Chapter 2

.

.

.

Wonwoo sedang menyantap makan siangnya yang berupa nasi segitiga berisi ikan tuna, satu cup mi instan rasa keju dan juga satu karton susu pisang favoritnya. Saat itu merupakan jam tanggung, jam 1.30 siang dimana kebanyakan dari murid-murid sedang berada di kelas mereka untuk belajar. Dosen Wonwoo tidak datang hari itu, jadi ia memutuskan untuk makan di supermarket yang tepat berada di depan kampusnya.

Wonwoo sedang menyeruput susu pisangnya ketika ia mendengar seseorang menyapanya dan duduk tepat di depannnya.

Begitu melihat siapa yang berada di depannya, Wonwoo merasa susu pisang yang ia minum itu salah masuk ke saluran pernafasannya sehingga mengakibatkan ia tersedak.

Wonwoo pun terbatuk-batuk.

Lelaki yang duduk di depannya itu hanya tertawa melihat penderitaan yang baru saja dihadapi Wonwoo, sebelum ia bangun dari kursinya dan duduk di samping lelaki yang masih batuk-batuk itu.

"Apa kau butuh air putih?" Tanya lelaki itu sambil menepuk-nepuk punggung Wonwoo.

Wonwoo menggeleng kepalanya sebelum bertanya dengan nada jutek, "Apa yang kau lakukan disini?!"

Kenapa Wonwoo begitu jutek? Karena orang itu adalah Kim Mingyu, soulmatenya. Jadi itu penyebab Wonwoo kaget dan tersedak? Ya, itu merupakan salah satu faktor namun faktor lainnya adalah penampilan dari Kim Mingyu saat ini.

Seingat Wonwoo, Kim Mingyu memiliki rambut berwarna coklat karamel dengan poni yang menutupi jidatnya, namun yang ia lihat sekarang bukanlah Kim Mingyu yang kemarin! Kim Mingyu yang ada di depannya terlihat begitu berbeda, ia sangat tampan. Rambut yang berwarna biru abu-abu dan jidat yang terpampang dengan sangat jelas, matanya yang besar dengan lipatan mata yang dalam, hidung mancung yang bagai diukir dengan penuh perhatian, bibir yang seakan memanggil untuk dicium, dagu yang terlihat begitu tajam dan kokoh.

Terlalu mengagetkan.

"Jadi bagaimana menurutmu?" Tanya Mingyu.

"Apanya?" Tanya Wonwoo balik.

"Penampilanku tentu saja. Apa sudah sesuai standardmu?" Mingyu memberikan senyuman satu juta dolar yang tidak pernah gagal membuat orang-orang meleleh.

Wonwoo berpikir sejenak. Ia tidak boleh mengakui bahwa Mingyu benar-benar tampan. Tentu saja Wonwoo tidak bisa melakukan hal itu.

"Memangnya kalau seekor kera mencukur seluruh rambut yang ada pada tubuhnya dia bisa menjadi seorang manusia?"

Dan lagi, harga diri Mingyu terasa diinjak-injak bagai keset.

Wonwoo sudah siap untuk meninggalakan soulmatenya itu namun tentu saja Mingyu tidak akan membiarkannya begitu saja.

"Duduk"

Apa Mingyu baru saja menggunakan nada domnya lagi?!

"Memangnya aku anjingmu kau suruh duduk seperti itu?" Wonwoo mengerang dengan kesal namun tetap saja ia menuruti perkataan Mingyu.

"Apa?" Tanya Wonwoo dengan nada masih sangat ketus.

"Kau ini kenapa sulit diajak bicara sih?"

"Karena tidak ada yang perlu dibicarakan"

Mingyu terdiam. Ia benar-benar heran kenapa soulmatenya memiliki sifat yang keras seperti ini? Mengapa dia bersikap sangat sulit seperti ini?

"Aku benar-benar tidak paham denganmu"

Wonwoo memutar bola matanya. Ia ingin segera pergi dari tempat itu, ia tidak ingin ada satupun orang yang melihatnya sedang bersama Kim Mingyu seperti ini.

