Okeh, chap dua sudah jadi dan saya memutuskan hubungan antara Sasuke dan Naruto adalah cinta bukan sahabat karena berdasarkan review banyak yang minta yaoi... Gomen ne yang udah minta persahabatan...
Saya salah dichap one, Naruto bilang pendidikannya hanya sampai SMA ga punya duit untuk ngelanjutin ke SMK harusnya kuliah yaa... salah nulis
Thank's for all review:
stellar.alerion
lil-ecchan: Maaf best friendnya tidak bisa saya terapkan disini. Apakah masih mau membaca fict ini?
katakana 13
VongoLa ArcobaLeno
mirube-chhi: Maaf best friendnya tidak bisa saya terapkan disini. Apakah masih mau membaca fic ini?
dark aprhodite
Nakamura arigatou
Akina Takahasi: Maaf best friendnya tidak bisa saya terapkan disini. Apakah masih mau membaca fic ini?
play me 'till noon
Sabaku No Karou
Medeline: Maaf best friendnya tidak bisa saya terapkan disini. Apakah masih mau membaca fic ini?
Disclaimer: Cerita punya saya tokohnya punya mas Masashi
Apartement Sasuke Uchiha
Alarm berbunyi jam setengah tujuh. Sasuke mematikan alarm yang mengganggu acara tidurnya. Sasuke memaksa dirinya bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan untuk sedikit menyadarkan diri. Lalu perlahan ia bangkit dan menyeret kakinya ke arah kamar mandi.
' Tidak bisa tidur nyenyak tadi malam. Tapi aku harus bangun lebih pagi agar bisa menyelesaikan masalah sialan itu di kantor.' pikirnya sambil mencuci mukanya di wastafel. Lalu dia pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.
" Susu, jus tomat, roti tiga potong, dan secangkir teh. Cukup untuk mengisi perut ", ujarnya lalu menyantap makanan itu di meja makan dengan santai, " Surat kabar untuk hari ini mungkin sudah datang."
Dia membuka pintu dan mengambil Jakarta Post yang berada di handle pintu apartmentnya. Lalu melangkah ke meja makan untuk melanjutkan sarapannya yang dilengakpi dengan Jakarta Post yang sedang dibacanya.
Rumah Ino dan Sai
Jam setengah tujuh di meja makan yang sederhana sudah tersedia nasi goreng di lengkapi dengan air mineral, " Hei, Naruto aku sudah selesai membuat sarapan, ayo cepat dimakan nanti dingin lho!" kata Ino dari dapur.
" Yaa, aku baru selesai ganti baju." teriak Naruto dari dalam kamarnya.
Tidak lama kemudian Naruto yang sudah segar di pagi hari menghampiri Ino yang sedang makan di meja makan, " Pagi Ino, hari ini aku yang membersihkan rumah kau langung saja ke toko bunga."
" He? Tapi kenapa kau sudah mandi? Kalau mau membersihkan rumah harusnya kau belum mandi nanti juga keringatan kalau bersih-bersih percuma juga kau mandi . " nasehat Ino sambil memperhatikan dengan heran Naruto yang sedang makan dengan kecepatan diatas rata-rata.
Naruto menelan makanannya lalu berkata, " Ah, biar saja nanti kalau keringatan mandi lagi beres kan !!"
" Dari pada kau membersihkan rumah lebih baik cari kerjaan saja sana, biar kan saja rumah ini kan rumahku jadi aku saja yang membersihkannya ", larang Ino, " Kecuali kamar yang kau tiduri kalau itu bagianmu."
" Tidak Ino, tidak apa-apa, aku saja yang memersihkan rumah ini." kata Naruto keras kepala.
" Aku tidak keberatan kalau kau membersihkan rumah ini mungkin aku akan untung karena tidak perlu capek-capek bersihiin rumah, tapi kalau kau tidak segera mencari pekerjaan siapa yang akan memberikan uang kepada ayahmu kalau kau tidak bekerja." ujar Ino bijaksana.
