Disclaimer : Naruto, dan Sasuke adalah milik Masashi Kishimoto. Plotnya, milik ku! Ha-ha
Tokoh utama: Sasuke yang lainnya hanya tokoh kedua, ketiga, dan seterusnya.
Rate: T
Nb: semua yang ada disini adalah Sasuke POV's, Sasuke berumur sekita 13-14 tahun, lebih banyak bicara dari Sasuke yang berumur 16 tahun di komik, marga Sasuke belum diketahui ^_^V
Thief or Witch
Pagi ini pagi pertamaku sebagai murid sihir Madara, aku terbangun cukup cepat ketika dia menyenggolku dengan kakinya yang memakai sepatu kulit berwarna hitam mengkilap. Saat itu masih sangat pagi, matahari bahkan belum sepenuhnya terbit. Dapat kulihat langit diluar masih berwarna abu- abu.
Aku menguap sekilas, menggeliat, lalu megeratkan selimutku. Kulihat dia sudah rapih, dengan jubah hitam yang pinggirannya dipelisir emas, dan sepatu bot hitam mengkilapnya.
"Kau sudah bangun sepenuhnya, Nak?" tanyanya padaku. Aku hanya mengangguk, lalu dia meneruskan. "Kalau begitu cepat cuci mukamu, lalu turun ke bawah untuk sarapan."
Sebenanya aku agak enggan meninggalkan kasur empuk ini. Jarang-jarang aku bisa tertidur di kasur seempuk ini. Tapi melihatnya memandangku dengan tajam membuatku mau-tidak mau meninggalkan kasur empuk ini. Berjalan gontai ke kamar mandi dan membasuh mukaku. Kurasakan air dingin mengaliri wajah dan tanganku. Membuatku merasa lebih segar, dan sedikit lapar.
Aku turun ke bawah beberapa menit kemudian dengan badan sedikit menggigil, berusaha mencari Madara. Dan aku melihatnya, sedang duduk di kursi yang kemarin malam kami duduki – yang disebelah jendela, sambil menulis sesuatu.
Saat menyadari bahwa aku sedang berjalan mendekatinya, ia buru- buru mengakhiri aktifitasnya tadi. "Sudah cuci muka?" tanyanya.
"Sudah, mana sarapannya?" ujarku padanya.
"Sebentar lagi datang, tunggu saja," katanya lagi. Lalu ia mengambil sebuah koran – tampaknya Daily Konoha, lalu mulai membacanya.
Menuruti apa yang dia katakan, aku mengambil tempat duduk di seberangnya dan menunggu makanan dalam diam. Sesekali melihat kearah jendela, memperhatikan beberapa orang yang lalu-lalang. Beberapa menit kemudian, seorang pelayan datang membawa kalkun dan kentang tumbuk, dan juga pai apel sebagai penutupnya. Aku mulai makan dengan lahap, tanpa menghiraukan pandangan setengah geli-setengah jengkel milik Madara.
"Wah Nak, sudah berapa lama kau tidak makan," tanyanya dengan nada geli.
Aku hanya diam, bukannya karena tidak mau menjawab, tapi karena aku baru saja menelan sepotong besar kalkun. Sehingga jika aku membuka mulut sedikit saja, aku yakin kalkun itu akan menyembur dari mulutku.
Setelah sarapan yang sangat menyenangkan itu, Madara mengajakku meninggalkan penginapan itu. tapi sebelumnya ia meninggalkan sejumlah koin tembaga diatas meja kami.
Penasaran aku mulai angkat suara untuk bertanya padanya.
"Madara kita mau kemana?" tanyaku padanya.
Ia menatapku tajam, "Ada yang harus kutemui," ujarnya, lalu ia kembali berjalan.
Langkahnya sangat cepat, sehingga aku harus berlari-lari kecil untuk merendenginya. Kami terus berjalan, sampai tiba-tiba ia berhenti di depan sebuah bangunan yang kuyakini adalah kantor pos. Ia diam sejenak, lalu mulai mendorong pintu depan dan masuk kedalam.
