Stupid Feeling

by kikooo

.

Disclaimer: All casts belong to God and this fic belongs to me.

Warnings: AU. Sho-ai. Boys Love. Boy x Boy. School-life. T buat humor kriuk dan harsh-swearing.

Main Pairings: ChanBaek/BaekYeol.

Casts: Park Chanyeol ; Byun Baekhyun ; Do Kyungsoo ; Kris ; Kim Jongin ; Kim Jongdae ; and others.

Notes: Don't plagiarize and republish this fic without permission. Blaming and flaming are allowed, but don't blame my casts. 2,6K words.

.

Happy reading!

.

.

[o][o][o]

Klotang klotang!

Eh? Suara apa itu?

Klotang klotang!

Chanyeol sejak tadi terus-terusan mengetuk-ngetukkan sendok makan ke dalam kotak bekalnya. Bibirnya mengerucut. Minta dicium banget.

Jongin, yang merasa terganggu dengan suara klotang klotang itu, langsung mengalihkan pandangan dari bekalnya ke arah Chanyeol di hadapannya. "Kenapa sih, Hyung? Kalau kau tidak mau makananmu, lebih baik kau kasih padaku saja. Aku masih lapar, nih."

Chanyeol langsung menyodorkan bekalnya. "Nih, buatmu!"

Kini Jongin menganga lebar. "Wah? Hyung? Serius, nih?"

Chanyeol mengangguk. Tatapannya kosong.

Satu.

Duaa..

Tigaaa...

"BAH?! KENAPA AKU JADI MEMBERIKAN BEKALKU?!" teriak Chanyeol tiba-tiba.

Jongin langsung menatap capek. Yeh, lemot.

Chanyeol menarik lagi bekalnya, lalu dipeluknya erat-erat. Seperti salah satu lagu anak-anak yang sudah melegenda: "Balonku tinggal empat, kupeluk erat-erat."

AAAK! Itu kan dipegang, bukan dipeluk!

-o-

Ini sudah lima hari. Limaaa hariii~

L-I-M-A-H-A-R-I.

Ini adalah hari kelima di mana Chanyeol tidak berinteraksi sama sekali dengan Baekhyun. Jujur saja, itu membuat Chanyeol merasa resah.

Bagaimana kalau Baekhyun sama sekali tidak mau berbicara padanya selama-lamanya?

Bagaimana kalau hubungan persahabatan mereka kandas begitu saja di sini?

Bagaimana...

Bagaimanaaa...?

Dan Chanyeol terlalu sibuk bertanya-tanya bagaimana sehingga tidak dapat mendengar ada seseorang yang memanggil namanya sejak lima menit yang lalu.

"Hoooi~! Anak baruuu~!"

Chanyeol masih tidak bergeming. Padahal tangan orang itu sudah bergoyang-goyang tepat lima senti di depan mata Chanyeol yang sejak tadi tidak berkedip.

Orang itu menyerah, lalu menarik meja dengan sekali sentakan ke arahnya, sehingga tangan yang dipakai Chanyeol untuk menopang dagu kehilangan keseimbangan.

Hasil akhirnya?

BRUAGH!

Dagu Chanyeol yang kehilangan tempat sandaran langsung terjatuh begitu saja dan terantuk di ujung meja.

"Awww! Appo!" ringisnya sambil mengusap dagu. Akhirnya jiwanya yang sempat melayang ke mana-mana kembali lagi.

Chanyeol langsung menoleh ke arah pelaku yang sedang menyeringai penuh kemenangan, lalu mengerutkan keningnya. "Kris-sunbaenim?"

Eits, jangan salah. Walaupun di hari itu Baekhyun pernah membelanya dari serangan brutal Kris, tidak membuat Kris dan kawanannya berhenti mem-bully Chanyeol. Malah mereka makin getol mengerjai Chanyeol kapanpun Baekhyun sedang tidak ada bersamanya.

Kalau dulu sih setidaknya Baekhyun masih sering berada di sampingnya, jadi, Chanyeol merasa aman dari serangan mereka. Tapi, melihat situasi saat ini, sepertinya Chanyeol harus meyakinkan diri bahwa selama hari-hari penuh derita ini, ia akan dikerjain terus sama si alis angry birds ini.

