Huaaaa….apa-apaan ini. Rencananya Sherry cuma pengen bikin one-shoot, kok malah jadi bersambung kaya gini sih..maafkan kegagalan Sherry deh, daripada Sherry ngomong gak jelas disini , mendingan minna-san baca and review ya…biar Sherry bisa terus belajar buat jadi author yang baik..
Semilir angin bertiup. Rukia hanya menghela nafas ia membutuhkan kepastian jika terus menerus digantung seperti ini, ia tak sanggup.
"Temui dia Rukia.."bisik Momo "Temui dan selesaikan semuanya…"
"Hanya diam tanpa melakukan apapun sangat menyedihkan bukan?"kata Shoko "Aku memang tak menyukai rambut jeruk itu. Tapi melihatmu tersenyum karenanya, membuat rasa itu sedikit terlupakan ."
A Day With Him
Dan disinilah ia dan kedua sahabatnya berada. Di danau kampus tempat Ichigo mengemban ilmu. Sejenak ia merasa ragu untuk menemui kekasihnya di sini, tapi desakan dari Momo dan Shoko pun tak bisa ia abaikan. "Daripada ambil resiko ia menghindar dengan alasan sibuk", ia teringat kata-kata Shoko tadi. "Bukankah lebih baik kau sendiri yang menemuinya?"
Ia sudah mengirimkan pesan kepada kekasih yang berselisih umur 5 tahun darinya itu bahwa ia akan menunggunya di dekat danau di kampusnya. Awalnya si rambut jeruk itu menolak, mengatakan bahwa ia masih sibuk dengan kuliahnya dan tak mungkin bisa menemuinya. Tapi, ia bukan seorang Kuchiki jika ia tidak bisa bersikap keras kepala. Hingga akhirnya kepala jeruk itu mengalah. Momo merangkul bahunya. Ia tersenyum "Kami tak akan jauh-jauh, Kia-chan. Cukup dekat agar bisa melihatmu, namun cukup jauh sehingga kami tak dapat mendengar isi pembicaraan kalian.."
"Sebaiknya jangan lama-lama..Aku tak suka bagaimana orang-orang disini menatap kita dengan pandangan anehnya. Terutama dari para lelaki…," Shoko menambahkan dengan suara berbisik.
Bagaimana tidak. 3 orang gadis, mengenakan seragam SMA, dan bukan sembarang sma. Tapi seragam Karakura Gakuen yang terkenal sebagai sekolah elite anak-anak pintar dan kaya, berada di lingkungan mahasiswa. Wajah mereka yang di atas rata-rata pun semakin menambah rasa penasaran mahasiswa yang melintas. Bahkan ada sebagian dari mereka yang bermaksud mendekati mereka dan mengajak kenalan.
Rukia hanya menganggukkan kepalanya dan duduk di pinggir danau, sementara dua orang itu berjalan menjauh, mencari tempat bagi mereka. Ia mengeluarkan ponselnya kembali, dan mulai mengetik pesan
Kau dimana?. Aku sudah di taman
Dan ia menantikan balasannya yang tak lama kemudian sampai
Sebentar lagi sampai. Tunggulah. Aku baru keluar kelas.
Rukia menyimpan ponselnya dan menekuk kedua kakinya, memandang lurus ke arah danau. Apapun akhirnya, ia sudah memutuskan. Ia takkan menyesal di kemudian hari. Ia harus tetap bersemangat. Demi dirinya sendiri dan demi orang-orang yang menyayanginya. Tapi sebelum itu, maukah Ichigo mengabulkan permintaannya?
