too bad, but it's too sweet ― 2/3
warning: attempt in crack but failed anyway. chimtozzi's dirty jokes™. tolong jangan dipikir serius-serius.
disclaimer: i own nothing but plot. apa yang ada dalam fanfiksi biarlah tetap menjadi fiksi.
"K-kim Taehyung."
"Min Yoongi."
Keringat Taehyung mengucur deras, waduh, kalau begini terus ia bisa bau, apalagi bajunya sudah berlapis-lapis gini. Taehyung menenguk ludah dan mejulurkan tangan dengan sedikit bergetar. Sumpah, ia grogi tidak karuan, padahal ini nggak ada apa-apanya dibanding tampil di depan orang banyak. Sejak masuk ke area kafe, Taehyung sudah seperti anak hilang; duduk di meja yang sudah dipesan dengan muka bingung, menoleh ke kanan dan ke kiri, menantikan sesuatu yang tidak pasti. Padahal ia tahu betul maksud kedatangannya hari ini beserta target yang akan diraih.
: merebut hati lelaki lucu bernama Min Yoongi.
Haha, ia kira yang bersangkutan bakal ogah-ogahan hanya untuk menyambut salam. Sudut hatinya yang terdalam berbisik bahwa pertemuan mereka tidak memiliki prospek bagus. Meskipun kawan mainnya bilang kalau Yoongi adalah sosok yang dewasa dan bisa dipercaya (dibalik penampilannya yang ugh, semanis gulali siap jilat ― tolong tampar Taehyung), tetap saja gelagatnya bikin sangsi. Ada kekhawatiran dan rasa takut yang terpampang nyata di bola mata. Dikiranya Taehyung polos mudah dibohongi? Maaf saja Jeon, kalian sudah berteman lima tahun, tentu Taehyung tahu mana bedanya fakta yang diungkap sepenuh hati dan ditutup-tutupi. Jangan lupa kalau Taehyung adalah orang yang pertama kali sadar, pandangan Jungkook pada Jimin di layar hape sudah sedikit tidak wajar, ia lah yang nyemprot Jungkook dengan sederet pertanyaan, "Kamu ngefans sama dia?" "Ngefans dan naksir jaraknya tipis lho." "Kalau ngefans kamu ga bakal neriakin namanya dalam mimpimu!"
"Jadi, Kim Taehyung-sshi. Apa yang kau lakukan sehari-hari?"
Pertanyaan Yoongi langsung membuyarkan lamunan. Taehyung berusaha menutupi malu dengan usap-usap hidung dan tersenyum lebar. Kata Jimin, senyumnya ampuh untuk membuat siapapun gagal fokus, tapi Taehyung masih bingung itu sebuah kelebihan atau pembawa sial. Terakhir ia senyum lebar di hadapan geng motor, ada salah satu anggota yang mengejar-ngejarnya sambil memonyongkan bibir. Taehyung ingin dicintai, tapi ya nggak gitu-gitu amat (Jangan bilang pada Jungkook kalau ia masih suka gangguin geng motor dan preman jalanan. Rasa penasarannya masih berkobar; selalu ada keinginan abstrak untuk berteman dengan tipe yang ditakuti banyak orang. Meski ia babak belur kemarin beneran karena nabrak tiang dan jatuh ke selokan. Maklumi Taehyung yang tidak bisa menahan diri, padahal cuman minum-minum dikit).
"Aku ― aku biasa jadi model. Masih jauh dari status profesional, karena itu … aku sedang coba cari pekerjaan sampingan." Taehyung menjawab dengan jujur, ia tidak berbakat dalam berpura-pura. Pekerjaannya sesudah lulus SMA tidak pernah stabil, ia harus keliling demi meretas dompet kering.
"Hmm. Kupikir kamu pengangguran, atau setidaknya terlibat pasar gelap."
Hah.
Ekspresi cerah Taehyung langsung memudar. Apa Yoongi menganggap ia tipe pemalas yang cocok menjadi bandar? Really? Di pertemuan pertama mereka? Sebelum ia mengerucutkan bibir tanda terluka (sayang sekali, ternyata kamu sama saja dengan mereka), Yoongi mengetuk-ngetuk meja dan menarik senyum kecil, "Aku bercanda."
"Tapi aku jamin, benak orang-orang bodoh mengatakan demikian."
"Orang-orang bodoh?" Taehyung menautkan alis. Sedikit terperanjat dengan reaksi dan pilihan kata Yoongi yang tak terduga.
"Orang-orang yang menghakimi kita lewat penampilan. Hanya untuk membuat posisinya tampak lebih tinggi dan terhormat."
Butuh waktu baginya untuk memahami apa yang Yoongi sampaikan. Taehyung tidak mengira Yoongi sedang merujuk pada mereka; ya, ia dan dirinya sendiri. Tentang penampilan mereka yang unik dan berbeda dari orang-orang pada umumnya. Ada kehangatan yang tiba-tiba menyelimuti dada, sebab ia belum pernah mendapat 'pembelaan' soal ini. Dari Jungkook, Jimin, keluarga, bahkan si mantan terkutuk. Karena mereka selalu protes, menginginkannya tampil sebagai orang lokal yang bersahaja, padahal hatinya selalu berteriak: ini adalah kebebasanku dalam berekspresi, ini sesuatu yang aku pilih dengan … uhuk, penuh tanggungjawab! Pada akhirnya mereka memang membiarkan dan melihat Taehyung apa adanya, tapi belum pernah sampai pada taraf mendukung sepenuh jiwa.