"You! Bengong-bengong saja! Lebih baik kau belikan aku minuman di vending machine sana!" perintah Kris tiba-tiba.

Buntut kadal. Lama-lama dompet Chanyeol bisa menipis nih gara-gara dipelorotin terus sama Kris.

Bayangkan saja, di hari pertamanya tanpa Baekhyun, Kris mendatanginya dan meminta untuk dibelikan hamburger spesial di kantin. Hari kedua, Kris meminta untuk dibelikan ddeokbeokki di seberang sekolah. Hari ketiga, Kris semakin menjadi-jadi dengan memesan pizza berukuran large atas nama Chanyeol, membuat Chanyeol harus berutang dulu pada Jongin. Hari keempat, Kris tidak memintanya membelikan sesuatu, tapi ia hanya menyuruh Chanyeol untuk mengirim barang-barang ke beberapa temannya.

Dan hari kelima ini, Kris menyuruhnya membeli minuman di vending machine?

Syiiit.

Ia benar-benar butuh Baekhyun sebagai penyelamatnya.

Asal tahu saja, semua uang kertas Chanyeol di dalam dompet sudah bermetamorfosis menjadi uang logam, jadi, bagaimana Chanyeol dapat membeli minuman di mesin itu?

"A-aku tidak bisa, sunbaenim. Uangku recehan semua," kata Chanyeol jujur sambil membuka dompet dan menunjukkannya pada Kris.

Tanpa segan, Kris langsung menyambar dompet Chanyeol dan mengeluarkan isinya dengan cara mengarahkan mulut dompet itu ke bawah, lalu menggoyang-goyangkannya sehingga uang recehnya jatuh semua ke lantai.

Kroncang kroncang.

"Yach! Sunbaenim! Kenapa kau melakukan itu?!" protes Chanyeol tidak terima.

"Sebagai pelajaran," balas Kris dengan ringan. "Supaya kau menukar dulu uang receh tidak berharga ini dengan uang kertas."

Chanyeol mengepalkan tangannya kuat-kuat. Walaupun ia ingin sekali menonjok wajah Kris, tapi ia tidak mampu melakukannya. Bayangkan saja, kalau ditelusuri lebih luas lagi kantin sekolah saat ini, banyak relasi Kris yang sedang berkeliaran di tempat ini. Kalau saja ia nekat menghajar Kris, dapat dipastikan ia bakalan dirajam satu-satu penghuni kantin.

Damnsyitfak.

Dengan tebal muka, Chanyeol akhirnya beranjak dari tempat duduknya lalu merunduk ke bawah meja untuk memungut uang recehnya.

Kris yang masih duduk di hadapan Chanyeol langsung memiringkan punggungnya ke belakang, mengintip apa yang sedang dilakukan Chanyeol saat ini. Seringai jahat muncul di bibirnya. Mendadak ia mendapat pencerahan bagaimana cara mengerjai Chanyeol lagi.

Kris mengangkat kakinya, lalu menginjak tangan Chanyeol yang sedang menelungkup untuk mengambil uang receh.

"Awww!" Chanyeol sontak langsung meringis kesakitan. Karena terlalu sakitnya bekas injakan Kris, Chanyeol terhentak ke atas, hendak berdiri. Tanpa sadar, ia masih berada di bawah meja, sehingga kepalanya terantuk dengan meja dengan kekuatan tak terkira.

"AWWWW!" erang Chanyeol lagi. "YACH! YACH! YACH! APPO!"

Chanyeol berjongkok dan bergulung di sana sambil mengelus-elus puncak kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Kasihan.

Bukan hanya nasibnya yang kasihan, orang-orang di sekitar pun memandangnya penuh rasa kasihan.

Kasihaaan...

Berbeda 180 derajat dengan ekspresi Chanyeol saat ini, Kris malah melemparkan senyum mengejek, terkekeh jahat ala ibu tiri sebentar, lalu beranjak meninggalkan Chanyeol dengan segala kemalangannya di bawah meja.

