"Mengakulah Sasuke!" Chapter2

Disclaimer: Naruto punya Masashi Kishimoto

Warning: OOC, Typos, AU. Don't like? Don't read.

Happy Reading

Sasuke memandangi bingkisan kecil bewarna ungu muda didepannya. Tadi siang setelah mengantar hinata pulang sasuke tak sengaja melewati toko pernak pernik didaerah itu dan memasukinya. Ia tidak tau apa yang merasuki pikirannya hingga keluar dari toko tersebut dengan membawa bingkisan kecil berisi jam weker berbentuk kepala kelinci yang imut—berharap akan diletakkan dimeja belajar sang gadis. Sasuke ingin memberikannya kepada hinata tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Sasuke masih berpikir, terlalu fokus hingga ia tak menyadari Itachi yang mengintip—atau lebih tepatnya memeperhatikan Sasuke dari sela sela pintu kamarnya yang tidak terkunci.

.

.

.

Sasuke menjadi orang pertama yang muncul diruang makan, menurut rencana, hari ini ia akan memberikan kado yang telah dibelinya untuk Hinata, tapi setelah tidak menemukan satu cara pun yang pas untuk memberikan langsung Sasuke akhirnya memutuskan untuk menaruh kado itu secara diam diam dimeja Hinata, tentunya ia harus datang kesekolah sepagi mungkin agar tidak ada yang melihatnya.

Sasuke sedang menyeruput teh saat Itachi bergabung dengannya. Sasuke meliriknya sebentar, merasa heran. Itachi yang biasanya selalu turun lewat pukul 7.00—orang paling terakhir sarapan, kini duduk ini denganya dimeja makan.

"pastilah hal yang penting jika itu membuatmu turun sepagi ini" Sasuke berujar tanpa mengalihkan pandangannya

"Hmm.. semua yang menyangkut adikku adalah hal penting" Itachi menarik kursi lalu mendudukinya. Sasuke menoleh kearah lelaki berkuncir itu sebentar, menatapnya seolah meminta penjelasan dari kata kata itachi barusan—dia tidak mengerti. "Pastinya ada hal penting juga kalau pagi pagi begini kau sudah menyelesaikan sarapanmu" Lanjut Itachi

Sasuke tak menjawab, ia masih tak mengerti dengan 'hal penting' yang dimaksud sang kakak kepadanya.

"Hai..hai.. Langsung saja, siapa gadis yang kau sukai itu?" Tanya Itachi to the point setelah melihat raut wajah adiknya yang seolah menunjukkan Aku-tidak-mengerti-apa-yang-kau-bicarakan-itu

"Uhuukk!" Sasuke menyemburkan teh yang ia minum ketika Itachi menyelesaikan pertanyaannya. Itachi terkikik geli.

"D-dari mana kau tau?!" Sasuke menatap kakaknya tidak percaya.

"Kau harus menutup pintu kamarmu dengan benar jika ingin privasimu aman. Hahaaha. Tapi tidak apa, hanya aku yang melihat kau tersenyum senyum memandang kado ungu itu"

Dengan wajah syok, Sasuke buru buru bangun dari kursinya dan siap siap pergi sekolah, ia tidak mau Itachi bertanya lebih lanjut tentang hal itu—Sasuke malu, padahal dalam bayangannya, ia ingin memperkenalkan Hinata pada keluarganya saat mereka sudah resmi berpacaran—mengingat ia belum pernah menjalin hubungan spesial dengan seorang gadis pun. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi karena Itachi sudah mengetahui hal itu lebih dahulu.

"Hei Otoutou, bersihkan dulu noda teh dibajumu sebelum berangkat sekolah, bisa bisa gadis yang kau sukai berpikir kalau kau itu mempunyai kebiasaan makan seperti anak TK" Itachi tersenyum senyum melihat tingkah adiknya. Sasuke segera menyambar napkin disebelah piringnya dan membersihkan sisa sisa noda teh sambil berjalan, setelah itu ia melemparkan napkin itu kesembarang tempat, melihat itu, Mikoto yang kebetulan sedang duduk diruang keluarga menggeleng gelengkan kepalanya.

