Zero Escape: The Nonary Games

Chapter 1 : A Game?

Disclaimer : Eichiro Oda

Story By : Portgas D

9

8

7

6

5

4

3

2

1

0

GRRRRR

BRAKKKK!!!!

Suara keras yang bergemuruh membangunkan Luffy, ia membuka matanya dan

" Eh? "

Setelah menyesuaikan diri dengan cahaya Luffy tersadar kalau ia tak mengenali sekelilingnya.

BRUKK

" Aww " Luffy meringis , karena kepalanya membentur baja, baja?

ia mencoba menggapai sesuatu untuk bangkit berdiri namun yang ia gapai hanyalah udara kosong. Masih dengan keadaan setengah sadar dan bingung tiba tiba saja ruangan berguncang dan Luffy berguling kesisi sebelah kirinya.

BRUKKK

" Whoaaa "

BRAKKK

" Aaaaa itteeeee " ringis Luffy , belum juga ia merasa baik karena kepalanya yang terbentur tiba tiba, sekarang tubuhnya yang mendarat mulus kebawah, layaknya terjun bebas (?)

" Woaaa " Luffy merasakan tubuhnya berguncang hebat…tunggu dulu, bukan tubuhnya tapi ruangannya yang berguncang yang menyebabkan tubuhnya ikut berguncang dan kehilangan keseimbangan. Lalu Luffy melihat kesisi kanannya , tepat dimana ia terjatuh tadi.

" Kasur? "

Tiga tingkat kasur susun, dan Luffy sadar bahwa ia terjatuh lumayan tinggi, pantas saja badannya sakit semua.

" Ah badanku sakit semua " Luffy berusaha menjaga keseimbangannya sembari merasakan nyeri disekujur tubuhnya.

" Gempa bumi ya? " gumam Luffy, ruangan yang berguncang hebat , menurutnya apalagi kalau bukan gempa bumi? Lalu Luffy memperhatikan ruangan tempatnya berpijak. Tiga tingkat kasur susun sebelah kanannya, diujung kasur ada jendela berbentuk bulat dan tepat didepan jendela itu terdapat meja lalu ada sebuah figura yang didalamnya bukanlah foto atau semacamnya tapi lebih mirip ke bentuk persegi? Dan dibawah figura itu ada figura lagi namun bentuknya lebih kecil dari yang diatas dan difigura ini berisi sebuah foto kapal, lalu tepat dihadapan Luffy terdapat kompor berbentuk panjang dengan sebuah cerek diatasnya.

" D-dimana aku? " gumam Luffy bingung, ia sangat yakin kalau ini bukanlah kamarnya. Tiba tiba guncangan diruangan itu berhenti.

" Eh? Guncangannya berhenti "

Lalu Luffy mendengar suara decitan aneh dan suara baja yang saling beradu. Ia segera bangkit berdiri dan matanya menangkap sebuah pintu dengan angka

" Pintu ! " Luffy segera berlari mendekati pintu itu dan tanpa fikir panjang langsung membukanya, namun

" Eh? terkunci? " Luffy berusaha menarik paksa bahkan mendorongnya , persis seperti pemberontakan dalam ruangan, namun pintu itu tetap tidak bergeming, karena capek akhirnya Luffy menghentikan aksi berontak (?) itu dan berusaha mencerna situasi walau itu sangat bukan seorang Luffy sekali. Dan saat itu matanya menangkap sebuah benda aneh tepat disebelah pintu,

" benda apa ini? " Luffy memperhatikan benda itu dan ia melihat ada tuas dan sebuah cahaya kecil berwarna merah, ia samasekali tak paham dan malas untuk memikirkannya, lalu ia kembali menatap kesal kearah pintu itu, pintu dengan bercak angka satu.

" Ayolah pintu terbuka ! " geram Luffy berharap pintu itu tiba tiba terbuka namun percuma saja sekuat apapun ia berusaha pintu itu tidak mau terbuka.

" Oii ! apakah ada orang disana? Oiii siapa saja ! bukakan pintunya ! " teriak Luffy sambil menggedor gedor pintunya sekuat tenaga.

Hening, tidak ada sahutan yang menjawab teriakan Luffy,

" Ah sial ! "

Luffy berhenti lalu berusaha mencari petunjuk, siapa tau ada kunci atau semacamnya yang bisa ia pakai untuk membuka pintu itu, lalu matanya menangkap jendela yang tadi ia lihat.

" Ah benar juga aku bisa keluar lewat sana " ujar Luffy sambil berjalan mendekati jendela itu.

Luffy mencoba melihat keluar namun

" Gelap sekali, jam berapa ini? " gumam Luffy

ia mencoba membuka jendela itu namun

" EEEEEH terkunci???!! " ujar Luffy kesal, tadi pintu sekarang jendela. Apa apaan ini, dia terkurung?

" Kusoo, adakah jalan keluar yang tidak terkunci? " Luffy mulai kesal dan berteriak penuh emosi,

Crak crak

" Eh? "

Crak crakkk

BRUSHHH

Tiba tiba jendela itu retak dan air menerobos masuk kedalam ruangan dengan cepat, melihat itu Luffy melotot

" GYAAAAAAA " sontak saja Luffy kaget sembari melotot horror pada jendela yang tiba tiba retak itu, terutama air yang mulai masuk, tanpa fikir panjang Luffy segera berlari cepat kearah pintu bercak angka satu tadi.

" Oi buka pintunya siapa saja! " Luffy mulai menggedor gedor pintu itu, sementara air yang masuk terus menggenangi ruangan, dan kini airnya sudah sampai mata kaki Luffy, melihat itu Luffy semakin panic

" OIIIII DAREKA!! "

Krieeet

Sebuah suara, tepat dibelakang Luffy, tentu saja Luffy langsung berbalik dan ia melihat sebuah pintu terbuka, pintu itu bukanlah pintu baja bernomor seperti didepannya melainkan pintu kayu biasa, dan dia baru sadar kenapa ia tak melihat atau menyadari keberadaan pintu itu, dan seseorang masuk, seorang..

gadis kecil?

Gadis kecil itu memasuki ruangan dan ia langsung menatap Luffy yang balik menatapnya, tiba tiba gadis kecil itu berlari kearah Luffy dan,

" Huaaaaa " teriaknya langsung berlari memeluk Luffy, dipeluk tiba tiba seperti itu tentu saja membuat Luffy kaget dan hampir saja terjengkang kebelakang.

" o-oi dareda omae " ujar Luffy

" Huaaaa aku kira aku hanya sendirian disini, aku takut " rengek gadis kecil itu

" oi tenanglah, jelaskan pelan pelan padaku " ujar Luffy berusaha menenangkan gadis kecil itu, perlahan gadis kecil itu melepaskan pelukannya dan menatap Luffy,

" A-aku tadi terkunci disebuah ruangan, lalu disana ada pintu bernomor lalu aku menyelesaikan sebuah puzzle untuk membuka pintu itu setelah itu pintu terbuka dan aku menemukan pintu lain tapi tidak bernomor dan tidak terkunci, dan aku sampai disini " jelas gadis kecil itu, Luffy mangut mangut entah paham atau tidak

" Jadi pintu bernomor itu kau bisa membukanya? " tanya Luffy sambal menunjuk pintu bernomor yang sedari tadi ia coba buka

" Iya kita hanya perlu menghitung akar digital dan mengscan gelang ini ke alat itu " ujar gadis kecil itu sembari menunjukan sebuah gelang dipergelangan tangannya, lebih mirip seperti... jam tangan? lalu ia menunjuk juga alat yang ia maksud, dan itu tepat disebelah pintu bernomor

" Benda apa itu " tanya Luffy

" entahlah, hora niichan juga punya tuh " ujar gadis kecil itu sembari menunjuk lengan kanan Luffy, sontak Luffy menoleh kearah tangannya dan baru menyadari kalau ia juga memiliki gelang aneh itu

" Seperti jam tangan tapi, cuman ada satu angka " ujar Luffy

" Punya niichan angka 1 ya " ujar gadis kecil itu sambil ikut memperhatikan gelang Luffy

" memangnya punyamu nomor berapa? " tanya Luffy

" nih punyaku nomor 9 " jelas gadis kecil itu sembari menunjuk gelangnya

" kok beda ya? " tanya Luffy

" entahlah "

" Oh iya kau siapa? " tanya Luffy

" Aku Boa! kalau niichan? "

" Aku Luffy, Monkey D. Luffy "

Tanpa mereka sadari air sudah mencapai lutut Luffy dan bagi Boa sudah hampir mencapai dadanya

" AAAAA AIR " teriak Boa panik

" Waaa sudah semakin banyak air yang masuk, oi! kita harus cepat cepat keluar dari sini, ayo cepat naik " ujar Luffy sambil membelakangi Boa,

" Eh? " Boa tampak bingung

" cepat naik kepunggungku, kita keluar dari sini " seru Luffy

" demo, bajuku sudah basah semua, nanti baju niichan juga basah " ujar Boa merasa tak enak

" Tidak apa apa, lebih baik kau cepat buka pintu itu " ujar Luffy sambil menunjuk pintu bernomor

" Pintu itu nomor 1 ? " gumam Boa

" Iya kau tau kan cara membukanya? " tanya Luffy

" Ya! kita bisa membuka pintu itu, akar digital gelang kita pas " ujar Boa, ia menghitung kilat, toh cuman dua angka yang ia hitung

" Eeeh aku tak paham tapi cepatlah kita bisa tenggelam kalau berlama lama, terlebih cepatlah naik kepunggungku " ujar Luffy

" B-baiklah " Boa segera naik kepunggung Luffy dan Luffy tentu saja langsung menggendongnya dan berlari cepat kearah pintu bernomor.

