Disclaimer: Mashashi Kishimoto (MK). MY papi #Plakk.
Genre: Family and Hurt/comfort.
Characters: Hinata, Sasuke, and other chara+OC.
Warning: Typos, gaje, semi-canon, gak nyambung, nyeleneh, tidak tentu bisa memuaskan pembaca, dsb.
Author note: DLDR! Udah diperingatkan ya? Sampe-sampe pentungnya keluar :v
.
.
=*ENJOY IT*=
.
.
Chapter 2
.
Biji benih? Ya, biji benih bunga.
Sekarang, biji itu sudah tumbuh besar. Biji bunga yang tumbuh dengan cepatnya tanpa disadari. Bunganya telah mekar dengan hebatnya. Aroma dari bunga itu sudah menyebar kemana-mana. Semua orang suka dengan mahkotanya. Tak tercuali dengan aromanya. Bunga yang selalu dibanggakan oleh sang pemilik. Wanita anggun bak seorang putri.
"Kotomi-chan?" Sang pemilik memanggil bunganya yang sedang meminum susu hangat di samping rumah. Ia menyuri jalan pintas untuk lebih cepat sampai kesana.
"Iya, ma?" Bunga sang pemilik. Lebih tepatnya sang anak, Uchiha Kotomi. Menyahut dengan suaranya yang khas dengan anak kecil. Ia menaruh gelas susu itu di nampannya kembali sembari mendongak mencari sang mama yang memanggilnya.
Wanita itu, Uchiha Hinata yang dulunya bermarga Hyuuga kini duduk di samping sang anak sambil mengelus pucuk kepala hitam itu dengan sayang. "Apa kau tak mandi?" tanyanya lembut.
Anak itu menatap sang mama dengan tak kalah lembut. "Itu bisa nanti," jawabnya ringan. Tangannya kembali mengambil gelas susu yang disiapkan untuknya oleh sang mama. Sang mama tidak bersuara, hanya bisa tersenyum mendengar jawaban enteng sang anak. Bukan tipikalnya sekali.
"Baiklah, tapi jangan sampai terlalu malam." Ibu anak satu itu berdiri dari duduknya. Menyusuri jalan pintas itu sekali lagi. Sang anak hanya bisa diam sembari melihat kepergian sang mama. Setelah tak melihat bayangan sang mama, ia kembali menghabiskan susu yang hanya tersisa seperempat gelas hingga tandas tak tersisa.
Langit memang sudah mulai jingga. Tapi ia sangat malas untuk mandi. Entah apa yang membuat dirinya malas seperti ini. Padahal ia cinta kebersihan layaknya sang mama.
Pikirannya kembali mengingat senyuman dan suara lembut mamanya. Ia jadi tak tega jika tak menuruti perintah mamanya tadi. Berdiri dari duduk tenangnya, ia berjalan dengan gelas yang ada ditangan mungilnya. Tak seperti mamanya yang melewati jalan pintas untuk sampai ke ruang tengah dengan cepat, ia lebih suka berjalan lebih jauh dengan melewati pintu utama. Walau dengan kaki-kakinya yang kecil, ia sanggup berjalan mengitari rumah besar itu tanpa lelah.
Sampai dapur, gelas yang sudah tak berisi dan satu nampan itu ia masukkan ke dalam tempat cucian. Karena badannya yang cukup kecil tak menggapainya, ibunya berinisiatif membelikan tangga kecil untuk dirinya supaya bisa menggapai tempat itu karena tempatnya memang sangat tinggi baginya. Tak masalah, baginya mamanya itu memang yang paling hebat yang mengerti dirinya.
Sudah selesai dengan tugas yang menurutnya tak penting itu, ia mulai memanggil mamanya untuk memandikannya. mamanya hanya mengangguk dan menyiapkan pakaian tidur untuknya. Setelah itu, sang mama menggiring sang anak masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar sang anak. mamannya memandikannya dengan lembut nan penuh kasih sayang. Ia tak peduli jika sang papa tak ada disini. Tak peduli jika sang papa tak akan pulang dan menengok kesini. Hanya cukup sang mama yang ada di sampingnya. Tak berbelit-belit untuk mencapai kebahagiaan. Karena sang mama adalah sumber kebahagiaan baginya.
Setelah selesai, mamanya mulai memakaikan baju untuknya. Tak lupa untuk hal minyak telon dan bedak. Ia hanya diam memandang mamanya yang masih cantik jelita. Sayang, nyatanya ia tak mirip dengannya.
Sang mama mencium pipinya, "Kotomi memang anak mama yang pintar," ujarnya sambil mencium kedua pipi sang anak. Anak itu merona dengan perlakuan sang mama kepadanya. Ia melihat sang mama mulai beranjak pergi dari kamarnya. Ia tersenyum dengan kebahagiaan sang mama yang dilimpahkan kepadanya.
