Disclaimer : Aoyama Gosho
#Rejoice
Rejoice with your family in the beautiful land of life!
- Albert Einstein
.
"Kenapa Conan?" tanya Ai. Matanya membesar, mimiknya polos. Conan merengut dalam hati.
"Uh, tidak… Tapi kurasa Kairi akan merindukanmu, Ai!" serunya riang. Ai mengangkat sebelah alisnya, menatap Conan dengan penuh selidik.
"Jika aku tak mengenalimu dengan baik, aku akan menyangka kalau kau takut mengasuh anak darah dagingmu sendiri." Kata Ai dengan pose berpikir, jemarinya ditopangkan ke dagu. Conan hanya tertawa nervous, menghindari pandangan Ai dan matanya beralih ke Kairi.
Kairi yang sedang duduk bersila dalam boksnya, menandak gembira ketika menyadari kalau papanya sedang menatapnya. Dilambainya tangan kecilnya sambil tertawa. Ai berjalan mendekatinya lalu digendongnya Kairi sambil tersenyum.
Conan memperhatikan kedua orang yang paling dicintainya dengan bahagia. Kairi—anak itu baru berusia enam bulan dan sangat gesit. Walau dia masih belum bisa memanggil papa dan mama dengan lancar, tapi gerak retorik dan inteligensianya lebih maju dari bayi seumurnya. Well, sepertinya kecerdasannya menurun pada anak itu, Conan membatin bangga. Bukan seharusnya dari Ai? Alis Conan berkerut. Berisik, kau tidak bisa diam? omelnya pada kata hatinya sendiri.
"Ini benar-benar kasus serius, Conan. Besok itu merupakan operasi besar—Professor Sayumi memerlukanku."
Conan masih ragu, dia sekarang memainkan tangan Kairi dari belakang punggung istrinya.
"Hanya lima belas jam saja. Ayumi-chan sedang hamil, aku tak bisa menganggunya. Sedangkan Ran-san dan suaminya telah pindah ke New York. Kakek dan nenek Kairi di Los Angeles. Sedangkan Hakase… Ugh… Siapa yang bisa kutitipkan Kairi selain padamu, Conan?"
Sekarang Ai berbalik, tangannya membelai punggung Kairi, dan menatap suaminya sungguh-sungguh.
"Kau pasti bisa mengasuh Kairi, Conan. Kau ayah yang hebat."
Conan merasa hatinya ingin meledak, istrinya ini sangat jarang memujinya—lebih banyak mengejeknya sih, tapi satu pujian bisa membuatnya melambung hingga langit ketujuh.
"Aku memang ayah dan sekaligus suami yang hebat," katanya dengan penuh percaya diri. Ai hanya memutar kedua bola matanya. Dia tau kelemahan Conan dan selalu menggunakannya dengan baik.
"Jadi kalau begitu, buktikan padaku besok, darling," ejek Ai. Lalu dia mendekat dan mencium pipi suaminya. Conan benar-benar senang, apa ini kode untuk malam hari nantinya? Dia bahkan tak menyadari kalau Ai memanggilnya dengan panggilan yang tak pernah dia gunakan.
Ai menggigit bibirnya sambil menahan senyumnya, suaminya ini memang selalu gampang ditebak keinginannya. Yah, setelah melahirkan Kairi, mereka memang jarang memadu cinta, selain kondisi fisiknya yang belum pulih benar dan anak hiperaktif itu membuatnya lelah, Ai juga sangat sibuk dengan risetnya. Walau penelitiannya telah dilimpahkan ke dokter sejawatnya karena Ai masih menjalani cuti hamil dan melahirkan tapi dia masih bertanggung jawab sepenuhnya. Jadi malam ini, dia harus membahagiakan Conan sebelum dia berubah pikiran.
"Hm… Bagaimana, Conan-kun?" Ai menggerakan jemarinya di dada suaminya, membelainya lambat-lambat. Conan hanya menelan ludah, "Baiklah, Ai…"
Ai tersenyum puas.
.
.
.
Suara deringan jam weker menusuk gendang telinga dengan paksa. Conan mengerang, tangannya meraba-raba arah suara dan mematikannya dalam satu gerakan. Dia membuka matanya, membalik badannya dan menyadari kalau Ai telah bangun. Bagian tempat istrinya tidur, masih berantakan tapi terasa dingin ketika Conan menyapukan jemarinya.
Kenapa Ai tak membangunkanku, ya?