" oi Boa, bagaimana membukanya? " Tanya Luffy

" Ah souda! letakan tangan Luffy-niichan dibenda itu " ujar Boa sambil menunjuk benda disebelah pintu bernomor, disana ada tulisan ' Vacant ' seingatnya tadi tidak ada tulisan apa apa. Luffy pun segera mengscan gelangnya, kemudian

" Luffy-niichan, dekatkan aku kesitu aku juga harus mengscan gelangku " Luffy mengangguk dan mendekatkan Boa kebenda aneh itu, Boa meletakan tangannya dibenda itu dan terdengar sebuah bunyi.

Pip

Cahaya berwarna merah itu berganti jadi warna biru.

" Luffy-niichan, tarik tuas itu kebawah " ujar Boa

" Yosh! " Luffy langsung menarik tuasnya kebawah dan...

Pintupun terbuka dengan suara gemuruh yang dapat menciutkan nyali siapapun yang mendengarnya.

" Terbuka! " teriak Luffy, akhirnya ia terbebas dan langsung saja ia menghambur keluar, diikuti air yang terus menggenang, dan Boa mengeratkan pegangannya pada bahu Luffy takut tiba tiba terjatuh karena Luffy keluar dengan terburu buru.

" Hah hah akhirnya, aku keluar " ujar Luffy dengan nafas tersengal sengal, air masih menggenang namun Luffy masih berusaha mengatur nafasnya,

" Dimana ini? " gumam Boa

Luffy melihat sekitar dan, tepat dihadapannya ada lorong yang panjang, dan diujung lorong itu terdapat pintu, tapi pintu itu tidak bernomor.

" Ayo kesana! " ujar Luffy

" Baiklah " Boa makin mengeratkan pegangannya ia takut, melihat lorong yang penerangannya lumayan minim

" Yosh " Luffy pun berlari kearah pintu itu dan

" Terbuka! " untuk sesaat Luffy merasa lega karena pintu itu tidak terkunci.

Cklek

Sebuah ruangan mewah yang ditengah tengahnya terdapat tangga besar, Luffy sepertinya mengenali pemandangan ini disebuah film? tapi ia lupa film apa.

" Woaaaa Luffy-niichan! cepat tutup pintunya ! " teriak Boa saat ia melihat air yang mengarah tepat kearah mereka dengan kecepatan penuh

" GYAAAAA Tsunamiii " teriak Luffy, ia langsung membanting pintu itu dan berlari menaiki tangga, tentu saja ia mengeratkan pegangannya pada Boa, takut jika gadis kecil itu terjengkang kebelakang, mereka menaiki tangga dan melewati deck D

" Hah hah hah "

Luffy berlari dengan nafas tersengal sengal, bagaimana tidak? ia saat ini tengah menaiki tangga dengan kecepatan penuh sembari menggendong seseorang, tenaganya terkuras banyak, terlebih badannya masihlah sakit gara gara insiden jatuh dari kasur bertingkat tadi.

" deck C! " seru Boa, ternyata ia memperhatikan setiap deck yang mereka lewati,

" Hah hah hah "

Merekapun melewati deck berikutnya, deck C

" selanjutnya deck B ! ganbatte Luffy-niichan " seru Boa

" Hah hah, osh! " ujar Luffy

Luffy pun menaiki tangga berikutnya,

" deck B! " seru Boa

" Tinggal satu tangga lagi kan? " tanya Luffy

" Iya! deck A! " seru Boa

Luffy mempercepat larinya dan saat ia hendak menaiki tangga terakhir, beberapa orang menuruni tangga yang hendak ia naiki dengan terburu buru, tentu saja Luffy dan Boa kaget bukan main.

" GYAAAAAAA "

" WUAAAAAAA "

" OBAKEEEE "

" EEEEEHHH "

" WAAA "

itulah berbagai teriakan yang Luffy, dan orang orang yang menuruni tangga itu, cukup berlebihan bukan? tapi itu wajar karena

" LUFFY? OMAE! " teriak seorang pria berhidung panjang

" Kukira kau hantu! " seru pria itu lagi sambil mengelus dadanya

" Ussop! " seru Luffy

" Minna! " Ternyata orang orang yang menuruni tangga itu adalah teman teman Luffy. yakni Ussop, Zoro, Sanji dan gadis kecil lainnya? ia tampak sedang digandeng tangannya oleh Zoro.

" Kau juga disini? " tanya Sanji

" Kalian juga? " tanya Luffy balik

" Iya , dan siapa anak kecil yang kau gendong itu Luffy? " tanya Zoro

" oh dia? " ujar Luffy sembari melihat Boa

" namanya Boa " ujar Luffy

" H-halo " ujar Boa malu malu

" Tenang saja, mereka teman temanku " ujar Luffy

" o-ok "

" Oi Zoro, siapa itu? " tanya Luffy melihat Zoro menggandeng anak kecil juga

" Ah dia? " ujar Zoro

" Perkenalkan namaku Olivia " ujar gadis kecil itu dengan senyuman manis

" Aku Luffy " ujar Luffy dengan cengiran khasnya

" Baiklah, ayo kita kearah sana, pasti ada pintu disana " sahut Ussop

" Benar! ayo Luffy " ujar Sanji

Luffy mengangguk dan berlari kearah teman temannya, merekapun berlari kesekitaran deck B, dan

" Ah lagi lagi pintu bernomor! "

" menyebalkan sekali "

" bagaimana ini? "

" kita coba buka saja "

Ada suara lain diujung deck B, suara... gadis? tapi siapa?

Luffy dkk berlari kearah suara itu dan betapa kagetnya mereka..

" EEEEH OMAERA " teriak Luffy dkk bersamaan minus Boa dan Olivia.

" EEEEH " orang yang Luffy dkk lihat sama kagetnya, bagaimana tidak? 4 orang gadis yang sangat mereka kenal,

" Hancock! " teriak Luffy

" Robin " gumam Zoro pelan

" Nami swaaaaan " teriak Sanji yang tiba tiba matanya berubah menjadi love love

" K-kaya " ujar Ussop tak percaya melihat teman masa kecilnya berada disini juga

" Kalian "

Luffy dkk pun mendekat dan langsung saja bertanya

" Kenapa kalian disini? " tanya Ussop

" Itu dia! kami juga tidak tau kenapa bisa ada disini " jawab Kaya

" Lihat disana " seru Nami

Mereka melihat kearah yang Nami tunjuk dan disana terdapat dua pintu bernomor, persis seperti pintu yang tadi Luffy dan Boa buka.

" Diruangan tempat aku terbangun tadi juga ada pintu bernomor seperti itu " ujar Sanji seperti mewakili suara hati Luffy, ternyata sama. Apa teman temannya juga mengalami hal yang sama? terkunci diruangan bernomor dan berusaha membuka pintu bernomor.

" Kau juga Sanji-kun? " tanya Nami

" Ruangan tempatku terbangun juga begitu " lanjut Nami

" Aku juga! " seru Kaya

" Oremo! " seru Luffy

" Sepertinya situasi awal kita semua sama " ujart Robin

Sedangkan Boa dan Olivia hanya diam saja memperhatikan orang orang yang lebih tua dari mereka berbicara,

Zoro mendekati pintu nomor 5 dan mencoba membukanya, namun

" Arrgh sial "

" Terkunci ya? " tanya Olivia

" Ya " jawab Zoro singkat

" Minggir kau kepala lumut " ujar Sanji

" Hah? mau apa kau alis pelintir " ujar Zoro dengan tatapan membunuh, sementara yang lain hanya menghela nafas, pertengkaran Zoro Sanji yang tak pernah terlewat setiap mereka bertemu.

" Tentu saja mencoba membuka pintunya ahou! " cibir Sanji

Sanji menendang pintu itu sekuat tenaga, namun tetap saja, pintu itu tetap tak bergeming.

