesuatu yang mirip dengan apa yang ia rasakan ketika kekuatan Sacred Gear dalam dirinya terbangun.

Pertanyaan yang dapat ditebak oleh Kiss-shot. Bibir merah muda itu tersenyum singkat, lalu menyimpan katana di dalam tubuhnya sebelum menjawab pertanyaan bocah pirang di sana. Ada sedikit noda darah di pergelangan tangannya.

"Itu tentu saja, mulai sekarang kau adalah vampire."

Deg!

Satu buah kalimat yang berdampak sangat luar biasa pada psikologi Naruto. Matanya membulat sempurna bahkan ia tidak berkedip selama hampir 10 detik akibat rasa kejut yang menjalar dalam tubuh. Detak jantungnya kian meningkat bersama pikirannya yang terus menekankan bahwa ia adalah vampire.

Setelah beberapa saat ia bisa mengontrol diri. Kiss-shot bersabar menunggu reaksi Naruto dengan duduk di kursi setelah mendapatkannya dari tumpukkan di samping.

Naruto menatap kedua telapak tangannya, "Apakah aku benar-benar menjadi vampire?"

Kiss-shot terkekeh pelan. Lagi-lagi reaksi yang sudah ia tebak, "Mau mencobanya?"

"Mencoba ap–"

Perkataan itu terputus saat Kiss-shot mencengkram tubuh Naruto dengan kuat lalu dilempar menuju luar jendela. Pecahan kaca tak terhindarkan ketika punggung Naruto bersentuhan dengan kaca tua itu. Ia terlempar keluar. Ia … berinteraksi langsung dengan sinar matahari.

Layaknya hukum alam yang sudah ditetapkan ribuan tahun lalu–mungkin sejak dunia ini tercipta–kulit tan itu memanas. Melepuh. Memerah. Lalu memunculkan kobaran api yang membuat sang empunya berteriak kesakitan.

"ARRRRGHHHH!"

Ia tak memedulikan tubuh yang jatuh dari lantai 3. Rasa sakit akibat sinar matahari lebih memeras otaknya untuk hanya memikirkan rasa sakit itu. Sampai punggungnya mencium tanah. Meronta-ronta kesakitan. Tak ada yang dapat Naruto lakukan selain berteriak dan berteriak.

Kiss-shot melihat itu dengan senyum misterius lalu meluncur menuju tempat Naruto. Sama seperti yang dialami remaja pirang itu, tubuh ramping Kiss-shot terbakar. Memerah. Namun, ia nampak tak masalah dengan hal tersebut–ia tak merasa kesakitan.

Kiss-shot dengan gerakan lincah segera melempar tubuh Naruto ke tempat yang tak terkena sinar matahari. Sesaat setelahnya tubuh Naruto kembali normal tanpa cacat. Seperti tak terjadi apa pun. Bagaikan kejadian beberapa menit lalu hanyalah ilusi. Namun, itu nyata.

Kiss-shot berjalan santai menuju tempat Naruto, sesaat setelah tak kerkena sinar mentari tubuhnya kembali normal. Ia memandang remaja yang masih terbatuk itu, "Bagaimana, apa kau sudah percaya?"

Naruto melirik Kiss-shot dari ekor matanya. Perlahan rasa sakit yang sempat hinggap di tubuhnya hilang. Ia menegakkan tubuh kembali. Kali ini otaknya berusaha untuk menerima bahwa sekarang ia adalah vampire.

Makhluk malam.

Makhluk penghisap darah.

"Dengan kemampuan yang hanya dimiliki vampire kelas atas, pemulihan abadi, tubuhmu akan terbakar, lalu beregenerasi, lalu terbakar, beregenerasi lagi tanpa akhir. Tidak seperti vampire biasa yang dapat mati jika terkena sinar matahari."

Kiss-shot menyentuh pucuk rambut Naruto lalu mengelusnya dengan lembut layaknya anak sendiri. Ia berkata, "Maa, itulah kehidupan vampire abadi."

Naruto menghela napas–ini sudah yang kesekian kalinya–lalu memandang manik kuning itu, "Aku masih memiliki tanggung jawab sebagai manusia, khususnya pelajar. Namun, jika aku sudah menjadi vampire bagaimana caranya aku dapat bersekolah?"

Pertanyaan yang lagi-lagi sudah ditebak. Ia terkekeh pelan. Remaja di depannya sangat bisa ia tebak jalan pikirannya. Kiss-shot berhenti mengelus pucuk rambut Naruto, "Kalau masalah itu, aku punya jalan keluarnya."

