Terimakasih telah mau membaca kembali cerita ini.

Chapter 2 is up! semoga senang ^_^


Pagi Itu Datang

Jika ia jatuh tertidur...

Maka kenangan itu akan kembali membunuhnya...

Sebuah keluarga yang bahagia. Appa, eomma, dan dirinya,semua tersenyum dan begitu senang dalam kebahagiaan itu. Namun, itu semua pergi. Sirna seiring datangnya pagi.

Gadis itu berlari mengejar semua harapannya —atau mungkin keputusasaannya— namun ia tak mampu meraihnya, dan tak akan pernah bisa meraihnya.

Itulah yang orang-orang sebut dengan mimpi buruk. Dan hal itu selalu menghampiri Sungmin.

Jahat bukan?

Sungmin membuka matanya perlahan, menghirup udara sejenak kemudian bangkit dari tempat tidur.

Menyeret kakinya dengan malas ke arah jendela.

Dibukanya gorden tipis itu. Membiarkan cahaya matahari masuk ke kamarnya. Gadis itu membuka pintu balkonnya dan berjalan ke luar. Menghirup aroma dunia hari ini.

Hari ini akan menjadi hari yang sedikit menyenangkan dari hari kemarin. Mungkin.

Ia akan pergi keluar, bertemu guru musiknya, latihan, dan saling membicarakan mimpi tentang musik. Setidaknya, itulah yang sedang berputar di kepala Sungmin. Hari ini dirinya akan latihan musik untuk kompetisi musik yang akan diikutinya besok. Ya, walau aktivitasnya hari ini sepertinya merupakan rahasia yang tidak diketahui orang-orang rumah.

Yang penting satu hari tanpa tumpukan berkas dan telepon yang selalu membuatnya gila adalah hal yang harus di syukurinya.

Entah kenapa. Bagi Sungmin, mengingat apa kiranya yang akan dilakukan hari ini sudah membuat mood-nya yang kemarin sangatlah buruk menjadi lebih segar.

Jika ia terjaga...

Kenyataan sama menyakitkannya dengan mimpi buruk itu...

Gadis itu memandang ke cermin. Mematut diri dan menilai sendiri, kiranya pantas atau tidak baju yang dikenakannya itu. Tak lupa sedikit polesan bedak tipis, memakai kacamatanya, dan menggelung rambutnya. Oh, gadis itu tak akan pernah lupa menggelung rambut pirangnya itu.

Sungmin keluar kamarnya, menuruni tangga dengan cepat, dan berniat meninggalkan ruang makan. Ia tak ingin sarapan pagi ini. Kejadian kemarin masih membuat dirinya enggan satu meja dengan Kangin. Jadi, boleh dikatakan kalau kali ini Sungmin melarikan diri untuk tidak menikmati sarapannya.

Ia berjalan pelan, berusaha tak membuat seorang pun menyadari keberadaannya. Namun, sayang sekali. Saat ia nyaris menyentuh ganggang pintu, Leeteuk menyapanya dan mengucapkan selamat pagi.

"Sungmin! Kau mau kemana pagi-pagi begini? Bukankah ini bukan jam kantor mu?" ucap Leeteuk yang sudah berdiri di belakang Sungmin.

Sungmin menggerutu, "Yang pasti itu bukan urusan Eomma. Aku sibuk pagi ini," ucap Sungmin tanpa membalikan badannya.

"Paling tidak kau harus sarapan. Sarapan itu penting untuk memulai hari," ujar Leeteuk "Lagipula ku harap kau ikut sarapan pagi ini, karena akan ada seseorang yang ikut dengan kita hari ini."

"Lalu? Apa hubungannya denganku?" ucap Sungmin seraya membalikan badannya untuk menatap eomma-nya.

"Ayolah, perginya nanti saja setelah sarapan." Leeteuk pun menarik putrinya agar mengikutinya ke meja makan, sehingga Sungmin harus memutar kedua bola matanya.

Dalam hati gadis itu, ia bertanya-tanya apakah formalitas menyambut seorang tamu harus di mulai sepagi ini.

