Chapter 2 Revenge

Terima kasih banyak bagi mereka yang bersedia membaca cerita saya, apalagi mereview. makasih, makasih, ini chapter 2. maaf kalau jelek, atau salah ketik, ini masih belajar cara upload cerita jadi agak bingung (CURHAT) selamat membaca :)

"Bangun! Kau hanya punya waktu satu jam untuk bersiap-siap!"

Teriakkan Taehyun menggema ke seluruh ruang apartemen, sementara seseorang yang seharusnya menjadi target operasi sadis itu hanya mengerang pelan sembari menenggelamkan wajahnya pada bantal."

"Seungyoon! Kau mau mendapat siraman rohani dari bos YG!"

Seungyoon mengerang pelan ingin sekali dia mengabaikan teriakkan Taehyun, namun membayangkan ceramah Kim Jinwoo membuat perutnya bergejolak. "Aku bangun," gumam Seungyoon sambil berusaha mengumpulkan tenaga dan kesadarannya untuk bangun.

"Kau ini lama sekali!" Bentak Taehyun sambil menarik paksa tubuh Seungyoon. "Ganti baju aku tunggu di luar."

"Aku tidak boleh makan?"

"Makan di kantin YG saja, aku tidak ingin mendengar omelan dari Jinwoo."

"Hyung, dia lebih tua darimu. Aku juga lebih tua, seharusnya panggil aku dengan hyung juga."

"Jangan mengalihkan pembicaraan! Cepat Kang Seungyoon."

"Dua puluh menit."

"Lima belas menit."

"Kau pikir aku…."

"Sepuluh menit." Taehyun menyeringai sadis kemudian berbalik, meninggalkan Seungyoon yang hanya bisa menggerutu untuk melampiaskan kekesalannya.

Sepuluh menit kemudian Seungyoon sudah siap, duduk di kursi belakang dengan suguhan wajah Taehyun yang ditekuk sebal. "Aku tidak terlambat, sepuluh menit tepat. Mungkin suasana hatimu yang selalu tidak baik."

"Jinwoo baru menghubungiku."

"Itu yang membuat suasana hatimu buruk?"

"Tidak juga, tidak sepenuhnya. Aku tidak akan memberi penjelasan jadi diamlah."

Seungyoon memutar kedua bola matanya dengan jengah, kemudian untuk membunuh waktu dia mengambil permen lollipop di dalam saku mantel musim dingin berwarna merah yang ia kenakan.

"Kau sendiri sepertinya suasana hatimu sedang baik." ucap Taehyun sambil memperhatikan bayangan Seungyoon yang terpantul dari kaca spion.

"Suasana hatiku tidak baik."

"Jika tidak baik kenapa memakai pakaian berwarna mencolok seperti merah."

"Merah artinya marah."

"Kau banteng?"

Seungyoon tidak berminat untuk menjawab pertanyaan konyol Taehyun, suasana hatinya sudah cukup buruk sekarang dan dirinya hanya ingin merasa bahagia dengan hal-hal kecil seperti lollipop.

Sepuluh menit kemudian keduanya sampai di depan gedung YG, berangkat lebih pagi adalah keputusan paling tepat yang pernah dibuat Taehyun, dan kali ini dirinya tidak akan menendang Seungyoon keluar dari mobil karena suasana hatinya cukup baik. Lupakan insiden membangunkan Seungyoon tadi pagi.

"Kau tidak menyuruhku keluar?" Taehyun memilih diam, hari ini dia tidak akan berdebat dengan Seungyoon, setidaknya untuk saat ini. Kenapa orang bernama Kang Seungyoon itu tidak pernah menghargai maksud baiknya?!

Seungyoon keluar dari mobil dia berdiri di sisi mobil, mulutnya masih sibuk dengan lollipop rasa jeruknya sementara itu kaki kanannya ia hentak-hentakkan pelan ke atas lantai semen.

"Kau siap?" Taehyun keluar dari mobil membenahi syal musim dinginnya yang berwarna abu-abu, membenahi letak kacamatanya, juga jangan lupakan membenahi tatanan rambut uniknya.

"Kau ke sini hanya mengantarku bukannya menjadi bintang film," cibir Seungyoon sambil melempar batang lollipop ke sembarang tempat.

"Siapa tahu nanti ada seseorang yang sadar dengan keindahan wajahku. Jika aku menjadi aktor terkenal nanti, aku tidak akan berteman denganmu lagi!" ancam Taehyun dengan tatapan sinisnya.

"Siapa yang merengek menjadi menejerku?" Blam! Serangan telak di jantung Taehyun.