"Aku harus pergi, aku ada kelas" Wonwoo berbohong, "Lalu… aku sangat-sangat berharap kau tidak menggunakan nada dommu itu lagi untuk memerintahku seperti itu"

Kali ini, Mingyu merasa ia tidak bisa menahan soulmatenya untuk pergi. Mingyu memijat jidatnya, entah kenapa kepalanya agak terasa sedikit pusing. Tapi ia tidak terlalu memikirkannya, karena mungkin mereka dapat berbicara dilain waktu.

Tapi sepertinya itu agak sedikit mustahil…

Karena sudah 3 hari berlalu semenjak pertemuan mereka di supermarket itu, Juga sudah 3 hari berlalu semenjak sepasang soulmate yang sudah ditakdirkan ini melakukan permainan petak umpet.

Dari bersembunyi di kamar mandi, belakang pohon hingga bawah meja dosen, semua itu sudah Wonwoo lakukan hanya agar tidak bertemu dengan Kim Mingyu. Wonwoo juga cukup bersyukur karena sepertinya Mingyu belum tahu namanya, juga tidak berniat untuk bertanya ke teman-teman sekelas Wonwoo tentang keberadaannya.

Wonwoo sebenarnya cukup heran dengan kegigihan Mingyu yang terus menerus berusaha untuk menemukan Wonwoo. Dan sepertinya hari itu bukanlah hari baik Wonwoo karena lelaki dengan gigi taring seperti vampire itu akhirnya berhasil menemukannya yang sedang bersembunyi di atap gedung.

"Berhenti mengikutiku!"

"Kau yang berhenti menghindariku!"

Kim Mingyu sangat tidak percaya bahwa ia akan melakukan hal seperti ini dengan soulmatenya. Mengapa ia harus melakukan petak umpet seperti ini? Memangnya ada apa dengan dirinya sehingga soulmatenya ini benar-benar tidak menyukainya?!

"Kita harus bicara" Kata Mingyu setelah berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia sudah sangat menahan diri untuk tidak menggunakan nada domnya walau bagaimana frustrasinya ia dengan pasangannya ini.

"Kenapa?" Tanya Wonwoo.

"Kenapa?" Tanya Mingyu balik dengan nada sarkastik, "Kau harus menjelaskan kenapa kau kabur-kaburan seperti ini"

Wonwoo terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

"Sekarang katakan padaku apa aku begitu jelek dimatamu?"

"Ugh"

"Tentu saja tidak" Dengan yakin Kim Mingyu menjawab pertanyaannya sendiri.

"Lalu, apa aku pernah melakukan kesalahan padamu?"

"Tentu saja tidak juga" Mingyu kembali menjawab pertanyaannya sendiri.

"Bagaimana kau sangat yakin?" Tanya Wonwoo.

"Ok, coba katakan apa yang pernah aku lakukan sehingga kau kabur dariku seperti ini?" Tantang Mingyu sebelum ia kembali menjawab pertanyaannya sendiri dalam 2 detik, "Tidak ada kan?"

"Tunggu dulu! biarkan aku berpikir!"

Mingyu tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Apa soulmatenya ini sedang berusaha mengarang kesalahan yang Mingyu tidak pernah lakukan sebelumnya?!

"Jeon Wonwoo, mahasiswa semester 7 jurusan komunikasi masa, tinggal di daerah Gangnam dan merupakan anak tunggal"

Mata Wonwoo terbuka ketika ia mendengar apa yang baru saja Mingyu katakan. Darimana ia mendapat semua informasi tentang Wonwoo seperti itu?! Bagaimana mungkin?!

"Aku berusaha untuk tidak mencari tahu tentangmu sedikitpun pada awalnya, karena aku berpikir akan lebih baik jika kita mengenal satu sama lain dengan berbincang. Tapi setelah melihat kelakuanmu yang seperti ini tentu saja aku tidak bisa tinggal diam. Aku setidaknya perlu tahu sedikit tentangmu karena mungkin saja aku akan tahu alasan mengapa kau menolakku seperti ini!"