Aku mengikutinya masuk dengan agak kesulitan karena pintu itu lumayan berat. Saat sudah sepenuhnya masuk kedalam, bau kertas langsung menyerbu rongga pernafasan ku. Membuatku agak aneh.
Aku terdiam cukup lama sampai kusadari bahwa aku sudah kehilangan sosok Madara dari ruang lingkup pandanganku. Kantor pos hari ini sangat ramai dan penuh sesak, membuatku agak kesulitan menemukan Madara.
Sampai akhirnya, aku menemukannya sedang berada didepan salah satu meja tinggi. Berbicara dengan salah satu pegawai kantor pos yang memiliki rambut hitam dengan sebatang tusuk gigi yang terselip diantara mulutnya.
Madara tampak memberikan secarik amplop padanya, lalu memberikan beberapa koin tembaga. Kemudian si pegawai mengangguk dan pergi entah kemana.
Aku berusaha keras menyelinap diantara kerumunan orang-orang agar bisa ketempat Madara. Cukup lama aku berusaha menyelinap diantara orang-orang itu, sampai akhirnya aku sampai ketempat Madara dengan nafas sedikit terengah dan peluh di dahiku.
Ia hanya mengagguk padaku, lalu berjalan ke arah pintu keluar. Membuatku nyaris putus asa karena harus melewati sekumpulan orang itu lagi, tidak bisakah dia membiarkan aku bernafas terlebih dahulu?
Madara sudah sampai didepan pintu depan, dan sedang mendorong pintu. Aku segera mempercepat langkah kakiku, berkelit diantara orang-orang –yang entah sedang menuggu apa di kantor pos.
Aku berhasil menjejakan kakiku diluar dengan nafas terengah dan peluh yang semakin banyak. Jelas sekali, kantor pos adalah tempat terakhir yang akan aku kunjungi. Kami kembali berjalan melewati jalan raya yang cukup lenggang, berbanding terbalik dengan keadaan didalam kantor pos. Aku berusaha merendengi langkah Madara yang panjang-panjang, membuat nafasku semakin habis.
"Err, Madara. Sebenarnya apa yang kau lakukan di kantor pos tadi?" tanyaku setelah berhasil merendenginya. Ia mengernyit mendengar pertanyaanku, membuatku was-was takut melakukan kesalahan.
"Kau tahukan apa kegunaan dari kantor pos?" tanyanya sedikit ragu.
Aku mengangguk, "Mengirim surat?" balasku.
"Lalu, untuk apa kau bertanya?" tanyanya lagi.
"Maksudku, untuk apa kau mengirim surat?" tanyaku lebih jelas. Tapi ia tidak menjawab, hanya menggeleng pelan saja. Membuatku mau-tidak mau semakin penasaran.
Sisa perjalanan itu kami habiskan dalam diam, sampai akhirnya kami sampai disebuah kedai minuman yang cukup ramai.
"Tunggu disini bocah!" katanya padaku.
Aku mengangguk, lalu ia masuk ke kedai minum itu. Selang 15 menit ia keluar diikuti seorang pria tinggi berambut jabrik berwarna pirang jagung, yang kira-kira berumur enam belas atau tujuh belas tahun. Pengawal yang bagus pikirku. Ia mengenakan kaus berwarna biru tua, mantel hitan dan jeans hitam. Kulirik kantung mantelnya, disana mencuat sebuah penda berwarna perak, saat kuteliti ternyata itu pegangan dari sebuah pisau kecil dan uang. Dia bekerja untuk Madara, pikirku, jadi kuputuskan untuk tak mencuri barangnya.
Dia mendekatiku, dan berkata, "Ini orang yang anda maksud sir?" tanyanya sambil memelototiku. Saat aku membuka mulut untuk menjawab Madara mendahuluiku.
"Ya, itu dia,"
"Aku Sasuke," ujarku.
Pria itu membungkuk, mendekatkan kepalanya padaku dan mengatakan sesuatu dengan suara lirih agar Madara tidak mendengarnya. " Menjauh dariku, bocah," lalu ia mengepalkan tinjunya padaku.
