"Selamat datang di teater boneka kecil kami,
Dimana sekeping memori cantik diceritakan kembali menjadi sebuah tragedi .
Ketika canda, tawa, senyum dan kebahagiaan menjadi sebuah tangisan,
Dan kematian menjadi akhir dari segalanya…"
.
.
.
"The Ventriloquist"
Sequel from "Ventriloquisme"
Kuroko No Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Warning : AU. OOC. Typo(s). And anything.
.
.
By : Sukikawai-chan
.
.
Chapter 1 : Escape
.
.
Happy Reading, Dear…
"Sejak boneka porselen berpipi merah itu pecah…"
.
"Kuro-chin?"
"Ah, Murasakibara-kun, ada apa?"
"Boleh aku masuk?"
Satu anggukan kecil yang dilakukannya menjawab pertanyaan Murasakibara kala itu. Kedua kaki besarnya melangkah, sesaat sebelumnya menutup pintu besar tepat di belakangnya. Ruang kamar Kuroko Tetsuya memang besar, dengan ala Victorian Era menghiasi segala desain interior maupun furniture pelengkapnya. Tempat tidur berpenyangga empat tiang di tengah ruangan, dua jendela besar di sisi kiri dan kanan, gorden beludru berwarna krem dan lampu gantung dia atasnya. Tidak ada penghias lebih selain satu lemari besar dan meja rias tidak jauh dari tempat tidur. Juga beberapa rak buku di samping jendela.
"Kuro-chin sudah bersiap-siap?" nada di sana terdengar malas, seperti biasa. Diselingi suara kunyahan yang cukup berisik. Satu tangannya memeluk bungkusan makanan dengan erat. Sedikit mengotori tuksedo berwarna hitamnya karena remah-remah akibat kunyahan mulutnya.
"Sedikit lagi," sahut Kuroko singkat, memutar tubuh menghadap cermin meja riasnya. "Kau tentu tahu aku biasa kesulitan ketika memasang dasi kupu-kupu ini,"
Sebelah alis Murasakibara terangkat, namun tak ada kata yang terucap dari bibir tipisnya. Diletakan bungkusan makanan tadi di atas tempat tidur, berjalan mendekati Kuroko dan memutar tubuh kecil itu sehingga menghadap ke arahnya.
"Biar kubantu,"
Kuroko tak berkata apa-apa. Menatap datar tubuh tinggi Murasakibara yang mulai menunduk, mensejajarkan tingginya dengan tinggi sang surai biru muda. Membiarkan kesepuluh jari besar itu membetulkan letak kerahnya, tuksedo hitam yang menyembunyikan lipatan renda kamejanya, dan membuat simpulan dari tali yang terurai menjadi sebuah pita kupu-kupu. Cantik. Pita kupu-kupu berwarna biru muda itu bertengger rapi di sana.
"Kuro-chin baik-baik saja?"
Sepasang mata bulatnya melebar sesaat. "Eh?"
"Kuro-chin terlihat pucat," balasnya kemudian. Kembali menegakan tubuhnya dan memandang iris Kuroko lekat-lekat. Sebelah tangannya terangkat lalu menepuk puncak kepala pemuda mungil itu pelan.
"Kenapa Murasakibara-kun berkata seperti itu?" binar di kedua mata Kuroko meneduh, mencoba mengubah gurat di wajahnya menjadi sedatar mungkin. "Dan aku baik-baik saja,"
Murasakibara menggeleng. "Tidak, Kuro-chin berbohong," sahutnya tidak mau kalah. Mengerucutkan bibirnya sejenak setelah itu mencibir pelan. "Kuro-chin selalu mengatakan baik-baik saja, tapi sebenarnya tidak baik-baik saja."
Kuroko menggeleng, apa yang dikatakan laki-laki tinggi itu tidak sepenuhnya benar sebenarnya, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Entahlah, Kuroko sungguh tidak mengerti dengan keadaannya saat ini. Mengingat malam ini mereka mengadakan sebuah pertunjukan lagi benar-benar membuatnya kepalanya pening, entah mengapa.