Sungmin berdiri sejenak, memperhatikan ruangan makan dengan seksama. Memang ada satu piring tepat berhadapan dengan tempatnya biasa makan. Apa mungkin ahjussi datang mengunjungi eomma hari ini?

"Siapa yang akan ikut kita sarapan hari ini? Ku harap ia orang yang menarik karena aku tidak ingin membuang-buang waktuku begitu saja," ucap Sungmin dingin.

Leeteuk tersenyum seraya berkata "Ahh... dia pasti orang yang menarik."

Sesaat, Kangin tiba-tiba datang bersama seseorang. Dan sepertinya berhasil membuat kejutan untuk Sungmin.

"Selamat pagi Sungmin. Perkenalkan tamu kita hari ini."

Sungmin membalikan tubuhnya dan menatap ayah tirinya yang tengah merangkul seorang pria muda.

"Sapa ia Sungmin. Namanya Cho Kyuhyun, dia baru pulang dari Jepang" ucap Kangin seraya menyunggingkan senyumnya yang dianggap Sungmin sangat menjengkelkan.

"Selamat pagi Sungmin-ssi!" Sapa Kyuhyun pada Sungmin seraya sedikit menundukkan tubuhnya.

Gadis yang diajak bicara itu hanya memutar kedua bola matanya lalu dengan tidak acuhnya duduk di tempatnya. "Hmm... Selamat pagi juga," balas Sungmin datar.

Kemudian semuanya pun duduk dengan tenang seraya menikmati hidangan yang telah disajikan.

Sejenak Kyuhyun berpikir. Memang sulit jika berhadapan dengan gadis kaya yang mempunyai banyak kekuasaan semacam gadis yang duduk berhadapan dengannya saat ini. Namun, seorang Kyuhyun akan tetap menganggap segala yang dilaluinya hari ini adalah sesuatu yang menarik, bukan?

Ada satu hal lagi yang menarik untuk Kyuhyun. Kyuhyun baru ingat sesuatu tentang gadis itu. Gadis itu, gadis yang ditabraknya kemarin! Tak disangka, ia adalah anak keluarga pemilik DOS Group. Tapi, apa gadis itu ingat dengan Kyuhyun? Ah, rasanya tidak mungkin. Bukan kah kemarin Kyuhyun telah memecahkan kacamatanya dan membuat gadis itu tidak bisa melihat dengan jelas? Walaupun gadis itu memiliki ingatan yang baik, tetap saja akan sulit mengenali Kyuhyun.

Setidaknya, Kyuhyun tidak perlu khawatir tentang Sungmin. Jujur saja, saat pertama kali ia melihat wajah Sungmin pikirannya langsung tertuju kepada kejadian yang kemarin. Ia hanya khawatir kalau-kalau gadis kaya itu menceritakan hal konyol itu pada jamuan ini.

Namun, yang sebenarnya benar-benar perlu dikhawatirkan saat ini adalah situasi yang dihadapi Kyuhyun saat ini. Entah kenapa, Kyuhyun merasa suasana di meja makan ini benar-benar canggung.

"Maaf jika aku lancang. Tapi, bolehkan aku bertanya mengapa seorang artis populer sedang duduk bersama kita menikmati sarapan pagi ini?" tanya Sungmin tanpa mengalihkan perhatiannya kepada hidangan. Yah, walau terkesan kaku setidaknya Sungmin berhasil mencairkan suasana.

Leeteuk tersenyum "Ku kira, kau akan berpikir kedatangan Kyuhyun merupakan urusan bisnis," ujar Leeteuk.

"Tapi, bukankah itu aneh? DOS Group bergerak di bidang industri minyak dan gas, bukan hiburan. Jadi, kenapa orang ini ada bersama kita?"

Kyuhyun merasa sangat tidak nyaman makan bersama keluarga ini.

"Maaf, tapi aku kesini memang untuk urusan bisnis. Apa anda belum tahu, Sungmin-ssi?" balas Kyuhyun.

"Tidak."

"Sungmin, kau pasti tahu kan. Beberapa tahun terakhir DOS Group berusaha merambah ke segala bidang. Setelah tahun kemarin kita berhasil sukses di bidang tekstil dan furniture, tahun ini DOS Group berencana menekuni dunia hiburan dan otomotif. Bagaimana menurutmu?" jelas Kangin.