Menjauh darinya? Oke akan kulakukan. Lagipula aku kurang suka berada didekatnya. Rasanya, aku merasakan aura yang aneh dari orang itu.
"Ayo," kata Madara, ia sudah berada sepuluh langkah didepan kami, dan si pengawal mengikutinya.
Aku mengikuti mereka, berhati- hati untuk tetap menjaga jarak dari si pengawal sekaligus tetap bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Mereka sedang mendiskusikan sesuatu. Saat sadar aku sedang mencoba mendengarkan, mereka buru- buru diam, dan si pelayan mendelik padaku.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit, kami berhenti di sebuah rumah yang besar dan terkesan kuat. Aku mengenalnya, tempat tinggal salah satu warga terburuk di Konoha Bawah, Orochimaru.
Pertanyaan-pertanyaan berputar di otakku. 'Untuk apa Madara kemari?' 'Apa ia ingin cari mati?' 'Orochimaru? kuharap ia bisa keluar dengan utuh.' Aku ingin bertanya sekali bertanya, tapi entah kenapa aku malah diam saja.
Dari luar tempat itu tidaklah buruk. Pintu gerbang besi yang kokoh dan besar, tembok tinggi yang bagian atasnya dipasang paku-paku dan kawat tajam –tampak seperti benteng. Didalamnya terdapat sebuah rumah besar dan tinggi dari batu yang kokoh. Sekali lihat saja, sudah sangat jelas bahwa rumah itu sukar untuk dimasuki, dan sukar pula untuk keluar dari sana. Sangat jelas bahwa itu adalah tempat terakhir yang akan ku kunjungi, untuk mencuri.
Madara berbicara dengan dua orang kaki tangan Orochimaru. Setelah beberapa saat mereka membiarkan kami masuk. Salah satunya mengantarkan kami melewati pintu depan.
"Akan ku antar kau menuju Orochimaru, tapi pengawalmu tetap diluar," katanya. Menahan kami di pintu depan. Madara mengangguk, lalu ia membawa Madara kedalam.
Aku mengamati Madara sampai ia berbelok dan menghilang. Lalu aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Seorang kaki-tangan Orochimaru yang menjaga pintu depan mengawasi si pengawal baru Madara dengan pandanga curiga.
Lama aku menunggu, dan Madara belum kembali. Sambil menunduk, aku duduk di lantai yang dingin, kakiku sudah pegal karena berdiri lama. Kaki-tangan itu mengalihkan pandangannya padaku, lalu matanya menyipit curiga.
"Hei, bocah sepertinya aku mengenalmu," ujarnya.
Aku duduk diam, badanku meneggang.
"Kau si pembuka kunci kan, Orochimaru ingin bertemu denganmu," katanya lagi.
Sial untuk apa dia ingin bertemu denganku. Sebelum sempat berkata apa- apa si kaki-tangan itu sudah mendekat kearahku, dan mencengkram erat pundakku. Dan menyeretku masuk, aku menatap si pengawal baru. Tapi ia hanya melipat lengannya dan bersandar ke didinding, tidak membantu sama sekali.
"Tuanku ingin bicara denganmu," geramnya.
Tidak, bicara sama sekali bukan hal yang biasa Orochimaru lakukan. Aku menendang tulang keringng si kaki-tangan. Lalu merunduk dibawah lengannya yang berusaha meraihku, kemudian mendorongnya dengan bahuku. Rupanya doronganku terlalu kuat. Lebih kuat dari yang kuperkirakan, sehingga si kaki-tangan itu terpental cukup jauh.
Aku berlari masuk, melewati lorong yang tadi dimasuki Madara. Berlari terus sepanjang lorong, sampai tiba disebuah pintu besar yang kokoh. Bingun, aku hanya terdiam didepannya, sampai kudengar suara si kaki-tangan yang tadi. Panik, aku mencoba membuka kunci pintu itu sambil mengutuk si pengawal dalam hati, karena tidak membantu sama sekali. Dengan kawat yang ada disaku celanaku aku mulai membuka kunci, tidak sia-sia aku mendapat gelar si pembuka kunci, pintu itu bisa terbuka olehku dalam waktu beberapa detik.