.

.

.

Ponsel Sakura berdering saat ia sedang bersiap turun untuk sarapan.

"Moshi moshi" Jawabnya

"Ohayou! Sakura, bisakah kau pergi sekolah sekarang? Sasuke sudah pergi duluan, jadi aku minta tolong padamu untuk mengikutinya, pasti ada hal yang ingin dia lakukan" Tanpa ba bi bu Itachi langsung kepokok permasalan

"H-hai. Aku akan mengikutinya" Sakura yang sedikit kaget segera menyetujui permintaan Itachi

"aaa! Nanti sepulang sekolah aku akan menraktirmu makan siang ya! kau pasti sekarang belum sarapan kan? Gomen ne merepotkan mu"

"Daijoubu Itachi-Nii" Jawab sakura. Saat ia mengintip melalui jendela kamar, Sasuke tepat melewati depan rumahnya

"Ah syukurlah kalau begitu, Ja. Ki o tsukete kudasai" Itachi mematikan sambungan teleponnya. Entah kenapa kali ini ia merasa harus mencampuri urusan adik semata wayangnya.

.

.

.

Sakura yang duduk meringkuk dibalik meja paling belakang segera menundukkan kepalanya lebih dalam lagi saat seseorang memasuki kelas. Ia melihat Sasuke berhenti dimeja sahabatnya itu lalu melihat kekanan dan kekiri untuk memastikan tidak ada orang didalam kelas selain dia kemudian meletakkan sebuah bingkisan ditempat duduk Hinata. Setelah itu Sasuke segera berjalan keluar dengan langkah tergesa tanpa meletakkan tasnya terlebih dahulu. Keadaaan kelas kembali sepi, Setelah dirasa aman, Sakura keluar dari persembunyiannya dan menuju meja Hinata untuk melihat bingkisan yang diletakkan Sasuke, lalu ia mengeluarkan ponsel dan mengetik sebuah nomor kontak. Terdengar nada sambung 2 kali

"Halo, Itachi-Nii.. Sasuke meletakkan begitu saja bingkisannya dimeja Hinata, hahaa kurasa dia tidak berani memberikanya secara langsung" Sakura berbicara dengan Itachi lewat telepon.

"hmm, dia terlalu malu untuk menyatakan perasaannya. Bagaimana dia bisa punya pacar.. Sakura-chan, aku minta bantuan mu dan Naruto ya. sekali ini tidak apa jika kalian ikut campur urusan Sasuke. Buat dia bisa berpacaran dengan gadis yang dia suka itu, siapa namanya... ah Hinata. Nanti kalian akan kutraktir makan ramen sepuasnya.."

"Naruto beruntung sekali kalau hadiah dari Itachi-Nii makan ramen sepuasnya" Sakura menggerutu.

"Haahahahahaa. Aku akan traktir dimana saja tempat yang kalian mau, Sakura-Chan" Itachi tertawa terbahak, dibanding adiknya sendiri, Sakura atau Naruto selalu bisa membuatnya tertawa. Tapi walaupun begitu Sasuke lah yang paling ia sayangi.

"Nah, itu lebih bagus. Akan kukabari lagi jika ada informasi selanjutnya.. Ja Itachi-Nii."

"Ja. Mata ne" Itachi menekan tombol merah untuk memutuskan sambungan teleponnya.

Sakura berjalan menuju tempat duduknya, keadaan kelas yang masih sepi membuatnya memiliki waktu untuk mengulas kembali pelajaran kimia yang akan dipelajari hari ini. Sesekali ia mengecek ponselnya—jikalau ada pesan masuk dari Naruto. Hari ini Sakura tidak berangkat bersama Naruto karena mendapat mandat dadakan dari Itachi.

"Yo Sakura-chan!" Terlihat si Rambut Durian memasuki kelas

"Kau lama sekali. Dasar pemalas" Sakura menutup buku Kimianya dan mulai berbincang dengan Naruto.

"Hei hei.. padahal ini hari tercepat aku datang kesekolah, minimal beri aku selamat" ucap Naruto sambil berjalan kearah Sakura. Mendengar kata kata teman kuningnya itu, Sakura hanya bisa mendengus.