"Kau tak usah memberitahu ku. Aku sudah tahu, karena itu cita-cita appa dari dulu. Tapi, tak ku sangka kau mengerjakannya secepat itu. Jadi, Cho Kyuhyun, seorang artis populer yang memulai debutnya di Jepang ini ingin menjadi bagian dalam rencana perusahaan untuk merambah ke dunia hiburan?"

Kyuhyun mengangguk.

"Dan Sungmin, apa aku sudah mengatakan padamu sebelumnya? Kau yang akan menjadi direktur utama DOS Entertaiment," ucap Kangin.

"Huh, kau selalu begitu bukan? Memutuskan segalanya sendiri. Yah, walaupun aku menolak kau juga tetap akan memaksaku kan?" sahut Sungmin dingin seraya berdiri dari kursinya "Baiklah. Ku ucapkan senang bertemu dengan mu hari ini Cho Kyuhyun, sayang sekali pagi ini aku ada urusan dan harus pergi. Terimakasih."

Sungmin pun berjalan meninggalkan meja makan, namun sejenak langkahnya terhenti ketika Leeteuk berkata "Kyuhyun, ku harap kau tidak keberatan menemani Sungmin hari ini."

Gadis itu pun berbalik untuk menatap ibunya.

"Aku tidak keberatan. Lagipula, hari ini aku tak ada jadwal. Tapi, jika Sungmin-ssi menganggapku mengganggu, sebaiknya aku tidak ikut serta," jawab Kyuhyun.

Sungmin tidak bisa bertindak. Bagaimana ini? ada orang lain yang akan menggangu harinya. Jika ini perintah Kangin, Sungmin akan dengan mudahnya menolak. Tapi, kalau eomma-nya yang meminta tetap saja Sungmin tidak ingin membangkang.

"Nah, Sungmin. Ajaklah Kyuhyun hari ini."

"Hmm... baiklah..." sahut Sungmin kemudian pergi. Kyuhyun pun mengikuti.

Mereka berjalan ke luar, dan Kyuhyun merasa hari ini akan menjadi hari yang menarik. Mungkin, dirinya akan merutuku diri karena dengan mudahnya menerima tawaran dari Leeteuk untuk ikut menemani Sungmin pergi. Tapi mungkin juga dirinya bisa mengetahui sedikit rahasia dari orang yang penuh rahasia seperti Sungmin.

"Kyuhyun, aku hanya ingin mengatakan ini padamu. Ini pertama kalinya aku pergi ke tempat latihan bersama orang lain dan asal kau tahu saja, tidak seorang pun tahu aku pergi sepagi ini untuk latihan. Kau akan ikut dengan ku hari ini dan kuharap kau tidak mengacau," ucap Sungmin datar setelah mereka sudah berada di dalam mobil "Jika kau berani mengatakannya pada seseorang. Ku jamin kau tak akan tenang hidup di Korea."

Kyuhyun merasa gadis itu mulai mengancamnya dan itu terlihat menakutkan.

"Apa maksudmu? Latihan? Latihan apa? Ku kira selama ini pekerjaan sehari-hari mu adalah duduk manis di kantormu dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang membosankan itu," sahut Kyuhyun.

Sungmin kesal. Baru kali ini ada orang yang berani bersikap seperti itu padanya. "Itu bukan urusanmu. Dan sepertinya akan lebih baik jika kau ku turunkan di sekitar sini, kau akan memanggil taksi dan kembali pulang. Intinya kau tidak usah pergi dengan ku karena aku sangat tidak ingin orang seperti mu ikut campur dengan urusan pribadiku."

"Sayangnya, aku disini menemani mu atas perintah dari Leeteuk-ssi. Hmm... bagaimana ya, dilihat dari segi manapun aku merasa lebih baik patuh pada perintah Leeteuk-ssi daripada gadis sombong seperti mu. Apa yang harus ku katakan padanya jika kau menurunkan ku ditengah jalan dan membuatku harus pulang ke rumah dengan taksi?"

