Disclaimmer

Kuroko no Basuke/黒子のバスケ © Fujimaki Tadatoshi

Schatz © Kina

ATTENTION : This story are purely fictitious (adapted from Johanna Lindsey's novel). All the characters appearing in this story are Fujimaki Tadatoshi (where some places and incidents are the products of the author's imagination or are used fictitious). Any resemblance to real persons, living or dead, is purely coincidental.


Perompak!

Tetsuya mendapatkan bukti tak terbatahkan bahwa perompak belumlah punah ketika salah satu dari mereka menjambak rambutnya untuk menariknya keluar dari peti tempatnya bersembunyi, menyeretnya keluar diiringi suara tawa dan teriakan penuh kemenangan. Lalu, ia dilemparkan ke dek dan jatuh tepat di bawah kaki perompak paling jelek di antara mereka semua, kapten mereka.

Pada saat itu, ia merasa takut, tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya padanya.

Namun, Tetsuya yakin sekali, apa pun itu pastilah mengerikan. Satu-satunya pikiran yang ada di otaknya saat ini adalah segera melompat ke tengah lautan lepas.

Pria yang menunduk untuk melihatnya memiliki lingkar mata hitam permanen dengan kepala plontos yang ia tutupi dengan topi bersudut tiga berhias bulu yang menggantung koyak, sepertinya patah di beberapa bagian. Seolah belum cukup aneh, pria itu juga mengenakan mantel satin berwarna hijau army dan dasi rimpel yang sepertinya berasal dari abad sebelumnya. Pakaian dengan kondisi semacam itu, mungkin juga berusia sama tuanya dengan tuannya.

Sebelum Tetsuya bisa bangkit dan merealisasikan keinginannya; kabur, pria itu berkata, "Aku Kapten Keith Shadis, siap melayanimu, Nona." Pria itu tertawa sambil sesekali mencuri satu sentuhan ringan pada dagu Tetsuya—yang sayangnya gagal didapatkan.

"Kau bisa menghilangkan ketakutanmu," tambah pria itu sambil tidak menyerah untuk menyentuhkan kulitnya yang kasar pada kulit yang lebih mulus. "Kau terlalu berharga untuk dilukai, nona manis."

Dengan gusar, Tetsuya mencoba memundurkan tubuhnya, "Berharga bagaimana? Dan lagi"—tangan sang kapten kembali ditepis tanpa gentar, "jangan panggil aku nona, aku lelaki tulen."

Si kapten kembali tertawa, saking gelinya ia bahkan memegangi perutnya yang terasa keram. "Seorang Omega yang cukup tangguh ternyata, HAHAHA—" menarik kerah bajunya, Tetsuya dihadapkan langsung pada ketakutan yang sesungguhnya dari pria beraroma alcohol itu. "kau sangat menarik untuk kujadikan sandera, bocah."

Tetsuya mulai menduga, mereka akan meminta uang tebusan untuk kebebasannya bersama Kagami dari keluarganya. Tapi, sang kapten tidak pernah menanyakan apakah ia memiliki keluarga atau tidak, karena sepertinya pria itu hanya menyimpulkan ia masih memilikinya.

Jika sudah begitu, berarti ia harus mengatakan kepada pria-tua-jelek itu kepada siapa ia harus dihubungi untuk dimintai uang tebusan.

Namun bagaimana Tetsuya harus memberitahunya, jika dirinya sendiri saja tidak mengetahui dengan pasti di mana keberadaan perompak bernama Ackerman Levi saat ini.

mungkin, hanya Tuhan dan lautan yang mengetahuinya.

.

.

Pada hari keenam Tetsuya disandera, ada dua buah kapal yang tiba mengunjungi. Ruang utama seketika dipenuhi dengan wajah-wajah asing kru kapal, dan situasi tersebut menambah kesan tidak nyaman pada pondok di pulau terpencil yang sudah sepekan mereka singgahi.

Para awak baru itu datang dengan aura yang tidak ramah—berbahaya lebih tepatnya. Beberapa bahkan menatapnya dengan dingin, dan ada satu-dua orang kapten yang sudah memberikan sinyal ketertarikan padanya hingga menatapnya sangat lama, dengan seksama, membuatnya tidak ragu bahwa mereka berniat menerkamnya hidup-hidup.

Salah satu kapten berambut blonde itu menghampirinya dengan dikawal seorang pria yang lebih tinggi dari si kapten. Tetsuya menduga, pria tan yang berjalan hampir selalu di belakang pria pirang itu pastilah belum pernah mengenal benda bernama sisir; melihat, hanya ada beberapa jalur kutu yang di bentuk pada rambutnya.

Tetsuya mendengar orang-orang memanggil pria bertato itu dengan nama Nash Gold Jr.

