Author's Note: Hore~! Udah chapter dua! Yay~! Makasih kakak Shieru9999 yang udah review baik-baik, saya terharu loh, fanfic pertama saya ada yang review *nangis* whell lez gow thoo za shory (Well, let's go to the story)
Disclaimer: Persona ya punya Atlus, saya kapan-kapan claim ah~ *Plak*
(Point of View is now on Tatsuya)
Akhirnya aku tiba di ruangan simulasi pertarungan setelah ditarik-tarik oleh guruku, Fuyuta melambai-lambaikan tangannya ke arahku, aku segera menghampirinya, "Ada apa Fuyuta?" Aku menyapanya, Hayate dan Sakura pergi entah kemana, sepertinya mereka ke kamar kecil ya?
"La-lawanmu itu assassin kelas atas loh, namanya Hakuro Kokujou." Aku bingung setengah mati dengan namanya, namanya seperti nama karangan, "Oranganya ngedeketin kita tuh." Fuyuta menunjuk seorang laki-laki dengan baju tuxedo hitam, celana panjang hitam, dan rambut merah yang panjang, area di sekitar matanya tertutup oleh topi fedoranya.
"Apakah kau Aoi Tatsuya?" Dia bertanya padaku, aku mengangguk, "Namaku Hakuro Kokujo, mari kita saling bunuh dengan senang hati." Gampang sekali kau bilang begitu, dasar assassin brengsek, kayak nggak tahu arti dari 'nyawa' saja.
"Hei kalian!" Guru perempuan itu menyahut kami berdua, tangannya dia lambai-lambaikan di udara, "Kesini!" Dia langsung menyuruhku dan si assassin brengsek ini ke situ, tanpa pamrih, aku segera kesana dengan si assassin brengsek ini.
"Aku mau mengajukan aturan Valkyrie." Semua murid itu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh si brengsek itu, Valkyrie juga aku tidak tahu, apalagi aturannya.
"Valkyrie itu apa ya?" Aku bertanya pada guruku, memangnya kenapa sih? Cuman nanya doing kok, maklumlah, sayakan murid baru disini, perlu arahan dong.
"Yang dimaksud dengan Valkyrie itu pertarungan memperebutkan anggota, jika petarung timmu menang, kau bisa mengambil salah satu anggota dari keluarga mereka yang kalah, bahkan kau boleh mengambil pemimpinnya." Guruku itu menjelaskan.
"Heee, jadi aku bisa membuat assassin brengsek ini menjadi budakku? Asik juga nih." Aku tertawa polos, orang yang aku maksud langsung mengigit jarinya, yes, aku berhasil mengintimidasi dia.
"Yak, Tatsuya, ambil kartu ini." Guruku menyerahkan sebuah kartu kosong, aku memasukkannya ke dalam saku, "Yak, silahkan duduk di kursi ini, dan pasang helm ini." Aku segera duduk dan memasang helm di kepalaku.
"VIRTUAL FIGHT! START! REVERSE!"
-x-x-x-x-x-
Aduh, kepalaku seperti sedang diputar, sialan, aku ada dimana ya? Di sekelilingku hanya ada gedung-gedung yang sepertinya mau ambruk, bangkai-bangkai mesin yang berserakan, di sekelilingku banyak tulang belulang yang sepertinya adalah bangkai manusia, menjijikkan.
Aku segera menoleh ke arah belakang, dan melihat sebuah cahaya yang berkilu untuk sesaat, aku segera melesat ke belakang bangkai mesin-mesin yang cukup besar, seketika terdengar suara peluru yang terpantul, datangnya dari arah tempat aku sedang duduk, mengerikan.
"Kamu disana ya!" Assassin brengsek itu tiba-tiba ada di belakangku, senyum maniak yang terpampang di wajahnya membuatku merinding, "Bakar dia! Thamuz!" Sebuah kartu yang tiba-tiba muncul di depan pistol assassin rengsek itu ditembak olehnya, dan keluarlah sebuah bayangan hitam yang pekat.
Setelah kulihat lebih jelas, ternyata itu adalah seorang pemuda bersayap yang digabungkan dari bermacam-macam peralatan, seperti obeng, linggis, bor, bahkan sampai gergaji mesin, kepalanya ditutupi oleh topeng metalik yang di bagian matanya diberi lubang yang sejajar dengan matanya, tangan kanannya sedang memegang tombak, sedangkan tangan kirinya memegang rifle.
TIba-tiba bayangan itu memuntahkan api dari riflenya, aku dengan sigap berhasil menghindarinya, lalu aku segera lari secepat mungkin dari bayangan yang terus-menerus mengejarku.