Kepala Sungmin rasanya ingin pecah. Tak disangka, pria yang sedang duduk di sampingnya ini sungguh merepotkan. Tapi, mau bagaimana lagi? Baiklah, Sungmin akan membawanya hari ini dan memaksanya untuk tutup mulut. Huh, setidaknya.

"Baiklah, kau akan tetap ikut. Tapi ku minta kau rahasiakan ini dari keluarga ku dan orang-orang kantor, karena hanya sebagian orang dekatku yang tahu kalau selama ini aku latihan musik dengan seorang mentor," ucap Sungmin.

"Oh... jadi orang seperti mu punya rahasia juga ya..." ucap Kyuhyun yang merasa dirinya mulai mendapat keuntungan.

Arggh... entah kenapa Sungmin merasa dirinya benar-benar kesal sekarang.

"Aku telah memulai latihan musik ku semenjak aku pindah ke Korea, tapi semuanya ku lakukan tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Heechul. Cuman dia dan ahjussi yang menyetir mobil ini yang tahu tentang apa yang ku lakukan," jelas Sungmin "Sejak kecil, aku sudah menyukai musik dan selama aku tinggal di Eropa, aku mempelajarinya sedikit demi sedikit. Awalnya, pertama kali aku pindah ke Korea aku sangat sibuk sampai-sampai melupakan kesenanganku dalam musik. Namun, setelah Kangin datang mengambil alih perusahaan aku kembali mendapatkan waktu luang."

Kyuhyun benar-benar merasa malas mendengar penjelasan panjang lebar dari gadis yang duduk di sebelahnya saat ini. Mana peduli dirinya dengan urusan atau 'kesenangan' orang lain. Tapi, apa tidak boleh Kyuhyun merasa sedikit penasaran?

Mereka sampai di pekarangan sebuah tempat yang cukup besar, terlalu besar untuk menyembunyikan rahasia kecil gadis itu.

Mobil meninggalkan mereka berdua di pekarangan bangunan itu. Mereka pun memasuki gedung itu, walau dari luar terlihat sangat sepi.

"Hei! Apa kau yakin ada orang di sini? Kau benar-benar akan latihan musik di tempat yang sepi begini?" tanya Kyuhyun spontan setelah ia sudah benar-benar di dalam gedung itu.

"Kau pikir untuk latihan musik perlu keramaian? Semakin sedikit suara akan semakin bagus. Bukankah artis seperti mu harusnya lebih tahu daripada ku?"

"Terserahlah."

Mereka memasuki ruangan yang sangat besar dan sangat gelap. Sungmin menyalakan lampunya dengan menyalakan saklar di pojok ruangan, walau ruangan hanya terlihat remang-remang, setidaknya ini lebih terang dari sebelumnya.

Kyuhyun dapat melihat sebuah panggung yang besar di tengah ruangan itu, besar walau tidak begitu mewah. Tempat itu memang terasa sepi. Dirinya melihat sederet kursi untuk penonton yang berhadapan langsung dengan panggung itu. Memang benar, gadis keluarga kaya seperti Sungmin tidak mungkin tidak mampu menyiapkan ini semua untuk membuat sebuah rahasia kecil.

"Kau pasti bingung ini tempat apa, iya kan?" tanya Sungmin "Gedung ini serta ruangan ini, setiap jengkalnya adalah milik DOS Group. Tepatnya ini milik pribadi mendiang appa-ku."

"Nah, Kyuhyun-ssi. Sekarang aku ingin tahu, apa kau bisa bermain musik?" tanya Sungmin yang sudah berdiri di samping piano, tepat di tengah panggung.

"Oh, kau meremehkan ku? Asal kau tahu saja, aku ini seorang musisi tentu aku bisa memainkan beberapa alat musik." Kyuhyun berjalan ke barisan depan agar lebih dekat dengan panggung "Kau sendiri? Apa yang bisa dilakukan wanita bisnis seperti mu dengan alat musik?"

Sungmin tertawa meremehkan, kemudian duduk di depan piano. "Aku bisa memainkan piano, biola, flute, drum, dan gitar," ucap gadis itu datar.

"Jangan bercanda," sahut Kyuhyun ketus. "Aku juga bisa memainkan piano dan gitar."