"Bagaimana dengan yang lainnya? Kise-kun dan Aomine-kun?"
Murasakibara tahu, meski Kuroko pura-pura tidak tahu, pertanyaan tadi hanya digunakan sebagai formalitas pengalih pembicaraan. Berharap ia tidak membicarakan keadaannya lebih lanjut lagi. Kuroko hanya berusaha menghindar, tidak lebih. Dan hal seperti ini sering terjadi.
"Seperti biasanya, Mine-chin dan Kise-chin selalu lama," Murasakibara menguap, berjalan melewati Kuroko dan mengambil bungkusan makanannya tadi di atas tempat tidur. "Kuro-chin ingin melihat mereka?"
"Tidak perlu," lagi, kepala biru itu menggeleng. "Lebih baik kita menunggu di ruang tengah, kalau tidak—"
"Akachin bisa marah, begitukah?" potong Murasakibara cepat. Baginya, setiap kata marah yang melintas dalam benaknya tidak jauh berbeda dengan sorot mata dan ucapan dari sang emperor's eye berambut merah itu.
"Un," Kuroko mengangguk, lebih kepada dirinya sendiri, "Murasakibara-kun duluan saja, ada hal lain yang ingin kulakukan,"
Murasakibara terdiam sejenak. Memandang kosong selimut tebal yang terlipat rapi di tempat tidur Kuroko. Kelima jari yang terkulai di samping tubuhnya meremas dengan erat ujung kameja putihnya, membuat rompi hitam sebagai pemanisnya tertarik ke bawah.
"Kenapa… Kuro-chin…"
Kuroko melirik Murasakibara lewat pantulan cermin di depannya.
"Kenapa Kuro-chin masih bisa bersikap seperti itu?" tubuhnya berbalik, menghadap punggung Kuroko. Balas menatap iris biru langit itu lewat cermin di depannya. Ada luka di sana, juga perih yang tersembunyi dibalik iris ungu malasnya.
"Aku tidak mengerti maksudmu,"
"Jangan bohong!"
Pecah. Teriakan itu nyaris pecah menjadi serpihan yang kecil-kecil, nyaris berubah menjadi suara tangis. Murasakibara melangkah cepat, kembali memutar tubuh Kuroko dalam satu sentakan, mencengkeram kedua bahunya erat dan mengguncangkannya keras.
"Aku mohon Kuro-chin, pergilah," racaunya dengan suara tercekat, "Pergi dan lenyaplah dari hadapan kami,"
Tak ada jawaban, bahkan sahutan.
"Benci," Murasakibara menggertakan giginya. Mengatupkan rahangnya keras. "Aku benci Kuro-chin seperti ini. Aku benci Kuro-chin masih bisa tersenyum padahal Aka-chin sudah membuatmu seperti ini, aku benci—"
Kalimat itu tidak selesai, setidaknya untuk saat ini. Terlebih ketika Kuroko mengambil satu langkah maju, berjinjit tepat di hadapannya dan melingkarkan kedua lengannya di sekitar leher Murasakibara. Menyimpan dagunya di atas bahu lebar laki-laki itu. Menepuk punggungnya pelan dengan satu tangan, lembut. Bagaimana jemari kecil itu mengelus punggungnya dengan irama menenangkan.
"Akan kulakukan itu, Murasakibara-kun," bisiknya pelan, nyaris tidak terdengar. "Akan kulakukan jika waktunya sudah tepat,"
Murasakibara memekik tertahan, namun detik berikutnya mengangguk.
"Malam ini, aku akan membantu Kuro-chin,"
Kening Kuroko berkerut samar. "Membantuku?"
"Hm," kepala ungu itu mengangguk, "Hanya untuk malam ini, sebagai hadiah ulang tahun Kuro-chin yang sudah terlambat, aku akan membantu Kuro-chin untuk membebaskan mereka,"
Kedua mata Kuroko membelalak. "Murasakibara—"
"Tapi hanya untuk malam ini."