"Da-Pa," suara Kairi memecah keheningan. Conan terlonjak dan bangkit dari tempat tidurnya. Dia menemukan Kairi sedang duduk di boksnya seperti biasa, dan mengulum jempolnya. Conan buru-buru mengenakan pakaiannya dan matanya menemukan sepucuk surat di samping lemari kecil. Dia mengenali tulisan tangan Ai yang khas.
Conan, aku telah menyetel jam wekermu ke delapan pagi. Maaf, aku harus pergi pagi-pagi karena professor Sayumi meneleponku. Pasien yang ditanganinya sedang kritis jadi jam operasi dipercepat. Aku menulis jadwal yang harus kau lakukan dalam mengasuh Kairi selama hari ini. Ingat, kau tak bisa meneleponku, handphone dilarang di ruang operasi—jika kau lupa.
Jam 8 pagi : waktu Kairi bangun, kau harus bermain dengannya selama tiga puluh menit. Dia sangat menyukai blok mainan yang dibelikan Okaasan, dan kau tak boleh membiarkannya memasukkan benda-benda kecil ke mulutnya. Oh ya, dia juga sangat suka mengulum jemarinya sendiri, kau tidak boleh membiarkannya berbuat begitu. Kairi juga sedang mengalami masa tumbuh gigi, gigitannya sangat menyakitkan—jika kau ingin mencoba.
Conan berhenti membaca, Kairi balas menatapnya—dia asyik menyedot jempolnya.
Jam 8.30 pagi : makanannya telah kusiapkan di dapur, kau tinggal memanaskannya. Setelah makan, kau harus menepuk punggungnya beberapa kali hingga dia sendawa, atau dia akan muntah karena Kairi sangat suka melompat-lompat. (mungkin untuk mempercepat gerakan peristaltik di usus, tapi dia masih bayi, dan dia sangat aktif) PS : ini pasti menurun dari gen dan DNA-mu. Jangan membantah.
Jam 9.00 pagi : ini adalah waktunya menonton tv. Cakram DVD kesukaannya telah kusiapkan di depan TV.
Jam 10.00 pagi : waktunya mandi. Ingat, suhu airnya harus hangat, dan berhati-hatilah karena Kairi sangat menyukai bebek-bebek kuning mungil mengapung di air. (dia sangat suka melemparkan bebek ke wajah atau mengibaskan air supaya muncrat ke pakaianmu).
Setelah mandi, kau harus mengoleskan minyak kayu putih dan minyak telon ke badannya.
Jam 10.30 pagi : waktu Kairi tidur lagi. Kau bisa santai sebentar, darling.
Jam 1-2 siang : waktu Kairi bangun lagi. Oh ya, susu ASI yang telah kupompa telah disiapkan di lemari, kau bisa memberikannya saat makan bubur.
Jam 3-6 sore : Kairi akan mengantuk dan tidur lagi. Kau bisa menonton acara detektif kesukaanmu di TV, darling.
Conan berhenti membaca lagi dan berpikir keras, Ai memanggilnya darling dua kali, sangat mencurigakan.
Jam 7 malam : saat Kairi makan malam, menunya berbeda dari pagi. Aku telah menyiapkan juga, ingat tepukan di bahu setelah siap makan.
Jam 7.30 malam : acara kesukaan Kairi tayang di TV kabel. Dia akan mengantuk setelah menontonnya. Kau bisa istirahat sejenak sebelum aku pulang nanti.
….. sampai ketemu nanti malam, darling.
Conan memperhatikan surat itu dengan sejenak, dia merasa ada tulisan tipis semoga kau bisa bertahan hidup sampai malam yang ditimpa dengan sampai ketemu nanti malam, darling.
Emangnya Kairi itu monster atau apaan? Gerutu Conan, matanya beralih ke arah anaknya dengan kasih sayang. Anak itu sedang duduk sambil memainkan gelang mainan, dan kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya. Conan hampir terlonjak, dan segera merampas gelang itu. Kairi yang tak menyangka mainannya direbut, berteriak kesal. Badannya menandak-nandak.
Conan memutar bola matanya.
Sekarang baru jam delapan lewat sepuluh menit. Dan hari ini akan terasa panjang.
Conan yang selalu sibuk dengan berbagai kasus dan selalu menemukan istrinya di rumah menjaga Kairi, tiba-tiba merasa kesepian. Dia menyedot hidungnya sebentar, dan berseru lagi ketika menyadari Kairi sedang memakan mainannya yang lain. Jerapah kuning bertotol-totol coklat hadiah dari Kazuha. Dilepaskannya mainan itu dari mulut Kairi (Anak itu menggigit jari telunjuknya dua kali dan benar-benar terasa sakit) lalu menggendongnya. Dia ingat pesan Ai kalau Kairi sangat menyukai balok mainan dari ibunya, dicarinya di lemari kecil dan gagal menemukannya.