Kyuhyun duduk di barisan pertama, sangat jelas melihat gadis itu mengutak-atik piano.

Sungmin memainkan lagu sembarang, entah apa itu, namun lagu itu terdengar bagus bagi Kyuhyun.

"Kyuhyun-ssi, apa kau tidak mau bertanya padaku kenapa aku lebih memilih mengahabiskan waktu dengan musik daripada menghasilkan uang atau membelanjakannya?" tanya Sungmin yang masih sibuk menyentuh tiap-tiap tuts piano.

"Hmm.. kenapa?" tanya Kyuhyun.

"Karena bagiku, musik itu adalah hal yang paling baik untuk melarikan diri dari hidup yang menyesakan dan dengan musik aku dapat melupakan semua masalah dengan mudahnya," jelas Sungmin "Bukankah uang tak bisa melakukan apa yang bisa dilakukan sebuah harmoni?"

Tiba-tiba permainan piano Sungmin terhenti ketika pintu ruangan itu terbuka. Dan pria itu datang.

"Yesung-ssi!" seru Sungmin yang kemudian berdiri dan menghentikan permainan pianonya "Tidak biasanya anda datang lebih terlambat dari saya."

Kyuhyun menoleh pada pria yang berjalan mendekati panggung "Kim Joon Woon" lirihnya. Pria yang disapa pun menoleh pada Kyuhyun.

"Oh! Cho Kyuhyun! Lama tak berjumpa," sapanya ceria. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Saya mengajaknya hari ini, saya harap Anda tidak keberatan," ucap Sungmin gugup.

Yesung tersenyum pada Sungmin kemudia berjalan menaiki panggung. "Tidak, aku tidak mungkin keberatan. Bahkan aku sangat senang bisa bertemu kawan lama," ucap Yesung.

"Kawan lama?" gumam Sungmin.

"Oh, aku belum pernah mengatakannya? Dulu, saat aku masih bernyanyi dari panggung ke panggung, aku sering bekerjasama dan duet dengan Kyuhyun. Tapi, entah mengapa, dua tahun terakhir ini aku sangat jarang bertemu dengannya," jelas Yesung yang tiba-tiba sudah duduk di depan piano dan mulai memainkan beberapa nada. "Ayo, Sungmin. Kita mulai latihannya!"

Kyuhyun hanya bisa menatap bingung pada dua orang yang ada di atas panggung itu. Tak disangka, akhirnya ia bisa bertemu dengan teman lamanya. Sepertinya, Kyuhyun tidak akan menganggap Sungmin remeh lagi. Jika melihat mentornya seperti Yesung, Kyuhyun tidak akan protes. Kyuhyun akui, Yesung memang pemusik yang baik, bahkan beribu kali lebih baik daripada dirinya.

Tapi, ada satu hal yang dirasa Kyuhyun berbeda. Entah kenapa sikap 'gadis dingin' milik Sungmin tidak berlaku pada Yesung. Apa sebesar itukah rasa hormat Sungmin kepada guru musiknya itu?

Sungmin mengambil biolanya, menaruh di pundak kanannya dan mulai menggesekannya dengan hatinya. Yesung mengiringi dengan jarinya yang menari-nari di atas tuts-tuts piano. Mereka membuat harmoni yang sangat-sangat indah, nada-nada yang begitu menganggumkan, menggema ke setiap sudut ruangan itu, dan memberikan suasana yang kuat bagi para pendengarnya. Menghanyutkan, penuh keberanian, sangat luar biasa.

Kyuhyun hanya mampu memandang kagum pada permainan dua orang itu. Baiklah, Kyuhyun akan mulai belajar untuk tidak meremehkan orang hari ini.

Permainan mereka pun selesai dengan tepuk tangan riuh dari Kyuhyun.

"Wah, Hyung. Tak ku sangka kau bisa mengajari gadis itu dengan baik dan mampu bekerjasama dengannya. Aku benar-benar kagum Hyung!" kata Kyuhyun heboh.

Sungmin tertawa seraya menaruh kembali biolanya.