.
.
.
Aomine Daiki menghela napas, lagi.
Sungguh, refleksi tubuh tingginya dengan kameja putih dan rompi hitam tepat di depan cermin kamarnya benar-benar mengganggu. Ditambah lagi, dasi biru tua sebagai pemanis pun lebih terlihat seperti mencekik lehernya, menghentikan jalur pernapasannya.
Aomine mengacak rambutnya frustasi, sial! Mau dibagaimana pun juga, sosok yang saat ini terpantul tepat di hadapannya bukanlah Aomine Daiki yang sebenarnya. Bukan Aomine Daiki yang dulu. Berbeda. Yang sama hanyalah fisik dan wajahnya, begitu pula sepasang iris biru tuanya. Tak ada yang berubah, namun Aomine tahu, sekeras apapun ia menghadapi kenyataan sekarang ini, ia tetap tidak bisa menerimanya.
"My… my… Daiki-kun sedang dalam keadaan bad mood ternyata,"
Suara manis dan tajam itu berhasil menembus kabut hitam di sekeliling Aomine, tubuhnya berbalik cepat, memastikan apakah benar suara itu berasal dari ambang pintu kamarnya. Dan, ya, dugaannya tidak meleset. Manik besar dan hitam itu tertuju ke arahnya, meski terlihat seperti mata mati.
"Oh, halo Akashi," sapa Aomine, mengibaskan tangannya dengan malas, "Dan tolong jangan gunakan suara Caroline saat ini,"
Satu alis sang subjek yang disapanya tadi terangkat. "Kau memerintahku, Daiki?" kali ini berubah dengan suara baritone yang khas.
"Tidak, bukan itu maksudku," Aomine menyahut kalap, menyadari ia baru saja mengucapkan frasa yang salah. "Ya, kau tahu, aku masih belum terbiasa dengan suara boneka kecil itu," jari telunjuknya terangkat, mengarah pada sang objek yang saat ini bertengger di satu lengan Akashi. "Caroline, maksudku. Kau pasti tahu,"
Sang surai merah mendengus angkuh, setiap jemari tangannya yang bebas sibuk memainkan ikatan rambut cokelat yang menjuntai melewati bahu si boneka, Caroline. Boneka si gadis kecil Perancis dengan balutan dress berendanya. Alis mata lentik, mata hitam yang bulat, kedua pipi yang merona dan bibir tipis terpoles warna merah yang menekuk manis.
"Boneka juga memiliki jiwa, Daiki," ekor mata Akashi melirik Aomine sekilas, "Dan kau baru saja membuatnya marah,"
Anggukan kepala sebagai jawaban Aomine, atau lebih tepatnya kata maaf secara tersirat. Jika semua di dunia ini adalah hal yang paling ditakutinya, maka dengan senang hati Aomine memilih seorang Akashi Seijuuro untuk berada di urutan paling pertama. Menempatkan laki-laki itu sebagai kaisarnya. Akashi memang mengerikan, dan Aomine mengakuinya.
"Maaf," Aomine menggaruk tengkuk canggung, "Aku—akan bersiap-siap,"
"Daiki,"
Aomine mengangkat satu alisnya.
"Pastikan malam ini jangan gagal," ada nada dingin dalam suara Akashi, juga perintah yang terselip di sana. "Jangan sampai,"
Tak ada balasan ataupun sahutan yang terdengar. Meski Aomine pribadi pun bingung mendapati sang surai merah berkata seperti itu. Karena bagaimana pun juga, Akashi tidak akan pernah pada setiap pertunjukan yang dilakukannya. Sang ventriloquist itu cerdas, terlampau cerdas.