" Ah, benar juga apa yang kau katakan Ino, aku harus segera mencari pekerjaan sementara mungkin yang seperti office boy atau supir dulu baru sambil bekerja aku sekolah, bagaimana?" tanya Naruto kepada Ino.
" Heh pikir pakai otakmu ", katanya sambil menyentuh kepalanya dengan jari telunjuknya, " Kalau kau sekolah mana cukup uangnya apalagi kerjaanmu hanya sebagai office boy atau supir ."
" Iya juga sih. Jadi aku akan kerja begitu saja ??" Naruto yang kecewa pada dirinya sendiri berkata.
" Kau tahu kan, kau bersekolah hanya sampai SMA saja tidak lebih, hanya itu yang bisa kau kerjakan." jelas Ino.
" Kalau begitu aku kerja di toko bungamu saja." kata Naruto menimbang-nimbang.
" Aku tidak membutuhkan pegawai Naruto, maaf." tolak Ino sopan.
" Oh, begitu ", kata Naruto lesu, " Apa boleh buat, aku tunggu Sai pulang lalu akan ku tanya dia tentang lowongan pekerjaan."
" Yaa, terserah kau, pokoknya kau harus dapat pekerjaan sebelum akhir bulan ", kata Ino memperingatkan lalu dia bangkit dari kursi menuju kamar mandi, " Jadi kau yang membersihkan rumah yaa, katamu kan menunggu Sai pulang dia kan pulang jam tiga sore. Aku sehabis mandi langsung ke toko bunga."
" Yaah, sama saja kalau begitu aku yang membersihkan rumah." kata Naruto.
Di Kantor daerah Sudirman pukul 11.44
Sasuke keluar dari ruangan Tsunade dengan muka kesal karena Tsunade menuduh dia dan anak buahnya yang bersalah dan dia benar-benar harus kerja lembur untuk menyelesaikan kerjaan baru untuknya yaitu menyelsaikan masalah ini dengan orang yang berada di India seperti meminta maaf, menjelaskan, dan berdiskusi dengan orang India itu tentang apa yang direncanakannya.
" Hei, Sasuke." Shikamaru menghampiri Sasuke yang baru saja mau ke ruang kerjanya.
" Ada apa?" tanya Sasuke.
" Nanti makan siang saja di Paregu, itu loh yakiniku yang kata temanku enak, mau tidak?" tawar Shikamaru kepada Sasuke yang menjelang stress.
" Hm.. bagaimana yah?" Sasuke menimbang-nimbang.
" Atau makan Bakmi Toko Tiga?" tawar Shikamaru lagi.
" Ah, tidak terima kasih." tolak Sasuke.
" Hei, sebenarnya aku mau membicarakan pekerjaan juga sih tapi kalau kau menolak aku pergi lagi ke pabrik." kata Shikamaru lalu berjalan ke arah tangga untuk turun.
" Shikamaru, aku mau makan siang, kebetulan aku butuh kau untuk menyelesaikan masalah dengan orang India ini, otakmu kan bisa diandalkan." kata Sasuke lalu mengikuti Shikamaru untuk turun ketangga.
" Jadi, kau mau apa?" tanya Shikamaru di tangga.
" Maksudmu?" Sasuke bingung dengan perkataan Shikamaru.
" Maksudku itu, apa kau benar-benar cari supir?" tanya Shikamaru tidak penting.
" Kupikir kau mau menanyaiku tentang pekerjaan. Ah, entahlah soal itu sedang tidak aku pikirkan lagi." jawab Sasuke.
" Oh, begitu." ujar Shikamaru singkat.
" Kemarin malam aku menyerempet orang aneh dan kau tau kenapa hidungku sedikit merah hari ini?" Sasuke yang berniat menceritakan masalah ini dengan Shikamaru.
" Hah, yang benar saja? Hidungmu pasti ditinju, tapi kenapa ditinju sampai begitu?" Shikamaru yang mulai tertarik dengan topik yang dibicarakan Sasuke.