"Anyway, aku suka penampilanmu hari ini. Anak nakal, huh?"
Hati Taehyung serasa ditembus panah saat Yoongi menatapnya dalam-dalam. Sambil menggenggamkan tangan, Taehyung bersiap mengomentari style Yoongi hari ini. Ia juga harus membuka sesi percakapan yang impresif dong. Begitu mengecek kembali kemeja krem berlengan panjang dengan floral pattern, kacamata bundar dengan diameter cukup lebar, dan rambut pink berponi di hadapan, Taehyung serasa ingin terbang ke pelangi, menghujani Yoongi dengan semua kosakata indah yang ia ingat. Tapi sayang, hanya ada kata-kata standar yang keluar dari bibirnya, seperti 'Penampilan Yoongi-sshi hari ini oke.' Oke gimana? Lowkey B aja? Memalukan sekali. Saat Yoongi tertawa mendengar komentarnya, ia pun cuma bisa meringis dan menutupi setengah muka.
"Kamu lucu sekali, Taehyung-sshi."
"Yo-Yoongi-sshi juga lucu."
"Tidak. Aku tidak lucu. Katakan itu pada Seoltangie."
Pandangan keduanya terarah pada boneka Barbie yang duduk cantik di dekat nomer meja. Sebenarnya Taehyung sudah menyadari kehadirannya dari awal, tapi terlalu takut untuk bertanya. Apalagi setelah mendengar pendapat Yoongi soal 'orang-orang bodoh' yang mudah sekali menghakimi lewat penampilan, ia jadi makin ragu-ragu dalam menyuarakan pikiran. Bila di hadapannya adalah Jungkook, ia bakal menonjok pelan, bertanya "Sejak kapan kamu hobi main boneka?" diiringi tawa kencang, seperti yang biasa ia lakukan sehari-hari. Masalahnya, ini tuh Min Yoongi; lelaki yang belum ia pahami luar dalam. Jungkook yang sudah mengenalnya setahunan saja mengaku tidak dekat, apalagi ia yang baru bertemu dengan modal nekat. Mana berani ia nyodorin cemoohan dan ceramah "Main boneka sungguh tidak manly!" dengan suara berat yang membakar? ― Gila aja. Taehyung tidak mau dianggap sebagai 'orang-orang bodoh' ala Yoongi (dan dirinya sendiri). Jika Taehyung saja tidak suka dianggap sebagai korban pergaulan bebas dan kriminal hanya karena dandanan dan pilihan pakaiannya, kenapa ia harus memberikan label seenak udel?
"Apa Jungkook tidak bilang apa-apa soal Seoltangie?"
Yoongi memecah keheningan, menyadari kalau Taehyung sedikit-sedikit hilang fokus (baca: melamum berkepanjangan), meski tidak mau menunjukkannya secara frontal. Lihat saja cara Taehyung menggeleng pelan, tersenyum lebar, kemudian diam seribu bahasa. Kemana spirit ingin memberi kesan terbaik tadi? Hilang di tengah jalan padahal belum mulai sama sekali? Ha ha. Untung Jungkook sedang menangani pemotretan tertentu, tidak mungkin ia menguntit Taehyung dan menertawakan kecanggungannya sepanjang kencan perdana. Taehyung tahu betul anak itu sedang gelagapan begitu dapat tugas mendadak kapan hari. Ia hanya berharap tidak ada mata-mata kiriman yang mencatat gerak-geriknya dari A sampai Z.
"Kenapa tidak kenalan saja? Hai Taehyung-oppa! Kenalkan, Seoltangie di sini. Aku sudah bertahun-tahun diasuh oleh Daddy. Bagaimana pendapat Oppa tentang OOTD-ku hari ini? Daddy selalu memberikanku setelan dan styling terbaik lho, tiap jalan yang kulewati sudah seperti runway."
"…."
Cara Yoongi menggerakkan tubuh dan lengan 'Seoltangie' dengan jemarinya yang halus, merubah nada suaranya menjadi lebih centil untuk menghayati peran, lalu memanggilnya 'Oppa' ― Oh Tidak.
Tidak, Kim Taehyung. Tolong sadar diri. Belum genap satu jam kalian bertatap muka, kamu pikir ini saat yang tepat untuk berimajinasi? Harusnya kamu bisa mengerahkan kemampuan agar Min Yoongi tertarik dengan apa yang kamu punya. Agar kencan hari ini tidak berakhir garing dan selesai begitu saja (tanpa ada sugesti jadwal kencan berikutnya). Situ sudah minta dicarikan calon sampai nangis buaya, ujungnya mati kutu dengan muka memerah kan jadi gak guna.
"Tapi sejujurnya," Yoongi mendudukkan Seoltangie ke tempat asal dan kembali memandang Taehyung dalam-dalam, "aku tidak mengira kau punya pengalaman sebagai model. Mungkin ini semacam konspirasi semesta. Jungkook tidak banyak cerita tentangmu, ia hanya bilang kalau penampilanmu sering membuat orang lain takut. Padahal dari segi manapun, kau tidak terlihat berbahaya."