Meskipun kebanyakan dari mereka; para perompak, menggunakan nama-nama samaran atau berpura-pura menjadi orang berkebangsaan lain, tapi ia yakin Nash adalah pengecualian. Pria itu sepertinya bukan tipikal yang bertele-tele, dan memiliki kebanggaan berlebih untuk menjadi dirinya sendiri. Khas sekali orang berdarah Amerika.

Harus diakui, Nash; dengan rambut pirang, postur tubuh ideal yang dimilikinya memberikan aura tersendiri yang cukup untuk memikat beberapa Omega sekaligus dalam satu waktu, namun.. mata dengan kilatan kejam yang terpancar itu agaknya merusak kesan tampannya—menurut penilaian Tetsuya.

Ada aura jahat yang keluar dari pria itu, dan Tetsuya bukanlah satu-satunya yang menyadarinya. Pria lain yang dilaluinya menyingkir secara teratur, membukakan jalannya menuju pemuda manis berdiri. Mata emerald Nash yang dingin mematut azure Tetsuya sampai ia nyaris terkena asma dadakan akibat menahan pheromone yang begitu kental menguar dari tubuh sang kapten kapal Jabberwock.

Ketahuilah, Tetsuya meninggalkan Jepang tanpa sedikit pun pengetahuan tentang hasrat kaum Alpha. Ibunya tidak pernah menjelaskan apa yang harus dilakukannya setelah bertemu mate dan menikah nanti. Eren mungkin berniat akan mulai memberinya pembelajaran tersebut, setelah anaknya itu sudah dirasa cukup umur dan matang sebagai seorang Omega dewasa.

Memiliki pengalaman diasuh oleh seorang wali 'mesum', beberapa teman seperjalanan di kapal yang ia tumpangi, agaknya memberikan sedikit wawasan pada Tetsuya mengenai beberapa jenis pria daripada perompak ini.

Mereka sama sekali tidak memperhalus bahasa mereka, ketika ia berada di sekitar, dan para perompak itu senang sekali mengumbar petualangan seksual yang mereka alami. Jadi, ia pun tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk sekedar memahami apa motif si iblis pirang Nash Gold Jr. ketika pria itu mulai mencondongkan tubuh ke arahnya seraya berkata, "Aku akan membelimu, berapapun. Setelah itu.." mata itu menelisik dari ujung kaki hingga kembali pada mata birunya. "terserah padaku apa yang akan kulakukan terhadapmu."

Ia berharap mendadak dungu, tidak mengerti apa yang tersirat dalam pernyataan itu, tapi kenyataannya ia sangatmengerti.

Apakah Kapten Keith Shadis peduli darimana uang penebusannya berasal? Apakah ia berani menjanjikan sejumlah uang yang lebih besar dari yang mungkin ditawarkan Nash?

Kabur.

Hanya itu satu-satunya cara yang terpikir olehnya untuk terhindar dari cengkeraman Nash yang berniat 'membeli'nya.

Namun, sekalipun ia berhasil menyelinap keluar dari pondok ini, tidak ada tempat baginya untuk melarikan diri. Tidak ada jalan keluar untuk pergi dari pulau tak berpenghuni ini kecuali bersama kapal dengan beberapa awak kapal—yang kemungkinan kecil untuk bisa ia tumbangi.

Pesimis kembali datang, secara insting ia tahu bahwa dirinya akan mengalami luka serius, jika Nash berhasil memilikinya.

Nash pun mulai tidak sabar menunggu kedatangan Kapten Keith untuk memulai kesepakatan jual-beli itu. Tanpa segan, pria itu pun mendudukan diri pada meja yang berada di samping Tetsuya. Kecemasan melanda, membuatnya betah berlama mematut pandangan pada sepasang kakinya yang tidak beralas.

"Kenapa kau tidak melihat ke arahku, baby? Para Omega sepertimu dipenuhi harga diri yang terlalu tinggi. Kau tidak akan memilikinya lagi, begitu aku selesai bernegosiasi dengan kaptenmu yang maruk itu—hey, look at me!"

Tetsuya berusaha menghindari dari sentuhan tangan sang kapten, ketika justru tubuhnya bertubrukan dengan tubuh penuh otot milik Jason Silver yang menahannya untuk kabur.

"Kumohon, pergilah." Pinta Tetsuya yang lantas dihadiahi gelak tawa meremeh Nash.

"Wow, siapa yang sangka wajah manis begitu berani menitahku? Sungguh santunnya perkataanmu." Sebotol bir yang menganggur dicekik untuk diteguk setengah isinya, Nash kembali mengobservasi sosok manis yang masih berdiri tangguh di hadapannya. "aku sedang berpikir berapa lama sikap itu akan bertahan setelah aku menjadikanmu hewan peliharaanku. Apakah kau akan menjadi hewan yang jinak, babe—atau.. haruskah aku menghukummu terlebih dahulu?"

