Mark terlihat sedikit linglung dengan semua tugas kuliahnya. Proposal yang harus ia serahkan kepada dosen satu hari lagi begitu membuatnya pusing.. Untung saja proposal ini akan segera selesai. Mark sudah bosan terus berkencan dengan benda elektronik ini selama beberapa hari belakangan ini. Setelah ini Mark bisa berkencan dengan kekasih tercintanya Jinyoung. Membayangkannya saja membuat Mark bahagia.

.

.

"Mark" Jinyoung berteriak memanggil Mark, ketika matanya melihat mark sedang keluar dari perpustakaan. "Sudah selesai?"

"tentu saja, kau harus bangga mempunyai pacar aku Jie, bagaimana kalau setelah kuliahmu selesai kita jalan-jalan ke taman hiburan?"

Jinyoung mendesah kecewa. "Aku ingin pergi ke sana, sangat ingin, tapi aku sudah terlanjur ada janji dengan Wonpil, menggantarnya ke pusat perbelanjaan, dia ingin membelikan ibunya kado dan aku diminta menemaninya"

Mark sungguh tidak senang dengan laki-laki bernama Wonpil itu. Mark tau Wonpil mempunyai rasa lebih pada Jinyoung-nya, cara dia menatap Jinyoung bukan seprti tatapan kepada teman, tapi lebih. Hanya saja Jinyoung-nya tidak menyadari itu.

"Lebih baik kau batalkan, aku sudah lama tidak kencan dengan kekasihku yang manis ini, apa kau tega Jie? "

"Tapi apa itu tidak keterlaluan Mark, aku sudah akan berangkat, Wonpil sudah menungguku di gerbang depan?" Jinyoung tidak bohong tadi sebelum bertemu Mark dia berpisah dengan Wonpil, Jinyoung pergi ke ruang tata usaha dan Wonpil bilang dia akan mengambil kendaraan di parkiran dan menunggu di gerbang depan.

"Jika kau tak bisa dan lebih mementingkan temanmu itu…asiiih terserah kau Park Jinyoung".

Mark berjalan cepat meninggalkan Jinyoung di koridor dekat perpustakaan itu, tidak menoleh sama sekali. Meninggalkan Jinyoung membeku dengan bentakan Mark tadi.

.

.

"Wonpil-ah kado untuk eomma mu sudah kita dapat, apakah bisa aku pulang duluan?" Jinyoung tidak pulang tetepi akan menyusul Mark di apartemennya, Jinyoung akan minta maaf, Mark sangat marah tadi.

"kenapa terburu-buru Jinyoung?

"aku ada urusan jadi harus buru-buru, tapi taka pa kan?"

"baiklah, aku akan mengantarmu?"

"tidak…tidak…aku akan naik bus saja, terimakasih Wonpil-ah."

Di sinilah sekarang, Jinyoung berada di bus menuju rumah Mark. Diluar bus hujan sangat deras dan sialnya Jinyoung tidak membawa payung atau jas hujan. Padahal rumah Mark dan halte tidaklah dekat, butuh 15 menit dari halte menuju rumah Mark..

.

.

Jinyoung sampai di depan apartemen Mark dengan basah kuyup. Jinyoung memencet bel berulang ulang sebelum Mark membukanya. Jinyoung bersyukur setidaknya Mark membukakan pintu.

" ya ampun Jie, kenapa kau basah kuyup? Cepat masuk dan mandi."

Jinyoung tersenyum walaupun marah Mark tetap perhatian dengannya. Jinyoung harus berterima kasih dengan hujan.

Jinyoung di antar Mark sampai di depan toilet didalam kamarnya.

"cepat mandi, sebelum flu dan teman-temannya berada di badan mu Jie."

"Tapi Mark aku minta maaf, aku sudah salah, aku mohon maafkan aku"

"heii sayang aku sudah tidak marah, lihat sekarang, diluar hujan deras jika tadi kita tetap kencan maka kencan kita juga tidak akan berjalan lancer, sekarang kau harus cepat mandi, atau kau mau aku mandikan?"

"tidak, akan sangat lama jika kau memandikanku, terima kasih Mark, aku mencintaimu" Jinyoung mencium bibir mark sebelum menutup pintu kamar mandi.

.

.

Sepertinya jinyoung akan flu, terlihat dari setelah Jinyoung keluar dari toilet dia tak berhenti bersin. Dan dia merasa sangat kedinginan sekarang.

Mark yang berada di dekat Jinyoung segera menyadari jika Jinyoung-nya sepertinya sedang idak baik-baik saja. Mark menyentuh dahi Jinyoung dan benar saja, Jinyoung demam.

"sayang sebaiknya kau tidur dikamar, aku akan memesan bubur dan mengambilkan obat demam untukmu."