Wonwoo benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Semuanya terdengar begitu aneh dan lucu di telinganya. Kenapa Mingyu bersikap seperti ini? Bukankah Mingyu yang seharusnya pergi menjauh dari Wonwoo? Bukannya Mingyu yang selama ini tidak percaya dengan soulmate? Tapi mengapa Mingyu seakan menerima semua ini? Mengapa keadaannya malah membuat seperti Wonwoo yang begitu kejam?

Tidak mendapatkan jawaban apapun dari Wonwoo, Mingyu kemudian mengacak-acak rambutnya dengan kesal.

"Aku pikir kau memiliki seorang pacar makanya kau menolakku, tapi ternyata tidak"

"Aku tidak punya pacar!" Jawab Wonwoo dengan cepat ketika ia mendengar itu. Tentu saja Wonwoo tidak mempunyai pacar! Ia adalah salah satu orang yang setia menunggu soulmate terbaik yang sudah ditakdirkan untuknya, tapi apa yang ia dapat?

"Jadi apa masalahmu?" Nada Mingyu sudah meningkat. Ia terlihat begitu kesal dan bingung pada saat yang bersamaan.

Bagaimana Wonwoo harus menjawab semua ini? Jika ia mengatakan yang sejujurnya, apakah Mingyu akan menertawakan Wonwoo karena bersikap begitu kuno? Karena memang sepertinya pada jaman ini berpacaran dengan orang lain sebelum bertemu dengan soulmate kita adalah hal yang tidak begitu tabu dikalangan anak muda. Ya, Kim Mingyu akan berpikir bahwa Wonwoo sangatlah menyedihkan. Maka dari itu, Wonwoo memutuskan untuk tidak memberi tahu kebenarannya.

"Aku.. tidak menyukaimu"

"Lalu aku harus bagaimana?! Memangnya kau pikir ini semua kita yang memutuskan? Kalau aku dapat memutuskan soulamateku sendiri, maka tentu aku tidak akan memilih orang sepertimu"

Ouch. Itu benar-benar menyakitkan untuk didengar.

Wajah Mingyu memperlihatkan bahwa ia agak sedikit merasa bersalah karena mengatakan hal itu. Namun Wonwoo sendiri sudah menyakitinya, kan? Dengan menolaknya secara terang-terangan. Jadi ia harus bagaimana?

"Aku tidak peduli lagi. Kau dapat melakukan apapun yang kau suka"

Dengan begitu, Mingyu pergi meninggalkan Wonwoo sendirian di atap gedung.

Apa ini akhir dari segalanya? Apa ia akan benar-benar hidup sendiri sepanjang hidupnya? Tapi bukankah itu lebih baik daripada disakiti dikemudian hari oleh orang yang ia cintai?

Namun, apa sebenarnya yang menyebabkan Wonwoo sangat tidak menyukai kenyataan bahwa Mingyu adalah soulmate yang sudah ditakdirkan untuknya?

Wonwoo pernah membaca sebuah buku tentang soulmate ketika ia masih berada di bangku SMA, tepatnya 4 tahun yang lalu. Di dalam buku itu, banyak sekali pengetahuan tentang soulmate yang Wonwoo dapatkan, baik dari hubungan dinamis antara soulmate, sifat dasar dari dom dan sub juga sedikit penjelasan mengenai pasangan macam apa yang akan mereka dapatkan sebagai soulmate. Buku itu menjelaskan bahwa 98% orang di dunia mendapatkan soulmate yang sepadan dengan mereka. Pasangan yang ditakdirkan untukmu adalah orang yang akan menyempurnakan kehidupanmu dan mengisi kekuranganmu. Lalu, apa itu berarti hubungan soulmate itu layaknya sebuah magnet yang hanya akan menempel jika berhadapan dengan kutub yang berbeda? Apakah semua orang akan dipertemukan oleh pasangan yang sangat berbeda dengan dirinya?