" Aku menyerempetnya, dia menyuruhku meminta maaf padanya aku menolak. Aku lalu memberinya sejumlah uang dan berkata bahwa kau orang tidak mampu pasti kau membutuhkan ini. Lalu hidungku ini menjadi korban." jelas Sasuke kepada Shikamaru. Lalu mereka selesai menuruni tangga dan menuju parkiran.
Shikamaru terkekeh dan ingin mengatakan pada Sasuke, tentu saja bodoh kau merendahkannya tapi bukan itu yang keluar dari mulutnya melainkan, " Heh, lupakan saja orang itu nanti kau tambah stress dibuatnya."
" Hei, kita menuju rumah makan pakai mobilmu saja." kata Sasuke.
" Yaa.. terserah kau, kita mau makan dimana?" tanya Shikamaru sambil mengeluarkan kunci Fortunernya dari saku celana.
" Bakmi Toko Tiga saja aku sudah lama tidak makan mie ayam." kata Sasuke lalu masuk kedalam Fortuner Shikamaru dan duduk dikursi depan sebelah pengemudi lalu memansang seatbeltnya.
Bakmi Toko Tiga pukul 13.00
" Aku saja yang bayar makanannya." kata Sasuke lalu mengeluarkan dompet dari saku kiri celanyanya tapi..
' Kenapa aku bawa dompet orang yang kuserempet kemarin malam sih!' Sasuke jadi bingung sendiri.
Shikamaru yang sadar kenapa Sasuke memakai dompet butut seperti itu biasanya kan dia pakai dompet yang bermerk, " Sasuke itu dompetmu?"
Sasuke tidak akan bilang 'iya' karena nanti dikira Shikamaru dia ini tidak modis dan sebagainya, " Bukan ini dompet yang orang yang aku serempet kemarin."
" Kenapa kau bawa?" Shikamaru curiga.
Sasuke tidak tau mau menjawab apa akhirnya dia jawab sembarangan, " Terbawa olehku."
" Oh, boleh kulihat?" Shikamaru bertanya.
Tanpa berkata-kata Sasuke meberikan dompet itu kepada Shikamaru.
' Aneh, Sasuke tidak mungkin salah bawa dia itu bukan tipe orang yang sembarangan.' pikir Shikamaru.
' Aduh, Shikamaru memikirkan apa yaa?' Sasuke yang sudah gelisah melihat Shikamaru dengan tatapan curiga ke dompet itu.
' Ada photonya lagi, tapi ini cowok sih tidak mungkin Sasuke menyukainya. Tapi, cowok ini manis sih mungkin saja iya, Sasuke menyukainya.' pikiran Shikamaru mulai tidak sehat.
' Apa yang kau pikirkan Shikamaru !!' Sasuke melihat kea rah Shikamaru terus.
' Aneh.' Shikamaru tambah curiga.
'Apa yang kau pikirkan !!' Sasuke makin bingung.
" Shikamaru, tolong kembalikan dompet itu." akhirnya Sasuke berbicara juga.
" Boleh kutanya kenapa dompet ini bisa ada ditanganmu?" tanya Shikamaru sambil memberikan dompet butut itu kepada Sasuke.
" Itu saat dia menonjokku mungkin dompet yang ada di tangannya itu terjatuh." jawab Sasuke apa adanya.
" Dan kau tidak mengenbalikannya?" Shikamaru makin tambah tertarik.
" Orangnya sudah pergi saat aku mengambil dompet ini." Sasuke tidak mau jawab macam-macam nanti ditanyanya juga macam-macam lagi.
Rumah Ino dan Sai pukul 15.10
" Aku pulang…!!" teriak seseorang dari balik pintu dan langsung disambut oleh Naruto.
" Sai.. aku sudah lama menunggumu, aku mau tanya macam-macam kepadamu." kata Naruto semangat.