"Mama..." gumamnya kecil. Ia berjalan ke arah cermin yang tertempel di lemarinya. Matanya memperhatikan dengan seksama. Mata hitam sekejam papanya yang tak pulang-pulang, rambut hitamnya yang panjang bergelombang, pawakannya yang kecil, wajahnya yang putih mulus dengan mata besar yang lentik seperti ibunya. Ia kecewa sekali dengan bentuk matanya saja yang mirip ibunya, semua yang ada pada dirinya sangat tidak ia harapkan kecuali kulit, bentuk tubuh, dan bentuk matanya.
Ia membencinya, benci dengan fisiknya yang kata mamanya mirip dengan sang papa. Ia tak berharap akan mirip dengannya. Ia menginginkan fisik seperti mamanya terlebih matanya. Karena kalau mirip dengan mamanya, ia tak perlu menjelaskan lagi siapa dirinya kepada orang-orang. Hanya perlu melihatnya, orang-orang akan tahu kalau ia adalah anak dari seorang Hyuuga. Sempat ia mendengar segerombolan teman-teman akademi yang membicarakannya tentang keadaannya yang tak punya ayah. Ia hanya bisa sabar untuk itu. Mereka tak percaya jika ia anak Hyuuga Hinata karena tak satupun kemiripan yang mengarah kepada Hyuuga putri Hiashi itu. Sampai-sampai ia dibilang anak haram oleh teman-temannya itu sampai saat ini.
Sebenarnya ia sedih dengan hal ini. Ia tak menginginkan lahir dengan keberadaan tak mengenal ayahnya seperti ini. Bahkan sampai dirinya masuk akademipun papanya tak pulang-pulang. Ia pernah bertanya tentang hal ini kepada mamanya, tapi respon mamanya tak pernah diduganya. Sang mama menangis. Padahal dulunya saat ia bertanya perihal seperti ini mamanya malah tersenyum dan berkata 'Kau akan tahu nanti. Yang pasti kau memang punya papa yang sangat hebat,' ucap mamanya itu sambil tersenyum. Tapi saat itu, mamanya malah menangis. Ia tak tega melihat mamanya yang seperti itu. Ia jadi tak berani lagi mananyakan sang papa kepada mamanya. Ia juga tak akan memberitahukan kelakuan teman-temannya itu kepada mamanya. Hanya ia, teman-teman, dan Kami-sama-lah yang tahu.
Kaki kecilnya berjalan keluar kamar, ia mencari mamanya. Telinganya mendengar suara gaduh di dalam dapur, ia berpikir pasti mamanya sedang mencuci piring.
"Ada apa, Kotomi?" tanya sang mama yang merasa kehadiran sang anak tanpa menoleh. Kotomi diam tak bersuara, ia berjalan sampai dekat dengan Hinata. Lalu, tanpa aba-aba ia memeluk pinggang mamanya.
Hinata menghentikan acara mencucinya. Tangannya mematikan keran dan menoleh ke arah bawah. Melihat anaknya yang pucat itu ia merasa kasihan. Tubuhnya ia rendahkan demi melihat wajah anaknya, "Kau sedang sakit, sayang. Sebaiknya kau tidur."
Kotomi menggeleng-gelengkan kepala, ia memindahkan tangannya ke leher ibunya. Hinata yang tahu anaknya kini sedang tidak baik mulai berpikir untuk menghentikan cuciannya dahulu dan menidurkan anak tercintanya. Ia mangangkat Kotomi yang menurutnya sudah lebih berat itu. Dulu ia merasa Kotomi masih bayi yang rapuh, tapi sekarang lihatlah. Ia sudah tumbuh menjadi anak kecil yang sudah masuk akademi.
Tangannya merebahkan anaknya yang sedang sakit itu di kamarnya. Kotomi memang anak keras kepala. Ia tidak tidak tahu sifat itu menurun dari siapa, mungkin dari papanya. Berkali-kali ia menyuruh Kotomi untuk diam di kamar, tapi anak itu tak pernah menuruti perintahnya yang satu ini. Katanya itu sangat membosankan. Ia juga tak bisa memaksa. Ia hanya ingin yang ternyaman untuk sang anak.
Hinata duduk di ranjang tempat tidur dekat sang anak. Ia mengusap dahi Kotomi, "Tambah parah," ujarnya pelan sambil memandang sendu Kotomi yang tak mau menutup mata. "Mama ambilkan kompres dan obat dulu ya?" Hinata pergi dari kamar itu dengan segera. Kotomi tak menjawab, ia menatap langit-langit kamarnya dengan kosong. Pandangannya mulai memberat.