Chanyeol, can I give you one suggestion?

Mendingan pindah planet aja, deh.

-o-

Sementara di sisi lain, Baekhyun yang saat ini sedang berjalan melintasi kantin bersama Kyungsoo, makhluk unyu yang tak kalah pendek darinya, langsung menoleh ke samping ketika suara gebrakan meja terdengar begitu keras dari arah kantin.

"Hei, sepertinya fanboy-mu dikerjain hyung gila itu lagi," bisik Kyungsoo dengan wajah datar.

Baekhyun terdiam, masih memperhatikan bagaimana Kris memperlakukan Chanyeol.

Chanyeol menunjukkan dompetnya yang tipis pada Kris sambil berkata sesuatu. Dan yang membuat emosi Baekhyun langsung membuncah adalah ketika Kris mengeluarkan semua isi dompet Chanyeol dengan gaya arogan.

Baekhyun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ingin sekali rasanya menghampiri mereka, lalu menghajar Kris habis-habisan.

Tapi sayangnya, ia tidak bisa.

"Hei," Kyungsoo menyikut lengan Baekhyun, "apakah tidak apa-apa tuh fanboy-mu diapa-apakan oleh Kris? Kau tidak mau membelanya apa?"

Ugh, terlalu banyak kata "apa".

Baekhyun tidak menjawab. Matanya masih awas dengan semua gerak-gerik Chanyeol dan Kris di ujung sana.

"Yah, membelanya secara langsung, maksudku. Bukan secara sembunyi-sembunyi seperti pengecut," tambah Kyungsoo dengan nada mengejek di akhir kalimatnya.

Baekhyun langsung menoleh ke arah Kyungsoo, mendelik tidak suka, lalu kembali mengawasi dua orang itu.

"Astaga, Baek, kau tinggal datang ke sana lalu mengusir Kris. Kalau kau tetap berdiri di sini, memandangi dari jauh dengan emosi membara di sekujur tubuh, bagaimana fanboy itu bisa selamat?"

Baekhyun kembali menoleh ke arah Kyungsoo, lalu mengerang gemas. "Argh, Kyung! Berhenti memanggilnya dengan sebutan fanboy! Dia bukan fanboy-ku!"

Kyungsoo menyeringai. "Tapi tingkahnya selama ini padamu seperti seorang fanboy pada idolanya, kau tahu?"

"Talk to ma' ass," balas Baekhyun cuek.

"Cih!"

Akhirnya Baekhyun dan Kyungsoo tetap berdiri di posisi itu sampai akhirnya Kris pergi meninggalkan Chanyeol, yang masih merundung nasib karena rasa nyeri di ujung kepalanya.

Ugh, rasanya ingin sekali Baekhyun berlari ke arah Chanyeol, lalu mengusap kepalanya untuk mengurangi rasa sakitnya.

Tapi, ia tetap tidak bisa.

Yeah, setelah apa yang dilakukan Chanyeol padanya lima hari yang lalu.

You-know-what-I-mean.

.

.

Krik krik.

*Pelangak-pelongok*

.

.

Astaga! Perlukah kuingatkan lagi tentang masalah mereka?

Itu, lho. Lima hari yang lalu. Yang itu...

.

.

Krik kriiik.

*Masih pelangak-pelongok*

.

.

Oke, oke. Sepertinya aku harus mengingatkan kalian lagi.

Tepat lima hari yang lalu, Chanyeol, si anak tinggi yang terkadang idiot itu, mencium Baekhyun ketika mereka sedang berada di atap. Tepat di bibir.

Nah, sudah ingat, kan?

Krik kriiikkk...

Au ah gelap.

"Shit," umpat Baekhyun dengan wajah memerah ketika mengingat kejadian itu lagi. Selama lima hari ini, ia berusaha untuk menghapus memori tentang kejadian saat itu, tapi otaknya malah mengkhianatinya dengan memutar terus-terusan rekaman itu sampai ia gila.