"Aku tidak merengek menjadi menejermu," balas Taehyun membela diri. "Ibumu yang memberiku kepercayaan, karena aku sahabatmu."

Seungyoon hanya mengerutkan dahi, di dalam otaknya sudah berderet daftar berbagai kegiatan merepotkan yang akan dilaluinya sepanjang hari ini. Dan berdebat dengan Taehyun masuk daftar terakhir yang berarti hal itu sama sekali tidak penting untuk dilakukan.

"Hargailah ketampananku Kang Seungyoon!" teriak Taehyun tidak terima karena Seungyoon mengacuhkannya seenak jidat lebarnya yang tidak tertutupi rambut berpotongan mangkuk. "Hei Seungyoon! Apa kau tahu kau harus pergi ke mana?!"

Seungyoon mendengus kesal meski Taehyun masuk dalam daftar tidak pentingnya, namun, Taehyun itu menejernya yang mengetahui semua jadwal kegiatannya. Seungyoon menghentikan kedua langkah kakinya menunggu Taehyun menyusul dengan seringai menyebalkannya yang pasti akan dia tampilkan.

"Kau tidak bisa apa-apa tanpaku." Taehyun menepuk pelan pundak kanan Seungyoon kemudian dengan senang hati dia tersenyum menyebalkan, sebuah senyuman licik yang tidak pernah Seungyoon sukai. Dan justru hal itu membawa kepuasaan tersendiri untuk Taehyun.

¶¶¶

Ruang rapat berada di lantai lima, saat Taehyun mendorong pintu di dalam hanya terlihat enam orang saja, jumlah yang sangat kecil jika ini merupakan rapat sebuah proyek pembuatan film besar.

Seungyoon memilih untuk mengacuhkan semua pertanyaan di dalam kepalanya, toh tugasnya hanya mendengarkan presentasi di sini dan mungkin memberi sedikit masukkan.

"Seungyoon!" si bos YG menyambut kedatangan Seungyoon dengan ramah, membuat Seungyoon merasa tidak nyaman. Bukan karena sikap Jinwoo melainkan tatapan aneh yang dilemparkan padanya.

"Seungyoon!" Jinwoo kembali berteriak heboh kali ini bahkan disertai dengan sebuah pelukan yang sangat erat. Seungyoon hanya menepuk-nepuk pelan punggung Jinwoo, tidak tahu harus memberi tanggapan seperti apa. "Duduklah, rapat akan segera dimulai."

Seungyoon mengangguk pelan kemudian dengan pasrah mengikuti setiap langkah Jinwoo karena tentu saja si bos menarik tangannya. Memangnya aku mainanmu, gerutu Seungyoon di dalam hati.

Seugyoon duduk di samping Jinwoo, sementara Taehyun memilih kursi yang berseberangan dengan Jinwoo dan jangan lupakan tingkah Taehyun yang terlihat sekali ingin menunjukkan ketampanannya.

"Jinwoo-hyung apa aku boleh merekomendasikan pemain untuk film ini?"

"Rekomendasi?" Kedua mata Jinwoo yang memang sudah lebar itu tampak semakin membulat mendengar pertanyaan dari Seungyoon. "Tentu kau boleh mengajukan tapi masalah aku terima atau tidak, itu cerita lain."

"Oh..," gumam Seungyoon.

"Memang siapa yang ingin kau rekomendasikan?!" kedua mata Jinwoo kembali berbinar.

"Oh dia—hanya pendatang baru," Seungyoon melirik Taehyun dengan ekor matanya.

"Pendatang baru? Siapa?! Aku penasaran, cepat katakan siapa dia?! Mungkin saja dia bisa menarik perhatianku?!"

Taehyun mengirimkan sinyal kepada Seungyoon jika temannya itu berani membuka mulut. Maka jangan salahkan jika botol air mineral di hadapannya sekarang akan berpindah ke kepalanya.

"Maaf aku lupa namanya." Jawab Seungyoon sembari melempar senyum manis kepada Jinwoo.

"Sayang sekali kau lupa. Tapi aku bisa maklum karena kau pasti sangat sibuk ditambah dengan proyek film ini."

Taehyun tidak yakin apakah Kim Jinwoo yang sekarang duduk di samping Seungyoon adalah bos YG. Bagaimana bisa seorang bos bisa masuk ke dalam perangkap murahan Seungyoon.

Jinwoo berdiri dari kursinya memberi pengumuman kepada semua orang bahwa rapat akan segera dimulai meski ada dua orang yang belum hadir. Sementara itu Sengyoon mengalihkan perhatiannya kepada Taehyun yang masih tampk bersungut-sungut.