Hinata masuk dengan sebaskom air dingin disebelah tangan kanannya dan obat disebelah tangan kirinya. Ia meletakkan benda-benda itu ke atas meja kecil di samping ranjang dan mulai memeras kain di dalam baskom. Lalu, dengan hati-hati kain itu ia letakkan di atas dahi sang anak. Dengan pelan, tangannya menekan kompres itu supaya lebih menempel. Ia melihat Kotomi yang sedikit demi sedikit memejamkan matanya. Matanya memandang sendu. Jarinya membelai pelan pipi gembil anaknya. Pupilnya melebar seketika.
"Kotomi.." ujarnya sedih. Jarinya merasa kehatangan sebuah air yang ia yakini sebagai air mata Kotomi. Tak mungkin dengan air kompres yang dingin itu. Ia merasa terpukul dengan kenyataan yang menghantam relung hatinya. Merasa bersalah atas derita yang dialami Kotomi.
Dengan pelan ia menaiki atas tempat tidur, ia akan menemani Kotomi. Ikut merebahkan tubuhnya, ia merengkuh tubuh kecil di sampingnya. "Kotomi-chan. Apa sakit sekali?" tanyanya bermonolog. Ia tahu Kotomi sudah tidur. Jadi ia sudah mengira tak ada jawaban yang akan ia dengar.
Hinata merasa matanya memberat. Kelopak matanya mulai menutup. Sebelum alam bawah sadar yang menggantikannya, ia mencium pipi Kotomi dengan sayang. "Mama sangat mencintaimu. Cepatlah sembuh dan berikan senyuman indahmu lagi kepada mama bukan tangisan seperti ini."
Setelah itu tak ada lagi yang Hinata rasakan. Tubuhnya melemas, tak ada apapun yang ia rasakan. Pasti ia akan menjemput mimpinya. Dengen perlahan ia tertidur tenang.
Mata sehitam langit malam itu melirik sang mama. Ia tak tertidur sepenuhnya. Ia merasakan hangatnya bibir sang ibu yang mencium pipinya, ia juga merasakan lembutnya suara sang ibu yang masuk ke gendang telinganya. Ia menitikkan air mata lagi, bahkan lebih deras dari yang tadi ia keluarkan. Ia tak menyangka sang mama akan mengerti dirinya yang menitikkan air mata. Memang tidak salah ia mengira, mamanya yang paling mengerti akan dirinya.
"Iya, ma. Ini sakit sekali. Bahkan tertidurpun tak bisa," ucapnya tak terlalu keras, takut membangunkan wanita hebat dalam hidupnya. "Sakit yang aku tak tahu apa," lanjutnya. Kemudian perlahan ia memaksan dirinya untuk tidur. Akhirnya berhasil juga. Ia tersenyum miris sebagai tanda hatinya yang perih.
#M*A*T*M*A#
Pagi menyingsing, Hinata membuka kelopak matanya. Ia menengok ke arah Kotomi. 'Rupanya masih tidur,' batinnya. Wajahnya ia dekatkan ke wajah Kotomi untuk memberikan ciuman selamat pagi yang biasa ia lakukan. Tapi ia kaget setelah melihat jejak air yang menutupi pipi putih Kotomi. Ia merasa khawatir jika ini menyangkut air mata sang anak. Ia mengusap pipi Kotomi, lalu menciumnya sekilas. "Mama ingin kau menceritakan masalahmu kepada mama. Bukan di pendam dalam hatimu seperti ini," ucap Hinata. Ia bangkit dari ranjang. Ia berjalan ke arah pintu, tak sengaja matanya menangkap obat yang ada diatas meja. "Ohh, ya ampun.." gumamnya. Ia menepuk jidat lantaran lupa memberi obat kepada Kotomi. Ia mengutuk dirinya jika terjadi apa-apa terhadap Kotomi dengan penyakitnya. Ia bergegas kembali ke arah meja kecil itu dan mengambil obat penurun panas yang ia beli beberapa hari yang lalu.
"Kotomi? Bangun. Minum obat dulu, sayang." Hinata mencoba membangunkan putri Uchiha itu dengan pelan. Terlihat gelagat tak suka ditujukan oleh sang anak. Hinata tersenyum maklum karena ia tahu Kotomi tak suka dengan obat. Padahal dirinya waktu kecil dulu menyukai obat, beda sekali dengan sang anak. Atau ini bawaan papanya lagi? Ia tak tahu.
Ia mencoba mengguncang tubuh Kotomi, akhirnya anak itu membuka mata. Walaupun ada kilatan tak suka di matanya. "Minum obat dulu ya? Nanti sakitnya tambah parah." Tangannya mengocok botol obat dan membuka tutupnya. Kotomi yang tahu ibunya sedang menuangkan air berasa aneh itu ke sendok segera menutup mulutnya, ia tak suka obat. Sangat tak suka. Walaupun itu obat sirup yang berasa anggur, stowbarry, atau semacamnya, ia tetap tak menyukainya. Entah mengapa. Rasanya sangat aneh menurutnya.