"Ng, ya…" mau tidak mau, Aomine mengangguk. Walau sebenarnya ia bingung. "Tenang saja, pertunjukan malam ini tidak akan—"
"Jika tidak…" sela Akashi cepat, memotong ucapan Aomine. Satu tangannya tertempel di daun pintu, sedangkan posisi tubuhnya menyamping, hendak beranjak dari tempatnya berpijak. "Mungkin Tetsuya mendapat masalah, lagi?" dan yang terdengar berikutnya adalah suara pintu yang tertutup, diiringi suara langkah sepatu yang menggema di sepanjang jalan luar kamar Aomine.
Aomine mendengus keki. Seenaknya saja memerintah seperti itu, memangnya—
Tunggu—apa katanya tadi?
"Masalah? Tetsu?" keningnya berkerut samar. Namun selang beberapa detik, sepasang bola matanya membulat. "Sial! Tetsu!"
.
.
.
"Selamat datang di teater boneka kecil kami,"
Suara tepukan itu kembali terdengar, bergema di seluruh ruangan teater dengan irama yang sama. Decakan kagum dan berbagai kalimat pujian terlontar setelahnya. Setiap mata menampakan binar yang sama, takjub. Bagaimana tirai merah beludru itu terangkat ketika Midorima berdiri di atas panggung, dengan satu tangannya terangkat. Layaknya memberikan efek sihir.
Kuroko menutup tirai samping panggung dan membiarkan suara pertunjukan terdengar samar. Toh, tak ada niatan dalam dirinya untuk melihat. Karena setiap Kuroko melihat bagaimana pertunjukan sudah dimulai dan tirai utama terangkat, rasa mual dan pening langsung menyerang dirinya. Selalu seperti ini. Bahkan, seandainya Kuroko diberi pilihan pun, ia lebih memilih berdiam diri di belakang panggung tanpa menjadi bagian pemain. Tak perlu berdiri di tengah-tengah panggung, tak perlu menjadi pusat perhatian penonton, dan tak perlu menatap balik sorot kagum yang tertuju langsung padanya.
"Kurokocchi, sudah siap?" suara Kise membuyarkan lamunannya, ditambah dengan tepukan ringan di bahunya sedikit membuat tubuhnya tersentak.
"Ah, bagianku masih lama, Kise-kun," senyum menghiasi wajahnya, tipis. "Sepertinya aku akan berada di belakang panggung sampai waktunya tiba,"
Iris madu di hadapannya mengerjap sekali, dua kali, setelah itu senyum lebar tersungging di wajahnya. Tangannya menepuk kedua pipi Kuroko dengan pelan, membuat dirinya mengernyit begitu rasa dingin menjalar di setiap jengkal jemarinya.
"Baiklah, Kurokocchi, kalau begitu aku—"
"Tetsu!"
Mereka berdua serentak menoleh.
Aomine berjalan mendekatinya dengan kaki dihentak-hentakkan, menimbulkan bunyi berulang pada lantai kayu yang diinjaknya. Irisnya memicing, menatap Kuroko dengan tajam, mengabaikan peringatan Kise dengan jari telunjuk tersimpan di depan bibir.
"Jangan berteriak seperti itu, Aominecchi!" bisik Kise gusar, "Kau ingin membuat Akashicchi marah?"
"Diam kau," Aomine mengibaskan tangannya di depan wajah Kise. Mendelik sesaat, setelah itu menarik satu lengan Kuroko untuk menghadapnya. "Aku ingin berbicara dengan Tetsu sebentar,"
"Tapi—"
"Apapun rencanamu, aku minta kau membatalkannnya," ujar Aomine serius, lebih kepada Kuroko. Sepasang alirnya menukik dengan tajam. "Hentikan, Tetsu. Jangan buat Akashi marah,"
Kise, yang awalnya tak mengerti maksud Aomine, terpaksa diam mendengarkan. Tak ada celah baginya untuk menyela ketika ia sadar, bahwa nada suara Aomine benar-benar terdengar serius. Juga menuntut, namun terselip nada cemas dibaliknya.
"Aomine-kun—"
"Aku mohon, Tetsu, berhentilah untuk saat ini," laki-laki itu berdecak frustasi. Kesal dengan sikap keras kepala pemuda bersurai biru langit di depannya.