Jungkook juga tidak banyak cerita tentangmu, Yoongi-sshi. Ingin Taehyung menimpali, sambil mengingat-ingat apa saja yang sudah Jungkook ceritakan setelah ia memilih Yoongi sebagai kandidat uhuk, calon pacar. Ia tahu Yoongi adalah supervisor divisi fotografi di sebuah agensi periklanan. Ia juga tahu Yoongi memiliki ketertarikan besar pada fashion dan musik. Jungkook sempat memberinya akun SNS milik Yoongi, tapi ia tidak menemukan informasi penting, trivia, atau fragmen hidupnya lewat jajaran foto (berbeda sekali dengan Jimin yang jelas-jelas mengekspos aktivitas dan tempat-tempat tongkrongannya secara terbuka). Unggahan terakhir Yoongi di instagram adalah foto anjing kecil dengan pita berwarna peach di kepala, diambil Maret, dua tahun yang lalu. Mungkin Yoongi tipikal yang berseluncur di dunia maya menggunakan pseudonim ― identitas yang tidak diketahui kolega-koleganya demi menjaga nama dan profesionalitas. Taehyung banyak dengar soal personal branding dari kawan-kawan modelnya, ia rasa orang seperti Yoongi sedang dan akan terus mengembangkannya di lingkup kerja.
"Mungkin Jungkook melompati cerita soal boneka Yoongi-sshi dan latar belakang pekerjaanku karena khawatir bakal mengundang ilfil. Padahal sih kita santai-santai aja. Ck ck, ia keseringan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu."
"Hah, kenapa?"
"O-oh, apa aku mengatakan pikiranku keras-keras? M-maaf." Taehyung kelabakan dan buru-buru menutup mulut dengan kedua tangan, tapi Yoongi mencengkeram pergelangannya kuat-kuat, menariknya hingga kembali bersinggungan dengan serat halus meja. Duh, tidak perlu bawa-bawa kaca, Taehyung bisa merasakan pipinya memanas, lama-lama bisa gosong semakin banyaknya frekuensi bersentuhan dengan Yoongi ― secara tiba-tiba. Hei! Harusnya di sini Taehyung yang ahli soal pegang-memegang, kenapa mendadak kemampuannya terpatahkan?
"Tidak, tidak. Taehyung-sshi, lanjutkan saja, aku ingin mendengar ceritamu, pendapatmu tentang sesuatu, suaramu yang … semanis madu."
Apa-apaan ini! Taehyung tidak ingin diserang secara bertubi-tubi! Kenapa Yoongi memuji sesuatu yang sering membuatnya tidak percaya diri! Dengar, ada saat di mana Taehyung merasa suaranya terlalu berat, kulitnya terlalu gelap, tubuhnya terlalu besar untuk ukuran seorang model. Ia masih jauh dari kata ideal dan berkarir di ranah yang lebih luas. Yang harusnya dapat apresiasi itu dirinya sendiri! Lihat kulitnya yang putih, halus, tanpa noda. Tubuhnya yang ramping. Bibirnya yang mungil dan indah. Tidak lupa, sudut mata yang tajam sekaligus elegan. Taehyung mengurutkan alasan mengapa min Yoongi lebih pantas menjadi model dalam hati ― jelas itu tidak membantu, karena yang bersangkutan tetap menatapnya seolah tidak ada esok hari, membungkamnya dengan sekumpulan bujuk rayu (bagi Taehyung pribadi, uh, atau mungkin ia terlalu geer). "Kim Taehyung, aku tidak mau senyummu lepas sampai kencan kita usai. Jangan batasi dirimu hanya karena takut membuatku tersinggung."
Siapapun tolong tahan Yoongi! Taehyung tidak terbiasa dengan perhatian yang seperti ini dalam sesi kencan. Mantannya saja sering melanggar etika 'pandang mata saat seseorang mengajakmu berbicara' dan jarang memberinya waktu untuk berpendapat tentang berbagai macam topik. Ia sudah terbiasa menjadi pendengar setia dan komentator singkat selama periode mereka bersama, padahal kalau sudah bertemu Jungkook atau Jimin, ia bawelnya minta ampun. Sekarang orang di hadapannya ini malah memaksanya membuka mulut. Taehyung sendiri juga maunya begitu, tapi situ membuat proses dalam sirkuit otaknya tidak teratur.
"Kenapa Yoongi-sshi tahu aku sedang membatasi diri?"
(Bahkan apa yang keluar dari mulutnya selalu melenceng dari rencana awal.)
"Ayolah, haha, aku tahu orang selalu jaim di hari pertama. Atau kau ingin mendengar tentangku dulu sebelum menceritakan tentang dirimu sendiri?"
Yoongi memainkan jemarinya dan Taehyung bersumpah, pikirannya soal kencan yang tidak memiliki prospek bagus dan pribadi Yoongi yang misterius lengser perlahan. Ia tidak mau berharap terlalu tinggi, tapi apakah ini artinya ia boleh memasuki kehidupan personal Yoongi; berbagi pengalaman sebagai sesama penganut paham 'lihat aku lebih dari sekedar penampilan'? Mungkin ia tidak akan langsung bertanya alasan di balik pilihan style dan hobinya membawa boneka ― Yoongi pun begitu, tidak akan menanyai kenapa ia terlalu baik untuk seorang preman, wait, Taehyung memang bukan preman! Menghela napas dalam-dalam, Taehyung akhirnya menatap balik Yoongi dengan berani, memasang kuda-kuda untuk mewujudkan keinginan-keinginan yang ia kumpulkan, perlahan-lahan.