" Hei hentikan, kita bisa membukanya tanpa mendobraknya, karena percuma saja kau mendobraknya, pintu itu takkan terbuka " seru Nami

" Akar digital! ya itulah caranya " ujar Hancock

" Ah cara tadi ya? " tanya Luffy pada Boa, dibalas dengan anggukan dari Boa

" Oi minna kita bisa membuka pintu itu dengan menekan tangan kita kebenda aneh itu " seru Luffy, menjelaskan dengan penjelasan yang kurang efisien.

" Maksudmu mengscan gelang yang kita miliki kan? " tanya Nami memastikan

" Ya itu " jawab Luffy

" Benar juga, pintu ini kan sama dengan pintu diruangan tadi, pasti cara membukanya pun sama " ujar Ussop

" Yosh ayo buka " ujar Luffy

" Tapi " Robin menyela

Semuanya langsung menatap Robin.

" Disini ada dua pintu, pintu nomor 4 dan nomor 5 , itu artinya kita harus menghasilkan akar digital 4 atau 5 " jelas Robin

" Lalu? " tanya Zoro tidak paham

" Coba sebutkan nomor gelang kalian semua " ujar Robin, merekapun mengangguk dan mulai menyebutkan nomor gelang masing masing

" 1 " Luffy

" 2 " Zoro

" 3 " Sanji

" 4 " Hancock

" 6 " Nami

" 7 " Ussop

" 8 " Kaya

" 9 " ucap Boa dan Olivia bersamaan, merekapun menatap satu sama lain

" eh? gelang kita sama? " tanya Boa

" Sepertinya begitu " ujar Olivia

" Gelang punyaku nomor 5 , baiklah sepertinya kita harus bagi jadi 2 kelompok " ujar Robin

Mereka menatap Robin dengan tatapan bingung

" Kenapa? "

" Karena akar digital kita semua tidak menghasilkan nomor 4 ataupun nomor 5 " jawab Robin

" Ah benar " ujar Hancock

" Akar digital kita semua adalah 9 " lanjutnya

" eh? iya ya? " tanya Ussop tak paham

" Iya kita harus bagi jadi dua kelompok " ujar Kaya

" Lalu kelompoknya siapa siapa saja? " tanya Nami

" Kelompok pertama adal-" ucapan Robin terpotong oleh teriakan Sanji

" Kora! Luffy kenapa kau malah tidur sih " teriak Sanji kesal, bagaimana tidak kesal? disaat mereka semua tidak tau berada dimana Luffy malah tidur dengan muka tanpa dosa.

" Aaah aku mengantuk Sanji " rengek Luffy, Boa yang baru menyadari Luffy tertidur hanya geleng geleng kepala, belum lama ini Luffy menyebutkan nomor gelangnya, cepat sekali tidurnya begitulah fikir Boa

" Kita bahkan tidak tau sedang ada dimana, kau sempat sempatnya tidur " ujar Sanji makin kesal

" terus aku harus bagaimana? " tanya Luffy

" tentu saja mencari jalan keluar dari sin-"

Ucapan Sanji terpotong oleh sebuah suara yang dingin bergema di ruangan.

Selamat datang. Dari lubuk hatiku yang terdalam aku menyambut kalian semua ke atas kapal ini. "

" Eh? "

" Kapal? "

" Siapa? "

itulah berbagai suara yang dikeluarkan Luffy dkk, mereka kebingungan dengan suara yang tiba tiba muncul. Wajah mereka berubah pucat pasi terutama Boa, ia mulai memeluk Luffy dengan muka ketakutan, Luffy langsung merangkulnya berusaha menenangkannya. Karena bingung asal suara itu darimana mereka melihat sekeliling dengan cemas dan akhirnya mereka menemukannya, sebuah speaker di sudut atas ruangan.

" Aku adalah Zero, kapten kapal ini. Aku juga adalah orang yang mengundang kalian semua ke atas kapal ini. "

Suaranya tidak bisa ditebak laki laki atau perempuan, karena sepertinya ia memakai pengubah suara.

" Zero? " gumam Luffy

" Siapa? " tanya Ussop entah pada siapa

" Oi! keluar kau brengsek! " teriak Sanji penuh emosi

" Aku ingin kalian berpartisipasi dalam sebuah game. Beberapa dari kalian mungkin ada yang familiar dengan game ini. Nonary game, game dimana kalian harus mempertaruhkan nyawa kalian. "

" Nona? Nona apa? " tanya Luffy bolot

" Nonary game? " Nami seperti pernah mendengarnya tapi ia lupa dimana

" Game? " gumam Hancock

" Biar kujelaskan peraturan game ini. "

Semuanya hanya diam.

" Dalam kapal ini, kalian akan menemukan beberapa pintu bernomor. Pintu yang berada di depan kalian contohnya, di sebelahnya ada sebuah alat kecil bernama Recognition Device (RED). Di setiap pintu bernomor kalian akan menemukan RED. Kemudian Deactivation Device (DEAD), setelah kalian melewati pintu bernomor, kalian harus menggunakan DEAD untuk menghentikan alat peledak di gelang kalian. "

Mereka semua terkejut, alat peledak? apa apaan itu. Kemudian suara itu melanjutkan.

" Mungkin kalian bertanya-tanya apa yang alat peledak ini ledakkan, sederhana saja karena aku telah menanamkan bom kecil di dalam tubuh kalian semua, dan kalian tidak cukup bodoh untuk mengetahui apa yang akan diledakan oleh bom itu bukan? "

Ada jeda beberapa saat sebelum suara itu melanjutkan penjelasannya.

" Hanya ada satu kondisi dimana bom itu akan meledak. Yaitu ketika kalian masuk ke dalam pintu bernomor, timernya akan secara otomatis menyala. kalian akan diberi waktu 99 detik setelah pintu tertutup. Jika selama itu alat peledak tidak dinonaktifkan, maka akan mengirim sinyal ke dalam bom di tubuh kalian agar meledak. Untuk menonaktifkan alat peledak, setiap orang yang memverifikasi nomornya di RED harus memverifikasikan nomornya juga di DEAD. Setelah semua nomornya diverifikasi kamu harus menarik tuas pada alat tersebut dan hitung mundurnya akan berhenti. Dan, jika kalian melewati pintu bernomor tanpa memverifikasikan gelangnya. Dalam hitungan 99 detik kalian akan langsung mati. Kalian juga harus ingat bahwa pintu bernomor akan langsung tertutup secara otomatis setelah terbuka 9 detik. Selama pintu terbuka DEAD tidak akan berfungsi. Ingat ini baik-baik. Dan terakhir, mari kita diskusikan tentang cara melepaskan gelangnya. Hanya ada dua cara untuk melakukan itu.

Pertama : meninggalkan kapal ini hidup-hidup.

Kedua : kalau detak jantung kalian mencapai angka 0. Dengan kata lain jika gelang ini dibawa keluar dari kapal alat untuk mendeteksi detak jantung si pemilik gelang telah mencapai nol maka gelangnya akan mati secara otomatis. Tidak ada cara lain untuk melepaskannya. Kalau kalian berusaha melepaskannya dengan paksa, maka bom yang ada didalam tubuh kalian akan otomatis meledak. Kunci untuk membuka pintu ini ada pada gelang yang kalian kenakan. Jumlahkan nomor pada gelang kalian hingga menghasilkan akar digital yang sesuai dengan nomor yang tertera di pintu. Kemudian pintu akan terbuka. Tapi hanya orang yang membuka pintu saja yang boleh masuk. Ada satu syarat lagi, hanya tiga sampai lima orang yang bisa melewati satu pintu bernomor. "

Mereka semua mematung, bom? alat peledak? kapal? nonary game? penjelasan tidak biasa itu tentu saja membuat semua orang yang mendengarnya shock berat.

" Tujuan game ini sederhana. Tinggalkan kapal ini hidup-hidup. Memang tersembunyi tapi pintu keluar dapat ditemukan. Carilah jalan keluar. Cari pintu bernomor 9. "

Semuanya tetap diam membeku saat suara itu berbunyi lagi.

" Ada satu lagi yang harus kuperingatkan. Kapal ini mulai tenggelam. Pada tanggal 14 bulan April tahun 1912 kapal Titanic yang terkenal menabrak bongkahan es. Setelah mengapung selama 2 jam 40 menit, kapal Titanic tenggelam di lautan Atlantik utara. Aku akan memberi kalian waktu lebih. 9 jam. Itu batas waktu yang diberikan. "

Dan tepat pada saat itu terdengar suara dentangan

TENG

" suara ini " gumam Nami

" Kurasa asal suaranya disana, didinding tangga itu " sahut Kaya sambil menunjuk tangga besar yang tadi mereka lewati.