Sialan, dimana balok itu. Lagian kenapa mainan anak ini begitu banyak. Matanya menatap nanar ke tumpukan buku, lego (yang tidak mungkin dimainkan bayi—hadiah dari Hakase), seperangkat alat forensik pemula untuk anak umur 6 tahun (hadiah tak berguna—juga dari Hakase), jutaan boneka (oke, ini hiperbolis. Tapi entah kenapa Ran, Sonoko dan Heiji suka memberinya hadiah boneka binatang dengan berbagai bentuk dari kecil hingga sebesar beruang) dan… akhirnya Conan menemukan balok itu tertutup bayangan buku ilmu kedokteran tebal milik Ai. Conan berhenti sejenak, dilihatnya buku itu. Hari ini adalah operasi pertama Ai setelah dia melahirkan. Dia selalu melarangnya dengan alasan tidak ada yang menjaga Kairi, dan dia tau Ai sangat merindukan suasana di rumah sakit Beika. Ai menjadi asisten dokter bedah disana sekaligus ketua departemen riset dan sekarang sedang mengambil cuti. Walau dia yakin kalau Ai sebenarnya sanggup menjalani pekerjaannya dengan baik sekaligus ibu rumah tangga—tapi dia merasa kalau istrinya berhak istirahat. Dia benci menemukan istrinya sibuk setiap hari di rumah sakit sepanjang pernikahan mereka, dan dia ingin sekali-kali menjadi egois.
"Paaaa-MaMmmafkkg" suara Kairi membuyarkan pikirannya, Conan segera memberikan balok mainan itu pada Kairi, yang disambutnya dengan riang.
Conan menggendong Kairi dengan kasih sayang dan lima menit kemudian, dia merasakan ada yang basah di celananya, matanya terbelalak ketika menyadari kalau anaknya ngompol dengan puas.
Detektif itu hanya mengangkat alisnya menatap Kairi, dia lupa memakaikan popoknya. Setelah mengganti pakaiannya dan juga pakaian Kairi, dia menghabiskan waktu bermain dengannya.
Waktu tak terasa lewat dengan begitu cepat, Conan dalam hati mengakui kalau bermain dengan Kairi sangat menyenangkan, segera meletakkan Kairi kembali ke boksnya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makanannya. Conan senang karena Ai juga tak lupa menyiapkan makanan kesukaannya, nasi kari.
Sekarang Kairi duduk di stroller-nya sambil tertawa riang.
"Ayo… dimakan dong, Kairi. Masakan papa lebih enak dari masakan mama kok," bujuk Conan sambil menyuap bubur timnya, "dan kau tak boleh melompat-lompat." Alih-alih melompat, Kairi malah melempar sendok plastiknya dan mengenai wajah Conan dengan sukses.
Untung setelahnya Conan masih ingat petunjuk Ai dan dia tak lupa menepuk punggung Kairi untuk bersendawa setelah melalui perjuangan makan selama setengah jam.
Bagaimana Ai bisa melewati ini setiap hari ya? Conan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini pasti gen Ai yang menurun padanya. Dasar anak aktif dan susah diatur.
Setelah Kairi menikmati film kesukaannya selama satu jam (serial bebek kuning dengan tujuh anaknya), Conan membawanya untuk mandi. Di kamar mandinya yang luas, Conan menyiapkan air panas dan tak lupa menaruh bebek-bebek mungil yang terpajang dengan rapi di lemari kaca ke dalam air.
"Be-be-bebek," seru Kairi senang melihat bebek kesayangannya. Conan menangkat alisnya, "Kenapa kau hanya lancar mengatakan bebek, Kairi? Coba panggil Papa. Pa-Pa. Ayo, coba panggil Pa-Pa."
"Be-bek." Lalu Kairi tertawa gila-gilaan. Conan hanya mendengus. Yah.. anak ini seperti mamanya, selalu tak mau mendengarkan kata-kataku dan memelintirnya untuk kesenangannya sendiri.
Kali ini dia lengah dan tak menyadari kalau bebek kuning itu sekarang terlempar lalu mendarat ke hidungnya. Diikuti cipratan air lagi, membuat sekujur baju Conan basah sekarang.
"Hey," Conan menyeka wajahnya dan menatap Kairi dengan ekspresi antara kesal-marah-tapi-tak-tega-karena-dia-anakmu. Tawa Kairi yang nyaring membelah udara, dia sepertinya sangat senang.
