Sekarang Kyungsoo, Yixing, dan Jongin berdiri di tengah keramaian festival. Mereka bertiga mengelilingi area festival itu, sebenarnya hanya Jongin dan Yixing yang benar-benar menikmati festival itu. Kyungsoo hanya mengikuti kemanapun mereka berdua pergi. Seringkali Kyungsoo tertinggal karena langkah Jongin dan Yixing yang besar.
"Hyung, tunggu."
Jongin menoleh, ia melihat Kyungsoo yang tergesa-gesa menyesuaikan langkahnya dengan langkahnya. Wajah Kyungsoo sekarang di penuhi peluh yang mengalir di pelipisnya, Jongin tersenyum kemudian menggenggam tangan Kyungsoo yang mungil. Wajah Kyungsoo memerah untuk kesekian kalinya, ia berusaha melepas genggaman Jongin yang erat.
"Jongin hyung, lepaskan."
Jongin terkekeh pelan, "Aku hanya tak ingin kau terpisah."
Kyungsoo menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. "T-tapi aku bisa memegang jaketmu."
Jongin tertawa, kemudian mengiyakan permintaan Kyungsoo. Jadilah Kyungsoo memegang ujung jaket jongin sampai mereka bertiga berhenti di kedai penjual minuman karena Yixing yang terus merengek ingin minum. Jongin dan Yixing memesan dua kaleng soda. Hanya mereka berdua yang memesan, sedangkan Kyungsoo tidak. Kemudian Jongin menyadari hal itu.
"Kyungsoo, kau tidak minum?" Tanya Jongin.
Kyungsoo menggeleng pelan. "Aku tidak haus, Hyung."
Lalu Jongin memberikan kaleng soda yang masih berisi setengah kepada Kyungsoo. Lelaki bermata bulat hanya menatap kaleng itu tanpa berniat mengambilnya apalagi meminumnya. Jongin menghembuskan \ ,napasnya, benar-benar bocah ini.
"Kyungsoo, minumlah." Kata Jongin.
Dengan ragu, Kyungsoo mengambil minuman yang diberikan Jongin. "Terima kasih hyung."
Kyungsoo meminum soda itu dengan tenang sampai -
"Wah Kyungsoo, kau berciuman dengan Jongin secara tidak langsung!" ucap Yixing polos.
"Uhukk..uhukk."
Kyungsoo tersedak soda yang diminumnya, sungguh demi Tuhan rasanya sakit sekali. Ia menepuk-nepuk dadanya yang rata. Jongin menatap Kyungsoo dengan wajah paniknya, ia bingung harus bagaimana sekarang. Dan Yixing hanya diam dan berpikir 'mengapa ia tersedak? Apa kata-kataku terlalu buruk?'
"Kyungsoo, kau baik-baik saja?" Tanya Jongin khawatir.
Kyungsoo mengangguk, kemudian ia merenungi kalimat Yixing tadi. 'berciuman dengan Jongin secara tidak langsung.' Kini jantung Kyungsoo seolah-olah ingin keluar dari dadanya, ia berdebar-debar dan wajahnya kembali memerah.
'Bagaimana ya rasanya dicium Jongin Hyung?'
Kalimat itu terlintas di benak Kyungsoo, ah mungkin ia sudah gila.
.
.
Kini Kyungsoo berdiri di atap sekolahnya, ia menutup mata dan merasakan angin membelai tiap helai rambutnya dengan lembut. Lelaki ini kembali membuka matanya yang bulat, di sudut ini matanya dapat memandang seluruh bagian sekolah. Kemudian pandangannya tertuju pada suatu ruangan, kelas Jongin hyung. Mendadak wajah Kyungsoo memerah mengingat kejadian kemarin.
"Sial, mengapa kejadian itu tetap berputar di kepalaku."
"Kejadian yang mana Kyung?"
Suara baritone itu mengejutkan Kyungsoo, perlahan ia membalikkan badannya untuk melihat dari siapa asal suara itu. sekarang mata Kyungsoo lebih besar dari biasanya, jantung nya berdebar dan wajahnya memerah hingga telinganya.
"J-Jongin Hyung?!"
"Tch, mengapa kau terkejut seperti melihat hantu? Apa aku terlihat seram?" Tanya Jongin.
"Uh, tidak. Umm Jongin Hyung mengapa datang kesini?" Kyungsoo bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Mengapa kau bertanya? Bukan kah ini temat umum?"
Kyungsoo tersentak, kemudian ia menundukkan kepalanya. "Tapi tak biasanya.."
"Lalu, kau kesini untuk apa?" Tanya Jongin.
"U-untuk mencari udara segar."
Jongin tertawa mendengar jawaban Kyungsoo, pria bermata bulat hanya bisa menutupi wajahnya yang memerah dan merutuki dirinya yang memberikan jawaban sebodoh itu. kemudian Jongin menarik tangan Kyungsoo dan membawanya duduk bersandar pada dinding pembatas. Kyungsoo merasakan jantung nya berdebar merasakan tangan hangat Jongin yang menggenggam tangan mungilnya.
"Kyungsoo, kau tidak bersama Baekhyun?" Tanya Jongin, dengan spontan Kyungsoo melepaskan tangannya yang semula digenggam Jongin.