Aku bergegas memasuki ruangan dibalik pintu itu, ruangan yang cukup besar dengan dinding yang dipenuhi berak-rak buku tebal. Aku melihat sebuah pintu lain, karena penasaran akupun mencoba mengintipnya dari lubang kunci. Aku melihat seseorang disana.
Dia adalah seorang penyihir, aku tahu itu karena dia punya sesuatu yang seperti Madara, tapi bentuknya seperti tanduk tergantung pada rantai dilehernya. Ia berambut hitam jabrik, kerutan- kerutan terlihat jelas disekitar yang terlihat keras. Sebelah matanya tertutup perban putih. Ia sedang bergumam sendiri sambil membaca buku tebal bersampul hijau Zamrud.
"Kurasa cara ini lebih cocok, sebaiknya kuberitahu Orochimaru," kata orang itu.
"Tapi apa ini, diperlukan darah Unicorn muda. Susah sekali untuk menangkap Unicorn muda, mereka –" suaranya makin lama makin rendah sehingga aku tidak bisa menangkap kata-katanya.
Mengernyit sedikit kepada si buku, penyihir itu lalu berjalan meninggalkan tempat tadi, menuju tempat lain di ujung ruangan yang tak terlihat olehku.
Apa yang dia rencanakan dengan Orochimaru? Apapun itu aku yakin tidaklah bagus, aku ingin mencari tahu lebih jauh. Mulai memeriksa lubang kunci di pintu itu, tidak terlalu susah, dengan pinggiran roda, pengait, dan pengancing.
Aku merogoh kawat yang tadi kugunakan dari sakuku, saat mencoba membukanya, tiba- tiba pintu itu memanas membakar jari-jariku. Tampaknya pintu itu dilindungi oleh mantra. Akhirnya dengan berat hati aku menyeret kembali langkahku ke pintu depan.
Sesampainya di sana, si pengawal baru itu tiba-tiba menamparku dengan cukup keras, cukup untuk membuat telingaku berdengung. Ketika aku menatapnya dia tidak mengatakan apa-apa hanya kembali bersandar didinding. Madara belum datang juga, jadi aku menghabiskan waktuku menunggunya dengan cara mengumpat dan megutuk si pengawal dalam hati.
Selang 30 menit, Madara kembali bersama si kaki-tangan tampak geram. Aku senang melihatnya kembali karena stok kutukan dan celaan yang kupunya sudah habis sejak lima belas menit yang lalu. Dan aku juga lega melihatnya kembali dalam keadaan utuh, karena tidak semua orang berhasil keluar setelah bertemu Orochimaru. Madara menatapku tajam, lalu mengisyaratkanku untuk mengikutinya.
Aku berusaha sebisa mungkin menjaga jarak dari si pengawal selama perjalanan. Aku tahu, dari perbincangan Madara dengan si pengawal, tampaknya pertemuan tadi tidak berjalan lancar. Walau begitu, kuharap Madara tahu cara lebih baik menghadapi si busuk Orochimari. Karena menurut isu yang kudengar hanya ada satu hal yang terjadi pada mereka yang berani bertemu Orochimaru. Dan itu melibatkan batu besar, rantai, dan tebing dipinggir laut. Dan memikirkan semua itu membuatku mual dan ngeri.
XXXto Be ContinueXXX
Dan entah kenapa saya masih memutuskan untuk melanjutkan fic ini! AARGHH! Seperti kemarin, fic ini sebagian terinsirasi dari sebuah buku berjudul 'The Magic Thief'. Tapi dijamin, semakin kesana, cerita akan semakin berbeda. ^.^ (Walau chap ini memang banyak sekali kemiripan dengan salah satu bab-nya, karena kebetulan bab itu merupakan salah satu bab ter-fav ku. Ha-ha)
Terima kasih banyak untuk yang sudah mereview, kuharap kalian gak kecewa. Maaf kalau di chap ini Sakura belum keluar, tapi mungkin di chap depan dia keluar, walau belum kerasa romance antara Sasusakunya.
Mind to RnR?