"Mama ingin kau cepat sembuh, Kotomi," ujar Hinata. Ia memandang anaknya yang sangat keras kepala itu. Tatapan sendunya itu memang tak bisa dilawan. Kotomi akhirnya mengangguk patuh. Ini demi ibunya, lebih tepatnya mamanya.
"Itu baru anak mama," ujar Hinata tersenyum dengan anggukan Kotomi. ia mendekatkan sendok berisi obat itu kedepan bibir Kotomi. Dengan cepat Kotomi langsung membuka mulutnya dan menelannya. Ia tak ingin berlama-lama merasakan air aneh yang katanya penyembuh itu.
Hinata menyodorkan segelas air kepada Kotomi, ia mengangkat kepala Kotomi sedikit supaya airnya tak tertumpah. Kemudian menidurkan kembali kepala Kotomi ke bantal. Ia mengambil kain yang ada di atas dahi Kotomi, mencelupkan ke dalam air dingin dalam baskom itu beberapa kali dan memerasnya dengan pelan. Kemudian kain itu ia taruh kembali ke atas dahi sang anak.
"Kotomi, jangan dilepas kompresnya ya? Mama tahu kau selalu melepas kompres itu saat mama tak ada." Hinata tersenyum jahil, Kotomi mendengus. "Semoga cepat sembuh. Jangan keluar kamar sebelum mama perintah. Mama tak ingin kau tambah parah. Kali ini turuti apa kata mama," perintah Hinata. Kotomi mengangguk mengerti. Setelah itu, Hinata berjalan keluar kamar untuk memasak. Tugas sehari-harinya sebagai ibu.
Bocah kecil itu merasa kesepian lagi. Coba ada Ruuko disini. Pasti ia tak akan sesepi ini. Ia memegang kompres di dahinya. Ia sangat ingin melepas ini. Terasa risih di wajahnya. Tapi ia tak ingin membuat ibunya kecewa dengan tak menuruti perintahnya. Ia juga tak ingin sakit seperti ini, karena ini mudah lemas dan kepalanya terus-terusan pusing. Ia tak suka begini. Ia berdoa kepada Kami-sama agar segera diberi kesembuhan.
#M*A*T*M*A#
Hinata sudah selesai memasak. Ia lalu pergi ke kamarnya untuk mandi. Setelah mandi ia melihat Kotomi di kamarnya. Ia merasa lega karena kompresnya tidak dilepas oleh Kotomi. ia bangga kepada anaknya itu yang menuruti kata-katanya. Pandangannya mengarah ke mata Kotomi. yaa.. ini seperti yang ia harapkan. Kotomi tertidur lagi. Setelah puas dengan melihat anaknya, ia menutup pintu dan berjalan ke ruang keluarganya.
Mansion Uchiha memang sangat megah. Setelah Perang Dunia Shinobi ke-4, karena seluruh desa hancur pembangunan terjadi dimana-mana dengan aksen modern. Sekarang Mansion Uchiha tidak kuno seperti dulu. Ia menyalakan tv yang juga perkembangan dari PDS-4.
*Ting-Tong*
Suara bell itu terdengar di telinganya. Ia langsung saja berdiri dan menuju ke pintu utama. Setelah sampai, ia membukakan pintu. Ia sungguh kaget dengan tamu yang datang ke rumahnya.
"Ho-Hokage-sama," panggilnya gagap. Sang Hokage hanya tersenyum lebar. "A-ada keperluan a-apa Hokage-sama sampai repot-repot datang kemari?" tanya Hinata. Ia tak menyangka sang Hokage datang ke rumahnya langsung seperti ini.
"Hehe," Hinata menatap bingung Nanadaime itu. "Aku ada berita penting untukmu," ucap Nanadaime itu dengan suara yang pelan.
Alis Hinata berkerut, tapi ia tak mengambil pusing. "Baiklah, Hokage-sama. Mari masuk dulu." Ajak Hinata kepada Hokage ke-7 itu dengan sopan. Sang Hokage mengangguk dan masuk ke dalam rumah sahabat sekaligus rivalnya.
Hinata pergi ke dapur untuk mengambil suguhan. Ia menyiapkan 2 cangkir teh hangat dan kue kering untuk dirinya dan Hokage ke tujuh, Uzumaki Naruto. Kemudian ia membawanya ke ruang tamu dimana sang Hokage berada.