"Hei, tadi Itachi-Nii telepon, kita harus membantu Sasuke" Sakura menyampaikan hasil dari percakapannya dengan Itachi

"Membantu Sasuke? Mendapatkan Hinata maksudmu?"

"Un! Lihat lah Sasuke, walaupun banyak perempuan yang menyatakan cinta padanya, tapi itu tidak membuat dia berani megatakan perasaannya kepada Hinata. Contohnya itu" Sakura menunjuk bingkisan yang terletak diatas meja Hinata, Naruto mengangguk angguk, ia tahu kalau itu dari Sasuke. Warna dan bentuk bingkisannya sama dengan yang naruto lihat semalam saat Sasuke keluar dari toko pernak pernik itu.

"Hai..Hai.. aku mengerti sekarang, dia datang pagi pagi hanya karena ingin meletakkan itu saja, dasar Teme... apa kau sudah ada rencana, Sakura-Chan?"

"Hmm untuk sekarang kita ikuti saja dulu perkembangannya, kalau tidak ada kemajuan sampai liburan musim panas minggu depan, baru kita susun rencana. Bagaimana?" Sakura menjelaskan rencananya yang sudah ia pikirkan tadi, meminta persetujuan Naruto.

"Aku serahkan padamu Sakura-Chan, beritahu saja apa hal yang harus aku lakukan."

Sakura menjentikkan jarinya tanda setuju.

"aaa ngomong ngomong dimana Sasuke?"

"Wakaranai. Mungkin diperpustakaan."

.

.

.

Benar kata Sakura, Sasuke sedang berada diperpustakaan, terlihat disana lelaki berambut raven tersebut sedang membaca novel Sherlock Holmes yang akhir akhir ini menjadi bacaan favorite nya. Berterimakasihlah pada Hinata, yang membuat dia memasuki perpustakaan dan menemukan fiksi sebagus ini. Sudah sekitar setengah jam Sasuke disana, ia kembali melirik arlojinya, 20 menit lagi bell akan berbunyi, sepertinya ia harus segera bersiap meninggalkan perpustakaan, tapi entah kenapa dirinya begitu enggan untuk keluar dari tempat ini, Sasuke belum siap, sangat belum siap untuk melihat Hinata pagi ini, dadanya bergemuruh. Oh jangan tanyakan kenapa, bingkisan yang ia letakkan diatas meja Hinata lah penyebabnya. Well ini adalah salah satu fakta yang terungkap dari seorang Uchiha Sasuke, selama ini sosoknya dikenal begitu misterius, cool dan selalu membuat para gadis terpesona, ternyata memiliki sifat pemalu yang tergolong akut terhadap gadis yang dia sukai.

Sasuke akhirnya sampai depan dikelas setelah melewati koridor panjang sekolah yang menghubungkan antara perpustakaan dan kelasnya, selama perjalanan, ia banyak mendapatkan ucapan selamat pagi dari para fan girlsnya yang tidak bosan bosan menyapa lelaki tersebut setiap pagi. Mata onyxnya memperhatikan keadaan sekitar, tertangkap olehnya, Sakura dan Naruto sedang berbincang bincang ditempat duduk Sakura. Ia kembali mengedarkan pandangannya, kali ini matanya menangkap sosok Hinata yang sedang serius membaca buku. Sasuke memasuki kelasnya, melewati hinata yang duduk paling depan, dadanya kembali bergemuruh ia bertanya tanya dalam hati, apakah Hinata telah menerima kado darinya? Ya... walaupun Hinata takkan tau kalau itu dari Sasuke, Tapi kenapa dia tenang tenang saja? Tidak seperti perempuan yang lain jika mendapat kado misterius pasti akan meceritakan dengan heboh kepada teman temannya.

"Hei Teme! Darimana saja kau? Kenapa baru datang?" Naruto yang menyadari kehadiran Sasuke segara melambaikan tangan—isyarat agar mendekat kearahnya

Sasuke menarik kursi duduknya yang tepat dibelakang Sakura—deretan ke 4 dari depan, ia tak langsung menjawab pertanyaan Naruto, otaknya masih mencari cari alasan yang tepat, fakta lainnya dari seorang Uchiha Sasuke, ia tidak terlalu pandai beralasan dan berkata bohong.