"Akhir-akhir ini Baekhyun selalu bersama Kris Hyung, aku selalu diacuhkannya." Ucap Kyungsoo sedih, Jongin menatap Kyungsoo tak percaya.
"J-jadi kau menyukai Baekhyun?"
Kyungsoo membulatkan matanya, seraya memukul perut Jongin pelan. "Bodoh! Aku dan Baekhyun sudah bersahabat sejak kecil." Ucap Kyungsoo, kemudian kembali melanjutkan ceritanya.
"Tadinya aku dan Baekhyun akan makan bersama, tetapi Kris Hyung membawanya pergi. Aku sendirian dan memutuskan untuk pergi ke atap."
"Bukannya kau kemari untuk mencari udara segar?"
Kyungsoo menatap Jongin dengan tatapan bodohnya, "A-ahh- "
Jongin tertawa melihat Kyungsoo yang kehabisan kata-katanya. Selang beberapa menit, Jongin menyadari perubahan raut wajah Kyungsoo. Lelaki bermata bulat itu sekarang hanya menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong sekaligus dengan tatapan sendunya.
"Baekhyun sangat beruntung ya?" Tanya Kyungsoo memandang kosong langit yang dipenuhi permen kapas putih. Jongin mengikuti arah pandangan Kyungsoo menatap betapa cerahnya langit siang ini.
"Ya, Baekhyun terlalu cantik untuk ukuran seorang laki-laki. Tak salah banyak senior kita yang menyimpang setelah melihat Baekhyun, mungkin aku salah satunya."
Kyungsoo tercekat mendengar pernyataan Jongin, rasanya seperti gelas kaca yang rapuh kemudian dilempar hingga menyentuh tanah. Hatinya seperti gelas itu, hancur berkeping keeping. Sebisa mungkin Kyungsoo menahan air matanya agak tidak terjatuh. Lagi pula untuk apa Kyungsoo menangis?
"A-ah iya kau benar."
Kemudian rasa canggung menyelimuti mereka berdua, Kyungsoo melirik jam yang melingkar dengan indah di lengan kirinya. "Uh hyung, aku harus pergi. Sampai jumpa."
Kemudian Kyungsoo berlari meninggalkan Jongin yang masih mencerna apa yang sedang terjadi.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
Tapi Boong
.
.
Semenjak kejadian itu, Kyungsoo menjauhkan dirinya dari Jongin. sudah beberapa kali ia tidak hadir di kelas dance, tentu saja alasannya untuk menghindari Jongin. Dan Kyungsoo selalu membawa kotak makan siang agar ia tak perlu ke kafetaria, karena kemungkinan ia bisa bertemu dengan Jongin di kafetaria. Setiap kali jika Kyungsoo bertemu Jongin di koridor, mereka berdua seperti orang yang tak saling kenal. Bahkan Jongin tidak peduli dengan perubahan sikap Kyungsoo, itu membuat Kyungsoo semakin menutup dirinya.
"Kyungsoo, ada Jongin Hyung." Ucap Baekhyun seraya menunjuk lelaki berkulit lelaki berkulit tan yang berada di ujung koridor. Kyungsoo melirik kearah Jongin sebentar dan kembali memfokuskan pandangannya ke layar handphonenya.
Baekhyun hanya memandang Kyungsoo dengan heran, ada apa dengan bocah ini?
.
.
Siang ini Kyungsoo mendatangi toko buku untung membeli perlengkapan sekolahnya karena tak ada satupun barang yang tersisa di kotak pensilnya, semua hilang dicuri atau diambil temannya. Entahlah, Kyungsoo tidak tahu.
Kyungsoo memasuki toko buku itu dengan tenang,ia melihat banyak komik yang tersusun di etalase dengan rapih, kemudian ia melanjutkan langkahnya menelurusi tempat ini. Kemudian Kyungsoo menemukan tempat berisikan banyak CD.
Kyungsoo berfikir, "Jika di tempat komik tadi banyak wibu, berarti di tempat ini banyak orang yang suka musik dan… J-Jongin Hyung?!"
Kyungsoo melihat jongin di ujung lorong, kemudian Kyungsoo berlari sebelum Jongin melihatnya. Jantungnya berdebar sangat keras sekarang, ugh kemana Kyungsoo harus bersembunyi? Lalu Kyungsoo melihat toilet disudut ruang ini. Tak perlu waktu lama, Kyungsoo memasuki toilet itu dengan tergesa-gesa.
Ia mendudukkan dirinya diatas toilet yang tertutup, kemudian mengacak surai hitamnya. Lelaki bermata bulat itu memejamkan matanya dan mencoba menetralkan degup jantungnya.
"Huft, bagaimana Jongin Hyung bisa disini?" Tanya Kyungsoo pada dirinya sendiri.
"Oh ya ini 'kan tempat umum." Kyungsoo menjawab pertanyaannya sendiri, bodoh sekali.
Setelah beberapa menit, Kyungsoo memutuskan untuk membuka pintu toiletnya. Mungkin saja Jongin Hyung telah pergi 'kan?
Ceklek
Perlahan Kyungsoo membuka pintu toiletnya dan
.
.
.
.
.
.
"J-Jongin hyung!?"
.
.
.
.
"Lama tidak bertemu Kyungsoo."
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC BENERAN