Jawabannya adalah tidak.

Memang, pasangan yang sudah ditakdirkan untukmu dipercaya dapat melengkapi kehidupanmu, meningkatkan kebahagiaan dan menurunkan ketidakpuasan yang sebelumnya pernah kau rasakan. Itu semua karena soulmatemu akan mengubah dirimu menjadi versi yang lebih baik dari sebelumnya. Semua akan terlihat begitu indah dan membahagiakan. Namun, itu semua juga tergantung dari bagaimana kau menjalani kehidupanmu selama ini. Jika kau hidup sebagai seseorang yang baik, maka sudah dipastikan kau akan mendapat pasangan yang baik pula. Namun jika kau hidup penuh dengan kejahatan dan kebencian maka kau akan mendapatkan soulmate yang tidak jauh berbeda darimu. Ya, Dunia ini masih sangat adil.

Ilmu mengenai soulmate sendiri memang masih ditelusuri oleh para ahli, karena semakin berkembangnya jaman semakin pula ditemukan beberapa hal baru. Seperti halnya soulmate sesama jenis, hanya 3% dari populasi manusia di dunia ini yang mendapatkan pasangan sesama jenis. Pasangan sesama jenis pun juga baru pertama ada sekitar 150 tahun yang lalu. Juga, pada awalnya lak-laki dipastikan terlahir sebagai seorang dom dan wanita seorang sub, namun akhir-akhir ini juga sudah mulai banyak pasangan wanita dom dengan laki-laki sub.

Wonwoo pun bertanya-tanya apa mungkin ia akan menjadi penemuan baru karena memiliki soulmate yang tidak layak untuknya. Lelaki dengan rambut hitam legam dan mata tajam itu memang tidak seharusnya memandang rendah soulmatenya seperti itu. Tapi dengan apa yang sudah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, ia tidak tahu mengapa ia mendapatkan pasangan seperti Kim Mingyu.

Wonwoo pernah memergoki Mingyu sedang berciuman dengan seorang wanita dibelakang gedung jurusan komunikasi, jurusan yang ia ambil. Itu adalah pertama kalinya ia melihat Mingyu dan hal itulah yang membuat Wonwoo memiliki imej yang buruk tentangnya. Kim Mingyu merupakan murid semester 1, tapi lelaki dengan tinggi 186 cm itu sudah berciuman dengan seorang mahasiswi di hari pertamanya sebagai seorang mahasiswa.

Baiklah, Mungkin mereka memang sudah berpacaran dari dulu. Atau mungkin wanita itu adalah soulmatenya. Itu bisa saja terjadi, kan?

Tetapi dua hari setelah itu, Wonwoo melihat Mingyu dengan wanita lain. Wonwoo tahu betul wanita yang Mingyu cium kali ini berbeda dengan yang waktu itu, karena yang Mingyu cium kali ini merupakan teman sekelasnya yang bernama Sana. Gadis Jepang imut itu memang banyak yang menyukai, dan ia juga belum bertemu dengan soulmatenya.

Ada orang-orang yang akan menunggu soulmate mereka dengan setia namun ada juga orang-orang yang akan bermain-main sebelum bertemu dengan soulmate mereka.

Dan Wonwoo benar-benar tidak menyukai orang yang suka bermain-main seperti itu. Seperti Kim Mingyu.

Kenapa?

Keluarga Wonwoo sendiri merupakan keluarga yang dapat dibilang sangat rumit. Wonwoo itu terlahir karena sebuah ketidak sengajaan atau bisa dibilang kecerobohan?