Naruto tersenyum ringan saat melihat keberadaan Hinata yang menuju ke arahnya. Tangannya menggaruk kepala belakangnya gugup. "Maaf merepotkanmu, Hinata," ujarnya meminta maaf. Hinata menggelengkan kepala pelan. "Tidak apa, Naruto-sama. Saya malah merasa terhormat bisa dikunjungi langsung oleh seorang Hokage," balas Hinata merasa tidak enak. Padahal dirinya sering bermain ke tempat Naruto, lebih tepatnya mengunjungi Sakura. Tapi melihat Hokage sendiri yang datang ke rumahnya, ia merasa tak enak sakaligus merasa terhormat.
"Apa Kotomi masih sakit?" tanya Naruto sekedar basa-basi. Hinata yang selesai menata suguhan di atas meja menoleh ke arah Naruto dan tersenyum miris. "Ya, dia masih sakit," jawabnya sambil duduk di depan sofa Naruto yang terhalang meja.
"Padahal sudah seminggu," ucap Naruto prihatin. Ia merasa kasihan pada Kotomi yang tak kunjung sembuh. Apa sebegitu beratnya penyakit yang dia derita? Setahunya Sakura pernah bilang kalau penyakit Kotomi bukan penyakit serius. Hanya demam biasa. Tapi, kenapa tak juga sembuh?
"Di-dia keras kepala. Dia tak mau meminum obatnya. Katanya obat itu rasanya seperti rumput. Padahal aku yakin dia tak pernah mencoba memakan rumput. Dan dia tak suka dikompres, ia berkata padaku itu sungguh mengganggunya. Lalu dia suka berjalan kesana-kemari. Aku sudah menyuruhnya beristirahat tapi dia tak mau karena itu membuatnya bosan. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Padahal dia tahu kalau ia lemas, untuk mandi saja dia tak bisa," ujar Hinata menceritakan keluhannya selama ini. Naruto yang mendengarnya turut prihatin. Ia tak tahu anak Hinata sangat mirip kepribadian papanya, kalau mirip dengan pribadi Hinata pasti anak itu sudah sembuh dari kemarin.
"Lalu sekarang dia dimana?" tangan berperban itu mengambil cangkir dan meminumnya. Walau baru beberapa jam yang lalu ia bekerja, tapi itu sudah cukup menguras pikiran dan tenaganya.
"Dia ada di dalam kamar. Aku bersyukur dia mau beristirahat kali ini," jawab Hinata. Ia juga meminum tehnya yang masih mengepulkan asap. Wajah Naruto berubah, tercipta kelegaan disana.
"Syukurlah."
Hening sesaat. Hinata tak tahu harus memulai darimana. Sungguh memulai pembicaraan itu bukan sifatnya. Ia melirik takut-takut ke arah Naruto yang sedikit demi sedikit menghabiskan teh yang ia buat.
"Hinata," panggil Nanadaime itu serius.
"Ha'i, Naruto-sama."
"Cukup panggil Naruto saja," ucap Naruto membenahi panggilan Hinata kepadanya. "Aku punya kabar baik dan buruk padamu," lanjutnya.
Wanita berambut indigo itu mulai agak was-was. Ia tak mau mendapat kabar buruk yang akan menimpanya, cukup kabar baiknya saja yang ia peroleh. "Ka-kabar a-apa?" ucapnya takut-takut.
Mata Hinata dan Naruto bersibobok. "Kabar baiknya, Sasuke akan kembali beberapa hari ini," ucap Naruto tanpa tedeng-aling sedikitpun. Kabar itu membuat Hinata kaget. Apa? Sasuke pulang?
"Aku dapat kabar ini dari Shikamaru. Ia memberitahuku kemarin. Entah kabar ini benar atau tidak, aku juga tidak tahu," lanjutnya dalam sekali hembusan nafas. Hati Hinata merasa khawatir dengan ini. Bagaimana kalau ini hanya kabar burung? Ia tak ingin mendapat harapan palsu seperti ini. Ia sangat senang ketika tahu Sasuke akan pulang, tapi dengan informasi yang masih buram ini apa ia boleh berharap?
"Tapi, ini sudah 7 tahun lamanya. Ini tidak sesuai dengan perjanjian," ujar Hinata lesu. Ia kecewa saat 2 tahun yang lalu Sasuke tidak kunjung kembali ke Konoha. Bahkan sampai Kotomi masuk akademi pun Sasuke tak kunjung pulang. Ia juga merasa khawatir jika terjadi apa-apa dengan Sasuke. Tapi ia harus berpikir positif, suaminya itu orang hebat. Bahkan ia telah diakui oleh para penduduk desa di seluruh Negara Hi sebagai pahlawan bersama Naruto.