.
.
"Lalu gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana, mereka akhirnya bisa ngobrol dengan luwes. Mungkin karena topik mereka nyambung. Satu model, satu fotografer, kombinasi yang bagus."
"Obrolannya tentang apa aja? Jangan-jangan Taehyung langsung curhat soal mantan!"
"Ya mana aku tau. Kamu kira aku bakal duduk di samping meja mereka dan dengerin sampai mereka pulang?" seloroh Seokjin dengan nada tinggi, menjitak Jungkook sebelum si anak tengil bertanya yang aneh-aneh.
Dua orang yang menangani balik layar sekarang sedang mengadakan rapat khusus, menghitung presentase keberhasilan rancangan yang sudah dibuat. Jungkook sebagai ketua pelaksana memang tidak bisa hadir saat Hari-H karena Yang Mulia Ah Young mendadak memberikannya beban pemotretan di luar kota. Perintah wanita itu adalah mutlak, meski semua tahu ia bukan 'bos besar' ― hanya orang yang dipercaya untuk memimpin setiap rapat dan diksusi art concept. Ya sudahlah, yang jelas ia sudah mengutus partner in crime untuk mengawasi jalannya kencan. Sayangnya, Seokjin sendiri tidak tega menguping. Ia tipe penguntit yang bersahaja, duduk di pojok sambil memainkan laptop seperti pria kantoran, melirik calon sejoli sesekali sambil menyeruput minuman hangat kesayangan. Ia cuma bisa melaporkan proses mereka menghilangkan kecanggungan dan reaksi-reaksi lucu yang kebetulan ia tangkap.
"Lah tapi serius, Hyung? Yoongi-sunbae yang mendominasi percakapan?" Jungkook tidak bertanya, hanya memastikan apa ia salah dengar waktu Seokjin mengatakan kalau sahabatnya terlihat grogi setengah mati, susah menimpali lawan bicaranya yang sudah berlagak seperti pemandu seminar. Yoongi sih sudah terkenal sebagai tipe yang anti menahan pikiran, jiwa kepemimpinan dan keluwesannya dalam berbicara lah yang mengantarkan doi menjadi supervisor, after all (bahkan suatu hari nanti, ia yakin Yoongi bisa naik pangkat sampai ke jajaran direksi). Tapi Taehyung? Kim Taehyung yang terbawel sejagad? Yang merajuk dan ngasih ceramah hidup sekali tidak diajakin main bareng? Yang cara pdkt-in gebetannya sering bikin malu? Serius, Jungkook tuh sudah membayangkan kawannya itu membawa sebuket bunga dan boneka beruang sebagai cinderamata kencan. Kemudian menimpali cerita Yoongi dengan suit-suit menggoda. Jangan lupa senyum lebar dan kedip-kedip manja yang terus ia banggakan sebagai charming point.
"Iya. Mereka bertukar cerita selama kurang lebih dua jam. Tapi aku berani bertaruh, 90% topik yang mereka bahas dibuka oleh Min Yoongi. Sampai akhir kawanmu tuh terlihat hopeless," jelas Seokjin sambil nyengir nakal, "mungkin kali ini ia benar-benar bertemu orang yang memenuhi kriteria pacar idaman."
Hmm. Kriteria pacar idaman, ya. Jungkook mangut-mangut. Ia sudah lama paham kalau Taehyung suka mencari pria yang lebih pendek dan menggemaskan. Kadang ada yang tinggi, tapi tetap punya sisi yang membuatnya terlihat 'lembut' dan 'menyenangkan' (kata Taehyung sih. Kadang delusinya terhadap gebetan terlalu berlebihan sampai bikin Jungkook bingung mana fiksi mana kenyataan). Dari segi fisik, ia bisa mencari calon yang cocok untuk Taehyung secepat kilat, tapi urusan batin, Jungkook tidak bisa banyak berkomentar. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa jatuh cinta pada seseorang, padahal tidak tahu apa-apa soal kepribadian ― hanya dengar dari ini itu, tidak bisa membuktikannya secara langsung. Jadi kalau ditanya, apa Yoongi kriteria idaman Taehyung? Ya mana saya tahu. Fisiknya sih iya. Penting si doi berpotensi tidak melukai Taehyung di pertemuan pertama saja.
Kalau Yoongi beda lagi. Dulu sekali ia sempat tanya pada orang-orang kantor apa supervisor-nya itu pernah punya pacar. Semua mengaku tidak tahu, sepanjang Yoongi berkarir di agensi, sosok yang paling dekat dengannya hanyalah Seoltangie (Jungkook ingin tertawa tapi tidak tega). Hoseok mungkin satu-satunya orang yang bisa menembus area privasi Mas Pengawas, dan dari Hoseok ia tahu kalau Yoongi punya pemikiran yang terbuka. Si Mas tidak peduli mau mengencani siapa, yang penting bisa sabar menghadapi cobaan. Cobaan macam apa Jungkook juga tidak paham. Yang jelas ia sudah bersyukur nggak kena semprot sewaktu nawarin, "Sunbae tertarik nggak buat kencan sama teman dekat saya? Dia sedang butuh obat buat hatinya yang sakit." Padahal saat itu mereka lagi bahas feedback klien. Sungguh beruntung, atau memang ini sudah diatur oleh takdir.