Orang tua Wonwoo bukanlah sepasang soulmate. Pada awalnya mereka percaya bahwa mereka dapat melawan dunia dan saling mencintai satu sama lain terutama setelah hadirnya Wonwoo diantara mereka, namun tentu saja semua itu mustahil. Ketika Wonwoo berumur 2 tahun, ibunya bertemu dengan soulmatenya dan tak lama kemudian ayahnya pun bertemu dengan soulmatenya. Sejak saat itu semua menjadi kacau karena mereka akhirnya jatuh cinta pada soulmate mereka masing-masing. Mereka pun berpisah dan tidak ada satupun dari mereka yang mau mengurus Wonwoo karena tentu saja, ia mengingatkan mereka kepada kecerobohan yang telah mereka lakukan. Pada kenyataannya, walaupun mereka sudah mencintai soulmate mereka masing-masing, orang tua kandung Wonwoo tidak sepenuhnya bahagia dengan kehidupan mereka sekarang karena bayangan Wonwoo yang sepertinya terus mengikuti mereka.

Wonwoo kemudian diangkat anak oleh pasangan sesama jenis yang bernama Jung Yunho dan Kim Jaejoong ketika ia berumur 8 tahun. Hidupnya jauh lebih baik dan bahagia dengan keluarga barunya. Mereka merupakan pasangan yang lucu dan hangat, Wonwoo benar-benar berharap ia akan menjadi sepasang soulmate seperti orang tua angkatnya ini kelak namun semua impiannya hancur berkeping-keping ketika ia tahu siapa pasangan yang sudah dunia takdirkan untuknya itu.

Karena bukannya menjadi pasangan soulmate yang bahagia, ia mungkin saja akan dihantui oleh keberadaan seorang anak yang terlahir karena kecerobohan Kim Mingyu atau juga bisa saja Wonwoo akan diselingkuhi kelak. Tidak sedikit juga adanya perselingkuhan terjadi di dunia ini walaupun masing-masing sudah punya pasangan yang ditakdirkan.

Hal-hal seperti ini yang kemudian mengakibatkan Wonwoo takut dengan kenyataan bahwa soulmatenya adalah seorang Kim Mingyu.

.

.

.

"Ada apa Won? Apa makanannya tidak enak?"

Wonwoo menaikkan pandangannya dari semangkuk nasi yang dari tadi hanya ia mainkan selama kurang lebih 5 menit itu. Ia melihat dua pasang mata yang mengarah padanya dengan pandangan penuh kekhawatiran dan pertanyaan.

"Enak kok" Jawab Wonwoo dengan cepat. Tentu saja enak, mana mungkin makanan yang dibuat oleh Kim Jaejoong terasa tidak enak? Sejak ia berusia 8 tahun, makanan yang dibuat oleh Jaejoong adalah makanan yang paling enak yang pernah ia rasakan.

Yunho dan Jaejoong kemudian melihat kearah satu sama lainnya, cukup penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh anak angkat mereka ini. Wonwoo memang bukanlah seorang anak yang dapat membicarakan masalah yang ia sedang hadapi ataupun memperlihatkan emosinya dengan mudah namun kali ini agak sedikit berbeda.

"Hmm.. apa kau mau pencuci mulut setelah ini? Aku akan membawakannya kekamarmu nanti" Kata Jaejoong, mencoba untuk menyemangati Wonwoo yang terlihat seperti seorang anak yang tersesat.

"Aku…" Wonwoo berhenti sejenak sebelum ia melanjutkan, "bertemu dengan soulmateku"

"Omo!" Jaejoong terlihat begitu bersemangat. Matanya memancarkan cahaya. Yunho hanya menyeringai ketika mendengar pernyataan Wonwoo.

"Tapi dia playboy"

Mendengar itu senyuman yang ada pada wajah Yunho dan Jaejoong hilang dengan seketika. Mereka akhirnya menyadari mengapa Wonwoo malah terlihat kecewa dan sedih setelah bertemu dengan soulmatenya padahal biasanya orang-orang akan berbahagia setelah bertemu dengan soulmate mereka.

"Oh…"

Yunho dan Jaejoong tidak tahu harus berkata apa untuk menyemangati anak mereka itu. Karena yang mereka tahu, Wonwoo tidak peduli jika pasangannya itu jelek atau bodoh atau miskin yang terpenting adalah orang itu bukanlah seseorang yang suka bermain-main sebelum bertemu dengannya.