"Aku juga tak tahu dengan ini. Sasuke pasti masih hidup. Aku yakin itu. Musuh-musuh kelas kecoa tak akan membuat Sasuke mati dengan mudah. Ia pasti bisa mempertahankan diri. Dan juga ia juga sudah biasa berada di luar dengan pengalaman masa lalunya. Jadi kau tak usah khawatirkan keadaan Sasuke. Cukup berdoalah supaya Sasuke cepat pulang. Aku juga masih merasakan kehadiran chakra Sasuke walau tipis."
Hinata menggangguk-angguk. Ia juga berpikir seperti itu.
'Hm.' Muncul gumaman kecil dari arah dapur tapi tak sampai ke ruang tamu. Bocah itu mengambil air yang sudah habis diminumnya tadi. Setelah minum, ia ingin menemui sang mama karena ia sudah merasa baikan. Sayup-sayup ia mendengar suara Nanadaime di ruang tamu dan juga suara mamanya. Ia menyusup ke balik dinding pembatas dan menajamkan pendengarannya. Pasti berita penting dan rahasia sampai-sampai Hokage sendiri yang datang kerumahnya.
"Berita buruknya, kau tahu kan Kotomi anak diluar nikah?"
'Apa?!' batin Kotomi kaget. Ia tak tahu jika ia anak diluar nikah. Berita ini memang yang paling buruk yang pernah ia dapatkan. Ia memejamkan matanya menerima hantaman kuat pada hatinya. Belum cukupkah sang papa yang tak pernah ia ketahui? Tapi apa sekarang? Ia juga bukan anak yang sah? Anak haram begitu?!
"Ya," ucapan pelan mamanya semakin menyadarkannya bahwa ia anak haram. Memang benar apa kata teman-temannya. Ia semakin membenci dirinya sendiri.
"Ia harus menemui para tetua untuk menyakinkan bahwa ia pantas menjadi shinobi Konoha dan sebagai anak kalian. Ini buruk sekali Hinata. Mereka juga akan meneliti Kotomi apakah ia mempunyai dua kekkei genkai atau tidak, berhubung orang tuanya adalah keturunan Uchiha dan Hyuuga. Kau tahu? Aku sempat kaget mendengar ini. Bagaimana bisa tetua yang belagu itu memutuskan ini? Apakah mereka belum puas menyiksamu dan Sasuke? Membuat Sasuke pergi dari desa? Yang benar saja!"
*Kotomi POV
Kenyataan lagi yang membuat aku tak bisa mengontol detak jantungku. Sebegitukah parahnya?
"Itu bukan salah tetua, Naruto-kun. Mereka hanya menjalankan tugas mereka."
"Tapi bukan itu masalahnya Hinata. Kau tak ingat bahwa Sasuke pernah berjanji bahwa ia tak akan mengulangi kesalahan yang pernah ia buat? Waktu itu aku sempat kaget melihat Sasuke yang sampai menangis memohon kepada tetua untuk dibebaskan. Aku tak tahu mengapa ia ingin sekali bebas, aku berpikir pasti karena ia ingin hidup denganmu beserta anak kalian."
"Sasuke sudah berbuat salah Naruto-kun. Dia banyak membunuh,bahkan kakaknya sendiri ia bunuh. Aku bukannya tak kasihan pada Sasuke, tapi dia juga harus bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri. Jika dosa masa lalu yang sangat besar itu saja tidak dipertanggung jawabkan olehnya, bagaimana tanggung jawab untuk diriku sendiri?"
"Hm, ya. Kau benar. Aku kalah denganmu Hinata. Yang terpenting jaga Kotomi. Jangan sampai ia tahu siapa sebenarnya papanya dan tentang kabar ini."
Cukup. Aku sudah tak tahan lagi. Umurku sudah cukup untuk berani. Aku tak akan diam lagi. Sudah cukup untuk selama ini aku yang selalu diam dan tak banyak bertanya. aku sudah tak ingin tahu lagi tentang ayahku. Kalau bisa aku tak ingin melihatnya pulang.
"Aku sudah tau semuanya. Tak usah menyembunyikannya dariku lagi!" ucapku keluar dari tempat persembunyianku. Kulihat Nanadaime dan mama kaget mendengar teriakanku. Aku tak akan peduli dengan keterkagetan mereka. Disini yang paling kagetadalah aku bukan mereka dan bukan siapapun.
"Kotomi.." Nanadaime melihatku takut. Aku melihatnya nyalang, tak peduli dia yang lebih tua dariku. Aku merasa dipermainkan sekarang. Bahkan jati diri seorang ayah harus ditutup-tutupi seperti saat ini. Aku sangat marah, benci, kecewa, sedih, terluka. Jiwaku sakit, tubuhku sakit, bahkan sampai hatiku juga sakit. Kabar ini memang buruk.