Makanya, Baekhyun masih belum bisa menemui Chanyeol dan membahas tentang ciuman itu. Kalau Baekhyun sampai nekat menemui Chanyeol, mungkin Baekhyun benar-benar tidak dapat berkonsentrasi antara fokus dengan pembicaraan mereka atau...

Baekhyun menggigit bibir bawahnya.

...fokus pada bibir Chanyeol.

"Kyung," Baekhyun mengambil tangan Kyungsoo dan menariknya, "ayo, kita pergi dari tempat ini."

"Mau ke mana?"

"Ke ruangan kelas 3."

-o-

Ruangan kelas 3C tampak lebih sepi dari biasanya. Wajar, karena kebanyakan dari mereka saat ini sedang berkutat di lab komputer, belajar dan mencuri-curi ilmu tambahan untuk ujian praktek mereka.

Tapi, tidak semuanya memiliki sifat rajin dan mau belajar seperti itu. Kenyataannya, ada juga toh yang tidak ikut dan sibuk menikmati waktu istirahat yang jarang datang seperti ini.

Termasuk Kris dan kawanannya.

Melihat hasil akhir ujiannya selama ini, Kris seharusnya ikut ke lab komputer. Setidaknya di ujian kali ini, hasil ujian praktek komputernya tidak akan seburuk nilai-nilainya selama ini.

Tapi di sisi lain, ada juga yang merasa bersyukur kalau Kris tidak ikut ke lab komputer.

Yah, misalnya Baekhyun.

BRUAGH!

Baekhyun membanting pintu keras-keras, membuat Kris dan kawanannya yang tadinya sedang mengobrol asyik langsung terdiam kaku. Ketika tahu kalau Baekhyun-lah yang datang, mereka langsung mendesah lega dan beberapa dari mereka kembali melanjutkan obrolan yang sempat tertunda.

Baekhyun dengan grasak-grusuk memasuki kelas, lalu menghampiri gerombolan itu. Kris yang memutuskan untuk tidak terlibat ke dalam obrolan, menatap Baekhyun dengan bingung.

Kenapa Baekhyun tampak marah sekali?

"Hei, wassup yo, Baek? Kenapa kau—"

BRUAGH!

Belum sempat Kris menyelesaikan pertanyaannya, Baekhyun tiba-tiba sudah meninju perut Kris sekuat tenaga, membuat laki-laki tinggi itu mengerang kesakitan, lalu turun dari meja.

Tak hanya meninjunya, Baekhyun juga mengambil kesempatan untuk menginjak kaki Kris, kaki yang sudah menginjak tangan Chanyeol, sekuat tenaga. Membuat Kris kembali mengerang kesakitan.

"AWWWWW! BAEKHYUN-AH! KENAPA KAU MELAKUKAN INI PADAKU?!"

"Nggak tahu! Entah kenapa aku ingin sekali melakukan itu padamu!"

Setelah mengatakan itu, Baekhyun segera berjalan dengan gaya grasak-grusuknya, keluar dari ruangan kelas itu. Meninggalkan Kris yang masih bergulung kesakitan dan beberapa orang yang melongo menyaksikan kejadian itu.

Di luar kelas itu, Kyungsoo yang menunggu Baekhyun dari luar langsung mendecakkan lidah dan menyikut lengan Baekhyun. "Baek, mau sampai kapan kau begini? Membalas dendam pada Kris, tapi dia tidak tahu gara-gara apa."

"Biarin saja! Biar dia cari sendiri apa alasannya!" balas Baekhyun dengan ketus. "Yuk, kita ke kelas saja!"

"Ayayaya..."

-o-

Baekhyun dan Kyungsoo segera berpisah di pertigaan koridor. Baekhyun berbelok ke kiri, sementara Kyungsoo ke kanan.

"Omong-omong, Baek," kata Kyungsoo sebelum mereka benar-benar berpisah.

"Ya?" Baekhyun menoleh.

"Aku ingin menyarankanmu satu hal."

"Apa itu?"

"Apapun masalahmu—walaupun kau sedang main rahasia-rahasiaan denganku sekarang padahal aku adalah sahabatmu—pada si fanboy itu—"

"Berhenti memanggilnya fanboy!" potong Baekhyun dengan gemas.