Kini Nash berdiri, mensejajarkan wajahnya. Tidak ada penolakan lagi yang dilakukan Tetsuya ketika dagunya diangkat oleh Nash. "Kau sudah melihat apa yang sanggup kulakukan, tapi kau tidak perlu mengkhawatirkan kulit lembut khas bangsawanmu itu. Aku tidak akan pernah mengurangi kecantikanmu, karena ada acara lain untuk melatih hewan peliharaan…"

Nash terus mengancam, dengan terus menjaga hasratnya untuk tidak sembarangan menyentuh buruannya.

Meski demikian, tidak dipungkiri tangan Nash sudah sejak tadi gatal ingin melakukan yang lebih.

"You are mine."

.

.

Pagi hari, dengan kantung mata yang menyedihkan, Tetsuya melihat Kapten Keith datang bersama dengan.. entahlah, pria itu mungkin tidak cukup cakap untuk menyandang posisi serupa Keith dan Nash; bukan dikarenakan tinggi badannya yang memprihatinkan—sama dengan Tetsuya. namun, entah mengapa ada rasa yang familiar dari sosok itu.

Kedua pria itu memasuki gerbang dengan gelak tawa yang dilemparkan pria berpostur lebih rendah di sana. Dan ketika Tetsuya—secara tidak sadar, mengamati pria itu, ia lansung mengalihkan atensi sepenuhnya pada Tetsuya. menghentikan langkah dan menatapnya.

Menyandarkan lengan di sebelah bahu Keith, si pria berujar penawaran untuk membelinya.

Nash yang kebetulan tidak berada di sana untuk melawannya, membuat semuanya menjadi lebih mudah bagi si pria dalam bernegosiasi kepada Kapten Keith.

Dan, Kapten Keith sepertinya tidak peduli siapa yang akan membayar tebusannya—persis, seperti yang diduganya.

Ia melihat pria botak itu mengangkat bahunya sebelum kedua pria itu berjabat tangan sesaat setelah sekatung emas terlempar ke tangan sang kapten.

.

.

Tetsuya merasa syok. Semua terjadi dengan begitu cepat. Baru setelahnya ia tahu bahwa pria itu adalah perantara. Seorang suruhan bernama Armin yang tidak asing baginya. Pria dengan keahlian komunikasi, membuat kesepakatan terasa bagai membalik telapak tangan itu, serta kejeniusannya dalam penyamaran. Tetsuya hampir tidak mengenalinya..

"Angin apa yang membawamu ke sini, Tetsuya, dan di mana Eren?"

Kapten dari kapal berlogo sepasang sayap itu pun segera membawanya keluar dari pondok, mengangkat layar untuk memulai perjalanannya kembali. Namun sebelum hal itu terjadi, Tetsuya mencoba memohonnya untuk sedikit menunda dan menjelaskan bahwa temannya juga harus diselamatkan. Salah satu awak kapal sang kapten dikirim kembali untuk menjemput Kagami Taiga.

Ia memiliki ribuan pertanyaan untuk kapten tersebut, tapi.. semua itu terlupakan saat ia kembali diingatkan tentang kehilangan mendadak yang dialaminya.

"Mama sudah meninggal, Papa. Itu sebabnya aku meninggalkan Jepang." Sesak, Tetsuya tidak mampu menahan air matanya lebih lama lagi. "Aku datang mencarimu, untuk tinggal bersamamu,"

Levi merentangkan kedua tangannya, dan Tetsuya tidak menyiakan sambutan hangat itu.

"Tapi tidak di pulau ini, jika kau tidak keberatan." Tambahnya dengan tegas.

"Tentu Tetsuya, ikutlah bersamaku selama yang kau mau." Tetsuya yang masih terisak dalam dekapan, hanya mampu mengangguk sebagai jawabannya.

Armin yang tidak sadar ikut menitikkan cairan bening pada mata dan hidungnya, secara bersama, dengan awak kapal lain yang menyaksikan adegan haru itu pun, memberikan sambutannya pada kru baru mereka.

.

"Willkommen zu den Die Flügeln der Freiheit.."

.

.

.

つづく(?)


[Tangerang, 12/9/2018 : 12.45 AM)

a/n: satu update-an sebelum Hiatus di Oktober (perhaps..)

* "Willkommen zu den Die Flügeln der Freiheit.." (Selamat datang di Sayap Kebebasan..)

.

Playlist ::

1. Charlie Puth – LA Girls

2. Yoshiki ft. Hyde – Red Swan

.

.

-Kin