"Kuharap begitu, Hyung. Kebahagiaan Taehyungie-hyung adalah kebahagiaanku juga." Ujar Jungkook sambil berpose dramatis.
―
"Kalau mereka memang cocok, aku akan mendukung sepenuh hati."
Begitulah 'sumpah' yang Jungkook ucapkan secara spontan di suatu hari yang cerah. Pasca kencan perdana yang dinilai sukses (dan disinyalir akan berlanjut sampai jangka waktu yang tidak pasti), Taehyung datang menginvasi apartemennya untuk memberi kecupan di pipi. Sebagai tanda terima kasih, bisiknya. Oke, itu tidak perlu. Melihat kawannya tersenyum senang dan tidak menggangu ketenangan batin saja sudah lebih dari cukup. Eh nggak sih, ujung-ujungnya ia juga nagih janji, 'Katanya mau bantu aku deketin Park Jimin!' ― Maaf, hatinya sendiri juga lagi kesepian.
Di kantor, Yoongi tidak bilang apa-apa. Mereka saling bersinggungan untuk membahas proyek dan proyek saja. padahal Jungkook sudah harap-harap cemas, siapa tahu Yoongi jadi lebih murah senyum dan memberinya perpanjangan deadline karena ia sudah berperan aktif dalam memperlancar hubungan asmara. Taunya ia cuman mendapat lambaian tangan dan tatapan iba dari Seoltangie. Haha, mengkhayal di siang bolong itu tidak sehat, Bung. Hari pun kembali ia lalui dengan normal sampai malam tiba.
Kecuali, ada pesan yang tiba-tiba muncul di layar handphone ketika ia hendak berbaring, membuatnya terkejut dan berkedip-kedip bingung begitu membaca tulisan yang tertera di layar, sekali, dua kali.
Yoongi-sunbaenim
Hi, Jeon. Thanks a lot,
and … Sorry.
Penyampaian singkat-padat-jelas adalah trademark Yoongi, jadi Jungkook tidak mau mikir terlalu dalam tentang makna di balik ucapan maaf dan terima kasih yang diterimanya. Mungkin ini cara Yoongi menunjukkan rasa senang sesudah dipertemukan dengan seseorang yang cocok, sekaligus penyesalan karena tidak bisa menyampaikan kesan-kesannya secara langsung. Profesionalisme di tempat kerja harus selalu dijaga, huh?
Jungkook tidak tahu, kalau ternyata permintaan maaf Yoongi adalah sebuah pertanda.
.
.
Terjangkit lovestruck ada sesuatu yang wajar, kan?
Dalam lima tahun, Taehyung sudah naksir orang lebih dari dua puluh kali, malah ada saat di mana ia bisa ganti gebetan tiap bulan. Terlihat mudah bukan? Tidak seperti cari kerjaan tetap. Coba jatuh cinta bisa menghasilkan uang, Taehyung pasti sudah bisa keliling dunia. Haha. Jungkook mendengus dan melempar tubuhnya di atas sofa.
Sudah dua minggu sejak ia mempertemukan Taehyung dengan Yoongi, dan kawan mainnya itu, kini sedang dalam fase tergila-gila. Melihatnya senyum-senyum sendiri di depan layar handphone, kemudian berguling senang di saat Jungkook sedang serius-seriusnya garap kerjaan membuat dadanya bergemuruh. Jomblo mana yang tidak terganggu, duh! Memang apa sih yang Yoongi lakukan sampai Taehyung bisa lupa diri begitu? Kemarin saja ia memergoki si kawan sedang teleponan dan tertawa sampai mau nangis. Kan horor. Yoongi tidak pernah membuat seseorang terhibur sampai seperti itu di kantor, justru dia salah satu orang paling susah diajak bercanda. Tengok Hoseok, sudah beragam cara dilakukannya untuk membuat benteng Yoongi roboh, ternyata sampai sekarang tidak menunjukkan hasil signifikan. Sesekali Yoongi memang ikut menimpali, tapi plis, ia terdengar garing sekali, seperti bapak-bapak yang kerjaannya cuman nonton berita politik, alias kurang piknik (bukan Jungkook yang bilang, ia cuman nguping dari sana-sini). Kalau disinggung-singgung soal selera humor, ia bisa langsung ngasih kerjaan setumpuk dengan deadline pendek.
"Perasaan tuh Taehyung nggak gini-gini amat sebulan terakhir, padahal katanya sempat punya pacar."
Ini nih yang bikin Jungkook jadi berprasangka buruk. Jangan-jangan Taehyung cuman cari alasan agar ia mau bantu buat cariin calon. Jangan-jangan doi hari itu memang sengaja cari masalah dengan geng motor ― biar datang dengan kondisi tidak karuan. Tapi kok niat amat aktingnya, segitu gak sabarnya kah mengakhiri kesendirian? Jungkook aja sabar, lho. Saking sabarnya, saat Taehyung bilang ia sudah menyampaikan keinginannya mengenal Jimin secara personal ke yang bersangkutan, ia nunggu sampai hatinya siap dahulu. (Taehyung, dengan alis terangkat dan seringai menggoda: "Emang hatimu pernah siap?" Ugh, berisik.)