"Ya, ya, ya... Oke, dengan laki-laki yang tidak boleh dipanggil fanboy itu..." Kyungsoo melirik Baekhyun dan Baekhyun hanya mendelik kesal. Kyungsoo terkekeh dan melanjutkan, "Kurasa kau benar-benar harus menyelesaikannya sebelum kau jadi gila sendiri. Asal kau tahu, dirimu yang sekarang sedikit membuatku cemas. Kau gampang sekali emosi akhir-akhir ini. Berbeda sekali saat kau masih bersahabat dengan fan—laki-laki itu."

Baekhyun melotot sebentar ketika Kyungsoo hampir saja menyebut "fanboy". Kemudian ia mendesah. "Kyung... itu sulit sekali. Bahkan berdiri di hadapannya saja aku tidak bisa," akunya jujur.

"Well, well. Aku baru tahu pemegang juara hapkido nasional dua kali berturut-turut ini rupanya bisa bersikap lembek juga," kata Kyungsoo dengan nada mengejek.

"Yach! Do Kyungsoo!"

Kyungsoo terkekeh. "Aku serius, bro. Kalau kau mendiaminya terus-terusan seperti itu, lama-lama dia bisa bosan menunggumu, lho."

Baekhyun terdiam sejenak. Kyungsoo sempat mengira Baekhyun akan sadar dan sifat keras kepalanya itu berkurang. Tapi, dugaannya salah.

"Ya ya ya! Aku tahu! Aku tahu! Nggak usah cerewet kayak ibu-ibu, deh! Dah!" Baekhyun segera berbalik dan pergi meninggalkan Kyungsoo.

"Yach! Aku bukan ibu-ibu!"

-o-

Kata-kata Kyungsoo barusan membuat Baekhyun berpikir ulang. Walaupun kedengarannya menyebalkan dan menyudutkannya, Kyungsoo ada benarnya juga.

Chanyeol pasti lelah sekali menunggu Baekhyun menjernihkan pikirannya. Padahal, sebenarnya masalah mereka bisa dikategorikan tidak-sepenuhnya-parah.

Hanya ciuman, kok. Chanyeol bahkan tidak melakukan ciuman yang lebih dalam seperti yang ada di film-film Hollywood yang sering ditontonnya. Hanya menempelkan bibir, kok.

Nah, lain ceritanya kalau Chanyeol menghamilinya.

Klik klik klik.

Ada yang salah sepertinya.

Baekhyun mengerutkan keningnya.

Menghamilinya.

Menghamilinyaaa...

Menghamili—WHAAAT?!

Mata Baekhyun melebar. Wajahnya memerah.

Fak. Kenapa ia bisa berpikir kelewat jauh seperti itu? Lagipula—apa-apaan itu?! Menghamili? Astaga, kenapa saat ini Baekhyun berpikir seperti gadis saja?

Baekhyun mendesah kuat-kuat dan menyapukan rambut hitamnya ke belakang.

Sepertinya ia harus menimbang-nimbang kapan waktu yang tepat untuk mengajak Chanyeol bicara.

-o-

"Anak-anak! Listen up!"

Suara Yoochun yang mendadak menggelegar itu segera menghentikan semua pergerakan yang ada di kelas.

Mendapati kelasnya sudah tenang, Yoochun mendeham sebentar, lalu berkata, "Baiklah. Aku punya kabar gembira buat kita semua."

Kulit kerang kini ada ekstraknyaaa...

#AhBasiBangetSih #PujaKerangAjaib

"Seperti yang kita tahu, akhir-akhir ini, Xiah Royal Cuisine sedang menjamah ke sekolah-sekolah menengah atas yang ada di Seoul, termasuk sekolah kita. Jadi, mereka akan memberikan pelatihan memasak secara gratis khusus anak kelas dua di hari Sabtu nanti."

Semua anak perempuan langsung menjerit senang. Yang laki-laki melengos malas.