"Dengar penjelasan mama dulu, Kotomi." Aku menutup telingaku sebagai tanda aku tak mau mendengarnya. "Mama, kenapa tak pernah mau memberitahuku?" ucapku sedih. Aku kecewa pada mamaku yang sangat aku kasihi itu. Ia menangis menatapku. Nanadaime hanya bisa diam.
"Kenapa mama selalu menyembunyikannya? Kenapa?!" ucapku keras. Aku mulai menangis. Mataku panas. Aku sedih dengan semua ini. Aku benci.
"Aku berpikir mama hanya tak ingin aku sedih karena papa tak pulang-pulang. Aku mengira mama sayang padaku sehingga tak mau aku menangis mengingat papa. Tapi sekarang apa?! Mama tak mau mengenalkan aku pada papaku sendiri?!" Dengan berderai air mata aku meluapkan emosiku. Aku memang anak yang tak suka berbasa-basi. Aku akui itu. Kepribadian mama tak banyak yang menurun padaku. Aku sangat yakin dengan pribadiku yang seperti ini pasti papa adalah orang yang kejam didunia.
Aku menghapus air mataku walau itu sia-sia. Aku menatap Nanadaime yang memandangku. "Nanadaime, aku bersyukur kau mau menganggapku anakmu. Tapi kenapa kau tak mau memberitahu siapa ayahku. kau hanya memberitahuku fotonya. Dan menceritakan masa lalumu dengannya padaku. Tapi itu semua tidak menjelaskan siapa ayahku. kenapa semua orang menutupinya?!" Nanadaime tersentak dengan pernyataanku. ia mengusap wajahnya bingung.
"Kotomi, kami bukan tak mau memberitahumu siapa ayahmu dan kenapa ia pergi darimu. Kami hanya ingin kau tak terlalu menderita karena mengetahui ayahmu yang seperti apa. Aku hanya tak ingin kau membencinya," ucap Nanadaime itu kepadaku. Yaa, tak perlu dijelaskan. Aku sudah tahu semuanya. Bahkan aku bukan anak yang diharapkan.
"Lalu kenapa Mama hamil diluar nikah? Aku memang anak haramkan?" ucapku sedih. Aku tak mengira ejekan tabu itu memang benar adanya. Aku tak suka hidup dengan kepalsuan seperti ini. Ohh.. Kami-sama...
Mama langsung memelukku. Aku tak akan termakan dengan kelakuan mama kali ini. Aku tak ingin terhanyut dengan kasih sayangnya kali ini. Aku ingin menjadi diriku sendiri.
"Maafkan mama. Kotomi. maafkan mama," ucap mama tak henti-hentinya menangis. Aku tak tega melihat mama yang menangis di dalam pelukanku seperti ini. Tubuhnya bergetar hebat mengalahkan getaran tubuhku. Aku ikut menangis karenanya.
Mataku yang hitam menatap Nanadaime menuntut kejelasan dari semuanya. "Oke, oke. Aku akan memberitahumu," sahutnya pasrah.
Kulihat ia menarik nafas cukup lama dan menghembuskannya kasar. "Papamu dulu adalah sahabat jii-san. Kau pasti sudah tahu tentang hal ini. Waktu masih kecil ia suka bermain dengan sang kakak, Uchiha Itachi. Mereka bermain dengan sangat akrab. Tapi, sesuatu terjadi. Sang kakak yang sangat papamu sayangi itu membunuh seluruh keluarganya, bahkan sampai satu klan, dan termasuk kedua orang tuanya. Tapi, kakaknya itu tak sanggup membunuh adiknya, yaitu papamu. Dari situ kebencian hinggap di hati Sasuke. Kakaknya pergi meninggalkan Konoha dan menjadi missing-nin dan bergabung ke dalam akatsuki. Tahun demi tahun berlalu, Sasuke menjadi gennin yang berada dalam satu tim denganku dan Sakura. Saat perkenalan ia memberitahu kepada kami apa cita-cita dan ambisinya. Ia ingin mengembalikan Clan Uchiha dan membunuh Itachi sang kakak. Setelah beberapa tahun dan menjalankan misi bersama. Ia mulai bertekad membunuh sang kakak dengan pergi dari Konoha. Aku tak kan semudah itu membiarkan Sasuke pergi. Kami bertarung mati-matian di lembah kematian. Aku kalah saat itu dan Sasuke lolos dari pengawasanku. Aku tak mengetahui keberadaannya lagi setelah itu. Tim pencari juga sudah dikerahkan tapi tetap tak berhasil. Aku mulai berpikir untuk menjadi lebih kuat supaya bisa membawa kembali Sasuke. Saat itu aku juga sudah berjanji pada Sakura agar membawa Sasuke kembali dengan selamat. Kemudian, aku berlatih dengan guruku selama 3 tahun." Ia memutuskan ceritanya dan mengambil nafas lagi.