"Petak umpet ya? Aku suka permainan ini, kuhitung sampai 5 ya…" Assassin brengsek itu mulai menghitung mundur, aku segera berlari ke dalam sebuah gedung dan memasuki tangga ke arah basement, dan dari basement itu aku menemukan lubang yang cukup besar dan memasukinya, dan tahu-tahu aku berada di sebuah celah yang tidak bisa dilihat dari atas, sekarang berpikir…
Aku ingin tahu bagaimana caranya dia melakukan itu, melakukan pemunculan bayangan tidak jelas itu, dan kartu-
Tunggu, kartu? Kartu? Aku mengambil kartu yang ada di sakuku, dengan angka nol di tengah kartu itu, melambangkan kartu tarot arcana yang paling bawah, nol, tapi bagaimana aku bisa tahu itu lambing kartu tarot? Sudah lah, aku pikirkan nanti saja! "Keluarlah!" AKu berteriak dengan lantang, tidak ada respon dari kartu itu.
"Kau di sini ya?" Assassin sialan itu ternyata sudah ada di atasku, lalu dia berteriak, "Persona!" Dan muncullah kartu itu dan ditembaknya kartu itu dengan pistol, keluarlah bayangan yang namanya 'Thamuz' itu, dan sekali lagi menyemburkan api ke arah celah lubang.
Inikah akhir hidupku? Aku terlalu muda untuk dimakan api, hanya ada satu cara yang tersisa, aku mengenggam erat kartu di tanganku, lalu kuucapkan satu kata demi kata, "Per,so,na."
Cahaya hitam keluar dari tubuhku, lalu keluarlah sebuah benda seperti robot, seluruh tubuhnya seperti terbuat dari besi, sedangkan sayapnya berbeda satu sama lain, yang kanan hitam, dan yang kiri putih, kepalaku rasanya pening, tiba-tiba bayangan itu memuntahkan darah dari mulutnya, kemudian tangannya, lalu kakinya, dan setelah itu seluruh tubuhnya meledak, dari kebulan asap itu keluar sebuah tengkorak manusia yang dibalut dengan jubah dan memakai topi, di kedua tangannya dia menggenggam 2 Chicago Typewriter.
"Vartial Rampage." Suara Lucifuge terdengar di kepalaku, serentak dengan suara itu, tengkorak itu mulai menembak secara berentet dari tembakannya, seakan-akan peluru yang ditembakkan tidak bisa habis, seluruh persona assassin itu segera dipenuhi lubang.
"Giliranmu Katami!" Assassin sialan itu mengubah posisi penutup matanya dari mata kiri ke mata kanan, tiba-tiba personanya hilang, assassin sialan itu lalu menghancurkan kartu lagi dengan pistolnya, tapi yang keluar bukanlah Thamuz, tetapi sebuah bidadari dengan sayap berwarna pink, dan di mukanya terdapat topeng berbentuk hati yang menutupi wajahnya, "Pistis Sophia! Diarama!" Serta merta, sinar hijau mulai menutupi si assassin sialan itu, dan dari napasnya yang tidak terkontrol menjadi terkontrol lagi.
Tiba-tiba tengkorak berjubah hitam itu mulai diselimuti oleh api, lalu api itu perlahan-lahan berubah menjadi es, hingga seluruh tubuh tengkorak itu tertanam di dalam es, es itu kemudian retak dan mengeluarkan persona yang pertama kali aku lihat.
"Thou art I, and I art thou, thou hast been blessed by the wings of creation, thou shalt be blessed when thou fly to the sky, I am Gungnir, the spirit of the spear of the gods, I am now at thou's commandment." At last, this is my persona… Gungnir, nama yang keren.
"Hey! Ini belum selesai!" Sang assassin sialan itu mulai berteriak dari reruntuhan, tapi suaranya lebih rendah dari biasanya, lalu dia mengacungkan pistolnya padaku, aku segera mengambil sebuah pipa besi yang tergeletak di lantai dan menerjangnya.
-x-x-x-x-x-
(Author's Note: Boss Analysis)
Name: Hakuro Kokujou(?)
HP: 500
SP: 500
Skill: Diarama, Tarukaja, Dekaja, Dekunda, Zionga
Persona: Pistis Sophia (Justice)
Stats: Phys: Norm, Agi: Norm, Bufu: Weak, Garu: Norm, Zio: Strong, Light: Nul, Dark: Nul
(End of Boss Analysis)
-x-x-x-x-x-
"Ayo Gungnir! Skewer!" Aku meremukkan kartu yang muncul di hadapanku dengan pipa besi yang baru saja kupunggut, lalu Gungnir muncul dari serpihan kartu itu dan segera menusuk persona assassin sialan itu dengan tombaknya, apa namanya? Pistis Sophia ya? Ng?