"Oh, ya. Ditambah lagi, kabarnya yang melatih itu kebanyakan gadis muda yang masih cantik dan seksi, lho. Aku sih pernah melihat beberapa dari mereka," Yoochun menyeringai nakal.

Kini giliran anak laki-laki yang bersorak gembira. Dasaaar...

"Jadi, setiap orang di kelas diminta untuk membentuk kelompok masing-masing dua orang. Tapi, berhubung jumlah anak di kelas kita ganjil, ada satu kelompok yang terdiri dari tiga orang."

Semua orang langsung berbisik-bisik dan saling kode-kodean kepada partner yang akan mereka pilih masing-masing. Jongdae segera menoleh ke arah Xiumin dan mengerling kepada namja imoet tersebut. Myungsoo langsung menyuruh Yongguk agar dapat duduk tepat di belakang Sungjong dan berbicara padanya. Jongin langsung menoleh ke sampingnya dan mengulurkan tangannya untuk menerima tepukan tangan dari Chanyeol.

Dan Baekhyun... ia mendesah dan menoleh ke arah jendela di sampingnya.

Biasanya, Chanyeol akan sibuk sendiri mendekatinya dan memaksanya untuk jadi bagian dari kelompoknya. Tapi sekarang, lihatlah dirinya sekarang. Chanyeol sudah memilih Jongin sebagai partnernya dan tidak melirik ke arahnya sama sekali.

Damn, biasanya Chanyeol-lah yang mengejar-ngejarnya, tapi, kenapa sekarang Baekhyun ingin sekali Chanyeol mengejarnya?

"Cih," Baekhyun berdecih pelan.

Setidaknya, walaupun dalam keadaan terpaksa, berkelompok dengan Chanyeol itu membuatnya tenang. Setidaknya ia sudah benar-benar mengenal Chanyeol dan segala tingkah lakunya, jadi, ia merasa nyaman.

What—nyaman?

Ah, bodo amat. Memang Baekhyun merasa nyaman kok selama ini dengan Chanyeol.

Tapi... kenapa baru kepikiran sekarang, ya?

Baekhyun mengerutkan keningnya.

Ah, bodo amat.

"Mmm, B-Baekhyun-ah...?"

Baekhyun menoleh dan menemukan seorang gadis yang terkenal pemalu di kelasnya—Yoojung—berdiri di samping mejanya. Baekhyun menarik tangannya dari dagu, lalu bertanya dengan datar, "Ada apa?"

"Mmm... Apakah kau mau sekelompok denganku?"

Astaga, mungkin ini imajinasi Baekhyun yang kelewat hebat atau apa, tapi kenapa Yoojung mengatakan itu seolah-olah ia sedang menanyakan apakah Baekhyun ingin menikah dengannya?

Baekhyun mengerjap. "Oh, emmm...," butuh waktu beberapa detik bagi Baekhyun untuk berpikir ulang. Melihat wajah penuh harap dari Yoojung, membuatnya tidak tega juga untuk menolak. Akhirnya, Baekhyun hanya bisa mengangguk pelan.

Wajah Yoojung langsung cerah. "WOAH! Terima kasih, Baekhyun-ah!" katanya girang—berbeda 180 derajat dari imejnya yang pemalu.

What the—Baekhyun menganga.

Dan Yoojung pun berlalu dengan langkah girang menuju mejanya. Beberapa temannya langsung mengerubunginya dan bertanya-tanya.

Baekhyun memutar matanya dan kembali memandang jendela. Berusaha untuk tidak memikirkan hal terburuk di hari Sabtu nanti.

Syiiit...

Dia benar-benar butuh Chanyeol.

Syiiit...

-o-

Syiiit...

Chanyeol langsung menggigit bibir bawahnya—merasa putus asa—ketika tahu kalau Baekhyun akhirnya berpasangan dengan Yoojung.

Pada awalnya, begitu mendengar perintah Yoochun, wali kelasnya, untuk membentuk kelompok, ia ingin sekali terbang ke arah Baekhyun dan menjadikannya sebagai partner.

Tapi, dalam keadaan seperti ini ia sama sekali tidak bisa melakukan itu. Ia tidak boleh.