"Tadi saat kami menjemputmu, ibumu bilang kau sudah berangkat, tapi kenapa kau baru tiba disekolah sekarang?" Sakura ikut bertanya dengan sedikit berbohong. Tangannya menyikut Naruto yang duduk disampingnya. Naruto mengangguk tanda mengerti.

"Aku ada urusan disuatu tempat" Lagi lagi Sasuke tidak menemukan jawaban yang pas. Sakura dan Naruto menatapnya dengan pandangan yang susah diartikan, membuatnya sedikit tersudut. Tapi untunglah, keadaan yang menurutnya tidak menguntungkan itu berakhir saat Iruka-Sensei masuk kekelas. Dan pelajaran Kimia pun dimulai.

.

.

.

Besok adalah hari terakhir sekolah sebelum liburan musin panas dimulai. Naruto dan Sakura yang sedang duduk dikedai Ramen Pak Teuchi terlihat gusar. Mereka sedang memikirkan gimana caranya agar Sasuke menyatakan perasaannya pada Hinata. Keduanya tak habis pikir bagaimana bisa Sasuke melakukan hal hal ajaib selama hampir seminggu ini secara tidak sengaja, well hal hal ajaib yang dikatakan disini maksudnya biasa saja jika dilakukan murid lainnya, tetapi tidak biasa jika dilakukan oleh Sasuke yang-kalian-tau-sendiri-betapa-cool-dan-cueknya-di a, sehingga jarang melakukan hal hal bodoh

Seperti kejadian 4 hari yang lalu saat pelajaran olahraga...

Sasuke sedang mengoper bola saat Hinata dan Tenten melewati lapangan basket menuju ruang ganti, walaupun pelajaran olahraga sudah berakhir lima menit yang lalu, tapi beberapa siswa masih terlihat asik bermain basket tanpa menghiraukan jam istirahat yang baru dimulai. Saat itu Sasuke hendak memasukkan bola yang dipegangnya ke ring, tetapi matanya tanpa sengaja menangkap sosok Hinata yang menurutnya sedikit—ehem—seksi saat mengenakan seragam olahraga karena kaos yang dipakai gadis itu membuat dadanya terlihat—ehem—besar. Sasuke baru memperhatikannya sekarang. Sambil menatap Hinata Sasuke melemparkan bola ditangannya dengan jarak 2 meter dari ring dan masuk, teman teman satu timnya bersorak, Sasuke tak menghiraukan, ia masih menatap Hinata yang berjalan menjauh. Dan tiba tiba saja..

BUAGH!

NGIINGGG!

Sebuah bola dengan indahnya mendarat diwajah mulus Sasuke, membuatnya terhuyung dan jatuh terduduk.

"Haaahahahahahaaahahaaa" Naruto dan Kiba yang merupakan tim lawan tertawa terbahak bahak. Sasuke hanya bisa melemparkan death glare terbaiknya kepada mereka.

"Bagaimana kau ini, menangkap bola yang ku oper saja tidak bisa" Neji menghampiri Sasuke yang masih memegang kepalanya. Efek sengatan bola itu membuat kepala Sasuke terasa berputar disertai dengingan ditelinganya. Sasuke mendeath glare Neji. "Gomen, Gomen. Lain kali jika tidak fokus, jangan bermain basket" Neji membantunya berdiri. Dan Sasuke pun meninggalkan lapangan basket, berjalan menuju kelas.

Sakura yang sedari tadi memperhatikan mereka, hanya bisa geleng gelang kepala, betapa tidak ia sangka, ternyata Hinata membawa pengaruh yang cukup besar pada sahabatnya yang terkenal cuek itu.

Bersambung

TerimakasiH yang sebesar besarnya bagi yang sudah membaca gaje punya saya ini *bow*

Terimakasih juga kepada Cecil Hime, Kaoru Mouri, , dan .1 yang sudah menyempatkan waktunya untuk mereview fic ini. terimakasih! mohon bantuannya ya :)