" Apa?" tanya Sai disertai senyum khasnya lalu duduk di sofa.
" Um… apa tempat kerjamu membutuhkan office boy?" tanya Naruto.
" Aku kerja di pabrik kantornya juga tidak terlalu luas jadi tidak ada lowongan untuk menjadi office boy." kata Sai menjelaskan.
" Yaah." Naruto putus asa.
" Tapi, untuk apa kau tanya-tanya pekerjaan? Kenapa kau tidak bekerja hari ini?" tanya Sai.
" Aku memutuskan berhenti dari pekerjaanku jadi sekarang aku membutuhkan pekerjaan tapi karena tidak ada lowongan jadi aku harus cari pekerjaan baru sendiri." jelasnya pada Sai.
" Untuk jadi office boy sih mungkin kau bisa coba di kantor daerah Sudirman, disana tempat relasi atasanku mereka sudah sering bekerja sama. Mungkin aku bisa membantu, aku cukup sering kesana. Juga aku lumayan dekat dengan beberapa office boy disitu." kata Sai yang mau menuju ke dapur.
" Ah, yang benar Sai? Boleh aku minta alamatnya?" Naruto yang sekarang terlihat lebih ceria.
" Boleh, tentu saja. Sebentar yaa, aku catatkan." ujar Sai dengan memakai senyumannya yang aneh lalu mengambil note dan mencatat alamat kantor itu.
" Hiaaaaaa terima kasih Tuhan." Naruto teriak saking semangatnya.
" Ini alamatnya. Jangan senang dulu, memangnya kau lansung diterima bekerja disana?" kata Sai sambil memberikan kertas yang berisi alamat kantor dan pada saat mengatakan ' Jangan senang dulu, memangnya kau lansung diterima bekerja disana?' disertai dengan senyuman yang membuat kesal Naruto.
" Haaaaah, kau ini bukannya mendukungku. Payah!" Naruto kesal.
" Kau ke sana mau naik apa?" tanya Sai.
" Naik angkutan umum lah! Tapi.." Naruto bingung, " Aku tidak ada uang untuk naik angkutan umum."
" Oh itu. Kau kuberikan uang nih, dua puluh ribu cukup kan?" kata Sai sambil mengambil uang dari dompetnya dan memberikannya kepada Naruto.
" Hua makasih Sai, uang ini akan kukembalikan pasti." kata Naruto sambil memeluk Sai.
" Tidak perlu, itu kuberikan padamu ikhlas kok !" ujar Sai sambil berusaha menyingkir dari pelukan Naruto.
" Tidak, akan aku kembalikan pasti kalau tidak kau usir aku dari rumahmu." kata Naruto masih dalam posisi memeluk Sai.
" Terserah kau, tapi lepaskan aku." pinta Sai yang sudah sesak nafas.
" Ah, iya." akhirnya Naruto menyingkir dari Sai.
" Memangnya uangmu kemana?" tanya Sai yang sekarang sudah kembali duduk tapi di kursi meja makan.
" Hilang saat aku diserempet orang." Jelas Naruto.
" Oh." Sai hanya meng-ohkan saja.
" Kau pasti lelah Sai, istirahat saja sana aku tahu kau sedang tidak bisa mendengar ocehanku kan." kata Naruto yang sadar diri.
" Iya, aku juga mau istirahat kok." kata Sai kali ini dengan senyuman yang tulus.
Keesokan Paginya di Rumah Ino dan Sai
" Selamat pagi, Naruto, Sai." sapa Ino ramah begitu Sai dan Naruto keluar dari kamar tidur.
" Pagi Ino." jawab mereka bersamaan.
" Naruto hari ini kau mau melamar jadi office boy di daerah Sudirman?" tanya Ino untuk basa basi sebenarnya dia sudah tau dari Sai.
" Iya, aku harus mendapatkan pekerjaan itu." Naruto yang lebih semangat dari hari sebelumnya.