"Apa mantannya dulu beneran nyebelin ya? Tapi kok ya mau aja dipacarin, sampai harus capek-capek move on." Jungkook tidak pernah mengungkit-ungkit siapakah gerangan mantan Taehyung ― beneran, sampai sekarang ia tidak tahu nama dan penampakannya. SNS Taehyung sama sekali tidak meninggalkan jejak-jejak hubungan di masa lampau, gimana caranya mau stalking. Terakhir ia cek, Taehyung lagi foto bareng marshmallow putih di tangan. Pakai caption super cheesy ditambah kissy emoji. Sungguh tidak subtle, jelas itu kode kalau ia lagi kangen Yoongi. Tahu nama panggilan terkini Taehyung pada Yoongi? Little Snowy! Little! Snowy!
("Terus gimana Yoongi sekarang kalau ketemu kamu? Ada perubahan?" tanya Seokjin kapan hari. Jungkook menggeleng dengan muka datar. Tolong tahan dia untuk tidak mengekspos hubungan dua orang itu pada khalayak umum, membuat satu kantor terguncang.)
Jungkook menutup mata, berharap fase menyebalkan ini segera reda. Nggak tahu kenapa, ada rasa kangen pada sosok Taehyung yang curhat perihal kesendirian. Nggak cuma itu, ia juga kangen gimana Taehyung cerita soal pemotretan, kenalan baru, dan hal-hal unik seputar kerjaannya. Mungkin karena saat ini, ia sudah tidak bisa saling relate lagi dengannya. Gimana mau relate, situ sudah seperti pergi ke alam lain kalau Yoongi udah ngajakin chatting atau teleponan. Nggak guna lagi main bareng dan ngadain kunjungan kalau ujungnya ia diabaikan! Fine, Taehyung sekarang tidak butuh kawan ngenes seperti Jungkook sebagai tempat bersandar. Sana bersenang-senang sampai bosan. Kalau ujungnya kamu nggak cocok, lalu putus sama Yoongi, jangan datang lagi buat minta tolong sambil nangis-nangis!
―
Turns out, hubungan Taehyung dan Yoongi masih baik-baik saja sampai lewat dari sebulan. Langgeng euy. Padahal masih nggak jelas juga mereka sudah resmi pacaran atau belum.
Jungkook secara tidak sadar selalu menghitung hari, seolah-olah mau menandai kapan berakhirnya sebuah kisah cinta yang fana. Seseorang harus segera menyelamatkan anak ini sebelum ia tertimbun gunungan garam. Salty itu tidak sehat, kawan.
Untungnya, Taehyung cepat insyaf dan tidak lagi lupa daratan. Mungkin karena ia menyadari ekspresi sedih Jungkook tiap diajakin hang out bareng. Di beberapa kesempatan, fotografer muda itu kelihatan menghindari tatapan mata dan jelas itu membuat Taehyung kalang kabut ("Adikku sayang, janganlah kakak kau buang!" Teriak Taehyung suatu malam, Jungkook langsung memukul bokongnya dengan gagang sapu). Hanya saja, caranya untuk memperbaiki hubungan pertemanan terbilang unik.
Tae-hyung
Jungkookiee!
Hari ini aku mau kencan!
Yoongi-hyung mau nunjukkin koleksi baju seoltangie
Katanya ada beberapa kombinasi yang cocok buatku~
Ya, Taehyung memasuki memasuki fase menyampahi hidup Jungkook dengan laporan sehari-hari. Masalahnya, ini bukan laporan kerja atau uji kemampuan yang layak dijadikan bahan diskusi selama berjam-jam, ini laporan super penting tentang apa yang ia lakukan bersama supervisor-nya, dari pagi hingga petang! Kalau begini ceritanya, Jungkook kan jadi tahu apa yang Yoongi sembunyikan di sela-sela mengawasi kerjaan orang. Imej serius yang selama ini dia pasang tidak lagi membuat Jungkook terkesan. Gimana-gimana Yoongi ternyata juga manusia; ada saat di mana ia menatap layar komputer sekaligus membalas pesan-pesan Taehyung dengan senyum terkembang.
("Sst, Jungkook-sshi. Kenapa Yoongi-sshi akhir-akhir ini lebih sering senyum ya, itu membuatnya semakin manis sekaligus menyeramkan." Tanya beberapa orang kantor, saat ia kembali dari ruangan rapat.
"Wah saya juga kurang tahu. mungkin mood-nya sedang bagus." Balas Jungkook sambil mengibas-ngibaskan tangan. Tidak, wahai manusia. Aku tahu segalanya.)
Ehm, mungkin tidak segalanya. Jungkook tidak tahu dan tidak mau tahu sudah sejauh apa hubungan mereka. sekedar teman kencan biasa, sudah mulai mengobrol soal masa depan, atau bermalam di tempat masing-masing … untuk membahas fashion, tentu saja! Apa Jungkook sudah bilang kalau style Taehyung sekarang semakin berkembang? Ia sekarang sudah bisa memakai pakaian berwarna terang, meski selalu dikombinasikan dengan hitam, entah di bagian bawahan maupun outer. Make-up yang dia pakai sekarang juga nggak gelap-gelap amat, ia sudah mengurangi penggunaan eyeliner berlebih ― sedikit lagi sampai ia beneran bisa jalan-jalan dengan make-up natural.