" itu jam dinding " seru Ussop

" tunggu, tadi dentingannya 9 kali, itu artinya sekarang jam 9 ? " tanya Sanji

" Sepertinya begitu " ujar Nami

" Kurasa sekarang jam 9 malam " sahut Luffy

Semuanya langsung menatap Luffy dengan tatapan tidak percaya, bagaimana tidak? tiba tiba ucapan Luffy masuk akal begitu, biasanya kan dia bertingkah absurd dan idiot.

" Tadi diruanganku terbangun ada jendela, tapi yang kulihat hanyalah kegelapan " lanjut Luffy

" Sama, diruanganku juga ada jendelanya tapi tidak ada air yang menerobos seperti punya Luffy-niichan " sahut Boa sambil menatap Luffy

" Jendela itu tiba tiba retak dan rusak sendiri " ujar Luffy

" Eeeh mengerikan " ujar Boa sambil memeluk Luffy lagi, entah kenapa ia tak merasa takut atau malu pada Luffy, ia malah merasa sangat nyaman didekat Luffy

" Air? " tanya Hancock bingung

" Iya jadi tadi ruanganku digenangi air , aku hampir mati tenggelam " jelas Luffy mengingat kejadian tadi membuatnya kesal saja

" Jadi tadi kau berlarian karena menghindari air? " tanya Ussop

" Iya, kukira aku akan mati " ujar Luffy

" oi " celetuk Sanji tiba tiba

Semuanya menatap Sanji

" itu artinya kita harus kabur sebelum jam 6 pagi " lanjut Sanji

Semuanya langsung diam

" eeeh? kenapa? " tanya satu satunya orang yang memang pasti tidak paham

" Hah, dakaraa orang bernama Zero tadi bilang waktu kita hanya 9 jam! dan sekarang jam 9 malam, tepat jam 6 itu sudah melebihi sejam batas waktu kita " jelas Sanji

" EEEEEH oi ayo cepat kita harus keluar " seru Luffy

" tunggu dulu Luffy, kita kan tadi sedang berdiskusi masalah kelompok sebelum Zero menyela " ujar Nami

" Baiklah, jadi bagaimana? " tanya Luffy

" Begini tadi Zero menjelaskan kalau kita bisa membuka pintu itu, kunci untuk membuka pintu itu ada pada gelang yang kita kenakan. Dengan cara menjumlahkan nomor pada gelang ini hingga menghasilkan akar digital yang sesuai dengan nomor yang tertera di pintu. Kemudian pintu akan terbuka. Tapi hanya orang yang membuka pintu yang boleh masuk. Dan tadi dalam penjelasannya hanya tiga sampai lima orang yang bisa melewati satu pintu bernomor " jelas Robin,

Sasuga Robin, ia memang orang yang tepat untuk ditanyai begitu, selain bersikap tenang ia juga bisa mencerna penjelasan Zero dengan baik, tapi.. bicara soal Zero

" Siapa itu Zero? " tanya Zoro

" Entahlah " jawab Robin

Tiba tiba suara tadi muncul lagi, Zero.

" Sekarang, mari kita mulai gamenya. Semoga kalian semua beruntung. "

Kemudian speaker itu mati dan tidak berbicara lagi.

" Oi! brengsek! keluar kau! " teriak Zoro dengan penuh emosi

" K-konoyarou Zero, keluar kau, a-atau aku akan " walau gemetar Ussop tetap meneriaki speaker yang sudah mati itu

" Keluar kau bedebah! " teriak Sanji tak kalah emosi

" Kalian! hentikan berteriak dengan kata kata kasar begitu, lihat ada anak kecil disini! ahou " dan pukulan telak mendarat manis dikepala Zoro dan Sanji. Sedangkan Ussop? Ia menghindar dengan cepat dari pukulan maut (?) Nami

" Mellorine " gumam Sanji dengan mata love love

" Cih " Zoro hanya mendecih kesal

" Hah, nah sekarang apa yang ak-" ucapan Nami terpotong oleh teriakan nista Ussop

" GYAAAAAAA "

" Oi Ussop! ada apa? " tanya Luffy

" Lihat! air! airnya menggenang sampai disini " tunjuk Ussop ke arah tangga, diantara deck C dan deck B

" Kalau sampai airnya naik terus kita bisa celaka " lanjut Ussop

" EEEEEH " teriak Luffy

" Tidak akan " ujar Robin

" Eh? "

" Lihat, airnya tidak mengalir lebih tinggi, sepertinya Zero memakai semacam remote control untuk mengendalikan aliran airnya " ujar Robin

" Mengendalikan? " tanya Luffy dan Ussop

"Ya, seperti menutup saluran yang menahan aliran air di lantai bawah sana, dia bilang batas waktunya 9 jam, sepertinya airnya gak akan bertambah selama itu." jelas Robin

" Jadi kita gak akan tenggelam sampai batas waktunya tiba? " tanya Kaya

" Ya, mungkin pemikiran seperti itu terlalu optimis. Sebaiknya kita jangan terlalu berharap, " ujar Robin

" Baiklah kalau kita tidak cepat, kita hanya akan terjebak diantara deck A dan deck B " sahut Nami

" Hancock kenapa kau melamun? " tanya Luffy, sedari tadi ia memperhatikan Hancock yang tiba tiba diam, eh? tunggu? Luffy memperhatikan Hancock?

" Eh? tidak apa apa kok " ujar Hancock bohong, sebenarnya ia sedikit takut akan penjelasan Zero tadi mengenai waktu 99 detik yang harus mencari alat yang sama dengan dipintu, bagaimana jika alat itu disimpan ditempat tersembunyi yang sulit untuk ditemukan? dengan bom yang sudah seperti timer kematian untuknya, tentu saja seorang Hancock yang dikenal tak takut akan apapun bisa dibuat gelisah juga.

" Kau yakin? " tanya Luffy memastikan, ia tampak khawatir melihat wajah pucat Hancock, Boa yang saat itu berada didekat Luffy ikut memperhatikan Hancock, entah kenapa Boa tidak mau jauh jauh dari Luffy, baginya Luffy sudah seperti tempat berlindung baginya, dan Luffy sendiri merasa tidak keberatan

" I-iya aku tidak apa apa Luffy " ujar Hancock memberikan ekspresi semeyakinkan mungkin walaupun ia jadi terlihat aneh, tapi karena Luffy tipe yang super polos ia percaya saja.

" Kalau memang ada yang mengganggumu bilang saja padaku " ujar Luffy dengan cengiran khasnya, sontak Hancock langsung blushing tapi berusaha menutupinya

' mukanya memerah, sepertinya dia suka sama Luffy-niichan ' batin Boa

" B-baiklah " ujar Hancock

" nah kalau begitu tunggu apalagi? ayo kita buka pintunya " ujar Nami

" Baiklah " ujar Kaya

Mereka mendekati pintu bernomor dan mulai merundingkan kelompok yang akan mereka bagi.

" Jadi siapa yang akan masuk pintu 4 ? dan siapa yang akan masuk pintu 5 ? " tanya Nami

" tunggu! " teriak Boa tiba tiba

Semuanya langsung menatap Boa, ada apa dengan gadis kecil ini?

" Aku tidak peduli mau masuk pintu mana, tapi aku tidak mau dipisahkan sama Luffy-niichan! " ujar Boa sambil memegang erat lengan Luffy

" EEEH " semuanya hanya bengong, gadis kecil ini tidak mau jauh jauh dari Luffy? ada apa dengan gadis kecil ini?

" Baiklah, memangnya kenapa? kenapa kau tidak mau dipisahkan dari Luffy? " tanya Nami

" A-aku tidak tau " jawab Boa

Semua orang hanya saling pandang dan mengangguk

" Baiklah kau akan satu kelompok dengan Luffy, Boa-chan " ujar Kaya

" Shishishi " Luffy hanya tertawa sekenanya

" Baiklah kalau begitu " ucap Robin dan semuanya langsung menatap Robin

" Luffy, Boa-chan, Hancock , Zoro dan Nami, kalian akan memasuki pintu nomor 4 , sedangkan Sanji, Ussop, Kaya, Olivia dan aku akan memasuki pintu nomor 5 " ujar Robin

" Kenapa? " tanya Ussop

" Hasil akar digitalnya pas sesuai pintu bernomor itu, coba kau hitung " ujar Robin

1 tambah 9 tambah 4 tambah 2 tambah 6 = 22 dan akar digital dari 22 adalah 2 tambah 2 = 4

3 tambah 7 tambah 8 tambah 9 tambah 5 = 32 akar digital dari 32 adalah 3 tambah 2 = 5

" soukka, hasilnya pas, " ujar Ussop

" Nah kita sudah sepakat bukan? ayo " ujar Robin

" Ya, benar kita harus bergerak dengan cepat kalau tidak kita bisa celaka " ujar Sanji

" Baiklah Sanji aku titip mereka semua padamu ya " ujar Luffy yang tiba tiba bernada serius

" Siap kapten " ujar Sanji

" Kapten? " tanya Boa bingung

" Ah Luffy itu ketua diantara kami berempat, " ujar Ussop sambil menunjuk diri serta Sanji dan juga Zoro.