Conan akhirnya ikut tertawa juga, dia mengangkat Kairi dari bathtub dan membungkusnya dengan handuk besar. Setelah mengoleskan berbagai macam minyak di tubuh Kairi, Conan sangat menyukai wanginya—bahkan mencium Kairi berulang kali, sekarang adalah waktu tidur anaknya.
Setelah meyakinkan kalau Kairi telah tidur dengan nyenyak di boksnya, Conan segera mandi dan makan dalam waktu kilat—secepat yang dia mampu. Dia siap dalam dua puluh menit. Dalam hati kekagumannya pada Ai bertambah. Bagaimana dia bisa mengatur waktunya di sela-sela mengasuh Kairi, sekaligus belajar menjadi dokter spesialis bedah, menjadi ibu rumah tangga dan mengurus Conan setiap hari. Ai juga menjadi partnernya yang selalu menjadi tempat dia berdiskusi segala macam hal, dari hal politik, ekonomi hingga kasusnya yang terbaru.
Ah, dia merindukan Ai. Padahal waktu baru lewat beberapa jam saja, dan dia menyadari kalau keberadaan istrinya sangat besar dalam kehidupannya.
.
.
.
"TRING… TRING…" suara handphone Conan berdesum riang. Dia segera menyambarnya, takut membangunkan Kairi.
"Halo?"
"Conan! Aku sedang di Tokyo sekarang." suara Heiji menggema dari speaker. Dia telah berhenti memanggil Kudo bertahun-tahun lalu. "Ada kasus mayat di teluk Beika, kau sedang ngapain?" tanyanya.
"Aku sedang sibuk, Heiji."
Detektif Osaka itu heran, "Loh, biasanya ketika kau mendengar kata kasus, kau akan terlonjak senang dan ingin tau segala detailnya. Uh, apa istrimu sedang bersamamu sekarang?" Heiji ingat kalau Conan sedang bersama istrinya, dia paling tak suka diganggu.
"Ai sedang berada di rumah sakit Beika."
"Apa? Ada apa dengan dia?"
"Tidak, Ai baik-baik saja. Dia sedang mengoperasi pasien kritis."
"Loh, apa cutinya sudah habis? Bukannya kau selalu mencari berbagai macam alasan supaya dia tetap di rumah menjaga Kairi?"
"HA-HA. Tidak, kali ini beda."
"Jadi…Conan?"
"Tidak. Kali ini tidak. Aku sedang menjaga Kairi dan aku tidak mungkin membawa bayi ke teluk Beika…"
Heiji tertawa ngakak, "Kupikir cuma istrimu yang bisa membuatmu tidak memikirkan kasus ternyata menjadi ayah telah mengubahmu."
"Oh ya? Jadi bagaimana dengan kau, Heiji? Apa kabar Daisuke?"
"Daisuke bersama Kazuha… di rumah."
"Berani bertaruh kalau dia melarangmu ke Tokyo kali ini."
"Tidak. Aku bilang padanya kalau kasus ini akan kuserahkan padamu tapi sepertinya tidak jadi. Sampai ketemu lagi, Conan." Conan bisa merasakan kalau Heiji sedang nyengir sambil mematikan handphonenya sekarang.
Well, mungkin dia dulu kesal kalau tidak bisa memecahkan kasus, tapi sekarang beda. Dipandangnya Kairi yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Wajahnya terlihat begitu tenang. Rambut Kairi yang hitam terlihat tak beraturan. Ai selalu mengatakan kalau wajah anaknya ini merupakan fotokopi dirinya. Rambut hitam, mata biru, bibir kecil dan sifatnya yang arogan menurun padanya. Hey, kenapa ada sifat arogan—aku sama sekali tidak arogan. Walau Conan tak mengatakannya terus terang, tapi dalam hatinya sebenarnya dia menginginkan warna bola mata Ai yang menurun pada anak-anak mereka. Bola mata istrinya itu sangat indah. Yah, mungkin nanti jika anak kedua mereka perempuan, dia bisa memiliki kecantikan istrinya. Juga kulitnya yang pucat seperti pualam—ah, walau cuma beberapa jam, Conan merindukan bagaimana jemarinya membelai kulit istrinya. Dia memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang. Masa kecil Conan dulu selalu ditinggal Yusaku dan Yukiko keliling dunia membuatnya sadar kalau hal terpenting dalam hidup adalah keluarga. Ai dan Kairi merupakan orang-orang terpenting dalam hidupnya. Lebih dari hidupnya sendiri.