Ada sisi positifnya lah. Benar kata Mama Jeon, jatuh cinta sanggup merubah seseorang. Sudah berapa kali Taehyung diberi saran soal penampilan dan menampiknya seketika ("Kalian nggak sayang aku apa adanya?"). Taunya doi baru luluh waktu bertemu sang pawang. Omong-omong, pawangnya sendiri masih tidak lepas dari warna pastel. Style-nya tidak berubah dan ia masih menenteng Seoltang ke mana-mana, kadang menyelipkannya di tas rajutan kecil, atau mendudukkan 'si gadis' di dekatnya. Tapi, kalau suatu hari Yoongi datang dengan jaket kulit dan kacamata hitam, Jungkook tidak akan kaget.
Ting!
Tae-hyung
Jungkookiee!
Hari ini Yoongi-hyung bawain holly dari rumah keluarganya …
Aku harusnya bawain kkanji juga dari apartemen Joonie-hyung :(
Begitulah, pesan-pesan dari Taehyung memang so random, tapi yang begini ini membuat hubungannya dengan Jungkook tak lagi renggang. Apalagi kalau sudah bawa-bawa foto sebagai bukti. Jungkook tidak bisa menahan tawa. Siapa yang tahu kalau Yoongi-sunbae bisa memasang muka jelek? Min Yoongi yang itu, ternyata juga bisa makan sampai belepotan, terbahak sambil memegangi perut, dan menggembungkan pipi seperti anak kecil yang keinginannya tidak dipenuhi. Ya ampun, memang mereka umur berapa sih? Bisa-bisanya bikin Jungkook baper ― sebagai orang yang harusnya lebih muda dan menghadapi hari dengan ceria.
Lambat laun Jungkook tak lagi menghitung, sudah berapa hari sejak ia membuat rancangan bodoh bersama Seokjin-hyung; berapa hari sejak Taehyung dan Yoongi bertemu, atau lebih tepatnya, saling menemukan. Cie. Jungkook kadang merasakan benih-benih kebanggaan, mendorongnya spontan berpikir, mungkin ia bisa mendirikan biro jodoh, mengembangkan bakat-bakatnya yang terpendam.
Tapi,
Ada saja momen yang membelokkan angin positif. Membuat Jungkook ingin hengkang dari Korea dan mengejar Jimin saja. Persetan dengan agensi! Biarlah ia menjadi freelancer abadi! Ogah bertemu Kim Taehyung dan Min Yoongi!
―
"Lho, lho, kamu kenapa jadi lemes begini," tanya Seokjin begitu melihat muka gelap Jungkook di sudut kafe. Nganggur sekali ya sepertinya, tapi percayalah, si pemilik kafe ini diam-diam merancang strategi promosi dan mengawasi sirkulasi uang dengan serius.
"HYUNG. HUHU." Jungkook menelungkupkan kepala dan menendangkan kaki seperti bocah sedang tantrum. Asalnya ia ingin sekali bersandar di bahu Seokjin yang super bidang dan melingkarkan tangannya di pinggang yang bersangkutan, tapi itu terlihat sangat homo dan Jungkook akan teringat lagi pada dua sejoli bodoh yang membuat tidurnya tak bisa nyenyak.
"Cup-cup, ada apa lagi ini." Seokjin menggeser kursi dan duduk di samping Jungkook, bersiap mendengar curhatan seperti yang rutin ia jalankan. Namanya juga kerjaan sampingan.
"Hyung aku gak mau lagi jadi mak comblang!"
Suer, ia tidak mau sok-sokan lagi jadi agen perjodohan, menganggap diri dianugerahi mata elang yang mampu mendeteksi cocok tidaknya satu calon dengan calon yang lain (memang dia siapa? Lihat benang merah seperti di kartun-kartun saja gak bisa!). Semua karena semalam, ia diteror Taehyung dengan pesan-pesan yang sulit sekali untuk dijabarkan. Setelah dibangunkan paksa oleh dering panggilan masuk yang tidak berhenti sampai lima kali, ia mendapati kotak percakapannya penuh dengan pesan dari si Hyung Terlaknat, menutup pesan-pesan penting lain dari keluarga maupun rekan kerja. Ada apa gerangan, Jungkook sudah diliputi rasa bingung dan khawatir, ternyata Taehyung tuh ―
hanya mengirimkan,
foto-foto Yoongi yang tidur terlentang sambil telanjang dada,
dengan keterangan,
Makan malam hari ini manis sekali~
MAKSUDNYA TUH APA.
Tidak tanggung-tanggung, Taehyung masih berusaha menelponnya lagi. Jungkook yang belum kelar menenangkan jiwa sebenarnya berniat tidak mengangkat. Serius. Namun malam masih panjang dan ia tidak mau ada dering berisik yang mengganggu prosesi tidur cantik. Dering berisik selain alarm, tentunya. Ia tidak senekat itu untuk mematikan handphone dan tidur sampai melewati jam kerja. Walhasil, ia pun memasang telinga lebar-lebar untuk mendengar penjelasan Taehyung. 'Sebaiknya kamu punya alasan yang kuat untuk membangunkanku, Hyung. Aku memberimu satu kesempatan,' desisnya, diikuti dengan napas berat.