" Wah sugeee " ujar Boa dengan mata berbinar

" shishishishi " Luffy hanya tertawa

" Hah bisa bisanya dia tertawa disituasi seperti ini " gumam Kaya

" Yah dia kan Luffy " sahut Nami

" Kalau diantara kalian berempat siapa ketuanya? " tanya Boa sambil bertanya pada para gadis

" Oh kami? ketuanya adalah dia " ujar Nami sambil menunjuk Hancock

Sedangkan orang yang ditunjuk hanya melamun,

" Hancock? " tanya Kaya sambil menepuk pundak Hancock pelan

" Eh? kenapa? " tanya Hancock

" Kau tidak apa apa kan? " tanya Kaya khawatir

" T-tidak kok, aku tak apa apa " ujar Hancock berusaha menutupi pemikiran yang sedari tadi ia fikirkan tapi ia memutuskan untuk menyimpannya sendiri

" Baiklah " ujar Kaya, ia tahu persis sifat Hancock, kalau ia tak mau bicara takkan ada gunanya memaksa

" Kalau begitu ayo, kita harus segera membuka pintu itu " ujar Nami

" Baiklah ayo " ujar Luffy sambil mendekati pintu nomor 4 , lebih tepatnya ia memimpin kelompoknya untuk maju lebih dulu disusul yang lainnya, dan tentu saja pintu nomor 5 dipimpin oleh Sanji. Merekapun bersiap membuka pintu bernomor.

" Kalian siap? " tanya Luffy, ia melihat semua anggota kelompoknya yang tampak harap harap cemas, sedangkan Boa masih betah memegangi lengan Luffy, dan melihat teman temannya yang memberi ekspresi tidak yakin kecuali Zoro tentunya Luffy jadi kesal.

" Oi jangan khawatir, tidak akan terjadi hal yang buruk " ujar Luffy berusaha meyakinkan Hancock dan Nami, Sedangkan Zoro tak menunjukan kekhawatiran samasekali walau dalam hati ia sangatlah tegang akan apa yang menantinya didalam pintu bernomor.

" Bagaimana kalau didalam sana ada sesuatu yang berbahaya? atau jangan jangan ada seseorang yang menunggu kita dibalik pintu itu " ujar Hancock, karena sudah tidak tahan ia akhirnya menumpahkan kekhawatirannya. Mendengar itu Nami bergidik ngeri.

" Luffy, kita kan tidak tau dikapal ini hanya ada kita atau mungkin ada orang lain, terlebih tadi orang bernama Zero mengatakan kalau dia adalah kapten kapal ini, itu artinya dia ada disi-" ucapan Hancock tiba tiba terhenti karena

Grep

" Eh? "

Luffy memeluk Hancock, erat..berusaha menyalurkan kekuatan untuk berani, Luffy sangat mengenal Hancock. Dia bukan gadis yang dengan mudahnya panik atau takut, namun sekalinya ia berada disituasi tersebut. emosinya bisa tak terkendali, sedangkan Boa yang melihat gerakan tiba tiba Luffy malah ikut memeluk Hancock

" Tenang saja aku akan melindungimu, Hancock " ucap Luffy pelan, Hancock hanya diam dan tak percaya dengan apa yang baru saja Luffy lakukan dan katakan, disisi lain Boa tersenyum kearah Hancock dan Hancock bisa melihat senyuman tulus gadis kecil itu, dan entah kenapa ia tanpak tenang melihat senyuman gadis kecil itu

" Luffy Boa " gumam Hancock

" Jangan takut, kan ada aku " ujar Luffy lagi.

" Ada aku juga " sahut Boa

" Percayalah padaku " lanjut Luffy, setelah itu ia melepaskan pelukannya dan memberikan cengiran khasnya sambil berkata lagi

" Aku akan menghajar siapapun yang menganggumu, shishishishi "

' EEEEH LUFFY PERTAHIAN??? '

itulah suara hati orang orang yang sedari tadi menonton adegan LuHan yang tak biasa itu.

" Kalau kau takut, pegang tanganku, jangan jauh jauh dariku " ujar Luffy lagi

" Ayo! aku juga takut tapi kalau dekat Luffy-niichan aku merasa aman " ujar Boa sambil tersenyum

Semuanya minus LuHan, Boa dan Olivia langsung jawdrop massal

" Baiklah " Hancock berusaha tegar dan berani, banyak asumsi mengerikan yang sedari tadi hinggap difikirannya namun ia tepis karena ia percaya pada Luffy, dan karena Luffy saat ini tengah mengenggam tangannya, terlebih senyuman Boa juga sangat menenangkan hatinya.

" Baiklah kalian sudah siap kan? " tanya Luffy pada semua orang disana. Walau masih dipenuhi kekhawatiran, mereka semua mengangguk mantap, mereka harus bergerak dan mencari jelan keluar.

" Baiklah Luffy sampai jumpa nanti " ujar Sanji sambil menatap Luffy dengan tatapan penuh keyakinan.

" Osh! hati hatilah kalian " ujar Luffy, pancaran matanya juga sangat yakin dan penuh percaya diri, oh dan tentu saja Luffy masih mengenggam tangan Hancock dan Boa tentunya.

Merekapun mulai mengscan gelang masing masing di RED dan memverifikasinya

" Aku tarik tuasnya ya, kalian siap? " tanya Luffy

" Ya! " jawab mereka serempak.

Luffy menurunkan tuasnya dan suara gemuruh mengelegar diruangan mewah itu. Kelompok Sanji juga baru saja menurunkan tuasnya,

Pintu nomor 4 dan 5 pun terbuka, diiringi suara gemuruh yang siapa saja yang mendengarnya pasti merinding ketakutan.

Hancock mempererat genggamannya begitupun dengan Boa, mereka berdua takut. Melihat lorong yang gelap dibalik pintu, membuat mereka parno sendiri.

" Tenang saja, jangan jauh jauh dariku," ujar Luffy serius, ia juga tidak tau. Apa gerangan yang menantinya dibalik pintu itu.

" Zoro kau jagalah Nami " ujar Luffy dengan nada serius. Dia berjaga jaga kalau memang benar ada orang lain disana dan mereka diserang secara mendadak.

" Siap kapten " ujar Zoro,

" oi Nami, jangan tersesat ya " sahut Zoro,

" Woah lihat siapa yang bicara begitu, bukannya kau yang buta arah! " seru Nami tak terima

" ah sudahlah ayo cepat "

Sedangkan Sanji dkk yang hendak melangkah masuk, diikuti Robin, Ussop, Kaya dan juga Olivia. Tiba tiba berhenti dulu dan berteriak kearah Luffy dkk

" Nami swaaaaan berhati hatilah! sebenarnya aku ingin menjagamu tapi akar digitalnya takkan pas " teriak nista Sanji, mendengar itu Nami malah mual sendiri

" ahou " gerutu Zoro

" Cih dasar kuso Marimo " ujar Sanji mendengar gerutuan Zoro tadi

" Cepat oi! " teriak Ussop pada Sanji

" Iya iya ayo " Kelompok Sanji pun segera memasuki pintu itu karena batas waktu pintu itu hanya 9 detik.

" Ayo " Luffy dkk pun masuk dan selang 9 detik kemudian pintu itu tertutup dengan sendirinya, dan

pip pip pip pip

pip pip pip pip

Suara? suara apa?

" Gelangnya, lihat ia menampilkan tengkorak dan tanda peringatan, kenapa ini? kenapa? " ujar Nami panik, Hancock dan Boa juga ikut panik karena gelangnya juga mengalami hal yang serupa.

" Timer! itu pasti timer bomnya, kita harus mencari DEAD, kalian ingat kan? kita harus memverifikasi lagi gelang kita di DEAD " jelas Hancock dengan nada tak kalah panik

" Bentuknya bagaimana???!! " tanya Nami yang mulai berkeringat dingin

" Aku juga tidak tau " jawab Hancock

" Bagaimana ini? berapa waktu kita? 99 detik kan? sudah berapa detik sejak pintu terutup? " ujar Boa semakin memperkeruh suasana

" Tidak tau, aaa bagaimana ini " Nami semakin panik

" Kita tidak bisa kembali, pintunya sudah tertutup rapat " ujar Zoro

" Kita harus cepat mencari DEAD! " seru Nami

" Dimana? " tanya Luffy

" Entahlah, lihat dilorong sana ada beberapa pintu " seru Zoro

" P-pintu? " Hancock mulai memucat, jangan bilang ia harus mencari alat itu disemua pintu, ada berapa banyak pintu? sedangkan waktu mereka tidak banyak.