"Sekarang karena semua orang sudah berkumpul—ya, tidak semuanya masih ada dua orang menyebalkan yang terlambat. Tapi tidak masalah, rapat ini bisa dilaksanakan karena Seungyoon sudah….,"

"Maaf aku terlambat!" teriakkan seseorang menghentikan pidato Jinwoo yang masih belum selesai. Semua orang yang ada di dalam ruangan menahan nafas, namun entah mengapa Sengyoon memiliki firasat bahwa tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.

"Ya! Lee Seunghoon! Kurang ajar sekali kau menghentikan pidato pentingku!" Jinwoo berteriak marah, urat-urat terlihat menonjol di pelipis dan lehernya.

"Santai saja Jinwoo jika berteriak seperti itu kau akan semakin tua." Pria bernama Lee Seunghoon itu tersenyum santai. Kemudian dia berjalan pelan menuju salah satu kursi di sebelah Taehyun dan mendudukkan dirinya dengan nyaman di sana.

"Produser Lee Seunghoon," Taehyun melancarkan serangan tebar pesonanya dengan sempurna. Seungyoon hanya mengernyit menahan malu.

"Oh halo! Senang bertemu denganmu!" Seunghoon dengan ramah menanggapi Taehyun dan bahkan memeluk Taehyun, masih dengan senyum lebar yang sepertinya tertanam permanen di wajahnya. "Oh tunggu, kau siapa?"

Seungyoon menggigit pipi bagian dalamnya untuk menahan tawa. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Taehyun sekarang.

"Aku menejer Kang Seungyoon."

"Oh tentu saja! Salam kenal…,"

"Nam Taehyun."

"Hmmm, oke semoga kita bekerjasama dengan baik."

Taehyun tersenyum masam sebelum membenahi posisi duduknya menghadap Seungyoon. Baiklah, Taehyun memang menyebalkan namun melihat ekspresi wajahnya sekarang. Ekspresi wajah yang mirip seperti anak anjing terbuang membuat Seungyoon merasa iba.

"Baiklah karena produser Lee sudah hadir sekarang kita mulai rapat penting ini…."

"Maaf aku terlambat." Seseorang menginterupsi pidato penting Jinwoo sekali lagi.

"Siapa lagi?!" Jinwoo berteriak murka.

Seungyoon menelan ludah dengan susah payah, suara itu tentu saja tidak salah lagi. Seungyoon menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

"Wow semuanya sudah berkumpul rupanya."

"Song Minho cepat duduk, meski kau kekasihku tapi pekerjaan tetap pekerjaan. Aku bosmu, hormati aku." Ucap Jinwoo tegas.

"Maaf, aku ada pemotretan mendadak hari ini dan aku tidak sempat memberi kabar."

"Baiklah kali ini kau dimaafkan. Cepat duduk."

Sial! Seungyoon mengumpat di dalam hati saat menyadari bahwa Mino memilih kursi yang terletak tepat di sampingnya. Lengan keduanya bersentuhan, sekarang posisi duduk Seungyoon diapit oleh Mino di sebelah kiri dan Jinwoo di sebelah kanannya.

"Anda bisa memulai rapatnya sekarang." Ucap Mino santai.

"Silakan Lee Seunghoon." Jinwoo memberi perintah dengan suara berwibawa sangat berbeda sekali ketika dia berteriak atau saat dia menunjukkan rasa cintanya kepada Seungyoon.

Produser Lee berdiri dengan cara yang tidak biasa. Melompat, ya, melompat dari kursinya kemudian tersenyum konyol. "Semua orang sudah tahu benang merah dari novel Seungyoon ini kan? Jika kalian tidak tahu kalian pasti hidup di abad 19." Nada bercandanya juga tidak hilang bahkan di situasi penting.

"Mino kau tahu juga?" Seungyoon tidak tahu mengapa dirinya tiba-tiba merasa cemas saat produser Lee bertanya hal yang wajar kepada si pemeran utama.

"Tentu saja, aku tahu ceritanya dengan baik." tidak ada hal yang mencurigakan dari kalimat Mino, namun entah mengapa jawaban itu membuat Seungyoon merasa tidak nyaman.

"Baiklah, tidak banyak yang berubah dari jalan ceritanya. Aku akan memberikan sedikit kejutan yang tidak akan aku beritahukan sekarang. Karena itu kejutan!" Teriak Produser Lee rusuh, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Lee Seunghoon," Jinwoo mengeluarkan peringatan.

"Oh, hmm, hmmm, kembali ke topik utama. Untuk lokasi tentu saja Korea Selatan tepatnya pulau Nami, sungai Han, pantai Donghae. Oh ya kita juga akan mengambil gambar di Jepang dan Inggris. Song Minho dan Sandara Park akan menjadi bintang utama."