"Jungkookie!"
"Ya?!"
"Sumpah, Yoongi-hyung lucu banget."
"Lucu?!"
"Iya, jadi pengen gigit!"
SUNGGUH,
SUNGGUH TIDAK BERFAEDAH.
―
"Uh. aku turut sedih mendengarnya." Seokjin hanya bisa puk-puk punggung begitu Jungkook menyelesaikan cerita singkatnya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tuh … sudah merestui hubungan mereka … sudah seneng mereka bisa saling melengkapi. lalu kenapa … aku diginiin." Aku nggak minta mereka buat beberin aktivitas mereka di malam hari, menodai kesucian hati dan pikiranku! Jungkook rasanya ingin lompat ke kolam terdekat. Ia tahu, mungkin semalam Taehyung sedang mabuk berat sampai tidak ingat apapun. Tapi tetap saja, ia tidak berhak mendapatkan perlakuan seperti ini! Ia hanya anak polos yang ingin kawan baik dan rekan kantornya menjadi pasangan rukun sejahtera; saling berbagi pengalaman hidup, mendukung pekerjaan masing-masing, sampai merubah sedikit demi sedikit kebiasaan lama. Bukan jadi teman berbagi manfaat ―
"Kamu polos dari mananya, dek."
Jungkook meninju dada Seokjin kuat-kuat. Ohok.
"Ugh … kenapa kamu nggak tanyain langsung aja … apa mereka sudah meresmikan hubungan. Jangan tiba-tiba menyimpulkan begitu, siapa tahu semalam mereka nggak melakukan apa-apa, cuma berbaring bersama." Ada penekanan di kata berbaring yang membuat Jungkook kembali menyiksa Seokjin dengan tinjuan mautnya. korban kini terkapar di kursi, mengaduh sambil memegangi tubuhnya yang rapuh, sementara Jungkook masih merengut, terbawa suasana hatinya yang masih kalut.
"Aku sudah bertanya, Hyung," bisiknya pelan. Meskipun ia bertanya tentang sesuatu yang sedikit berbeda, ada hal ganjil yang membuat perasaannya tidak enak. Ia tidak tertarik mencampuri urusan 'rumah tangga' Taehyung dan Yoongi. Hanya saja, saat ia memberanikan diri untuk menyapa Taehyung lewat pesan di pagi hari, ia mendapatkan sesuatu yang jauh di luar ekspektasi. Kawan baiknya memang sedang menginap di tempat Yoongi, tapi ia mengaku tidak mengirim foto apapun atau menelponnya di tengah malam ("Ngirim foto dan nelpon gimana? Aku tepar semalaman, Kookie. Kita langsung tidur setelah nonton bioskop bareng. Hape aja aku lempar asal.") Haha. Lucu sekali. Jelas-jelas ia masih punya bukti berupa jajaran foto nista dalam kotak percakapan dan daftar panggilan masuk, tapi Taehyung tetap mengelak. Ia sampai mengiriminya screenshot kotak percakapan dan daftar panggilan keluar dari handphone-nya.
Bener. Nggak ada apa-apa. Percakapan terakhirnya dengan Taehyung dalam screenshot itu dikirim pukul 5 sore. Telepon terakhir Taehyung juga menunjukkan nama 'Joonie-hyung', bukan 'Kookie'. Koleksi foto di galerinya nya juga tidak ada yang berbahaya. Kebanyakan foto diri dan berdua di berbagai tempat berbeda.
Kok bisa.
Apa mereka menyembunyikan sesuatu? Apa mereka sedang menjahilinya? Hari ulang tahunnya sudah lewat jauh! Taehyungie-hyung kalau sudah mabuk memang bikin orang pusing, tapi masak ia sempat menghapus percakapan dan log panggilan agar aksinya tidak ketahuan? Tega amat bohongin dia sampai seperti ini!
Atau, Yoongi-sunbae yang—uh.
Jungkook benar-benar tidak bisa fokus. Terlalu banyak kemungkinan yang mengantarkannya pada kecurigaan berlebih. Hhh. Mungkin benar, ia harus meluruskan segala prasangka, tidak banyak mengkhawatirkan orang lain dan membebani dirinya sendiri. Oke. Anggap saja ini khilaf; aib yang akan ia hapus sesegera mungkin dari memori. Kalaupun ia penasaran dengan status hubungan mereka sekarang, ia harus mengikuti saran Seokjin-hyung untuk berbicara empat mata. Ya, ia akan menemui salah satu dari mereka, preferably Taehyung, untuk mengklarifikasi dan serius menyampaikan:
Jangan bilang kalau kalian tidak serius soal ini semua.
―
to be continued.
2/3!
jangan serius-serius apaan. jatuhnya serius gini haha. maafin saya (lagi). masih banyak yang belum dibahas dan aku mutusin buat nambah chapter ― dan iya. jimin bakal muncul. dia nggak sefana yang jungkook pikirkan.
basically fanfik ini adalah upaya saya pribadi buat eksplor platonic taekook. jadi taegi-nya banyakan dilihat dari sudut pandang orang lain. mungkin nanti saya bakal bikin part tersendiri buat mereka. soalnya kalau dimasukin jelas ratingnya naik haha. konsep mereka cukup kotor di seri ini. semoga akunya bisa tahan diri :(