"Apa itu?"

"Menjadi vampire bersamaan dengan menjadi manusia. Menjadi manusia disaat kau menjadi vampire. Singkatnya, manusia setengah vampire. Namun, sebutan itu kurang tepat karena kau sepenuhnya adalah vampire, dan vampire yang bisa berjalan di bawah sinar matahari."

Vampire yang menyerupai manusia, atau manusia yang menyerupai vampire. Pilihlah sesuai pilihanmu.

"Bagaimana caranya?" tanya Naruto antusias.

Kiss-shot membuat senyum yang sulit diartikan, "Sebelum itu aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."


Naruto tak pernah membayangkan jika masa remajanya sebagai manusia kandas di usia 16 tahun. Kini ia harus menerima jadi diri yang baru sebagai makhluk malam, vampire. Makhluk yang hanya dianggap legenda oleh manusia awam di luar sana.

Untungnya kejadian yang menimpa Naruto saat ini bertepatan dengan libur musim semi. Untuk beberapa alasan ia merasa lega. Liburan masih lama dan ia punya banyak waktu untuk membuatnya bisa bertahan di bawah terik matahari.

Meski begitu, Kiss-shot belum memberitahukan caranya dan menyuruhnya untuk menunggu sampai malam tiba. Setelah bulan menduduki singgasananya Kiss-shot malah mengajak Naruto menuju gudang terbengkalai di pinggir kota.

Suasana ini mengingatkan Naruto akan pertemuan pertamanya dengan makhluk supernatural.

"Kiss-shot, kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Naruto. Mereka berdua sedang berjalan menuju dalam gedung.

"Apa kau merasakan ada sesuatu di sekitar sini?" bukannya menjawab, wanita vampire itu malah balik tanya.

Naruto mengangguk singkat. Sejak langkah pertama ia memasuki gedung ini, perasaannya selalu memberi tahu bahwa ada sesuatu di sini dan setelah berjalan semakin dalam perasaan itu kian menguat.

"Itu adalah instingmu sebagai vampire. Kau bisa merasakan kehadiran seseorang. Contohnya sesuatu yang ada di depan sana," Kiss-shot menunjuk ke depan. Ke dinding rapuh yang tak menampilkan apa pun selain dua buah pillar di samping. Namun, mereka berdua memiliki pikiran yang sama.

Kiss-shot bukan menunjuk dinding, melainkan sesuatu di baliknya.

"Apa yang kau rasakan di balik dinding itu?" tanya wanita vampire itu lagi.

"Sesuatu yang jahat dan gelap," jawab Naruto.

"Jahat?"

"Ya, aku merasakan sesuatu yang gelap. Di samping itu aku juga merasakan niatan buruk."

Kiss-shot terdiam. Naruto dapat mendeteksi niatan seseorang yang bahkan dirinya juga tak bisa melakukan hal itu. Ia lalu menyeringai membuat Naruto menatap bingung dirinya.

Manusia yang menarik.

Tidak, vampire yang menarik!

"Kalau begitu, ayo kita lihat apa yang ada di balik–"

BLARR!

Perkataan itu terhenti saat dinding di hadapan mereka hancur. Kepulan debu tercipta dan menampilkan siluet makhluk raksasa.

Dua vampire itu melihatnya dengan jelas meski sekarang tak ada sumber penerangan selain cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela. Beberapa saat berlalu. Keadaan mulai tenang. Siluet itu kini menampakkan wujud aslinya.

Iblis liar berbentuk monster yang di tengahnya terdapat mata besar. Tubuh aslinya adalah sesosok wanita berambut panjang yang berdiri kaku di atas tubuh monsternya.

Naruto mendecih. Makhluk yang sama seperti monster yang hampir membunuhnya dan dengan tak langsung menyeretnya menuju sisi lain dari dunia.

Dunia supernatural.

"Cobalah kalahkan dia!" perintah Kiss-shot.

"Baiklah aku –tunggu, apa?"

"Kalahkan dia!"

"Bagaimana mungkin aku bisa mengalahkan monster itu?" tanya Naruto sedikit berteriak.

Wanita vampire itu menghela napas pelan, "Bocah, konsentrasi dan rasakanlah apa yang ada dalam dirimu. Itu adalah kekuatanmu. Cobalah kau pukul tubuh asli iblis liar itu sekuat tenaga!"