" Oh, baguslah kau lebih bersemangat sekarang." kata Sai sambil memakan bubur ayam yang dinyatakan sebagai sarapannya hari ini.
" Iya lah, harus, kalau tidak semangat mungkin aku tidak akan diterima nanti." Ino terus menyemangati Naruto.
Mereka menyelesaikan acara sarapan mereka dan pergi dari rumah untuk melakukan aktivitas masing-masing, begitu juga Naruto yang mau melamar kerjaan walaupun hanya menjadi office boy, tapi tidak mengapa lah yang penting dapat upah.
Di Kantor daerah Sudirman pukul 08.05
' Kantornya tidak terlalu besar tapi lumayan lah. Mobil-mobil pegawainya juga keren-keren. Ayo Naruto kau tidak boleh gugup !!' pikir Naruto sambil terus melangkah masuk ke dalam.
" Ya, pak. Kira-kira kapan bapak sampai di Jakarta?" Sasuke yang baru memasuki kantor dalam keadaan sedang telephone.
' Wah, orang yang telephone itu rambutnya aneh sekali kelihatan sekali orangnya sok.' Naruto melihat Sasuke yang menyalipnya tadi menuju tangga. Dia tidak sadar bahwa orang itu yang mengambil barang berharga kepunyaannya yaitu dompet yang berisi uang yang ia butuhkan untuk dikirimkan untuk ayahnya.
………………………………….
" Wah, mbak, jadi saya diterima nih?" tanya Naruto semangat.
" Iya, kau diterima karena disini memang kami kurang pekerja, jadi selamat yaa." kata si mbak yang nerima Naruto tadi.
" Jadi, kapan saya mulai kerja?" Naruto penasaraan.
" Itu sih terserah, kau mau mulai kapan? Sekarang juga bisa besok juga bisa kalau lusa tidak bisa." jelas mbak itu.
" Ah, ya, saya sekarang saja mulai kerja. Apa saya perlu ganti seragam?" ya, Naruto kelewat semangat.
" Oh, iya. Ayo ikut saya, saya tunjukin ke pantry." ujar si mbak yang baik hati.
………………………………….
" Ehm, Lee, ini anak baru dibantu yaa tolong ajarkan dia macam-macam." kata mbak itu kepada pemuda aneh yang dipanggil Lee tadi.
" Naruto ini Lee, Lee ini Naruto." mbak itu memperkenalkan Naruto kepada Lee. Lalu mereka saling menjabat tangan.
" Saya tinggal yaa." kata si Mbak keluar dari pantry.
" Hei, kau Naruto. Kalau disini pakai seragam ini yaa ", kata Lee semangat sambil menepuk-nepuk punggung Naruto keras-keras lalu menyerahkan seragam office boy ke Naruto, " Kalau kerja yang semangat yaa, kau kan masih muda."
" I..iya.." Naruto kesakitkan karena punggungnya di pukul-pukul lebih tepatnya.
Narutopun pergi ke kamar mandi dan mengganti bajunya dengan seragam office boy.
" Hei, Naruto kau cocok sekali pakai seragam itu." ujar Lee sambil mengacungkan dua jempol.
' Maksudnya aku pantas jadi office boy begitu?' pikir Naruto.
" Em.. Naruto ini teh untuk Sasuke di lantai dua tolong diantar yaa, ini pekerjaan pertamamu lho!" perintah Lee.
" Iya, oke. Akan saya antar." Naruto semangat melakukan pekerjaannya.
" Ruangannya yang paling ujung jangan lupa. Semangat oke!!" yel-yel Lee.
" Iya." Naruto keluar dari pantry menuju kelantai dua dimana pria yang bernama Sasuke itu berada.
Chapter two Finish
Oke chap dua rada ngebosenin. Tapi chap tiga mulai deh, ntar ada ribut-ribut.
btw, nanti pada mau ada lemon ga? duh saya nulisnya ada yang salah ga??
Baca fic saya yang What Happend in High School? juga iaaa...
So, review?