"Tunggu sebentar—" Kise mengangkat satu tangannya, meminta Aomine berhenti. Pembicaraan di depannya membuatnya bingung, "Apa maksudmu, Aominecchi?"
Kuroko mendelik tajam, tepat mengarah Kise meski yang mendapat tatapan tidak menyadarinya. Iris madunya terfokus tepat pada Aomine, meminta penjelasan. Aomine menatapnya balas, namun dengan sorot mata seolah berkata, 'tunggu sebentar'.
"Tetsu…"
"Maaf, Aomine-kun," Kuroko menggeleng pelan. "Aku harus melakukannya,"
"Sudah kubilang hentikan! Ya, Tuhan, Tetsu!"
Tubuh kecilnya ia guncangkan cukup keras, berharap tersadar akan kebodohan yang akan dilakukannya. Tidak menghiraukan rengekan Kise dan segala kalimat protes agar jangan berbuat kasar pada pemuda kecil itu. Berhenti membuatnya bingung dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Kise, Aomine!"
Hingga suara Midorina terdengar selanjutnya.
"Bersiaplah, sebentar lagi kalian tampil,"
Dan Aomine mengutuk dirinya habis-habisan.
.
.
.
"London bridge is falling down… falling down… falling down…"
Kuroko mengeratkan pegangannya pada ujung tuas yang digunakan untuk memutar kotak musik berukuran besar dihadapannya dengan gemetar. Bertahanlah, batinnya memohon. Ia harus bertahan sampai waktunya datang.
"Ya, aku selalu menyukai lagu ini. Bukankah begitu, Caroline?"
Kuroko mengenali suaranya, itu Peter. Nada jenaka dalam suaranya terdengar jelas tepat di bawah panggung, depan kursi penonton tempat dirinya berpijak, begitu pula dengan senandung Caroline di sampingnya. Mengikuti irama alunan melodi.
"Oh, tentu saja, Peter sayang," kali ini suara Caroline, "Falling down… falling down…"
Krek... Krek… Krek…
"London bridge is falling down…" Peter menyahut, Caroline tertawa renyah.
"My fair lady," dan mereka berdua terkekeh pelan, pelan, jelas, dan akhirnya terbahak sepenuhnya.
Krek!
Hening.
Ruangan menjadi gelap seketika.
"Akhirnya! Pertunjukan sesungguhnya dimulai!" Caroline berteriak, tertawa, dan berteriak kembali.
Ia mendengarnya! Kuroko mendengarnya!
Suara teriakan itu. Permintaan tolong. Kaki yang saling beradu. Dan jeritan kesakitan. Bagaimana suara-suara itu bersatu dengan setiap gesekan sepatu juga besi di setiap penyangga kursi. Bagaimana suara memilukan itu terjadi, berteriak secara bersamaan, hingga salah satu di antara mereka memekik, hingga akhirnya lenyap, ditelan oleh suara yang lain. Tepat di depannya.
Tidak bisa. Kuroko tidak bisa diam seperti ini.
"Kuro-chin!"
Kuroko nyaris terjungkal jika tidak dengan sigap seseorang mencekal satu lengannya dengan kuat. Membuat kotak musik besar tadi terlempar begitu saja, entah kemana. Pupilnya memang tidak sepenuhnya bisa melihat keadaan sekitar, namun begitu merasakan kelima jari yang familiar saling bertautan dengan jemarinya, Kuroko tahu. Murasakibara berada di sampingnya.
"Lakukan sekarang, Kuro-chin," bisikannya mendesak, juga terburu-buru. Napasnya terdengar terengah-engah. Sebelah tangannya yang bebas menyelipkan benda berukuran kecil tepat di tangan kanan Kuroko yang dingin, juga gemetar. "Lakukan sekarang,"
Kuroko mengangguk, meski Murasakibara tidak sepenuhnya melihat, dan membiarkan jemari besar tadi melepaskan tangannya. Waktu adalah segalanya, dengan cepat kakinya berlari, melintasi samping ruangan dan setiap deretan kursi penonton, tak peduli bagaimana gelapnya keadaan juga kacaunya sekitar. Tujuannya hanya satu,
Pintu besar itu. Pintu utama sebagai jalan keluar.