Naruto menahan napas. Bagaimana mungkin ia melayangkan pukulan ke tubuh aslinya jika ia sendiri tak optimis bisa mendekati iblis liar itu?

"Nampaknya aku memiliki dua makanan di sini. Oh liat, daging dingin rupanya. Apa nikmat meminum darah dingin kalian sebagai penutup?" Iblis liar itu bermonolog dengan seringai terpatri di wajah.

"Lakukan apa yang aku perintah, Bocah!" Kiss-shot menendang punggung Naruto sampai ia tersungkur di depan iblis liar itu.

Bagaikan disuguhi makanan dengan cuma-cuma, iblis liar itu memperlebar seringainya dan melayangkan tangan monster. Siap membuat tubuh Naruto menjadi gepeng.

Brak!

Kepulan debu hasil dari pukulan itu menyebar ke mana-mana. Secara kasat mata terlihat siluet yang melesat cepat menjauhi tempat iblis liar. Itu Naruto yang bermanuver menghindari serangan musuh dengan kecepatan di luar nalar. Bahkan saking cepatnya membuat Naruto terheran-heran tak terkecuali Kiss-shot yang diam menonton.

Darah vampire di dalam tubuh Naruto adalah superior. Menjadikannya memiliki kekuatan yang lebih kuat dari pada vampire berdarah murni.

'Aku hanya bergerak secepat yang aku bisa tapi tak kusangka akan secepat ini. Apakah ini akibat karena aku telah menjadi vampire?' pikir Naruto dalam hati.

Jika seperti ini ia merasa optimis dapat mengalahkan iblis liar itu. Ia tersenyum sebagai bentuk keoptimisannya. Ia mengepalkan kedua tangannya dan sekali lagi berlari secepat yang ia bisa dan itu adalah kecepatan di luar nalar jika dilihat oleh sang lawan

Tap!

Naruto muncul tiba-tiba di depan mata raksasa itu dengan posisi tinju yang siap dilayangkan kapan pun. Dengan sekali hentakan–juga dibarengi oleh teriakan–ia melesatkan pukulan tunggual yang tepat mengenai pupil.

Dentuman hebat membuat tinju Naruto sanggup menghancurkan mata raksasa itu hingga mencipatkan lubang besar di sana.

"ARGHHH!"

Seakan tak mempedulikan teriakan pilu. Naruto tak berhenti. Ia melompat. Mensejajarkan diri dengan tubuh asli iblis liar itu. Sesuai perintah Kiss-shot ia harus membunuh tubuh asli. Maka dari itu ia kembali melayangkan tinju.

Pada momen di mana tinju Naruto menghantam wajah iblis liar tersebut, kepala itu putus dan menghantam tembok di belakangnya–tembok di belakang tembok yang bolong–sebagai dampak dari bagaimana kuatnya pukulan Naruto.

Detik berikutnya segala hal yang berkaitan dengan iblis liar lenyap menjadi abu hitam. Terbang ke atas entah ke mana.

Sebuah tepuk tangan Naruto dapatkan dari sang vampire wanita. Dengan perasaan puas ia mendekati Naruto. kembali mengelus pucuk rambut pirang itu.

"Sekarang kau sudah tahu seberapa kuat seorang vampire?" tanya Kiss-shot.

Naruto mengangguk singkat, "Ya. Tak kusangka kekuatannya melebihi yang aku lihat di film atau game. Namun, yang lebih penting bagaimana caranya agar aku bisa berjalan di bawah sinar matahari?"

Kiss-shot tersenyum misterius, "Kau sungguh mau mengetahuinya?"

Naruto mengangguk antusias.

"Baiklah, yang harus kau lakukan adalah–"

Naruto diam dalam penasaran.

.

.

.

.

.

.

"–bersetubuh denganku."

"Hah!"

Bersambung


Halo hola halo Eins kembali dengan mengapdet fic Count. Tak banyak kata yang akan saya sampaikan. Yang jelas words akan semakin bertambah tiap chapter.

Eins cukup prihatin dengan dunia ffn sekarang. Sepi. Baik author senior maupun yang legend sudah tak muncul lagi. Parahnya tak ada author baru yang konsisten sebagai pengganti mereka.

Semoga kehadiran Eins si author newbie ini dapat menghibur kalian, dan kalian juga jangan patah semangat untuk mendukung author yang masih tersisa.

Jangan lupa reviews.

15/02/2019