Jinyoung menurut dengan Mark, dia beranjak ke kamar Mark dan menggulung tubuhnya denagn selimut tebal milik Mark, tapi sepertinya masih kurang Jinyoung masih kedinginan.

Mark datang dengan membawa bubur, air putih dan obat penurun demam. Mark dengan telaten menyuapi Jinyoung-nya. Untunglah Jinyoung tidak susah makan walaupun sedang sakit. Mark akan beranjak pergi setelah selesaai member obat Jinyoung.

Tetapi Jinyoung memintanya menemani disini. Dan tentu saja Mark menurutinya. Mark tidur di samping Jinyoung, Jinyoung merapatkan tubuhnya pada Mark. Dirinya masih sangat kedinginan, dan tubuh Mark terasa hangat untuk Jinyoung.

Jinyoung memeluk Mark memasukkan tangannya didalam baju belakang Mark.

"Mark badan mu sangat hangat tapi aku masih sedikit kedinginan."

Dengan ide cemerlangnya Mark membuka bajunya, memberikan pelukan untuk Jinyoung dengan dada telanjangnya. Jinyoung yang masih kedinginan ikut membuka bajunya. Mereka berdua berpalukan, dan sama-sama telanjang dada.

Jinyoung yang memulainya. Mulai mencium Mark, melumat kecil bibir Mark. Mark tidak merespon awalnya. Tetapi hasrat didalam tubuhnya menyadarkan Mark. Mark melumat bibir Jinyoung lebih dalam.

Jinyoung merasakan gairah Mark yang bangkit, tidak hanya Mark tapi dirinya juga.

Tanggan Jinyoung menyentuh pipi Mark, dan Mark langsung memejamkan mata menempelkan tangan Jinyoung di pipinya.

"Mark aku ingin", gumaman Jinyoung.

Mata itu Mark terbuka bagaikan api yang menyala-nyala, "Kau sedang sakit sayang!"

Jinyoung tersenyum lalu merangkulkan lengannya ke leher Mark,

"Tidak apa-apa." Dan perkataan Jinyoung bagaikan mantra untuk Mark.

Mark menindih tubuh Jinyoung menopang badannya denagan satu tangan yang berada di samping Jinyoung. Melumat bibir manis Jinyoung lebih intens.

.

.

Ranjang berukuran sedang itu terus berdecit. Menunjukkan pergumulan yang terjadi di atasnya. Jinyoung meremas kedua lengan Mark, mendongakkan kepalanya, meraup udara sekuat-kuatnya seolah ia belum pernah menghirupnya. Mark memperlakukannya sangat lembut, Jinyoung mendesah pelan, Mark mendaratkan kecupan singkat di leher Jinyoung. Jinyoung kembali mengerang, kebanggan Mark yang tertanam di dalam tubuhnya sungguh membuatnya gila.

"Eunghhh… aaaaahh,, ahhh Jieeee~" Mark kembali menggerakkan pinggulnya, mencari titik terdalam yang membungkus hangat bagian tubuhnya.

Jinyoung hanya bisa mengerang untuk kesekian kalinya. Tubuhnya dan Mark sama-sama mengeluarkan peluh di udara dingin ini. Dan dengan hentakan junior Mark di dalam tubuhnya memberikan rasa nikmat itu terus menguasainya, membawanya terbang.

Jinyoung selalu merasakan sentuhan panas dan menggairahkan seperti ini, saat bersama Mark. Percintaan dengan Mark adalah salah satu hal yang paling indah dihidupnya. Mark selalu bisa membawanya tenggelam dalam mimpi indahnya, mimpi paling dahsyat yang pernah di alaminya.

Jinyoung kembali mendesah, pemuda itu semakin kuat merasuki tubuhnya Jinyoung ingin merasakan klimaksnya. Jinyoung menjerit, rasa nikmat itu datang menjalar hangat menyelimuti tubuh telanjangnya, dan juga menimbulkan efek remasan kuat pada kebanggan Mark yang tertanam di dalam tubuhnya.

Mark mendesah cairan spermanya ia keluarkan didalam tubuh Jinyoung. Mark menyembunyikan wajahnya di balik ceruk leher Jinyoung, mengambil nafas sejenak setelah proses orgasmenya. Mark mengecup kembali leher Jinyoung membisikkan sesuatu untuk Jinyoung.

"terimakasih sayang aku sangat mencintaimu"

.

aaaaaaaaaaaaaaaa...ini inspirasi dari pict Markjin yang nyempil Wonpil ehh ada sedikit ide

buat "Rym" yang uda minta epep maaf updatenya telat 2 jam ya, saya ketiduran dan pas kebangun langsung lanjut, semoda tidak mengecewakan

.

.

maafkan saya jika banyak typo, ini tidak sya edit.
utuk yang sudah baca harap untuk ripyu ya.

terimakasih