Momo dan Shoko mengawasi sahabat mereka dengan raut wajah khawatir. Rukia terlihat seakan sudah siap menyerah dan pasrah akan apapun yang terjadi nantinya. Mereka mungkin tak menyukai Kurosaki Ichigo, kekasih Rukia, tapi pria itulah alasan mengapa sahabat mereka mampu tersenyum kembali setelah kematian Shiba Kaien, kakak sepupu kesayangan Rukia. Karena itu mereka mentolerir keberadaan Kurosaki di dekat mereka. Pandangan Shoko teralihkan pada sekelompok pemuda pemudi yang duduk dekat mereka. Mereka terdiri atas 6 orang. Pemandangan menyilaukan yang membuatnya iri dan kagum. Prianya tampan, walapun dua orang diantara mereka jelas-jelas memiliki rambut menyilaukan seperti si jeruk. Sedangkan wanitanya, selain memiliki paras cantik juga memiliki asset yang ehm..yang membuatnya langsung merasa minder. Sekarang ia mengerti bagaimana perasaan galau Rukia. Bersaing dengan mahasiswi di sini.
"Jeruk sudah datang tuh..," ucapan Momo membuatnya mengalihkan perhatiannya dari gadis berambut orange caramel yang sedang tertawa bersama rombongannya. Sekilas tadi ia merasa mendengar nama si jeruk meluncur dari mulut gadis itu. ia menggeleng dan mengawasi pemandangan tak jauh dari hadapan mereka. Namun matanya kembali menyipit saat lelaki berambut merah seperti nanas , berkata dengan lantang "Oi Inoue, kenapa kekasih jerukmu itu mendekati gadis itu?!"
Apa..yang..dia..bilang ..tadi? kekasih? Jeruk?
Shoko menoleh ke kanan kiri, mencari orang lain berambut jeruk di sekitar mereka yang sedang mendekati seorang gadis, dan tidak mendapatkan hasil apapun. Satu- satunya yang tersisa hanya..
Ia menatap pemandangan di hadapannya dan menggeleng. Tidak mungkin. Kurosaki Ichigo tak mungkin mengkhianati Rukia. Ia mengepalkan kedua tangannya. Ia menarik nafas dalam-dalam., dan menepuk bahu Momo."Aku mau kesana sebentar. Kau awasi mereka ya Momo-chan. Ada yang ingin kupastikan…,"
Momo mengernyit bingung, namun ia mengangguk. Matanya mengikuti kearah Shoko pergi, dan semakin heran saat mengetahui gadis berambut hitam sebahu itu pergi mendekati rombongan mahasiwa yang duduk tak jauh dari sana. Ia menghela nafas, dan kembali mengawasi Rukia
Yang diawasi hanya duduk tenang memandang danau. Ia sudah merasakan kehadiran Ichigo sejak ia berdiri di belakangnya. Namun ia tak akan mengatakan apapun, membiarkan pria itu mengacak rambutnya sebelum duduk disampingnya. Biasanya ia akan marah tiap kali, makhluk orange itu mengacak-acak rambutnya. Tapi, tidak kali ini. Kali ini , ia hanya diam dan merapikan kembali rambutnya. Kelakuan ini tentu saja tidak luput dari pengawasan Ichigo. Gadis disampingnya ini selalu memprotes jika ia melakukan itu, lalu kenapa hari ini ia diam saja.
"Maaf aku tiba-tiba mengajak bertemu..," Rukia berkata dengan pelan."kau selalu sibuk akhir-akhir ini.."
Ichigo mengernyit heran. Rukia yang ia kenal biasanya selalu berkata dengan nada protes setiap kali ia sibuk dengan kuliahnya ataupun urusannya, tapi kali ini , tak ada sedikitpun nada itu. malah Rukia terlihat tenang. Terlalu tenang, dan ia tak suka. Seakan-akan Rukia kembali memasang topeng Kuchiki di hadapannya. Seakan-akan mereka begitu jauh satu sama lain. "aku memang sibuk Rukia. Kelas dan membantu ayahku di klinik benar-benar menyita waktuku.."
"Bahkan untuk membalas smsku pun tak sempat ,Ichi?" kali ini Rukia menoleh memandangnya. Mata hazel bertemu dengan amethyst, dan ia mendadak merasa bersalah. Tapi lalu Rukia tersenyum "Sudahlah, besok hari minggu. Besok kita pergi jalan ya..?"
Ichigo mnenggaruk kepalanya. Ia sudah punya janji besok. "Aku mohon Ichi. Sehari saja. Besok. Kau luangkan waktumu denganku…'" dan ia mendapati dirinya menggangguk.