" Jangan katakan apa yang kufikirkan " sahut Nami

" Sial, pintunya dikunci " seru Luffy

" ini juga " sahut Boa

" Pintu ini juga " ujar Zoro dan Nami

Hancock juga mencoba membuka salah satu pintu namun sama, terkunci.

" Sudah berapa kali aku membuka pintu yang terkunci terus " gerutu Luffy kesal

" Lihat! apakah itu bendanya? " seru Boa tiba tiba, mereka melihat apa yang Boa maksud dan

" Ya! sepertinya itu, ayo cepat " teriak Luffy

" Ayo! "

Mereka semua berlarian kearah yang Boa tunjuk tadi, tepatnya diujung lorong,

" benar! benda ini mirip RED " seru Nami

" Yosh " Luffy mulai memverifikasi gelangnya, diikuti Boa, lalu Hancock, Nami dan terakhir Zoro.

Pip pip pip

Beep

Suara timer gelang itupun berhenti.

" Hah hah hah "

Semuanya mencoba mengatur nafas masing masing, jika saja mereka tidak sempat sedetik saja, mereka bisa mati. Benar benar game gila, itulah fikir mereka.

" Kusoo aku lelah " ujar Luffy, tentu saja, bagaimana tidak? tiba tiba ia terbangun, terjatuh dari 3 kasur tingkat dan disuguhi guncangan keras lalu diterjang ombak dan hampir saja tenggelam, benar benar melelahkan.

" Hah hah aah aku capek " Boa juga sama lelahnya, apalagi dia masihlah anak anak, lihat saja keringatnya yang semakin bercucuran terlebih mukanya mulai... memerah?

" Boa? kau baik baik saja? " tanya Hancock

" Iya mukamu memerah dan agak pucat? " ujar Nami

" Eh " Luffy melihat Boa dan tampaknya gadis kecil itu sedang tidak baik baik saja.

" Kepalaku sakit " ujar Boa pelan

Hancock mendekati Boa dan

" Eh? "

Hancock memegang kening Boa, diapun kaget. Suhu gadis itu sangatlah panas, apakah dia sakit?

" badanmu panas sekali, kau demam Boa " ujar Hancock khawatir

" E-eh? " Boa merasakan matanya mulai berkunang kunang

" B-boa? " Hancock semakin khawatir

" Oi " ujar Luffy

BRUKK

Boa ambruk, tentu saja Luffy cepat menangkapnya sebelum ia jatuh dilantai.

" Oi Boa! oi! " teriak Luffy

" Tenang Luffy, sepertinya dia pingsan, biar kulihat " Hancock mendekati Boa dan ia merasa kalau seluruh pakaian Boa, basah?

" Luffy apa yang terjadi pada kalian berdua? " tanya Hancock

" Maksudmu? " tanya Luffy tak mengerti

" Kalian tadi datang bersama kan? baju Boa basah semua, apa yang terjadi, " Tanya Hancock

" basah? pantas saja! dia jelas jelas demam " ujar Nami, ia tak habis fikir, gadis kecil ini bisa bertahan selama itu dengan pakaian basah

" Kan sudah kubilang kami tadi dikejar ombak dan tsunami! " jelas Luffy

" Uh huh, dakara Boa kau gendong? " tanya Nami

" Iya karena saat itu air sudah hampir membuatnya tenggelam " ujar Luffy

" Kasihan Boa, baiklah Luffy dan Zoro kalian hadap sana dan jangan mengintip kebelakang " ujar Hancock

" Eh? nande? " tanya Luffy

" Aku mau melepas pakaian Boa dan memakaikan sweaterku, " ujar Hancock

" Maksudmu kau akan memakai bra doang? " tanya Nami tidak percaya

" Ish tidak lah! aku memakai kaos, singkatnya aku pakai baju double " ujar Hancock

" Wah kukira kau mau memakai bra saja " ujar Nami dengan senyum mengejek

" Bodoh! mana mungkin kan " ujar Hancock kesal

" Memangnya kenapa? " tanya Luffy

" M-maksudmu? " bukannya menjawab Hancock malah balik bertanya.

" Kalau kau pakai bra doang memangnya kenapa? " tanya Luffy polos

" Bakaaaaaa! jangan bertanya hal yang bodoh " teriak Hancock

" eh? baiklah " Luffy menurut saja

" Cepat kalian balik badan " perintah Hancock, Luffy dan Zoropun berbalik, dengan cepat Hancock melepas semua pakaian Boa dan memakaikan sweaternya. Sedangkan Hancock sendiri kini hanya memakai kaos berwarna ungu ( persis seperti yang ada digambar cover ff ini )

" Baiklah selesai "

" Zoro lihat, disitu ada dua pintu " ujar Luffy

" Sepertinya begitu, coba kita buka " ujar Zoro

Hancock dan Nami hanya bengong, apa yang mereka bicarakan?

" Hei apa yang " ucapan Nami tak selesai karena kini Luffy dan Zoro membuka dua pintu, dan yang mengagetkannya adalah

" Terbuka! pintunya terbuka! " seru Nami

" Wah benar " Hancock juga kaget, bukan karena apa. Sepanjang mereka kesini, mereka selalu disuguhi pintu terkunci, dan tentu saja Zero tidak akan dengan mudahnya memberi mereka jalan keluar.

" Lihat tulisan dipintu ini B92 dan yang itu B93 " ujar Zoro sambil menunjuk pintu yang ia buka dan Luffy buka.

" Sepertinya Zero sengaja membiarkan pintu itu terbuka, sepertinya disetiap pintu itu ada semacam petunjuk? " ujar Hancock

" Walau aku taksuka seperti dipermainkan oleh Zero, ayo kita masuk " ujar Nami

" Ah biar Boa aku yang gendong, " Luffy mendekati Hancock dan menggendong Boa, sedangkan Hancock bingung,

" Luffy aku juga bisa kok menggendongnya " ujar Hancock

" Lihat, kakimu tadi terbentur aku jg tidak menyadari kapan, maafkan aku " ujar Luffy mendadak lesu, sedangkan Hancock sendiri bingung dan menyadari kakinya memar sebelah, sepertinya ia terbentur saat sedang mencari DEAD, dan saking paniknya ia sampai tak menyadarinya.

" aku sudah bilang akan melindungimu dan Boa tapi kalian malah " Luffy tertunduk, oh tidak Hancock tidak suka melihat Luffy begini, disisi lain Zoro dan Nami juga kaget, mereka jarang melihat ekspressi Luffy yang tampak menyesali sesuatu.

" Tidak Luffy, bukan salahmu, akulah yang kurang hati hati, jangan menyalahkan dirimu sendiri " ujar Hancock

" Aku benar benar minta maaf "

" Tidak, aku taksuka kau meminta maaf, katakan saja, semuanya akan baik baik saja " ujar Hancock sambil tersenyum tulus

Nami? jawdrop, seingatnya Hancock itu paling anti tersenyum apalagi pada pria, terlebih ia memandang rendah semua pria, karena kebanyakan mereka selalu melihat fisiknya yang cantiknya diatas rata rata

Zoro? dia tak terlalu ambil pusing mengenai hal itu

" B-baiklah " Luffy mulai kembali seperti semula, iapun berjalan mendekati pintu B92

" Aku akan mengecek ruangan ini " ujar Luffy

" Aku ikut denganmu " ujar Hancock mendekati Luffy

" Yosh, Zoro Nami kalian cek ruangan B93 " seru Luffy

" Ok " Merekapun memasuki ruangan B92 dan B93

Kemudian mereka masuk ke dalam. Luffy,Boa dan Hancock memasuki ruangan B92, sedangkan Nami mengikuti Zoro memasuki ruangan B93.

Luffy melihat-lihat ke sekitar ruangan. Berbeda dengan ruangan dimana dia menemukan dirinya terbangun. Ruangan ini lebih seperti untuk kelas menengah ke atas. Lebih bersih dan lebih mewah. Selain itu kamar ini juga memiliki kamar mandi. Dan ruangannya terbagi menjadi dua, salah satu kamar berisi kasur, kemungkinan besar ini adalah kamar tidur. Dan disebelah kamar mandi terdapat sebuah vas bunga dan lukisan.

" Lukisan aneh " gumam Hancock, menurutnya Lukisan itu sangatlah aneh, bukannya bergambar sesuatu ini malah mirip seperti

" Gurita? " ujar Luffy yang berada tepat disebelah Hancock

" L-luffy " ujarnya kaget

" Lihat gurita " ujar Luffy sembari menunjuk lukisan aneh yang sedari tadi Hancock perhatikan.