"Tetsuya!" suara Akashi terdengar, entah darimana. Kuroko tak ingin mengetahuinya.
"Kau tidak akan berani melakukannya!"
Kuroko tidak mendengarnya. Ia terus berlari, melawan arus dengan para pengunjung teater, berdesak-desakan dengan setiap orang yang tidak bisa dilihatnya, menutup telinga begitu suara teriakan itu kian terdengar. Juga setiap cairan lengket dan bau tembaga yang mulai menempel di setiap tubuhnya, bahkan mengotori tuksedonya.
"Tetsuya!"
Berhasil. Kenop pintu besar pintu utama berhasil diraihnya. Jari telunjuknya bergerak, meraba permukaannya, menelusuri ukiran di sana. Hingga berhenti tepat di bagian lubang kunci.
"Kurokocchi! Kau dimana, aku mohon hentikan!"
Berisik! Kuroko tak ingin mendengarnya.
Benda kecil pemberian Murasakibara tadi berhasil masuk melewati lubang kunci, meski susah payah ia melakukannya. Sampai terdengar 'klek' dan dalam satu sentakan cepat juga kuat, pintu berhasil terbuka. Seberkas cahaya masuk, mula-mula sedikit, namun beberapa detik kemudian menyinari semuanya.
"Pintu… keluar!"
Kuroko berjalan ke samping, tepat sebelum kerumunan besar saling berdesak-desakan, mengambil celah yang menghubungkan dunia luar dengan keadaan teater yang kacau. Ia berdiri sana, tak ada niatan untuk mengikuti kemana perginya setiap orang-orang yang berusaha melarikan diri. Kedua kakinya memaksa untuk bergerak, namun hati dan pikirannya tidak mengizinkan Kuroko untuk melakukannya. Bagai terpasung agar tetap diam di tempatnya.
"Benar-benar bodoh, Kuroko," suara berat itu terdengar tepat di sampingnya. Merasakan telapak tangan dengan balutan di setiap kelima jarinya merayap di sekitar kening Kuroko, menutupi kedua matanya, lalu menarik tubuhnya mundur hingga belakang kepalanya membentur dada seseorang dengan bebas. "Kau ingin menyiksa dirimu lagi?!,"
"Midorima-kun," garis tipis di wajah sang surai biru melengkung. "Katakan pada Akashi-kun kalau dia benar-benar bodoh,"
"Tch!" sang surai hijau menggeram. Menahan segala rasa emosi yang menghimpit dadanya. Giginya saling bergemeletuk. Bahunya mulai berguncang, "Hentikan Kuroko, jangan berbuat lebih dari ini, hentikan. Cepatlah lenyap dari hadapan kami,"
.
.
.
"Sejak boneka porselen berpipi merah itu pecah,
Rasa sakit dan perih menjadi jalan hidupnya…"
.
.
.
To Be Continued
*smile*
A/N : Nyahaaahahaha! Suki kembali dengan fanfic ini, bingung? Ya, Suki juga bingung kok!/dilindes/ Tapi mungkin nanti terjawab. Soal mereka itu boneka atau bukan nanti juga terjawab, mungkin. Memang, alurnya belum terlalu jelas, tehe~~
Ah, special thank's for : Yuna Seijuuro, Myadorabletetsuya, Zefanya, Seijuuro Eisha, kaoruishinomori, Infikiss, Mel, Kagamine Micha, Calico Neko, Himawari Wia, Ichika07, Miracle-ren, Nigou-i, Stacie Kaniko, Soraya31Hikari. Sankyuu buat review-nya ya XDD *pelukin satu-satu*/woi/
Dan makasih juga buat yang sudah follow dan fave-nya X3 *cium satu-satu*/udah/
And last,
Review please? *smile*