"Lalu aku kembali ke Konoha. Aku sudah dewasa. banyak peristiwa yang aku rasakan. Ada kesempatan aku membawa pulang Sasuke tapi itu tak berhasil. Dia malah mengajakku bertarung. Dengan segenap jiwa aku kerahkan segala kekuatanku. Tapi tak berbuah hasil. Perang dunia juga semakin dekat, aku tak mungkin hanya memikirkan Sasuke. Urusan Sasuke bisa diurus belakangan. Tak disangka-sangka ia turut membantu aliansi shinobi berperang. Aku tak terlalu terkejut saat itu, karena aku sudah merasakan chakranya yang mendekat dengan para Hokage terdahulu yang menyertainya. Kemudian kami beserta aliansi Shinobi berperang dengan semangat api. Liku-liku kerumitan kami jalani, tapi itu berbuah hasil yang melegakan. PDS dimenangkan oleh kami, para aliansi. Kami bersorak-sorak setelah itu."
"Kerumitan lainnya yaitu masalah cinta yang kami hadapi. Aku tak tahu ada apa dengan kewarasan papamu saat itu. Tahu-tahu berita Hinata hamil anak Sasuke menyebar. Setelah itu Sasuke dibawa ke ruang rapat. Ia akan dihukum berat, karena kesalahannya di masa lalu yang sudah meresahkan warga. Membunuh, mencuri, sampai ingin menghancurkan Konoha itu sudah tindakan yang terlarang. Bahkan sampai mengahamili Heiress terhomat Hyuuga seperti mamamu. Para tetua itu ingin men-eksekusi Sasuke, tapi aku menolaknya. Aku memohon agar Sasuke diberi keringanan dengan hukumannya dengan alasan Sasuke yang membantu aliansi untuk memenangkan perang. Cukup lama dan sengit rapat itu, akhirnya diputuskan Sasuke tak boleh berada di Konoha selama 5 tahun lamanya. Tapi tak tahu mengapa ia tak pulang-pulang sampai saat ini. Sebelum pergi Sasuke di suruh menikah dengan mamamu. Dan ya kau tahu selanjutnya."
Aku mendengarkan cerita itu dengan seksama. Jadi selama ini ayahku seorang pembunuh? Sampai menghamili ibuku juga? Kepalaku mendadak kelu. Berita itu sangat mengganggu pikiran dan batinku. Amarahku timbul seketika.
"Jadi papaku adalah seorang yang bertangan kotor? Begitukah Nanadaime?! Apa papaku tak tahu derita mamaku? Apa dia juga tak tahu derita yang aku alami sekarang ini?! Apa ia tak merasa bersalah telah membuat aku menjadi anak haram?! Ha?! Aku sungguh membencinya Nanadaime. Dia yang membuat mamaku menanggung malu dan menderita, dia juga yang membuat mamaku menangis setiap aku membahasnya. aku sangat membencinya. Aku tak sudi bertemu wajah orang itu. AKU TAK AKAN SUDI MENGAKUINYA!" teriakku lantang dengan berderai air mata. Sungguh hatiku sakit dengan semua ini. Aku muak, rasanya aku ingin mati saja. Aku mendorong ibuku dan berlari ke dalam kamar, menenangkan pikiran dan jiwaku.
*NORMAL POV
Hinata menangis deras. Ia tak mengira akan seperti ini jadinya. Apakah salahnya jika ia tak memberitahukan Kotomi jauh-jauh hari sebelumnya? Ini sangat mendadak. Melihat putrinya menangis dan meraung-raung dengan tubuh bergetar seperti itu ia merasa menjadi ibu yang tak berguna. Ia salah. Ia harus memperbaikinya.
.
TBC
,
Hahaha. update juga setelah sekian lama. oh iya disini Kotomi dan angkatannya sudah besar, seperti boruto dkk di NG chapter 700. Dan saya ganti panggilan Kotomi dengan mama papa. Maaf minna... saya lama yang update. #bungkukbadan. sekali lagi saya minta maaf. Dan juga Mohon tinggalkan jejak untuk chapter ini :v saya juga sangat berterimakasih pada para reviewers, favoriters, folloers, ataupun readers silent yang sudah membaca cerita saya #pelukcium. saya mohon untuk berpendapat dengan chap ini :)
.
Maaf saya tidak bisa membalas review karena saya meng-update chap ini lewat warnet yang bikin tangan saya pegel kalo nulis lama-lama. saya mohon maaf sekali. tapi saya sudah membaca keseluruhannya kok. saya sangat terharu sekali. ternyata banyak juga yang mengharapkan cerita ini cepet update. yoshh sekarang sudah update.. silahkan dinikmati dan berikan pendapat. itu sangat membuat saya bersemangat untuk melanjutkan :D