Tiba-tiba ada tulisan '-25' di atas kepala Pistis Sophia, lalu assassin itu mengeluarkan personanya, malaikat yang menyusahkan, dari tadi kerjanya menyambar petir melulu, membosankan, sial, petirnya mengarah kesini, "Gungnir!" Aku menghancurkan kartu itu tepat pada waktunya, Gungnir berhasil menangkis petir itu, tapi tubuhku nyeri setengah mati, dan di atas Gungnir terlihat angka '-45' lalu disusul oleh tulisan 'weak'
Lalu assassin sialan itu menghancurkan kartunya lagi, "Pistis Sophia!" Dia berseru, kali ini malaikat itu membuat lingkaran yang menyelubungi assassin sialan itu dan mengeluarkan sinar berwarna merah, dan di atas Pistis Sophia terlihat tulisan 'attack temporarily increased'
Ini gawat, aku harus segera menemukan kelemahannya, akan kucoba ini sekarang, "Gungnir! Bufu!" Aku menghancurkan kartu yang ada di hadapanku dengan pipa besi lagi, lalu Gungnir muncul dan memutarkan tombaknya untuk membuat sebuah lingkaran, dan dari lingkaran itu keluar serpihan-serpihan es yang melayang dan menusuk tepat di dadanya Pistis Sophia, dan terlihat tulisan 'weak' yang disusul dengan '-45' dan 'one more'
Lalu aku mengulang cara itu lagi dan lagi, angka yang pertama terlihat di atas Pistis Sophia adalah '-45' lalu '-50' lalu '-76' lalu '-89' lalu '-67' lalu '-59' lalu '-70' disertai sebuah geraman di setiap kalinya aku mengeluarkan bufu dan berhasil mengenai Pistis Sophia, lalu aku menyerangnya untuk yang terakhir kali dan Pistis Sophiapun hilang dari pendanganku, dan dilanjutkan dengan assassin sialan itu ikut pundung.
"Kau menyerah?" Aku mendekatinya, lalu kutendang mukanya dengan kakiku, dan assassin sialan itu terpental ke kanan, memperlihatkan tubuhnya yang sedang telentang dan pingsan, tapi aku melihat sebuah jendolan di dadanya, mungkinkah? Aku membuka kancing bajunya satu-persatu, dan benar saja, dia ternyata perempuan.
Mengejutkan, ternyata aku sudah menendang seorang perempuan, tapi aku sudah tidak ada tenaga lagi, pandanganku mulai buyar, aku memutuskan untuk duduk sejenak, tiba-tiba terlihat cahaya di depan mataku, dan mulai menyelimuti tubuhku.
-x-x-x-x-x-
(Point of View is changed to Sakura's Point of View)
"Fuyuta, apa yang terja-" Aku terbelalak melihat kenyataan kalau Tatsuya ternyata sudah membereskan Kokujou, assassin yang hebat seperti dia bisa kalah oleh Tatsuya? Tidak mungkin, bagaimana dia bisa begitu kuat!
"Ichijou-san" Fuyuta segera menghampiriku, "Master menang! Master, Master, uh- uwaaah." Fuyuta menangis di dadaku, aduh, basah deh bajuku, yah, dia pantas menangis sih, mungkin karena dia pikir dia akan mati ya? Dasar cewek bodoh.
"Sakura-san, aku menang loh!" Bicara tentang sang setan, dia sudah datang ternyata, aku tersenyum bangga padanya, benar-benar adik yang merepotkan.
"Bagus, karena kau menang, Sakura-chan akan menraktirmu makan! Ikuti aku!" Hayate yang baru saja nongol itu benar-benar memuakkan, memangnya kau kira aku ini apa hah? ATM yang mempunyai uang yang tinggal diambil?
Tapi aku senang karena dia memilihku untuk menjadi anggota keluarga mafianya, tapi menjadi ketua keluarga mafia membutuhkan kerja yang lumayan keras loh.
"Oh iya Sakura-san." Ah, Tatsuya menoleh ke arahku, dia berjalan semakin dekat.
"Ada apa Tatsuya?" Aku deg-degan, inikah rasanya berada seperti di drama Korea?
"Aku mengundurkan diri."
"APA!"
-To be Continued-
Author Notes: Asyik, akhirnya chapter 2 pun jadi XD
Makasih buat kakak yang udah ngereview, arigato gozaimasu *membungkuk*