"Apa kau tahu dulu Jaejoong ini juga suka genit ke semua makhluk yang membutuhkan oksigen?"

Suara Yunho tiba-tiba memenuhi ruangan yang tadinya begitu sepi dan sunyi.

"Apa maksudmu genit ke semua makhluk yang butuh oksigen?!" Tanya Jaejoong dengan nada tidak terima.

"Termasuk anjing tetanggamu dan pohon dibelakang sekolah"

"Bagaimana mungkin aku genit ke anjing tetanggaku dan…. Pohon?!"

"Kau bahkan menggodai nenek-nenek di bus ketika sedang berangkat ke sekolah"

"Urgh.. Aku kan hanya bersikap baik!"

"Tapi kau mengedipkan mata ke nenek itu!"

"Tapi aku kan-"

"Cukup-cukup" Wonwoo akhirnya angkat bicara karena ia tahu jika ini terus berlanjut, bisa terjadi perang dunia ketiga.

"Jadi maksudku adalah… mungkin saja soulmatemu itu hanya orang yang genit dan iseng" Imbuh Yunho.

"Tapi aku pernah melihat dia berciuman dengan wanita. Juga, sudah menjadi rahasia umum kalau dia itu tidak percaya dengan soulmate"

Hening kembali menyapa ruangan itu.

"Apa kau tahu Jung Yunho ini dulu juga tidak percaya dengan soulmate?"

"Iya aku tidak percaya" Aku Yunho.

Ketika mendengar itu, Mata Wonwoo membesar. Tunggu dulu, bagaimana mungkin? Ia selalu berpikir bahwa kedua orang tuanya ini adalah orang-orang yang begitu percaya dan patuh dengan peraturan soulmate. Ia tidak pernah mendengar hal ini sebelumnya.

"Sebenarnya dulu aku juga pernah berpacaran dengan orang lain sebelum bertemu Jaejoong" Kata Yunho dengan santai.

"APA?!" Jaejoong dan Wonwoo sama-sama tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.

"Bagaimana mungkin aku baru mendengar ini?! Sudah berapa lama kita bersama?! Aku tidak percaya. Ini sungguh sebuah pengkhianatan! Kau bilang aku bergenit-genit ria kepada seekor anjing, nenek-nenek dan pohon tapi kau sendiri bahkan pernah berpacaran dengan orang lain?! WOW… W-O-W" Jaejoong menggelengkan kepalanya, ia benar-benar merasa dikhianati namun Kim Jaejoong tetaplah seorang Kim Jaejoong, lebay.

"Tapi lihat.. orang yang paling aku cintai di dunia ini sekarang tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah Kim Jaejoong seorang. Siapa itu Yeji? Siapa itu Jinah? Hanya ada Kim Jaejoong seorang"

"YEJI? JINAH? DUA ORANG HUH?!"

"Kita terlihat bahagia kan, nak?" Tanya Yunho dengan wajah yang terlihat bahagia.

Wonwoo hanya dapat mengangguk, tidak yakin kenapa ayah angkatnya ini terlihat begitu santai ketika pasangan disampingnya seakan siap untuk meledakan sebuah bom di rumah ini.

"Iyah" Jawab Jaejoong dengan wajah yang sama sekali tidak terlihat marah lagi.

"Kita bahagia sekarang" imbuh Jaejoong, "Jadi siapa yang peduli dengan masa lalunya? Yang penting kan masa kini bukan masa lalu"

Wonwoo benar-benar tidak mengerti dengan kedua orang tuanya itu. Mereka memang sepasang soulmate yang bahagia namun agak aneh.

"Hmm" Entah kenapa, Wonwoo merasa sedikit lega. Mungkin ia harus memberikan kesempatan kepada Mingyu. Mungkin ia tidak boleh memandang Mingyu dengan sebelah mata seperti itu. Wonwoo juga belum tahu tentang kebenarannya, kan? Bagaimana mungkin ia malah melakukan hal seperti itu kepada soulmatenya?