" Bukan, aku sepertinya pernah melihat lukisan ini " gumam Hancock sambil mencoba mengingat ingat sesuatu, lalu iapun ingat

" ah iya ! kau tau Luffy? " Tanya Hancock cepat

" Tau apa? " Luffy balik bertanya

" begini, dulu ada seorang ahli biokimia dari inggris, ia memiliki sebuah teori yang menarik dan kurasa aku pernah melihat lukisan ini dibukunya " ujar Hancock

Luffy tampak cengo, tak paham

" Teori? buku? " ujar Luffy bingung

" Morphogenetic Field, yang bergantung pada teori resonansi morfik " jelas Hancock

" Haah? " Luffy semakin pusing dengan penjelasan Hancock

" Luffy! ayolah itu bukan konsep yang sulit untuk dipahami " ujar Hancock yang melihat ekspressi Luffy yang sudah sangat menyedihkan begitu

" Biar kujelaskan lagi. Jadi, pada dasarnya, ia menyatakan bahwa bentuk organisme hidup dan pola perilaku mereka ditularkan melalui bidang yang tidak terlihat oleh mata " jelas Hancock

" Maksudnya ? " Kepala Luffy sudah mulai berasap saking pusingnya ia mencerna penjelasan Hancock

" Hmm bagaimana kalo begini, teori mekanisme Telepati " jelas Hancock

" Telepati? " Luffy sepertinya pernah mendengar kata itu.

" Ya, Telepati. walau sebenarnya teori ini bukanlah telepati, namun itu cukup mendekati telepati " jelas Hancock

" Aaah aku tak mengerti " ujar Luffy dengan muka bodohnya

Hancock harusnya tau kalau Luffy bukanlah orang yang tepat untuk diajak berdiskusi hal semacam ini.

" Hah baiklah kalau begitu ayo kita cari petunjuk lain disini " ujar Hancock

" Ok "

" Eh tapi, tunggu Luffy " sela Hancock

" Kenapa? " tanya Luffy

" Disini kan ada kasur, lihat disana " ujar Hancock sambil menunjuk sebuah kasur

" Ah benar, terus? " tanya Luffy

" Kita tidurkan Boa disana, agar kau lebih leluasa mencari petunjuk disini dan agar Boa juga bisa beristirahat dengan nyaman untuk sementara " ujar Hancock

" Ah! kau benar " Luffy pun berjalan mendekati kasur itu dan menidurkan Boa, ia mengelus pelan kening Boa, berharap gadis kecil itu segera membaik

" Apakah diruangan ini ada saputangan atau semacam kain? " gumam Hancock

" Untuk apa? " tanya Luffy

" Tentu saja untuk mengompres Boa, dia sedang demam, suhu badannya harus segera diturunkan " ujar Hancock

" Disana ada lemari kaca tapi, " Luffy melihat dengan lebih dekat namun

" Tidak ada apapun disana " ujarnya

" Kalau dibiarkan dia bisa "

Srek

" Eh? "

" Gunakan ini, kau rawat saja Boa dan jaga dia, berjaga jaga saja kita tidak tau apa yang akan terjadi jika kita tinggal Boa sendirian dikasur itu, sementara kita mencari petunjuk " ini dia hal yang membuat Luffy disukai oleh banyak orang, walau ia konyol, bodoh dan idiot namun ia memiliki sisi serius yang bisa membuat siapapun kagum dan hormat padanya.

" Baiklah " Hancock mengambil robekan baju Luffy. Ya, ia sengaja merobek pakaiannya sebagian agar bisa digunakan untuk mengompres Boa.

" Luffy kau yakin tidak apa apa? bajumu jadi seperti dirobek paksa dan seperti habis kerampokan? " ujar Hancock

" Shishishi tenang saja, aku tak peduli yang terpenting adalah kesembuhan Boa, kuserahkan dia sementara padamu, Hancock " ujar Luffy dengan cengiran khasnya

" Baiklah " ujar Hancock sambil tersenyum. Lalu Luffy langsung mencari petunjuk kepenjuru ruangan, sedangkan Hancock langsung mengambil air dikamar mandi ruangan itu dan mengompres Boa, ia menyelimuti Boa agar gadis itu tidak kedinginan,

" Boa " gumam Hancock, berharap gadis kecil itu segera membaik.

Sementara itu diruangan B93

Zoro dan Nami melihat kesemua arah ruangan B93, mereka melihat hal yang sama dengan yang LuHan lihat, dan tanpa sengaja Nami menangkap sebuah figura yang menempel di dinding dengan sebuah lukisan?

" Zoro lihat ada lukisan " seru Nami

" Mana? " Zoro melihat arah yang Nami tunjuk dan melihatnya juga, merekapun mendekati lukisan itu, tapi

" eh? apa ini " gumam Zoro

" Ini bukan lukisan, ini peta ! " seru Nami

" dan kelihatannya ini peta interior kapal ini ! " lanjut Nami

" Penemuan bagus " ujar Zoro

Nami pun mengambil peta itu dan memperhatikan peta itu dengan seksama

" Woah kapal ini lebih besar daripada yang kuduga," ujar Nami sembari memperhatikan peta itu

" dan sepertinya ada sembilan ratus kaki." lanjut Nami

" Pasti kapal pelayaran yang mewah," ujar Zoro

" Ya, tapi barang-barang di atas kapal ini semua terlihat sangat kuno, walaupun mungkin itu tema kapal ini, rasanya tetap terlalu berlebihan. " ujar Nami

" Kau ingat apa yang Zero katakan? " ujar Zoro

" Pada tanggal 14 bulan April tahun 1912 kapal Titanic yang terkenal menabrak bongkahan es, menurutmu apa mungkin ini ada hubungannya dengan kapal Titanic? " Zoro berusaha menerka

" hmm, aku ragu Zero akan menyebutkannya jika tidak ada alasan, " ujar Nami sembari melihat-lihat ke sekitar kamar.

" Mungkinkah kapal ini sebenarnya… replika Titanic? " ujar Nami

" Replika? " tanya Zoro bingung

" Ya, copy dari Titanic yang sesungguhnya, semacam tiruan Titanic " jelas Nami

" Tapi siapa yang mau membuatnya? " tanya Zoro, menurutnya itu hal yang agak berlebihan dan mustahil? kapal Titanic kan kapal kuno dan bisa disebut sudah menjadi sebuah sejarah.

" Fans, mungkin fans fanatik Titanic, " jawab Nami asal tebak.

Zoro terlihat terkejut dengan jawaban asal Nami

" Tidak mungkin, Kau pikir berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk membuat kapal semacam ini? " ujar Zoro berusaha berfikir logis

" Entahlah, tapi kan bisa saja, misalnya saja dipakai untuk memberi tur atau semacam wisata " ujar Nami

" Tur? " tanya Zoro

" Ya, tur menaiki Titanic, agar para penumpang merasakan seperti apa rasanya naik kapal bersejarah sepanjang masa. Keuntungannya bisa lebih besar daripada biaya pengeluarannya, seperti filmnya." jelas Nami, kalau dalam menghitung uang atau pengeluaran dan pendapatan ia memang ahlinya.

" Tapi, apa orang mau naik kapal yang pernah punya reputasi buruk di masa lalu? Apalagi tercatat sebagai salah satu kecelakaan paling buruk yang pernah ada dalam sejarah, lebih dari 1500 orang meninggal " ujar Zoro

" hmm kau benar juga, ah sudahlah lupakan kita harus mencari petunjuk disini " ujar Nami

" Baiklah " Lalu Zoro berjalan mendekati toilet, siapa tau ia bisa menemukan sesuatu disana

Zoro hanya bisa melihat toilet biasa pada umumnya, sebuah shower dan toilet? takada hal aneh. iapun tak sengaja melihat lukisan aneh disebelah kanan toilet.