Kyuhyun berdiri dari tempatnya dan berjalan ke panggung untuk menghampiri Yesung. "Hei, Hyung. Kenapa kau tak pernah mengajariku musik?" tanya Kyuhyun.

Yesung hanya tertawa mendengar pertanyaan Kyuhyun.

"Sungmin, kenapa kelihatannya kau berlatih sangat sungguh-sungguh hari ini?" tanya Kyuhyun.

"Besok aku mengikuti kompetisi musik yang pertama semenjak aku kembali ke Korea, jadi tidak salah kan jika aku berusaha keras untuk memenangkannya..."

"Oh ya Sungmin, tak biasanya kau mengajak orang untuk melihatmu latihan. Apa dia pacarmu?" tanya Yesung datar seraya memberi tatapan menggoda kepada dua orang itu.

"Tidak mungkin!" sahut mereka berdua bersamaan.

"Aku hanya disuruh Leeteuk-ssi, ikut saja. Mana mungkin aku mau punya hubungan dengan gadis aneh seperti dia," sahut Kyuhyun mantap.

Sungmin hanya bisa menggeretak dan memberikan tatapan maut spesialnya pada Kyuhyun "Siapa yang kau maksud gadis aneh?"

"Hahaha... ku kira kalian pasangan," ucap Yesung santai. "Baiklah, kalau begitu ayo teruskan latihannya dan bersiap memenangkan kompetisi untuk besok!"

Jika gadis itu tahu cinta tak terbalas itu sesakit ini...

Maka gadis itu akan tetap tegar dengan pendiriannya...

Gadis bodoh...

Hari ini sudah petang, Sungmin dan Kyuhyun sudah dalam perjalanan pulang.

"Baiklah, walau hari ini sepertinya aku banyak membuang waktuku. Tapi, ini tetap menyenangkan," ucap Kyuhyun sambil menatap ke luar jendela mobil.

Sungmin tidak menjawab, matanya tertuju pada smartphone-nya.

"Sungmin-ssi, apa kau menyukai hyung?" tanya Kyuhyun tanpa peduli dengan reaksi Sungmin.

Wajah Sungmin langsung memerah dan bicaranya mulai gagap "Da.. darimana ka.. kau tahu? A... apa... sejelas itu?"

Kyuhyun pun yang mendengar reaksi dari gadis itu, tertawa terpingkal-pingkal.

Sungmin kesal dan membuang muka, tentu saja dirinya tak terima ditertawakan seperti itu.

"Aku tak heran kau menyukainya. Yesung-ssi, memang pria yang baik. Dan sepertinya ia juga menyukaimu," goda Kyuhyun.

"Benarkah?" tanya Sungmin dengan mata berbinar, nada bicaranya terdengar serius dan penuh harap.

Kyuhyun tertawa dalam hati. Gadis dingin yang dikenalnya beberapa saat yang lalu berubah menjadi gadis bodoh yang dipermainkan cinta. Terlalu mudah untuk dibohongi. Hmm.. mungkin ini akan menjadi permainan yang menyenangkan baginya.

"Kalau begitu maukah kau datang ke kompetisi ku besok? Aku juga mengundang Heechul. Kalian akan menjadi suporter yang baik dan kalian akan membantuku melakukan sesuatu," ucap Sungmin girang.

"Huh, apa maksudmu?"

"Kyuhyun-ssi. Besok kau harus datang, Ok? Jika tidak aku akan membatalkan kontrakmu itu," ucap Sungmin.

"Eee... mana bisa bagitu? Dan kenapa harus aku yang datang?"

"Karena besok adalah hari Valentin. Dan jika aku menang, aku akan menyatakan perasaan ku pada Yesung-ssi dan aku perlu bantuanmu—"

Jika pria itu tahu seberapa bodoh dan keras kepalanya gadis itu...

Maka mereka tetap tidak akan menyerah...

Karena...

Mereka akan terus berjuang...

Entah untuk apa itu...

Bersambung...


Nah Bagaimana menurut pembaca sekalian? Apa kira-kira cerita ini semakin baik atau buruk?

Semoga saja cerita ini dapat menghibur. Jangan lupa kritik dan sarannya ya...

sampai jumpa 2 hari lagi!