"Aku naik dulu" Kata Wonwoo sebelum ia berjalan kearah tangga.

"Baiklah, nanti aku bawakan cemilan keatas yah, kau kan belum makan" Kata Jaejoong. Ia tidak bisa memaksa Wonwoo untuk makan pada saat itu, tentu saja, maka dari itu membiarkan anaknya untuk berpikir merupakan pilihan yang tepat.

Ketika Yunho dan Jaejoong mendengar pintu kamar Wonwoo sudah tertutup, lelaki yang lebih tinggi segera bangun dari kursinya dan bersiap untuk kabur.

"Yah Jung Yunho! siapa itu Yeji dan Jinah?!"

"Aku hanya mengarang! Sungguh"

"Mengarang apanya?!"

"Maafkan aku! Aw! Aw!"

.

.

.

Wonwoo melihat keluar jendela. Langit begitu gelap dan lapangan yang biasanya penuh dengan orang yang berlalu-lalang kosong. Hujannya sangat deras. Wonwoo kemudian melarikan pandagannya kearah jam yang berada di depan kelas, 2 menit sebelum kelasnya berakhir. Wonwoo tidak membawa payung hari ini, ia tidak tahu bahwa hujan deras akan mengguyur kota Seoul. Ia tidak memiliki kegiatan klub dan pada awalnya ia juga berniat untuk segera pulang kerumah untuk menyelesaikan novel yang baru saja ia beli kemarin.

Apa ia lebih baik pergi ke perpustakaan?

Wonwoo hanya dapat melihat derasnya hujan di depannya. Satu langkah saja makan ia akan basah dari ujung kepala hingga kaki. Perpustakaan berada di seberang gedung komunikasi. Ia pun mulai mengkalkulasi di dalam otaknya. Jika ia dapat berlari sejauh 100 meter dalam 12 detik, maka ia akan sampai di perpustakaan dalam waktu sekitar 20 detik. 20 detik termasuk cukup lama, maka dipastikan Wonwoo akan basah kuyup.

Wonwoo hanya dapat berdiri di depan gedung komunikasi sambil berdoa, berharap bahwa hujannya akan segera reda. Ia benar-benar ingin segera pulang dan menyelesaikan novel yang ia baca!

Wonwoo tersentak ketika melihat sebuah payung disodorkan dihadapannya. Sebuah payung lipat berwarna merah. Wonwoo kemudian melihat kearah seseorang yang berada disampingnya itu.

Kim Mingyu?

Melihat Wonwoo yang hanya berdiam memandangi Mingyu dengan wajah kebingungan, Lelaki dengan rambut biru abu-abu itu akhirnya memtuskan untuk mendorong payung itu ke bahu Wonwoo dan melepaskannya begitu saja. Hal tersebut tentu membuat Wonwoo reflek untuk menangkap payung yang hampir jatuh ke lantai itu. Wonwoo ingin mengembalikan payung itu, namun Mingyu sudah pergi menerobos hujan sambil berlari kecil. Tasnya digunakan sebagai pelindung dari hujan, tapi tentu saja, hujan yang begitu deras pasti akan membuat seluruh tubuh Mingyu basah.

Wonwoo hanya dapat memandangi punggung Mingyu.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ini romance komedi kok *kalo ngga gagal*.. HAHAHA lanjutkah? Apakah chapternya cukup panjang atau terlalu panjang? hehe

Sedikit background cerita kenapa Wonwoo gasuka banget sama Mingyu yang suka main-main sama cewek. Jadi karena keluarga dia begitu makanya ya begitu hehehe

Tapi, kok Mingyunya aneh sih dia malah kayak nerima nasib gitu bukannya harusnya dia ngga percaya soulmate? Nanti yah tunggu chapter selanjutnya hehehe

Aku pingin banget jawabin review kalian satu-satu, tapi banyak banget yak _ 58 review dalam satu chapter bok.. ini aku jadi takut bakal mengecewakan kalian huhu semoga ngga kecewa yah! Hehehe