" Lukisan? tapi bentuknya agak aneh " gumam Zoro, kali ini memang benar lukisan namun bentuknya agak aneh, seperti lukisan abstrak. Zoro mencoba membongkar lukisan itu dan Nami menghampirinya

" Zoro lihat aku menemukan sebuah benda aneh, " seru Nami

" Benda apa? " tanya Zoro

Nami menghampirinya sambil membawa sebuah benda berbentuk kotak dan warnanya putih campur hitam,

" Apa itu " tanya Zoro

" Entahlah aku menemukannya didalam laci sana " ujar Nami

" tunggu, sepertinya benda ini " Zoro mengambilnya dari Nami dan menaruhnya dilukisan yang ia lihat tadi

" Mau kau apakan? " tanya Nami

" Cocok, benda ini cocok dengan lukisan ini " ujar Zoro

" Jadi maksudmu? benda ini semacam puzzle? " tanya Nami

" Sepertinya begitu " jawab Zoro

" Lihat, sepertinya tinggal satu bagian lagi yang hilang " seru Nami sambil menunjuk satu bagian lukisan

" Baiklah kita harus mencari bagian yang hilang, mungkin sesuatu akan terjadi " ujar Zoro

" Ya, dan mungkin kunci dari pintu ganda yang berada diantara ruangan ini ada disini " ujar Nami. Ya selain dua pintu tadi ada pintu ganda yang berada diujung lorong, tentu saja pintu itu terkunci

Merekapun mulai mencari lagi , seisi ruangan itu diacak acak oleh Nami dan Zoro, serasa melampiaskan kemarahan mereka pada Zero yang seenaknya membuat mereka berada disituasi seperti ini.

Sementara itu

Boa membuka matanya dan ia melihat Hancock yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran.

" Boa! " seru Hancock

" H-hancock-neechan " gumam Boa

" Yokatta! kau baik baik saja kan? " tanya Hancock

Boa hanya mengangguk sembari berusaha duduk

" Boa! jangan, kau tiduran saja dulu, ya? istirahatlah dulu, demam mu sudah turun tapi badanmu masih hangat " ujar Hancock

" B-baiklah " ujar Boa menurut

" Hancock! " seru Nami yang tiba tiba datang

" Nami " gumam Hancock

" Bagaimana dengan Boa? " tanya Nami

" Ah dia baru saja sadar, suhu badannya sudah menurun tapi masih hangat " jelas Hancock, dilihatnya lagi Boa yang manatapnya dengan tatapan bingung

" Boa kamu tidur lagi saja ya, serahkan saja urusan game tak masuk akal ini pada kami semua " ujar Nami

" Gomen ne " gumam Boa dengan muka sedih

" Tidak, jangan berkata begitu, kalau kau sakit Luffy bisa sedih dan khawatir, tidur dan segera membaiklah Boa " ujar Hancock sambil menatap Boa penuh kasih sayang, melihat itu Nami hanya melongo, seperti bukan Hancock saja

" Baiklah, arigatou " ujar Boa sembari tersenyum hangat dibalas senyuman Hancock

' Perasaanku saja apa mereka sangatlah mirip ya? ' batin Nami

Setelah itu Boa mulai menutup matanya dan tertidur, karena kepalanya masihlah terasa berat.

" Hei Hancock, " ujar Nami

" Kenapa? " tanya Hancock

" aku baru saja kepikiran, rasanya Nonary game ini seperti game baccarat." ujar Nami

" Baccarat? Jadi mengingatkanku pada… casino? " ujar Hancock

" Iya kan? tentu saja gamenya gak pakai akar digital, tapi idenya mirip." jelas Nami

" Benar juga, " ujar Hancock

" Dan dalam game, siapapun yang punya 9 menang. " ujar Hancock lagi

" Yang punya 9? " tanya Nami tak mengerti

" Nami kau lupa? Bukannya Zero sudah bilang? Cari pintu yang bernomor 9. " jelas Hancock

" Dengan kata lain, kalau kita mau keluar dari kapal ini kita harus membuat kelompok dengan akar digital 9 " ujar Hancock menjelaskan

" Karena itulah game ini disebut Nonary game " lanjut Hancock

" Hah? " Nami masih tidak paham

" Nami omae masaka? tidak tau? " tanya Hancock tak percaya

Nami menggeleng sebagai jawaban kemudian Hancock mulai menjelaskan lagi

" Nonary berarti sesuatu berdasarkan turunan 9, berasal dari awal latin 'nona' yang berarti 9. Awalan dari satu adalah 'uni' tahu kan ? Unicorn, kuda bertanduk satu. 2 adalah 'bi' seperti binary. Binary berarti mengandung dua bagian. 3 adalah 'tri' kalau ini pasti kau sering dengar. Triple, trio, triangle. Setelah itu quart, quinti, sext, septim, dan selanjutnya. Dan tentu saja awalan 8 adalah 'octo' seperti octopus, disebut seperti itu karena punya delapan kaki, Wakatta? " tanya Hancock

" Hmm, berarti 'nona' adalah sembilan." tanya Nami

Hancock mengangguk sebagai jawaban

" Nah, sekarang berapa orang yang terperangkap dalam kapal ini? " tanya Hancock

" 9 " jawab Nami

" Dan nomor-nomor gelangnya? " Hancock

" 1 - 9 " Nami

" Dan batas waktu kita? Berapa banyak yang kita punya? " Hancock

" Zero bilang sembilan jam." Nami

" Dan untuk keluar dari kapal ini? " Hancock

" Kita harus menemukan pintu nomor 9 yang katanya tersembunyi untuk keluar dari kapal ini," Nami

" Dengan membuat kelompok dengan akar digital Sembilan " tambah Hancock

" Lihat kan? nomor sembilan ada dimana-mana dalam game ini. Tidak heran disebut nonary game." lanjut Hancock

" Gah! ini membuatku gila " ujar Nami sambil mengacak acak rambutnya frustasi.

" Oi kalian " tiba tiba Luffy dan Zoro berjalan mendekat kearah Hancock dan Nami.

" Bagaimana? kalian menemukan sesuatu? " tanya Nami

" Tentu saja " ujar Luffy dengan muka sumringah, ia memperlihatkan sebuah kunci

" Kunci? " gumam Hancock

" Ya, sepertinya ini kunci untuk pintu ganda diluar sana, kau tau? yang berada diantara kedua ruangan B92 dan B93 " jelas Zoro

" Wah bagus ayo kita coba " seru Nami

Hancock segera menggendong Boa tak lupa ia ikut serta membawa selimut yang ia sengaja lilitkan ditubuh Boa agar gadis kecil itu tetap hangat.

" Boa, bagaimana keadaannya? " tanya Luffy

" Tenang saja suhu tubuhnya sudah menurun tapi masih hangat, dan aku akan menggendongnya kali ini " ujar Hancock

" Eh? kakimu bagaimana? " tanya Luffy, sulit dipercaya seorang Luffy bisa seperhatian ini

" Tenang saja Luffy, kakiku sudah tidak apa apa kok " ujar Hancock

" Yosh, kalau begitu ayo kita keluar " ujar Luffy

" ok! "

Merekapun segera keluar dari ruangan itu, dan sekarang berada di depan pintu ganda. Luffy mencoba kunci yang baru saja ditemukannya.

Terbuka!

" Yosshhaa " serunya

" Yatta! sekarang kita bisa masuk. Nah apa lagi yang kita tunggu, ayo! " seru Nami

Merekapun memasuki pintu ganda itu dengan jantung yang berdebar debar, was was akan sesuatu yang menanti mereka. Hancock mempererat pelukannya pada Boa. Suara deritan pintu terdengar dilorong yang sunyi, mendengar itu Nami hanya bergidik ngeri. Merekapun masuk dan sebuah ruangan yang cukup besar menyambut mereka semua. Disana hanya ada satu, tangga yang mengarah kebawah dan lorong lain.

" K-kokoa " gumam Nami

" Tempat apa ini " ujar Hancock

" Oi , lihat disana ! " seru Luffy

Mereka semua segera melihat apa yang dimaksud Luffy

" Pintu " ujar Zoro

" Ayo kesana " ujar Luffy

" Eh? Kau yakin? " tanya Nami

" Ya, disini hanya ada satu pintu " ujar Luffy

" Baiklah, shikatanai " ujar Nami

Merekapun berjalan kearah satu satunya pintu yang ada disana dan

" Yosh, tidak terkunci, ayo " seru Luffy

" Ya "

Merekapun masuk, dan sebuah aula luas lainnya menyambut mereka dan tiba tiba saja sebuah suara dapat mereka dengar dengan jelas. Suara seseorang… Ah tidak, lebih tepatnya suara beberapa orang.

" Bagaimana ini? masa beneran rusak sih "

" Entahlah, pintu tadi memang belum kita cari semua tapi yang benar saja! pintu itu terlalu banyak! "

" Arrrgh ini membuatku gila ! "

Sebuah suara suara, siapa? Kemudian Luffy dkk melihat beberapa orang yang tiba tiba datang dari arah kanan mereka, arah kanan? Ya, di arah kanan Luffy dkk terdapat lorong lain

" Eh? "

Luffy dkk tak percaya dengan penglihatan mereka.

" K-kalian " ujar Luffy terbata bata

" L-LUFFY " sahut beberapa orang tersebut, yang ternyata adalah Sanji,Ussop,Robin, Kaya dan Olivia.

" EEEEEH "

To Be Continued.

Ps : Akhirnyaaa rekapan chapter 1 selesai ! terimakasih sudah membaca!