Produser Lee menempati kursinya kembali. Sekarang giliran Jinwoo yang berdiri, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Apa ada yang belum jelas? Kalian tahu cara kerja di sini kan? Tidak banyak basa-basi langsung kerjakan saja."

Seungyoon mengangkat sebelah alisnya, bagaimana bisa mengajukan pertanyaan jika di awal sudah diancam seperti itu. "Baiklah rapat dibubarkan, dan untuk Seungyoon kau akan terlibat dalam setiap proses pembuatan film ini. Apa kau setuju?"

Seungyoon menatap Jinwoo kemudian mengangguk pelan, dia mengalihkan pandangannya dengan cepat merasakan Mino seolah-olah menatapnya sekarang. "Baiklah rapat dibubarkan!"teriak Jinwoo bersemangat.

Semua orang berdiri dari kursi masing-masing dengan tertib. Seungyoon ingin secepatnya meninggalkan ruangan ini. Berada di ruangan yang sama dengan Song Minho membuat asupan oksigennya berkurang.

Niat Seungyoon untuk pergi secepatnya gagal, saat Mino berdiri dari kursinya menarik Jinwoo mendekat. Menghalangi jalan keluar Seungyoon. Seungyoon yakin Mino melakuannya dengan sengaja.

Kedua mata Seungyoon membulat sempurna saat Mino dengan tanpa malu mencium bibir Jinwoo di depan semua orang. "Song Minho!" protes Jinwoo sambil mendorong tubuh kekasihnya menjauh. Mino hanya tertawa renyah menanggapi protes dari sang kekasih.

Dengan cepat Seungyoon mengalihkan pandangannya dan semua orang tampak tidak peduli dengan apa yang barusan terjadi. Mungkin, Mino dan Jinwoo sudah biasa melakukan hal seperti itu di depan semua orang. Seungyoon merinding membayangkan semua itu.

"Vulgar," gumam Seungyoon tanpa sadar.

"Kang Seungyoon apa kau mengatakan sesuatu?" Jinwoo menatap Seungyoon penuh selidik.

"Ti—tidak ada Jinwoo-hyung, aku hanya ingin keluar."

"Oh maaf, aku dan Mino menghalangimu."

"Tidak masalah," balas Seungyoon kali ini diselingi dengan senyum lebar palsu.

¶¶¶

"Apa-apaan mereka itu! Vulgar sekali!" gerutu Seungyoon kepada Taehyun saat keduanya berjalan menuju lift.

"Itu biasa saja." Balas Taehyun santai.

"Biasa apanya?!" Seungyoon tidak terima dengan jawaban Taehyun yang terdengar membela perbuatan tidak senonoh itu.

"Itu biasa untuk orang yang sedang dimabuk cinta. Ya ampun Seungyoon apa kau tidak pernah jatuh cinta?" Seungyoon hanya memanyunkan bibirnya yang notabene sudah tebal alami itu.

"Penulis novel roman yang tidak pernah merasakan cinta. Ironis."

"Taehyun…," desis Seungyoon sebab dia masih cukup waras untuk tidak berteriak di tempat umum. Taehyun hanya terkikik pelan membuat amarah Seungyoon mencapai ubun-ubun.

Cekikikan Taehyun terhenti dan sekarang berganti dengan ekspresi wajah cemas. "Sekarang apa?" Tanya Seungyoon malas.

"Ponselku!" seru Taehyun dramatis. "Aku rasa tertinggal di ruang rapat!"

"Aku tunggu di sini cepat ambil sekarang." Seungyoon bermaksud untuk bersandar pada dinding saat Taehyun dengan kasar menarik pergelangan tangan kanannya.

"Aku?!" protes Seungyoon tidak terima diperintah seperti pembantu.

"Ayolah apa kau tidak mengasihani temanmu yang tadi baru dikecewakan oleh produser terkenal?" Taehyun melancarakan serangan aegyo yang justru membuat Seungyoon ingin muntah. "Seungyoon….,"

"Baiklah! Aku ambilkan!" bentak Seungyoon tidak tahan dengan wajah menjijkan Taehyun.

"Terima kasih Seungyoon! Kau teman yang sangat berharga!" Taehyun bermaksud memberi hadiah pelukan kepada Seungyoon namun dengan cekatan Seungyoon menghindar.

Dengan langkah cepat dan sedikit menghentak karena kesal Seungyoon kembali ke ruang rapat, dia berharap ponsel itu tidak berpindah kemana-mana dan membawa kesengsaraan yang lebih panjang untuknya.