Conan tertawa kecil, dia meregangkan tubuhnya dan berbaring sebentar di sofa. Sepanjang jam tidur Kairi di waktu sore hari, Conan menonton serial detektif di TV. Hatinya senang karena Ai mengingat semua hal kesukaanya, istrinya bahkan menyiapkan cemilan untuknya. Ai bahkan sering merekam episode yang terlewat kalau Conan sedang sibuk dengan kasusnya.
.
.
.
"Pe-pa-maaahh. Be-bek."
Conan terlonjak, dia segera menghambur ke boks Kairi. Disana anaknya telah bangun, begitu melihat papanya datang—dia berteriak gembira. Ternyata sudah jam 7 malam dan Conan segera sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Setelah memberikan Kairi bubur tim lagi dan ASI dari mamanya, Conan menghabiskan waktunya bermain dengan Kairi sambil menonton acara kesukaan anak itu di tv (lagi-lagi bebek dan keluarga besarnya. Conan lalu mencoba mengajarinya berbagai macam kata yang diakhiri dengan celetukan be-bek berulang kali.
"Kenapa kau suka sekali dengan bebek, Kairi?"
"Be-bek, asdrukfkrhglh"
"Pintar."
Kairi tertawa tergelak-gelak.
"Pa-bek-be-bek." Katanya lagi dengan nyaring. Perutnya sekarang kenyang, dan matanya mulai mengantuk lagi. Conan memperhatikan gerak-gerik Kairi dan segera menggendongnya menuju kamar tidur.
Walau mata Kairi sudah sipit dan berat menahan kantuk, tapi anak itu malah tidak tidur. Alih-alih tidur, Kairi malah menyebut 'bebek' berjuta-juta kali.
"Bagaimana kalau ayah menyanyikan lagu untukmu supaya tidur, Kairi?" tanya Conan ragu. Kairi melonjak senang karena diajak bicara.
"Tapi suara ayah sumbang, ha-ha." Conan tertawa nervous, dia ingat bagaimana reaksi Ai ketika dia menyanyikan lagu untuknya bertahun-tahun lalu. Tapi Kairi cuma bayi, mana tau soal sumbang atau tidaknya suaramu, Conan. Akhirnya Conan memilih mendengarkan suara hatinya sendiri.
Suara Conan menggema di kamar, dia menyanyikan lagu selamat tidur dengan penuh perasaan di samping boks Kairi dan ajaibnya dalam tiga puluh detik, anak itu terlelap dengan suksesnya. Mungkin karena sangking sumbangnya suaramu, anakmu memilih tidur daripada mendengarnya. Conan segera menghalau pikiran itu.
"Wah, Ai harus mendengar nyanyianku kalau dia tak bisa tidur suatu saat nanti," katanya dengan penuh kepuasan. Dan Ai yang sedang berada di sisi kota lain, bersin dengan tidak elitnya.
Setelah memperhatikan wajah Kairi yang begitu tenang dan merapikan selimutnya, entah kenapa Conan merasa ngantuk. Padahal biasanya dia selalu tidur larut malam. Dia segera membaringkan dirinya di ranjangnya dan terlelap begitu saja. Dia bahkan tak bangun ketika Ai pulang satu jam setelahnya.
Ai mendekati boks Kairi dan tersenyum melihat betapa nyenyaknya anak itu. Kemudian dialihkan pandangannya ke Conan yang juga sama nyenyaknya. Dia bungkuk mengecup dahi suaminya sambil menggumam pasti Conan merasa sangat lelah setelah seharian menjaga Kairi. Gerakannya membuat Conan terbangun, detektif itu segera menyambar pinggang Ai dan membiarkan istrinya jatuh ke dalam pelukannya. Dibenamkan hidungnya pada rambut Ai dan mencium aroma yang dirindukannya.
"Bagaimana operasinya, Ai?" bisiknya.
"Sukses. Kawamoto-san akan sehat seperti semula." Balas Ai sambil berbisik juga.
"Kau jenius, Ai." gumamnya lagi sambil mencuri kecupan kecil di leher, dagu dan akhirnya mencium bibir istrinya penuh-penuh.
"Kau ayah yang hebat, Conan…" puji Ai setelah ciuman panjang mereka, "jadi kau bisa menggantikanku menjaga Kairi setiap hari sekarang."
"Ai..." erang Conan.
Istrinya cuma nyengir.
"Just kidding, darling."
.
.
.
Fin.
A/N : Gw baru baca fic-fic gw yang lama dan menyadari kalau perbedaan gaya menulis gw sudah sangat berubah. Mudah-mudahan berubahnya ke arah yang lebih baik hehehe.
Thanks for reading.
Reviews bisa menambah motivasi author dalam menulis loh, ^_^