Kalau ia memaksa untuk melakukan itu, pasti Baekhyun akan makin marah padanya dan malah memusuhinya selamanya.

Makanya, ia terpaksa untuk sekelompok dengan Jongin—dalam rangka menghindari Baekhyun. Untuk saat-saat ini saja, sampai Baekhyun berhenti mengabaikannya. Sampai dirinya dan Baekhyun sudah berbaikan.

Itupun kalau mereka bisa berbaikan. Huft.

Ah, ini tidak sesuai harapannya.

Tanpa Baekhyun dan siapapun ketahui, sebenarnya beberapa kali Chanyeol pernah berimajinasi. Biasanya ia berimajinasi melakukan sebuah kegiatan (yang positif) berdua saja dengan Baekhyun.

Termasuk memasak bersamanya.

Kalau saja ia tidak mencium Baekhyun di hari itu, mungkin salah satu imajinasinya akan dapat menjadi nyata.

Huft.

Penyesalan selalu datang terlambat. Kalau datang awal, namanya nggak terlambat.

Apaan sih?

-o-

Dear, Chanyeol...

Bisakah kita bertemu saat istirahat pertama, di lapangan basket? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.

-B-

.

Chanyeol mengerutkan keningnya ketika membaca isi selembar kertas yang terselip di lokernya. Sementara Jongin yang lokernya tepat di samping Chanyeol langsung bersiul-siul menggoda.

"B? Siapa dia, Hyuuung~?"

Chanyeol mengangkat bahu. "Entahlah. Tapi... sepertinya aku tahu tulisan ini."

"Tulisan siapa? Seorang yeoja kah? Yeoja yang cantik dan seksi?"

Biasanya Chanyeol akan langsung memprotes sikap mesum Jongin, tapi kali ini Chanyeol mengabaikannya dan mengangkat bahu lagi.

"Entahlah. Mungkin. Aku... tidak yakin."

.

.

.

.

.

.

To be continued.

.

.

.

.

.

.

...

Haihaihai! Selamat bulan Maret!

Terima kasih buat kalian yg sudah review:

berrypie: Hehehe... ini chaptered loh. Dan ini sudah apdet loh^^ *nggak ada yg nanya*

48BemyLight: Rencananya sih sy jg mau bikin Baek jd seme & Yeol jd ukenya #dipanah Nggak kok nggak, becanda... Sy lbh suka Baek yg mau terlihat sprti seme-tapi-gagal (?)

followbaek: Hm... Tidak, kok. Kalo mnurut sy sih nggak tabu. Sy jg gak bs mastiin. Coba kamu telpon 14045 (?) Syukurlah ada yg suka sifat Baek di fic ini^^

hunniehan: I'm baaaaccckkk *diterangi cahaya* Hehehe... Sprtinya kamu suka skali melihat Yeol yg menderita :") Sama, sy juga ahak ahak^^

Huk.K Salvatore: Ini chaptered^^ Udah sy telpon sih si Baek biar nggak mikir lama-lama, tapi yah... gitu *pundung**pansih*

baekggu: Hehehe... Kayaknya km suka jg ya kalo melihat Yeol menderita (‾⌣‾"٥) Sy juga :") Ahak ahak

LeeEunin: Aaa sy juga suka, apalg kalo kissing beneran heheh... Sip, ini sudah dilanzut!^^

Guest (1): Sip sip... Sudah dilanzut nih qaqa^^

chanchanhwang: Ada perasaan lain nggak yaaa? Hihihi... lanzuuut...

YOONA: Baiklah, pacarnya Seunggi. Sy sudah lanzuuut^^

Guest (2): Ada something apa hayoook? Hihihi^^

Buat yg fav sama follow juga makasih!^^ Maaf kalo ada kesalahan dlm fanfic ini *bows*

KEEP REVIEWING, PLEASE^^ Sy akan sgt merasa senang kalo ada yg review. Setidaknya, sy merasa tidak sendirian di dunia ini *baper alay**ditendang kuda*

.

kiko yg sedang dirundung ujian,

ㅇㅅㅇ

[March 1st, 2015]