Sesampainya di depan ruang rapat, Seungyoon tidak yakin jika masih ada orang yang tersisa di dalam. Dia mendorong pintu dengan pelan, lampu ruang rapat masih dinyalakan. Seseorang duduk di atas meja dengan posisi memunggunginya.

Seungyoon tahu siapa orang itu, dan ponsel Taehyun terletak tidak jauh dari pria yang berdiri memunggunginya. "Apa kau datang untuk mengambil ponsel?" Tanya orang itu masih dalam posisi yang sama.

Seungyoon bersyukur dalam hati karena orang itu tidak memilih untuk berbalik dan melihat siapa yang datang. Dengan cepat Seungyoon melangkah mendekat, ambil ponsel dan pergi itulah kata-kata yang terngiang di dalam kepalanya.

"Diam saat orang lain bertanya itu sangat tidak sopan tuan Nam…," terlambat, Song Minho berbalik dan kini menatapnya. "Oh, aku pikir kau Nam Taehyun dari wallpapernya seharusnya ini ponsel Nam Taehyun."

"Aku hanya membantu temanku." Seungyoon bermaksud meraih ponsel yang tidak terlalu jauh dari jangkaunnya itu. Grepp! Telapak tangan Song Minho menggenggam pergelangan tangan kanan Seungyoon dengan erat.

"Lepas." Ucap Seungyoon tegas.

Mino hanya menyeringai. "Kali ini apa kau pikir bisa pergi begitu saja. Kang Seungyoon."

"Berhenti menggangguku urusi urusanmu sendiri."

"Apa kau merasa terganggu?" Mino mempererat cengkeramannya. "Jika kau merasa terganggu seharusnya kau berpikir lebih panjang."

"Semuanya sudah berlalu Song Minho."

"Tidak bagiku Seungyoon, belum. Sampai kau merasakan apa yang aku rasakan."

Kali ini giliran Seungyoon yang menyeringai licik. "Cengeng sekali." Seungyoon tahu seharusnya dirinya bisa menutup mulut besarnya. Cengkeraman Mino semakin kuat bahkan kini kuku-kuku Mino menggores kulit di pergelangan tangannya.

Tidak. Dirinya tidak akan pernah merasa terancam oleh ancaman murahan seperti ini. Mino mencondongkan tubuhnya membuat wajahnya dan wajah Seungyoon hanya berjarak beberapa senti saja.

"Apa kau tidak pernah ingat bahwa kau pernah menyakiti seseorang? Mungkin mudah bagimu untuk menutup lembaran lama dan membuka lembar yang baru, tapi apa kau pernah berpikir bahwa tidak semua orang bisa melakukan hal yang sama denganmu?"

"Jangan bertele-tele, aku tidak punya banyak waktu."

"Intinya aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku kemudian meninggalkanmu seperti sampah. Kang Seungyoon kau akan membayar semua kesalahanmu."

Seungyoon mendekatkan wajahnya, menantang Mino. "Coba saja aku tidak mungkin jatuh cinta padamu."

"Benarkah?" Wajah keduanya semakin mendekat Seungyoon bisa mencium parfum Mino yang beraroma sama seperti yang dia ingat. "Kita lihat siapa yang akan menang Kang Seungyoon."

"Sepertinya aku yang akan menang Song Minho, sebab, dari aroma parfummu kaulah yang belum bisa melupakan aku."

Mino melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Seungyoon mengambil ponsel di atas meja. "Permainan dimulai Kang Seungyoon," ucap Mino. Seungyoon mengacuhkan ucapan Mino dia terus berjalan meninggalkan ruang rapat.

¶¶¶

"Sialan kau Song Minho," gerutu Seungyoon memandangi pergelangan tangan kanannya yang terluka dan berwarna merah.

"Hei! Lama sekali!" Taehyun yang sudah menunggu lama langsung melampiaskan kekesalannya ketika batang hidung Seungyoon terlihat.

Seungyoon menyodorkan ponsel Taehyun dengan tangan kiri, tidak ingin temannya itu melihat bekas luka di sana dan mulai mengajukan pertanyaan menyebalkan. "Pulanglah."

"Kau mau kemana?"

"Sungai Han." Taehyun hanya mengerutkan dahi tanpa bertanya melihat wajah kusut Seungyoon yang tampak mengerikan sekaligus menyedihkan.

"Baiklah, tapi kau berhutang penjelasan padaku." Seungyoon tidak membalas kalimat yang Taehyun ucapkan, dia hanya berbalik kemudian bergegas pergi.

To Be Continued….